Anda di halaman 1dari 43

III.

FRAGMENTASI BUATAN
PENDAHULUAN Latar Belakang Saat ini perkembangan dibidang bioteknologi mengalami kemajuan yang pesat khususnya dalam hal penemuan kandungan sumber daya alam yang sangat berpotensi bagi kehidupan manusia terutama dalam bidang kesehatan. Beberapa penelitian yang telah dilakukan sampai saat ini diketahui bahwa sumber daya laut khususnya spons memiliki kandungan bioaktif yang sangat berpotensi sebagai bahan baku obat. Perkembangan ini masih terus berlanjut sebagai usaha untuk mengidentifikasi manfaat spons bagi kehidupan manusia. Spons laut yang digunakan pada penelitian ini adalah Aaptos aaptos (Aa), yang telah diketahui memiliki kandungan senyawa alkaloid dan aptamin dengan aktivitas penghambatan terhadap a-adrenoreceptor (Munro et al., 1999). Selain itu, senyawa alkaloid lain yang didapatkan dari spons Aa memiliki aktivitas sebagai antikanker, anti-HIV dan anti-mikroba (Nakamura et al., 1987). Oleh karena itu spons Aaptos aaptos (Aa) merupakan salah satu jenis spons yang perlu dipertimbangkan dalam upaya pengembangan budidaya melalui fragmentasi. Pemanfaatan spons umumnya diambil secara langsung dari alam dan hanya sebagian kecil yang diperoleh dari hasil budidaya. Cara seperti ini jika dilakukan secara terus menerus diperkirakan akan mengakibatkan penurunan populasi secara signifikan bahkan dapat mengakibatkan terjadinya kepunahan. Metode-metode untuk mencari jalan keluar dari masalah penyediaan bahan baku telah banyak diujicobakan. Metode yang paling sederhana adalah dengan membuat bahan kimia sintesis dari compound target. Sebagian besar produk 22

alami tidak dapat dibuat bahan sintetisnya karena tingginya kompleksitas struktur kimianya. Bahan-bahan bioaktif spons dapat dibuat sintetisnya pada skala laboratorium, tetapi untuk meningkatkan menjadi skala yang lebih besar menjadi tidak layak (Munro et al., 1999). Langkah nyata yang dapat dilakukan adalah melalui pengembangan metode fragmentasi spons. Spons memiliki kemampuan untuk dapat memperbaiki diri dengan membangun sel-sel jaringannya yang telah mati (Sipkema et al., 2004), walaupun pada beberapa kasus tidak berhasil dan hanya pada beberapa sel primer yang mampu berkembang (Ilan et al., 1996; De Rosa et al., 2003). Kultur jaringan spons (primmorphs) adalah metode lain yang juga telah diujicoba (Muller dan Schroder, 2000), tetapi seperti pada kultur sel, masih banyak penelitian yang perlu dilakukan. Kemungkinan lain yang masih sangat baru di bidang bioteknologi kelautan yaitu dengan melakukan kloning pada gen yang relevan ke dalam mikroba yang dapat difermentasikan untuk menghasilkan metabolit sekunder bioaktif (Salomon et al., 2004). Kultur spons secara in vivo juga sudah diujicoba oleh beberapa peneliti (Osinga et al., 2001; Mendola, 2003). Budidaya laut (mariculture) merupakan metode yang paling menjanjikan untuk memproduksi biomasa spons dari semua metode yang sudah pernah diujicobakan oleh beberapa peneliti. Metode yang paling banyak digunakan untuk membudidayakan spons adalah metode gantung. Metode gantung ini sudah diujicobakan pada spons mandi (bath sponge) sejak lama yang dilakukan oleh Schmidt dan Buccich di laut Mediterania, dan selanjutnya oleh Moore di Florida (Duckworth dan Battershill, 2003a). Metode gantung dilakukan dengan cara mengikat fragmen spons pada tali. Kestabilan posisi spons dibantu oleh keberadaan sistem pelampung.

23

Duckworth et al., (1999); Dukworth dan Battershill (2003a) melakukan penelitian terhadap tiga teknik baru untuk budidaya spons di New Zealand sebagai sumber bahan metabolit bioaktif. Metode pertama, spons dibudidayakan pada kantung-kantung berlubang. Keuntungan dari metode ini adalah spons tidak mengalami stress jika dibandingkan dengan metode budidaya lain; spons diletakkan di dalam kantung berlubang tanpa mengalami kerusakan secara fisik sebagai hasil dari perlengketan. Sebaliknya, organisme penempel yang tumbuh pada lubang dapat menghalangi aliran air yang masuk ke spons. Metode kedua, peneliti mencoba untuk mengikat fragmen spons pada tali. Metode ketiga, spons digantung dengan membungkusnya pada tali yang tipis. Dua metode terakhir tidak sesuai untuk budidaya spons, karena spons akan tumbuh dan terlepas jauh dari tali dan hilang. Spons juga dapat dibudidayakan pada kerangka (frame) yang berbentuk baki dan ditambatkan di dasar laut (Muller et al., 1999; van Treeck et al., 2003). Metode terakhir juga digunakan untuk membudidayakan invertebrata lain yang bersifat sesil seperti bryozoan Bugula neritina (Mendola, 2003). Metode fragmentasi dengan menggunakan kerangka ( frame) ini diujicobakan juga pada penelitian ini di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Selain dengan metode rak horisontal seperti yang sudah dilakukan oleh peneliti lain, pada penelitian ini dilakukan juga dengan penambahan metode yaitu metode kerangka (frame/rak) yang diberdirikan posisinya sehingga menjadi vertikal dan fragmen spons diikatkan pada kerangka atau rak tersebut. Posisi fragmen spons berada jauh dari dasar perairan atau substrat sehingga diharapkan tidak terpengaruh dengan pengadukan dasar perairan pada saat meningkatnya arus. Selama ini fragmentasi spons yang dilakukan oleh para peneliti sebelumnya tidak mempertimbangkan mengenai luka yang terjadi akibat dari

24

fragmentasi

tersebut. Kondisi luka pada spons baik luas maupun jumlah

merupakan faktor penting yang ikut menentukan kelangsungan hidup dan selanjutnya pertumbuhan spons. Karena kemampuan beberapa organisme termasuk spons untuk hidup dan tumbuh kembali setelah perlukaan sangat tergantung dari ukuran dan jumlah luka (Chadwick and Loya, 1990 ; Duckworth, 2003), dimana luka yang besar dan banyak seringkali menyebabkan fatal terhadap spons. Jaringan yang melakukan regenerasi untuk tumbuh membutuhkan energi yang besar di luar energi yang diperlukan untuk melakukan pertumbuhan dan reproduksi yang selanjutnya menurunkan kesegaran spons. Luka yang besar dapat menyebabkan rusaknya sistem saluran spons, menurunkan efisiensi penyerapan nutrien, dan dapat menyebabkan kematian pada beberapa spesies spons. Sebagai pengembangan metode budidaya spons, maka perlu dilakukan suatu penelitian mengenai sintasan (tingkat kelangsungan hidup), laju

pertumbuhan spesifik dan perkembangan gamet spons yang difragmentasikan dengan menggunakan metode rak horisontal dan vertikal, spons dengan beberapa jumlah luka (1-4 luka) pada tubuhnya, serta menguji coba ukuran fragmen 1 cm sebagai ukuran terkecil pada penelitian ini. Pengukuran terhadap kondisi lingkungan di lokasi fragmentasi juga dilakukan untuk mengetahui parameter yang sangat berperan untuk mendukung fragmentasi spons. Beberapa parameter yang mendukung pertumbuhan spons hasil fragmentasi tersebut adalah suhu air, kecepatan arus, TSS (Total Suspended Solid), salinitas, pH, TOM (Total Organic Matter), silikat, ammonia, fosfat, nitrat, COD ( Chemical Oxygen Demand), DO (Disolve Oxygen).

25

Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengkaji kelayakan kondisi kualitas air pada dua lokasi fragmentasi yang berbeda yaitu lokasi yang terlindung dan terbuka, sehingga diketahui kondisi kualitas air yang optimal mendukung pertumbuhan dan perkembangan spons Aa 2. Mengkaji metode pemeliharaan fragmen spons yang optimal melalui penempatan pada rak horisontal vs vertikal untuk mengefisienkan ruang pemeliharaan 3. Mengkaji pengaruh jumlah luka dan ukuran fragmen spons Aa untuk memanfaatkan seoptimal mungkin fragmen spons yang tersedia yang selama ini tidak dimanfaatkan dalam proses fragmentasi buatan di alam

26

METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi penelitian Penelitian fragmentasi buatan di alam dilakukan di Gugusan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta dan terletak di barat Pulau Burung (ST1)

(05052 05,5 LS dan 106035 71,2 BT), dan di selatan Pulau Pari (ST2) (05052 22,4 LS dan 106036 76,1 BT) perairan gugusan Pulau Pari, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta (Gambar 3). Waktu penelitian dimulai pada bulan Mei 2006 sampai bulan April 2007. Rincian waktu penelitian adalah : penelitian fragmentasi dengan metode transplantasi pada rak horisontal dan vertikal dilaksanakan pada bulan Mei 2006 sampai Juli 2006. Penelitian dengan perlakuan luka dilaksanakan pada bulan Agustus 2006 sampai April 2007. Penelitian fragmentasi dilakukan dalam beberapa tahap yang meliputi : 1. Survei lokasi penelitian 2. Persiapan alat dan bahan 3. Pemotongan fragmen, penurunan rak dan pengikatan sampel 4. Pengukuran dan pengamatan kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, dan pengukuran parameter fisika dan kimia air yang mendukung kehidupan spons. Lokasi penelitian ditetapkan pada perairan yang terlindung dengan kode stasiun ST1 yang memiliki permukaan air tenang sehingga mengakibatkan sedimentasi yang lebih tinggi dan tidak terganggunya proses penempelan fragmen karena sedikitnya gesekan dengan tali nilon akibat tidak adanya gelombang dan arus yang besar. Lokasi lainnya ditetapkan di perairan yang terbuka dengan kode stasiun ST2 yang lebih memungkinkan fragmen spons memperoleh oksigen lebih banyak karena adanya gelombang dan arus yang lebih besar. Selain itu gelombang

27

Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian

28

dan arus dapat membawa makanan dan menghambat terjadinya sedimentasi. Adanya pengaruh gelombang dan arus memungki nkan kandungan oksigen terlarut yang ada lebih banyak, serta didukung oleh substrat dasar terumbu karang yang memungkinkan adanya keragaman biota dasar yang dapat bersimbiosis dalam membantu proses pertumbuhan spons.

Prosedur Penelitian Kondisi Fisika-Kimia Air di Lokasi Penelitian Data hasil pengukuran parameter fisika-kimia air di dua lokasi fragmentasi spons yaitu ST1 dan ST2 dianalisis. Sample air diambil setiap bulan dan bersamaan dengan saat dilakukan pengukuran pertumbuhan spons selama 6 bulan. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui kelayakan kondisi kualitas air yang optimal bagi pertumbuhan fragmen spons yang difragmentasikan

berdasarkan baku mutu air laut sesuai dengan (Kep.Men 179/Men.KLH/2004) (Lampiran 1). Parameter fisika dan kimia air yang diukur secara in situ meliputi suhu, salinitas, pH serta kecepatan arus. Sedangkan parameter fisika dan kimia yang diukur di Laboratorium Kimia Oseanografi dan Produktivitas Lingkungan Departemen ITK -FPIK IPB meliputi TSS (Total Suspended Solid), TOM (Total Organic Matter), silikat, amonia, fosfat, nitrat, COD (Chemical Oxygen Demand), dan DO (Disolve Oxygen)). Parameter dan alat yang digunakan pada pengukuran parameter fisik-kimia air ini dapat dilihat pada Tabel 1.

29

Tabel 1. Parameter fisik-kimia air yang diukur No. 1. 2. 3. Parameter Fisika Perairan Suhu Kecepatan arus TSS (Total Suspended Solid) Kimia Perairan Salin itas Derajat keasaman (pH) TOM (Total Organic Matter) Silikat (SiO 3) Amonia (NH3) Fosfat (PO4) Nitrat (NO3) COD (Chemical Oxygen Demand) DO (Disolve Oxygen) Satuan C m/s mg/l
0

Alat/Metode Termometer air raksa Floating drouge, kompas bidik dan stopwatch Gravimetrik

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

/00

mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mgO2/l mg/l

Refraktometer pH meter Titrasi permanganat Ascorbic acid spectrofotometri Phenat spectrofotometric Ascorbic acid spectrofotometric Brucine spectrofotometric Refluks terbuka (Heat of dilusion) Titrasi Winkler

Pemeliharaan fragmen spons pada rak horisontal dan vertikal Induk spons diambil langsung dari alam dengan cara melakukan penyelaman menjelajahi di sekitar lokasi penelitian. Induk yang didapat diambil sekitar 25% dari total tubuhnya kemudian ditempatkan pada wadah yang terendam air laut dan selanjutnya diangkat dan dilakukan pemotongan menjadi fragmen berukuran 3 cm x 3 cm. Sebanyak 336 fragmen diperoleh dari hasil pemotongan tersebut dan kemudian ditempatkan pada masing-masing stasiun (ST1 dan ST2) secara merata sebanyak 168 fragmen. Masing-masing metode rak horisontal dan vertikal ditempatkan 84 fragmen. Kegiatan pemotongan dan penusukan fragmen seluruhnya dilakukan di atas kapal. Spons yang di fragmentasi di ST1 merupakan fragmen spons yang berasal dari perairan terbuka (ST2), sedangkan fragmen spons pada ST2 merupakan fragmen spons yang berasal dari perairan tertutup (ST1). Pemindahan fragmen ini dilakukan sebagai uji coba terhadap fragmen spons untuk mengetahui ketahanan serta kemampuan adaptasi spons terhadap kondisi lingkungan.

30

Metode fragmentasi spons yang digunakan pada penelitian ini adalah yang dikembangkan oleh Duckworth et al., 1999. Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu rak horizontal dan rak vertikal (Gambar 4 a dan b). Rak terbuat dari bingkai besi berukuran 1 m x 1 m yang ditancapkan pada substrat. Fragmen yang telah dipotong dan diuntai diikatkan pada rak dengan posisi horisontal dan vertikal.

Gambar 4. Bentuk rak fragmentasi (a) Rak Horizontal, (b) Rak Vertikal Jumlah fragmen yang ditempatkan pada tiap rak sebanyak 84 fragmen dan pada tiap lokasi penelitian secara keseluruhan terdapat fragmen spons sebanyak 168 fragmen. Fragmen yang akan ditempatkan di rak sebelumnya diuntai pada sebuah tali polyetilen berdiameter 0,5 mm dengan panjang kurang lebih 1,5 m dengan cara ditusukkan (Gambar 5a) dan kemudian diikatkan pada tiap-tiap rak yang sudah ditancapkan di kedalaman 7 m. Dalam satu untaian terdapat 12

potong fragmen yang disusun seperti tampak pada Gambar 5b. Penempatan jaring pada bagian bawah rak adalah untuk mencegah fragmen bergeser dan berputar, selain itu penempatan jaring juga bertujuan untuk menghindari ikan yang mengganggu fragmen yang baru ditempatkan.

31

Sumber : Koleksi Pribadi

Gambar 5. a) Penempatan tali polyetilen pada fragmen, b) Penempatan fragmen pada rak. Pengukuran pertumbuhan fragmen spons dimulai setelah satu minggu fragmen diletakkan pada rak dan kondisi luka serta stress pada spons telah hilang. Pengukuran dan pengambilan data pertumbuhan dilakukan tiap akhir minggu selama 5 minggu. melingkar atau Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran pertumbuhan keliling dari tiap fragmen yang difragmentasi . Cara

pengukurannya yaitu, 1) pengukuran panjang lingkar horisontal (plh), yaitu arah pertumbuhan fragmen yang sejajar dengan tali polyetilen dan 2) pengukuran panjang lingkar vertikal (plv), yaitu arah pertumbuhan fragmen yang tegak lurus dengan posisi tali polyetilen. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan meteran plastik elastis dengan tujuan agar pengukuran dapat mengikuti kontur tubuh dari fragmen spons (Gambar 6).

Gambar 6. Cara pengukuran fragmen spons.

32

Pengaruh jumlah luka dan ukuran fragmen spons Fragmen spons Aa yang digunakan pada penelitian pengaruh jumlah luka dan ukuran adalah spons yang sudah difragmentasikan dan dipelihara selama 3 bulan, kemudian difragmentasikan kembali dengan perlakuan luka. Fragmen spons yang digunakan dalam penelitian ini adalah spons yang telah difragmentasi pada perlakuan metode rak. Karena hasil penelitian dari metode rak tersebut menunjukkan bahwa baik tingkat kelangsungan hidup maupun laju pertumbuhan spesifik spons yang difragmentasi lebih baik pada ST2 dibanding ST1 maka penelitian pengaruh jumlah luka pada spons dilakukan di ST2. Sebagai kontrol maka spons yang sudah difragmentasi pada metode rak tidak difragmentasikan kembali namun dibiarkan dan dihitung tingkat kelangsungan hidupnya serta diukur pertumbuhannya untuk selanjutnya dibandingkan dengan spons yang difragmentasi. Pemotongan spons dilakukan dengan menyisakan minimal satu sisi yang tidak terpotong dan mengikuti morfologi spons tersebut karena ukuran dan bentuk dari tiap induk yang diperoleh berbeda. Proses pemotongan dan persiapan

dilakukan diatas kapal dan berlangsung selama 30 menit untuk menghindari stress pada fragmen spons. Fragmen spons yang difragmentasikan diberikan beberapa perlakuan berupa jumlah luka/sayatan pada tubuhnya yaitu fragmen dengan satu luka, dua luka, tiga luka, empat luka, dan fragmen tanpa luka (kontrol). Masing-masing perlakuan tersebut memiliki ukuran panjang dan lebar sebesar 3 cm x 3 cm serta fragmen pada ukuran 1 cm x 1 cm (Gambar 7). Tiap fragmen tersebut ditusuk oleh sebuah jarum dan dilewati seutas tali polyetilen. Setiap perlakuan terdiri dari 40 fragmen dan empat fragmen pada kontrol (tanpa luka). Masing-masing

perlakuan pada tiap fragmen diikatkan pada rangka besi ukuran 1 m x 1 m dengan posisi horizontal di tiap stasiunnya (Gambar 4a). Jarak antar fragmen pada seutas tali adalah 10 cm dan untuk mencegah terjadinya pergeseran fragmen maka pada setiap sisi fragmen diikatkan dengan cable tie.

33

Fragmentasi

Spons Aa di alam

Spons Difragmentasikan kembali

plh

plv

Fragmen 1 luka

Fragmen 2 luka

Fragmen 3 luka

Fragmen 4 luka

2 Fragmen ukuran 1 cm

Kerangka besi dengan posisi horizontal


Sumber : koleksi Pribadi

Gambar 7. Prosedur fragmentasi spons Aa dengan lukaan

34

Analisis data Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup (sintasan) spons dapat diketahui dengan membandingkan antara jumlah fragmen spons yang hidup pada akhir penelitian (Nt) dengan jumlah fragmen awal (N0). Rumus yang digunakan untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup spons adalah sebagai berikut:
S= Nt x 100 No

................................... (1)

dimana :

S Nt N0

= Kelangsungan hidup = Jumlah individu akhir = Jumlah individu awal

Laju pertumbuhan spesifik Pengukuran laju pertumbuhan spesifik spons yang difragmentasi

dilakukan dengan menggunakan rumus :

SGR =

Ln L t Ln L o x100 t

................................. (2)

dimana :

SGR
Lo Lt

= = = =

Laju Pertumbuhan Spesifik (%) Rata-rata panjang awal (cm) Rata-rata panjang akhir (cm) waktu (hari)

Analisis statistik Analisis pengaruh posisi rak (horisontal dan vertikal) pada masing-masing stasiun terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan spesifik spons dilakukan dengan menggunakan Analisis varian (ANOVA) klasifikasi dua arah dengan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) (Gomez dan Gomez, 1995), yang dioperasikan dengan menggunakan software Microsoft Excel 2003 dan software Minitab (two way). Rumus yang digunakan adalah :
Yij = + t i + j + e ij

............................. (3)

35

dimana :

i Yij ti j eij

= 1, 2,..., t dan j = 1, 2,..., r = Pengamatan perlakuan (posisi rak) ke-i dan ulangan (stasiun) ke-j = Rataan umum = Pengaruh posisi rak ke-i = Pengaruh stasiun fragmentasi ke-j = Pengaruh acak pada posisi rak ke-i dan stasiun ke-j

Penggunaan rancangan RKLT dalam penelitian ini adalah karena adanya faktor perlakuan metode rak dan lokasi (stasiun penelitian) yang digunakan sebagai landasan pengelompokan. Pengelompokan ini didasarkan pada adanya pola keragaman yang berbeda antara ST1 yang tertutup dan ST2 yang terbuka. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji F untuk melihat adakah pengaruh metode rak dan stasiun terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan spesifik spons Aaptos aaptos. Analisis lebih lanjut dengan uji T untuk rancangan kelompok lengkap teracak dilakukan jika hasil uji F berbeda nyata. Analisis terhadap perlakuan jumlah luka dikelompokkan berdasarkan perlakuan, kemudian ditampilkan dalam bentuk grafik. Percobaan terdiri dari enam jenis yaitu fragmen tanpa luka (kontrol), fragmen satu luka, dua luka, tiga luka, empat luka dan fragmen pada ukuran 1 cm2. Untuk menganalisis pengaruh perlakuan luka terhadap respon kelangsungan hidup (sintasan) dan laju pertumbuhan spesifik spons digunakan analisis ragam (ANOVA) klasifikasi dua arah dengan Rancangan Acak kelompok (Hanafiah, 2005) yang dioperasikan dengan bantuan software Minitab (Two way) dan Microsoft Excel 2003. Penggunaan RAK pada penelitian ini karena hewan uji yang diamati berada dalam kondisi yang heterogen/adanya sumber keragaman lain (jumlah luka) yang dijadikan sebagai dasar pengelompokan. Analisis ragam akan menunjukkan beda nyata atau tidak pada tiap perlakuan luka bagi sintasannya dan pertumbuhan, kemudian dilakukan uji lebih lanjut. Uji lanjut yang digunakan adalah uji BNT0,05 pada selang kepercayaan 95% dengan rumus sebagai berikut (Hanafiah, 2005): BNT a = (ta/2)*(Sd) ............................. (4)

36

Sd =

2S r

Dij = Xi-Xj

............................. (5)

dimana:

Xi dan Xj adalah rataan perlakuan ke-i dan ke-j Dij = perbedaan atau selisih rata-rata antar perlakuan ke-i dan ke-j Sd = galat baku beda rata-rata r = banyaknya ulangan yang sama untuk kedua perlakuan s 2 = kuadrat tengah galat ta/2 = t tabel pada taraf nyata a dengan n (derajat bebas)

bila D<BNT berarti selisih rata-rata antar perlakuan tidak berbeda nyata, dan bila D>BNT maka selisih rata-rata antar perlakuan berbeda nyata. Model observasi dari Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang digunakan untuk menganalisis perlakuan luka adalah sebagai berikut (Hanafiah, 2005):

Y ij =+k+t i +e ij

............................. (6)

dimana:

Yij ti k eij

= Nilai pengamatan pada perlakuan luka-i, dan ulangan ke-j = Nilai tengah umum = Pengaruh perlakuan luka-i = Pengaruh kelompok = Galat percobaan pada perlakuan-i ulangan ke-j

37

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Kualitas Air di Lokasi Penelitian Kondisi kualitas air yang ideal sangat diperlukan bagi fragmen spons Aa untuk menunjang kelangsungan hidup dan pertumbuhannya. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa suhu air adalah 30 0C, derajat keasaman (pH) berkisar antara 8,05-8,13 yang merupakan pH normal air laut sehingga fragmen dapat tumbuh dalam dukungan kondisi yang normal. De Voogd (2005) menyatakan bahwa spons dapat tumbuh pada kisaran suhu 26-31o C. Kandungan total suspended solid (TSS) berkisar antara 5,3-7,3 g/ml, sehingga lokasi ini masih mendukung kehidupan jasad autotrof yang ada di dalamnya, begitupun dengan salinitasnya yang berkisar antara 31-340/00. Hasil pengukuran parameter fisika kimia air yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan spesifik spons dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2 dan Lampiran 2. Tabel 2. Hasil pengukuran parameter fisika kimia air dan standar deviasi
No I 1 2 3 II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Fisika Suhu Kecepatan Arus TSS ( Total Suspended Solid) Kimia Salinitas Derajat Keasaman (pH) TOM (Total Organic Matter) Silikat (SiO 3) Amonia (NH3 ) Fosfat (PO4) Nitrat (NO 3)
0 o

Parameter

Satuan

ST1

ST2

Baku mutu 28-30 20

29,250,96 0,0330,004 7,130,15

29,250,96 0,0550,005 5,180,15

m/s g/ml

/00

32,500,56 7,0-7,1 3,790,08 0,430,08 0,450,009 0,160 0,2350,05 160,81 5,180,096

33,250,56 7,7-7,8 3,550,06 0,330,03 0,320,02 0,160 0,2550,006 12,250,5 7,340,05

33-34 7,0-8,5

mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l

0,3 0,015 0,008

COD (Chemycal Oxygen Demand) mgO2/ l DO (Disolve Oxygen) mg/l

>5

38

Secara umum bila dilihat dari hasil pengukuran kondisi fisika kimia air yang dip eroleh, maka perairan di sebelah Barat (ST1) dan Selatan (ST2) Gugusan Pulau Pari berbeda jika dilihat dari parameter kecepatan arus, TSS, COD, DO, Amonia, dan Silikat. Berdasarkan baku mutu kualitas air (Kep.Men

179/Men.KLH/2004), kondisi perairan di kedua lokasi penelitian menunjukkan kualitas air yang baik dan dapat menunjang kehidupan organisme termasuk jasad autotrof yang hidup di dalamnya karena perairannya yang belum tercemar bahan dan limbah organik, serta belum menunjukkan adanya indikasi pencemaran. Bagi fragmen spons sendiri, kondisi perairan di lokasi penelitian mengandung silikat yang diperlukan bagi pembentukkan spikula, nitrat bagi pertumbuhan dan phospat bagi multiplikasi mikroba simbiotik serta total organic mater (TOM) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan serta faktor-faktor lainnya yang

berpengaruh terhadap proses-proses fisiologinya. Tingginya nilai TSS akan meningkatkan kekeruhan sehingga

menyebabkan berkurangnya intensitas cahaya yang masuk kedalam perairan. Parameter tersebut sangat berpengaruh pada spons secara fisik seperti tertutupnya sistem saluran air (ostia dan oskula) dan terganggunya proses fotosintesis bagi mikrosimbion spons. Proses fotosintesis dari mikrosimbion spons dapat berupa makanan dan oksigen yang dimanfaatkan untuk proses pertumbuhannya. Kecepatan arus di ST1 adalah 0,03 m/s, dan ST2 adalah 0,05 m/s. Kondisi angin yang tenang saat pengamatan menyebabkan nilai kisaran kecepatan arus di kedua stasiun sangat lambat walaupun secara umum terlihat bahwa pada ST2 arus lebih cepat dibandingkan dengan ST1 karena perairannya lebih terbuka. Arus yang lambat dapat menyebabkan pengendapan sedimen pada tubuh spons, mempengaruhi suplai makanan, oksigen dan menghambat pembuangan zat-zat sisa dari hasil metabolisme spons keluar tubuhnya. Hadas et.al (2004)

menyatakan bahwa zat sisa yang dikeluarkan oleh spons harus dibuang jauh dari

39

tubuhnya karena zat tersebut tidak lagi berisi cadangan makanan tetapi mengandung asam karbon dan sampah nitrogen yang beracun bagi spons. Oksigen terlarut di lokasi ini berkisar antara 5,10-7,35 mg/l dan nilai total organic matter (TOM)-nya berkisar antara 3,60-3,79 mg/l. Nilai-nilai tersebut menunjukkan lokasi ini belum tercemar bahan organik. Fospat di lokasi ini

sebesar 0,16 mg/l yang menunjukkan bahwa perairan ini tidak tercemar limbah organik, begitupun dilihat dari kandungan nitrogen yang teramati yakni nitrat (NO3) dengan nilai yang berkisar antara 0,24-0,25 mg/l sehingga pertumbuhan dan multiplikasi mikroba simbiotik dapat dilakukan secara maksimal. Hal ini juga mengindikasikan bahwa perairan tersebut banyak mendapatkan pasokan nutrien yang sangat cukup. Kadar oksigen terlarut (DO) di kedua stasiun berada diatas baku mutu dan sangat baik untuk mendukung kehidupan spons. Besarnya nilai DO di ST1 dan ST2 mengindikas ikan banyaknya bahan organik yang akan terdekomposisi

menjadi bahan anorganik oleh mikroba aerob dan mikroba tersebut merupakan sumber makanan bagi spons. Total organic matter (TOM), nitrat (NO3 N), nitrit (NO2N), dan fosfat (PO4) yang terukur tidak berbeda di kedua stasiun. Total organic matter (TOM) akan mempengaruhi peningkatan dan penurunan nutrien di perairan, TOM membantu dalam penguraian bahan organik menjadi bahan anorganik (nutrien) yang penting bagi keberadaan plankton sebagai sumber makanan spons. Nitrogen merupakan gambaran nitrogen dalam bentuk organik atau kumpulan dari nitrogen anorganik. Nitrogen yang dihasilkan dapat berperan bagi pertumbuhan algae yang merupakan mikrosimbion bagi spons yang membantu dalam pendistribusian makanan melalui proses fotosintesisnya (Davy et al., 2002). Nitrat (NO3-N) yang terukur tidak jauh berbeda pada kedua stasiun dan kandungan nitrat tersebut telah melewati baku mutu air laut. Hal ini

40

mengindikasikan bahwa nutrien, nitrat (NO3-N) di kedua stasiun cukup tinggi dan dikhawatirkan dapat menyebabkan blooming makroalga yang dapat menutupi dan mempengaruhi pertumbuhan spons. Sedangkan silikat (SiO3) yang tinggi sangat menguntungkan bagi spons karena dibutuhkan sebagai dasar untuk pembentukan spikula yang berperan dalam pembentukan rangka spons. Berbeda dengan fosfat yang sangat sedikit dan kondisinya berada dibawah baku mutu air laut (Kep.Men 179/Men.KLH/2004). Kondisi fosfat yang kurang tidak membahayakan

pertumbuhan spons karena fosfat dapat disimpan oleh organisme sehingga pada saat kondisi fosfat kurang maka spons akan menggunakan simpanan fosfat yang ada di dalam tubuhnya. Fosfat berasal dari proses pelapukan batuan yang bersumber dari daratan dan masuk ke perairan melalui transportasi sungai. Nilai ammonia yang dihasilkan pada ST1 sedikit diatas dari nilai baku mutu air laut (Tabel 2). Ammonia yang tinggi akan bersifat toksik atau adanya pencemaran bahan organik bila tidak terionisasi menjadi ammonium dan ammonia yang dihasilkan diduga berasal dari proses metabolisme biota-biota yang hidup diperairan, ataupun dari hasil limbah industri dan rumah tangga. Pengambilan sample air yang dekat dengan populasi spons juga diduga merupakan penyebab sedikit tingginya nilai ammonia pada penelitian ini, hal tersebut dikarenakan buangan spons mengandung ammonia. Data ini sekaligus mengindikasikan bahwa buangan yang dikeluarkan spons melalui oskulum adalah benar mengandung ammonia. Nilai COD di ST1 yaitu 16 mg/L sedangkan di ST2 sebesar 12 mg/L. Kadar COD merupakan indikasi banyaknya oksigen yang terpakai untuk mengoksidasi bahan organik secara kimia. Kadar COD yang tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan perairan, dan biasanya perairan yang tidak tercemar bila memiliki kadar COD <20 mg/l (UNESCO/WHO/UNEP dalam Effendi, 2003). Kadar COD pada ST1 diduga disebabkan karena pada saat

41

pengukuran dilakukan banyak sampah yang berada di sekitar perairan. Sampah sampah tersebut berasal dari daratan Pulau Jawa dan karena p osisi ST1 lebih tertutup maka pengaruh sampah tersebut langsung memberikan dampak negatif walaupun kejadian ini tidak berlangsung secara permanen karena kuatnya arus yang dapat menyebabkan terjadinya pergantian air di lokasi tersebut.

Pemeliharaan fragmen spons pada rak horizontal dan vertikal Perkembangan fragmen Perkembangan fragmen spons diamati sesaat sejak pertama kali fragmen diikatkan pada rak. S aat kegiatan pemotongan dan penusukkan di atas kapal

berlangsung, fragmen mengalami stress. Kondisi stress tersebut ditujukkan oleh banyaknya ammonia yang dikeluarkan oleh fragmen berupa cairan berwarna kuning yang dapat meracuni fragmen tersebut dan fragmen lain sehingga air yang digunakan harus sesering mungkin diganti dengan air yang baru agar fragmen tidak terendam dalam air yang sudah mengandung amonia tersebut. Selain

amonia, fragmen juga senantiasa mengeluarkan lendir, yang merupakan suatu upaya untuk mempertahankan dan menyesuaikan diri dari kondisi lingkungan yang berubah. Saat penempatan fragmen pada rak yang sudah dipasang di laut, banyak ikan yang berdatangan mematuk-matuk fragmen khususnya ikan dari famili Pomacentridae. Ikan-ikan tersebut hanya datang di ST2 dan tidak ditemukan di ST1. Hal ini disebabkan karena ST2 memang adalah habitat ikan Pomacentridae sehingga pada saat ada benda asing yang diletakkan maka secara otomatis pada saat ikan-ikan tersebut akan mematuknya. Kejadian ini juga terjadi pada saat penelitian yang dilakukan Rani dan Haris (2005). Ikan-ikan tersebut diduga

tertarik pada biota-biota berukuran kecil yang hidup dan tumbuh di dalam rongga badan fragmen spons. Pematukan ini menyebabkan juga beberapa buah fragmen

42

tercabik-cabik sehingga fragmen bertambah stress. Kondisi ini menyebabkan fragmen spons yang masih luka menjadi semakin besar luasan lukanya. Dua hari setelah penanaman, permukaan fragmen tertutupi oleh lapisan berwarna putih. Diperkirakan pada saat itu fragmen mengeluarkan banyak energi yang lebih difokuskan pada pemulihan luka hasil pemotongan. Hari ketiga setelah fragmentasi lapisan yang terpotong pada fragmen tidak mengalami perubahan berarti dari hari kedua dengan tingkat kematian yang lebih rendah. Pada waktu itu fragmen diduga memfokuskan energi untuk proses bertahan hidup yaitu pemulihan dan perlindungan diri dari predator dan penyakit yang menyerang. Stasiun ST2, sebagian besar fragmen mengalami kematian yang diakibatkan oleh ikan Pomacentrus sp, warna permukaan tubuh berubah menjadi berwarna putih, tubuh fragmen tampak seperti meleleh dan mudah sekali hancur, selain itu fragmen menjadi mudah terlepas dikarenakan arus yang kuat. Hal ini

mengharuskan pergantian fragmen seluruhnya di ST2. Saat penempatan kedua ini fragmen tidak dipatuk lagi oleh ikan Pomacentrus sp. Setelah melakukan pemasangan ulang, pengamatan dan pengecekan kembali dilakukan lalu fragmen didiamkan selama satu minggu untuk beradaptasi dan memulihkan diri sepenuhnya sebelum dilakukan pengukuran. Perkembangan fragmen spons pada saat pengukuran dapat dilihat pada Tabel 3, sedangkan perkembangan fragmen spons selama 4 minggu pada perlakuan metode rak dapat dilihat pada Gambar 8. Semakin jelasnya oskulum dan terbukanya oskulum dapat digunakan sebagai indikator bagi fragmen spons, karena dengan adanya oskulum ini menandakan bahwa fragmen sudah memiliki sistem saluran air dan metabolisme yang sempurna, fragmen telah beradaptasi dengan lingkungan dan mendekati wujud sempurna atau normal dengan sel-selnya yang telah stabil dan berfungsi dengan baik.

43

Tabel 3. Perkembangan fragmen spons Aa Minggu 1 2 Deskripsi Lapisan permukaan fragmen yang terpotong mulai mengalami perubahan Permukaan fragmen berubah warna menjadi kekuningan tetapi masih tampak pucat Fragmen sudah menempel dengan baik pada substrat namun ada beberapa fragmen yang masih mengeluarkan lendir dan lapisan putih transparan. Fragmen telah menempel pada jaring dan tali polyetilen Fragmen mengalami perubahan warna menjadi kuningkecoklatan. Pemulihan dari bagian yang terpotong pada fragmen dimulai dari batas potongan menuju pusat atau bagian tengah dari bagian yang terpotong. Oskulum mulai muncul begitu juga dengan ostia. Penampakan warna lebih cerah Pola pemulihan luka makin tampak jelas Oskulum terlihat dengan jelas, bentuk oskulum berupa lubang berukuran besar yang terletak pada badan f ragmen sedangkan ostia berupa lubang-lubang kecil yang terletak menyebar mengelilingi badan fragmen Fragmen sudah sempurna dan oskulum yang semakin besar Koloni baru sudah pulih

Sumber : Koleksi Pribadi

Gambar 8. Perkembangan fragmen spons selama 4 minggu pada perlakuan rak horisontal dan vertikal

44

Perbedaan jumlah oskulum pada tiap fragmen atau jumlah fragmen yang memiliki oskulum kemungkinan disebabkan karena adanya sedimentasi, stress dan beberapa faktor lain yang menyebabkan oskulum menutup. Saat penelitian ini, fragmen tidak selalu mengalami penambahan oskulum melainkan mengalami pengurangan karena oskulum yang menutup atau menyempit. Penutupan atau penyempitan oskulum ini disebabkan oleh tertutupnya oskulum oleh substrat, dan bila oskulum tersumbat maka pertukaran air akan terhambat. Selain itu faktor dari sentuhan pada fragmen saat mengukur diduga memicu menutupnya oskulum dikarenakan sifat spons yang sensitif. Penambahan jumlah oskulum meningkat setelah 1 -2 minggu pengamatan dilakukan dan mengalami penurunan pada minggu ke-3 dan bertambah lagi pada minggu terakhir pengamatan. Fragmen spons yang dapat bertahan hingga akhir pengamatan mengalami pemusatan letak begitu juga pada jumlah fragmen yang memiliki oskulum, yaitu pada bagian rak sebelah kiri di setiap stasiun, hal ini diduga karena adanya pengaruh arah arus datang dari sebelah kanan rak sehingga menyebabkan lepasnya fragmen dari tali polyetilen dan terjatuh dari rak. Lepasnya fragmen dari substrat pada penelitian ini, dianggap sebagai fragmen mati. Kecepatan regenerasi jaringan yang terluka pada fragmen kemungkinan dipengaruhi oleh kekerasan jaringan. Fragmen Aaptos aaptos memiliki jaringan yang relatif lunak dengan bentuk pertumbuhan masif. Selain itu, kekeruhan y ang juga mempengaruhi kecepatan regenerasi jaringan, dimana pada lokasi yang kekeruhannya rendah saat terjadi turbulensi, sedimen dasar tidak teraduk oleh arus dan gelombang.

Tingkat Kelangsungan Hidup (Sintasan) Tingkat kelangsungan hidup (sintasan) fragmen spons Aaptos aaptos ialah jumlah individu dari fragmen spons Aaptos aaptos yang masih bertahan hidup sampai akhir pengamatan dilakukan. Tingkat kelangsungan hidup spons yang difragmentasi dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup fragmen spons Aaptos aaptos setelah 30 hari pengamatan pada perlakukan rak vertikal di ST1 lebih rendah (36,54%) dibanding

45

dengan fragmen spons yang diletakkan pada rak horisontal di ST1 (52,46%). Sedangkan pada ST2, tingkat kelangsungan hidup fragmen spons yang diletakkan pada rak vertikal lebih rendah (73,08%) dibandingkan dengan yang ditempatkan pada rak horisontal (88,46%). Jika dibandingkan antar kedua stasiun, tingkat kelangsungan hidup fragmen spons menunjukkan hasil yang lebih baik pada rak horisontal (H) di ST2 (Tabel 4). Tabel 4. Tingkat kelangsungan hidup fragmen spons Aa pada kedua metode di kedua stasiun Lokasi ST1 ST2 Tingkat Kelangsungan Hidup (%) V H 36,54 52,46 73,08 88,46

Tingkat kelangsungan hidup fragmen spons di ST1 lebih rendah diduga dipengaruhi oleh kandungan Total Suspended Solid (TSS) yang lebih tinggi Tingginya TSS akan mempengaruhi kekeruhan yang

dibandingkan di ST2.

memberikan dampak negatif pada fragmen spons Aaptos aaptos karena penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan berkurang sehingga proses fotosintesis tidak berjalan dengan optimal. Hal ini menyebabkan terhambat atau terhentinya proses pertumbuhan serta menurunkan tingkat kelangsungan hidup fragmen spons yang difragmentasikan (Rani dan Haris, 2005). Akibat dari kekeruhan tersebut juga berdampak pada laju sedimentasi, sehingga lendir yang disekresi spons ditempeli oleh sedimen yang dapat menutupi ostia dan menyebabkan air yang segar dari lingkungan sekitarnya tidak dapat masuk ke dalam tubuh spons. Tubuh spons yang kekurangan sirkulasi air tersebut memutih dan jaringannya mati sehingga sangat mudah terlepas dari tali. Kecepatan arus yang rendah di ST1 juga mengakibatkan air buangan dari tubuh fragmen spons tidak cepat menjauh atau tercuci sehingga masih memungkinkan untuk masuk lagi melalui ostia ke dalam tubuh fragmen spons tersebut.

46

Sedangkan kematian spons pada ST2 lebih disebabkan karena predator berupa ikan Pomacentridae yang menggigit tubuh spons pada saat pertama kali diletakkan. Kondisi ini menyebabkan bertambahnya luka pada permukaan tubuh spons sehingga sangat mudah terlepas dari tali. Namun tidak terjadi lagi pada peletakan spons yang kedua kalinya karena ikan Pomacentridae sudah mengetahui bahwa spons yang diletakkan tersebut bukanlah makanannya. Selain itu juga kondisi arus dan gelombang pada stasiun ini lebih besar yang mengakibatkan spons juga menjadi sangat mudah terlepas dari tali. Namun demikian jika dibandingkan dengan kondisi perairan yang keruh seperti pada ST1 maka kondisi ST2 lebih dapat ditolerir oleh fragmen spons sehingga sintasannya lebih tinggi. Spons yang difragmentasikan dengan metode horizontal memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik dibanding fragmen spons yang difragmentasi dengan metode vertikal. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 9 yang

menunjukkan hasil pengukuran pada tiap metode selama pengamatan.

Stasiun 1

Stasiun 2

M0

M1

M2

M3

M4

Tingkat Kelangsungan Hidup (%)

100,00 90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00

100,00 90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00 M0 M1 M2 M3 M4

Tingkat Kelangsungan Hidup (%)

Pengamatan (minggu) rak horizontal rak vertikal

Pengamatan (minggu) rak horizontal rak vertikal

Gambar 9. Tingkat Kelangsungan Hidup fragmen spons Aa pada kedua metode di tiap stasiun selama 4 minggu (A: Stasiun 1; B : Stasiun 2)

47

Tingkat kelangsungan hidup spons hasil fragmentasi yang semakin menurun pada setiap pengamatan diduga disebabkan karena jaringan yang dimiliki oleh fragmen spons ini menjadi sangat lunak pada saat awal proses fragmentasi. Kondisi jaringan spons yang lunak tersebut menyebabkan mudahnya spons terlepas dari tali karena gesekan oleh arus dan gelombang (Pong-Masak, 2003). Jika dibandingkan antar stasiun maka pada ST2 tingkat kelangsungan hidup lebih baik daripada ST1 karena kondisi kekeruhan air y ang menjadikan fragmen spons tidak berkembang baik sehingga mengalami kematian. Hal ini juga didukung oleh kondisi kesehatan fragmen spons yang sudah menurun akibat perlakuan pemotongan dan penusukan serta patukan yang dilakukan oleh ikan dari famili Pomacentridae. Faktor lain yang diduga mempengaruhi rendahnya tingkat kelangsungan hidup fragmen spons adalah adanya kontak fragmen spons dengan amonia hasil buangan spons pada saat terjadinya stress akibat pemotongan. Kondisi tersebut mengakibatkan air yang masuk melalui ostia spons adalah air yang sudah terkontaminasi dan merupakan buangan dari sisa metabolismenya sendiri sehingga keadaan fragmen makin melemah. Mulai dari proses pemotongan

hingga pengamatan pertama terlihat fragmen spons peka terhadap setiap perlakuan yang diberikan, ini terlihat dari banyaknya lendir yang dihasilkan, warnanya yang memucat, menyusutnya oskulum serta keluarnya ammonia. Jika dilihat dari hasil yang diperoleh maka tingkat kelangsungan hidup spons pada ST2 yang diletakkan pada posisi rak horisontal lebih baik dibandingkan dengan pada posisi vertikal, walaupun tingkat kelangsungan hidup spons pada ST1 dan ST2 tidak berbeda nyata antar perlakuan rak dengan selang kepercayaan 95% (Lampiran 3)

48

Pertumbuhan Fragmen Pertumbuhan fragmen yaitu pertambahan ukuran yang dialami fragmen selama pengamatan dilakukan. Besarnya tingkat pertumbuhan dapat diketahui dengan cara melakukan pengukuran keliling fragmen mengikuti morfologinya dengan dua cara pengukuran, yaitu secara vertikal dan horisontal. Pemantauan ukuran rata-rata fragmen spons dilakukan setiap minggu dalam 5 kali pengamatan yang dimulai dari pengamatan pertama (M0) hingga pengamatan terakhir (M4). Pertambahan ukuran rata-rata fragmen spons pada setiap pengamatan pada stasiun ST1 dapat dilihat pada Gambar 10. Pertumbuhan lingkar vertikal (plvv) dan lingkar horisontal (plhv) pada metode rak vertikal menunjukkan nilai yang positif dengan kecenderungan semakin meningkat dari minggu ke-1 sampai minggu ke-5. Pertumbuhan fragmen spons pada pengamatan di ST1, pada awal menunjukkan nilai yang positif sejak minggu ke-1 dan cenderung mengalami kenaikan hingga minggu terakhir dilakukan. Sedangkan pertumbuhan fragmen spons pada metode rak horizontal , pengukuran panjang lingkar vertikal (plvh) dan panjang lingkar horisontal (plhh) di ST1 menunjukkan nilai negatif sebelum akhirnya menunjukkan nilai positif dan cenderung meningkat pada minggu selanjutnya. Kondisi ini diduga disebabkan karena spons menghabiskan energinya pada awal fragmentasi untuk memperbaiki jaringan yang rusak sehingga spons mengalami pengerutan jaringan yang ditunjukkan dari negatifnya hasil pengukuran lingkar spons tersebut.

49

Stasiun 1
Pertumbuhan (cm) 14 12 10 8 0 1 2 waktu (minggu) plhv plvv plhh plvh 3 4

Gambar 10. Perubahan ukuran fragmen spons Aa di ST1 (plhv : panjang lingkar horisontal rak vertikal; plvv : panjang lingkar vertikal rak vertikal; plhh : panjang lingkar horisontal rak horisontal; plhv : panjang lingkar horisontal rak vertikal) Selain itu pertumbuhan yang negatif diduga disebabkan karena pada masa ini sebagian besar fragmen spons Aaptos aaptos mengalami kematian jaringan sehingga volume dan ukurannya berkurang. Jaringan yang mati ini didapatkan terutama pada bagian fragmen spons Aaptos aaptos yang terpotong. Selain itu gangguan dari ikan famili Pomacentridae selama penanaman diduga mempunyai peran dalam mengurangi ukuran dari fragmen yang difragmentasikan, hal ini juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh Rani dan Haris (2005). Pertumbuhan fragmen spons Aaptos aaptos di ST2 menunjukkan nilai yang positif dan terus meningkat pada tiap pengamatannya, baik yang di pelihara pada rak vertikal maupun rak horizontal (Gambar 11). Pertumbuhan fragmen spons pada minggu ke-3 pada metode rak horisontal cenderung melambat, diduga pada masa ini fragmen cenderung lebih menggunakan energinya untuk bersimbiose dan memproduksi bahan aktif dalam tubuhnya serta pertambahan panjang yang sudah beralih ke pertambahan bobotnya (Amir dan Budyanto, 1996), dan hal ini terjadi disetiap metode rak pada kedua stasiun pengamatan.

50

Stasiun 2
Pertumbuhan (cm) 14 12 10 8 0 1 2 waktu (minggu) plhv plvv plhh plvh 3 4

Gambar 11. Perubahan ukuran fragmen spons Aa di ST2 (plhv : panjang lingkar horisontal rak vertikal; plvv : panjang lingkar vertikal rak vertikal; plhh : panjang lingkar horisontal rak horisontal; plhv : panjang lingkar horisontal rak vertikal) Pertumbuhan rata-rata fragmen spons di kedua lokasi penelitian dan kedua metode memiliki kecenderungan yang lebih baik pada pertumbuhan vertikal, yaitu pertumbuhan yang arahnya tegak lurus terhadap tali polyetilen. Diduga hal ini terjadi akibat pengaruh sinar matahari yang menyebabkan pertumbuhan vertikal lebih cepat dibandingkan petumbuhan horisontal. Selain itu kemungkinan besar pertumbuhan vertikal tidak memerlukan energi untuk menyembuhkan luka dalam yang diakibatkan oleh adanya luka pada bagian dalam jaringan yang dilalui tali polyetilen untuk merangkai spons seperti halnya pertumbuhan horizontal yang harus melewati tali polyetilen. Selain itu energi yang dimiliki fragmen lebih difokuskan pada penyembuhan luka akibat potongan pada sisi spons dan penusukan tubuh spons yang dilakukan. Laju pertumbuhan spesifik fragmen spons Aaptos aaptos dan standar deviasinya pada setiap minggu pengamatan pada metode rak vertikal dan horisontal disajikan pada Tabel 5.

51

Tabel 5. Laju pertumbuhan spesifik dan standar deviasi fragmen spons Aa tiap minggu pada kedua metode di kedua stasiun. Pertumbuhan Waktu pengamatan (minggu) t0SD (cm) t1SD (cm) 11,271,64 9,671,63 10,051,58 8,811,19 11,571,32 9,891,18 10,541,53 9,661,27 t2SD (cm) 11,531,58 10,071,35 10,311,32 9,191,21 12,001,22 10,171,11 10,841,38 10,201,30 t3SD (cm) 11,841,57 10,891,42 10,591,19 9,771,17 12,251,30 11,831,40 10,921,32 10,561,27 t4SD (cm) 12,0471,46 10,921,14 10,811,21 9,921,21 12,361,42 11,831,35 10,941,32 10,621,24 Laju Pertumbuhan spesifik Rata-rata SD (%) 0,550,14 0,990,22 0,140,05 0,380,17 0,600,15 0,930,20 0,750,34 0,830,19

Perlakuan

plh 10,691,72 plv 8,841,53 plh 10,101,66 H plv 8,721,25 plh 10,961,53 V plv 9,241,32 ST 2 plh 9,691,50 H plv 8,981,41 Keterangan : H : horisontal V : vertikal plh : panjang lingkar horisontal plv : panjang lingkar vertikal ST 1 V

52

Laju pertumbuhan spesifik spons secara vertikal lebih baik dari pada pertumbuhan horisontalnya (Tabel 5). Hal ini disebabkan karena spons memiliki organisme simbion berupa mikroalga yang melakukan proses fotosintesis dan memiliki kecenderungan untuk tumbuh sesuai dengan arah datangnya sinar matahari. Selain itu juga secara genetik spons Aaptos aaptos memiliki morfologi tubuh dengan petumbuhan vertikal lebih cepat dibandingkan horisontal. Grafik laju pertumbuhan spesifik disajikan pada Gambar 12 dan data laju pertumbuhan spesifik disajikan pada Lampiran 4. Hasil analisis ragam perlakuan rak terhadap laju pertumbuhan spesifik menunjukkan bahwa pada ST1 perbedaan metode rak yang digunakan berpengaruh nyata (P>0,05), sedangkan pada ST2 tidak berpengaruh nyata. Pengunaan metode rak vertikal pada ST1 lebih baik jika dibandingkan dengan rak horizontal pada selang kepercayaan 95%. (Lampiran 5). H al ini diduga karena di ST1 dengan kondisi perairan yang lebih keruh maka penempatan fragmen pada posisi rak vertikal lebih menguntungkan karena fragmen terletak di kolom

1,40 Laju Pertumbuhan Spesifik (%) 1,20 1,00 0,80 0,60 0,40 0,20 0,00 Stasiun 1 plhv plvv plhh plvh
Laju Pertumbuhan Spesifik (%)

1,20 1,00 0,80 0,60 0,40 0,20 0,00 Stasiun 2 plhv plvv plhh plvh

Diolah berdasarkan Lampiran 6 Gambar 12. Laju pertumbuhan spesifik fragmen spons Aa

53

perairan sehingga kemungkinan permukaan untuk tertutup oleh substrat lebih kecil dibandingkan dengan fragmen yang ditempatkan pada rak dengan posisi horizontal. Selain itu pada rak vertikal, fragmen terkena arus yang langsung menuju badan fragmen yang secara tidak langsung membawa kandungankandungan senyawa organik atau nutrien dan oksigen yang dibutuhkan dalam pembentukkan dan pertumbuhan fragmen spons (Pong-Masak, 2003). Hal

lainnya diduga karena letaknya yang tidak terlalu dekat dengan dasar perairan sehingga tidak banyak partikel-partikel akibat dari terjadinya pengadukan yang menempel di permukaan tubuh fragmen spons luka sehingga energi yang dimiliki oleh fragmen spons lebih difokuskan pada pertumbuhan. Berbeda dengan

fragmen yang menggunakan metode rak horizontal, diduga kekuatan yang dimiliki oleh fragmen lebih difokuskan kepada pembentukan lendir yang digunakan untuk menghalau partikel-partikel dari lingkungannya serta partikel partikel lainnya yang mengendap di permukaan tubuh fragmen spons tersebut dikarenakan letaknya yang horisontal sehingga kondisinya terlindung dari pergerakan arus sehingga pengendapan sedimen langsung terjatuh di permukaan atau di atas fragmen. Pertambahan ukuran fragmen spons di ST2 relatif lebih baik jika dibandingkan dengan ST1 yang disebabkan karena kondisi lingkungan perairan di ST2 yang lebih terbuka dibanding di ST1. Lokasi fragmentasi di ST2 memiliki tingkat kekeruhan yang relatif lebih rendah dengan tingkat kecerahan yang lebih tinggi dan kecepatan arus yang lebih besar dibanding dengan di ST1. Keberadaan arus berguna untuk menghalau dan membersihkan sampah serta sedimen yang menutupi fragmen dan juga membawa oksigen dan nutrien yang dibutuhkan oleh spons, sehingga fragmen spons dapat tumbuh lebih baik (Duckworth e al., 1997 dalam de Voogd, 2005). Hasil analisis ragam perbedaan stasiun pengamatan terhadap laju pertumbuhan spesifik menunjukkan bahwa secara statistik pertumbuhan di ST1 berbeda nyata (P<0,05) dengan di ST2 pada rak horizontal pada selang

54

kepercayaan 95%, sedangkan pada rak vertikal laju pertumbuhan spesifik ST1 dan ST2 tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% (Lampiran 5). Bila

dibandingkan antar stasiun, maka pertumbuhan fragmen spons pada ST2 lebih baik dibanding dengan pertumbuhan di ST1. Secara umum hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kondisi lingkungan yang relatif berbeda akan menghasilkan respon pertumbuhan yang juga relatif berbeda, sedangkan pada kondisi lingkungan yang relatif sama akan menghasilkan respon pertumbuhan yang relatif sama pula (Rani dan Haris, 2005). Sintasan dan pertumbuhan spons dari spesies yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda jika dilakukan pada kondisi lingkungan dan metode yang berbeda (de Voogd, 2005).

Pengaruh jumlah luka dan ukuran fragmen spons Perkembangan fragmen Spons memiliki kemampuan dalam meregenerasikan bagian tubuhnya yang hilang seperti melapisi lapisan luarnya yang terluka melalui proses regenerasi sel sampai menjadi individu baru (Brusca dan Brusca dalam PongMasak, 2002). Perkembangan regenerasi pada fragmen spons yang diberi perlakuan jumlah luka selama empat minggu pengamatan disajikan pada Tabel 6. Perubahan warna pada fragmen spons yang difragmentasi dari kuning (seperti warna spons pada lapisan dalam/mesohyl)) menjadi kuning kecoklatan (warna lapisan luar spons/pinacoderm), terjadi selama proses perkembangan fragmen. Kondisi ini membuktikan adanya peran dari mikrosimbion yang telah kembali bersimbiosis untuk mengatur perubahan warna menjadi sama dengan induknya. Hadas et al. (2005) menyatakan bahwa warna spons yang beragam disebabkan oleh adanya pengaruh fotosintesis dari mikrosimbionnya.

55

Tabel 6. Regenerasi fragmen spons Aa Waktu Deskripsi Fragmen spons sudah mengalami respon yang tertekan akibat luka atau goresan pada lapisan pinacodermnya yang dicirikan oleh adanya lendir (mucus) yang di keluarkan oleh setiap fragmen sebagai respon pertahanan diri dari faktor lingkungannya yang baru (Gambar 13A) Pada hari ketiga masih ditemukannya luka dari tiap-tiap fragmen, luka tersebut mengalami pemutihan ( bleaching) yang disebabkan oleh hilangnya sebagian mikrosimbion pada jaringan fragmen spons dan diduga semacam jamur berwarna putih yang menempel dan menutupi lapisan yang terluka (Gambar 13B) Fragmen mengalami perubahan warna dari kuning (lapisan dalam) menjadi kuning kecoklatan (lapisan luar), begitu halnya pada bagian yang mengalami bleaching. Semua fragmen spons telah mengalami pemulihan pada bagian yang terluka, lapisan pinacoderm sudah terbentuk dan menyebar kearah bagian yang terluka guna melapisi permukaannya membentuk lapisan yang sempurna dan terpigmentasi ke warna aslinya, serta terbentuknya oskula dan ostia pada lapisan terluarnya (Pinacoderm) dan merekonstruksi bagian tubuhnya ke bentuk yang agak bulat

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Terjadinya regenerasi ditunjukkan oleh hidupnya lapisan pinacoderm yang menyebar menutupi lapisan luka (Gambar 13). Menurut Hegner (1993) terbentuknya lapisan tersebut (pinacoderm) disebabkan oleh adanya partikelpartikel sel dari fragmen spons yang melakukan reorganisasi sel dan bergerak secara ameboid dengan sel amebocytes dan collarless choanocytes sehingga terjadinya tumpukan-tumpukan sel yang tersusun untuk melapisi bagian terluarnya (pinacoderm). Seiring dengan bertambah besarnya tumpukan sel, menjadi epidermis, sementara

beberapa sel amoebocytes mengubah diri

choanocytes bergabung membentuk lubang dan membuat collars untuk membentuk kamar-kamar berflagella setipe, setelah waktu tertentu dengan proses ini pertumbuhan normal fragmen perlahan-lahan kembali ke bentuk spons awal yang fungsional.

56

Luka Jamur

jamur berwarna putih Jamur

A
Minggu 1

B
Minggu 2

C
Minggu 3

D
Minggu 4

Gambar 13. Perkembangan fragmen spons selama 4 minggu pada perlakuan jumlah luka Tingkat Kelangsungan Hidup (Sintasan) Tingkat kelangsungan hidup merupakan gambaran suatu individu dalam mempertahankan hidupnya pada selang waktu tertentu, baik secara biologis maupun fisiologis dari pengaruh faktor-faktor lingkungan di sekitarnya. Fragmen spons yang dijadikan sebagai objek p ada penelitian ini, merupakan hasil dari translokasi fragmen yang sudah difragmentasikan kemudian difragmentasikan kembali. Fragmen induk merupakan hasil fragmentasi selama 3 bulan, kemudian difragmentasikan lagi dengan perlakuan jumlah luka. Tingkat kelangsungan hidup spons dari perlakuan jumlah luka menunjukkan bahwa 100% pada fragmen kontrol (tanpa luka), 1 luka sebesar 80% , 2 luka sebesar 70%, 3 luka sebesar 60%, 4 luka sebesar 70% dan si ntasan pada fragmen ukuran 1 cm2 sebesar 48% (Gambar 14). Hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya di ST2 gugusan Pulau Pari menunjukkan bahwa fragmen spons yang berasal dari induk di alam memiliki sintasan sebesar 45% di ST1 dan 80% di ST2 (Lampiran 7).

57

120 Sintasan (% sd) 100 80 60 40 20 0 kontrol 1 luka 2 luka 3 luka 4 luka ukuran 1 cm

Perlakuan

Data diolah berdasarkan Lampiran 7 Gambar 14. Tingkat kelangsungan hidup rata-rata spons antar perlakuan luka Hasil analisis sidik ragam dan uji BNT0,05 (26,28) pada selang kepercayaan 95% menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kelangsungan hidup fragmen spons menghasilkan respon yang tidak berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan jumlah luka (Lampiran 8). Walaupun pada Gambar 14 menunjukkan rata-rata sintasan tertinggi terdapat pada fragmen kontrol (tanpa luka) sebesar 100% kemudian diikuti oleh fragmen 1 luka, 4 luka, 2 luka, 3 luka dan terendah terdapat pada fragmen ukuran 1 cm2. Tingginya tingkat kelangsungan hidup pada fragmen kontrol (tanpa luka) disebabkan tidak adanya lapisan pinacoderm yang terluka dan bentuknya sudah sempurna seperti bentuk induk aslinya di alam sehingga fragmen tersebut dapat mengatasi tekanan dari faktor lingkungannya seperti serangan jamur, predator dan pengendapan sedimen. Energi yang tersimpan tidak lagi digunakan untuk merekonstruksikan jaringannya yang rusak tetapi dapat digunakan untuk bersimbiosis, memproduksi bahan aktif dan melakukan proses pertumbuhan serta reproduksinya. Kecilnya ukuran atau luasan luka dapat mengurangi tekanan bagi tiap-tiap fragmen spons (Pong-Masak dan Rahmansyah, 2002). Rendahnya tingkat kelangsungan hidup spons pada fragmen ukuran 1 cm2 disebabkan karena ketidakmampuan fragmen dalam menahan pengendapan sedimen dan serangan

58

predator.

Ketersedian energi awal yang tersimpan tidak seimbang dengan

gangguan dari lingkungannya dan memaksa fragmen untuk memproduksi lendir yang berlebih sebagai respon pertahanan dirinya. Adanya lendir yang diproduksi secara berlebih akan bersifat negatif bagi fragmen spons karena tertutupnya jalur masuk dan keluarnya air (ostia dan oskula) yang terdapat pada lapisan luarnya, sehingga fragmen spons tidak memiliki jalan masuknya air yang membawa oksigen dan makanannya serta serat-serat spongin yang tertutupi akan hancur (Gambar 15).

Gambar 15. Contoh fragmen spons Aa ukuran 1 cm2 Pertumbuhan Fragmen Hasil penelitian pada fragmen spons Aa selama 26 minggu menunjukkan bahwa rata-rata laju pertumbuhan spesifik plh pada fragmen kontrol (tanpa luka) sebesar 3,07 cm lebih tinggi dibandingkan dengan spons dengan perlakuan, yaitu 1 luka sebesar 2,25 cm, 2 luka sebesar 2,13 cm, 3 luka sebesar 1,72 cm, 4 luka sebesar 1,85 cm dan pada fragmen ukuran 1 cm2 sebesar -1,21 cm. (Gambar 16). Data pertumbuhan plh dan plv disajikan pada Lampiran 9.

59

Rata-rata pertumbuhan plh (cm)

16,00 14,00 12,00 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 kontrol 1 luka 2 luka 3 luka 4 luka ukuran 1 cm

perlakuan 0 hari 177 hari

Data diolah berdasarkan Lampiran 9 Gambar 16. Ukuran rata-rata awal dan akhir pertumbuhan plh pada fragmen spons Aa antar perlakuan

Rata-rata ukuran awal fragmen (0 minggu) pada tiap perlakuan tidak seragam (Gambar 16). Kesulitan dalam menyamakan ukuran awal pada tiap

fragmen disebabkan oleh adanya lekukan-lekukan yang tidak beraturan pada tubuh fragmen. Secara visual terlihat bahwa spons yang berasal dari kedalaman yang relatif dangkal dimungkinkan memiliki tubuh yang tidak simetris. Hal ini sesuai dengan pendapat Ilan dan van Soest (2004) yang menyatakan bahwa pada perairan yang lebih dalam spons cenderung memiliki tubuh yang lebih simetris akibat dari lingkungannya yang stabil dibandingkan dengan spons yang hidup pada perairan yang dangkal. Seperti halnya pertumbuhan plh maka rata-rata pertumbuhan plv tertinggi selama 26 minggu terdapat pada fragmen kontrol (tanpa luka) sebesar 2,89 cm dan terendah terdapat pada fragmen ukuran 1 cm2 yaitu sebesar 1,54 cm, sedangkan pada fragmen luka 1 sebesar 2,29 cm, luka 2 sebesar 2,56 cm, luka 3 sebesar 2,46 cm, luka 4 sebesar 2,49 cm (Gambar 17).

60

Rata-rata pertumbuhan plv (cm)

14,00 12,00 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 kontrol 1 luka 2 luka 3 luka 4 luka ukuran 1 cm

perlakuan 0 hari 177 hari

Data diolah berdasarkan Lampiran 9 Gambar 17. Ukuran rata-rata awal dan akhir pertumbuhan plv pada fragmen spons Aa antar perlakuan luka
3 2,5
Laju Pertumbuhan Spesifik plh (%)

2 1,5 1 0,5 0 -0,5 kontrol 1 luka 2 luka 3 luka 4 luka ukuran 1 cm -1 Perlakuan

Data diolah berdasarkan Lampiran 9 Gambar 18. Laju pertumbuhan spesifik rata-rata plh pada fragmen spons Aa antar perlakuan jumlah luka Laju pertumbuhan spesifik rata-rata plh tertinggi terdapat pada fragmen kontrol (tanpa luka) sebesar 0,12 cm/minggu dan terendah terdapat pada fragmen ukuran 1 cm2 sebesar 0,06 cm/minggu (Gambar 17). Sedangkan rata-rata laju pertumbuhan spesifik pada fragmen 1 luka sebesar 0,09 cm/minggu, 2 luka

61

sebesar 0,09 cm/minggu, 3 luka sebesar 0,07 cm/minggu, 4 luka sebesar 0,07 cm/minggu (Gambar 18). Hasil analisis sidik ragam pada rata-rata laju pertumbuhan spesifik plh memberikan respon yang tidak berbeda nyata antar perlakuan jumlah luka (P>0,05) pada selang kepercayaan 95% (Lampiran 10). Kemudian dari hasil uji BNT 0,05 (0,08) pada selang kepercayaan 95% dapat di simpulkan bahwa rata-rata laju pertumbuhan spesifik plh pada fragmen kontrol, 1 luka, 2 luka, 3 luka, 4 luka dan ukuran 1 cm2 masih memberikan respon pertumbuhan yang tidak berbeda nyata (Lampiran 10). Adanya pengaruh yang tidak nyata baik antar perlakuan dapat mengindikasikan bahwa pertumbuhan plh masih memberikan respon tumbuh yang sama hanya saja yang membedakan adalah faktor lingkungannya (Tabel 2). Laju pertumbuhan spesifik plv menunjukkan respon pertumbuhan tertinggi terdapat pada fragmen kontrol (tanpa luka) sebesar 0,11 cm/minggu dengan kisaran 0,08-0,18 cm/minggu dan terendah terdapat pada fragmen ukuran 1 cm2 sebesar 0,05 cm/minggu dengan kisaran 0,01-0,07 cm/minggu (Gambar 19). Sedangkan rata-rata laju pertumbuhan spesifik plv pada fragmen luka 1 sebesar 0,09 cm/minggu, luka 2 sebesar 0,10 cm/minggu, luka 3 sebesar 0,10 cm/minggu, luka 4 sebesar 0,10 cm/minggu (Gambar 19). Hasil analisis sidik ragam pada selang kepercayaan 95% menunjukkan bahwa rata-rata laju pertumbuhan spesifik plv memberikan respon yang tidak berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan (Lampiran 10). H asil uji BNT 0,05 (0,06) (Lampiran 11) dapat disimpulkan bahwa rata-rata laju pertumbuhan spesifik plv antar perlakuan masih memberikan respon yang tidak berbeda nyata baik pada fragmen kontrol, 1 luka, 2 luka, 3 luka, 4 luka dan ukuran 1 cm2.

62

3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 -0,5 -1 -1,5 -2

Laju Pertumbuhan Spesifik plv (%)

kontrol 1 luka 2 luka 3 luka 4 luka ukuran 1 cm

Perlakuan

Data diolah berdasarkan Lampiran 9 Gambar 19. Laju pertumbuhan spesifik rata-rata plv fragmen spons Aa antar perlakuan luka Secara umum dari keempat perlakuan yang diteliti (fragmen 1 luka, 2 luka, 3 luka, 4 luka dan ukuran 1 cm2) baik pada pertumbuhan plh dan pertumbuhan plv memiliki rata-rata laju pertumbuhan spesifik yang rendah dibandingkan dengan fragmen kontrol (tanpa luka). Tingginya rata-rata laju pertumbuhan spesifik plh dan plv pada fragmen kontrol (tanpa luka) disebabkan oleh tidak adanya jaringan yang terluka pada lapisan luarnya (pinacoderm) sehingga respon pertumbuhannya lebih cepat, fragmen kontrol (tanpa luka) hanya memerlukan waktu beberapa hari saja untuk beradaptasi dan saat itu energi yang tersimpan tidak lagi digunakan untuk memperbaiki jaringannya tetapi di alokasikan dalam proses pertumbuhan dan reproduksinya, beda halnya dengan perlakuan lainnya yang membutuhkan energi yang cukup untuk memperbaiki jaringannya yang rusak.

63

KESIMPULAN

Pulau Pari merupakan habitat yang sesuai untuk melakukan kegiatan fragmentasi buatan spons Aa. Spons dapat meregenerasi jaringan tubuhnya yang terlihat dari spons dapat melakukan penempelan pada tali setelah fragmen berumur 1 minggu dan spons dapat pulih kembali seperti induknya setelah berumur 4 minggu. Stasiun terbuka di selatan Pulau Pari merupakan habitat yang ideal bagi spons Aa yang difragmentasikan dengan sintasan dan laju pertumbuhan spesifik spons yang lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun tertutup di barat Pulau Pari. Metode fragmentasi horisontal dapat menjamin kehidupan dan

pertumbuhan spons Aa lebih baik dibandingkan dengan metoda vertikal. Fragmen spons yang dipotong sampai 4 luka pada tubuhnya tidak mempengaruhi sintasan dan laju pertumbuhan spesifik spons Aa. Ukuran yang ideal untuk melakukan fragmentasi terhadap spons Aa adalah 1 cm. Fragmentasi spons ukuran 1 cm dapat dilakukan jika menggunakan kantong berlubang yang mesh size-nya lebih kecil dari 1 cm.

64