Anda di halaman 1dari 3

Gambar 6.

ECC stadium 4

Karies merupakan suatu penyakit multifaktorial dimana keempat faktor utama berinteraksi dan menyebabkan ketidakseimbangan dalam demineralisasi dan remineralisasi antara permukaan gigi dengan plak ( biofilm ) di sekitarnya.2 Umumnya, karies dimulai dari enamel tapi bisa saja dimulai dari dentin atau sementum. Enamel tersusun atas struktur kimia yang kompleks yang mengandung 97% mineral (kalsium, fosfat, karbonat dan fluor), air 1% dan bahan organik 2%. Gigi desidui lebih mudah terkena karies daripada gigi permanen. Ini terjadi karena gigi desidui mengandung lebih banyak bahan organik dan air sedangkan jumlah mineral lebih sedikit daripada gigi permanen. Selain itu, secara kristalografis gigi desidui tidak sepadat gigi permanen. Hal ini mungkin yang menjadi salah satu alasan tingginya prevalensi karies pada anak. Saliva memainkan peran penting dalam proses karies yaitu berperan sebagai self cleansing dan sistem bufer, membuat proses karies berjalan lebih lama dan juga berperanan pada proses remineralisasi dengan menghasilkan kalsium, fosfat dan fluor.14,15 Universitas Sumatera Utara Pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Streptococcus mutans dan Lactobacillus sp. berkaitan dalam karies gigi.16 Streptococcus mutans diyakini sebagai bakteri awal pada proses terjadi dan berkembangnya karies, diikuti Lactobacillus sp. saat sudah terjadi kavitas pada enamel.17 Lactobacillus sp. merupakan bakteri komensalis gram positif berbentuk coccobacillary (kebanyakan bentuk batang), alfa ataupun non-haemolitik dan bersifat anaerob fakultatif serta menghasilkan asam laktat yang akan merusak bahan bahan anorganik dari email sehingga memicu terjadinya proses karies. Lactobacillus sp. dibagi menjadi 2 kategori utama yaitu golongan homofermenters yang utamanya menghasilkan asam laktat (65%) dari fermentasi glukosa (contohnya L. casei) dan golongan heterofermenters yang menghasilkan selain asam laktat juga menghasilkan asetat, etanol dan karbon dioksida (contohnya L. fermentum).19 Lactobacillus sp. hidup pada kondisi microaerophilic dengan adanya karbon dioksida dan pH yang asam (6,0) serta banyak terdapat di dalam rongga mulut dan bagian tubuh lainnya. Banyak penelitian menunjukkan prevalensi yang tinggi pada karies permukaan akar. Bakteri ini dianggap menjadi kandidat penyebab karies karena dijumpai jumlahnya yang tinggi pada kebanyakan lesi karies enamel. Korelasi positif antara jumlah Lactobacillus sp. di dalam plak dan saliva dengan aktivitas karies; kemampuan Lactobacillus sp. untuk mensintesa polisakarida baik ekstraseluler maupun intraseluler dari sukrosa; kemampuan beberapa spesies Lactobacillus sp. menyebabkan karies pada tikus gnotobiotics (bebas kuman). Kenyataan bahwa jumlah Lactobacillus sp. di dalam plak gigi yang diambil dari tempat yang sehat biasanya rendah. Walaupun peran Lactobacillus sp. pada proses Universitas Sumatera Utara karies belum dijelaskan dengan baik, dipercaya bahwa spesies ini terlibat lebih dalam pada proses lesi enamel yang dalam dan merupakan organisme pelopor dalam proses karies terutama pada dentin.18,19 Substrat adalah campuran makanan halus dan minuman yang dimakan sehari hari yang menempel di permukaan gigi. Substrat ini berpengaruh terhadap karies secara lokal di dalam mulut. Menaker (1980) menyatakan bahwa pada penduduk dengan diet makanan terutama yang mengandung lemak dan protein hanya ditemukan sedikit bahkan tidak ditemukan karies sama sekali di giginya. Proses karies akan terhambat bila anak makan dengan menu diet tinggi lemak. 20 Vipeholm (1978) membuktikan tidak hanya jenis karbohidrat saja yang menyebabkan karies, tetapi frekwensi dan bentuk fisik juga berperan penting dalam menentukan karies. Karbohidrat dalam bentuk tepung atau cairan yang bersifat lengket serta mudah hancur di dalam mulut lebih

memudahkan timbulnya karies dibanding bentuk fisik lain, misalnya kue kue, roti, es krim, susu, coklat, permen dan lain lain. Selain itu, Rugg-Gunn dkk (1984) juga menyatakan jumlah asupan gula harian pada anak lebih besar korelasinya terhadap karies dibanding dengan frekwensi makan gula. Makanan yang paling sering dimakan anak di antara dua waktu makan mempunyai ciri ciri pH rendah, mengandung gula tinggi dan lengket.20 Beberapa jenis sayuran dan makanan telah diteliti untuk mengetahui hubungannya dengan karies. Sayuran dan buah yang berserat serta mengandung air bersifat membersihkan karena harus dikunyah dan dapat merangsang sekresi saliva karenanya dapat berperan sebagai penghambat terjadinya karies. Namun tidak semua Universitas Sumatera Utara

buah memiliki peranan dalam menghambat karies. Buah apel misalnya ternyata tidak ada hubungannya dengan pengurangan karies. Buah jeruk manis dan buah-buahan yang tidak berserat juga tidak dapat membantu mengurangi timbulnya karies bahkan jus dapat menyebabkan karies.20 Ketika makanan atau minuman yang mengandung karbohidat dikonsumsi, pH plak mulai menurun. Keadaan ini dapat bertahan selama 20 30 menit sebelum sifat bufer saliva menetralisir keasaman plak.21 Ketika asam dihasilkan, kristal enamel akan rusak dan terjadi kavitas. Waktu yang diperlukan untuk membentuk sebuah kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6-48 bulan.14,15