Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN BACAAN SEJARAH GEREJA ASIA (DR.

ANNE RUCK) Halaman 137 248

Oleh: Krisdayanti Semester IV C PAK

Mata Kuliah: Sejarah Gereja Asia Dosen: Dr. Kembong Mallisa, DD

SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA INJILI ARASTAMAR (SETIA)

TANGERANG, MEI 2013

Struktur laporan bacaan ini adalah (1) pendahuluan, (2) laporan bagian buku, (3) komentar dan (4) penutup. Satu persatu akan dibahas di bawah ini.

A. PENDAHULUAN Judul Penulis Penerbit Kota Terbit Ukuran Buku Tebal Buku : Sejarah Gereja Asia : DR. ANNE RUCK : PT. BPK Gunung Mulia, 2003 : Jakarta, cetakan kelima, 2003 : 21 cm : vii + 393 halaman

Garis besar buku Sejarah Gereja Asia yang ditulis oleh DR. Anne Ruck ini terbagi ke dalam tiga bagian besar, yaitu: Bagian I: Masa pertama Gereja di Asia (sampai tahun 1500). Bagian pertama ini membahas topik-topik penting mengenai lahir dan berkembangnya kekristenan di Asia Barat, terkhususnya daerah Timur Tengah. Ada beberapa bab yang juga dipaparkan, yakni bagaimana permulaan gereja di Asia melalui orang-orang Kristen di Antiokhia, pertumbuhan dan penghambatan kekristenan di Persia sejak tahun 99 M hingga berdirinya Gereja Nesstorian. Lalu, pekabaran Injil di Cina. Bukti-bukti arkeologi belakangan ini menyatakan bahwa Kekristenan pertama kali masuk ke Cina pada 86 M, pada masa kehidupan Rasul Yohanes. Injil ditolak oleh orang-orang Cina pada saat itu. Orang-orang Kristen Nestorian membawa Injil untuk yang kedua kalinya ke Cina pada tahun 635 M, di bawah pemberitaan Alopen dan lain-lain. Kekristenan memperoleh tempat dan terus berkembang kira-kira selama seratus enam puluh lima tahun. Pada abad sembilan orang-orang Kristen Nestorian di Cina dianiaya dan dihentikan keberadaannya sebagai suatu gerakan, walaupun beberapa bangunan gereja mereka masih berdiri sampai hari ini. Kemudian pada tahun 1807 Kekristenan diperkenalkan di Cina untuk yang ketiga kalinya, ketika seorang misionaris dari Inggris Robert Morrison menjangkau Macao dan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Cina, hingga akhirnya komunis berkuasa dan menghambat penginjilan di Cina. Kemudian yang terakhir dalam bagian ini adalah kemunculan Agama Islam pada tahun 600 M dan perkembangan serta pengaruhnya pada perkembangan Gereja. Bagian II: Gereja Barat Mengabarkan Injil di Asia. Bagian ini dimulai dengan Misi Katolik Roma dalam mengabarkan Injil ke berbagai wilayah di Asia. Kemudian membahas tentang Misi Protestan dan Perkembangan Gereja di Cina, Misi dan Perkembangan Gereja di Jepang, Misi Protestan dan Perkembangan Gereja di Korea, Misi dan Perkembangan Gereja di Burma

(Myanmar) dan Siam (Thailand), Misi dan Perkembangan Gereja di Malaya, Singapura, dan Borneo, dan Perkembangan Misi di Filipina. Bagian III: Kekristenan di Asia 1945-1990. Bagian terakhir ini memaparkan tentang bagaimana perkembangan kekristenan di Asia sejak Perang Dunia II selesai. Apa yang terjadi pada kekristenan di Anak Benua India dan Sri Lanka, Gereja di Cina dan Taiwan, kekristenan di Jepang dan Korea, kekristenan di Thailand dan Burma/Myanmar, kekristenan di Malaysia dan Singapura, dan kekristenan di Filipina. Bagian ini sekaligus menutup tulisan di buku ini. B. LAPORAN BAGIAN BUKU Dalam bagian Pendahuluan, saya telah memaparkan sedikit penjelasan tentang bagian yang akan saya laporkan, yakni bab-bab yang terdapat pada Bagian II. Bab-bab yang akan saya laporkan terdapat pada halaman 137-248. Dengan demikian, maka Bab 6, 7, dan 8 tidak akan saya laporkan pada laporan bacaan ini. Dengan kata lain, laporan bacaan ini mencakup pembahasan penulis pada Bab 9, 10, 11, 12, 13, dan 14. Selanjutnya saya akan melaporkannya secara berurutan. Pada Bab 9 (halaman 137-155), penulis memberikan topik utama Misi Protestan dan Perkembangan Gereja di Cina. Penulis memulai bab ini dengan memberikan sedikit gambaran tentang sejarah perkembangan kekristenan sejak masa masuknya Gereja Nestorian dan Gereja Katolik Roma di Cina. Menurutnya, perkembangan gereja mengalami pasang surut yang diibaratkan seperti gelombang laut. Hal ini diakibatkan karena pengaruh filsafat Kong Hu Cu dan Agama Budha yang telah mendarah-daging dalam kehidupan masyarakat Cina. Belum lagi upaya Cina untuk menutup diri dari pengaruh-pengaruh asing. Namun, penulis berpendapat bahwa kekristenan tetap berkembang hingga mencapai jumlah populasi 250.000 jiwa pada abad ke-19. Penulis juga mencatat beberapa topik-topik penting yang berhubungan dengan tokoh-tokoh penting yang mengabarkan Injil ke daerah-daerah di Cina. 1. Robert Morrison Misi protestan mulai masuk ke Cina melalui Robert Morrison (1782-1834) yang diutus oleh badan misi Protestan yang bernama Londin Missionary Society (LMS). Selama masa tugasnya di Cina, Robbert tidak banyak menobatkan orang menjadi Kristen. Salah satu yang berhasil ditobatkan dan dibaptis adalah Liang-A-Fa. Namun, menurut penulis, Morrison lebih banyak menekuni penerjemahan dan percetakan Alkitab ke dalam bahasa Cina. 2. Kekristenan dan Imperialisme Selain itu, penulis juga memaparkan bahwa perkembangan Kristen sejak abad ke-19 di Cina tidak terlepas dari pengaruh imperialisme negara-negara Barat seperti Inggris. Satu sisi, dengan

adanya imperialisme Inggris, Injil dengan lebih mudah disebarluaskan di Cina. Hal ini disebabkan pemerintah Inggris memaksa Cina untuk membuka diri terhadap dunia luar. Perjanjian-perjanjian yang dibuat dengan pihak Cina pun mencakup perjanjian kebebasan untuk memberitakan Injil seluas-luasnya. Adanya hal ini, membantu pertumbuhan denominasi gereja di Cina. Penulis menjelaskan bahwa misi-misi dari Katolik (Fransiskan, Dominikan, Yesuit, dan masih banyak lagi) yang paling cepat memanfaat kesempatan itu untuk mengabarkan Injil sedangkan misi Protestan (baik dari lembaga Kongregasionalis, Anglikan, Metodis, maupun Pribiterian) bergerak lebih lambat. Akan tetapi di sisi lain, kekristenan dibenci seiring makin berkembangnya imperialisme Inggris di Cina. Perdagangan candu dan kecurigaan pemerintah Cina terhadap pemberontakpemberontak yang telah menjadi Kristen menyebabkan orang Kristen di Cina dianggap sebagai kaki tangan imperialisme. Puncak kebencian itu ditandai dengan penindasan dan penyiksaan terhadap orang-orang Kristen dan para misionaris pada tahun 1899-1900. Banyak yang dibunuh dan gedung gereja dibakar habis. 3. Hudson Taylor dan China Inland Mission (CIM) Dalam bagian ini, penulis juga mencatat penginjilan yang dilakukan oleh James Hudson Taylor (1832-1905). Tahun 1865 Hudson Taylor mulai mendirikan station (atau missi) yang bernama China Inland Mission (CIM) dari 205 khotbah pertamanya di kepulauan China. Ia benar-benar menitikberatkan pelayanannya pada pekabaran Injil seluar-luasnya ke seluruh daerah Cina secara kontekstualisasi. Menurut penulis, karena pekerjaannya, banyak orang menjuluki Hudson Taylor dengan Rasul untuk orang-orang Cina. 4. Kekristenan dan revolusi di Cina Penulis menjabarkan bahwa sejak kedatangan Timothy Richards (1845-1920), penginjilan semakin berkembang dan jumlah orang Kristen semakin banyak, baik di pihak Katolik maupun Anglikan. Timothy lebih menekankan pendekatan secara kontekstual untuk melakukan penginjilan secara pribadi. Bahkan, ia pun berupaya untuk melakukan penginjilan dengan cara yang lebih modern yaitu melalui dunia pendidikan. Alhasil ada begitu banyak sekolah-sekolah Kristen yang didirikan oleh badan-badan misi Katolik dan Protestan di seluruh Cina. Perkembangan yang lain menurut penulis adalah orang-orang Cina yang membentuk dan mendirikan gereja lokal yang bebas dari pengaruh Barat. Meskipun pada tahun 1921 komunis telah muncul dan berkembang, namun kekristenan masih terus berkembang. Penulis berpendapat bahwa di Cina, kekristenan dianggap samna dengan penjajahan, karena masuk bersamaan dengan penjajah di mana menghancurkan Cina dengan candunya. Walaupun orang Kristen menentang perdagangan candu, namun setidaknya ini menjadi kesempatan bagi

misonaris masuk Cina. Muncullah juga semangat nasionalisme orang Kristen Cina terhadap negerinya sehingga muncul gereja asli Cina yang akhirnya sebagian berkolaborasi dengan komunis. Bab 10 (halaman 156-175) membahas tentang Misi dan Perkembangan Gereja di Jepang. Ada beberapa hal yang penulis tuliskan dalam bab ini, yaitu: 1. Misi Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Rusia Dalam poin ini, penulis memulai materinya dengan menjabarkan masuknya Gereja Katolik ke Jepang pada abad ke-16 namun mengalami hambatan dari pemerintah Jepang pada abad ke-17 hingga abad ke-18. Namun sejak abad ke-19, Jepang lebih membuka diri dan memberikan kesempatan kepada negara asing untuk masuk ke Jepang. Pihak Amerika yang lebih dulu tiba di Jepang untuk menyambut kesempatan tersebut. Seorang Jendral Amerika bernama Townsend Harris diperbolehkan untuk membangun gereja tetapi tidak boleh menginjili orang-orang Jepang. Akan tetapi, menurut penulis, perkembangan misi Protestan di Jepang berkembang lebih cepat. Meskipun begitu, kekristenan tetap menjadi agama yang dicurigai karena berhubungan erat dengan negara-negara asing. Nasionalisme dan Agam Syinto juga menjadi penghambat perkambangan gereja di Jepang. Baru setelah tahun 1873, kekristenan mendapat tempat karena dibentuknya undang-undang kebebasan beragama di Jepang. Selain itu, penulis juga memaparkan tentang peranan penting dari seorang bernama Nikolai yang berjasa dalam perkembangan Gereja Ortodoks Rusia di Jepang. 2. Misi Protestan Penulis berpendapat bahwa sejak tahun 1858, gereja-gereja Protestan di Amerika mengutus banyak pekabar Injil ke Jepang. Beberapa yang dipaparkan pada poin ini adalah seperti Guido Verbeck yang diutus oleh Gereja Baptis Reformed, Dokter James Hepburn yang diutus oleh Gereja Prisbiterian. Penulis menjelaskan bahwa gereja-gereja Protestan berhasil diterima diantara golongan militer, yaitu Samurai, yang tertarik pada konsep pemuridan dan pengabdian. Orang-orang Kristen Samurai mengadakan pertemuan di tempat salah seorang guru Kristen, di perguruan tinggi Kristen atau di perguruan tinggi pemerintah. Kebangunan rohani pada masa 1880-an membuat gereja berkembang cepat. Beberapa tokoh Kristen Jepang muncul sebagai pemimpin, yang mewujudkan kekristenan gaya Jepang. Uchimura memimpin gerakan nir-gereja. Pengabdian Kagawa melayani orang miskin menggerakkan hati nurani masyarakat Jepang. Meskipun perkembangan gereja di Jepang cukup menggembirakan, namun kehidupan umat Kristen tidak lepas dair pergumulan. Nasionalisme Jepang yang semakin kuat berkaitan dengan upacara agama Syinto menyebabkan orang Kristen

menjadi bingung mancari jalan menyatakan kesetiaannya kepada tanah air Jepang, tanpa membahayakan iman Kristen sejati. Bab 11 (halaman 176-194) Misi Protestan dan Perkembangan Gereja di Korea. Penulis memulai poin ini dengan mengemukakan keadaan Korea sebagai ladang pertempuran dua negara tetangga yaitu Cina dan Jepang. Oleh karena itu, pengaruh dari kedua negara tersebut sangat besar bagi kebudayaan Korea. Akan tetapi masyarakat Korea tetap berupaya menjaga bahasa, mitos-mitos dalam kepercayaan dan agama syamanisme yaitu kepercayaan animisme. Injil sendiri masuk ke Korea pada abad ke-7 oleh kaum Nestorian. Namun baru mulai makin berkembang pada abad ke-16 saat orang-orang Katolik masuk dan mengabarkan Injil bersamaan dengan invasi Jepang. Perkembangan yang lebih lanjut mulai terjadi pada abad ke-18. Hal yang menarik adalah bahwa penulis berpendapat kekristenan yang berkembang di Korea karena usaha bangsa Korea sendiri. Orang Korea yang membawa Injil masuk ke Korea adalah Lee Sung Hoon. Misi Protestan baru mulai masuk dan berkembang di Korea sejak tahun 1832. Ada beberapa nama penginjil yang disebutkan, yaitu Karl Gtzlaff dari Jerman, Robert Thomas dari Wales, Pdt. John Ross dari Skotlandia, dokter Horace Allen dari Amerika, Pdt. Horace Underwood, Pdt. H.G. Appenzeller, dan Pdt. Samuel Moffet. Para penginjil tersebut adalah utusan-utusan dari gereja Metodis dan Presbiterian dari Amerika. Gereja Presbiterian adalah gereja Protestan yang paling berkembang pesat di Korea. Penulis menjelaskan bahwa penginjilan dan perkembangan kekristenan di Korea lebih mudah dari pada di Jepang dan Cina. Salah satu faktor pendukungnya adalah tersedianya terjemahan Alkitab dalam bahasa Korea yang telah ada sejak abad ke-18, jauh sebelum para penginjil masuk ke Korea. Meskipun begitu, kekristenan di Korea tetap menghadapi berbagai rintangan. Ada beberapa yang dicatat oleh penulis yaitu: 1) kekristenan di Korea mendapatkan tekanan dan hambatan dari imperialisme Jepang pada Perang Dunia II. Banyak pendeta yang dipenjara, orang-orang Kristen dan gereja-gereja dibakar, sekolah-sekolah Kristen diambil alih oleh Jepang, para pengajar dipenjarakan, dan menjadikan gereja-gereja sebagai tempat pemujaan berhala Syinto, 2) perkembangan di daerah utara lebih lambat oleh karena pengaruh Agama Syamanisme dan status kebangsawanan yang tertutup terhadap kekristenan. Akan tetapi, penulis mencatat bahwa kekristenan di Korea tidak serta merta mati karena hal-hal tersebut. Pada tahun 1940, umat Kristen di Korea telah mencapai 522.00 jiwa dengan pembagian 372.000 orang Protestan dan 150.000 orang Katolik. Pada bab ke-12 (halaman 195-214), penulis membahas mengenai misi dan perkembangan Gereja di Burma (Myanmar) dan Siam (Thailand). Menurutnya, baik di Thailand maupun di Burma/Myanmar agama Buddha berkaitan erat sekali dengan kepribadian suku bangsa utama.

Oleh karena itu, baik di Thailand maupun di Burma, kekristenan paling berhasil berkembang di antara suku-suku minoritas, terutama di daerah pegunungan. Akibatnya, perjuangan politik sukusuku minoritas dan permusuhan antara suku di Burma sering melibatakan soal agama. Gereja di Thailand mengembangkan kepemimpian penduduk asli. Gereja mengalami perkembangan pesat pada tahun 1960-an dan 1970-an, terdorong oleh kerjasama antara gereja dan kampanye pekabaran Injil bersatu. Kebijakan pemerintah Burma yang suka mengasingkan negerinya dari dunia mendorong gereja untuk berdiri sendiri dan mengabarkan Injil secara agresif. Kekristenan berkembang diantara suku-suku pegunungan di mana gereja mengalami pembaharuan rohani serta gerakan kharismatik. Baik di Thailand maupun di Burma/Myanmar terjadi polarisasi antara kaum evangelikal dan kaum oikumenis mengenai misi gereja dan peranan gereja terhadap masyarakat beragama Buddha. Bab yang ke-13 (halaman 215-230) menjelaskan secara berurutan mengenai misi dan perkembangan Gereja di Malaya, Singapura, dan Borneo. Pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II mendorong baik perkembangan kepemimpinan asli maupun oikumene. Setelah Perang Dunia II tersebut, dibukalah sekolahsekolah teologi dan didirikannya Dewan Kristen Malaysia. Ancaman Komunis pada masa keadaan darurat mengakibatkan pemerintahan penjajah Inggris mendukung pekabaran Injil di Perkampungan Baru, dengan hasil banyak gereja Cina didirikan. Kejadian yang paling menentukan pada masa kini adalah pembagian Malaya/Singapura menjadi dua negara, Malaysia dan Singapura, dengan kebijakannya masing-masing. Di Malaysia Islam, yang merupakan agama negara, semakin bersikap agresif. Umat kristen menjawab ketegangan dengan mengembangkan kemandirian supaya bebas dari pengaruh Barat, dengan gerakan oikumene dan dengan gerakan pertumbuhan gereja serta pembaharuan rohani. Singapura dinyatakan negara sekuler berdasarkan kebebasan beragama, sehingga lebih terbuka, dengan akibat gereja bertumbuh pesat. Di Singapura orang Kristen kebanyakan dari golongan muda berpendidikan tinggi. Baik di Singapura maupun di Malaysia gerekan Kharismatik berkembang dikalangan orang berpendidikan. Baik di Singapura maupun di Malaysia Barat golongan masyarakat berpendidikan, terutama orang Cina, paling terbuka terhadap Injil. Di malaysia Timur suku-suku aslilah yang paling terbuka. Orang Melayu hampir belum tersentuh kekristenan, malah di Malaysia orang Melayu tidak boleh beralih agama menjadi Kristen. Pada bab yang terakhir (halaman 231-248) dari bagian kedua ini, penulis secara khusus membahas perkembangan pekabaran Injil di Filipina. Sejarah gereja Filipina harus dipahami dalam konteks pengaruh kuat Amerika, masalah-masalah ekonomi yang semakin meningkat, masa diktator militer tahun 1972-1986, dan pemberontakan kaum Maois serta kaum Islam.

Filipina merupakan negera Katolik. Kebanyakan pennduduknya beragama Katolik, maka gereja Katolik Roma berpengaruh dilapangan politik. Pada masa pemerintahan Marcos jumlah orang Katolik yang melawan pemerintah semakin meningkat. Pada tahun 1986 peranan Kardinal Sin menentukan jatuhnya Marcos dan pemilihan Corazon Aquino sebagai Presiden. Dalam pembahasan ini, penulis menyatakan bahwa umat Protestan terbagi atas empat kelompok: golongan oikumene (DGNF), golongan evangelikal (DKF), golongan fundamentalis serta golongan Khrismatik/Pentakosta. Kaum oikumene lebih aktif mengeluarkan pendapat mengenai isu-isu politik. Gereja-gereja Protestan bertumbuh pesat sejak tahun 1970-an, dengan pekabaran Injil secara agresif yang bertumpu pada gereja lokal. Kaum oikumenis dan evangelikal bekerjasama dalam program penginjilan DAWN. Semangat nasionalisme mewarnai baik gereja Katolik maupun gereja Protestan dan menarik banyak orang masuk gereja Filipin mandiri ataupun sekta Iglesia ni Cristo. C. KOMENTAR Buku ini banyak memberikan sumbangsih dalam kajian ilmu sejarah gereja, terutama dalam bidang sejarah gereja di wilayah Asia, karena penulisnya berusaha memaparkan poin-poin penting tentang awal mula penyebaran Injil yang pusatnya ada di Asia Barat dan kemudian terus menyebar ke Asia Timur, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara sejak abad ke-1 hingga paruh kedua Abad ke-19. Buku ini bagus digunakan oleh mahasiswa yang belajar Sejarah Gereja, juga oleh tenaga edukatif untuk menambah referensi dan juga dalam proses belajar mengajar karena mengandung isi yang berkualitas, serta juga bermanfaat bagi para peminat sejarah untuk mengembangkan wawasannya. Dengan mempelajari buku ini kita akan memahami refleksi mendasar dan integral tentang hakikat pekabaran Injil ke berbagai negara di Asia serta memahami dan menilai pentingnya perjuangan pekabaran Injil dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang menarik dalam tulisan di bagian pembahasan ini adalah si penulis menyajikan materinya dengan bahasa yang sederhana dan lugas. Setiap bab dibahas dengan lebih terperinci dan sistematis, sehingga para pembaca dapat dibawa dalam struktur pembagian sejarah yang komprehensif. Ringkasan di akhir pembahasan setiap bab semakin membantu para pembaca untuk mengingat keseluruhan materi pada bab tersebut. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada akhir setiap bab memberikan kesan bahwa si Penulis ingin agar para pembaca dirangsang untuk mereview apa yang telah dibaca sebelumnya, sehingga pemahaman akan sejarah perkembangan gereja semakin komprehensif, baik secara kelompok maupun individuindividu. Buku ini juga buku yang sangat ilmiah dan layak dipercaya keakuratannya; tampak dari daftar-daftar pustaka yang dicantumkan pada akhir dari setiap bab.

Kelemahan buku ini seperti pengakuan penulis pada kata pengantar yang menyatakan bahwa buku ini masih ada kekurangan dan masih jauh dari harapan dan kesempurnaan. Menurutnya, pembahasan tentang sejarah kekristenan di Asia memang tidak mungkin diuraikan secara komprehensif dalam buku ini. Penulis pun sadar bahwa yang seharusnya menulis tentang sejarah kekristenan adalah orang Asia sendiri. Saya sendiri berpendapat, salah satu kelemahan dari buku ini adalah desain sampul buku yang terkesan kaku dan tidak menarik. Alangkah baiknya jika sampul buku didesain dengan warna dan tampilan yang lebih menarik dan santai sehingga kaum awam memiliki ketertarikan untuk mau menyentuh dan membedah isi buku ini . Selebihnya dari itu, buku ini memberikan cakupan-cakupan informasi yang cukup lengkap dan bermanfaat. D. PENUTUP Saya yakin bahwa buku Sejarah Gereja Asia yang ditulis oleh DR. Anne Ruck ini sangat bermanfaat bagi para pembaca yang ingin memperdalam ilmunya dalam bidang Sejarah Gereja ataupun bagi para pembaca yang sekadar memiliki hasrat untuk mendapatkan informasi seputar penyebaran Injil dan perkembangan Gereja di Asia. Pembahasan dalam bab-bab yang saya baca dan laporkan di buku ini mengingatkan sekaligus membuktikan bahwa Amanat Agung dari Tuhan Yesus Kristus untuk memberitakan Injil ke hingga ujung-ujung dunia masih harus dan terus dilakukan. Selain itu, perjuangan dan pengorbanan para penginjil dan orang-orang Kristen untuk memberitakan Injil dan mendirikan gereja pada masa lampau patut diteladani. Meskipun ada begitu banyak tantangan, penindasan, penyiksaan, pembunuhan, dan pembakaran, namun mereka tetap gigih dalam mempertahankan iman dan kelangsungan gereja. Meskipun Injil masuk dan berkembang ke satu daerah dengan cara yang beragam namun hal ini sekaligus juga membuktikan bahwa pekerjaan Tuhan tidak akan dapat dihentikan oleh kuasa dunia apa pun dan manapun. Injil adalah Kekuatan Allah. Soli Deo Gloria!