Anda di halaman 1dari 4

C.

PERANG SALIB Pada tahun 468 H (1071 M) Alp Arselan melakukan suatu gerakan penting dalam gerakan ekspansi yaitu peristiwa Manzikart. Dalam peristwa ini tentara Alp Arselan berkekuatan 15000 prajurit dan mampu mengalahkan tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis,dan Armenia yang berjumlah 200000 orang. Peristiwa ini menimbulkan benih kebencian orang kristen terhadap umat islam, dan kemudian mencetuskan Perang Salib. Kebencian itu bertambah setelah dinasti Seljuk berhasil merebut Bait al-Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir. Penguasa Seljuk menetapkan Peraturan yand dirasa sangat menyulitkan bagi umat kristen yang ingin berziarah. Untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II memerintahkan umat kristen di Eropa supaya melakukan Perang Suci. Dikenal sebagai Perang Salib, yang terjadi dalam tiga periode. 1. PERIODE PERTAMA Tahun 1095 bangsa Prancis dan Norman yang bejumlah 150000 orang, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond memperoleh kemenangan besar. Pada 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan pada 1098 M menguasai Raha (Edessa), mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja.Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerejaan Latin II di timur, Bohemond dilantik menjadi rajanya. Pada 15 Juli 1099 M mereka berhasil menduduki Bait al-Maqdis dan mendirikan kerajaan Latin III dan Godfrey sebagai rajanya. Setelah itu tentara Salib melanjutkan ekspansinya, mereka menguasai kota Akka (1104M), Tripoli (1109M), dan Tyre (1124M). Di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin IV, dan Raymond sebagai rajanya. 2. PERIODE KEDUA Tahun 1144 M Imadudin Zanki (penguasa Moshul dan Irak) berhasil menaklikkan kembali Aleppo, Hamimah, dan Edessa. Ia wafat pada 1146 M. Kemudian tugasnya dilanjutkan putranya Nuruddin Zanki. Ia berhasil merebut kembali Antiochea pada 1149 M dan pada 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali. Jatuhnya Edessa menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib II. Paus Eugenius III menyerukan Perang suci dan disambut positif Raja Prancis Louis VII dan Raja Jerman Condrad II, keduanya memimpin pasukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Tetapi dihambat Nuruddin Zanki, dan mereka tidak berhasil memasuki Damaskus dan akhirnya melarikan diri pulang ke negerinya. Nuruddin wafat tahun 1175 M, dan pimpinan perang dipegang oleh Shalah al-Din al-Ayyubi yang berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah di Mesir pada 1187 M. Dengan demikian kerajaan Latin di Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun beakhir.

Jatuhnya Yerussalem sangat memukul perasaan tentara salib, dan merekapun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Babarossa (raja Jerman), Richard the Lion Hart (raja Inggris), dan Philip Augustus (raja Prancis). Mereka bergerak pada tahun 1189 M. Meskipun mereka mendapatkan tantangan dari Shalah al-Din, tetapi akhirnya mereka berhasil merebut Akka dan menjadikan ibu kota kerajaan Latin. Tetapi mereka tidak berhasil memasuki Palestina. Akhirnya pada 2 Nopember 1192 M tentara Salib dan Shalah al-Din membuat perjanjian yang disebut Shulh al-Ramlan. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Bait al-Maqdis tidak akan diganggu. 3. PERIODE KETIGA Pada periode ini tentara Salib dipimpin raja Jerman Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir sebelum ke Palestina, dengan harapan mendapatkan bantuan dari orang kristen Qibthi. Pada 1219 M dapat menduduki Dimyat, dan Frederick menjamin keamanan kaum muslim serta tidak mengirim bantuan kepada kaum Kristen di Syria. Pada 1247 Palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslim, di masa pemerintahan al-Malik al-Shahih. Kemudian pimpinan perang dipegang Baybars dan Qalawun, pada merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum muslim (tahun 1291 M). Perang ini tidak berhenti di barat Spanyol, sampai umat Islam terusir dari sana. Akhibat peristiwa ini umat Islam mendapatkan kerugian banyak sekali yaitu mengakibatkan kekuatan politik menjadi lemah karena perang ini terjadi di wilayahnya. Dengan kondisi seperti ini mereka terpecah belah dan memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad.

D. SEBAB-SEBAB KEMUNDURAN PEMERINTAHAN BANI ABBAS Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk merupakan awal periode kelima. Pada periode ini, khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu, walaupun banyak sekali dinasti islam berdiri pada waktu itu. Para khalifah Abbasiyah sudah merdeka dan berkuasa kembali, tetapi hanya di Bagdad dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan yang sempit menunjukkan kelemahan politiknya. Dengan keadaan inilah tentara Mongol dan Tartar menyerang Bagdad, bagdad dapat direbut dan dihancurkan tanpa perlawanan. Kehancuran ini merupakan babak baru dalam sejarah islam, yang di sebut masa pertengahan. Kemunduran dimulai sejak periode kedua, penyebab kemunduran itu sudah terlihat pada periode petama, hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat, sehingga tidak dapat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat, para mentri cenderung berperan sebagai

kepala pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintah. Selain lemahnya khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khalifah Bani Abbas menjadi mundur. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: 1. PERSAINGAN ANTAR BANGSA