Anda di halaman 1dari 2

Dari pemeriksaan dokter IGD didapatkan kesadaran pasien menurun. Jalan napas terhambat (gurgling +, snoring +).

Gurgling merupakan suara seperti berkumur atau seperti ada udara, yang menunjukkan adanya cairan yang menyumbat jalan napas, dalam kasus ini bisa berupa darah dan muntahan. Pada keadaan penurunan kesadaran akan terjadi relaksasi otot-otot, termasuk otot lidah sehingga bila posisi pasien terlentang pangkal lidah akan jatuh ke posterior menutupi orofaring sehingga menimbulkan sumbatan jalan napas, hal ini bias ditandai dengan adanya suara napas tambahan yaitu snooring (dengkuran). Untuk membebaskan jalan napas pasien dapat dilakukan dengan cara suction. Pada kasus ini dapat digunakan kanul yang rigid (rigid dental suction tip) untuk menghisap darah dan muntahan yang berada di rongga mulut. Pada skenario didapatkan vital sign: Nadi 108x/menit, tekanan darah : 110/80 mmHg, t : 37,0C, RR : 30x/menit. Denyut nadi pasien 108 kali per menit, menunjukkan pasien mengalami takikardi karena sudah melebihi 100 kali per menit. Selanjutnya, pernapasan pasien mencapai 30 kali per menit, hal ini bisa disebabkan akibat adanya gangguan ventilasi pada pasien. Frekuensi pernapasan normal pada dewasa adalah 12-20 kali per menit. Pernapasan dikatakan abnormal jika frekuensinya telah melebihi dari 30 kali per menit atau jika kurang dari 10 kali menit. Kemudian pada wajah pasien didapatkan oedem periorbita dekstra/sinistra, bloody rinorrhea, dan otorrhea disertai adanya asimetris wajah dan deformitas mandibula. Keadaan ini bisa disebabkan karena pasien mengalami trauma maksilofasial dan fraktur basis cranii. Perdarahan dari telinga, kemungkinan besar akibat fraktur basis cranii fossa media, dan perdarahan dari hidung akibat fraktur basis cranii fossa anterior. Didapatkan jejas pada hemithorax kanan, pengembangan dada kanan tertinggal, perkusi redup, auskultasi vesikuler menurun. Hemithorax berarti menunjukkan bahwa terdapat cairan berupa darah rongga pleura. Biasanya hematothorax disebabkan karena trauma tumpul, atau trauma tajam pada dada yang mengakibatkan robeknya membrane serosa pada dinding dada bagian dalam atau selaput pembungkus pleura. Robekan ini mengakibatkan darah mengalir ke dalam rongga pleura, yang akan menyebabkan penekanan pada paru, sehingga pengembangan dinding dada tidak simetris. Pengembangan dinding dada yang tertinggal ini dapat pula disebabkan oleh berbagai macam sebab, antara lain fraktur dari costa ataupun perubahan pada tekanan di dalam organ paru itu sendiri, sehingga diperlukan pemeriksaan foto thoraks untuk mengetahui keadaan paru-paru pasien. Perkusi redup dan auskultasi vesikuler yang menurun memperkuat bahwa terdapat darah pada rongga pleura.

Pada femur dekstra didapatkan luka sepanjang 3 cm, perdarahan aktif (+), fat globule (+), oedem (+), deformitas (+), angulasi (+), nyeri tekan (+) dan krepitasi (+). Dokter IGD melakukan bebat tekan, realignment femur, dan imobilisasi. Dari scenario, terdapatnya angulasi, edema, dan krepitasi pada femur dekstra mengindikasikan terjadinya fraktur femur dektra pasien. Fat globule merupakan suatu massa spheris berupa lemak pada darah di luka terbuka. Asal lemak ini bisa berasal dari jaringan lemak bawah kulit, atau sumsum tulang. Bebat tekan yang dilakukan dimaksudkan untuk menghentikan perdarahan yang terjadi. Selanjutnya dokter IGD melengkapi pemeriksaan primary survey, adjunct primary survey, dan secondary survey untuk menegakkan diagnosis dan terapi selanjutnya. Tujuan dari penatalaksanaa trauma ini diharapkan untuk meminimalisir terjadinya kecacatan, dan pengawasan terhadap pasien apabila terdapat luka yang lebih serius.