Anda di halaman 1dari 16

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR..

TENTANG KEWAJIBAN RUMAH SAKIT DAN KEWAJIBAN PASIEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 29 ayat (3) dan Pasal 31 ayat (2) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, perlu menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang kewajiban rumah sakit dan pasien; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3821); 2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431); 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063); 5. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG KEWAJIBAN RUMAH SAKIT DAN KEWAJIBAN PASIEN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan :
1. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan

pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
2. Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya

untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan, baik secara langsung maupun tidak langsung di Rumah Sakit.
3. Kewajiban rumah sakit adalah keharusan yang dilakukan oleh setiap rumah sakit. 4. Kewajiban pasien di rumah sakit adalah keharusan yang dilakukan oleh setiap

pasien di rumah sakit.


5. Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi

promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.


6. Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis

segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut.

7. Fungsi sosial di rumah sakit adalah bagian dari tanggung jawab yang melekat pada

setiap rumah sakit, yang merupakan ikatan moral dan etik dari rumah sakit dalam membantu pasien khususnya yang kurang/tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatan (masuk batang tubuh)
8. Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas

pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. (masuk batang tubuh)
9. Sistem rujukan adalah penyelenggaraan kesehatan yang mengatur pelimpahan

tugas dan tanggung jawab secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal, maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan. (masuk batang tubuh)
10. Peraturan internal Rumah Sakit (Hospital bylaws) adalah peraturan organisasi

Rumah Sakit (corporate bylaws) dan peraturan staf medis Rumah Sakit (medical staff by laws) yang disusun dalam rangka menyelenggarakan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan tata kelola klinis yang baik (good clinical governance). (masuk batang tubuh)
11. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang

kesehatan.

Pasal 2 Pengaturan kewajiban rumah sakit dan pasien bertujuan untuk: a. terselenggaranya pelayanan kesehatan secara terpadu, komprehensif, dan optimal. b. mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada pasien dan masyarakat.
c. memberikan kepastian hukum pada pasien dan rumah sakit.

BAB II KEWAJIBAN RUMAH SAKIT Bagian Kesatu Umum Pasal 3 Berdasarkan sasarannya, kewajiban rumah sakit terdiri atas:

a. kewajiban rumah sakit terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan; dan b. kewajiban rumah sakit terhadap tenaga pemberi pelayanan. Bagian Kedua Kewajiban Rumah Sakit Terhadap Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Pasal 4
(1) Rumah sakit mempunyai kewajiban memberikan informasi yang benar tentang

pelayanan rumah sakit kepada masyarakat.


(2) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi informasi tentang

peraturan-peraturan di rumah sakit, serta hak dan kewajiban pasien dan rumah sakit. Catatan: seharusnya yang diinformasikan berkaitan dengan pelayanan: jenis pelayanan, SDM, peralatan, akreditasi, tarif. Informasi secara tertulis , information center, service excellent. Pembahasan mengenai ini menjadi satu bagian tersendiri.

Pasal 5
(1) Rumah sakit berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu,

anti diskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
(2) Pelayanan kesehatan yang aman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan

terhadap lingkungan rumah sakit, keamanan rumah sakit, dan penggunaan peralatan dan teknologi di rumah sakit. Catatan: aman ini mengandung 2 arti yaitu safety dan security. Diuraikan apa yang harus dilakukan oleh RS untuk security, misalnya system keamanan yang baik untuk menghindari pencurian dokumen dan barang-barang lain, penculikan, penyediaan safety box. Lihat juga draft RPP K3 RS. Safety mengacu pada permenkes patient safety.
(3) Pelayanan kesehatan yang bermutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

merupakan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit .

Catatan: review peraturan mengenai standar pelayanan rumah sakit dan SPM RS
(4) Pelayanan kesehatan yang antidiskriminasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

diwujudkan dengan tidak membeda-bedakan dalam memberikan pelayanan kesehatan menurut ras, agama, suku dan golongan. Catatan: bahas mengenai pembedaan pelayanan terhadap pasien mampu dan tidak mampu. Perlu dijabarkan apa saja aspek antidiskriminasi, misal tidak boleh menanyakan sejak awal pembiayaan menggunakan apa,
(5) Standar pelayanan rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan

semua standar pelayanan yang berlaku di rumah sakit antara lain standar profesi untuk masing-masing tenaga kesehatan, standar pelayanan kesehatan, standar prosedur operasional, standar pelayanan kedokteran, standar asuhan keperawatan, standar asuhan kebidanan dan standar-standar lainnya yang berlaku di rumah sakit.

Pasal 6
(1) Rumah sakit berkewajiban memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien

sesuai dengan kemampuan pelayanannya.


(2) Kemampuan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai

dengan kemampuan tenaga kesehatan, kemampuan peralatan, sarana dan prasarana yang ada di klasifikasi rumah sakit. Catatan: batasan keadaan gawat darurat. Libatkan profesi terkait. Sudah ada standar IGD RS.

Pasal 7
(1) Rumah sakit turut serta berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan

pada bencana, sesuai kemampuan pelayanannya.


(2) Bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi bencana alam, bencana

wabah penyakit, dan bencana lainnya yang sangat terkait pada pelayanan kesehatan.

Catatan: batasan mengenai bencana disesuaikan dengan UU Penanggulangan Bencana.

Pasal 8
(1) Rumah sakit berkewajiban menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat

tidak mampu atau miskin.


(2) Sarana bagi masyarakat tidak mampu atau miskin sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) merupakan fasilitas pelayanan perawatan kelas III di rumah sakit.
(3) Pelayanan masyarakat tidak mampu atau miskin sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) merupakan pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku di rumah sakit .
(4) Masyarakat tidak mampu atau miskin sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

merupakan pasien yang memenuhi persyaratan tidak mampu atau miskin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 9
(1) Rumah sakit wajib melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan

fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulans gratis, pelayanan korban bencana, dan kejadian luar biasa atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan.
(2) Pelayanan gawat darurat tanpa uang muka sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

diberikan dalam rangka penyelamatan kehidupan (life saving) dan pencegahan kecacatan lebih lanjut.
(3) Ambulan gratis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup pemberian

pemakaian ambulans untuk pelayanan rujukan tanpa menarik biaya bagi pasien tidak mampu/miskin dalam satu daerah tertentu. Catatan: yang dimaksud gratis di sini hanya biaya sewa ambulans tidak termasuk bahan bakar dan jasa supir. jamkesmas sudah mengcover untuk rujukan.

Materi mengenai ambulans dalam rangka rujukan ini harus masuk dalam R. Perpres tentang Jamkes.
(4) Pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa (KLB) sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) diberikan sesuai dengan kemampuan pelayanan rumah sakit. (sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan) Catatan: Fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin berupa rawat inap, rawat jalan, rawat darurat. Berapa porsi untuk pasien tidak mampu/miskin. RS Pemerintah wajib menyediakan 50-70% tempat tidur untuk Kelas III, RS swasta wajib menyediakan 25-30% tempat tidur untuk Kelas III. Tarif rawat jalan untuk pasien tidak mampu/miskin harus dibedakan. Mencabut permenkes tentang fungsi sosial RS yang lama, dalam permenkes tsb, tarif Kelas III diatur oleh Pemda. Materi Pasal 9 sudah diatur dalam Pasal-Pasal sebelumnya. Materi yang sudah diatur merujuk Pasal saja. Yang belum diatur mengenai ambulans gratis dan bakti sosial. Mengenai bakti sosial, harus diatur mengenai kerja sama dengan fasyankes setempat untuk penanganan pasca tindakan. Pasal 10
(1) Rumah sakit berkewajiban membuat, melaksanakan dan menjaga standar mutu

pelayanan kesehatan di rumah sakit sebagai acuan dalam melayani pasien.

(2) Standar mutu pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan standar prosedur operasional di rumah sakit sebagai acuan dalam pemberian pelayanan di rumah sakit. Catatan: merujuk saja ke Pasal 5 Pasal 11
(1) Rumah sakit wajib menyelenggarakan rekam medis. (2) Penyelenggaraan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan

sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Penyelenggaraan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencapai

standar-standar nasional.
(4) Standar nasional Penyelenggaraan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat

(2) dilakukan sesuai dengan standar yang secara bertahap diupayakan mencapai standar internasional.

Pasal 12
(1) Rumah sakit berkewajiban menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak

antara lain meliputi sarana ruang ibadah, parkir, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, ruang wanita menyusui, sarana untuk anak-anak dan sarana untuk lanjut usia. Catatan: sarana untuk anak-anak seperti tempat penitipan anak. Pengaturan mengenai tempat ibadah, agar dapat digunakan oleh semua agama (prayer room).
(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan klasifikasi

rumah sakit dan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 13
(1) Rumah sakit wajib melaksanakan sistem rujukan. (2) Sistem rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 14
(1) Rumah sakit wajib menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar

profesi dan etika serta ketentuan peraturan perundang-undangan.


(2) Standar profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan standar profesi

tenaga kesehatan.
(3) Etika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi etika profesi dan etika rumah

sakit.

Catatan: tambahkan mengenai ketentuan disclaimer seperti pada SPK dan informed consent.

Pasal 15 (1) Rumah sakit mempunyai kewajiban memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien. (2) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 16
(1) Rumah sakit berkewajiban menghormati dan melindungi hak-hak pasien. (2) Hak-hak pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban menghormati dan melindungi hak hak

pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam pedoman yang ditetapkan oleh Menteri. Catatan: dirinci apa yang dimaksud dengan menghormati dan melindungi hak-hak pasien

Pasal 17
(1) Rumah sakit berkewajiban melaksanakan etika rumah sakit. (2) Etika rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat oleh asosiasi

perumahsakitan. Catatan: disebutkan kewajiban-kewajiban dalam etika rumah sakit.

Pasal 18
(1) Rumah

sakit

berkewajiban

memiliki

sistem

pencegahan

kecelakaan

dan

penanggulangan bencana.

(2) Manajemen

sistem

pencegahan

kecelakaan

dan

penanggulangan

bencana

dilaksanakan sesuai dengan Pedoman Penanggulangan Bencana Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan) yang ditetapkan oleh Menteri. Catatan: Pokok-pokok kegiatan disebutkan di sini, rincian diatur dalam Permenkes tersendiri. Dit BUK rujukan diharapkan segera menyiapkan draft Hospital Disaster Plan.

Pasal 19 Rumah Sakit berkewajiban melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional maupun nasional. Catatan: Dit BUK Rujukan merinci apa saja program-program yang dimaksud. Pasal 20
(1) Rumah sakit berkewajiban menyusun dan melaksanakan peraturan internal rumah

sakit (hospital bylaws).


(2) Peraturan internal rumah sakit (hospital bylaws) sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) terdiri dari peraturan organisasi rumah sakit (corporate bylaws) dan peraturan staf medis rumah sakit (medical staff bylaws).
(3) Penyusunan peraturan internal rumah sakit ( hospital bylaws) dilaksanakan sesuai

dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 21
(1) Rumah sakit wajib memberlakukan seluruh kawasan di dalam rumah sakit sebagai

kawasan tanpa rokok.


(2) Kawasan tanpa rokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui : a. menjaga dan memastikan lingkungan rumah sakit tanpa asap rokok b. membuat larangan untuk merokok c. larangan untuk menjual rokok dalam kawasan rumah sakit. (3) Pemberlakuan kawasan tanpa rokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

10

Pasal 22
(1) Rumah sakit memberikan akses yang luas bagi kebutuhan penelitian dan

pengembangan bidang kesehatan.


(2) Rumah sakit mengirimkan laporan hasil penelitian dan pengembangan kepada

Menteri atau Pemerintah Daerah.


(3) Penelitian dan pengembangan bidang kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) untuk institusi pendidikan maupun untuk kepentingan masyarakat.


(4) Pemerintah Daerah atau Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah

Gubernur c.q Dinas Kesehatan Provinsi dan walikota/bupati c.q Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Menteri Kesehatan c.q Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medis Departemen Kesehatan. Catatan: Pasal ini harus direview ulang. Apa yang dimaksud dengan memberikan akses luas?

Bagian Ketiga Kewajiban Rumah Sakit Terhadap Tenaga Pemberi Pelayanan (didrop) Pasal 23
(1) Rumah sakit wajib membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik

kedokteran atau kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya.


(2) Daftar tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) sekurang-kurangnya terdapat di setiap unit kerja terdiri dari nama, pendidikan terakhir, kompetensi, jabatan di rumah sakit, nomor Surat Tanda Registrasi (STR) dan nomor Surat Izin Praktik (SIP).
(3) Daftar tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) dibuat oleh Kepala Rumah Sakit.

11

Catatan: kewajiban ini merupakan bagian dari kewajiban administratif terhadap pemerintah. Kewajiban administratif dan kewajiban terhadap tenaganya seharusnya tidak diatur lagi di sini. Permenkes ini hanya mengatur kewajiban RS terhadap pasien.

Pasal 24
(1) Rumah sakit harus memperkerjakan kepala rumah sakit yang merupakan seorang

tenaga medis dan memiliki kemampuan dan keahlian dibidang perumahsakitan.


(2) Kepala rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menetapkan penugasan

tenaga kesehatan sesuai dengan kompetensinya dari rekomendasi kelompok profesi di rumah sakit.

Pasal 25
(1) Rumah sakit wajib melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas

rumah sakit dalam melaksanakan tugas.


(2) kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memberikan

advokasi dan bantuan hukum untuk petugas rumah sakit .

Bagian Keempat Sanksi Pasal 26 Terhadap rumah sakit yang melakukan pelanggaran atas kewajiban rumah sakit dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa:
a. teguran b. teguran tertulis c. denda atau pencabutan ijin rumah sakit.

BAB III KEWAJIBAN PASIEN

12

Catatan: Perlu dipertimbangkan apakah akan disatukan dalam satu Permenkes. Pasal 27
(1) Setiap Pasien wajib memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang

diterima di

Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan yang berlaku .


(2) Imbalan

jasa

sebagaimana

dimaksud

pada

ayat

(1)

merupakan

pembayaran atas konsultasi, tindakan medis dan pelayanan lain yang diterima yang didasarkan atas itikad baik. Catatan: jaminan seharusnya asuransi, ditambahkan dll. mengenai pembayaran: dengan jika

jamkesmas,

Bagaimana

ketentuannya

menunggak pembayaran, pengajuan hutang. Prosedur RS melakukan penagihan hutang. Ketentuan pada pasien miskin yang tidak mampu membayar.

Pasal 28
(1) Pasien dan keluarganya berkewajiban mematuhi seluruh ketentuan dan

tata tertib di rumah sakit setelah mendapat informasi yang benar dan jelas.
(2) Peraturan dan tata tertib di rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

mencakup seluruh peraturan-peraturan yang terkait dengan perumahsakitan dan tata tertib yang berlaku di rumah sakit. Catatan: perlu diurai apa saja peraturan-peraturan yang dimaksud seperti ketentuan tentang pembayaran, waktu besuk, waktu tunggu, perawwatan dll.

Pasal 29
(1) Setiap pasien berkewajiban mematuhi segala nasehat dan petunjuk serta

instruksi tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya dalam rangka pengobatan dan perawatan penyakitnya setelah mendapat informasi yang benar dan jelas.
(2) Tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) yang secara langsung merawat pasien di rumah sakit.

13

Catatan: tujuan dan akibat jika pasien melanggar dikaitkan dengan pemutusan hubungan dokter-pasien. Pasal 30
(1) Setiap pasien berkewajiban memberikan informasi yang lengkap dan jujur

tentang masalah kesehatannya kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan lain yang merawatnya.
(2) Setiap pasien atau keluarganya secara proaktif memberikan informasi

yang lengkap dan jujur tentang keadaan pasien selama perawatan kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya.

Pasal 31
(1) Setiap pasien dan keluarganya berkewajiban mematuhi hal-hal yang telah

disetujui dalam Persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) yang telah dibuatnya.
(2) Persetujuan

tindakan

kedokteran

(informed

consent)

sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) merupakan persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.

Pasal 32
(1) Setiap pasien dan keluarganya berkewajiban terlebih dahulu menanyakan

kepada pihak rumah sakit, tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya bilamana ada ketidakpuasan pelayanan yang kurang sebelum menggunakan hak-haknya.
(2) Rumah sakit, tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya sebagaimana

dimaksud

pada

ayat

(1)

akan

memberikan

penjelasan

tentang

ketidakpuasan pelayanan selambat-lambatnya dalam waktu 2 x 24 jam.

Pasal 33

14

(1) Setiap pasien atau keluarga berkewajiban mengajukan permohonan untuk

mendapatkan isi rekam medis kepada pimpinan rumah sakit atau tenaga medis yang merawatnya.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk lisan

atau tertulis
(3) Jawaban atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan

selambat-lambatnya 2 x 24 jam.

Pasal 34
(1) Setiap pasien atau keluarganya berkewajiban mematuhi hal-hal yang telah

disetujui tentang rujukan bila dilakukan.


(2) Rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang undangan. Pasal 35 Setiap pasien yang tidak mampu/miskin wajib melengkapi dokumendokumen yang dibutuhkan apabila akan memanfaatkan fasilitas bantuan oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 36 Setiap pasien yang akan menggunakan fasilitas asuransi, melengkapi dokumen fasilitas asuransi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

BAB IV PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 37


(1) Menteri, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten

Kota melakukan pembinaan dan pengawasan secara berjenjang terhadap pelaksanaan kewajiban rumah sakit dan pasien dengan melibatkan organisasi profesi.

15

(2) Pembinaan dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk

menjamin hak pasien dan rumah sakit.

BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 38 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal ............................ MENTERI KESEHATAN,

ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,

PATRIALIS AKBAR BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR

16