Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I LAPORAN KASUS I. IDENTITAS Nama Alamat Umur Kelamin Pekerjaan Status Tanggal periksa II.RIWAYAT KASUS 1. Keluhan Utama : cabut gigi kiri atas. 2. Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke poli gigi RSUD Kanjuruhan Kepanjen dengan keluhan cabut gigi kiri atas., gigi dirasakan sudah tidak nyeri lagi. Sebelumnya pasien mengeluhkan hidung buntu dan bau sebelah kiri sejak 2 bulan yang lalu, semakin lama semakin parah. Lima belas hari yang lalu pasien periksa ke dokter spesialis THT dan dikonsultasikan ke dokter gigi. 3. Riwayat perawatan a. Gigi gigi geraham tanpa komplikasi b. Jaringan lunak rongga mulut dan sekitarnya 4. Riwayat kesehatan Kelainan darah Kelainan endokrin Gangguan nutrisi Kelainan jantung : (-) : (-) : (-) : (-) : gusi sering sakit : riwayat cabut : Tn S : Kalipare : 42 Tahun : Laki- Laki : Guru : sudah menikah : 27 Nopember 2012

Kelainan kulit/ kelamin Gangguan pencernaan Gangguan respiratori Kelainan imunologi Gangguan TMJ Tekanan darah Diabetes mellitus Lain-lain

: (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

5. Obat-obatan yang telah /sedang dijalani : asam mefenamat 6. Keadaan sosial/kebiasaan : Pasien merupakan keluarga menengah dengan pekerjaan seorang guru. Pasien perokok dan jarang periksa ke dokter gigi. 7. Riwayat Keluarga : a. Kelainan darah b. Kelainan endokrin c. Diabetes melitus d. Kelainan jantung e. Kelainan syaraf f. Alergi g. lain-lain III. PEMERIKSAAN KLINIS 1. EKSTRA ORAL : a. Muka b. Pipi kiri Pipi kanan c. Bibir atas bibir bawah d. Sudut mulut : Simetris : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : ada (ayah pasien) : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan :-

e. Kelenjar submandibularis kiri : tidak teraba pembesaran

kanan : tidak teraba pembesaran f. Kelenjar submentalis g. Kelenjar leher h. Kelenjar sublingualis i. Kelenjar parotis 2. INTRA ORAL : a. Mukosa labial atas Mukosa labial bawah b. Mukosa pipi kiri Mukosa pipi kanan c. Bukal fold atas Bukal fold bawah d. Labial fold atas Labial fold bawah e. Ginggiva rahang atas f. Lidah g. Dasar mulut h. Palatum i. Tonsil j. Pharynx k. Lain lain : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : tidak teraba pembesaran : tidak teraba pembesaran : tidak teraba pembesaran : tidak teraba pembesaran

Ginggiva rahang bawah kiri : dalam batas normal

8 2 1

GR

STAIN 6 5 4 3 7 V IV I I III II I 1 2 8 8 II III IV 3 4

GR GR 5 6

V IV III II

II III IV

8 2 1

5 GR

1 8

STAIN

Gambar 1. Peta Gigi Keterangan : GR= Gangrene Radiks IV. DIAGNOSE SEMENTARA : Sinusitis Maksilaris Sinistra 6 4 54321 321 12345 1234 Stain 78 Gangren Radiks

V. RENCANA PERAWATAN : 6 4 78 Pro ekstraksi

54321 321

12345 1234 Pro scaling

1. Pengobatan : R/Amoxicillin 500 mg tab No.XV S 3 dd tab I R/ Paracetamol 500 mg tab No.X S 3 dd tab I prn 2. Pemeriksaan Penunjang : Lab.Rontgenologi mulut/ Radiologi : Lab.Patologi anatomi 3. Rujukan : Poli Penyakit Dalam Poli THT Poli Kulit & Kelamin VI. DIAGNOSE AKHIR : Sinusitis Maksilaris Sinistra 6 4 78 Gangren Radiks :::Sitologi Biopsi Bakteriologi Jamur :::::::-

Lab.Mikrobiologi

Lab.Patologi Klinik

54321 321

12345 1234 Stain

LEMBAR PERAWATAN Tanggal


27-11-2012

Elemen

Diagnosa Sinusitis Maksilaris Sinistra

Therapi

Keterangan
KIE: Menjaga kebersihan rongga mulut x sehari dengan menggososk

6 4

78

Gangren Radiks

Pro ekstraksi

gigi

sesudah makan dan sebelum tidur Kumur mouthwash Periksa ke dokter gigi tiap 6 bulan sekali Pasien untuk merokok disarankan mengurangi dengan

54321 12345 321 1234

Stain

Pro scaling

BAB II TELAAH KASUS II.1 Anatomi Sinus Maksilaris Sinus maksila atau antrum highmore adalah suatu rongga pneumatik berbentuk piramid yang tidak teratur dengan dasarnya menghadap ke fosa nasalis dan puncaknya ke arah apeks prosesus zigomatikus os maksila. Sinus ini merupakan sinus yang terbesar diantara sinus paranasal. Pengukuran sinus maksila dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu rontgenologik dan manometrik. Pada saat lahir volume sinus maksila dan sekitarnya berukuran 6-8 ml dan penuh dengan cairan, sedangkan volume sinus maksila orang dewasa kira-kira 15 ml. Tidak ada perbedaan kapasitas antara laki-laki dan perempuan. Ukuran kedua sinus maksila kanan dan kiri tidak selalu sama, tetapi diantara sinus paranasal yang lain, sinus maksila yang paling simetris antara kanan dan kiri serta paling sedikit mengalami variasi dalam perkembangan. Besar kecilnya rongga sinus maksila terutama tergantung pada tebal tipisnya dinding sinus.(Zalfina, 2001)

Gambar 2. Anatomi sinus maksilaris Sinus mempunyai beberapa dinding, dinding anterior dibentuk oleh permukaan maksila os maksila, yang disebut fosa kanina. Dinding posterior dibentuk oleh permukaan infratemporal maksila. Dinding medial dibentuk

oleh dinding lateral rongga hidung. Dinding superior dibentuk oleh dasar orbita dan dinding inferior oleh prosesus alveolaris dan palatum. (Zalfina, 2001) Dasar sinus maksila berdekatan dengan tempat tumbuhnya gigi premolar ke-2, gigi molar ke-1 dan ke-2, bahkan kadang-kadang gigi tumbuh ke dalam rongga sinus dan hanya tertutup oleh mukosa. Proses supuratif yang terjadi sekitar gigi-gigi ini dapat menjalar ke mukosa sinus melalui pembuluh darah atau limfe, sedangkan pencabutan gigi ini dapat menimbulkan hubungan dengan rongga sinus melalui fistel oroantral yang akan mengakibatkan sinusitis. Di dalam sinus kadang-kadang ada sekat-sekat yang membentuk ruang-ruang di bagian posterior, sehingga dapat menjadi sumber infeksi terus menerus.(Zalfina, 2001) Sinus maksilaris bermuara ke dalam meatus nasi medius melalui hiatus semilunaris yang sempit. Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa ostium sinus maksilaris berupa satu saluran karena ditemukannya ukuran dari ujung medial sampai lateral lebih panjang 3 mm dari panjang rata-rata 5,55 mm. Hal ini penting karena berhubungan dengan patofisiologi terjadinya sinusitis maksilaris, dimana drainasenya mengandalkan pergerakan silia pada dinding sinus.

Gambar 3. Hiatus semilunaris dan ostium sinus maksilaris

Anatomi sinus maksilaris dalam segi klinik perlu digarisbawahi yaitu yang pertama, akar gigi dan dasar dari sinus maksilaris hanya dipisahkan dengan lamina tulang yang sangat tipis dan bahkan sama sekali tidak dipisahkan oleh tulang. Kedua, sinusitis maksilaris dapat menimbulkan komplikasi orbita. Terakhir, ostium sinus maksilaris terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drainase kurang baik.(Higler, 1989)

Gambar 4. Hubungan dasar sinus maksilaris dengan akar gigi

II.2

Definisi Sinusitis adalah kondisi klinis yang karakteristiknya adalah adanya radang

pada mukosa sinus paranasalis.(Handley, 2001) Sinusitis maksilaris adalah peradangan atau inflamasi pada mukosa sinus maksilaris. Sinusitis maksilaris diklasifikasikan menjadi akut, sub akut dan kronik. Sinusitis akut bila gejalanya berlangsung beberapa hari sampai 4 minggu, sinusitis subakut bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan, dan sinusitis kronis bila berlangsung lebih dari 3 bulan. Dalam menentukan secara pasti apakah sinusitis tersebut akut, sub akut atau kronis, harus menggunakan pemeriksaan histopatologis. Sinusitis akut bila terdapat tanda-tanda radang akut, sinusitis subakut bila tanda-tanda radang akut sudah menurun, dan sinusitis kronik bila

10

terjadi perubahan histologis mukosa sinus yang irreversible.(Mangunkusumo, 2000) Diagnosis sinusitis digunakan sebagai diagnosis infeksi sinus oleh bakteri.(Handley, 2001) II.3 Etiologi Dalam keadaan fisiologis, sinus adalah cairan steril. Penyebab dari sinusitis maksilaris bermacam-macam diantaranya: a. Virus, bakteri atau infeksi jamur dari saluran pernafasan. b. Penularan dari infeksi sinus di dekatnya, seperti faringitis, tonsilitis atau radang pada gigi geraham atas (odontogen). c. Rhinitis alergi dan rhinitis kronik. Pada keadaan ini terjadi hipersekresi cairan mukus yang dapat menyumbat osteum sinus dan menjadi media bagi pertumbuhan kuman. d. Obstruksi mekanik seperti kelainan septum (spina septum, deviasi septum, dislokasi septum), hipertropi konka media, benda asing dalam hidung, polip dan tumor di rongga hidung akan menyebabkan salah satu atau kedua rongga hidung menjadi lebih sempit. e. Trauma kapitis yang melibatkan sinus maksilaris. f. Polusi udara. Sinusitis maksilaris odontogen dapat disebabkan oleh: 1. Granuloma pada akar gigi sebagai fokal infeksi yang menuju sinus maksilaris. 2. Ekstrasi gigi yang menyebabkan akar gigi masuk ke dalam sinus. 3. Tindakan yang menyebabkan akar gigi masuk ke dalam sinus. 4. Adanya alat yang merusak lapisan epitel sinus. 5. Tindakan pada gigi impaksi M3, bicuspid atau yang masuk kedalam sinus. 6. Fraktur prosesus maksilaris yang melibatkan beberapa gigi sehingga sinus terbuka. 7. Adanya radicular cyst yang menyangkut kedalam sinus.

11

8. Adanya dry socket akibat pencabutan gigi, dimana socketnya tidak terisi bekuan darah, sehingga mudah kemasukan sisa makanan yang menyebabkan infeksi dan menjalar ke dalam sinus. 9. Abses akar gigi yang mengalami gangren. II.4 Gejala Klinis Gejala sinusitis maksilaris akut meliputi gejala sistemik dan lokal. Gejala sistemik berupa demam sampai menggigil, malaise, lesu serta nyeri kepala terutama pada sisi yang sakit. Gejala lokal dapat berupa rasa nyeri tumpul dan menusuk di daerah pipi atau di bawah kelopak mata yang bisa menyebar ke alveolus sehingga sering dikelirukan sebagai sakit gigi. Nyeri alih lain bisa juga dirasakan di dahi dan di depan telinga. Nyeri semakin berat jika kepala digerakkan secara mendadak, misalnya sewaktu naik turun tangga. Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk bahkan bercampur darah. Keluhan lain seperti batuk serta kurangnya sensitifitas dalam merasakan rasa dan bau.(Mangunkusumo, 2001) Pada pemeriksaan didapatkan pembengkakan di daerah muka yaitu pipi dan kelopak mata bawah. Pada palpasi dan perkusi di daerah tersebut akan terasa nyeri. Dengan rhinoskopi anterior akan tampak mukosa konka hiperemis dan edema serta tampak adanya sekret mukopurulen di meatus nasi media. Pada rhinoskopi posterior tampak sekret mukopurulen di nasofaring( post nasal drip). Dengan pemeriksaan transiluminasi akan tampak gambaran bulan sabit di bawah rongga mata yang menjadi lebih suram/gelap dibandingkan dengan normal. 2.4.2 Sinusitis Maksilaris Kronis Gejala sinusitis maksilaris kronis umumnya sangat bervariasi. Gejala dapat dirasakan berat sehingga menghalangi penderita untuk bekerja atau dapat ringan tetapi berlangsung lama. Selama eksaserbasi akut,

2.4.1 Sinusitis maksilaris akut

12

gejala-gejala mirip dengan gejala sinusitis akut, sedangkan di luar masa tersebut akan didapatkan gejala-gejala sesuai dengan faktor predisposisinya, disertai gejala-gejala yang meliputi: a. Gejala pada hidung dan nasofaring antara lain obstruksi hidung akibat hipertropi mukosa hidung dan konka, sekret hidung berupa pus atau mukopus yang disertai bau busuk, post nasal drip dan epistaksis. b. Gejala pada faring yaitu rasa tidak nyaman di tenggorokan. c. Gejala pada telinga, berupa pendengaran terganggu oleh karena tersumbatnya tuba eusthachius. d. Rasa nyeri dan sakit kepala. e. Gejala pada mata yaitu epifora dan konjungtivitis oleh karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis. f. Gejala saluran pernafasan berupa batuk dan terdapat komplikasi di paru berupa bronkitis atau bronkiektasis atau asma bronkiale, sehingga terjadi penyakit sinobronkitis. g. Gejala pada saluran pencernaan oleh karena mukopus yang tertelan. II.5 Patogenesis Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae telah disepakati sebagai patogen primer pada sinusitis bakterial, selain itu M. Catarrhalis juga didapatkan pada sinusitis maksilaris (40% pada anak-anak). Di RS Sanglah, bakteri penyebab sinusitis maksilaris terbanyak adalah Streptococcus dan Staphylococcus.(Mangunkusumo, 2001) Faktor faktor predisposisi sinusitis maksilaris adalah obstruksi mekanik, rinitis kronis, serta rinitis alergi, polusi, udara dingin dan kering, riwayat trauma, menyelam, renang, naik pesawat, riwayat infeksi pada gigi, infeksi pada faring. Rinitis adalah faktor predisposisi yang paling penting dalam terbentuknya sinusitis.

13

Kegagalan dari transport mucus dan menurunnya ventilasi sinus merupakan factor utama berkembangnya sinusitis. Sinusitis dentogen dapat terjadi melalui dua cara, yaitu: a. Infeksi gigi yang kronis dapat menimbulkan jaringan granulasi di dalam mukosa sinus maksilaris, hal ini akan menghambat gerakan silia kea rah ostium dan berarti menghalangi drainase sinus. Gangguan ini akan mengakibatkan sinus mudah mengalami infeksi b. Kuman dapat menyebar secara langsung, hematogen, atau limfogen dari granuloma apical atau kantung periodontal gigi ke sinus maksilaris. Pada saat terjadi infeksi, akan terjadi reaksi radang yang salah satunya berupa edema, edema tersebut terjadi di daerah kompleks ostiomeatal yang sempit. Mukosa yang saling berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drainase dan ventilasi di dalam sinus, lendir yang diproduksi oleh mukosa sinus menjadi kental. Lendir yang kental tersebut menjadi media yang baik bagi pertumbuhan bakteri patogen. Bila sumbatan berlangsung terus menerus, akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob.(Robin, 2005) II.6 Diagnosis Gejala klinis yang ditemukan pada sinusitis ada dua kriteria, yaitu kriteria mayor dan minor,

2.6.1 Subjektif

14

Tabel 1. Kriteria Mayor dan Minor dari Sinusitis Kriteria mayor Nyeri di daerah muka Rasa penuh d daerah muka (facial) Pilek purulen/ post nasal drip Hyposmia/ anosmia Panas Kriteria minor: Sakit kepala Panas Bau Rasa capai Nyeri gigi Batuk Nyeri telinga/ penuh di telinga

rasa

Pasien dicuriga adanya sinusitis bila terdapat minimal 2 gejala mayor atau 1 gejala mayor ditambah 2 gejala minor. 2.6.2 Objektif Berdasarkan pemeriksaan fisik pada pasien dengan sinusitis akan dijumpai, seperti: 1. Tampak pembengkakan di daerah pipi dan kelopak mata bawah sisi yang terkena. 2. Pada rinoskopi anterior, mukosa konka inferior tampak hiperemi dan edema, selain itu tampak mukopus atau nanah di meatus media. Perhatikan juga adanya kelainan anatomis: Septum deviasi 3. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring. 2.6.3 Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan tranluminasi, sinus yang sakit akan terlihat suram atau gelap. Akan lebih bermakna hasilnya bila hanya salah satu sisi sinus saja yang sakit, sehingga terlihat sekali perbedaanya antara yang gelap atau sakit dengan yang normal.(Mangunkusumo, 2001) 2. Pemeriksaan radiologi, yaitu foto Waters PA dan lateral. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau air- fluid level pada sinus yang sakit. CT scan merupakan tes yang paling sensitive dalam mengungkapkan kelainan anatomis selain melihat adanya cairan dalam sinus, tetapi karena mahal, CT scan tidak

15

dipakai sebagai skrining dalam mendiagnosis sinusitis.(Higler, 1989) 3. Pemeriksaan kultur, sample diambil dari sekret di meatus medius atau meatus superior. Pasien harus dirujuk ke otolaringologis untuk aspirasi maksila dan kultur, bila tidak sembuh dengan pengobatan antibiotika yang sesuai dan adekuat. II.7 Penatalaksanaan Prinsip penatalaksanaan dari sinusitis adalah: mengembalikan fungsi silia mukosa, memperbaiki drainase, eradikasi bakteri, dan menghilangkan keluhan nyeri. Seringkali sinusitis, tidak perlu dirujuk ke ahli THT, tetapi bila gagal dengan pengobatan medikamentosa, maka harus dirujuk ke ahli THT untuk penanganan lebih lanjut seperti terapi bedah dan irigasi. 2.7.1 Terapi Konservatif Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki drainage, yaitu dengan memberikan ephedrine 1 % agar terjadi vasokontrisi pembuluh darah di mukosa sinus dan saat tidur miring ke arah sisi heterolateral dari sinus yang sakit. Selain itu juga memperbaiki penyakit secara umum, yaitu dengan istirahat yang cukup, makan makanan yang lunak (bubur), dan pemberian analgetik. 2.7.2 Terapi Aktif Terapi aktif yang disebut juga irigasi sinus maksilaris. Terapi irigasi dilakukan jika nampak mukopus di meatus media, tiap satu minggu sekali jika keluhan hebat. Komplikasi dari dilakukannya irigasi adalah emboli udara di pipi dan infiltrate air di pipi. 2.7.3 Terapi Antibiotika Terapi antibiotika diberikan bertujuan untuk mempercepat penyembuhan. Antibiotik lini pertama adalah golongan penisilin selama 10-14 hari, menurut pedoman terapi di bagian THT RS Sanglah tahun

16

1992, pemberian antibiotika selama 5-7 hari. Antibiotika yang digunakan, antara lain: Ampisilin 4x500mg Amoksisilin 3x500mg Eritromisin 4x500mg Kotrimoksasol 2x1tablet Doksisiklin 2x100mg/hari diikuti 100 mg/hari hari ke 2 dan berikutnya. Lini kedua bila ditemukan kuman yang menghasilkan enzim betalaktamase diberikan kombinasi amoxycilline dengan clavulanic acid, cevaclor, atau cephalosporine generasi II atau III oral, yang diberikan minimal 2 minggu. 2.7.4 Terapi Tambahan Vasokonstriktor local dan dekongestan lokal untuk memperlancar drainase sinus, misalnya :Solusio efedrin 1-2% tetes hidung, Solusio Oksimetasolin HCl 0,05% semprot hidung (untuk anak-anak memakai 0,025%), Tablet pseudoefedrin 3x60mg (dewasa). Analgetika untuk menghilangkan rasa nyeri , yaitu: Parasetamol 3x500mg dan Metampiron 3x500mg 2.7.5 Tindakan non invasif Diatermi dengan gelombang pendek, digunakan pada sinusitis subakut sebanyak 5-6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi sinus. Bila belum membaik dilakukan pungsi sinus dan irigasi sinus yang harus dilakukan oleh ahli THT.

17

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Sinusitis maksilaris merupakan peradangan pada mukosa sinus maksilaris, dapat diklasifikasikan menjadi sinusitis maksilaris akut, subakut dan kronis. Penyakit ini ditandai dengan kriteria mayor (Nyeri di daerah muka, rasa penuh d daerah muka (facial), pilek purulen/ post nasal drip, hyposmia/ anosmia, panas, dan sakit kepala) dan minor (Bau, rasa capai, nyeri gigi, batuk, nyeri telinga/ rasa penuh di telinga). Berdasarkan anamnesa didapatkan hidung buntu dan bau sebelah kiri sejak 2 bulan yang lalu, semakin lama semakin parah. Pasien juga mengeluhkan sebelumnya gigi geraham atasnya berlubang dan sering sakit, sudah dicabut tanpa komplikasi sejak 15 hari yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan gangrene radiks pada gigi M1 kanan atas, M2 dan M3 kiri atas, dan PM1 kanan bawah. Selain itu didapatkan stain pada gigi I1, I2, K, PM1 kiri bawah, gigi I1, I2, K kanan bawah, gigi I1,I2, K, PM1, PM2 kanan atas, serta gigi I1,I2, K, PM1, PM2. Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnose sinusitis maksilaris et causa gangrene radiks. Terapi yang dilakukan adalah menghilanghkan factor penyebab dan terapi gejalanya. Untuk faktor penyebabnya dilakukan pro ekstraksi pada gigi yang mengalami gangrene radiks dan pemberian terapi antibiotic. Dan untuk gejalanya diberikan terapi analgesic.

18

DAFTAR PUSTAKA Bursa Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.1994. Diktat Kuliah THT. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya: Surabaya. Handley John G, Tobin Evan, Tagge bryan. 2001. The Nose and Paranasal Sinuses. in: Rakel Robert E, editors. Textbook of family practice 6th editions p 446-453 . WB Saunders Company: Philadelphia. Higler PA. 1989. Nose: Applied Anatomy dan Physiology. In: Adams GL, Boies LR, Higler PA, editors. Boies Fundamentals of Otolaryngology. 6th ed: Philadelphia Mangunkusumo Endang, Rifki nusjirwan. 2000. Sinusitis. in: Soepardi Efiaty A, Iskandar Nurbaiti, editor. Buku ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok edisi 4 p 121-125. Balai Penerbit FKUI: Jakarta. Mangunkusumo E, Rifki N. 2001. Sinusitis. Dalam: Supardi EA, Iskandar N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Ed 5 p.120-4. Balai Penerbitan FKUI; Jakarta. Robin MA, Gonzales R, Sande MA. 2005. Infections of the Upper Respiratory Tract. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16 th ed p. 185-93. McGraw Hill: New York. Zalfina Cora. 2001. Korelasi Tes Kulit Cukit dengan Kejadian Sinusitis Maksila Kronis di Bagian THT FK USU/RSUP H. Adam Malik: Medan