Anda di halaman 1dari 8

INDEKS

IDX
Lot.

Edisi 8, Agustus Oktober 2007 2010

33 Tahun Pasar Modal Indonesia


Dihitung sejak diaktifkannya kembali pada tahun 1977, Pasar Modal Indonesia memasuki usia ke-33 tahun. Tetapi bila dirunut ke belakang, kegiatan perdagangan Efek sudah berlangsung di Tanah Air sejak zaman penjajahan Belanda.

OJK BERPACU
DENGAN WAKTU

Sekitar 11 perusahaan tengah dipersiapkan untuk IPO sebelum akhir tahun ini. Sejumlah nama besar ikut masuk daftar dan total nilai IPO diperkirakan bisa mencapai Rp 15 triliun.

Calon Emiten Menjelang Tutup Tahun

Lot.

Sesuai amanat UU Bank Indonesia (BI) No 23 Tahun 2004, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus sudah resmi terbentuk sebelum 31 Desember 2010.
tor Jasa Keuangan dilakukan bertahap setelah dipenuhi sejumlah syarat. Antara lain mencakup infrastruktur, anggaran, personalia, struktur organisasi dan perangkat hukum lainnya. Kendati hanya bertanggung jawab ter hadap stabilitas moneter, BI tetap diikut kan dalam pembuatan regulasi baru. Da lam OJK disebutkan, BI sebagai otoritas moneter tetap memiliki kewenangan untuk ikut membuat aturan perbankan yang terkait kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan perannya sebagai lender of the last re sort. Apalagi salah satu Dewan Komisioner OJK adalah pejabat BI ex officio. Dalam struktur OJK ada tiga otoritas, yakni Perbankan, Pasar Modal, dan Lembaga Keuangan Nonbank. SDM untuk otoritas perbankan diambil dari BI. Akan ada bedol desa yang tentu saja harus melalui proses seleksi yang ketat. Dengan demikian kualitas pengaturan dan pengawasan perbankan akan lebih baik karena SDMnya terdiri dari orang-orang yang berpenga laman dan ahli di bidangnya. Kekhawatiran BI akan minimnya akses bank sentral untuk memantau per bankan tidak perlu ada. Sebab selain ada wakil BI pada anggota Dewan Komi sioner, OJK akan bekerja dalam koor dinasi yang baik dengan BI, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Kemente rian Keuangan. Peran BI sebagai lender of the last resort akan memberikan akses yang cukup untuk memantau aliran

Penerapan prinsip GCG menjadi syarat mutlak bagi perusahaan publik yang tercatat di BEI. Meski begitu, penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan fairness yang menjadi tuntutan GCG membutuhkan upaya keras para pengelola perusahaan untuk menerapkan dengan baik.

Fondasi GCG Buat Emiten

Lot.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia

Uriep Budhi Prasetyo

Kepatuhan Anggota Bursa Meningkat

Lot.

6 6

Optimisme Baru Merebak di Pasar Modal


Tingkat Kepercayaan investor terhadap peluang investasi di pasar saham sedang tinggi. Kini setelah IHSG melampaui level 3.300, timbul optimisme baru bahwa peluang keuntungan akan tetap besar sampai akhir tahun nanti.

Lot.

ancangan Undang-Undang OJK telah berada di tangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun, tak banyak waktu tersisa bagi DPR untuk membahas RUU OJK tersebut. Sebab sesuai ketentuan, RUU harus sudah disahkan pada akhir tahun ini. Itu amanat UU BI No 23 Tahun 2004. Para wakil rakyat tampak optimis sisa proses yang harus dilewati bisa diselesaikan sesuai jadwal. Kami optimis meski tinggal dua kali masa sidang hingga akhir tahun, ujar Wakil Ketua Komisi XI DPR, Sohibul Iman. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Fuad Rahmany menandaskan, sisa waktu 2,5 bulan diharapkan bisa dituntaskan untuk pekerjaan yang tersisa. Alasannya RUU OJK hanya terdiri dari 53 pasal dan yang mungkin banyak diperdebatkan hanya sekitar 10 pasal, terutama soal supervisi bank. Jadi kalau cuma terlambat sedikit nggak apa-apa, yang penting kan sudah dalam proses pembuatan UU, tandas Fuad. Sesuai dengan rancangan yang ada, OJK memisahkan fungsi regulasi dan pengawasan. Regulasi dibuat oleh Dewan Komisioner, sedangkan pengawasan dijalankan oleh anggota Dewan Komisi oner. Dewan Komisioner mewakili unsur perbankan, pasar modal, dan lembaga keuangan nonbank. Ini untuk menghindari kelemahan yang ada pada Bapepam-LK dan BI yang fungsi pengaturan dan pengawasannya menjadi satu. Saya sering dikritik sebagai yang membuat aturan, tapi saya juga yang mengawasi pelaksanaannya. Ini tidak fair dan ada konflik kepentingan, tambah Fuad. Selain keanggotaan dalam OJK yang tak bisa dipecat, independensi OJK juga bakal dijaga dari sisi anggaran operasional lembaga tersebut, karena datang dari industri yang diawasi bukan dari pemerintah, lanjut Fuad. Pengalihan fungsi Pengawasan Bank dari BI kepada Lembaga Pengawasan Sek-

dana di perbankan. Meski di Inggris fungsi pengaturan dan pengawasan perbankan yang diem ban AFS dikembalikan ke bank sentral, tidak berarti bahwa OJK sudah gagal menyehatkan dan menstabilkan sektor keuangan. Faktanya masih ada sekitar 39 OJK di dunia yang eksis. Jepang dan Korea Selatan termasuk contoh sukses pembentukan OJK. Belajar dari Pengalaman Kata orang bijak, pengalaman adalah guru terbaik. Ide pembentukan OJK tercetus pada tahun 1999, setelah Indonesia diguncang krisis hebat pada tahun 1997-1998. Pembentukan OJK bertujuan mencegah penyimpangan aksi konglo merasi. Krisis tahun 1997-1998 tak lepas dari fenomena konglomerasi di sektor keuangan tanpa pengawasan yang baik. Banyak financial group yang terdiri dari bank, asuransi, sekuritas dan multifinance. Ketika bank wajib menerapkan peraturan ketat tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), konglomerat tetap bisa membobol dana masyarakat lewat perusahaan finansial se-group lainnya. OJK diharapkan bisa membuka era baru. BI akan berkonsentrasi pada masalah moneter dan bertanggung jawab atas makro-prudensial sambil memberikan ma sukan kepada OJK yang berkosentrasi pada mikro-prudensial. Untuk menunjang tugas sebagai otoritas moneter, BI akan diberikan akses ke perbankan guna memantau money supply dan lalu lintas devisa. Ketua Asosiasi Dana Pensiun In donesia (ADPI), Jhony Rolindrawan mengatakan, pihaknya setuju soal keberadaan OJK. Alasannya karena pe ngawasan satu atap yang merupakan hasil koordinasi tiga direktorat akan lebih efektif bagi perkembangan industri. Wakil rakyat dari PDIP Arif Budimanta mengimbau agar pembentukan OJK didasari kebutuhan riil di Indonesia. Menurutnya, tak pantas mengambil contoh kegagalan OJK di tempat lain untuk menentang. Toh, Federal Reserve Bank Sentral Amerika Serikat, juga gagal me ngawasi perbankan dan membuat ekonomi Negara itu ambruk. Amerika tak mengenal OJK.e (Tim BEI)

OJK diharapkan bisa membuka era baru. BI akan berkonsentrasi pada masalah moneter dan bertanggung jawab atas makro-prudensial sambil memberikan masukan kepada OJK yang berkonsentrasi pada mikro-prudensial.

IDX
- Pojok Redaksi:
Tak lama lagi, industri keuangan di Tanah Air akan memiliki otoritas baru yang akan memayungi pengawasan sektor keuangan di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia, ditargetkan akan berdiri di akhir tahun 2010. Untuk itulah kami mengulas soal pendirian lembaga ini dalam tulisan sosialisasi di edisi kali ini. Kami mengulas pula soal emi ten-emiten baru yang mewarnai pasar perdana di pasar modal Indonesia tahun 2010. Aktivitas pasar perdana yang semarak ikut mendongkrak aktivitas pasar se kunder yang terus diwarnai sentimen positif. Simak pula, edukasi seputar perjalanan 33 tahun pasar modal Indonesia dan berbagai informasi menarik seperti pentingnya emiten menerapkan Good Corporate Governance (GCG), dan salah satu kisah sukses pemenang ARA (Annual Report Award) 2009. Dalam Company visit kali ini kami mengajak anda mengunjungi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan kami menampilkan pula Uriep Budhi Prasetyo, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia dalam Expose. Selamat membaca


Oktober 2010

IDX update

33 Tahun Pasar Modal Indonesia

Lantai Bursa

Redaksi

Dihitung sejak diaktifkannya kembali pada tahun 1977, Pasar Modal Indonesia memasuki usia ke-33 tahun. Tetapi bila dirunut ke belakang, kegiatan perdagangan Efek sudah berlangsung di Tanah Air sejak zaman penjajahan Belanda.
terlihat dari nilai efek yang tercatat mencapai NIF 1,4 miliar (jika di indeks dengan harga beras yang disubsidi pada tahun 1982, nilainya adalah + Rp 7 triliun) yang berasal dari 250 macam efek. Pada permulaan tahun 1939 keadaan suhu politik di Eropa menghangat dengan memuncaknya kekuasaan Adolf Hitler. Melihat keadaan ini, pemerintah Hindia Belanda mengambil kebijaksanaan untuk memusatkan perdagangan efeknya di Ba tavia serta menutup bursa efek di Surabaya dan Semarang. Kondisi ini berlanjut hingga pada 17 Mei 1940 secara keseluruhan kegiatan perdagangan efek ditutup dan dikeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa semua efek-efek harus disimpan dalam bank yang ditunjuk oleh Pemerintah Hindia Belanda. Penutupan ketiga bursa efek tersebut sangat mengganggu likuiditas efek, menyulitkan para pemilik efek dan berakibat pula pada penutupan kantorkantor pialang serta pemutusan hubungan kerja. Selain itu juga mengakibatkan ba nyak perusahaan dan perseorangan enggan menanam modal di Indonesia.

IDX Newsletter
PeneRbit: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Penanggung jawab: Ito Warsito Koordinator: Irmawati Amran tim editor: Hani Ahadiyani, Sukardi, Farida Alamat Redaksi & Sirkulasi: Gedung Bursa Efek Indonesia Tower I Lt.6, Jl Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190. Telp. 5150515, Fax. 5150330. e-mail: mediarelations@idx.co.id www.idx.co.id

alam sejarah Pasar Modal Indonesia, kegiatan jual beli saham dan obligasi dimulai pada abad ke 19. Menurut buku Effec tengids yang dikeluarkan oleh Vereniging voor de Effectenhandel pada tahun 1939, jual beli efek telah berlangsung sejak 1880. Pada tanggal 14 Desember 1912 Amsterdamse Effectenbueurs mendirikan cabang bursa efek di Batavia. Di tingkat Asia, bursa Batavia tersebut merupakan yang tertua ke empat setelah Bombay, Hongkong, dan Tokyo. Sekitar awal abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda mulai membangun perkebunan secara besar-besaran di Indo nesia, yang salah satu sumber dananya berasal dari orang-orang Belanda dan Eropa yang memiliki penghasilan jauh lebih tinggi dari penghasilan penduduk pribumi. Atas dasar itulah maka pemerintahan kolonial waktu itu mendirikan pasar modal yang terletak di Batavia (Jakarta) dan bernama Vereniging voor de Effec tenhandel (Bursa Efek) dan langsung memulai perdagangan. Pada saat awal terdapat 13 Anggota Bursa yang aktif (makelar) yaitu : Fa. Dunlop & Kolf; Fa. Gijselman & Steup; Fa. Monod & Co.; Fa. Adree Witansi & Co.; Fa. A.W. Deeleman; Fa. H. Jul Joostensz; Fa. Jeannette Walen; Fa. Wiekert & V.D. Linden; Fa. Walbrink & Co; Wieckert & V.D. Linden; Fa. Vermeys & Co; Fa. Cruyff dan Fa. Gebroeders. Perkembangan pasar modal di Batavia tersebut begitu pesat sehingga me narik masyarakat kota lainnya. Untuk menampung minat tersebut, pada tanggal 11 Januari 1925 di kota Surabaya dan 1 Agustus 1925 di Semarang resmi didirikan bursa efek. Perkembangan pasar mo dal waktu itu cukup menggembirakan

Sekitar awal abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda mulai membangun perkebunan secara besarbesaran di Indonesia, yang salah satu sumber dananya berasal dari orang-orang Belanda dan Eropa yang memiliki penghasilan jauh lebih tinggi dari penghasilan penduduk pribumi.

Dengan demikian dapat dikatakan pecahnya Perang Dunia II menandai ber akhirnya aktivitas pasar modal di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Setahun setelah pemerintah Belanda mengakui kedaulatan RI, tepatnya pada tahun 1950, Obligasi Republik Indonesia (ORI) dikeluarkan oleh pemerintah. Peristiwa ini menandai mulai aktifnya kembali Pasar Modal Indonesia. Sejak itu Bursa Efek berkembang dengan pesat, meskipun Efek yang diperdagangkan adalah Efek yang dikeluarkan sebelum Perang Dunia II. Aktivitas ini semakin meningkat sejak Bank Industri Negara mengeluarkan pinjaman obligasi berturut-turut pada tahun 1954, 1955, dan 1956. Para pembeli obligasi banyak warga negara Belanda, baik perorangan maupun Badan Hukum. Semua anggota diperbolehkan melakukan transaksi arbitrase dengan luar negeri terutama dengan Amsterdam. Namun keadaan ini hanya berlangsung sampai pada tahun 1958, karena mulai saat itu terlihat kelesuan dan kemunduran perdagangan di Bursa. Hal ini akibat politik konfrontasi yang dilancarkan pemerintah RI terhadap Belanda sehingga mengganggu hubungan ekonomi kedua negara dan mengakibatkan banyak warga negara Belanda meninggalkan Indonesia. Penurunan ini mengakibatkan harga saham dan obligasi menjadi rendah, sehingga tidak menarik lagi bagi investor. Hal ini merupakan pasang surut Pasar Modal Indonesia pada zaman Orde Lama. Pada 10 Agustus 1977 berdasarkan Keppres RI No. 52 Tahun 1976 pasar modal diaktifkan kembali dan mulai ada beberapa perusahaan go public. Aktifnya kembali pasar modal pada zaman orde baru inilah yang saat ini ditetapkan se bagai hari lahirnya pasar modal Indonesia dan kini telah memasuki dekade ke empat. Saat ini pada tahun ke 33 kelahirannya, kapitalisasi saham di Bursa Efek Indonesia tercatat Rp 2.571 triliun (per Agustus 2010) dan nilai nominal obligasi, Sukuk dan EBA yang tercatat di bursa sebesar Rp 103.8 triliun.e (Tim BEI)


Oktober 2010

IDX
Eddy juga mengatakan, ada satu calon emiten masih proses di BEI untuk mendapatkan pernyataan pra-efektif, yakni PT Wintermar kabarnya akan menawarkan 25% saham. Jika terealisasi, Wintermar akan menambah daftar per usahaan pelayaran terpadu yang masuk bursa saham setelah Temas Line dan Berlian Laju Tanker. Total nilai IPO enam perusahaan ini menurut Eddy Sugito, berkisar Rp 7,5 triliun sampai Rp 9,1 triliun. Agung Podomoro diperkirakan akan melepas sekitar 30% saham dengan target perolehan dana Rp 2 triliun, Borneo Energy melepas 25% saham dengan target dana Rp 2 triliun sampai Rp 3 triliun. Sementara itu, PT Krakatau Steel kabarnya akan menawarkan 19,61% saham dengan nilai IPO antara Rp 2,6 triliun sampai Rp 3,3 triliun. Jika semua berjalan sesuai rencana, diperkirakan ada 11 emiten baru yang akan terdaftar di BEI pada akhir tahun ini. Sebab, sebelumnya sudah ada lima perusahaan yang sudah menyampaikan pernyataan pendaftaran yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur, PT Harum Energy, PT Minna Padi Investama, PT Tower Bersama, dan PT Bumi Mineral Resources. Sementara itu, manajemen PT Minna Padi Investama menargetkan dana IPO sebesar Rp 150 miliar, PT Tower Bersama sekitar Rp 1 triliun dan Bumi Mineral sekitar Rp 2 triliun. Sejauh ini menurut Eddy Sugito, rencana IPO Bumi Mineral masih diproses di Bapepam-LK. Sebelumnya, PT Molindo Raya sudah menyampaikan dokumen IPO ke BEI. Namun menurut Eddy, IPO emiten ini diundur ke 2011 karena perusahaan ingin menggunakan tahun buku 2010 sebagai acuan. Jika jadwal IPO 11 perusahaan berjalan sesuai rencana (termasuk Indofood BCP dan Harum Energy yang sudah list ing awal Oktober), menurut Eddy Sugito, total nilai IPO bisa mencapai Rp 15 triliun. Angka itu, diakui belum termasuk PT Garuda Indonesia yang akan IPO pada kuartal pertama 2011. Menteri BUMN Mustafa Abubakar membenarkan rencana IPO dua BUMN yakni Garuda Indonesia dan Krakatau Steel. IPO Garuda berkaitan dengan restrukturisasi utang dengan Bank Mandiri yang sudah disepakati untuk diselesaikan. Mustafa Abubakar juga menegaskan bah wa pencatatan saham Krakatau Steel akan dilakukan pada bulan November 2010.e (Tim BEI)

IDX update

Calon Emiten Menjelang Tutup Tahun

Sekitar 9 perusahaan tengah dipersiapkan untuk IPO sebelum akhir tahun ini. Sejumlah nama besar ikut masuk daftar dan total nilai IPO diperkirakan bisa mencapai Rp 15 triliun.

ebangkitan pasar saham tidak lepas dari kehadiran emiten baru yang berkualitas. Sejumlah calon emiten tengah menanti giliran masuk bursa saham untuk memberi kontribusi pada kebangkitan pasar. Ada banyak nama yang sejauh ini sudah menyatakan minat. Sampai berita ini dibuat, setidaknya ada sem bilan perusahaan yang hampir pasti akan bisa IPO. Lima perusahaan mendapat per nyataan pra-efektif dari Bursa Efek Indo nesia (BEI) pada awal September 2010 dan dua perusahaan dalam proses book building. Direktur BEI Eddy Sugito mengatakan kepada pers, ada lima perusahaan sudah mendapatkan pernyataan pra-efektif, yang selanjutnya bisa mengurus pernyataan pendaftaran ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Kelima perusahaan dimaksud adalah PT Agung Podomoro, PT Borneo Lumbung Energy, PT Krakatau Steel, PT Aditech Cakrawiyasa dan PT Midi Utama. Diperkirakan lima perusahaan ini akan tercatat di BEI pada kuartal ke empat 2010.

education

ARA, Agar Garuda Landing Mulus di Bursa

Dua kali berturut-turut menjuarai Annual Report Award (ARA) mendatangkan banyak manfaat bagi PT Garuda Indonesia, salah satunya akan memuluskan langkah menuju IPO.
alau tidak ada aral melintang awal 2011 bakal menjadi babak baru dalam sejarah PT Garuda Indonesia. Maskapai penerbang an pelat merah tersebut akan mencatatkan diri sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan melepas 30%-40% sahamnya. Artinya, masyarakat berkesempatan memiliki dan mentransaksikan saham maskapai penerbangan kesayangannya itu melalui lantai bursa. Sungguh suatu peluang yang telah lama dinanti-nanti masyarakat maupun manajemen dan karyawan Garuda. Tentu saja bukan perkara mudah bagi perusahaan BUMN seperti Garuda menempuh Initial Public Offering (IPO). Selain persetujuan pemerintah sebagai pemegang saham, manajemen Garuda juga harus berjibaku mendapat restu dari DPR. Hingga akhirnya semua diperoleh dengan perjuangan panjang. Tak berhenti sampai di situ pihak Garuda juga harus meyakin kan masyarakat sebagai calon pemilik sebagian saham Garuda tentang prospek kinerja perseroan di masa yang akan da tang, agar saham yang ditawarkan saat IPO dapat terserap dengan harga yang wajar. Salah satu upaya Garuda merebut hati pelaku pasar modal itu adalah dengan kembali mengikuti ajang ARA 2009 yang diselenggarakan bersama oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) serta Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). Sesuai dengan rencana Garuda Indonesia untuk IPO di tahun 2010 ini, maka ARA 2009 ini merupakan sarana yang tepat bagi investor untuk mengetahui Garuda Indonesia beserta prospek untuk masa depan. Sehingga Annual Report 2009 disusun untuk memenuhi tujuan tersebut,

papar Emirsyah Satar, Direktur Utama PT Garuda Indonesia pada acara Talk Show Segmen BEI News dengan Metro TV pada pertengahan Juni lalu. Untuk itu, menurutnya, pihak Garuda secara intens berkoordinasi dengan unit-unit penyedia data dan informasi dalam penyusunan Annual Report tersebut. Saat ditanya mengenai kiat-kiat yang dilakukan agar kembali menjadi juara pertama tahun 2010. Dikatakan Emirsyah Satar, tidak berbeda dengan tahun 2009 Annual Report disusun sesuai strategic plan Garuda dan implementasinya serta keterlibatan Dewan Komisaris dan Direksi sejak awal pembuatannya hingga wawancara juri. Masalah design tetap dianggap penting meski tidak secara khusus masuk kriteria penilaian ARA. Pasalnya design dinilai memberikan inspirasi yang baik serta

memudahkan orang dalam membaca dan memahami Annual Report. Lalu bagaimana dengan penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang juga menjadi indikator penilaian selain kinerja keuangan? Bagi Garuda prinsip-prinsip GCG sudah dijalankan dengan baik melalui tiga aspek yakni kepemimpinan, sistem yang melibatkan semua karyawan dan transparency, accoun tability, responsibility, independence dan fairness (TARIF). Semuanya melebur dan terintegrasi dalam semua proses sistem manajemen perusahaan dan didukung dengan komitmen yang kuat dari para pemimpin Garuda. Kiat-kiat dan upaya yang dilakukan tersebut akhirnya berbuah manis. Garu da Indonesia berhasil menjadi Juara I ARA 2009 untuk kategori BUMN Non Keuangan Non Listed. Penghargaan yang sama diperoleh Garuda pada ajang ARA 2008. Tentu saja menjadi juara bukan yang paling utama bagi Garuda dalam partisipasinya yang ke empat kali tersebut.Namun, Garuda lebih melihat tiga manfaat utama yang diperoleh, yakni pertama, dapat mendorong peningkatan kualitas keterbukaan informasi dalam laporan tahunan, kedua, meningkatkan kepercayaan shareholder dan stakeholder terhadap perusahaan dan ketiga, menjadi indikator bagi Garuda Indonesia untuk memastikan bahwa perusahaan telah menyajikan informasi baik keuangan maupun non keuang an dengan wajar.e (Tim BEI)

IDX
Q&A
Apakah Sukuk dan apa perbedaannya dengan Obligasi?
Jawaban:


Oktober 2010

investor corner

Fondasi GCG bagi Emiten


wal tahun lalu, salah satu emiten perkapalan menggelar sebuah diskusi mengenai upaya menerapkan GCG. Selain jajaran manajemen perusahaan dari berbagai lini, hadir pula sejumlah akademisi yang menggeluti teori pelaksanaan tata kelola usaha yang baik, juga beberapa media massa. Menariknya, direksi perusahaan menunjukkan buktibukti yang mengejutkan. Sebuah praktik kecurangan sekaligus pembobolan aset perusahaan dari dalam perusahaan. Aksi penggelapan bahan bakar di kapal tanker memang sudah menjadi rahasia umum. Dan terjadi nyaris di seluruh perusahaan sejenis. Namun, tak banyak yang berani membeberkan detail kecurangan dan praktik pembobolannya ke publik, serta upaya memberantasnya. Dalam video tayangan di gambarkan dengan jelas ba gaimana bentuk pipa tambahan yang dibuat serupa pipa asli. Orang dalam perusahaan yang jarang berada di lapangan saja akan sulit membedakan mana pipa yang benar dan bodong, apalagi mata awam. Padahal, kalau dirunut, pipa aspal meng arah ke tempat tertentu (cover dam) untuk menampung bahan bakar bagi keuntungan pribadi oknum armada kapal. Bahan bakar tampungan itu bisa dijual di tengah laut dan masuk kantong pribadi, atau dibawa ke darat dengan akal-akalan alat pengukur yang terlihat seperti takaran semestinya. Kerugian perusahaan akibat aksi pembobolan yang dilakukan bertahun-tahun ini bisa mencapai Rp 1 miliar per kapal. Sebuah korupsi secara besar-besaran tak jauh berbeda dengan menelusuri aliran pipa yang berkelok-kelok tidak pada tempatnya. Sulit mencari titik kesalahan karena terlalu banyak oknum yang terlibat. Penegakan governance membutuh kan keberanian dan upaya sungguhsungguh, ungkap Mas Achmad Daniri, ketua Komite Nasional Kebijakan Go vernance (KNKG). Menurutnya, GCG diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi serta kewajaran dan kesetaraan. Namun, tak cukup hanya perusahaan saja yang menerapkan good governance, pemangku kebijakan, serta lingkungan sosial harus ikut pula. Itulah yang membuat organisasi yang saat ini saya pimpin mengganti nama menjadi KNKG, dulunya Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance, papar mantan direktur utama BEI itu. Prinsip-prinsip good governance yang dijadikan pedoman di Indonesia adalah Transparancy, Accountability, Responsibi lity, Independence and Fairness. atau di singkat dengan TARIF. Kerangka GCG berupa compliance, conformance dan per formance. Selain itu, dilihat pula aspek code of conduct, seperti pencegahan korupsi dan disclosure. Setiap pihak harus menyadari bahwa TARIF ini adalah prinsip yang harus di-

Sukuk berasal dari bahasa Arab yaitu sak (tunggal) dan sukuk (jamak) yang memiliki arti mirip dengan sertifikat atau note. Dalam pemahaman praktisnya, sukuk merupakan bukti (claim) kepemilikan. Sementara itu, menurut fatwa Majelis Ulama Indonesia No 32/DSNMUI/IX/2002 sukuk adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah. Sukuk mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Sedangkan Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) berpendapat bahwa sukuk adalah sertifikat dari suatu nilai yang direpresentasikan setelah penutupan pendaftaran, buk ti terima nilai sertifikat dan dapat digunakan sesuai dengan rencana. Sama halnya dengan bagian dari kepemilikan atas aset yang jelas, barang, jasa, atau modal dari suatu proyek tertentu atau modal dari suatu aktivitas investasi tertentu. Sukuk pada prinsipnya mirip obligasi konvensional, dengan perbedaan pokok antara lain berupa konsep imbalan dan bagi hasil sebagai pengganti bunga, adanya suatu transaksi (underlying transaction) berupa sejumlah aset tertentu yang menjadi dasar penerbitan Sukuk serta adanya akad atau perjanjian antara para pihak yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip syariah.

Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) menjadi syarat mutlak bagi perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Oleh karena itu, penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi dan fairness yang menjadi tuntutan GCG membutuhkan upaya keras para pengelola perusahaan untuk menerapkan dengan baik.
perjuangkan dan diyakini, lanjut Daniri. Ia mencontohkan demo yang dilancarkan para pemilik modal transportasi umum di Stasiun Kereta Api Gambir beberapa waktu lalu. Padahal mereka itu memang melanggar, tetapi karena kadung dibiarkan sekian lama, seolah penertiban yang dilakukan menjadi sebuah kesalahan. Itulah pentingnya keberanian untuk melakukan penegakan hukum, tandasnya. dibuat KNKG sejak tahun 2001, yang ke mudian disempurnakan lima tahun kemudian. Pedoman yang disepakati bersama antara perusahaan dan stakeholder pada tahun 2006 mencakup penciptaan situasi kondusif untuk penerapan GCG. Indonesia Institute for Corporate Directorship (IICD), lembaga training GCG yang menjadi Center for Good Governance Excellence beranggotakan delapan negara, Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Korea, Hongkong, Taiwan dan Vietnam secara rutin melakukan riset berupa rating corporate governance perusahaan publik. IICD saat ini menjadi Chairman Institute of Directors (IOD) East Asia Network. Pedoman rating untuk menilai perusahaan publik me ngacu pada kriteria yang diterapkan bersama oleh negara anggota IOD di setiap kawasan. Ada lima kriteria penilaian yaitu hak-hak pemegang saham (RiS), perlakuan yang setara terhadap pemegang saham (Ets), peran para pemangku kepentingan (RoS), keterbukaan dan transparansi (DT), serta tanggung jawab direksi dan dewan komisaris (ResB). Hasilnya adalah rating GCG emiten yang tercatat di BEI. Dari 20 peringkat teratas, tercatat perusahaan-perusahaan de ngan label blue chips yang sahamnya aktif ditransaksikan. Di peringkat pertama hingga ketiga berturut-turut adalah PT Aneka Tambang Tbk, di ikuti PT Medco Energi International Tbk, dan PT Bank Niaga Tbk. Ketiganya meraih skor di atas 85%. Peringkat selanjutnya bisa dilihat dalam tabel 20 Emiten dengan GCG terbaik. Menurut penilaian IICD, total skor GCG seluruh emiten di Indonesia berdasarkan hasil penerapan GCG yang dilakukan emiten sepanjang tahun 2007 hasilnya adalah sebesar 73%. Ada ke naikan dibanding skor tahun sebelumnya sebesar 71,7%. Bila dibandingkan dengan emiten di negara lain, menurut Siddharta Utama, guru besar FE UI yang menjadi chairman IICD, angka GCG di Indonesia masih rendah atau masuk dalam kategori fair. Skor yang terbaik adalah antara 95-100% (excellence), berikutnya 80-89% (good), 60-79% (fair), dan kurang dari 60% (poor). Penyebab masih rendahnya nilai GCG perusahaan di Indonesia menurut Siddhar ta karena masih minimnya informasi yang disampaikan perusahaan publik di Indonesia. Emiten belum mengoptimalkan web site untuk alat transparansi perusahaan, padahal ini adalah sarana paling efektif untuk menilai keterbukaan. Perusahaan juga dituntut untuk menjalankan prinsip TARIF dengan benar, tuturnya. e
(Tim BEI)

Foto / Gambar ilustrasi

Selain itu Sukuk juga harus distruktur secara syariah agar instrumen keuangan ini aman dan terbebas dari hal-hal yang bertentangan dengan syariah Islam, seperti maysir (judi), gharar (spekulasi), riba (bunga) dan suatu hal yang haram. Aset (underlying asset) yang menjadi objek perjanjian harus memiliki nilai ekonomis, dapat berupa aset berwujud atau tidak berwujud termasuk proyek yang akan atau sedang dibangun. Fungsi underlying asset tersebut untuk menghindari riba, sebagai prasyarat agar dapat diperdagangkan di pasar sekunder dan penentuan jenis struktur Sukuk.

Contoh lain, masih banyaknya perusahaan yang mengikuti tender untuk menjadi pemasok instansi pemerintah maupun swasta, terpaksa memberikan suap jika ingin menjadi pemenang tender. Keadaaan ini masih banyak terjadi meskipun secara internal perusahaan itu sudah berkomitmen untuk melaksanakan GCG. Ini artinya, meski suatu perusahaan sudah berketetap an menerapkan GCG, untuk memperta hankan kelangsungan usaha di lingkungan bisnis tidak sehat, pada akhirnya akan melanggar prinsip TARIF, jelas Daniri. Pelaksanaan dan pembenahan GCG tidak bisa dilakukan sendiri oleh kalangan dunia usaha. Ada tiga pilar yang berkaitan berdasarkan hipotesa KNKG. Pertama, pilar negara yang terdiri dari eksekutif, yudikatif, legislatif dan lembaga non struktural. Kedua, dunia usaha, dan ketiga, masyarakat madani atau lingkung an sosial. Indonesia saat ini masih dinilai sebagai negara dengan tingkat penerapan GCG yang rendah. Pedoman pelaksanaan GCG sudah

Dapatkan souvenir menarik dari BEI bagi pembaca yang berpartisipasi dengan mengirimkan pertanyaan dan dimuat dalam rubrik Q&A. Kirimkan pertanyaan ke e-mail: mediarelations@idx.co.id dengan subjek IDX Newsletter

Tiga pilar GCG: Pertama, pilar negara yang terdiri dari eksekutif, yudikatif, legislatif dan lembaga non struktural. Kedua, dunia usaha, dan ketiga, masyarakat madani atau lingkungan sosial.


Oktober 2010

IDX
Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia

expose

Uriep Budhi Prasetyo

Kepatuhan Anggota Bursa Meningkat


emeriksaan regular yang dilakukan BEI terhadap 60 AB yang memiliki izin transaksi margin dan short selling menunjukkan peningkatan kepatuhan dalam satu tahun terakhir. Hasil itu menunjukkan pembinaan terhadap AB berjalan sesuai harapan. Demikian data yang diungkapkan Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI. Uriep mengatakan trend kepatuhan AB dari 2009 ke 2010 terlihat membaik. Jika di tahun 2009 tercatat sekitar 13 AB yang mela kukan pelanggaran di atas 40% tingkat kepatuhan, maka di tahun 2010 tercatat hanya 4 AB yang melanggar ketentuan margin dan short selling. BEI menurut Uriep telah memberikan sanksi peringatan tertulis terhadap 4 AB tersebut. Hal yang cukup menggembirakan menurut Uriep adalah peningkatan kepatuhan tersebut justru terjadi pada saat peraturan dibuat lebih ketat oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Sebagaimana diketahui, aturan margin dan short selling yang baru berlaku mensyaratkan bila portofolio margin mencapai 65% harus dilakukan margin call dan kalau turun 80% harus forced sell. Lantas apa yang mendorong tingginya kepatuhan AB tersebut? Uriep memaparkan bahwa kepatuhan AB dipengaruhi oleh kondisi pasar. Ia menjelaskan bahwa jumlah pelanggaran pada tahun 2009 turut dipengaruhi oleh market crisis pada tahun 2008 yang memicu terjadinya beberapa kasus baru. Meski begitu dalam kondisi ekonomi yang stabil seperti tahun 2010 ini BEI terus berupaya meningkatkan pengawasan dan kepatuhan terhadap AB. Divisi Pengawasan Transaksi BEI pada prinsipnya melakukan pengawasan terhadap transaksi di bursa, ujar Uriep. Dalam pengawasan tersebut, menurutnya, harus

Dalam satu tahun terakhir jumlah Anggota Bursa (AB) yang melakukan pelanggaran margin dan short selling susut hingga sepertiganya. Meski begitu PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berupaya meningkatkan pengawasan dan kepatuhan terhadap AB.
dipastikan transaksi yang terjadi harus wajar, teratur dan memberikan informasi yang terbuka terhadap pasar. Terdapat beberapa tahapan yang dijalankan Divisi Pengawasan Transaksi jika melihat indikasi keti dakwajaran pada sebuah transaksi di bursa. Pertama kata Uriep, saham yang terkait akan dimasukkan pada pengumuman Unusual Market Activity (UMA). Langkah berikutnya adalah meminta informasi kepada emiten untuk disampaikan kepada publik sebagai wujud dari keterbukaan dan edukasi kepada investor. Namun bila tidak terdapat aksi korporasi tapi harga saham terus melejit atau menurun BEI langsung melalukan suspend dalam rangka cooling down. ini tujuannya agar investor lebih rasional dan merupakan bentuk edukasi kami, ujar mantan Direktur PT Dhanawibawa Artha Cemerlang tersebut. Di masa yang akan datang seiring berlakunya Sing le Investor ID, Uriep yakin pengawasan pasar bakal makin ketat dan cepat mendeteksi bila terjadi ketidak wajaran transaksi, pasalnya sistem itu mampu mendeteksi investor yang melakukan transaksi tidak wajar tersebut. Berbeda dengan saat ini pengawas pasar hanya bisa melihat brokernya. Uriep memaparkan saat ini pihaknya tengah melalukan serangkaian persiapan pendukung Single In vestor ID tersebut. Sebab berlakunya sistem itu akan mengubah struktur pengawasan BEI mulai dari SOP

hingga monitoring unitnya. Oleh karena itu, dalam melakukan analisa Divisi Pengawasan Transaksi BEI mulai memperkuat parameter-paremeter pengawasan dengan menggunakan Securities Markets Automated Research Trading and Surveillance (SmartS) system, sebuah sistem yang khusus didatangkan dari negeri Kangguru. Ini semua kita persiapkan menjelang penerapan Single Investor ID, papar mantan Komisaris KSEI itu. Lalu bagaimana dengan Divisi Kepatuhan Anggota Bursa? Program paling penting untuk Divisi ini, menurut Uriep, yaitu pe ningkatan pembinaan yang lebih kondusif dan berkesinambungan terhadap AB. Dengan jalan tersebut kami berharap peningkatan kepatuhan AB akan semakin baik sehingga kejahatan di pasar modal semakin menurun yang pada akhirnya akan menumbuhkan kepercayaan investor maupun calon investor. e (Tim BEI)

company visit

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo)


Manajer Investasi (MI) rating itu memang tak wajib, tidak seperti halnya rating obligasi. Namun, Pefindo yakin bisnis ini punya prospek yang bagus di masa yang akan datang seiring makin kritisnya investor dalam memilih produk Reksa Dana. Hanya beberapa bulan sejak diluncurkan, Pefindo telah memeringkat sembilan Reksa Dana milik tiga MI yakni, Dana reksa Investment Management, PNM Investment Management dan Batavia Prosperindo Asset Management. Selain produk anyar tersebut, Pefindo sebelumnya juga telah menggarap corpo rate rating. Ini tidak spesifik ke surat utang namun lebih kepada rating untuk melihat kekuatan perusahaan dan apa saja yang perlu dibenahi secara internal. Tahun ini Pefindo juga mulai menggarap rating untuk produk sekuritisasi aset (Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset/ KIK EBA). Sementara awal 2011 Pefindo berambisi meluncurkan produk rating untuk menilai kinerja pemerintah daerah, ini mirip corporate rating tetapi dibuat untuk mengetahui potensi kemampuan pemerintah kabupaten atau kota, maupun pe merintah provinsi yang berencana menerbitkan pembiayaan untuk proyek infrastruktur di daerahnya. Di masa datang, menurut Ro nald, pihaknya akan membuat produk hasil riset berupa data dan laporan-laporan makro ekonomi dan industri. Pefindo juga akan menggeluti kegiatan sebagai invest ment advisor.e (Tim BEI)

Tak Cuma Menilai Obligasi


Kegiatan usaha Pefindo kini tak sebatas memeringkat obligasi. Beberapa produk rating lain serta jasa riset ekonomi tengah dikembangkan, termasuk menjajaki bisnis advisory.
esuai namanya, Pefindo merupakan salah satu lembaga peme ringkat efek yang beroperasi di Indonesia, tentu setelah memperoleh izin operasional dari Departemen Keuangan melalui Bapepam-LK sejak tahun 1993 silam. Berdasarkan fungsinya, Pefindo bertugas melakukan pemeringkat an atas efek obligasi sebelum diterbitkan dan dijual kepada para investor. Dalam peringkatnya, Pefindo membe rikan rating dengan symbol triple A (AAA), AA+, AA, A+, BBB+, BBB, BB+, BB, B+, B, CCC, CC+, C+, C, dan D. Obligasi yang memiliki rating tertinggi (AAA) berarti obligasi tersebut memiliki potensi sangat kecil mengalami gagal bayar dibandingkan dengan rating single A (A) atau double B (BB). Jadi rating itu menunjukkan tingkat risiko pada sebuah obligasi, biasanya makin tinggi rating-nya maka bunga yang ditawarkan semakin rendah, begitu sebaliknya, ujar Direktur Utama PT Pefindo, Ronald Taufik A. Kasim. Dalam melakukan pemeringkatan Pefindo selalu menganalisa dengan dua pendekatan yaitu secara sektoral atau industrinya maupun secara individual perusahaannya. Penilaian secara sektoral sangat penting, sebab masing-masing industri memiliki kriteria dan risiko berbeda. Sedang kan analisa secara individual dilakukan dengan melihat profil bisnis dan kinerja keuangan perusahaan yang diperingkat. Profil bisnis sifatnya kualitatif misalnya terkait strategi dan keberhasilan strategi itu serta kemampuan manajemen meminimalkan risiko, paparnya. Rating diberikan sesuai umur obligasi tersebut, namun minimal setahun sekali pihak Pefindo harus melakukan review. Sebab bisa saja dalam satu tahun terjadi sesuatu yang berpengaruh signifikan di perusahaan terkait kewajiban finansial perusahaan tersebut. Dengan metode pemeringkatan yang telah teruji serta kredibilitas tinggi selama belas an tahun, Pefindo menjadi per usahaan pemeringkat terbesar di Indonesia dan telah meme ringkat lebih dari 400 perusaha an. Sekitar 120 di antaranya masih tercatat di BEI. Secara market share dari total obligasi yang beredar kami menguasai 90%, namun kalau dihitung dari jumlah obligasi yang terbit di tahun ini sekitar 80% dikuasai Pefindo, ujar Ronald. Tahun ini Pefindo menargetkan memeringkat obligasi senilai Rp 33 triliun - Rp 35 triliun dan hingga akhir Agustus 2010 nilai obligasi yang diperingkat telah mencapai Rp 18 triliun. Sisanya sekitar Rp 15 triliun - Rp 17 triliun ditargetkan tercapai pada semester kedua tahun ini. Selain berkomitmen mempertahankan pasar, diversifikasi produk rating pun dilakukan. Tahun ini Pefindo mulai menggarap rating mutual fund yang berbasis pendapatan tetap (fixed income). Bagi

Direktur Utama PT Pefindo, Ronald Taufik A. Kasim

IDX
MARKET UP DATE


Oktober 2010

Optimisme Baru Merebak di Pasar Modal


Tingkat Kepercayaan investor akan peluang investasi di pasar saham sedang tinggi. Kini setelah IHSG melampaui level 3.300, timbul optimisme baru bahwa peluang keuntungan akan tetap besar sampai akhir tahun nanti.

ptimisme kian menebal di pasar saham sejak awal September 2010. Hal itu tampak jelas pada lonjakan likuiditas transaksi, yang kemudian mengerek posisi IHSG ke level lebih tinggi. Pelaku pasar tentu ingat benar, pada awal 2010 kebanyakan pelaku pasar hanya memperkirakan IHSG maksimal hanya naik hingga kisaran 3.000. Namun sejak IHSG menembus level 3.000 pasar makin optimis, IHSG akan bisa mencapai level 3.200. Kini level 3.500 bahkan sudah berhasil dilampaui, hingga akhirnya menembus level psikologis baru, 3.600, tepatnya 3.603,604 pada 6 Oktober 2010. Jika dibanding level terendah selama sebulan (antara 24 Agustus 8 Oktober), yakni 3.081,884 yang dibukukan pada 31 Agustus 2010, maka IHSG telah meningkat sebesar 521,510 poin. Seiring lonjakan IHSG, frekuensi, vo lume dan nilai transaksi pun meningkat tajam. Jika pada awal September frekuensi transaksi hanya berkisar 85.000 kali sampai dengan 91.000 kali, maka sejak IHSG menembus level 3.300, frekuensi transaksi langsung melesat di atas 100 ribu kali, tepatnya berkisar antara 125 ribu kali hingga 185 ribu kali. Demikian halnya dengan volume transaksi yang sebelumnya hanya berkisar 5 miliar saham, meningkat hingga di atas 12 miliar saham. Sedangkan nilai transaksi terkerek dari kisaran Rp 4 triliun hingga posisi tertinggi Rp 8,82 triliun pada 6 Oktober 2010.

Terus Optimis Tampak bahwa tingkat kepercayaan pasar akan investasi di pasar modal sedang tinggi dan ditunjang oleh fundamental yang memadai. Seiring dengan itu, pasar pun punya optimisme dan target baru bahwa level IHSG yang pantas pada akhir 2010 pada posisi 3.500. Optimisme yang cukup beralasan karena kinerja emiten pada 2009 umumnya tumbuh positif dan berlanjut pada semester pertama 2010. Optimisme yang sama juga dimiliki para pemodal asing. Ini cukup beralasan karena pasar modal Indonesia merupakan satu dari sedikit pasar modal dunia yang saat ini terus memperlihatkan trend per tumbuhan positif. Karena optimisme yang sama, investor asing pun cukup aktif masuk pasar saham. Hal ini bisa dilihat dari aktifnya pemodal asing untuk belanja saham. Jika pada akhir Agustus nilai beli pemodal asing tak melampaui angka Rp

1 triliun dalam sehari, maka sejak awal September terus berada di atas level Rp 1 triliun bahkan bisa menembus angka Rp 4 triliun dalam sehari. Jika dikalkulasi dengan nilai jualnya, net buying pemodal asing selama sebulan mencapai Rp 5,3 triliun. Ini merupakan selisih atas transaksi beli pemodal asing selama sebulan sebesar Rp 33,79 triliun dengan nilai jual sebesar Rp 28,49 triliun. Dengan nilai transaksi sebesar itu, porsi perdagangan saham oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) antara

Kehadiran caloncalon emiten dengan nama-nama besar dan juga punya kapitalisasi pasar cukup besar, akan meningkatkan kapitalisasi pasar BEI.

24 Agustus sampai 8 Oktober mencapai 29,66%. Ini sudah merupakan level yang cukup tinggi, karena dalam beberapa bulan sebelumnya, porsi perdagangan saham harian oleh investor asing hanya berkisar antara 20% sampai 25%. Trend positif sebulan terakhir membuat investor makin percaya akan peluang investasi di pasar saham. Apalagi ada keyakinan bahwa kinerja emiten pada akhir tahun ini akan lebih baik dibanding 2009. Hal ini membuat saham sejumlah sektor makin menarik di mata investor. Sebut saja saham-saham dari sektor seperti perbankan, infrastruktur, consumer goods, pertambangan, agrobisnis akan menjadi incaran investor. Belakangan, saham dari beberapa sektor lain seperti farmasi, properti, serta ritel kian merebut perhatian investor. Menurut analis, PER (Price Earning Ratio) banyak saham dari sektor-sektor potensial ini masih tergolong rendah dibanding rata-rata industri. Kondisi ini bisa menjadi pendorong

kenaikan harga saham-saham tersebut. Pelaku pasar saham pun mengantisipasi kehadiran sejumlah calon emiten dengan dukungan nama besar dan fundamental memadai, yang akan listing pada kuartal terakhir tahun ini. Nama-nama yang sedang ditunggu seperti Krakatau Steel, Borneo Energy, Agung Podomoro, dan beberapa calon emiten lainnya. Menurut catatan BEI, setidaknya ada sekitar 11 calon emiten yang sedang dalam proses untuk IPO, dengan nilai emisi bisa mencapai Rp 15 triliun. Kehadiran calon-calon emiten dengan nama-nama besar dan juga punya kapitalisasi pasar cukup besar, akan meningkatkan kapitalisasi pasar BEI. Jika kapitalisasi pasar terus meningkat, maka pasar akan makin menarik di mata investor, termasuk para pemodal asing. Soal dana untuk belanja saham para pemodal lokal, terutama institusi, masih punya cukup dana untuk menyerap saham IPO baru berapa pun besarnya.e (Tim BEI)

whats coming
>>
Sekolah Pasar Modal dengan PT Perusahaan Pengelola Aset, di Sampoerna Strategic Square

>>
Campus to Campus di Universitas Fajar, Makasar

>>
Peresmian Pojok BEI di Universitas Islam Negeri dan Universitas Ma Chung, Malang

>>
Workshop dan Gathering Wartawan Pasar Modal, Bali.

>>
Program Edukasi Pasar Modal bekerjasama dengan ILUNI SMA 1, Orchardz Hotel, Pontianak

>>
Workshop Wartawan di Bali

>>
Workshop Wartawan di Medan

[Oktober 2010]

[14 Oktober 2010]

[22 Oktober 2010]

[29 31 Oktober 2010]

[26 Juni 2010]

[28 Juni 2010]

[30 Juni 2010]

Ikuti Program Edukasi gratis dan bergabunglah pada BEI Investor Club, Hubungi: 021 5150515 ext 7703, 7706, 7712


Oktober 2010

IDX
Data statistik
Hi 3,501.296 Sep 30 652.118 Sep 29 528.315 Sep 27 2,025.302 Sep 27 2,631.899 Sep 30 404.678 Sep 30 1,023.629 Sep 27 1,176.562 Sep 30 192.768 Sep 30 802.894 Sep 17 446.521 Sep 30 377.783 Sep 29 868.108 Sep 30 1,010.306 Sep 30 475.309 Sep 30 823.411 Sep 29 316.427 Sep 29 332.324 Sep 30 193.648 Sep 29 Low 3,122.149 Sep 02 589.768 Aug 01 483.625 Sep 02 1,759.007 Sep 02 2,266.569 Sep 02 359.742 Sep 01 864.898 Sep 01 1,020.522 Sep 01 168.891 Sep 02 761.578 Sep 02 397.376 Sep 02 326.213 Sep 01 756.907 Sep 01 906.271 Sep 02 401.828 Sep 02 741.066 Sep 02 288.813 Sep 02 256.627 Sep 01 177.033 Sep 02 Close 3,501.296 Sep 30 651.929 Sep 30 526.519 Sep 30 1,964.154 Sep 30 2,631.899 Sep 30 404.678 Sep 30 1,002.704 Sep 30 1,176.562 Sep 30 192.768 Sep 30 798.770 Sep 30 446.521 Sep 30 377.096 Sep 30 868.108 Sep 30 1,010.306 Sep 30 475.309 Sep 30 823.411 Sep 30 316.370 Sep 30 332.324 Sep 30 193.296 Sep 30

Indonesia Stock Exchange Indices Highlights September 2010


INDICES

Change 1 Month
419.412 13.61% 70.615 12.15% 52.732 11.13% 221.301 12.70% 326.953 14.18% 52.665 14.96% 169.416 20.33% 170.649 16.96% 21.864 12.79% 49.103 6.55% 50.006 12.61% 57.034 17.82% 128.837 17.43% 115.749 12.94% 78.554 19.80% 91.518 12.50% 31.438 11.03% 78.703 31.03% 18.943 10.86% s s s

3 Month
587.612 20.17% 85.829 15.16% 66.259 14.40% 303.653 18.29% 393.042 17.56% 92.658 29.70% 193.505 23.91% 217.522 22.68% 29.384 17.98% 120.647 17.79% 69.337 18.38% 60.076 18.95% 173.407 24.96% 165.686 19.62% 95.624 25.19% 121.497 17.31% 42.219 15.40% 87.156 35.55% 24.230 14.33% s s s

6 Month
723.995 26.07% 112.128 20.77% 82.852 18.67% 40.556 2.11% 201.636 8.30% 112.341 38.43% 300.395 42.77% 438.421 59.40% 26.390 15.86% 100.983 14.47% 101.017 29.24% 49.380 15.07% 280.216 47.66% 216.971 27.35% 64.969 15.83% 154.660 23.13% 59.372 23.10% 108.615 48.55% 34.003 21.35% s s s

1 Year
1,033.705 41.89% 167.974 34.71% 124.991 31.13% 179.949 10.09% 393.308 17.57% 166.215 69.70% 417.746 71.41% 578.934 96.87% 30.483 18.78% 103.124 14.82% 145.826 48.50% 99.700 35.94% 386.256 80.16% 318.624 46.07% 52.676 12.46% 224.078 37.39% 93.566 41.99% 137.896 70.92% 52.479 37.27% s s s

Composite Index (IHSG) LQ45 Jakarta Islamic Index Agriculture Mining Basic Industry Miscellaneous Industry Consumer Goods Property & Real Estate Infrastructure Finance Trade & Service Manufacturing Main Board Development Board Kompas100 BISNIS-27 PEFINDO-25 SRI-KEHATI

s s s s s s s s s s s s s s s s

s s s s s s s s s s s s s s s s

s s s s s s s s s s s s s s s s

s s s s s s s s s s s s s s s s

Indonesia Stock Exchange Activity, 1985 - 8 October 2010


Year Month 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des 2010 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep 8-Oct-10 US$ Rate* 1.125 1.641 1.650 1.729 1.800 1.901 1.994 2.062 2.110 2.200 2.307 2.382 4.650 8.068 7.100 9.380 10.345 8.905 8.447 9.355 9.840 9.025 9.419 10.950 9.433 11.355 11.980 11.575 10.713 10.340 10.225 9.920 10.060 9.681 9.545 9.480 9.433 8.922 9.365 9.335 9.115 9.012 9.180 9.083 8.952 9.041 8,924 8,922 Total Trading Volume 1.886.601 1.431.921 2.523.374 6.944.592 95.791.539 702.587.441 1.007.920.460 1.706.269.484 3.844.031.699 5.292.580.825 10.646.444.247 29.527.727.838 76.599.170.013 90.620.529.970 178.486.582.779 134.531.333.895 148.381.308.444 171.207.351.815 234.030.810.474 411.768.340.217 401.868.034.588 436.935.587.208 1.039.542.483.055 787.845.846.423 1.467.659.184.708 40.557.937.621 36.828.779.021 40.081.686.968 188.503.592.788 282.750.920.231 185.472.360.609 138.405.882.060 185.121.466.104 80.123.353.261 100.299.804.419 116.415.815.725 73.097.585.901 963.693.619.286 88.248.057.237 76.399.518.362 97.680.728.706 119.513.336.362 111.215.902.443 108.188.266.203 97.266.080.756 99.116.060.088 121,598,395,670 44,467,273,459 Value (Rp) 3.206.500.000 1.815.900.000 5.184.000.000 30.591.960.720 964.272.000.000 7.311.288.727.968 5.778.248.697.009 7.953.299.560.350 19.086.237.219.525 25.482.803.341.345 32.357.503.995.530 75.729.894.195.234 120.385.166.174.829 99.684.703.142.460 147.879.985.749.582 122.774.764.247.160 97.522.823.598.837 120.762.778.011.333 125.437.613.790.430 247.006.931.714.305 406.006.258.740.277 445.708.122.935.828 1.050.154.301.200.650 1.064.527.514.727.510 975.134.759.218.231 31.391.219.622.003 24.663.432.638.916 36.787.549.391.423 79.411.501.681.514 130.919.574.245.580 126.865.925.717.090 114.623.996.078.311 121.857.785.106.202 66.804.060.153.557 98.969.017.973.828 87.741.496.236.696 55.099.200.373.111 832.644.882.832.601 79.011.640.552.138 63.556.021.223.904 104.136.004.008.418 110.460.511.147.509 96.959.057.564.031 73.689.408.950.277 76.936.397.878.153 89.637.075.626.031 100,612,866,617,667 37,645,899,264,473 Freq. n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a 251.742 373.867 609.469 1.758.608 2.972.486 3.506.090 4.549.254 4.592.813 3.621.576 3.092.206 2.953.195 3.723.950 4.011.916 4.810.901 11.861.058 13.417.139 20.976.596 804.995 803.832 950.255 2.161.844 2.784.079 2.504.611 2.064.353 2.325.080 1.429.695 2.075.362 1.714.263 1.358.227 19.078.627 1.676.298 1.336.787 2.033.539 2.446.428 2.137.143 1.998.298 2.116.586 2.153.862 2,261,618 918,068 Volume 7.732 5.774 10.258 27.668 387.820 2.891.306 4.113.961 6.907.974 15.626.145 21.602.371 43.278.229 118.585.252 311.378.740 366.884.737 722.617.744 562.892.610 603.176.051 698.805.518 967.069.465 1.708.582.325 1.653.777.920 1.805.518.955 4.225.782.451 3.282.691.027 6.089.872.136 2.134.628.296 1.841.438.951 2.004.084.348 9.425.179.639 14.137.546.012 8.430.561.846 6.590.756.289 9.256.073.305 4.451.297.403 4.559.082.019 5.820.790.786 3.847.241.363 5.098.908.039 4.412.402.862 4.021.027.282 4.440.033.123 5.691.111.255 5.853.468.550 4.917.648.464 4.421.185.489 4.719.812.385 7,152,846,804 7,411,212,243 Average Daily Trading Value (Rp) 13.141.393 7.322.177 21.073.171 121.880.322 3.903.935.223 30.087.607.934 23.584.688.559 32.199.593.362 77.586.330.161 104.011.442.210 131.534.569.088 304.136.121.266 489.370.594.207 403.581.794.099 598.704.395.747 513.701.942.457 396.434.242.272 492.909.298.005 518.337.247.068 1.024.925.027.860 1.670.807.649.137 1.841.769.103.041 4.268.919.923.580 4.435.531.311.365 4.046.202.320.408 1.652.169.453.790 1.233.171.631.946 1.839.377.469.571 3.970.575.084.076 6.545.978.712.279 5.766.632.987.140 5.458.285.527.539 6.092.889.255.310 3.711.336.675.198 4.498.591.726.083 4.387.074.811.835 2.899.957.914.374 4.405.528.480.596 3.950.582.027.607 3.345.053.748.627 4.733.454.727.655 5.260.024.340.358 5.103.108.292.844 3.349.518.588.649 3.497.108.994.462 4.268.432.172.668 5,918,403,918,686 6,274,316,544,079 Freq. n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a 1.023 1.526 2.478 7.063 12.083 14.195 18.418 19.217 14.722 12.621 12.203 15.452 16.510 19.880 48.216 55.905 87.040 42.368 40.192 47.513 108.092 139.204 113.846 98.303 116.254 79.428 94.335 85.713 71.486 100.945 83.815 70.357 92.434 116.497 112.481 90.832 96.208 102.565 133,036 153,011 Trading Days 244 248 246 251 247 243 245 247 246 245 246 249 246 247 247 239 246 245 242 241 243 242 246 240 241 19 20 20 20 20 22 21 20 18 22 20 19 189 20 19 22 21 19 22 22 21 17 6 Composite Index 66,530 69,690 82,580 305,120 399,690 417,790 247,390 274,335 588,765 469,640 513,847 637,432 401,712 398,038 676,919 416,321 392,036 424,945 691,895 1.000,233 1.162,635 1.805,523 2.745,826 1.355,408 2.534,356 1.332,667 1.285,476 1.434,074 1.722,766 1.916,831 2.026,780 2.323,236 2.341,537 2.467,591 2.367,701 2.415,837 2.534,356 3.546,954 2.610,796 2.549,033 2.777,301 2.971,252 2.796,957 2.913,684 3.069,280 3.081,884 3,501.296 3,546.954 Market Capitalization (Rp) 89.330.000.000 94.230.000.000 100.095.203.732 449.237.227.025 4.309.444.178.950 14.186.633.982.250 16.435.891.904.650 24.839.446.042.275 69.299.599.701.000 103.835.241.141.600 152.246.463.300.675 215.026.098.082.950 159.929.859.633.600 175.728.976.824.225 451.814.924.003.875 259.620.957.668.275 239.258.731.152.000 268.422.776.631.205 460.365.963.209.545 679.949.067.275.890 801.252.702.092.420 1.249.074.451.469.050 1.988.326.205.492.630 1.076.490.532.456.370 2.019.375.130.081.120 1.071.524.792.418.120 1.034.904.442.616.020 1.150.598.880.850.070 1.370.388.087.951.500 1.517.235.281.311.220 1.596.673.782.255.370 1.823.713.663.419.590 1.847.633.404.151.680 1.944.356.748.777.390 1.873.512.479.453.280 1.912.563.596.406.810 2.019.375.130.081.120 3.001.165.298.070.610 2.102.712.045.300.450 2.071.230.649.652.900 2.263.074.217.284.820 2.422.570.678.881.830 2.287.729.053.533.310 2.400.976.204.777.880 2.539.854.129.634.330 2.571.470.640.375.610 2,919,402,295,647,330 3,001,165,298,070,610 Listed Companies 24 24 24 24 56 123 139 153 172 217 238 253 282 288 277 287 316 331 333 331 336 344 383 396 398 397 396 396 396 396 397 401 401 401 402 402 398 411 398 400 401 401 401 402 408 409 409 411 # Listed Shares 57.827.872 58.349.872 58.569.311 72.844.043 432.839.874 1.779.936.594 3.729.481.279 6.253.916.082 9.787.393.323 23.854.339.821 45.794.658.125 77.240.833.399 135.668.883.612 170.549.123.166 846.131.138.504 1.186.306.672.213 885.240.510.319 939.544.513.105 829.359.787.591 656.447.198.554 712.985.123.204 924.488.804.314 1.128.173.554.108 1.374.411.626.346 1.465.654.987.417 1.381.768.657.797 1.381.973.446.196 1.382.047.574.350 1.388.185.316.542 1.388.279.471.916 1.393.016.084.556 1.403.183.734.280 1.422.993.981.229 1.425.132.957.786 1.430.714.878.623 1.430.338.418.436 1.465.654.987.417 1.760.193.272.507 1.473.910.897.536 1.556.937.947.286 1.570.490.448.810 1.577.641.017.183 1.601.144.693.338 1.624.850.436.498 1.676.023.994.487 1.751.371.501.919 1,750,271,107,675 1,760,193,272,507

IDX
kilas
Pembukaan Perdagangan saham. Pada tanggal 22 Juli 2010, Chairman of Asia Pacific, Bank of New York Mellon, Christopher, R. Sturdy berkesempatan membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesempatan kerjasama bisnis dengan berbagai institusi/ lembaga di Indonesia dan memperkenalkan BNY Mellon di Indonesia. Tampak dalam gambar Mr. Christopher R. Sturdy, (tengah) sedang membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia yang disaksikan oleh Ito Warsito (Direktur Utama BEI), jajaran Direksi BEI dan jajaran Direksi Bank of New York Mellon. Pembahasan Rancangan Peraturan Sertifikat Penitipan Efek Indonesia (SPEI). Pada tanggal 27 Juli 2010, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bekerja sama dengan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) menyelenggarakan acara sosialisasi rancangan Peraturan Sertifikat Penitipan Efek Indonesia (SPEI). Acara tersebut dihadiri 160 perwakilan dari Anggota Bursa, Biro Administrasi Efek (BAE) dan Bank Kustodian.


Oktober 2010

Capital Market Go Green 2010. Dalam rangka memperingati HUT Pasar Modal ke-33; Bapepam-LK, PT Bursa Efek Indonesia, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Yayasan Kehati dan Yayasan Gajah Sumatera (YAGASU) mengadakan acara Capital Market Go Green 2010 bertempat di Kawasan Mangrove Tol Sedyatmo, Jakarta Utara pada tanggal 01 Agustus 2010. Investor Day 2010. Dalam usaha untuk terus meningkatkan minat investor dalam berinvestasi di Pasar Modal, pada tanggal 4 - 5 Agustus 2010 PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bekerjasama dengan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengadakan acara Investor Day. Dalam acara tersebut 16 Perusahaan Tercatat berkesempatan mempresentasikan perkembangan dan update kinerja perusahaan. Perusahaan Tercatat tersebut antara lain: PT Telkom Tbk, PT Berlian Laju Tanker Tbk, PT Adaro Energy Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Pakuwon Jati Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PT PP London Sumatera Indonesia Tbk, PT Indo Tambangraya Megah Tbk, PT Kalbe Farma Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, PT Semen Gresik Tbk, PT Alamsutera Realty Tbk, PT Bakrie Telecom Tbk, PT Astra Internasional Tbk, PT BW Plantation Tbk.

Seminar dan Diskusi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada tanggal 9 Agustus 2010, Bapepam-LK bersama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengadakan acara Seminar dan Diskusi Otoritas Jasa Keuangan Bersama Ketua Bapepam-LK. Pada hari yang sama diadakan Deklarasi Asosiasi Profesi Pasar Modal Indonesia (APPMI) yang dihadiri oleh Ketua Bapepam-LK, Direksi SRO dan perwakilan dari IPEI, AWP2EI, AWPEEI dan AWMII. HUT Pasar Modal ke 33. Memperingati 33 tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia (HUT PM ke 33), Ketua Bapepam-LK A. Fuad Rahmany melakukan pemotongan kue ulang tahun didampingi oleh Ito Warsito (Direktur Utama BEI), Hoesen (Direktur Utama KPEI) dan Sulistyo Budi (Direktur KSEI) sesaat setelah Konferensi Pers pada tanggal 10 Agustus 2010 di Galeri BEI.

Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama dalam Rangka HUT Pasar Modal ke 33. Memperingati 33 tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia (HUT PM ke 33) dan Bulan Suci Ramadhan 1431 H, BapepamLK bersama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyelenggarakan acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama bagi Masyarakat Pasar Modal pada tanggal 18 Agustus 2010 di Galeri BEI. Sebagai penceramah dalam acara tersebut adalah Bapak Sofyan Djalil dengan tema Bersama Membangun Pasar Modal yang Dapat Diandalkan. Pencatatan Perdana Saham PT Berau Coal Energy Tbk. Pada tanggal 19 Agustus 2010, Saham PT Berau Coal Energy Tbk. dicatatkan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai emiten ke-12 di tahun 2010 dengan kode BRAU. Tampak dalam gambar Ito Warsito, Direktur Utama BEI (kanan) sedang menyerahkan sertifikat pencatatan kepada Rosan Perkasa Roeslani, Direktur Utama PT Berau Coal Energy Tbk. (kiri).

Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama dalam Rangka HUT Pasar Modal ke 33. Pada tanggal 21 September 2010, Bapepam-LK bersama dengan PT Bursa Efek Indonesia, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia mengadakan acara Halal bil Halal dan Temu Wicara Pasar Modal dengan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Bapak Agus Martowardojo bertempat di Ballroom Ritz Carlton, Pacific Place. Halal bil Halal Wartawan Pasar Modal dengan Direksi SRO. Pada tanggal 20 September 2010, Direksi SRO bersama dengan Wartawan Pasar Modal mengadakan acara Halal bil Halal yang bertempat di Galeri BEI.

ARA 2009. Pada tanggal 22 September 2010, di Ballroom Ritz Carlton Hotel, Pacific Place, diselenggarakan Annual Report Award dengan tema Transparansi Informasi untuk Pertumbuhan Bisnis yang Berkelanjutan. kerjasama BEI dengan Daiwa Asset Management Co. Ltd. Pada tanggal 22 September 2010, Bursa Efek Indonesia (BEI) menandatangani perjanjian kerjasama dengan Daiwa Asset Management Co. Ltd. (DAM). Perjanjian kerjasama tersebut berisi seputar penggunaan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai benchmark untuk Active Fund yang tidak dicatatkan di Bursa. IHSG akan dipergunakan oleh DAM untuk menunjukkan kepada Investor-nya bahwa performance dari active fund DAM mempunyai return (pengembalian) minimal sama besarnya dengan return JCI.