Anda di halaman 1dari 1

Kota Bandung dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami perkembangan pembangunan ekonomi yang sangat pesat, mengakibatkan

pergeseran struktur ekonomi dari sektor pertanian menjadi sektor industri dan perumahan, sehingga semakin banyak lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi sektor non pertanian. Permasalahan yang timbul dalam hal pemanfaatan aset/infrastruktur irigasi yang sudah terbangun dan memerlukan biaya besar dalam pembangunannya, sedang dalam pemanfaatan fungsinya sudah tidak sesuai dengan tujuannya, sehingga diperlukan pertimbangan-pertimbangan dalam pengambilan keputusan agar dampak negatif yang ditimbulkan dari sistem tersebut dapat diminimalkan. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh model hierarki dalam rangka menentukan prioritas fungsi sistem irigasi antara kewenangan pemerintah dan persepsi masyarakat, serta penentuan prioritas pekerjaan berdasarkan fungsi sistem dan manfaat biaya. Penyusunan model hierarki dilakukan melalui serangkaian analisa uji beda rata-rata dari dari data survey pertama dan penentuan prioritas pekerjaan pemeliharaan jaringan irigasi dengan bantuan metoda Analitycal Hierarchy Process (AHP) dari data survey ke dua, responden merupakan 'experf dari pihak pemerintah dan masyarakat Hasil penelitian adalah model hierarki dengan 3 tingkatan yaitu : 1) tujuan (Fungsi Sistem Irigasi), 2) Kriteria/Subkriteria (Fisik, Ekonomi, Sosial Budaya, Lingkungan dan Kebijakan) dan 3) Alternatif (DI Cibengkok, DI Leuwi Limus I, DI Cikapayang, DI Ciregol dan DI Cilentah). Penentuan prioritas fungsi sistem irigasi dengan alternatif kompromi antara pemerintah dan masyarakat (50%:50%) menghasilkan urutan: 1) DI Ciregol (28,3%), 2) DI Cibengkok (22,2%), 3) DI Cikapayang (20,1%), 4) DI Leuwi Limus I (19,6%) dan 5) DI Cilentah (9,9%). Prioritas utama pekerjaan pemeliharaan jaringan irigasi adalah pekerjaan perbaikan bangunan bagi di Bandung Kidul.