Anda di halaman 1dari 23

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan

SISTEM SENSORI

Nama NIM Kelompok Asisten :

: M. Musyafa Yasin : 10680010 : IV

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UIN SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA 2013

Sistem Sensori
A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 B Tujuan Mengetahui letak reseptor sensorik pada organ sensorik Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja reseptor sensori Menentukan daerah penyebaran reseptor rasa pada lidah Menentukan pengaruh suhu terhadap kepekaan reseptor pengecap pada lidah Mengetahui kepekaan seseorang terhadap rangsangan bau Mengetahui pengaruh bau terhadap kesan pengecapan Mengetahui banyaknya reseptor panas dan dingin Mengetahui adanya pengaruh dingin terhadap rasa sakit/nyeri Mengetahui letak kepekaan terhadap sentuhan dari bagian kulit Melatih kepekaan terhadap sentuhan Menentukan jarak benda yang bayangannya jatuh pada bintik buta Mengetahui refleks pupil ketika ada cahaya yang masuk Mengetahui refleks pupil terhadap akomodasi mata Dasar Teori Sistem saraf dibagi menjadi tiga yaitu saraf pusat, saraf tepi dan indera. Saraf pusat adalah pusat pengontrol aktivitas tubuh dalam hubungannya dengan alam lingkungan, baik lingkungan dalam maupun lingkungan luar. Saraf pusat terlindung dalam rangka.otak berada dalam tempurung tengkorak (cranium), sum-sum tulang punggung berada dalam tulang punggung (columna vertebralis). Saraf tepi menghubungkan alam lingkungan dengan saraf pusat. Ada yang kerjanya di bawah sadar (saraf somatis), ada pula yang bekerjanya di luar kesadaan (saraf otonom). Saraf otonom dibedakan atas saraf simpatis dan parasimpatis, yang keduanya bekerja antagonis; jika satu sifatnya mendorong atau memperkuat yang satu lagi untuk menekan atau menghambat. Saraf otonom bersumber dari bagian belakang otak dan sum-sum tulang belakang. Indra dihubungkan dengan saraf pusat oleh saraf tepi, sehingga stimulus yang diterima olehnya disampaikan ke pusat-pusat sensoris pada berbagai bagian

otak, lalu didapat kesan tentang perubahan yang terjadi dalam alam lingkungan. Indra juga mengandung saraf motoris, yang perlu untuk berbuat sesuatu reaksi (respon) terhadap perubahan itu, yang datang dari saraf dan disampaikan oleh saraf tepi (Yatim, 1996) Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas adalah kemampuan menanggapi rangsangan. Untuk menanggapi rangsangan, ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh sistem saraf, yaitu: a b c Reseptor, adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang bertindak sebagai reseptor adalah organ indera. Konduktor (Penghantar impuls), dilakukan oleh sistem saraf itu sendiri. Sistem saraf terdiri dari sel-sel saraf yang disebut neuron. Efektor, adalah bagian tubuh yang menanggapi rangsangan (Kimbal, 1994) Rangsangan yang mengenai tubuh akan diterima oleh reseptor yang terdapat pada alat tubuh yang disebut indera. Kadangkala rangsangan langsung diterima oleh sel atau jaringan. Reseptor terbagi menjadi tiga macam, yaitu: a b c Reseptor Luar (Eksteroseptor) adalah reseptor yang mampu menerima rangsangan dari luar. Reseptor Dalam (Interoseptor) adalah reseptor yang mampu menerima rangsangan dari dalam. Proproreseptor adalah reseptor yang terdapat di dalam otot. Indra terdiri atas alat untuk menerima rangsangan dan urat saraf yang membawa dan memberitahukan rangsangan tersebut ke pusat saraf. Indra hanya dapat bekerja dengan sempurna apabila: a b c Tidak ada gangguan pada alat penerima rangsangan Tidak ada gangguan pada urat saraf penghubung indra dengan pusat saraf Tidak ada gangguan pada pusat saraf di otak (Campbell, Reece & Mitchell, 2000) Reseptor rangsangan ini merupakan suatu struktur yang mampu mendeteksi jenis perubahan tertentu dalam perubahan lingkungan. Dan mengawali suatu syarat yaitu impuls syaraf dan sel syaraf yang melekat padanya. Organ indera kita adalah reseptor stimulus. Kebanyakan hewan/manusia mempunyai reseptor gaya mekanis (mekanoresepto), energi cahaya (Foto reseptor) dan kimiawi (kemoreseptor) (Kimball.1994). Kemoreseptor adalah alat indera yang merespon terhadap rangsangan zat kimia yaitu indra pembau (hidung) dan indra pengecap (lidah). Mekanoreseptor adalah alat indera yang merespon terhadap rangsangan gaya berat, tegangan suara dan tekanan yakni indra peraba (kulit) dan indra

pendengaran (telinga). Photoreseptor adalah alat indera yang merespon terhadap rangsangan cahaya seperti indra penglihatan atau mata. 1 Indra bau (hidung) Indra pembau berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir (tunica mukosa) bagian atas. Pada tunica mukosa terdapat kelenjar bowman yang menggetahkan lendir, berguna untuk melarutkan molekul zat yang dibawa udara pernafasan dan yang dapat merangsang selsensoris. Sel sensoris disini adalah neuron bipolar. Dendritya berfungsi untuk menerima stimulus, yang berujung pada tonjolan gembung yang mengandung cilia. Aksonnya tak bermielin, bercabang membentuk berkas. Berkas serat saraf ini menuju ke gembungan saraf hidung (bulbus olfactorius) di dasar cerebrum dan terus masuk menuju pusat bau pada kortes pada urat safar hidung (nervus olfactorius) (yatim, 1996) 2 Indra kecap (lidah) Lidah merupakan bagian dari reseptor kimia tubuh lainnya. Organ yang menerima rangsangan ini adalah ujung pengecap yang berada di lidah. Jumlah ujung pengecap ini dapat mencapai 10.000 buah yang tersembunyi di antara tonjolan tonjolan lidah (papila). Pada gambar setiap ujung pengecap, memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap rasa. Pada dasarnya. Rasa sangat beragam sekali, tapi hanya ada empat macam rasa yang umum kita kecap, yaitu manis, asin, asam, dan pahit. Setiap bagian di lidah mempunyai sensitivitas berbeda terhadap sensasi empat rasa tersebut. Setiap sensasi rasa yang diberikan akan diterima oleh reseptor di dalam ujung pengecap yang akan membuat perbedaan potensial sehingga impuls saraf dapat dialirkan ke sistem saraf pusat. Bagian otak yang menerima rangsangan ini adalah saraf kranial VII (fasial) dan saraf kranial IX (glosofaringeal).

Mamalia memiliki 3 jenis papilla, yaitu papilla filiform (dari kata filum atau benang), papillafungiform (fungus atau jamur) dan papilla circumvallate (circum,yang berarti berputar dan vallum yang berarti di dinding) (Martinidan Nath, 2009). Namun menurut Boroditsky (1999),

terdapat 1 jenis papilla lagi, yaitu papilla foliata yang berbentuk lipatan-lipatan padatepi lidah. Papilla yang memiliki sel pengecap adalah semua tipe papilla kecuali papillia filiform. 3 Indera peraba (kulit) Kulit merupakan reseptor tubuh yang paling luas dan paling pertama menerima informasi dari lingkungan. Di dalam kulit, tersimpan banyak sekali reseptor mekanis (mechanoreceptor) sehingga kita dapat merasakan dingin, panas, tekanan, hingga rasa sakit. Umumnya, reseptor berada di bawah folikel akar rambut sehingga diduga ada hubungan antara rambut di kulit dengan sensitivitas kulit terhadap rasa tertentu. Anda dapat membuktikan bagaimana rasa sakit akibat rambut kaki yang dicabut jika dibandingkan dengan rambut di kepala. Di bawah kulit, setidaknya ada lima jenis sel saraf reseptor yang menerima informasi berbeda , yaitu: a b c d e Ruffini, peka terhadap rangsang suhu panas; Krause, peka terhadap rangsang suhu dingin; Paccini, peka terhadap rangsang tekanan, dan sentuhan; Meissner, peka terhadap rangsang tekanan dan sentuhan; Ujung saraf bebas, peka terhadap rangsang tekanan ringan dan rasa sakit (ganong. 2002) 4 Indra bunyi (telinga) Telinga adalah organ yang terspesialisasi menerima rangsang berupa getaran. Selain berfungsi dalam indra pendengaran, telinga juga menentukan keseimbangan posisi kepala. Telinga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian luar, bagian tengah, dan bagian dalam. Telinga luar terdiri dari daun telinga, lubang telinga, dan selaput gendang. Fungsinya untuk menyalurkan getaran udara/bunyi dari luar dan yang menyebabkan bergetarnya selaput gendang. Saluran pendengaran mempunyai mekanisme pencegahan masuknya benda asing. Mekanisme tersebut berupa rambut kecil penyaring udara dan melapisi saluran dengan suatu lapisan lilin. Dalam beraktivitas pasti akan selalu ada benda asing yang masuk ke dalam saluran telinga sehingga lapisan lilin menggumpalkannya menjadi kotoran telinga yang disebut dengan serumen. Bagian tengah telinga yaitu tiga keping tulang rawan yang disebut oscilla, oscilla tersebut terdiri atas martil (maleus), landasab (incus) dan sanggurdi (stapes). ketiga jenis tulang berperan penting dalam perambatan getaran suara di dalam telinga. Telinga dalam terdiri dari indra bunyi dan indra keseimbangan (Wulangi.1994) 5 Indra cahaya (mata)

Mata merupakan alat indra yang dapat menerima rangsang cahaya. Mata dapat dibedakan menjadi tiga lapisan berbeda, yaitu: a lapisan luar yang terdiri atas sklera dan kornea. Bagian mata yang paling besar dan berwarna putih adalah sklera. Sklera merupakan tempat otot mata melekat, di dalamnya terdapat jaringan ikat yang berwarna putih. Lapisan bening di depan sklera, tempat cahaya masuk dinamakan kornea. b lapisan tengah yang berisi koroid, badan silia, dan iris; Cahaya yang masuk mata diatur intensitasnya oleh sebuah kepingan yang bernama iris. Iris mempunyai banyak pembuluh darah dan mengandung pigmen warna yang menyebabkan adanya perbedaan warna pada mata. Jika intensitas cahaya tinggi, lubang tempat cahaya masuk dipersempit. Begitu pula sebaliknya. Pada iris, bagian lubang yang berubah sesuai dengan intensitas cahaya yang masuk dinamakan pupil. Pupil inilah yang merupakan gerbang cahaya masuk ke mata. Pergerakan pupil didukung oleh otot halus yang berada di sekitar pupil. c lapisan dalam, tempat retina. Pada retina terdapat sel batang yang sensitif terhadap cahaya redup dan tidak dapat membedakan warna. Selain itu, terdapat juga sel kerucut yang sensitif terhadap cahaya terang dan dapat membedakan warna. Sel batang dan sel kerucut banyak mengandung pigmen penglihatan retinal (turunan vitamin A) yang terikat pada protein membran yang disebut opsin. Terdapat tiga jenis sel kerucut dengan jenis opsin yang berbeda. Setiap opsin akan berpadu dengan retinal. Semua pigmen penglihatan pada sel kerucut ini disebut photopsin. Tiga jenis sel kerucut, yakni sel kerucut merah, sel kerucut hijau, dan sel kerucut biru bergantung pada jenis photopsinnya. Persepsi otak terhadap warna selain merah, hijau dan biru, bergantung pada rangsang yang didapat dari dua atau tiga jenis sel kerucut. Misalnya, jika sel kerucut merah dan hijau terangsang maka kita akan melihat warna kuning atau oranye. Buta warna disebabkan oleh kerusakan atau tidak terdapatnya satu jenis sel kerucut atau lebih. Di bagian fovea terdapat daerah yang peka terhadap cahaya disebut bintik kuning, sedangkan bagian yang tidak peka terhadap cahaya disebut bintik buta (ganong.2002) C Alat dan Bahan Pada praktikum sistem sensori ini, ada beberapa praktikum yang akan dilakukan yaitu sistem sensori serta hubungannya dengan alat indera. Praktikum pertama yaitu tentang indera pengecap, alat yang digunakan adalah cotton bud, cawan petri, gelas kimia, sapu tangan, tissue atau kapas. Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan

NaCl (asin), larutan asam, larutan glukosa (manis), larutan kopi tanpa gula (pahit), larutan penyedap rasa (gurih) dan air putih. Pada praktikum kedua yaitu tentang indera pembau, alat yang digunakan adalah Syringe 2,5 ml, sapu tangan dan kapas. Sedangkan bahan yang digunakan adalah bawang merah atau bawang putih, jahe, kencur dan minyak cengkih. Pada praktikum ketiga yaitu tentang hubungan antara indera pembau dan pengecap, alat yang digunakan adalah tusuk gigi, pisau, kapas atau tisu dan sapu tangan. Sedangkan bahan yang digunakan adalah bengkoang, kentang, buah apel dan air putih. Pada praktikum keempat yaitu tentang reseptor panas dan dingin, alat yang digunakan adalah penggaris, jarum pentul, gelas kimia dan spidol. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat dan air dingin. Pada praktikum kelima yaitu tentang pengaruh dingin terhadap rasa sakit atau nyeri, alat yang digunakan adalah stopwatch dan tissue. Sedangkan bahan yang digunakan adalah es batu. Pada praktikum keenam yaitu tentang kepekaan sentuhan, alat yang digunakan berupa sapu tangan dan spidol. Sedangkan bahan yang digunakan adalah penggaris dan jangka. Pada praktikum ketujuh yaitu tentang bintik buta, alat yang digunakan adalah mata uang logam lima buah, kertas karton dan penggaris. Pada praktikum kedelapan yaitu tentang refleks pupil terhadap intensitas cahaya, alat yang digunakan adalah penggaris, senter dan sapu tangan. Pada praktikum kesembilan yaitu tentang refleks pupil terhadap akomodasi mata, alat yang digunakan berupa penggaris.

D 1

Cara Kerja Indera Pengecap Dibersihkan gusi dan lidah dari sisa-sisa makanan dengan berkumur Dibersihkan lidah dengan tissue / kapas agar tak basah oleh air ludah Ditutup mata praktikan, agar tak mengetahui larutan yang akan digunakan Disentuhkan cotton bud pada tempat-tempat pusat pengecap, ditanyakan apakah Didaerah yang disentuh merasakan rasa dari larutan yang diujikan

Jawaban dari praktikan dicatat pada gambar lidah, apabila sesuai diberi tanda +, Apabila tidak sesuai deiberi tanda Hasil dicatat sesuai yang tercantum pada buku petunjuk praktikum Diulangi percobaan ini pada orang lain, dibandingkan hasilnya

Pengaruh Suhu Pada Kepekaan Reseptor Rasa Disentuhkan cotton bud pada tempat tertentu di lidah. Dicatat waktu yang diperlukan untuk merasakan rasa kemudian, praktikan berkumur dengan air putih. Selanjutnya, diambil es batu dan dikulum selama lima detik disentuhkan cotton bud pada tempat yang sama dicatat waktu yang diperlukan untuk merasakan rasa tersebut

Indera Pembau Dipastikan praktikan tidak menderita flu / pilek Ditutup mata praktikan

Diambil bahan uji yang telah dipotong salah satu sisinya untuk uji sensor pembau didekatkan bahan ke lubang hidung praktikan dan tutup sisi lubang hidung lain dengan kapas, agar praktikan membau salah satu sisi saja ditanyakan baunya kemudian dicatat hasilnya diulangi percobaan dengan menggunakan bahan yang lain

ditutup lubang hidung yang satunya dan biarkan lubang yang lain terbuka diambil bahan uji dan dipotong salah satu sisinya

didekatkan bahan uji dengan sisi potongan dekat pada hidung yang terbuka dengan jarak 1,5 cm didepan hidung. Praktikan diminta menghirup dan menghembuskan lewat mulut dihitung OFTnya, diulangi sampai tiga kali, kemudian dihitung reratanya dihitung ORFnya, diulangi sampai tiga kali, kemudian dihitung reratanya diulangi serangkaian percobaan tadi kepada praktikan lain dibandingkan hasilnya

Hubungan Indera Pembau dan Pengecap Ditutup mata dan hidung praktikan dengan sapu tangan Kemudian, dibersihan lidah praktikan dengan tissue Diletakkan sekerat bahan, secara bergantian. Kemudian, ditanyakan kepada Praktikan apakah dia mampu membau dan mengecap Diulangi percobaan dengan keadaan hidung terbuka Diulangi masing-masing percobaan sebanyak dua kali pada praktikan Yang sama dan ulangi percobaan dengan praktikan yang lain. Dibandingkan hasilnya!

Reseptor Panas dan Dingin

Dibuat kotak sepanjang 28 mm dan dibagi dalam 14 kotak pada tangan bagian dorsal Kemudian, dimasukkan jarum kedalam gelas kimia yang berisi air hangat Dan jarum lain pada air dingin Ditunggu selama lima menit. Kemudian sentuhkan sebentar masing-masing jarum Kedalam kotak bujursangkar pada praktikan secara berurutan Untuk mempertahankan suhu jarum, dimasukkan lagi jarum ke gelas kimia Dicatat hasilnya, beri tanda + untuk kotak yang dirasakan dan tanda untuk kotak yang tidak merasakan diulangi percobaan untuk tangan bagian ventral pada praktikan yang sama 6 Pengaruh dingin terhadap rasa sakit Praktikan duduk dan telapak tangannya mendatar diatas meja Telapak tangannya dicubit dengan intensitas sedang sehingga ia mulai sakitdan meneruskan hingga ia tidak merasakan sakit/nyeri Cubitan diulangi pada tempat yang tadi setelah membiarkan praktikan beberapa saat Es diusap dengan gerakan memutar disekitar daerah itu dan dikeringkan dengan tissue Dicatat waktu begitu ia tidak merasakan sakit Es diusap tapi pada daerah terdekat dengan area cubitan tadi dilakukan pada telapak tangan yang lain dilakukan pada praktikan yang lain dan dibandingkan

Kepekaan sentuhan Praktikan ditutup matanya dan salah satu lengan diletakkan meja

Kaki jangka diletakkan pada jarak 3 cm dan disentuhkan dengan tekanan ringan kedua kaki jangka tadi secara bersama-sama pada bagian ventral lengan bawah praktikan. Jika ia merasakan dua titik maka jarak kedua kaki jangka diperkecil,sebaliknya bila praktikan merasakan satu titik maka kedua kaki jangka diperbesar Dilakukan sedikit demi sedikit hingga memperoleh jarak terpendek yang masih dirasakan dua titik oleh praktikan Data yang diperoleh dicatat Kegiatan diatas diulangi pada lengan bawah bagian dorsal, telapak tangan bagian dorsal dan ventral, ujung jari tangan kiri dan tangan kanan, dahi, pipi, tengkuk dan bibir

Bintik buta

Disusun 5 buah mata uang logam berdiri lurus kebelakang dengan jarak sejajar masing-masing 8 mm Mata praktikan ditutup salah satu dengan karton tebal. Sedangkan mata satunya tertuju pada bagian tengah dari uang logam terdepan Ditanyakan berapa mata uang yang terlihat Diubah jaraknya diperbesar atau diperkecil antar mata uang logam

Diuji dengan mata sebelah lagi dan diulangi pada praktikan yang lain

Reflek pupil terhadap intensitas cahaya Diukur dan dicatat diameter pupil praktikan dengan penggaris Praktikan memejamkan mata dan ditutup dengan tangan Secara memdadak praktikan membuka mata dan diukur diameter pupil matanya Praktikan kembali memejamkan mata Secara mendadak praktikan di terangi dengan senter dan diukur diameter pupil

Senter diarahkan kemata praktikan. Diperhatikan keadaan pupil dan dicatat lebar pupil Diulangi pada praktikan yang lain 10 Refleks pupil terhadap akomodasi mata Diameter pupil praktikan diukur dengan penggaris Praktikan melihat benda-benda yang jauh letaknya dan diukur diameter pupilnya Praktikan melihat benda-benda dekat dan diukur diameternya Diulangi percobaan pada praktikan yang lain dan dibandingkan hasilnya

E 1

Hasil Praktikum dan Pembahasan Pengecap Tabel data pengamatan Praktikan Vana Rani Manis +++++ +++ Asin ++ +++ Asam ++++ + +++ Pahit ++ +++

Ket : ++ lebih dari dua menandakan sangat terasa

Pembahasan : Berdasarkan data, diketahui bahwa hasil yang diperoleh pada praktikan sama. Rasa manis di ujung lidah, asam di lidah bagian tepi depan, asin di lidah bagian tepi belakang, dan pahit berada di bagain pangkal lidah. Pada lidah terdapat area yang berbeda-beda untuk merasakan reseptan. Walaupun area tersebut peka terhadap satu rasa, area tersebut masih dapat merasakan rasa lain namun tidak seberapa peka bila dibandingkan oleh satu rasa tersebut (Guyton, 1988). Masing-masing praktikan mempunyai sensitifitas yang berbeda dapat dilihat pada tabel, ini dikarenakan setiap orang mepunyai faktor hereditas dan sensitifitas perasa yang berbeda.

Pembau Tabel pembau

Praktikan Arif

Bahan Jahe

Dipotong V

Tidak dipotong

Keterangan ++++

++

Kencur Bawang merah Bawang putih

V V V V V V ++ ++++ ++ ++++ ++

Tabel penentuan OFT & ORF

Praktikan Wahyu Cale Hani

Waktu bau tidak bau (s) 63 47 23

Waktu tidak bau bau (s) 21 51 51

OFT = 63+47+23/3 = 44,3 s ORF = 51+51+21/3 = 41 s

Pembahasan : Berdasarkan tabel 3, diketahui bahwa OFT dan ORF pada hidung bagian belakang lebih lama dibandingkan pada hidung atas. Antar praktikan juga memiliki OFT dan ORF yang berbeda, ini menunjukkan bahwa setiap individu memiliki kepekaan yang berbeda pula. OFT yang lama menunjukkan bahwa individu memiliki kepekaan yang tinggi, ini tampak pada praktikan 1 yang memiliki OFT lebih lama dibandingkan praktikan 2 dan3. Sedangkan apabila ORF memiliki waktu yang lebih lama menunjukkan bahwa individu memiliki tingkat kepekaan yang kurang terhadap bau, hal ini tampak pada praktikan 2 dan 3 yang memiliki ORF lebih lama dibandingkan praktikan 1.

Hubungan pembau dan pengecap

Tabel hasil pengamatan Hidung tertutup Bengkoang Kentang Apel Manis Tawar Tawar Manis Tawar Lebih manis Manis Tawar Manis + + + Hidung terbuka + + + + + +

Pembahasan : Tabel 4 memperlihatkan adanya hubungan antara pembau dengan pengecap. Terbukti dengan praktikan yang tidak dapat merasakan apapaun saat hidung ditutup. Sebenarnya, indera pengecap dan indera penciuman bekerja sama untuk menciptakan efek gabungan ketika diinterpretasikan oleh otak. Sebagai contoh, ketika terserang flu, kita berpikir bahwa rasa makanan hilang, tetapi kemungkinan besar adalah bahwa kita telah kehilangan kemampuan untuk merasakan bau. Metode ini bekerja secara terbalik juga. Ketika mencium sesuatu, beberapa molekul bergerak dari hidung ke bawah ke daerah mulut dan merangsang selera. Oleh karena itu, bagian dari apa yang kita sebut sebagai bau mungkin sebenarnya rasa (Mader, 2004).

Reseptor Panas dan Dingin Tabel pengamatan panas Ventral + dorsal + Ventral + dingin dorsal +

No 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

+ + + + + +

+ + + + + + + + + + + + +

+ + + + + + + +

Pembahasan : kulit mempunyai indra perasa yaitu sebagai termoreseptor yang dapat mendeteksi perubahan suhu. Dari data diatas dapat dilihat suhu panas banyak dirasakan pada bagian ventral dibandingkan dorsal. Ini karena bagian ventral memang banyak mengandung sel saraf sensori perasa panas. Dan hasil negatif setelah angka yang ke 7 menunjukkan sistem perasa akan mengalami mati rasa pada perulangan yang terjadi. Sel-sel saraf membutuhkan waktu untuk merasakan panas kembali. Bagian perlakuan dingin diatas yang paling mersakan adalah bagian ventral Semua perulangan dapat merasakan. 5 Pengaruh dingin terhadap rasa sakit

Tabel pengamatan No. Waktu ketika tidak merasakan sakit (detik)

1 2 3 4

9 7 10 12 9,5

Pembahasan : suhu dingin tersebut mempengaruhi pada lama sel saraf menerima rangsang. Suhu dingin menyebabkan mati rasa. Dapat dilihat pada tabel memiliki rata-rata waktu 9,5 detik untuk merasakan sakit. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis, reseptor yang menerima rangsangan ini adalah Korpuskulus Berlamel (Vater Pacini).Korpuskulus Berlamel (Vater Pacini). Korpuskulus berlamel (vater pacini) ditemukan di jaringan subkutan pada telapak tangan, telapak kaki, jari, puting, periosteum, mesenterium, tendo, ligamen dan genetalia eksterna. Bentuknya bundar atau lonjong, dan besar (panjang 2 mm, dan diameter 0,5 1 mm). Bentuk yang paling besar dapat dilihat dengan mata telanjang, karena bentuknya mirip bawang. Setiap korpuskulus disuplai oleh sebuah serat bermielin yang besar dan juga telah kehilangan sarung sel schwannya pada tepi korpuskulus. Akson saraf banyak mengandung mitokondria. Akson ini dikelilingi oleh 60 lamela yang tersusun rapat (terdiri dari sel gepeng). Sel gepeng ini tersusun bilateral dengan dua alur longitudinal pada sisinya.Korpuskulus ini berfungsi untuk menerima rangsangan tekanan yang dalam. Pengaruh suhu dingin terhadap rasa sakit adalah dingin menyebabkan vasokontriksi (penyempitan pembuluh kapiler) dan aktifitas metabolisme menjadi lambat, sehingga pengiriman implus menjadi lama. Dengan mekanisme yaitu : Vasokonstriksi oleh suhu dingin suplai oksigen tidak lancar / berkurang jadi sel saraf menjadi kurang peka terhadap stimulus.

Kepekaan sentuhan

Tabel hasil pengamatan No. 1 2 jarak 0,55 0,66 Bagian kulit Lengan bawah dorsal Lengan bawah Dian 0,3 0,25 Soimah 0,3 0,3 Sundari 0,4 0,4 Januardi 1,2 1,7

3 4 5 6 7 8 9 10

0,475 0,75 0,225 0,3 0,525 0,475 1,86 0,2

ventral Telapak tangan dorsal Telapak tangan ventral Ujung jari kanan Ujung jari kiri Dahi Pipi Tengkuk Bibir

0,6 1,1 0,4 0,4 0,5 0,4 0,1

0,5 0,5 0 0,3 0,2 0,3 0,1

0,3 0,5 0,3 0,3 0,5 0,4 0,2

0,5 0,9 0,2 0,2 0,9 0,8 1,2 0,4

Pembahasan : Dari data diatas menuntukkan semakin lebar titik maka dua titik dapat dirasakan, kepekaan kulit juga berbeda-beda antar praktikan dan perbedaan tempat menunjukkan sensitifitas kulit untuk menerima rangsang ex tengkuk mempunyai jarak terjauh untuk merasakan 2 titik.TPL ( Two point localization ) lebih peka pada bagian yang menonjol, seperti bibir, hidung, mata, ujung jari dan telinga. Jarak yang asisten tusuk dengan yang pratikan dapat tergantung pada waktu. Waktu mempengaruhi sehingga ada penyebaran sensasi. TPL adalah system yang menyebar dan melingkar. Reseptor taktil adalah mekanoreseptor. Mekanoreseptor berespons terhadap perubahan bentuk dan penekanan fisik dengan mengalami depolarisasi dan menghasilkan potensial aksi. Apabila depolarisasinya cukup besar, maka serat saraf yang melekat ke reseptor akan melepaskan potensial aksi dan menyalurkan informasi ke korda spinalis dan otak. Reseptor taktil yang berbeda memiliki kepekaan dan kecepatan mengirim impuls yang berbeda pula. Dikriminasi titik adalah Kemampuan membedakan rangsangan kulit oleh satu ujung benda dari dua ujung disebut diskriminasi dua titik. Berbagai daerah tubuh bervariasi dalam kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemisahan bervariasi. Normalnya dua titik terpisah 2 4 mm dpt dibedakan pada ujung jari tangan, 30-40mm dpt dibedakan pada dorsum pedis. Tes dapat menggunakan kompas, jepitan rambut. Sensasi taktil dibawa ke korda spinalis oleh satu dari tiga jenis neuron sensorik: serat tipe A beta yang besar, serat tipe A delta yang kecil, dan serat tipe C yang paling kecil. Kedua jenis serat tipe A mengandung mielin dan menyalurkan potensial aksi dengna sangat cepat; semakin besar serat semakin cepat transmisinya dibanding serat yang lebih kecil. Informasi taktil yang dibawa dalam serat A biasanya terlokalisasi baik. Serat C yang tidak mengandung mielin dan menyalurkan potensial aksi ke korda spinalis jauh lebih lambat daripada serat A.

Hampir semua informasi mengenai sentuhan, tekanan, dan getaran masuk ke korda spinalis melalui akar dorsal saraf spinal yang sesuai. Setelah bersinap di spinal, informasi dengan lokalisasi dibawa oleh serat-serat A yang melepaskan potensial aksi dengan cepat (beta dan delta) di kirim ke otak melalui sistem lemniskus kolumna dorsalis. Serat-serat saraf dalam sisitem ini menyebrang dari kiri ke kanan di batang otak sebelum bersinaps di talamus. Informasi mengenai suhu dan sentuhan yang lokalisasi kurang baik di bawa ke korda spinalis melalui serat-serat C yang melepaskan potensial aksi secara lambat. Info tersebut dikirim ke daerah retikularis di batang otak dan kemudian ke pusa-pusat yang lebih tinggi melalui serat di sitem anterolateral.

Bintik buta

Hasil pengamatan No 1 2 3 4 5 6 Jarak antar koin 8 mm Koin yang dilihat Mata kanan 3 2 1 5 4 4 Mata kiri 3 3 3 3 2 4

4cm

Pembahasan : Bintik buta atau yang juga dikenal juga dengan blind spot adalah suatu daerah di retina mata yang merupakan jalur syaraf penglihatan menuju ke otak, dan tepat di jalur keluar tersebut tidak terdapat sel peka cahaya sehingga bila bayangan benda jatuh tepat di bintik buta, maka otak tidak akan mendapatkan sinyal dari mata karena bayangan itu jatuh tidak pada sel-sel yang peka cahaya maka benda yang sebenarnya ada di depan kita tidak akan dapat diindentifikasi keberadaannya oleh mata. Dikarenakan beberapa hal, jarak mata dengan objek pada saat bayangan objek yang dilihat jatuh pada bintik buta di setiap orang bisa berbeda. Hal ini dikarenakan ukuran bola mata, kecembungan lensa mata dan jarak lensa ke retina pada tiap orang berbeda. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan jarak penglihatan bintik buta

tersebut. Ini dibuktikan dengan hilangnya uang logam yang dijajar ex 5 buah koin praktikan hanya melihat 3.

Reflek pupil terhadap intensitas cahaya Hasil pengamatan

N o 1 2 3

Diameter pupil normal (cm) 0,5 0,6 0,4

Diameter pupil dengan perlakuan (cm) Ditutup Disenter 0,3 0,3 0,4 0,2 0,5 0,2 Kecepatan pupil (s) Menyempit Kembali seperti semula 1,31 1,08 1,67 1,85 1,39 1,26

Pembahasan : Pupil mata yang terkena cahaya senter secara tiba-tiba akan mengecil dibanding pupil mata yang tidak terkena cahaya dari senter. Mata yang terkena cahaya secara tiba-tiba akan mengecil secara cepat dan iris mendekat secara cepat, sedangkan mata yang tidak terkena cahaya tiba-tiba, pupil akan mengecil secara lambat dan iris mendekat secara lambat. Pupil mata tergantung dari iris atau semacam otot kecil. Iris mendekati jika cahaya yang masuk terlalu terang dan iris menjauhi jika cahaya yang masuk terlalu redup. Jika mata tidak siap saat terkena cahaya maka pupil mengecil atau meredup secara langsung, kalau siap maka pupil akan mengecil atau meredup secara perlahan. Bisa saja terjadi refleks apabila mata kiri yang di senter maka yang meredup mata kanan. Hal itu disebabkan karena ada kiasma optikus yaitu persilangan bawah otak.

Dilihat dari tabel diatas menunjukkan pengecilan diameter pupil menjadi 0,3 , 0,2 , 0,2. Dan membutuhakan waktu untuk kembali kebentuk semula.

Reflek pupil terhadap akomodasi mata

Hasil pengamatan Diameter No pupil normal (cm) 1 2 3 0,3 0,3 0,3 Diameter pupil dengan perlakuan (cm) Melihat benda Melihat jauh 0,5 0,4 0,5 benda dekat 0,2 0,2 0,2

Pembahasan : Pada pengamatan refleks akomodasi pupil, dimana saat melihat obyek yang jauh pupil menjadi mengecil sedangkan pada saat mengamati obyek yang dekat, pupil mata menjadi membesar. Hal ini terjadi karena ketika melihat obyek yang jauh otot siliaris berelaksasi sehingga lensa menjadi memipih, sedangkan saat melihat obyek yang dekat, otot siliaris berkontraksi sehingga lensa mata menjadi menebal. Selain itu, saat melihat obyek yang jauh cahaya akan lebih banyak masuk ke dalam pupil, sehingga pupil akan mengatur cahaya tersebut dan adanya kontraksinya serabut otot yang terletak sirkuler sehingga pupil mata mengecil. Pupil berubah membesar juga disebabkan karena saat melihat obyek yang dekat cahaya yang masuk ke dalam pupil sangat sedikit sehingga pupil membesar untuk memenuhi kebutuhan cahaya dan berkontraksinya serabut otot yang terletak radial pada pupil.

F 1

Kesimpulan Daerah penyebaran reseptor rasa pada lidah yaitu Rasa manis di ujung lidah, asam di lidah bagian tepi depan, asin di lidah bagian tepi belakang, dan pahit berada di bagain pangkal lidah. Pada lidah terdapat area yang berbeda-beda untuk merasakan reseptan. Walaupun area tersebut peka terhadap satu rasa, area tersebut masih dapat merasakan rasa lain namun tidak seberapa peka bila dibandingkan oleh satu rasa tersebut

2 3

Kepekaan pembau hidung menunjukkan bahwa reseptor pembau membutuhkan waktu beberapa saat untuk membau kembali setelah pada fase istirahat. Terdapat koordinasi antara pembau dan perasa untuk mengetahui suatu aroma dari suatu benda, keduanya harus saling membantu, kalau tidak akan tergannggu proses pengidetifikasian suatu stimulus.

4 5

Tubuh mempunyai reseptor duingin yaitu saraf krause untuk rasa dingin dan saraf ruffini untuk perasa panas, sehingga tubuh dapat merasakan panas. Dingin menyebabkan aktifitas metabolisme sel menjadi terhambat termasuk sel sel saraf, sehingga pengiriman stimulus berkurang. Selain itu dingin menyebabkan pembuluh darah mengecil sehingga suplai okseigen berkurang, sehingga aktifitas metabolisme terganggu.

Terjadi perbedaan mekanoreseptor antar berbagai tubuh , ini dikarenakan ketebalan jaringan epitel yang menyebabkan suatu implus dapat dibedakan pada dua titik. Selain itu didaerah sensitif frekuensi safat mekanoreseptor lebih tinggi, misal pada bibir.

Bintik buta atau yang juga dikenal juga dengan blind spot adalah suatu daerah di retina mata yang merupakan jalur syaraf penglihatan menuju ke otak, dan tepat di jalur keluar tersebut tidak terdapat sel peka cahaya sehingga bila bayangan benda jatuh tepat di bintik buta, maka otak tidak akan mendapatkan sinyal dari mata karena bayangan itu jatuh tidak pada sel-sel yang peka cahaya maka benda yang sebenarnya ada di depan kita tidak akan dapat diindentifikasi keberadaannya oleh mata.

Relek pupil terhadap intensitas cahaya adalah mengecil pada saat intesitas cahaya banyak, ini dikarenakan intensitas cahaya yang banyak dapat menyebabkan bagian sel kerucut rusak untuk mengatasinya bagian iris dapat berkontraksi melebar dan menyempit.

Reflek pupil terhadap akomodasi mata yaitu pupil akan membesar ketika melihat benda-benda jauh, karena lensa mata memipih sehingga lempengan lensa melebar dan menarik iris untuk terbuka lebar, dan terbentuklah pupil yang melebar. Ini juga sebaliknya pada saat melihat benda-benda dekat pupil akan mencembung sehingga iris mengendur kebawah. Kemampuan lensa mata untuk memipih dan mengembung ini membutuhkan waktu bebrapa saat.

Daftar Pustaka
Boroditsky,L.1999.T aste,Smelland T ouch:LectureNote.http://www psych.stanford.edu/~lera /psych115s/notes/lecture11/ tanggalakses 5 mei 2012 Campbell, N.A. Jane B. Reece and Lawrence G. Mitchell. 2000. Biologi. edisi 5. jilid 3. Alih Bahasa: Wasman manalu. Jakarta: Erlangga. Ganong, William F. 2002. Buku ajar fifiologi kedokteran. Jakarta :EGC Kimball, John W,1994. Biologi Edisi Kelima jilid 2. Jakarta: Erlangga. Martini, F.H. dan J.L. Nath. 2009. Fundamentals of Anatomy and Physiology 8thEdition. Benjamin Cummings: San Francisco Wulangi, K.S. 1994. Prinsip-PrinsipFisiologiHewan. Jakarta:Depdikbud.

Anda mungkin juga menyukai