Anda di halaman 1dari 24

GANGGUAN CEMAS

DOKTER PEMBIMBING :

Dr.Imelda Indriani , SpKJ


DISUSUN OLEH : APRIANUS PRISCILLA SAMUEL MAGDA DELICIA TANIA SHAHLI AIMAN BIN ZUL HASNAN NAJIB MOHD FAHMI BIN MOHD HANI

ANSIETAS

Ansietas merupakan pengalaman yang bersifat subjektif, tidak menyenangkan. tidak menentu, menakutkan dan mengkhawatirkan akan adanya kemungkinan bahaya atau ancaman bahaya, dan seringkali disertai oleh gejalagejala atau reaksi fisik tertentu akibat peningkatan aktifitas otonomik. Ansietas dicetuskan oleh adanya situasi atau objek yang jelas (dari luar individu itu sendiri), yang sebenarnya pada kejadian ini tidak membahayakan.

GANGGUAN CEMAS

PSIKOLOGIK
KETEGANGAN KEKUATIRAN PANIK PERASAAN TAK NYATA TAKUT JADI GILA TAKUT MATI TAKUT KEHILANGAN KONTROL

FISIK
GEMETAR BERKERINGAT JANTUNG BERDEBAR KEPALA TERASA RINGAN PUSING KETEGANGAN OTOT MUAL SULIT BERNAFAS RASA BAAL NYERI PERUT KESEMUTAN

GANGGUAN OBSESI KOMPULSIF (OBSESSIVE-COMPULSIVE DISORDER) / F42


Obsesi : pikiran, perasaan, gagasan, atau sensasi yang berulang dan mengganggu Kompulsi : pola perilaku tertentu yang disadari dan berulang Gangguan obsesi kompulsif : Gejala obsesi atau kompulsi berulang yang cukup berat hingga menimbulkan penderitaan yang jelas pada orang yang mengalaminya.

GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF (OBSESSIVE-COMPULSIVE DISORDER) / F42

Tindakan kompulsi merupakan usaha untuk meredakan kecemasan yang berhubungan dengan obsesi namuntidak selalu berhasil meredakan ketegangan.

Gangguan ini menyebabkan distress yang signifikan pada pasien dan jarang menghasilkan kesenangan atau kepuasan.
Sebagian besar gangguan dialami pada saat remaja (18-24 tahun).

PEDOMAN DIAGNOSTIK (PPDGJ III) GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF / F42

Gejala obsesif atau tindakan kompulsi, atau keduaduanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut
Merupakan sumber penderitaan (distress) dan mengganggu aktivitas penderita.

PEDOMAN DIAGNOSTIK (PPDGJ III) GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF / F42


Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut (PPDGJ III):

Disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan Gagasan,bayangan,pikiran atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan.

KRITERIA DIAGNOSTIK (DSM - IV) GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF


A.

Salah satu obsesi atau kompulsi :

Obsesi seperti yang didefinisikan oleh (1), (2), (3), dan (4): (1) pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan yang rekuren dan persisten yang dialami, pada suatu saat selama gangguan, sebagai intrusif dan tidak sesuai, dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas (2) pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tidak semata-mata kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata (3) orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tersebut untuk menetralkannya dengan pikiran atau tindakan lain (4) orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan obsesional adalah keluar dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran) Kompulsi seperti yang didefinisikan oleh (1) dan (2) : (1) perilaku (misalnya, mencuci tangan, mengurutkan, memeriksa) atau tindakan mental (misalnya, berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata dalam hati) yang berulang yang dirasakannya mendorong untuk melakukannya sebagai respon terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan yang harus dipatuhi secara kaku. (2) Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah atau menurunkan penderitaan atau mencegah suatu kejadian atau situasi yang menakutkan; tetapi perilaku atau tindakan mental tersebut dihubungkan dengan cara yang realistik dengan apa mereka anggap untuk menetralkan atau mencegah, atau jelas berlebihan

KRITERIA DIAGNOSTIK (DSM - IV) GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF


B.

C.

D.

E.

Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. Catatan: ini tidak berlaku bagi anak-anak Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas; menghabiskan waktu (menghabiskan lebih dari satu jam sehari); atau secara bermakna mengganggu rutinitas orang normal, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau aktivitas atau hubungan sosial yang biasanya Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak terkait dengan gangguan tersebut. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum. Kondisi khusus jika : Dengan tilikan buruk: jika selama sebagian besar waktu selama episode terakhir, orang tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan.

4 POLA GEJALA UTAMA GANGGUAN OBSESI KOMPULSIF


1.

Kontaminasi

Pola yang paling sering Obsesi akan kontaminasi biasanya diikuti oleh perilaku mencuci / membersihkan atau kompulsi menghindar dari objek yang dirasa terkontaminasi.

2.

Keraguan Patologis

Obsesi tentang ragu-ragu yang diikuti dengan perilaku mengecek / memeriksa Tema obsesi tentang situasi berbahaya atau kekerasan Cotoh : Bolak-balik untuk memeriksa rumh sudah dikunci atau belum ?

4 POLA GEJALA UTAMA GANGGUAN OBSESI KOMPULSIF


3.

Pikiran yang mengganggu (intrusif)

Pikiran obsesif yang mengganggu tanpa disertai tindakan kompulsif, biasanya berulang tentang seksual atau tindakan agresif lapor ke polisi atau pendeta

4.

Simetri
Obsesi akan kebutuhan untuk simetri, ketepatan sehingga bertindak lamban Misalnya : memerlukan waktu berjam-jam untuk makan / mencukur kumis

PROGNOSIS GANGGUAN OBSESI KOMPULSIF


Indikasi prognosis baik :

Adanya penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik, adanya peristiwa yang menjadi pencetus, gejala yang episodik.

Indikasi prognosis buruk :

Kompulsi yang diikuti, awitan masa kanak, kompulsi yang bizzare, memerlukan perawatan rumah sakit, ada komorbiditas dengan gangguan depresi, adanya kepercayaan yang mengarah ke waham dan adanya gangguan kepribadian.

TATALAKSANA GANGGUAN OBSESI KOMPULSIF

Farmakoterapi
SSRI

: fluoxetine, sitalopram, fluvoksamin, paroksetin, sertraline Clomipramine Obat lain : asam valproat, litium, karbamazepin

Terapi perilaku Psikoterapi suportif

GANGGUAN STRESS AKUT / F43.0


Di dahului oleh adanya suatu stressor berat yang melampaui kapasitas hidup seseorang, serta menimbulkan penderitaan bagi setiap orang.

DIAGNOSIS :
Menanyakan riwayat traumatik tertentu : Apakah pernah mengalami kekerasan tertentu seperti kekerasan emosional atau seksual, kecelakaan hebat, bencana alam, kekerasan militer atau peperangan?

GAMBARAN KLINIS REAKSI STRESS AKUT


Adanya ingatan-ingatan kembali akan peristiwa traumatik yang pernah dialami Adanya keluhan berupa gejala-gejala depresi, ide bunuh diri, penarikan diri dari lingkungan sosial, kesulitan tidur, keluhan fisik (nyeri kronis)

PEDOMAN DIAGNOSTIK (PPDGJ III) REAKSI STRES AKUT / F43.0

Ada kaitan waktu kejadian yang jelas antara stressor dengan onset gejala, biasanya beberapa menit atau segera setelah kejadian. Ditemukan gejala :

Gambaran gejala campuran yang berubah-ubah; selain gejala permulaan berupa keadaan terpaku (daze), semua hal berikut dapat terlihat : depresi, ansietas, kemarahan, kecewa, overaktif, dan penarikan diri Bila dapat dialihkan dari lingkup stressornya, gejalagejala dapat menghilang dengan cepat (beberapa jam), apabila stress menjadi berkelanjutan dan tidak dapat dialihkan, gejala biasanya baru mereda setelah 24-48 jam dan biasanya hampir menghilang setelah 3 hari

PEDOMAN DIAGNOSTIK (PPDGJ III) REAKSI STRES AKUT / F43.0

Diagnosis ini tidak boleh digunakan untuk keadaan kambuhan mendadak dari gejala-gejala pada individu yang sudah menunjukkan gejala psikiatrik lainnya. Kerentanan individual dan kemampuan menyesuaikan diri memegang peranan dalam teerjadinya atau beratnya reaksi stress akut.

GANGGUAN STRESS PASCA TRAUMA (POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER) / F43.1


PTSD ditandai oleh pengulangan, ingatan yang menggangu pada peristiwa traumatik yang menggoncang jiwa, seperti :

Berhubungan dengan peperangan Mengalami atau melihat kekerasan fisik atau seks Mengalami bencana (angin topan) atau akibat perbuatan manusia (kecelakaan)

Seorang individu minimal akan mengalami satu kali peristiwa traumatik, 25% dari mereka yang bertahan hidup dikatakan akan mengalami gangguan stress pasca trauma.

PEDOMAN DIAGNOSTIK (PPDGJ III) GANGGUAN STRESS PASCA TRAUMA / F43.1

Diagnosis bila gangguan timbul dalam 6 bulan setelah kejadian traumatik berat.
Kemungkinan diagnosis masih dapat ditegakkan apabila tertundanya waktu mulai saat kejadian dan onset gangguan melebihi 6 bulan, asal saja manifestasi klinisnya adalah khas dan tidak didapat alternatif kategori gangguan lainnya.

Selain trauma, diapatkan bayang-bayang atau mimpi dari kejadian traumatik secara berulang (flashback) Dapat disertai gangguan otonomik, gangguan afek, dan kelainan tingkah laku yang tidak khas.

GAMBARAN KLINIS GANGGUAN STRESS PASCA TRAUMA

Ingatan-ingatan kembali akan peristiwa traumatik yang telah dialami serta mendesak untuk timbul ke alam sadar disertai adanya mimpi buruk Menghindari berbagai situasi atau kondisi yang akan mengingatkan akan peristiwa traumatik tersebut Datang ke dokter dengan keluhan : gejala depresi, ide bunuh diri, penarikan diri dari lingkungan sosial, sulit tidur, penggunaan alkohol/ zat adiktif lain, serta keluhan fisik

PENATALAKSANAAN GANGGUAN STRESS PASCA TRAUMA/ F43.1

Farmakoterapi
SSRI : fluoxetin (10-60 mg/hari), sertralin (50-200 mg/hari), fluvoxamine (50-300 mg/hari) Amiltriptilin (50-300 mg/hari), Imipramin (50-300 mg/hari)

Psikoterapi Dukungan psikososial baik dari dokter maupun lingkungan sekitar Teknik untuk meredakan kecemasan teknik pernapasan

PSIKOTERAPI SUPORTIF

Diutamakan untuk memperkuat pertahanan diri pasien dan membantu pasien dalam beradaptasi dan memecahkan masalah Psikoterapi yang umum diberikan :

Psikoterapi perilaku

memulihkan gangguan perilaku (maladaptif) adaptif (mampu menyesuaikan diri).


memulihkan kembali fungsi kognitif (daya pikir dan daya ingat) rasional membantu satu sama lainnya dalam menjalani perubahan kepribadian

Psikoterapi kognitif

Psikoterapi kelompok

hypnothrapy

SEKIAN

TERIMA KASIH