Anda di halaman 1dari 4

PENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP ABSORBSI OBAT

I. Tujuan Mengenal, mempraktekkan, dan membandingkan cara-cara pemberian obat terhadap kecepatan absorbsinya, menggunakan data farmakologi sebagai tolok ukur. II. Dasar Teori Rute pemberian obat ( Routes of Administration ) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda; enzim-enzim dan getah-getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari rute pemberian obat (Katzug, B.G, 1989). Adsorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran cerna (umlut sampai dengan rectum), kulit, paru,otot, dan lain lain. Yang terpenting adalah cara pemberian obat per oral dengan cara ini tempat absorbs utama adalah usus halus karena memiliki permukaan absorbsi yang sangat luas, yakni 200m2.(Anonim,2007) Pemberian obat di bawah lidah hanya untuk obat yang sangat larut dalam lemak, karena luas permukaan absorbsinya kecil sehingga obat harus melarut dan diabsorbsi dengan sangant cepat, karena darah dari mulut langsung ke vena kava superior dan tidak melalui vena porta, maka obat yang diberikan sublingual ini tidak mengalami metabolisme lintas pertama oleh hati.(Anonim,2007) Pada pemberian obat melalui rektal misalnya untuk pasien yang tidak sadar atau muntah, hanya 50% darah dari rectum yang melalui vena porta, sehingga eliminasi lintas pertama oleh hati juga hanya 50%. Akan tetapi, adsorpsi obat melui rectum sering kali tidak teratur dan tidak lengkap dan banyak obat menyebabkan iritasi rectum.(Anonim,2007)

Obat sebelum tiba pada tempat aksi atau jaringan sasaran, obat akan banyak mengalami proses. Secara garis besar proses-proses ini dapat dibagi menjadi tiga tingkat atau fase, yaitu : 1. Fase biofarmasetik atau farmasetik 2. Fase farmakokinetik 3. Fase farmakodinamika

Obat harus mencapai tempat aksinya dalam kadar yang cukup agar dapat menimbulkan respon untuk menghasilkan efek terapinya. Tercapainya kadar obat tersebut tergantung dari jumlah obat yang diberikan, keadaan dan kecepatan obat diabsorpsi dari tempat pemberian dan distribusi oleh aliran darah ke bagian lain dari badan (Anief, 2005). Pemberian obat per oral merupakan pemberian obat paling umum dilakukan karena relatif mudah dan praktis serta murah. Kerugiannya ialah banyak faktor dapat mempengaruhi bioavailabilitasnya (faktor obat, faktor penderita, interaksi dalam absorpsi di saluran cerna) (Ansel, 1989). Intinya absorpsi dari obat mempunyai sifat-sifat tersendiri. Beberapa diantaranya dapat diabsorpsi dengan baik pada suatu cara penggunaan, sedangkan yang lainnya tidak (Ansel, 1989). Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang kedokteran/biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis / keturunan dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, disamping faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia (Tjay,T.H dan Rahardja,K, 2002). Fenobarbital, asam 5,5-fenil-etil barbiturate merupakan senyawa organik pertama yang digunakan dalam pengobatan antikonvulsi. Kerjanya membatasi penjalaran aktivitas bangkitan dan menaikkan ambang rangsang. Efek utama barbiturat ialah depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat dicapai mulai dari sedasi, hipnosis, berbagai tingkat anesthesia, koma, sampai dengan kematian. Efek hipnotik barbiturate dapat dicapai dalam waktu 20-60 menit dengan dosis hipnotik. Tidurnya merupakan tidur fisiologis, tidak disertai mimpi yang mengganggu (Ganiswara, 1995). Resorpinya di usus baik (70-90%) dan lebih kurang 50% terikat pada protein; plasma-t -nya panjang, lebih kurang 3-4 hari, maka dosisnya dapat diberikan sehari sekaligus. Kurang lebih 50% dipecah menjadi p-hidrokdifenobarbitat yang diekskresikan lewat urin dan hanya 10-30% dalam kedaan utuh. Efek sampingnya berkaitan dengan efek sedasinya, yakni pusing, mengantuk, ataksia dan pada anak-anak mudah terangsang. Bersifat menginduksi enzim dan antara lain mempercepat penguraian kalsiferol (vitamin D2) dengan kemungkinan timbulnya rachitis pada anak kecil. Pengunaannya bersama valproat harus hatihati, karena kadar darah fenobarbital dapat ditingkatkan. Di lain pihak kadar darah fenitoin

dan karbamazepin serta efeknya dapat diturunkan oleh fenobarbital. Dosisnya 1-2 dd 30-125 mg, maksimal 400 mg (dalam 2 kali); pada anak-anak 2-12 bulan 4 mg/kg berat badan sehari; pada status epilepticus dewasa 200-300 mg (Tjay dan Rahardja, 2006). Efek sistemik dapat diperoleh dengan cara: a. Oral melalui saluran gastrointestinal atau rectal b. c. Parenteral dengan cara intravena, intra muskuler dan subkutan Inhalasi langsung ke dalam paru-paru.

Efek lokal dapat diperoleh dengan cara: a. Intraokular, intranasal, aural, dengan jalan diteteskan ada mata, hidung, teling b. Intrarespiratoral, berupa gas masuk paru-paru dan kemaluan wanita, obat meleleh atau larut pada keringat badan atau larut dalam cairan badan Rute penggunaan obat dapat dengan cara: a. Melalui rute oral b. Melalui rute parenteral c. Melalui rute inhalasi d. Melalui rute membran mukosa seperti mata, hidung, telinga, vagina dan sebagainya e. Melalui rute kulit (Anief, 1990). Alat dan Bahan a. Alat : Spuit injeksi dan jarum ( 1 2 ) ml Sonde (untuk pemakaian per oral) c. Rektal, uretral dan vaginal, dengan jalan dimasukkan ke dalam dubur, saluran kencing

Sarung tangan Stop watch b. Bahan : Sediaan obat

Injeksi Luminal c. Hewan uji : Mencit 1. Mencit ditimbang dan diperhitungkan volume sediaan pentobarbital yang akan diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB. 2. Sodium pentobarbital diberikan pada hewan uji dengan cara pemberian: oral, subkutan, intra muscular, intra peritoneal, dan intra vena.

3. Perubahan-perubahan yang terjadi diamati dengan cermat yang mencakup waktu onset dan durasi dicatat. 4. Data yang terkumpul dari masing-masing kelompok dianalisis menggunakan analisis varian