Anda di halaman 1dari 13

Posted on May 5, 2012 at 8:16 am by abdurrafik Permalink In: Akademik Tagged with: cara cepat memahmi artikel dalam

am jurnal internasional, memahami jurnal bahasa inggris dengan cepat, membaca jurnal, tips cepat memahami artikel penelitian, tips memahami artikel penelitian

Previous post Next post


Kontes Blog

May 2012 M T W T F S S Apr Jun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31


o o o o
Recent Posts Demokrasisasi Inovasi: Menuju Indonesia Mandiri Aku, Daerahku, dan PLN Cerita Singkat Bersama Tim Selam UGM God, Hancurkan Saja Negeri Ini

o o o o o o o o o o o o o o o o o

Abrahamic Finance, Apa itu? Recent Comments Juan on SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX: PEMANTIK JIWA PELUPA angga on Tips Cepat Memahami Artikel Penelitian dalam Jurnal (Bagian 2) abdurrafik on Tips Cepat Memahami Artikel Penelitian dalam Jurnal (Bagian 1) abdurrafik on Tips Cepat Memahami Artikel Penelitian dalam Jurnal (Bagian 1) abdurrafik on Aku, Daerahku, dan PLN Archives November 2012 October 2012 July 2012 June 2012 May 2012 April 2012 Blogroll Dr. Nurul Indarti Green Technology MSc UGM Perpustakaan UGM Prof. Dr. Goedono

The Other Side.

Powered by WordPress and Grey Matter.

Tips Cepat Memahami Artikel Penelitian dalam Jurnal (Bagian 2)


Tulisan ini adalah lanjutan tulisan sebelumnya Tips Cepat Memahami Artikel Penelitian dalam Jurnal (1). Sebagaiamana yang telah saya tuliskan pada bagian sebelumnya, artikel hasil penelitian umumnya termuat dengan format; abstarct, introduction, methods, result, discussion, refererences. Kali ini saya akan berbagi trik bagaimana memahami dengan cepat bagian abstract dan introduction. Bagian yang lainnya insyaallah akan saya tuliskan pada kesempatan yang lain.

Abstrak Abstrak ada pada setiap artikel dalam jurnal. Isinya meringkas seluruh penelitian mulai awal sampai akhir. Tujuan utama abstrak adalah untuk memberikan gambaran singkat pada pembaca tentang tujuan, metode dan hasil penelitian. Karena itu, abstrak sangat singkat. Umumnya sekitar 150 kata. Pembaca yang membaca abstrak dan merasa artikel tidak terkait dengan apa yang dicari atau topik yang diminati, dapat meninggalkan artikel yang bersangkutan dan mencari artikel lain yang relevan. Tapi jangan gegabah dengan menganggap kita telah memahami hasil penelitian secara keseluruhan, jika kita hanya membaca abstraknya saja. Adakalanya abstrak tidak selalu mencerminkan dan sesuai dengan isi artikel. Karena penulis dan reviewernya juga manusia seperti kita. Jadi bisa terjadi human error. Ingat, hanya dengan membaca abstrak kita tidak bisa kritis terhadap hasil penelitian tertentu. Skill meneliti kita juga tidak akan berkembang. Bagi kita yang mahasiswa, yang memang membaca hasil penelitian untuk kepentingan akademis, hal itu sebisa mungkin dihindari. Kecuali bagi para praktisi, yang hanya membaca hasil penelitian untuk tambahan wawasan saja. Introduction Bagian ini umumnya terdiri dari 2 komponen utama, yaitu deskripsi tentang background (latar belakang penelitian) dan statement of purpose (tujuan penelitian). Namun di beberapa artikel tententu kadang juga ditambahkan komponen hipotesis. Komponen yang ada dalam bagian ini merupakan komponen paling penting karena merupakan fondasi awal kenapa penelitian dilakukan. Karena itu, upayakan menyisakan sedikit lebih banyak waktu untuk membaca secara pelan dan hati-hati bagian ini. Background Kebanyakan para penulis memulai artikelnya dengan menjelaskan sebab kenapa mereka melakukan investigasi empiris seperti yang dilakukan. Sebabnya bisa bermacam-macam. Bisa dari hasil diskusi dengan para kolega atau dosen, atau karena ingin membuktikan suatu teori tertentu. Atau bisa juga karena hasil penelitian sebelumnya tidak sesuai harapan, sehingga penulis memandang penting adanya penelitian baru untuk melihat apakah hasil penelitian sebelumnya tersebut bisa direplikasi atau tidak.Background atau latar belakang biasanya disajikan sebagai komponen awal dalam pendahuluan. Dalam mendeskripsikan background penelitiannya, penulis biasanya akan menghubungkan penelitian mereka dengan hasil-hasil penelitian lain yang telah terpublikasi sebelumnya. Karena itu, ingatlah selalu poin tersebut, karena lazimnya penelitian memang berangkat dari hasil studi peneliti yang lain. Dan ini sudah menjadi ciri penelitian di ranah akademis. Tidak peduli seberapa panjang review literatur yang disajikan, tapi ciri ini akan selalu ada sebagai hallmark of background. Karena itu, temukan kunci keberhubungan antara maksud penelitian yang sekarang dengan hasil penelitian terdahulu. Contoh latar belakang (Format serupa ini juga akan ditemui di jurnal-jurnal multidisiplin lain): Approximately one-third of American women are obese (Hedley, Ogden, Johnson, Carroll, Curtin, & Flegal, 2004). Most are attempting to lose weight through either caloric restriction (dieting) alone or caloric restriction combined with increased physical activity (Powell, Calvin, & Calvin, 2007). Although the association of weight loss and reduction in health risk is acknowledged, a primary reason for women attempting weight loss is an improvement in satisfaction with their bodies (Thompson, Heinberg, Altabe, & Tantleff-Dunn, 1999). Analysis of body image as a changing process has been advocated (Gleeson, 2006), however research on the association of weight changes and changes in body satisfaction has been unclear (Houlihan, Dickson-Parnell, Jackson, & Zeichner, 1987; Foster, Wadden, & Vogt, 1997).

While obvious markers of ones body such as weight and waist circumference are readily available (through, for example, self-weighing and t of clothes), some research suggests that feelings of competence and self -efcacy, associated with par-ticipation in an exercise program, predicts improved satisfaction with ones body eve n when little physiological change actually occurs (Annesi, 2000, 2006). Research also suggests ethnic differences in what is acceptable to women regarding the shapes and sizes of their bodies (Rodin & Larson, 1992; Roberts, Cash, Feingold, & Johnson, 2006; Powell, et al., 2007). For example, Euro-American women have been described as being more critical of their bodies than African-American women (Miller, Gleaves, Hirsch, Green, & Snow, 2000). Research on psychological responses to weight loss behaviors have only rarely accounted for ethnic differences. This is exemplied in some of our recent research with obese women (Annesi & Whitaker, 2008). Source: Annesi, J. J. (2009). Correlations of changes in weight and body satisfaction for obese women initiating exercise: Assessing effects of ethnicity. Psychological Reports, 105(3), 10721076. Statement of purpose Setelah mendeskripsikan latar belakangnya, penulis biasanya akan melanjutkan dengan menjelaskan tujuan spesifik dari investigasinya. Ingat, statement of purpose merupakan satu bagian terpenting dalam penelitian karena ia menjelaskan apa sebenarnya yang dituju peneliti. Dan tanpa memahami isi kepala peneliti, mustahil kita bisa mengevaluasi apakah hasil dan kesimpulan penelitiannya bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Statement of purpose bisa dituliskan dalam satu kalimat saja, atau bisa juga satu sampai dua paragraf. Statement of purspose biasanya diposisikan sebelum bagian utama sebuah artikel (di bagian akhir introduction atau sebelum masuk bagian inti). Akan tetapi ia sebenarnya bisa berada di bagian mana saja di introduction. Yang harus kita ingat adalah clue tentang bagaimanastatement of purpose tersebut dituliskan. Biasanya, statement of purpose dituliskan dengan rangkaian kata berikut the purpose of this study is, the intent of this study is, this investigation was conducted in order to, The focus of this study is, atau rangkaian kata lain yang serupa. Contoh Statement of Purpose The purpose of this investigation thus was to assess the relationship of changes in Body Mass Index (kg/m2) with changes in body satisfaction in a sample of Euro-American and African-American women with obesity who participated in a program of moderate exercise. Source: Annesi, J. J. (2009). Correlations of changes in weight and body satisfaction for obese women initiating exercise: Assessing effects of ethnicity. Psychological Reports, 105(3), 10721076. Hypotheses Setelah menjelaskan tujuannya, peneliti biasanya akan menjelaskan hipotesis yang ia miliki. Dalam beberapa kasus, ada juga peneliti lain yang tidak menjelaskan hipotesis. Bisa jadi karena penelitiannya memang tidak dikembangkan dengan hipotesis atau memang sengaja tidak dilakukan. Beberapa peneliti ada yang menganggap bahwa berpedoman pada praduga (hipotesis) tertentu bisa mengakibatkan bias terhadap pengumpulan dan interpretasi data. Untuk pendapat yang demikian, silahkan kita mendebatnya. Yang perlu digarisbawahi, meskipun penting bagi seorang peneliti untuk tidak menjadi bias, namun penjelasan hipotesis memberikan manfaat tertentu bagi pembaca. Outcome yang dibandingkan dengan hipotesis biasanya akan lebih informatif daripada outcome yang berdiri sendiri secara vakum. Jika disajikan, hipotesis biasanya tidak selalu dituliskan dengan bahasa statistik, tetapi dideskripsikan sebagaimana kita menuliskan kalimat biasa. Meskipun ada juga beberapa peneliti yang menuliskannya lengkap dengan bahasa statistiknya. Contoh Hipotesis:

It was expected that for Euro-American women, reduction in weight over 6-mo. would predict improvement in body satisfaction; while for African-American women, greater commitment to the exercise program (i.e., greater frequency of exercise) would predict improvement in body satisfaction, rather than actual weight loss. Understanding such relationships might improve weight-loss treatments by enabling them to be more sensitive to participants ethnicities. Source: Annesi, J. J. (2009). Correlations of changes in weight and body satisfaction for obese women initiating exercise: Assessing effects of ethnicity. Psychological Reports, 105(3), 10721076. Baik background, statement of purpose, dan hyphoteses biasanya tidak dituliskan dalam bagian terpisah, tetapi dituliskan secara langsung setelah abstrak dalam satu heading. Jika dituliskan dalam headingtertentu, maka biasanya dmasukkan dalam introduction. Karena itu, carilah clue untuk memahami ketiganya dengan cepat jika waktu yang kita miliki terbatas. Misalnya, dalam latar belakang peneliti mungkin akan menuliskan literature review yang sangat panjang, namun kita tidak harus selalu membacanya dengan tuntas. Cukup temukan isu mana yang akan dituju peneliti kaitannya dengan hasil penelitian terdahulu. dan untuk mempertegas hasil telaah tersebut, lihat tujuan penelitiannya. Setelah itu, tangkap asumsi yang dibangun peneliti melalui hipotesis yang dirumuskannya. Untuk mengidentifikasi dengan cepat background, statement of purpose, dan hypotheses, kita sudah membahas cluenya bukan?. Jadi, gampang sebenarnya!. Lihat bagian pertama dari tulisan ini di Tips Cepat Memahami Artikel Penelitian dalam Jurnal (1). Kita telah menyelesaikan bagian paling penting dalam sebuah penelitian, yaitu introduction. Jika kita sudah memahami bagian ini dengan baik, maka bagian sebelumnya insyaalah akan lebih mudah. Dan jangan kaget, jika kemudian anda menjadi so addicted membaca hasil penelitian.. (Bersambung)
Posted on May 7, 2012 at 7:04 am by abdurrafik Permalink In: Akademik, Refleksi Tagged with: memahami pendahuluan dalam jurnal, tips cepat memahami artikel,tips cepat memahami artikel berbahasa inggris, tips cepat membaca hasil penelitian, tips cepat membaca jurnal bahasa inggris

Previous post Next post


Kontes Blog

Tips Cepat Memahami Artikel Penelitian dalam Jurnal (Bagian 2)


Tulisan ini adalah lanjutan tulisan sebelumnya Tips Cepat Memahami Artikel Penelitian dalam Jurnal (1). Sebagaiamana yang telah saya tuliskan pada bagian sebelumnya, artikel hasil penelitian umumnya termuat dengan

format; abstarct, introduction, methods, result, discussion, refererences. Kali ini saya akan berbagi trik bagaimana memahami dengan cepat bagian abstract dan introduction. Bagian yang lainnya insyaallah akan saya tuliskan pada kesempatan yang lain. Abstrak Abstrak ada pada setiap artikel dalam jurnal. Isinya meringkas seluruh penelitian mulai awal sampai akhir. Tujuan utama abstrak adalah untuk memberikan gambaran singkat pada pembaca tentang tujuan, metode dan hasil penelitian. Karena itu, abstrak sangat singkat. Umumnya sekitar 150 kata. Pembaca yang membaca abstrak dan merasa artikel tidak terkait dengan apa yang dicari atau topik yang diminati, dapat meninggalkan artikel yang bersangkutan dan mencari artikel lain yang relevan. Tapi jangan gegabah dengan menganggap kita telah memahami hasil penelitian secara keseluruhan, jika kita hanya membaca abstraknya saja. Adakalanya abstrak tidak selalu mencerminkan dan sesuai dengan isi artikel. Karena penulis dan reviewernya juga manusia seperti kita. Jadi bisa terjadi human error. Ingat, hanya dengan membaca abstrak kita tidak bisa kritis terhadap hasil penelitian tertentu. Skill meneliti kita juga tidak akan berkembang. Bagi kita yang mahasiswa, yang memang membaca hasil penelitian untuk kepentingan akademis, hal itu sebisa mungkin dihindari. Kecuali bagi para praktisi, yang hanya membaca hasil penelitian untuk tambahan wawasan saja. Introduction Bagian ini umumnya terdiri dari 2 komponen utama, yaitu deskripsi tentang background (latar belakang penelitian) dan statement of purpose (tujuan penelitian). Namun di beberapa artikel tententu kadang juga ditambahkan komponen hipotesis. Komponen yang ada dalam bagian ini merupakan komponen paling penting karena merupakan fondasi awal kenapa penelitian dilakukan. Karena itu, upayakan menyisakan sedikit lebih banyak waktu untuk membaca secara pelan dan hati-hati bagian ini. Background Kebanyakan para penulis memulai artikelnya dengan menjelaskan sebab kenapa mereka melakukan investigasi empiris seperti yang dilakukan. Sebabnya bisa bermacam-macam. Bisa dari hasil diskusi dengan para kolega atau dosen, atau karena ingin membuktikan suatu teori tertentu. Atau bisa juga karena hasil penelitian sebelumnya tidak sesuai harapan, sehingga penulis memandang penting adanya penelitian baru untuk melihat apakah hasil penelitian sebelumnya tersebut bisa direplikasi atau tidak.Background atau latar belakang biasanya disajikan sebagai komponen awal dalam pendahuluan. Dalam mendeskripsikan background penelitiannya, penulis biasanya akan menghubungkan penelitian mereka dengan hasil-hasil penelitian lain yang telah terpublikasi sebelumnya. Karena itu, ingatlah selalu poin tersebut, karena lazimnya penelitian memang berangkat dari hasil studi peneliti yang lain. Dan ini sudah menjadi ciri penelitian di ranah akademis. Tidak peduli seberapa panjang review literatur yang disajikan, tapi ciri ini akan selalu ada sebagai hallmark of background. Karena itu, temukan kunci keberhubungan antara maksud penelitian yang sekarang dengan hasil penelitian terdahulu. Contoh latar belakang (Format serupa ini juga akan ditemui di jurnal-jurnal multidisiplin lain): Approximately one-third of American women are obese (Hedley, Ogden, Johnson, Carroll, Curtin, & Flegal, 2004). Most are attempting to lose weight through either caloric restriction (dieting) alone or caloric restriction combined with increased physical activity (Powell, Calvin, & Calvin, 2007). Although the association of weight loss and reduction in health risk is acknowledged, a primary reason for women attempting weight loss is an improvement in satisfaction with their bodies (Thompson, Heinberg, Altabe, & Tantleff-Dunn, 1999). Analysis of body image as a changing process has been advocated (Gleeson, 2006), however research on the association of weight changes and

changes in body satisfaction has been unclear (Houlihan, Dickson-Parnell, Jackson, & Zeichner, 1987; Foster, Wadden, & Vogt, 1997). While obvious markers of ones body such as weight and waist circumference are readily available (through, for example, self-weighing and t of clothes), some research suggests that feelings of competence and self -efcacy, associated with par-ticipation in an exercise program, predicts improved satisfaction with ones body even when little physiological change actually occurs (Annesi, 2000, 2006). Research also suggests ethnic differences in what is acceptable to women regarding the shapes and sizes of their bodies (Rodin & Larson, 1992; Roberts, Cash, Feingold, & Johnson, 2006; Powell, et al., 2007). For example, Euro-American women have been described as being more critical of their bodies than African-American women (Miller, Gleaves, Hirsch, Green, & Snow, 2000). Research on psychological responses to weight loss behaviors have only rarely accounted for ethnic differences. This is exemplied in some of our recent research with obese women (Annesi & Whitaker, 2008). Source: Annesi, J. J. (2009). Correlations of changes in weight and body satisfaction for obese women initiating exercise: Assessing effects of ethnicity. Psychological Reports, 105(3), 10721076. Statement of purpose Setelah mendeskripsikan latar belakangnya, penulis biasanya akan melanjutkan dengan menjelaskan tujuan spesifik dari investigasinya. Ingat, statement of purpose merupakan satu bagian terpenting dalam penelitian karena ia menjelaskan apa sebenarnya yang dituju peneliti. Dan tanpa memahami isi kepala peneliti, mustahil kita bisa mengevaluasi apakah hasil dan kesimpulan penelitiannya bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Statement of purpose bisa dituliskan dalam satu kalimat saja, atau bisa juga satu sampai dua paragraf. Statement of purspose biasanya diposisikan sebelum bagian utama sebuah artikel (di bagian akhir introduction atau sebelum masuk bagian inti). Akan tetapi ia sebenarnya bisa berada di bagian mana saja di introduction. Yang harus kita ingat adalah clue tentang bagaimanastatement of purpose tersebut dituliskan. Biasanya, statement of purpose dituliskan dengan rangkaian kata berikut the purpose of this study is, the intent of this study is , this investigation was conducted in order to, The focus of this study is, atau rangkaian kata lain yang serupa. Contoh Statement of Purpose The purpose of this investigation thus was to assess the relationship of changes in Body Mass Index (kg/m2) with changes in body satisfaction in a sample of Euro-American and African-American women with obesity who participated in a program of moderate exercise. Source: Annesi, J. J. (2009). Correlations of changes in weight and body satisfaction for obese women initiating exercise: Assessing effects of ethnicity. Psychological Reports, 105(3), 10721076. Hypotheses Setelah menjelaskan tujuannya, peneliti biasanya akan menjelaskan hipotesis yang ia miliki. Dalam beberapa kasus, ada juga peneliti lain yang tidak menjelaskan hipotesis. Bisa jadi karena penelitiannya memang tidak dikembangkan dengan hipotesis atau memang sengaja tidak dilakukan. Beberapa peneliti ada yang menganggap bahwa berpedoman pada praduga (hipotesis) tertentu bisa mengakibatkan bias terhadap pengumpulan dan interpretasi data. Untuk pendapat yang demikian, silahkan kita mendebatnya. Yang perlu digarisbawahi, meskipun penting bagi seorang peneliti untuk tidak menjadi bias, namun penjelasan hipotesis memberikan manfaat tertentu bagi pembaca. Outcome yang dibandingkan dengan hipotesis biasanya akan lebih informatif daripada outcome yang berdiri sendiri secara vakum.

Jika disajikan, hipotesis biasanya tidak selalu dituliskan dengan bahasa statistik, tetapi dideskripsikan sebagaimana kita menuliskan kalimat biasa. Meskipun ada juga beberapa peneliti yang menuliskannya lengkap dengan bahasa statistiknya. Contoh Hipotesis: It was expected that for Euro-American women, reduction in weight over 6-mo. would predict improvement in body satisfaction; while for African-American women, greater commitment to the exercise program (i.e., greater frequency of exercise) would predict improvement in body satisfaction, rather than actual weight loss. Understanding such relationships might improve weight-loss treatments by enabling them to be more sensitive to participants ethnicities. Source: Annesi, J. J. (2009). Correlations of changes in weight and body satisfaction for obese women initiating exercise: Assessing effects of ethnicity. Psychological Reports, 105(3), 10721076. Baik background, statement of purpose, dan hyphoteses biasanya tidak dituliskan dalam bagian terpisah, tetapi dituliskan secara langsung setelah abstrak dalam satu heading. Jika dituliskan dalam headingtertentu, maka biasanya dmasukkan dalam introduction. Karena itu, carilah clue untuk memahami ketiganya dengan cepat jika waktu yang kita miliki terbatas. Misalnya, dalam latar belakang peneliti mungkin akan menuliskan literature review yang sangat panjang, namun kita tidak harus selalu membacanya dengan tuntas. Cukup temukan isu mana yang akan dituju peneliti kaitannya dengan hasil penelitian terdahulu. dan untuk mempertegas hasil telaah tersebut, lihat tujuan penelitiannya. Setelah itu, tangkap asumsi yang dibangun peneliti melalui hipotesis yang dirumuskannya. Untuk mengidentifikasi dengan cepat background, statement of purpose, dan hypotheses, kita sudah membahas cluenya bukan?. Jadi, gampang sebenarnya!. Lihat bagian pertama dari tulisan ini di Tips Cepat Memahami Artikel Penelitian dalam Jurnal (1). Kita telah menyelesaikan bagian paling penting dalam sebuah penelitian, yaitu introduction. Jika kita sudah memahami bagian ini dengan baik, maka bagian sebelumnya insyaalah akan lebih mudah. Dan jangan kaget, jika kemudian anda menjadi so addicted membaca hasil penelitian.. (Bersambung)
Posted on May 7, 2012 at 7:04 am by abdurrafik Permalink In: Akademik, Refleksi Tagged with: memahami pendahuluan dalam jurnal, tips cepat memahami artikel,tips cepat memahami artikel berbahasa inggris, tips cepat membaca hasil penelitian, tips cepat membaca jurnal bahasa inggris

Previous post Next post


ntes Blog

Sekilas Tentang Critical Review

Critical Review secara singkat dapat diartikan sebagai evaluasi terhadap suatu buku maupun artikel. Critical Review bukan hanya merupakan laporan atau tulisan tentang isi suatu buku atau artikel, tetapi lebih kepada evaluasi, seperti mengulas atau mereview, menginterpretasi serta menganalisis. Dan critical review bukan merupakan pembuktian benar atau salah

suatu artikel atau buku. Mengenai keungguluan dan kelemahan juga dijadikan pertimbangan bagi reviwer.

Critical Review lazimnya diberikan pada acara perkuliahan di perguruan tinggi sebagai wujud tugas oleh dosen kepada mahasiswa. Dengan begitu, tidak tertutup kemungkinan bagi kalangan umum yang mempunyai keinginan untuk mengasah kemampuannya dalam berpikir kritis. Di dalam perkuliahan, tugas critical review diberikan dengan tujuan agar mahasiswa mempunyai keinginan untuk membaca dan berpikir sistematis dan kritis serta dapat memberikan pendapat melalui tulisannya. Dalam hal ini, akan sangat membantu mahasiswa yang kurang memiliki ability dalam mengungkapkan pendapat secara lisan. Tidak hanya itu, dengan menulis critical review, mahasiswa akan dituntut untuk dapat membaca berbagai literatur, dan menggali hal-hal yang dianggap unik di dalam artikel atau buku yang dipilih untuk kemudian diperdalam, sehingga dapat menambah pemahaman yang lebih terhadap suatu kajian tertentu. Dan yang paling penting, dengan menulis critical reviewpara reviewer dapat menguji pikiran pengarang atau penulis berdasarkan sudut pandang penulis dan pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki.

Setelah mengetahui definisi dan tujuan menulis critical review, selajutnya adalah bagaimana langkah awal untuk memulainya??? Pertama, reviewer harus memilih buku atau artikel yang akan dibahas. Buku atau artikel tersebut sebaiknya berdasarkan minat reviewer sehingga memudahkan untuk dibahas, kecuali jika pada perkuliahan yang sudah ditentukan oleh dosen.

Kedua, secara singkat dapat dikatakan sebagai membaca kritis dan sistematis. Sebenarnya di dalam tahap ini terdapat beberapa langkah lagi. Dalam membaca, dapat dimulai dengan membaca secara keseluruhan dengan menggunakan teknikskimming dan scanning. Dengan teknik ini reviewer dapat menemukan inti dari bacaan tersebut. Kemudian membaca secara lebih dalam dengan memberikan catatan singkat dalam poin-poin yang penting atau dengan cara mencatat ide-ide atau pikiran utama dari bacaan. Setelah mendapatkan poin-poin yang penting berikan sedikit catatan yang dikaitkan dengan pengetahuan dan pengalaman kita dengan tujuan agar mudah nanti dalam menyusun penilaian. Setelah semuanya selesai, lakukan review agar dapat lebih memahami isi bacaan yang akan dibahas.

Yang terakhir adalah tahap penyelesaian, yaitu membuat kerangka dan menulis evaluasi. Dalam langkah yang terakhir ini berisi hal-hal yang dibahas dalam critical review, di antaranya adalah: 1. Informasi Bibliografi Sebagai bagian awal dari tulisan, selalu disajikan informasi mengenai artikel atau buku yang kita bahas secara lengkap, sepertii nama pengarang, tahun, judul artikel, halaman, kota, nama penerbit serta judul yang dibahas.

2. Pengantar (introduction) Bagian pengantar biasanya berisi pembahasan secara umum mengenai esensi topik dari artikel atau buku yang dibahas serta penjelesan singkat mengenai struktur pembahasan critical review tersebut.

3. Bagian Utama (Main Body) Bagian ini merupakan bagian yang terpenting dalam critical review.

Pertama adalah rangkuman. Bagian ini berisi penjelasan secara umum atas topik yang dibahas, baik itu struktur, metoda pembahasan, fokus pembahasan, argumen utama, contoh dan bukti maupun kesimpulan penulis. Bagian ini sebaiknya tidak lebih panjang dari pada bagian evaluasi.

Kedua adalah evaluasi. Bagian ini pada intinya menguji kemampuan reviewer juga dalam hal menilai suatu topik dari pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki karena semakin banyak reviewer membaca buku atau artikel yang sejenis, semakin memudahkan reviewer untuk memberikan penilaian. Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan sebagai panduan untuk melakukan evaluasi adalah, yaitu:

- Siapa pengarang/penulisnya? Apakah berkompeten dalam bidang kajian yang dibahas tersebut? - Siapa target yang dituju, praktisi, mahasiswa atau peneliti? Apakah yang dibahas sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai? - Apakah pertanyaan penelitian yang diajukan menarik atau relevan? - Apakah pembahasan disajikan secara detil, singkat atau menyeleluruh? - Apakah gagasan yang diajukan logis dan teratur? - Bagaimana hubungan antar-gagasan yang diajukan? Apakah disajikan secara analitis dan teratur? - Apakah contoh atau bukti pendukung yang diberikan faktual, logis dan cukup kuat untuk mendukung pikiran utama atau masih terbatas dan malah bertentangan? - Pertimbangkan juga mengenai data yang digunakan, primer atau sekunder. - Bandingkan dengan artikel atau buku dari topik yang sejenis, apakah ada kesamaan dan perbedaan, serta jelaskan kesamaan dan perbedaan tersebut. - Apakah pada bagian kesimpulan dijelaskan bahwa penulis telah mencapai tujuannya? - Apakah masih ada hal-hal yang belum dipertimbangkan di dalam bagian kesimpulan? - Apakah penulis memberikan saran studi atau penelitian lebih lanjut terkait dengan topik pembahasan? - Apakah artikel atau buku tersebut juga dicantumkan ilustrasi, daftar pustaka ataupun indeks yang bermanfaat? Yang terakhir adalah penutup (conclusion). Pada bagian ini berisi penilaian secara keseluruhan, berikut beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan panduan dalam membuat bagian penutup: - Apakah maksud dan tujuan penulis tercapai? - Apakah penulis bersifat objektif atau subjektif dalam mencapai tujuannya? - Apakah esensi penulisan buku atau artikel tersebut terhadap bidang keilmuan secara umum dan khusus? - Apakah manfaat artike atau buku dan topik yang dibahas terhadap mata kuliah bagi mahasiswa yang bersangkutan atau pengaruhnya terhadap reviewer? Semoga bermanfaat!!!

Sekilas TentangCritical Review Critical Reviewsecara singkat dapat diartikan sebagai evaluasi terhadap suatu buku maupun artikel.Critical Reviewbukan hanya merupakan laporan atau tulisan tentang isi suatu buku atau artikel, tetapi lebih kepada evaluasi, seperti mengulas atau mereview,

menginterpretasi serta menganalisis. Dancritical reviewbukan merupakan pembuktian benar atau salah suatu artikel atau buku. Mengenai keungguluan dan kelemahan juga dijadikan pertimbangan bagireviwer. Critical Reviewlazimnya diberikan pada acara perkuliahan di perguruan tinggi sebagai wujud tugas oleh dosen kepada mahasiswa. Dengan begitu,

Critical Review Jurnal Internasional Toward a Theory of International New Ventures


Posted on 26 Mei 2011 by nasyaazakhir

Resume Jurnal Adapun jurnal yang dimaksud (terlampir di halaman belakang) menjelaskan tentang meningkatnya fenomena yang penting untuk dicermati pada perusahaan multinasional. Yang ditunjukkan dengan penjelasan tentang fenomena yang menggabungkan bisnis internasional, kewirausahaan, dan manajemen strategis. Dijelaskan empat elemen pada international new ventures: 1) Formasi organisasi melalui internasionalisasi pada beberapa transaksi 2) Kepercayaan yang kuat pada penguasaan dalam hal mengakses sumberdaya 3) Pendirian lokasi di luar negeri yang menguntungkan 4) Kontrol yang berlebihan terhadap sumberdaya yang unik Introduction Study Multinational Enterprises (MNE) fokus pada besar dan matangnya organisasi. Maju pesatnya perkembangan teknologi dalam hal komunikasi dan informasi membuat berbisnis dalam arena internasional menjadi lebih mudah untuk diwujudkan, sekalipun perusahaan dengan sumber daya terbatas. Adapun para sarjana di bidang sciences menolak keberadaan intenational new ventures hingga saat ini. Riset dibidang kewirausahaan pada isu internasional sebagian besar fokus pada: 1) Dampak kebijakan publik pada perusahaan pengekspor dalam skala kecil 2) Entrepreneurs dan aktivitasnya di berbagai negara 3) Perbandingan antara perusahaan pengekspor kecil dan bukan exporters. A Definition of International New Ventures Merupakan sebuah organisasi bisnis bisnis yang, dari awal, berusaha untuk memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan dari penggunaan sumber daya dan penjualan output di beberapa negara. Problem in the Application of the MNE Theory to International New Ventures Ditekankan pada skala organisasi sebagai sebuah persaingan penting yang menguntungkan pada arena internasional yang tidak tepat dengan penjelasan aktivitas bisnis multinasional untuk new ventures yang terjadi secara instant di kancah internasional. The Changing International Environment Dalam hal ini menyangkut perubahan ekonomi, teknologi dan kondisi sosial yang baru-baru saja terjadi pada sumberdaya

tambahan yang ada. Perubahan dramatis dalam hal kecepatan, kualitas dan efisiensi komunikasi internasional dan transportasi yang dapat mengurangi biaya transaksi pada pertukaran multinasional. Necessary and Sufficient Elements for Sustainable International New Ventures 1) Internasionalisasi pada beberapa transaksi 2) Struktur penguasaan alternatif 3) Menggunakan kesempatan dengan berlokasi di luar negeri 4) Sumberdaya unik yang dimiliki suatu negara dan tidak ada di negara lain Types of International New Ventures Adanya jenis new ventures yang aktif berkoordinasi dalam hal transformasi sumberdaya dari berbagai belahan dunia yang kemudian nanti output memiliki nilai yang sangat tinggi ataupun exporters yang menambah nilai dengan memindahkan output dari tempat produksinya ke tempat yang memerlukan. New international market makers Geographically focused start-ups Global start-ups Conclusion Artikel pada jurnal tersebut mengindentifikasi, mendefinisikan, dan menjelaskan fenomena yang muncul pada international new ventures yang sudah ditunjukkan dengan teori terbaru MNE yang tidak menjelaskan fenomena tersebut dengan baik. Critical Review Ada beberapa alasan kenapa perusahaan melakukan ekspansi ke luar negeri: Meningkatkan Pangsa Pasar Pasar domestik terlalu kecil untuk mendukung penggunaan fasilitas manufaktur dengan skala yang efisien. Contoh: Pabrik elektronik atau kendaraan bermotor Jepang. Pengembalian investasi Proyek investasi yang besar membutuhkan pasar global agar sesuai dengan pengeluaran modal. Contoh: Pabrik pesawat terbang Boeing atau Airbus. Skala Ekonomis atau Belajar Memperluas ukuran atau cakupan pasar membantu mencapai skala ekonomis dalam manufaktur, pemasaran, R&D atau distribusi. Keuntungan Lokasi Pasar dengan biaya rendah bisa membantu dalam pengembangan keunggulan kompetitif Adapun aliansi strategis merupakan kemitraan antara perusahaan-perusahaan yang mengkombinasikan sumber daya, kapabilitas, dan kompetensi inti mereka untuk memenuhi kepentingan bersama dalam perancangan, produksi, atau distribusi barang-barang atau jasa. Dalam hal ini venture merupakan salah satu contoh dari bentuk aliansi yang dipilih perusahaan. Jenis Aliansi Strategis 1. Joint venture adalah sebuah kerja sama yang terjadi ketika dua atau lebih perusahaan menciptakan satu perusahaan independen dengan mengkombinasikan sebagian aktiva mereka. 2. Aliansi strategis ekuitas terdiri dari pihak-pihak yang menjadi mitra dan memiliki persentase ekuitas yang berbeda dalam duatu usaha bersama. 3. Aliansi strategis non-ekuitas dibentuk melalui perjanjian kontraktual yang menetapkan suatu perusahaan untuk mensuplai, memproduksi, atau mendistribusi produk-produk atau jasa perusahaan tanpa berbagi ekuitas. Alasan menggunakan aliansi internasional : 1) Perusahaan multinasional memiliki kinerja yang lebih baik daripada perusahaan yang hanya beroperasi secara domestik saja. 2) Peluang-peluang untuk tumbuh melalui akuisisi atau aliansi terbatas dalam negara asal perusahaan tersebut. 3) Kebijakan pemerintah. 4) Membantu sebuah perusahaan yang mentransformasi dirinya sendiri dalam kondisi-kondisi lingkungan yang berubah dengan cepat. Tindakan-tindakan berkaitan dengan aliansi yang dilakukan oleh suatu kelompok perusahaan yang saling berkaitan dan dapat diperbandingkan untuk melayani kepentingan bersama dari semua mitra. Akan tetapi harus diingat aliansi tidak selalu berjalan mulus, namun sesungguhnya juga menyimpan bara konflik. Yoshino dan Rangan membaginya dalam suatu matriks berdasarkan dua hal, potensi konflik dan derajat interaksi, dan membaginya menjadi

empat jenis alainsi strategis, yaitu aliansi prokompetitif, aliansi nonkompetitif, aliansi kompetitif dan aliansi prekompetitif. Aliansi prokompetitif memiliki potensi konflik rendah dan derajat interaksi organisasi rendah. Biasanya dilakukan antar industri yang tidak saling berkompetisi dengan tujuan membentuk suatu vertical value chain. Orientasinya adalah meningkatkan nilai tambah yang terbentuk dari aliansi, dan menekankan fleksibilitas. Aliansi nonkompetitif terbentuk dalam industri yang sama antar perusahaan namun tidak saling bersaing. Potensi konfliknya rendah dan diwarnai interaksi organisasi yang tinggi. Orientasinya pada learning, bukan pada fleksibilitas dan proteksi core competence. Aliansi kompetitif, sejenis dengan aliansi nonkompetitif dalam artian joint activities-nya, tetapi dilakukan antar perusahaan yang dapat merupakan pesaing langsung dalam memasarkan produk akhir. Dalam aliansi ini potensi konflik tinggi dan derajad interaksinya juga tinggi. Orientasi utamanya pada fleksibilitas strategi, learning dan proteksi core competence. Aliansi prekompetitif terbentuk dari aliansi antar perusahaan yang tidak berasal dari industri yang sama, dan bahkan tidak saling terkait untuk suatu joint operation yang telah didefinisikan. Terbentuk dari anggota aliansi yang bukan kompetitor pada saat ini, tapi terdapat kemungkinan menjadi kompetitor untuk masa yang akan datang. Aliansi ini memiliki potensi konflik yang tinggi, tapi derajad interaksi organisasi rendah. Beorientasi pada fleksibilitas strategi dan proteksi terhadap core competencies. Dalam hal ini, berdasarkan penjabaran-penjabaran tersebut, maka seorang manajer harus tahu langkah dan upaya apa yang akan dilakukannyanya. Disini manajer dapat mewujudkannya dengan meningkatkan kualitas proses komunikasi dan distribusi informasi yang ada dar. Dari dan ke luar organisasi atau perusahaannya. Komunikasi dan pola manajemen informasi yang terarah, dapat dibentuk dengan cara yang tepat, yaitu dengan atmosfir kerja yang didasari oleh adanya keterbukaan, saling pengertian, adaptabilitas, kesesuaian budaya dan organizational trust. Proses ini ditindaklanjuti dengan mempercepat terbentuknya internal & external relationship yang dapat menciptakan kelanggengan formulasi alliance teams. Disamping itu, seorang manajer juga harus memiliki kemampuan dalam hal mengelola risiko yang mungkin muncul ketika memutuskan untuk melakukan aliansi, terutama yang bertaraf internasional. Hal itu dikarenakan banyaknya aspek-aspek yang faktor-faktor penentu berjalan dengan mulus atau tidaknya kerjasama yang dibina dan dampaknya terhadap lingkungan terutama menyangkut masalah perekonomian di suatu negara. Risiko Persaingan Kontrak yang tidak memadai Penyajian kompetensi yang tidak benar Para mitra gagal menggunakan sumber daya komplementer mereka Mitra aliansi menyandera investasi tertentu Risiko dan Pendekatan Manajemen Aktiva Kontrak yang rinci dan pengawasan Mengembangkan relasi yang saling percaya Menyangkut tentang kontrak, pada prinsipnya aliansi strategis tidak diatur secara tegas di dalam suatu hukum persaingan di negara manapun. Hal itu dikarenakan aliansi lahir dari suatu kebutuhan praktik para pelaku usaha untuk melakukan kerja sama dan meningkatkan sinergi serta meningkatkan potensi persaingannya. Namun, aliansi strategis akan menjadi jurisdiksi hukum persaingan usaha, jika melalui usaha patungan tersebut dan melalui masing-masing perusahaan seluler mengakibatkan anti persaingan baik di masing-masing pasar domestik maupun di pasar regional. Disamping itu, hal yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa strategi aliansi strategis mengarah kepada suatu pasar yang monopolistik atau oligopolistik yang dapat merugikan pelaku usaha pesaingnya dan konsumen. Oleh karena itu, untuk kawasan Asia misalnya, untuk mengantisipasi perilaku anti persaingan tersebut perlu digagas pembentukan Hukum Persaingan Usaha ASEAN dan lembaga pengawas persaingan usahanya, apalagi rencana ASEAN Economic Communtiy (AEC) pada tahun 2020 akan direalisasikan, maka pasar regional semakin terintegrasi dan hukum persaingan usaha semakin diperlukan untuk mengawasi perilaku para pelaku usaha di pasar regional.

About these ads