Anda di halaman 1dari 27

Laporan Individu Praktikum Silvika

EVALUASI STRUKTUR DAN KOMPOSISI TEGAKAN JATI SUPER Tectona grandis DI UNIVERSITAS HASANUDDIN

Disusun oleh : NAMA NIM KELAS : : : MUSTIKA M111 12 047 B VI (ENAM) A. AYU INDARWULAN

KELOMPOK : ASISTEN :

LABORATORIUM SILVIKULTUR DAN FISIOLOGI POHON FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas izinnya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktek lapang ini dengan baik, meskipun dalam kondisi penuh kekurangan. Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk melulusi Mata Kuliah Silvika, Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin, Makassar. Keberhasilan penyusunan laporan ini berkat kerja keras anggota kelompok dan atas bimbingan asisten . Untuk itu penulis sampaikan penghargaan setulus-tulusnya. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan, untuk lebih sempurnanya laporan ini pada waktu yang akan datang.

Makassar ,11 Mei 2013

Praktikan

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... KATA PENGANTAR. DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL .. DAFTAR GAMBAR . BAB I PENDHULUAN. A. Latar belakang. B. Tujuan praktikum. C. Kegunaan praktikum BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ilmu silvika dan penerapannya B. Sistematika tanaman C. Struktur tegakan.. D. Komposisi tegakan... BAB III METODE PRAKTIKUM. A. Waktu dan tempat B. Alat dan bahan. C. Prosedur kerja.. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil B. Pembahasan. BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. B. Saran .. DAFTAR PUSTAKA.

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Laju pertumbuhan pohon dan macam pohon apa yang tumbuh di suatu lokasi

tentunya selalu terdapat hal tentang peran yang diberikannya, baik secara material maupun non-material. Peran ataupun manfaat yang diberikan ditunjak oleh beberapa faktor diantaranya faktor fisiologis. Factor fisiologis yang tak kala pentingnya untuk suatu tumbuhan dalam prospek pemanfaatannya secara fisik meliputi tinggi bebas cabang atau TBC,diameter, volume dan juga tinggi totalnya. Tectona grandis yang merupakan salah satu tanaman yang mempunyai nilai guna yang tinggi adalah salah satu dari beberapa tanaman yang dibahas dalam silvikultur. Tidak jauh dari silvikultur tersebut ilmu pengetahuan yang mempelajari juga tentang Tectona grandis ini juga adalah silvika. Silvika adalah ilmu tentang sejarah dan aspek biologi dari sutau tanaman dalam suatu hutan maupun pada suatu tegakan. Hal ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui manfaat dari suatu tanaman dalam hutan maupun tegakan melaui keadaan diameter, volume dan TBC dari suatu pohonkemudian selanjutnya akan pemanfaatan sesungguhnya diterapkan melalui bidang ilmu lainnya, seperti silvikultur. Berdasarkan hal inilah kegiatan praktek lapang mata kuliah silvika dilaksanakan agar para mahasiswa dapat mengetahui evaluasi tegakan,komposisi tegakan Tectona grandis dan mempraktekkan secara langsung cara memperoleh diameter, TBC, volume dan tinggi total dari Tectona grandis sebagai dasar dan bahan untuk bekal selanjutnya dalam memepelajari ilmu kehutanan.

B. Tujuan dan Kegunaan 1. Tujuan Tujuan praktikum ini dilakukan adalah untuk mengetahui : a. Mengetahui habitus jati. b. Mengetahui Tinggi Pohon dan Tinggi Bebas Cabang c. Mengetahui proyeksi tajuk dari pohon jati. d. Mengetahui asosiasi dari pohon jati. e. Mengetahui sebaran kelas diameter dan permudaan tegakan. 2. Kegunaan Kegunaan dari praktikum ini yaitu : a) Kegunaan teoritis Diharapkan makalah ini dapat menjadi kontribusi atau kajian wawasan ilmu mengenai ilmu silvika. b) Kegunaan praktis a. Bagi Institusi Merupakan input dalam memberikan bekal pengetahuan mahasiswa agar dapat mengetahui lebih mendalam mengenai ilmu silvika. b. Bagi Mahasiswa S1 Kehutanan Diharapkan dapat menambah wawasan ilmu mengenai ilmu silvika.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Ilmu Silvika Dan Penerapannya


Silvika adalah ilmu yang mempelajari sejarah hidup dan karakter jenis-jenis pohon

hutan dan tegakan, dan kaitannya dengan faktor-faktor lingkungan. Silvika adalah ilmu

yang mempelajari sejarah hidup dan ciri-ciri umum pohon beserta tegakan hutan dalam katannya dengan faktor-faktor lingkungan (Pasaribu, 2012). Silvika secara garis besarnya mempelajari tentang (Pasaribu, 2012) :

proses-proses hidup tumbuh-tumbuhan, khususnya pohon, yang memerlukan pengetahuan tentang proses-proses kimia yang berhubungan dengan aktivitas biologis yang terjadi,

persyaratan tumbuh suatu tumbuhtumbuhan, khususnya pohon, yakni terkait dengan berbagai faktor, yaitu tanah, air, cahaya, atmosfir, biotik dan faktorfaktor kompleks untuk optimalisasi pertumbuhannya

adaptasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi lingkungan tertentu.

Silvikultur merupakan suatu ilmu dan seni menghasilkan serta memelihara hutan dengan menggunakan pengetahuan silvika untuk memperlakukan hutan serta mengendalikan susunan dan pertumbuhannya. llmu silvikultur analog dengan ilmu agronomi dan hortikultural di bidang pertanian karena membicarakan cara-cara membudidayakan tumbuhan. Silvikultur dibagi menjadi dua bagian, yakni silvika dan silvikultur, di mana silvika sebagai dasar teori dan silvikultur sebagai pelaksanaan di lapangan. Seperti suatu pohon akan mampu hidup dan berkembang apabila ditanam dalam tapak yang telah dipilih serta harus ditanam secara vegetatif ataupun generative (Irwanto, 2006).

Menurut Pasaribu (2012) silvika Peranannya adalah pengelolaan hutan dengan baik dengan memperhatikan keadaan biologisnya dan juga bermanfaat bagi kehidupan manusia untuk dapat menguasai seni dalam menghasilkan hutan. Pemanfaatan ilmu tersebut mutlak diperlukan. Komposisi umur, suatu tegakan disebut seumur, bila ditanam pada waktu bersamaan. Meskipun demikian, ukurannya dapat berlainan, karena laju pertumbuhan yang berbeda. Hutan segala umur terdiri dari pohon-pohon berukuran besar hingga tumbuhan tingkat semai. Jadi meliputi berbagai umur maupun ukuran. Sedangkan hutan tidak seumur ialah hutan yang mempunyai dua atau lebih kelompok umur atau ukuran. Misalnya hutan yang terdiri atas pohon-pohon yang sudah masak tebang, miskin riap dan ukuran pancang saja (Komara, 2008). Hutan segala umur biasanya penyebaran ukurannya lebih beragam dan jenisnya umumnya lebih toleran terhadap naungan. Sementara hutan seumur umumnya terdiri dari jenis intoleran. Angin topan, penebangan berlebihan, kebakaran dan bencana lain, menciptakan kelompok-kelompok yang tidak seumur (Komara, 2008). Dewasa ini, Jati yang terkenal dengan kayu mewah karena kekuatan dan keawetannya merupakan salah satu tanaman yang berkembang baik di Indonesia. Hal ini tercemin dari telah tumbuhnya tanaman jati sejak tahun 1842. Jati merupakan salah satu spesies daerah tropis yang bersifat desiduous yaitu menggugurkan daunnya pada musim kemarau (Handayani, 2012). Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 2 000 mm/tahun dan suhu 27 36 C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5 7 dan tidak dibanjiri dengan air. Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30 60 cm saat dewasa (Handayani, 2012).

Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati. Jati biasanya diproduksi secara konvensional dengan menggunakan biji. Akan tetapi produksi bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi terbatas karena adanya lapisan luar biji yang keras. Beberapa alternatif telah dilakukan untuk mengatasi lapisan ini seperti merendam biji dalam air, memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta menambahkan asam, basa, atau bakteri. Akan tetapi alternatif tersebut masih belum optimal untuk menghasilkan jati dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak (Handayani, 2012). Penyebarannya di Indonesia terjadi secara alami dengan daerah pertumbuhan terutama dijawa. Hutan jati di Jawa saat ini merupakan hutan buatan bukan hutan alam sebagai akibat dari sistem pengelolaan tebang habis yang disusul dengan penanaman kembali hutan tersebut (Handayani, 2012). Sistematika Jati (Anonim, 2011) adalah sebagai berikut: sebagai berikut: Divisio Sub Divisio Class Sub Class Ordo Familia Genus Species : : : : : : : : Spermatophyta Angiospermae Dicotyledonae Asteridae Lamiales Verbenaceae Tectona Tectona grandis L.F.

Sifat ekologis dan penyebaran Jati menyebar luas mulai dari India, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Indochina, sampai ke Jawa. Jati tumbuh di hutan-hutan gugur, yang menggugurkan daun di

musim kemarau. Menurut sejumlah ahli botani, jati merupakan spesies asli di Burma, yang kemudian menyebar ke Semenanjung India, Muangthai, Filipina, dan Jawa. Sebagian ahli botani lain menganggap jati adalah spesies asli di Burma, India, Muangthai, dan Laos. Sekitar 70% kebutuhan jati dunia pada saat ini dipasok oleh Burma. Sisa kebutuhan itu dipasok oleh India, Thailand, Jawa, Srilangka, dan Vietnam. Namun, pasokan dunia dari hutan jati alami satu-satunya berasal dari Burma. Lainnya berasal dari hasil hutan tanaman jati (Komara, 2008). Jati paling banyak tersebar di Asia. Selain di keempat negara asal jati dan Indonesia, jati dikembangkan sebagai hutan tanaman di Srilangka (sejak 1680), Tiongkok (awal abad ke-19), Bangladesh (1871), Vietnam (awal abad ke-20), dan Malaysia (1909). Iklim yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu panjang, dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara 0 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1300 m dpl. Tegakan jati sering terlihat seperti hutan sejenis, yaitu hutan yang seakan-akan hanya terdiri dari satu jenis pohon (Komara, 2008). Ini dapat terjadi di daerah beriklim muson yang begitu kering, kebakaran lahan mudah terjadi dan sebagian besar jenis pohon akan mati pada saat itu. Tidak demikian dengan jati. Pohon jati termasuk spesies pionir yang tahan kebakaran karena kulit kayunya tebal. Lagipula, buah jati mempunyai kulit tebal dan tempurung yang keras. Sampai batas-batas tertentu, jika terbakar, lembaga biji jati tidak rusak. Kerusakan tempurung biji jati justru memudahkan tunas jati untuk keluar pada saat musim hujan tiba (Komara, 2008). Guguran daun lebar dan rerantingan jati yang menutupi tanah melapuk secara lambat, sehingga menyulitkan tumbuhan lain berkembang. Guguran itu juga mendapat bahan bakar yang dapat memicu kebakaran yang dapat dilalui oleh jati tetapi tidak oleh banyak jenis pohon lain. Demikianlah, kebakaran hutan yang tidak

terlalu besar justru mengakibatkan proses pemurnian tegakan jati: biji jati terdorong untuk berkecambah, pada saat jenis-jenis pohon lain mati (Anonim, 2010). Tanah yang sesuai adalah yang agak basa, dengan pH antara 6-8, sarang (memiliki aerasi yang baik), mengandung cukup banyak kapur (Ca, calcium) dan fosfor (P). Jati tidak tahan tergenang air. Pada masa lalu, jati sempat dianggap sebagai jenis asing yang dimasukkan (diintroduksi) ke Jawa; ditanam oleh orang-orang Hindu ribuan tahun yang lalu. Namun pengujian variasi isozyme yang dilakukan oleh Kertadikara (1994) menunjukkan bahwa jati di Jawa telah berevolusi sejak puluhan hingga ratusan ribu tahun yang silam (Anonim, 2010). B. Sistematika tegakan Menurut Heyne (1987), tanaman jati memiliki nama daerah bermacammacam, seperti teaka, teackbaum (Jerman), teak (Inggris), jati, jatos (Jawa), dan nama daerah lainya kyan (Myanmar), sagwan (India), maisak (Thailand), teck (Perancis), teca (Brazillia), Java teak (Jerman). Sistematika secara ilmiah jati (Tectona grandis Lf.) seperti : : : : : : : : yang dikutip dari Lawrence (1958) sebagai berikut:

Divisio Sub divisio Classis Ordo Sub ordo Familia Genus Species

Spermatophyta Angiospermae Dicotyledonae Lamiales Verbenales Verbenaceae Tectona Tectona grandis L.f.

Sistem perakaran pada tanaman Jati Tectona grandis terdir dari akar tunggang, akar cabang, dan akar permukaan.Pada saat akar tumbuh dengan cepat sehingga tanaman memiliki perakaran yang banyak dan panjang. Perakaran Jati Tectona grandis pada umumnya panjang dan kuat. Batang pohon Jati Tectona

grandis dapat mencapai 45 m, sedangkan batas batang bebas cabang 15-20 meter, diameter mencapai 220 cm (umumnya 50 cm ). Tajuk Jati Tectona grandis berwarna hijau, tidak rapat, dan umumnya menggurkan daunnya pada musim kemarau untuk menyesuaikan dirinya. Daun Jati Tectona grandis berbentuk bulat lonjong, ujung daun tumpul dan ber warna agak kusam, berwarna cokelat setelah mati.Jati Tectona grandis umumnya berbunga pada bulan Oktober Mei atau Juni dan sangat tergantung pada musim.Bunga Jati (Tectona grandis) berbentuk mala yang sangat besar dengan bunga-bunga kecil yang letaknya sangat rapat dan berbau harum.Buah Jati Tectona grandis berbentuk bulat, memiliki kulit yang tipis, dan biasanya berada dekat bunga, buah masak pada bulan Juli Desember. Pohon besar dengan batang yang bulat lurus, tinggi total mencapai 40 m. Batang bebas cabang (clear bole) dapat mencapai 18-20 m. Pada hutan-hutan alam yang tidak terkelola ada pula individu jati yang berbatang bengkok-bengkok. Sementara varian jati blimbing memiliki batang yang berlekuk atau beralur dalam; dan jati pring (Jw., bambu) nampak seolah berbuku-buku seperti bambu. Kulit batang coklat kuning keabu-abuan, terpecahpecah dangkal dalam alur memanjang batang (Anonim , 2011). Pohon jati Tectona grandis sp. dapat tumbuh meraksasa selama ratusan tahun dengan ketinggian 40-45 meter dan diameter 1,8-2,4 meter. Namun, pohon jati ratarata mencapai ketinggian 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter. Pohon jati yang dianggap baik adalah pohon yang bergaris lingkar besar, berbatang lurus, dan sedikit cabangnya. Kayu jati terbaik biasanya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun. Daun umumnya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang sangat pendek. Daun pada anakan pohon berukuran besar, sekitar 60-70 cm 80-100 cm; sedangkan pada pohon tua menyusut menjadi sekitar 15 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut kelenjar di permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna kemerahan dan mengeluarkan getah berwarna merah darahapabila diremas. Ranting yang muda berpenampang segi empat, dan berbonggol di bukubukunya (Anonim, 2009).

Jati menyebar mulai dari India, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Indochina, sampai ke Jawa. Jati tumbuh di hutan-hutan gugur, yang menggugurkan daun di musim kemarau. Menurut sejumlah ahli botani, jati merupakan spesies asli di Burma, yang kemudian menyebar ke Semenanjung India, Muangthai, Filipina, dan Jawa. Sebagian ahli botani lain menganggap jati adalah spesies asli di Burma, India, Muangthai, dan Laos. Sekitar 70% kebutuhan jati dunia pada saat ini dipasok oleh Burma. Sisa kebutuhan itu dipasok oleh India, Thailand, Jawa, Srilangka, dan Vietnam. Namun, pasokan dunia dari hutan jati alami satu-satunya berasal dari Burma. Lainnya berasal dari hasil hutan tanaman jati. Jati paling banyak tersebar di Asia.Selain di keempat negara asal jati dan Indonesia, jati dikembangkan sebagai hutan tanaman di Srilangka (sejak 1680), Tiongkok (awal abad ke-19), Bangladesh (1871), Vietnam (awal abad ke-20), dan Malaysia (1909) (Anonim, 2009). Iklim yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu panjang, dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara 0 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1300 m dpl Sekitar 70% kebutuhan jati dunia pada saat ini dipasok oleh Burma. Sisa kebutuhan itu dipasok oleh India, Thailand, Jawa, Srilangka, dan Vietnam. Namun, pasokan dunia dari hutan jati alami satu-satunya berasal dari Burma. Lainnya berasal dari hasil hutan tanaman jati. Jati paling banyak tersebar di Asia.Selain di keempat negara asal jati dan Indonesia, jati dikembangkan sebagai hutan tanaman di Srilangka (sejak 1680), Tiongkok (awal abad ke-19), Bangladesh (1871), Vietnam (awal abad ke-20), dan Malaysia (1909) (Anonim, 2009). Iklim yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu panjang, dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara 0 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1300 m dpl.Tegakan jati sering terlihat seperti hutan sejenis, yaitu hutan yang seakan-akan hanya terdiri dari

satu jenis pohon. Ini dapat terjadi di daerah beriklim muson yang begitu kering, kebakaran lahan mudah terjadi dan sebagian besar jenis pohon akan mati pada saat itu. Tidak demikian dengan jati.Pohon jati termasuk spesies pionir yang tahan kebakaran karena kulit kayunya tebal. Lagipula, buah jati mempunyai kulit tebal dan tempurung yang keras. Sampai batas-batas tertentu, jika terbakar, lembaga biji jati tidak rusak. Kerusakan tempurung biji jati justru memudahkan tunas jati untuk keluar pada saat musim hujan tiba (Anonim, 2011). Guguran daun lebar dan rerantingan jati yang menutupi tanah melapuk secara lambat, sehingga menyulitkan tumbuhan lain berkembang. Guguran itu juga mendapat bahan bakar yang dapat memicu kebakaran yang dapat dilalui oleh jati tetapi tidak oleh banyak jenis pohon lain. Demikianlah, kebakaran hutan yang tidak terlalu besar justru mengakibatkan proses pemurnian tegakan jati: biji jati terdorong untuk berkecambah, pada saat jenis-jenis pohon lain mati. Pada masa lalu, jati sempat dianggap sebagai jenis asing yang dimasukkan (diintroduksi) ke Jawa; ditanam oleh orang-orang Hindu ribuan tahun yang lalu (Anonim, 2011). C. Struktur tegakan Berdasarkan kedudukan dalam tegakan, tegakan ini memiliki stratifikasi tajuk antara lain (Handayanin, 2012) : Pohon dominan, artinya adalah tajuknya menonjol paling atas sehingga mendapat cahaya penuh dari atas dan dari samping. Pohon Co Dominan, adalah pohon yang tidak setinggi pohon dominan tajuknya masih mendapat cahaya dari atas, meski dari samping terhalang sebagian besar dari pohon dominan. Pohon pertengahan, adalah tajuknya dibawah pohon dominan dan Co dominan, masih mendapat cahaya dari atas sedikit tetapi tidak lagi dari samping.

Pohon tertekan, adalah pohon dimana tajuknya samam sekali tertutup oleh pohon a, b, dan c tersebut diatas, hanya mendapat cahaya matahari yang dapat menembus lapisan diatasnya.

Pohon mati, adalah termasuk pohon pohon yang mati dan sedang dalam proses kematian. Toleransi adalah kemampuan suatu jenis pohon untuk hidup dan tumbuh serta

berproduksi pada suatu kondisi lingkungan tempat tumbuh tertentu. Toleransi mutlak adalah kemampuan suatu jenis pohon untuk hidup dan tumbuh pada suatu kondisi tempat tumbuh yang ekstrim (Handayani, 2012) : Panas (daerah gunung berapi) Dingin (daerah alpine, tundra) Kekeringan (musim kemarau kering) jenuh air (mangrove dan rawa). Toleransi relatif adalah kemampuan suatu jenis pohon untuk tumbuh dan berproduksi di bawah naungan dan di dalam kompetisi dengan pohon-pohon lain. Klasifikasi Toleransi Jenis Pohon (Anonim, 2010). Pohon Toleran : jenis pohon yang mampu tumbuh dan berproduksi di bawah naungan selama hidupnya (membutuhkan sedikit cahaya). Pohon semitoleran : jenis pohon yang membutuhkan naungan pada waktu masih muda tetapi membutuhkan cahaya penuh pada saat dewasa atau jenis yang membutuhkan cahaya sedang. Pohon intoleran (Pohon Cahaya) : jenis pohon yang membutuhkan cahaya dalam pertumbuhan nya mulai dari semai sampai dewasa.

D.

Komposisi tegakan Komposisi tegakan pada hutan jati (Anonim, 2010) :

- Tanaman pokok, dalam hutan jati tanaman pokok yaitu tanaman jati itu sendiri. - Tanaman pengisi, bertujuan untuk mengurangi segi negatif dari penanaman monokultur, persyaratan: perakaran dalam, hijau sepanjang tahun, tumbuh lambat, tahan naungan dan teduh, strata di bawah tanaman pokok. Fungsi: menguragi efek monokultur, mengatur siklus hara, tempa berlindung satwa. Jenis: cendana, eboni, kesambi, bungur, ploso, woni, dll. - Tanaman Sela, Persyaratan: tidak merugikan tanaman pokok (tidak merambat, tidak memberikan saingan perakaran, tidak terlalu cepat tumbuh), dapat menutup tanah dengan cepat, akar dalam, tahan api, dan melindungi tanah. Fungsi: Mencegah erosilongsor, sekat bakar, tempat berlindung satwa, mampu mengatur siklus hara, mengikat N. Jenis: lamtoro, kemlandingan, glerecidea. - Tanaman Tepi dan pagar , Persyaratan: musim kemarau hijau sepanjang tahun. Fungsi: mencegah erosi-longsor, sekat bakar, tempat berlindung satwa. Jenis: Asam, Woni, E.alba, Salam, ploso, johar dll. - Tumbuhan Bawah, berdasarkan penelitian di KPH Kendal pada KU III-VI (Marsono, 1986), terdapat 55 jenis tumbuhan bawah. Jenis Hoplismenus burmanii, Isachne globosa, Eupatorium inofolium, Centrosoma imberbi berturut-turut merupakan jenis yang relative tertinggi dominansinya dan paling banyak dijumpai.Masing-masing jenis tumbuhan bawah tersebut ditemukan berasosiasi positif atau baik dengan masing-masing jenis tersebut. Ini menunjukkan bahwa jenis-jenis tersebut mempunyai kesamaan adaptasi dan respon terhadap keadaan lingkungan yang sama. Dari penelitian ditemukan juga bahwa ada 8 jenis tumbuhan bawah yang merupakan jenis-jenis yang mampu bertahan dan mempunyai kemampuan tumbuh dan daya survival yang lebih baik dibandingkan jenis-jenis tumbuhan bawah yang lain walaupun dipengaruhi oleh kerapatan tegakan yang berbeda-beda. Jenis tersebut adalah Eupatorium odoratum,

Cyrtococcuma patents, Ficus montana, Hyptis capitata, Hemigrafis sp, Oplismenus compositus, Sida javensis dan Shutria sp. (Anisah, L.N et.al. 2002)Cromolaena odorata L (kerinyu) dan Lantana camara (tembelekan) juga banyak ditemukan sebagai tumbuhan bawah yang berada di bawah tegakan jati mempunyai tingkat kolonisasi dan kepadatan spora FMA ( Fungi Mikoriza Arbuskula) yang tinggi. Keberadaan FMA sebagai agen hayati membantu/menambah ketersediaan hara dan ketahanan tanaman terhadap serangan hama penyakit pada tanaman

inangnyatermasuk jati yang juga bersimbiosa dengan FMA.Klasifikasi tumbuhan bawah pada tegakan jati:1) kategori tanaman pangan 46 jenis, 2) tanaman obat-obatan 55 jenis, 3) tanaman rempah-rempah 8 jenis, 4) tanaman hijauan makanan ternak 26 jenis, 5) tanaman industri 20 jenis, 6) kayu bakar 38 jenis, 7) tanaman beracun 4 jenis dan 8) tanaman hias 15 jenis.Keanekaragaman jenis tumbuhan bawah di bawah tegakan jati bervariasi.Variasi jenis tersebut tidak dipengaruhi oleh umur masingmasing kelas umur tegakan jati.Secara umum jenis-jenis tumbuhan bawah tumbuh dan berkembang sesuai dengan tuntutan lingkungan untuk berkembang dan tidak dipengaruhi oleh umur tegakan jati (Anonim, 2009).

BAB III METODE PRAKTIKUM

A.

Waktu dan Tempat 1. Waktu Praktek lapang ini dilaksanakan pada hari Kamis, 9 Mei 2013, pukul 13.00 WITA selesai. 2. Tempat Praktek ini dilaksanakan pada tegakan jati super Tectona grandis Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin Makassar.

B.

Alat dan Bahan 1. Alat digunakan pada pengukuran tinggi, diameter dan struktur tajuk adalah sebagai berikut : - Pita meter digunakan sebagai alat untuk menghitung diameter pohon - Roll meter digunakan sebagai alat untuk mengukur jarak untuk plot yaitu 15x15 m - Abney level digunakan sebagai alat untuk mengukur TT dan TBC - Kamera dijital digunakan sebagai alat untuk mengambil gambar praktikan pada praktek lapang silvika dan sebagai bukti hasil kegiatan - Alat tulis menulis digunakan sebagai tempat untuk mencatat data hasil pengukuran 2. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut - Taly sheet digunakan sebagai tempat untuk mencatat data hasil pengukuran. -Tali rafia digunakan untuk member tanda batas wilayah praktikum.

Obyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah pohon jenis jati (Tectona grandisL.f.), pohon mangga (mangifera indica), dan pohon kelapa Cocos nucifera pada berbagai diameter. Yang ingin diketahui adalah habitus pohon, Tinggi total dan tinggi bebas cabang, proyeksi tajuk, asosiasi dan kerapatan pohon. C. Prosedur Kerja a. b. Memilih dan mengamati keadaan lokasi tempat pengukuran pohon. Membuat plot dengan ukuran 15x15 meter dengan menggunakan roll meter dan memberi tanda dengan tali rafia. c. Melakukan pengukuran jarak datar dari pohon ke pengamat dengan menggunakan jarak 15 meter. d. Menembakkan sudut elevasi ke cabang pertama pohon dengan menggunakan abney level untuk memperoleh nilai TBC. e. Menembakkan sudut elevasi ke atas tajuk pohon dengan menggunakan abney level. f. g. Setelah itu mengukur tinggi pengamat dari kaki sampai mata. Untuk mengukur diameter batang pohon, terlebih dahulu dilakukan pengukuran keliling pohon menggunakan pita meter setinggi dada orang dewasa atau 1,3 m. kemudian mensubtitusikan keliling yang diperoleh kedalam rumus D= k/. h. Mencatat semua data yang didapatkan untuk menghitung TBC, Ttot, VTT, VTB dan LBDS dengan menggunakan rumus. i. Memotret struktur tajuk yang di amati.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Table hasil pengukuran dimensi pohon dalam tegakan Tectona grandis
No Jenis pohon K (cm) D (cm) LBDS (M2) TT (m) TBC (m) VTT (m3) VTBC (m3) Ket

Mangifera indica Cocos nucifera Tectona grandis 1 Tectona grandis 2 Tectona grandis 3 Tectona grandis 4 Tectona grandis 5 Tectona grandis 6 Tectona grandis 7 Tectona grandis 8 Tectona grandis 9 Tectona grandis 10

100

31,85

0,079

11,30

12,45

0,8927

0,98355

Kasar Cokelat kehijauan Sedikit kasar, cokelat Kasar, coklat muda Sedikit kasar, cokelat muda Sedikit kasar, cokelat muda Halus, cokelat muda Halus, cokelat muda Kasar, cokelat tua Kasar, cokelat tua Sedikit kasar, cokelat tua Kasar, cokelat tua Halus, cokelat muda

98

31,21

0,076

11,30

11,85

0,8588

0,9006

65

20,70

0,033

12,48

8,77

0,41184

0,28941

46

14,64

0,016

11,98

4,89

0,19168

0,07824

60

19,10

0,028

12,56

5,32

0,35168

0,14896

61

19,42

0,029

11,98

10,43

0,34742

0,30247

56

17,83

0,024

9,49

11,75

0,22776

0,282

61

19,42

0,029

11,30

8,95

0,3277

0,25955

53

16,87

0,022

9,49

9,25

0,20878

0,2035

10

61

19,42

0,029

10,76

7,25

0,31204

0,21025

11

57

18,15

0,025

8,33

9,89

0,20825

0,24725

12

80

25,47

0,050

10,76

3,76

0,538

0,188

Keterangan : Jarak datar pengukuran Tinggi pengamat

: 15 meter : 1,6 meter

Gambar I. Profil Vertikal Tegakan Jati di Kawasan Halaman Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin :

Gambar II. Profil Horizontal Tegakan Jati di Kawasan Halaman Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin :

B.

Pembahasan

1. Sebaran kelas diameter Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil praktek lapang yang berlokasi pada tegakan jati fakultas sastra universitas hasanuddin dengan ukuran plot 15x15 meter dan jumlah pohon 12. Pada tegakan jati super tersebut masing masing pohon memiliki diameter dan tinggi yang berbeda. Hal ini disebabkan adanya kompetisi antara pohon yang satu dengan pohon yang lain, baik dalam persaingan dalam memperoleh unsur unsur hara, air, garam mineral, maupun dalam memperoleh cahaya matahari yang sangat berguna dalam proses fotosintesis dalam pertumbuhan pohon. Pohon yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan diameter dan tinggi, walaupun berada dalam tegakan seumur. Hal ini disebabkan oleh faktor tempat tumbuh merupakan faktor yang mempengaruhi diameter dan tinggi pohon. Kerena tempat tumbuh mampu memberikan produktivitas tanah untuk pertumbuhan. Dapat diketahui pula berdasarkan tabel data hasil pengukuran bahwa sebaran kelas diameter tegakan jati super Tectona grandis, yaitu antara 14,64 cm yang merupakan diameter terkecil sampai dengan 31,85 cm yang merupakan diameter terbesar. 2. Permudaan tegakan Pada tegakan jati super Tectona grandis yang berlokasi di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Makassar ini, tidak ditemukan anakan. Hal tersebut disebabkan karena lokasi yang menjadi tempat praktikum mata kuliah silvika ini merupakan tanaman yang seumur atau tegakan yang seumur. Sehingga, tidak memungkinkan terdapatnya anakan diantara tegakan Tectona grandis tersebut. 3. Struktur Tegakan

Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa dalam satu plot berukuran 15 x 15 meter yang berjumlah 12 pohon, terdapat 10 pohon jati super memiliki batang yang bulat lurus, 1 pohon mangga dan 1 pohon kelapa. Pohon jati super dalam plot ini umumnya memiliki sedikit cabang sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas pohon jati cukup baik. Berdasarkan hasil pengamatan daun umumnya besar dan bulat serta bertangkai yang sangat pendek. Berdasarkan kedudukan dalam tegakan, sesuai dengan data yang diperoleh tegakan Tectona grandis ini memiliki 3 stratifikasi tajuk, yaitu ; ada yang termasuk sebagai Pohon dominan, artinya adalah tajuknya menonjol paling atas sehingga mendapat cahaya penuh dari atas dan dari samping. Adapula yang termasuk Pohon Co Dominan, yaitu pohon yang tajuknya tidak setinggi pohon dominan dan masih mendapat cahaya dari atas, meski dari samping terhalang sebagian besar dari pohon dominan. Serta Pohon pertengahan, yaitu tajuknya berada dibawah pohon dominan dan Co dominan dan masih mendapat cahaya matahari dari atas melalui celah-celah pohon dominan dan co-dominan, tetapi tidak mendapat cahaya dari samping. Secara keseluruhan tinggi total berdasarkan kedudukan dalam tegakan ini mempunyai tinggi total yang berkisar 8,33 meter sampai 12,56 meter. Tegakan jati super Tectona grandis tersebut merupakan salah satu tanaman yang digolongkan kedalam jenis pohon intoleran karena tanaman jati membutuhkan cahaya penuh sepanjang daur hidupnya, walaupun demikian terdapat beberapa pohon jati super yang tumbuh kerdil. Hal ini kemungkinan besardisebabkan oleh persaingan penyerapan unsur hara dan penyerapan sinar matahari karena berdasarkan keadaan dilokasi tanaman jati super yang tumbuh kerdil tersebut berada dibawah naungan tajuk tanaman jati super yang lainnya sehingga penyerapan sinar matahari dari atas kurang. Tegakan jati super pada lokasi praktikum mempunyai bentuk tajuk yang seragam, yaitu berbentuk kerucut. Hal ini dipengaruhi oleh bentuk percabangan yang dimilikinya, yaitu cabang bawahnya mempunyai panjang yang sedang, cabang pada bagian tengahnya lebih panjang dari cabang pada bagian bawahnya dan cabang yang

paling atas semakin mengecil. Sehingga tajuk yang terbentuk pun menyerupai kerucut. Tegakan jati super, Tectona grandis tersebut jarak tanamnya agak rapat sehingga menyebabkan bentuk batang yang lurus, silindris dan tekstur pohon kasar serta berwarna coklat. Namun berdasarkan pengamatan, beberapa tanaman jati super tidak mendapatkan cahaya penuh yang berperan dalam proses fotosintesis karena terhalang oleh tajuk yang rapat sehingga proses fotosintesis terganggu dan berakibat hasil fotosintesis yang dihasilkan relatif sedikit sehingga yang mendapatkan sari sari makanan hanya bagian atas saja. 4. komposisi tegakan Pada lokasi praktikum komposisi pembentuknya selain terdapat jati super Tectona grandis terdapat pula tanaman lain, yaitu mangga atau Mangifera indica dan kelapa atau Cocos nucifera. Berdasarkan jenis asosiasi yang dapat diamati pada tegakan jati Fakultas Sastra dapat dikatakan, asosiasi yang terjadi pada tegakan jati super adalah persaingan antar pohon untuk mendapatkan cahaya, air, dan nutrisi. Tectona grandis dapat pula dikatakan termasuk jenis yang mampu membentuk hubungan yang baik dengan tanaman lainnya yang ada diantara tegakan tersebut, yaitu karena dapat saling berdampingan hidup dalam satu tegakan baik dengan sejenisnya sendiri maupun dengan jenis lain yang ada disekitarnya. Asosiasi itu sendiri adalah gabungan, pertautan atau dapat pula dikatakan suatu perhubungan.

BAB V PENUTUP

A.

Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan praktikum ini adalah :

1. Tectona grandis yang tumbuh rapat dengan jarak tanam yang dekat memiliki pertumbuhan tinggi yang cepat karena bersaing untuk memperoleh cahaya matahari, memiliki tajuk yang kecil dan tidak lebat dan memliki batang silinder, serta bentuk batang yang kecil. 2. Habitus ( bentuk tajuk ) dari pohon Jati Super Tectona grandis adalah berbentuk kerucut. Hal ini dipengaruhi oleh bentuk percabangan yang dimilikinya. 3. Tegakan jati super Tectona grandis pada Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin merupakan salah satu tanaman yang digolongkan kedalam jenis pohon intoleran, yaitu jenis tanaman yang membutuhkan cahaya matahari mulai dari fase semai hingga dewasa. 4. Komposisi pembentuk tegakannya dominan jati sehingga disebut tegakan jati, meskipun terdapat tanaman lain seperti pohon mangga Mangifera indica dan pohon kelapa Cocos nucifera . Serta tidak terdapat anakan dibawah tegakan karena merupakan tegakan yang seumur. B. Saran Diharapkan kepada asisten agar lebih memberikan bimbingan dan arahan yang baik terhadap para praktikannya, baik saat dilokasi praktikum dan juga saat proses pembuatan laporan serta pada saat asistensi laporan. Tetap ramah dan bijaksana dalam menghadapi praktikan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2009. Perubahan Komposisi Dan Struktur Tegakan Hutan Produksi Alam Dengan Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII). http://boymarpaung.wordpress.com/tag/komposisi/. Diakses pada tanggal 11 Mei 2013. Anonim. 2010. Kajian Jati Plus. http://hutanalam.blogspot.com/2010/02/kajian-jatiplus.html. Diakses pada tanggal 11 mei 2013. Anonim.2011. Perspektif Silvika dalam Pengelolaan Hutan. http://www.smkdarunnajah.sch.id/2011/08/perspektif-silvika-dalam pengelolaan.html# comment-form. Diakses pada tanggal 11 Mei 2013. atiyyah, Handayani. 2012. Evaluasi Tegakan dan Komposisi Tegakan Tectona grandis. http://atiyyahhandayani.blogspot.com/2012/05/evaluasi-tegakan-dankomposisi-tegakan.html. Diakses pada tanggal 11 Mei 2013. Irwanto. 2006. Perspektif silvika dalam keanekaragaman hayati dan silvikultur. http://indonesiaforest.net/amdal_kehutanan.html. Diakses pada tanggal 11 Mei 2013. Komara, Acep. 2008. Komposisi Jenis dan Struktur Tegakan. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/11612/E08ako.pdf?seq uence=2. Diakses pada tanggal 11 Mei 2013 Pasaribu, David. 2012. Silvika. http://davidpas.blogspot.com/2010/02/silvika.html. Diakses pada tanggal 11 Mei 2013.

LAMPIRAN