Anda di halaman 1dari 52

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sistem pencernaan terdiri dari saluran pencernaan ditambah organ-organ pencernaan tambahan (aksesori). Sistem pencernaan berfungsi untuk memindahkan zat gizi atau nutrien, air, dan elektrolit dari makanan yang kita makan ke dalam lingkungan internal tubuh. Makanan sebagai sumber ATP untuk menjalankan berbagai aktivitas bergantung energi, misalnya transportasi aktif, kontraksi, sintesis, dan sekresi. Makanan juga merupakan makanan sumber bahan untuk perbaikan, pembaruan, dan penambahan jaringan tubuh. Sistem pencernaan tidak dapat melaksanakan fungsinya jika dalam keadaan terganggu. Selain itu, tidak jarang juga kelainan pada sistem ini dapat mengakibatkan kematian. Salah satunya adalah apendisitis. Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis, dan penyebab abdomen akut yang paling sering. Pada masyarakat umum,sering juga disebut dengan istilah radang usus buntu. Akan tetapi, istilah usus buntu yang selama ini dikenal dan digunakan di masyarakat kurang tepat, karena yang merupakan usus buntu sebenarnya adalah sekum (caecum). Sedangkan apendiks atau yang sering disebut juga dengan umbai cacing adalah organ tambahan pada usus buntu. Umbai cacing atau dalam bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah ujung buntu tabung yang menyambung dengan caecum. Penyakit apendisitis merupakan penyakit bedah mayor yang paling sering terjadi dan tindakan bedah segera mutlak diperlukan pada apendisitis akut untuk menghindari komplikasi yang umumnya berbahaya.

B. Tujuan Penulisan 1. Menjelaskan pengertian dan etiologi apendisitis. 2. Menjabarkan menifestasi klinis, patofisiologi dan komplikasi apendisitis.

3. Menjelaskan pengkajian fisik, laboratorium dan diagnostik pada klien dengan apedisitis. 4. Menegakkan diagnosa keperawatan pada klien dengan apendisitis (preoperatif apendiktomi). 5. Menjelaskan penatalaksanaan medik pada klien dengan apendisitis. 6. Asuhan keperawatan preoperatif.

C. Rumusan Masalah 1. Apakah apendisitis itu (definisi, manifestasi klinis, dan komplikasi)? 2. Apakah etiologi terjadinya apendisitis? 3. Bagaimana mekanisme atau patofisiologi terjadinya apendisitis? 4. Bagaimana pengkajian fisik, laboratorium dan diagnostik pada klien dengan apedisitis? 5. Apa diagnosa keperawatan yang tepat untuk klien dengan apendisitis (khususnya preoperatif)? 6. Bagaimana penatalaksanaan medik pada klien dengan apendisitis? 7. Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dengan apendisitis (preoperatif apendiktomi)?

D. Metode Penulisan Makalah ini menggunakan metode PBL (Problem Based Learning). Masing-masing mahasiswa memperoleh materi atu sub bahasan kemudian mencari tinjauan teori pada buku, jurnal, maupun internet. Setelah memperolehnya, masing-masing mahasiswa saling berbagi informasi kepada teman-teman lainnya. E. Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari empat bab. Bab I pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, rumusan masalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab II tinjauan teori berisi konsep materi mengenai apendisitis. Bab III pembahasan terdiri dari kasus dan pembahasan atau keterkaitan antara materi dengan kasus serta solusi dari masalah yang dijabarkan apada kasus. Bab IV penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Apendiks Apendiks vermiformis merupakan sisa apeks sekum yang memiliki struktur berupa tabung dengan panjang kira-kira 10 cm (4 inci), lebar 0,3 - 0,7 cm dan isi 0,1 cc melekat pada sekum tepat dibawah katup ileosekal. Selain itu memiliki arteria apendikularis yang merupakan suatu arteri terminalis. Secara klinis, apendiks terletak pada daerah Mc Burney yaitu daerah 1/3 tengah garis yang menghubungkan spina iliaka anterior superior kanan dengan pusat. Lumennya sempit dibagian proksimal dan melebar dibagian distal. Persarafan parasimpatis pada apendiks berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesentrika superior dan arteri apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada apendisitis bermula disekitar umbilikus.

B. Definisi dan Etiologi Apendisitis Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis. Penyebab apendisitis karena adanya obstruksi pada lumen appendikeal oleh apendikolit, hiperplasia folikel limfoid submukosa, fekalit (material garam kalsium, debris fekal), atau parasit seperti E.histolytica. Peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal

mengakibatkan timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora kolon. Sumbatan fungsional mengakibatkan terjadinya pembengkakan, infeksi, dan ulserasi. Bila keadaan terus dibiarkan dapat mengakibatkan nekrosis, gangren, dan perforasi (Muttaqin & Sari, 2011); (Price, 2005).

C. Manifestasi Klinis Pada kasus apendisitis akut gejala awal berupa nyeri disekitar umbilikus umumnya berlangsung lebih dari 1 atau 2 hari. Dalam beberapa jam nyeri bergeser ke kuadran kanan bawah disertai oleh anoreksia, mual, dan muntah. Dapat terjadi nyeri tekan di sekitar titik Mc Burney. Kemudian dapat timbul spasme otot dan nyeri tekan lepas. Biasanya ditemukan demam ringan dan leukositosis sedang (Price, 2005).

D. Klasifikasi Apendisitis Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi dua yaitu, apendisitis akut dan apendisitis kronik (Sjamsuhidayat, 2005). 1. Apendisitis akut. Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang peritonieum lokal. Gajala apendisitis akut talah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ketitik Mc Burney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat 2. Apendisitis kronik Diagnosis apendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ditemukan adanya riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik apendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa , dan adanya sel inflamasi kronik. Insiden apendisitis kronik antara 1-5%. E. Komplikasi Berlanjutnya kondisi apendisitis akan meningkatkan risiko terjadinya perforasi dan pembentukan massa periapendikular. Perforasi dengan cairan inflamasi dan bakteri masuk ke rongga abdomen lalu memberikan respon inflamasi permukaan peritoneum atau terjadi peritonitis. Apabila perforasi apendiks disertai abses, maka akan memberikan manifestasi nyeri lokal. Manifestasi khas dari perforasi apendiks yaitu nyeri hebat yang tiba-tiba muncul pada abdomen kanan bawah (Muttaqin & Sari, 2011).

F. Patofisiologi Apendisitis Appendisitis pada dasarnya dapat menyerang semua umur, namun jarang terjadi pada bayi di bawah umur 2 tahun dan dewasa tua. Hal ini terjadi mungkin pada posisi appendiks. Appendisitis dapat menyebabkan komplikasi penyakit lainnya. Salah satu contohnya yaitu peritonitis atau peradangan pada peritoneum. Appendisitis dapat terjadi karena adanya penyumbatan pada appendiks. Penyumbatan tersebut dapat menyebabkan infeksi bakteri sehingga terjadilah proses inflamasi atau peradangan. Appendisitis dapat dimulai di mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding appendiks dalam waktu 24-28 jam pertama. Tubuh yang mempunyai sistem imun tentu saja akan merespon jika terjadi peradangan. Respon tubuh pada peradangan ini adalah dengan cara membatasi proses peradangan. Respon ini dilakukan dengan menutup appendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikuler yang didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika massa tersebut tidak terbentuk abses, maka appendisitis dapat sembuh. Patologi apendisitis berawal di jaringan mukosa dan kemudian menyebar ke seluruh lapisan dinding apendiks. Jaringan mukosa pada apendiks menghasilkan mukus (lendir) setiap harinya. Terjadinya obstruksi

menyebabkan pengaliran mukus dari lumen apendiks kecaecum menjadi terhambat. Makin lama mukus makin bertambah banyak dan kemudian terbentuklah bendungan mukus di dalam lumen. Namun, karena keterbatasan elastisitas dinding apendiks, sehingga hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan terhambatnya aliran limfe, sehingga mengakibatkan timbulnya edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Jika sekresi mukus terus berlanjut, tekanan intralumen akan terus meningkat. Hal ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi vena, edema

bertambah, dan bakteri akan menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul pun semakin meluas dan mengenai peritoneum setempat, sehingga menimbulkan nyeri di daerah perut kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu, maka akan terjadi infark dinding apendiks yang disusul dengan terjadinya gangren. Keadaan ini disebut dengan apendisitis ganggrenosa. Jika dinding apendiks yang telah mengalami ganggren ini pecah, itu berarti apendisitis berada dalam keadaan perforasi. Sebenarnya tubuh juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi proses peradangan ini. Caranya adalah dengan menutup apendiks dengan omentum, dan usus halus, sehingga terbentuk massa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami

perforasi. Perforasi menjalar ke seluruh abdomen, perut nyeri dan tegang di seluruh abdomen walaupun punctum maximum mungkin di sebelah kanan, nyeri dan febris tinggi, keadaan umum jelek. Bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar akan menyebabkan timbulnya peritonitis generalisata. Dengan timbulnya peritonitis generalisata, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan

meregang. Karena fungsiolesa maka fungsi usus terhenti (tidak berkontraksi) sehingga terjadi pembentukkan gas kemudian perut kembung yang

mengakibatkan paralitik ileus (bising usus menghilang) sehingga terjadi muntah-muntah (regurgitasi). Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus, menyebabkan terjadinya dehidrasi, gangguan sirkulasi, oligouria, dan mungkin syok. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat menganggu pulihnya motilitas usus dan menyebabkan terjadinya obstruksi usus. Paralitik ileus juga menyebabkan terjadinya gangguan buang air besar akibat hilangnya gerak peristalitik usus. Muntah-muntah juga berakibat pada hilangnya banyak cairan tubuh, meningkatkan kerja jantung (meningkatkan heart rate) sebagai kompensasi.

Hubungan Patofisiologi Dengan Manifestasi Klinis (Sjamsuhidajat, R & Jong, W. D.) KELAINAN PATOLOGI Peradangan awal KELUHAN DAN TANDA Kurang enak ulu hati/daerah pusat, mungkin kolik Appendisitis mukosa Nyeri tekan kanan bawah (rangsangan autonomik) Radang di seluruh ketebalan dinding Nyeri sentral pindah ke kanan bawah, mual dan muntah Appendisitis komplit radang peritoneum Rangsangan peritoneum lokal

(somatik), nyeri pada gerak aktif dan pasif, defans muskuler lokal Radang alat/jaringan yang menempel Genitalia pada appendiks Appendisitis gangrenosa interna, ureter, n.psoas

mayor, kantung kemih, rektum Demam sedang, takikardia, mulai

toksik, leukositosis Perforasi Nyeri dan defans muskuler seluruh perut Pembungkusan: a. Tidak berhasil s.d.a. + demam tinggi, dehidrasi, syok, toksik b. Berhasil Massa perut kanan bawah, keadaan umum berangsur membaik c. Abses Demam remiten, keadaan umum

toksik, keluhan dan tanda setempat

G. Patofisiologi Peritonitis

Invasi bakteri ke rongga peritoneum oleh berbagai kelainan sistem GI dan penyebaran infeksi dari organ di dalam abdomen

Respon inflamasi pada peritoneum dan organ di dalamnya

Peritonitis

Respon sistemik

aktivitas fibrinolitik intra-abdomen

suhu tubuh

Pembentukan eksudat fibrinosa atau abses pada peritoneum

Hipertermi

Intervensi bedah laparotomi

Respon lokal saraf terhadap inflamasi Pascaoperatif Distensi abdomen

Syok sepsis

Gangguan GI

Preoperatif

Respon kardiovaskular

Mual, muntah, anoreksia

Respon psikologis misinterpretasi perawatan dan penatalaksanaan pengobatan

Port de entree pascabedah Nyeri Risiko infeksi Kerusakan jaringan pascabeda h

Curah jantung

Suplai darah ke otak

Intake nutrisi tidak adekuat Kehilangan cairan dan elektrolit

Kecemasan pemenuhan informasi

kemampuan batuk efektif

perfusi serebral

Aktual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan napas

Perubahan tingkat kesadaran

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan, risiko ketidakseimbangan cairan

H. Penatalaksanaan Medis Apendicitis dapat menjadi awal mula dari kejadian peritonitis (radang pada daerah peritoneum). Jika sudah didiagnosis apendisitis akut, maka harus segera dilakukan pembedahan. Penatalaksanaan medis pada penderita appendicitis diberikan pada saat pra operasi, intra operasi, dan post-operasi. Menurut Mansjoer, dkk (2000), penatalaksaan apendisitis terdiri dari: 1. Pra-operasi a. Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi b. Pemasangan kateter untuk control produksi urine. c. Rehidrasi d. Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena. Pemberian antibiotic melalui intravena tergantung pada tingkat keparahan dan keakutan apendisitis. Bila pada apendisitis yang belum mengalami perforasi, maka digunakan antibiotik dosis tunggal yang adekuat yang mencakup basil gram negative dan anaerobik. Resusitasi cairan intravena dengan menggunakan larutan Ringer laktat 10 ml per kilogram dalam bolus 15-30 menit untuk hasil produksi urin 1-2 mL per kilogram per jam. Pada dewasa muda diperlukan waktu kurang lebih 1 jam, namun pada anak usia kurang dari 6 tahun, resusitasi memerlukan waktu 4-6 jam. Obat antibiotik yang diberikan secara intravena pada apendiks yang sudah perforasi yang dicurigai terdapat pathogen aerobic dan nonaerobik, maka diberikan ampisilin (100 mg/kg/24 jam), gentamisin (5 mg/kg/24 jam), dan kindamisin (40 mg/kg/24 jam) atau

metrobnidazole/Flagyl (30 mg/kg/24 jam), antibiotik diteruskan 7-10 hari (Schrock, 1991). Penanggulangan secara konservatif dilakukan dengan cara

pemberian obat antibiotic pada gejala appendicitis kronik. Pemberian obat ini dilakukan untuk mengurangi nyeri dalam waktu 12 jam. Namun, pengobatan secara konservatif dihentikan jika: 1) Terjadi kenaikan denyut nadi

10

2) Demam menetap lebih dari 36 jam. 3) Nyeri yang menetap. 4) Terjadi penonjolan pada daerah nyeri dan kulit kemerahan merupakan tanda terlalu lama tertundanya tindakan operasi. 5) Obstruksi usus yang tidak berhenti. e. Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk vasodilatasi pembuluh darah perifer yang diberikan setelah rehidrasi tercapai. f. Bila pasien mengalami demam pada pra-operasi, harus diturunkan suhunya sebelum diberikan anestesi. 2. Intra operasi Appendictomy adalah proses pemotongan apendiks yang berguna dalam mencegah terjadinya perforasi yang komplikasinya akan terjadi peritonitis. Namun, dalam penatalaksanaan operasi appendictomy, perlu dilakukan penegakan diagnose yang tepat, terutama pada pasien wanita, karena pada pasien wanita sering terjadi keluhan yang hampir mirip dengan gejala apendisitis akut. Gejala pada appendicitis akut antara lain radang yang mendadak di daerah apendiks disertai rangsang peritoneum lokal, nyeri sama-samar dan tumpul (nyeri visceral di daerah epigastrium di sekitar umbilicus), mual, muntah, anoreksia, beberapa jam nyeri berpindah ke kanan bawah (McBurney) sehingga menimbulkan nyeri somatic setempat yang lebih jelas dan tajam (nyeri tekan Rovsing), demam ringan (37.5-38 C), penonjolan daerah kanan bawah karena abses periapendikuler, pada kasus komplikasi terjadi leukositosis. Oleh karena itu, dokter sebelum mengambil tindakan operasi, biasanya melakukan diagnosa banding dengan penyakit lainnya seperti (Sjamsuhidajat & Jong, 2004): a. Gastroenteritis Gejala: mual, muntah, diare sebelum rasa sakit perut timbul, sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. b. Demam dengue Gejala: sakit perut mirip dengan peritonitis, Rumpel +,

trombositopenia dan hematokrit meningkat.

11

c. Limfadenitis mesenterika Gejala : didahului dengan gastroenteritis, nyeri perut di sebelah kanan namun samar, mual. d. Kelainan ovulasi Gejala :Nyeri perut kanan bawah pada pertengahan siklus menstruasi, tidak ada tanda radang seperti leukositosis, nyeri hilang dalam waktu 24 jam namun bisa menganggu selama 2 hari. e. Infeksi panggul Gejala : hamper sama dengan gejala apendisitis, namun suhu lebih tinggi dan nyeri perut bawah lebih difus, keputihan, dan infeksi urin. f. Kehamilan ektopik Gejala : terlambat haid, nyeri, penonjolan rongga Douglas, terdapat darah di kuldosintesis. g. Kista ovarium terpuntir Gejala : nyeri hilang timbul dengan intensitas yang tinggi, saat dipalpasi ada massa pada rongga pelvis, tidak demam. h. Endometriosis eksterna Gejala : nyeri pada daerah endometriosis dan darah terkumpul pada daerah tersebut. i. Urolitiasis pielum/ureter kanan. Gejala : riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan, eritrosituria, demam tinggi, menggigil, nyeri kostvertebral sebelah kanan, dan piuria. Proses pembedahan diawali dengan anestesi (pembiusan), agar pasien yang dioperasi tidak memberontak saat diberikan tindakan. Anestesi merupakan pemberian obat yang menekan kerja jaringan saraf secara sentral atau pada ujung saraf (Oswari, 1993). Anestesi diberikan oleh dokter spesialis anestesi dan perawat anestesi. Pemberian anestesi harus dipertimbangkan dengan keadaan tubuh dan riwayat kesehatan klien. Anestesi terbagi menjadi dua macam, anestesi lokal (menurut tempat sekitar pembedahan) dan umum (seluruh tubuh). Setiap anestesi harus memenuhi

12

dua syarat, antara lain menghilangkan refleks dan melemaskan otot, dan pada bius umum juga dapat menghilangkan kesadaran. (Oswari, 1993). 1) Anestesi umum Obatnya berupa gas dan cairan yang dapat diberikan dengan cara inhalasi (gas), intravena (menyuntikkan obat), dan memasukkan obat ke dalam rectum. Pada tahap awal, pemberian obat bius yang tinggi untuk penyebaran ke seluruh jaringan, jika sudah menyebar, konsentrasi diperkecil untuk tetap mempertahankan obat bius. Kedalaman anestesi umum terbagi dalam 4 stadium: Stadium 1 (analgesia) Dimulai saat pasien menghirup obat bius. Pasien pusing, seakan-akan melayang, pendengaran bising, kesadaran masih ada, tapi tidak dapat berbuat apapun, ukuran pupil tetap, refleks pupil maih bagus, pernapasan dan nadi tidak teratur, tekanan darah tidak fluktuasi. Stadium 2 (delirium) Pasien mulai berontak, ukuran pupil membesar, refleks pupil kuat, pernapasan tidak teratur, nadi teratur cepat, dan tekanan darah mulai meninggi. Stadium 3 (pembedahan) Pasien mangalami mati rasa sempurna, refleks permukaan seperti pupil, bola mata menurun namun refleks vital masih biasa, seperti nadi dan pernapasan. Stadium 4 (keracunan) Pusat pernapasan di medulla oblongata lumpuh, pernapasan berhenti. Bila pembiusan tidak segera dihentikan dan diberikan napas buatan, jantung berhenti dan kematian. (Oswari, 1993). Cara pemberian anestesi umum 2) Anestesi Isap Open drop : meneteskan cairn bius di masker yang ditutupi oleh kain kassa dan diberikan tekanan oksigen untuk diinhalasi oleh pasien.

13

Insuflasi: peniupan gas bius dan udara ke dalam hidung melalui pipa. Semit tertutup: campuran gas bius dan oksigen diinhalasi dari masker yang dihubungkan dengan balon pernapasan. Tertutup: udara yang keluar dari paru-paru diisap kembali setelah melalui filter yang mengandung garam kapur untuk menahan CO2. Obat bius yang biasa digunakan antara lain: Nitrogen oksida: daya bius ringan hingga stadium III plein 1. Eter / etil eter : daya biusnya sangat kuat, mudah menyerap di jaringan khususnya lemak, sehingga pada orang gemuk lebih lama induksinya. Klor etil : masa induksi yang pendek, hanya dipakai untuk induksi mempersingkat sstadium I dan II, dan merupakan pemberian awal anestesi yang dilanjutkan dengan eter. Sering digunakan pada insisi bisul Fluotane (Halotane) : obat bius isap yang terkuat. Trilene / triklor etilena : masa induksi lambat, hamper sama dengan eter, dipakai hanya untuk menghilangkan perasaan pasien dan berbahaya untuk diberikan pada operasi besar, dan sering digunakan untuk kuret. 3) Anestesi rectum Anestesi dengan pemberian avertin (cairan alkohol) yang dimasukkan ke dalam rectum. Dalam waktu 5 menit, pasien tidak sadar, namun refleks masih ada. Oleh karena itu hanya dipakai sebagai induksi pembiusan yang disambung dengan anestesi blok saraf. 4) Anestesi intravena Penyuntikan sodium pentotal (tiopental) ke vena, dalam waktu 30 detik saja, namun efeknya hanya sebentar. 5) Anestesi lokal Anestesi ini diberikan pada tempat tertentu melalui:

14

a) Anestesi lumbal (spinal) : menyuntikkan obat melalui fungsi lumbal ke dalam rongga subaraknoid menimbulkan kelumpuhan otot yang kuat. b) Anestesi peridural : dimasukkan juga melalui fungsi lumbal, namun hanya sampai rongga peridural saja. c) Anstesi blok : obat yang langsung disuntikkan di sekitar saraf atau pangkal saraf. d) Anestesi infiltrasi : disuntikkan langsung ke ujung saraf di bawah kulit. e) Anestesi topical : mengoleskan atau menyemprotkan obat ke permukaan kulit atau selaput lendir. Obat yang digunakan dalam anestesi lokal: Prokain (Novokain) : daya mati rasanya cukup tinggi. Lidokain (Xylokain): bekerja lebih cepat dan daya biusnya lebih lama dari prokain. Biasa digunakan untuk mencabut gigi. Kokain : obat anestesi topical yang tidak boleh disuntikkan, karena bersifat toksik. Pantokain (Tetrakain): mempunyai sifat toksik yang kuat dari kokain, dipakai pada anestesi spinal. Pembedahan dilakukan oleh beberapa tenaga medis. Tenaga medis yang bertugas di ruang operasi antara lain dokter ahli bedah, dokter anestesi atau perawat anestesi, perawat scrub, dan perawat sirkulasi. Operasi apendiktomi segera dilakukan dalam beberapa jam setelah didiagnosa. Sedangkan pada apendiktomi yang sudah perforasi dengan tanda peritonitis, maka sebelum dilakukan apendiktomi, pasien harus diberikan resusitasi cairan yang cukup dan antibiotic spectrum luas. Bila terjadi muntah berat atau perut kembung dilakukan pengisapan nasogastrik. Pada operasi apendiktomi, pasien dalam posisi supine dan diberikan anestesi umum atau regional sesuai indikasi. Berikut prosedur apendiktomi terbuka dan apendiktomi laparaskopi. Apendiktomi terbuka (teknik McBurney) dan laparoskopi

apendiktomi dilakukan bila apendisitis akut yang diderita belum komplikasi (belum terjadi perforasi, namun risiko perforasi) (Norton, 2008).

15

Indikasi : Apendiktomi Terbuka a) Apendisitis akut b) Periapendikuler infiltrate c) Apendisitis perforasi Prosedur apendiktomi terbuka a) Pasien berbaring terlentang dalam anestesi umum atau regional. Kemudian lakukan tindakan asepsis dan antisepsis pada daerah perut kanan bawah. b) Menentukan peritoneum. c) Insisi daerah McBurney dengan posisi miring / insisi lapisan perut pertama sepanjang 10 cm. Saat ingin diinsisi, otot peritoneum di retraksi dengan retraksi Richardson atau Parker untuk membuka peritonium. d) Buat sayatan melalui aponeurosis dari m. oblikus eksternal yang sudah di insisi sebelumnya (insisi kembali lapisan perut berikutnya). e) Setelah itu, buat sayatan melalui aponeurosis dari m.oblikus interna. f) Pembukaan serat-serat otot abdominis transversal. g) Lalu, masuk ke dalam perut melalui pareitonium parietal. Eksplorasi peritoneum dengan sayatan yang cukup lebar. Peritoneum digenggam dengan forsep jaringan atau forsep Allis, dan sayatan kecil dibuat dengan pisau bedah menggunakan pisau 15. h) Sekum dan apendiks diluksasi keluar. i) Appendix agak diregangkan untuk melihat mesoappendix. j) Potong daerah arteri mesoapendiks secara biasa, dari arah puncak ke basis. k) Terjadi perdarahan, darah dibersihkan. l) Siapkan jahitan tabac sac yang mengelilingi basis apendiks dengan benang, kemudian dijahit dengan catgut. m) Lakukan pemotongan apendiks apikal dari jahitan tersebut. daerah McBurney yaitu kuadran kanan bawah

16

n) Daerah pemotongan diberi alkohol atau larutan betadine untuk mengurangi flora bakteri. o) Jahitan tabac sac disimpulkan dan daerah bekas apendiks dimasukkan dalam simpul tersebut. Mesoapendiks dijahit dengan benang. p) Lakukan pemeriksaan terhadap rongga peritoneum dan alat-alat di dalamnya, bersihkan bekas darah. q) Sekum dikembalikan ke abdomen r) Sebelum ditutup, peritoneum dijepit dengan 4 klem dan didekatkan untuk memudahkan penutupan. Peritoneum dijahit jelujur dengan chromic catgut dan otot-otot-otot dikembalikan. Apendiktomi Laparascopi Indikasi : a) Apendisitis akut b) Apendisitis kronik Kontraindikasi : a) Wanita dengan kehamilan trimester kedua dan ketiga b) Penyulit radang pelvis dan endometriosis Teknik ini berguna dalam melakukan tindakan operasi apendiktomi namun dengan diagnose yang belum pasti. Teknik ini sangat bagus diberikan pada wanita muda di usia subur. Pada apendiktomi laparoscopi , dilakukan 3 bukaan kecil untuk memasukkan kamera miniature dan peralatan bedah yang dibuat melintang pada bagian bawah perut. Keutungan antara Apendikromi Laparaskopi dan Apendiktomi Terbuka Apendiktomi Laparascopi Infeksi luka rendah Harga perawatan di rumah sakit rendah pemulihan lebih cepat Apendiktomi Terbuka Biaya operasi lebih murah Harga perawatan di rumah sakit rendah Pada kasus apendiktomi akut yang perforasi, kemungkinan risiko abses pada intrabdominal Hasil pembedahan (jahitan) bagus Nyeri berkurang Waktu di ruang operasi lebih pendek.

17

BAB III PEMBAHASAN

A. Asuhan Keperawatan Klien dengan Appendisitis 1. Pengkajian a. Pengkajian Pre-Operatif 1) Anamnesa Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese, ada 4 hal yang penting adalah: Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah. Muntah oleh karena nyeri viseral. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus). Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit, menghindarkan pergerakan, di perut terasa nyeri. Hal-hal yang perlu dikaji pada anamnesa antara lain: a) Identitas klien: Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register. b) Identitas penanggung c) Riwayat kesehatan sekarang. Keluhan utama : Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan : Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Sifat keluhan : Nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama.

18

Keluhan yang menyertai : Biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas. d) Riwayat kesehatan masa lalu : Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang. e) Nyeri/kenyamanan i. Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. ii. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak. f) Keamanan : Demam, biasanya rendah. 2) Pemeriksaan Fisik a) Keadaan umum : Klien tampak sakit ringan/sedang/berat. b) Berat badan : Sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat. c) Sirkulasi : Klien mungkin takikardia. d) Respirasi : Takipnue, pernapasan dangkal. e) Aktivitas/istirahat : Malaise. f) Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang. g) Distensi abdomen : nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus. Pemeriksaan fisik berdasarkan inspeksi dan palpasi: a) Inspeksi Pada appendicitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling, sehingga pada inspeksi biasa ditemukan distensi perut.

19

b) Palpasi Kecurigaan menderita appendicitis akan timbul pada saat dokter melakukan palpasi perut dan kebahagian paha kanan. Pada daerah perut kanan bawah seringkali bila ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign). Nyeri perut kanan bawah merupakan kunci dari diagnosis appendicitis akut. Jika sudah terjadi perforasi, nyeri akan terjadi pada seluruh perut, tetapi paling terasa nyeri pada daerah titik Mc. Burney. Jika sudah infiltrat, lokal infeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit, dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney. Status lokalisasi: i. Mc.Burney : ii. iii. Nyeri tekan Nyeri lepas : rangsang peritoneum Nyeri ketok

Defens muskuler : m.rektus abdominis Rovsing Sign : pada penekanan perut bagian kontra Mc Burney (kiri) terasa nyeri di Mc Burney karena tekanan tersebut merangsang peristaltik usus dan juga udara dalam usus, sehingga bergerak dan menggerakan peritoneum sekitar appendiks yang sedang meradang sehingga terasa nyeri.

iv.

Psoas sign : m psoas ditekan maka akan terasa sakit di titik Mc Burney (pada appendiks retrocaecal) karena merangsang peritoneum sekitar appendicitis yang juga meradang.

v.

Obturator sign : fleksi dan endorotasi articulatio costa pada posisi supine, bila nyeri berarti kontak dengan m obturator internus, artinya appendiks di pelvis.
20

vi.

Peritonitis umum (perforasi) : Nyeri di seluruh abdomen Pekak hati hilan Bising usus hilang

vii.

Rectal touche : nyeri tekan pada jam 9 12

3) Pemeriksaan Laboratorium a) Leukosit : 10.000 - 18.000 / mm3 (Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap

mikroorganisme yang menyerang). b) Netrofil meningkat 75 % c) WBC yang meningkat sampai 20.000 mungkin indikasi

terjadinya perforasi (jumlah sel darah merah). Hb (hemoglobin) nampak normal. d) Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. e) Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. f) Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. 4) Pemeriksaan Diagnostik a) Radiologi : Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma. b) Barium enema : apendiks terisi barium hanya sebagian

21

5) Pemeriksaan Penunjang Kadang-kadang dilakukan pemeriksaan colok dubur (Test rektal) untuk menentukan letak appendiks bila letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan colok dubur teraba benjolan kemudian penderita merasa nyeri maka kemungkinan appendiks penderita terletak didaerah prolitotomi. 6) Persiapan Operasi a) Puasa (mulai dari jam 1 malam) b) Lavemen c) Cukur d) Pemeriksaan EKG e) Pemeriksaan laboratorium f) Baju operasi g) Foto torak h) Persediaan darah (1 kolf) i) Inform concent b. Pengkajian Intra-Operatif ( Persiapan saat di ruang penerimaan) j) Mengecek kelengkapan syarat-syarat operasi k) Mengecek kembali status klien untuk mencocokkan kembali nama pasien, diagnosa medis, tindakan operasi yang akan dilakukan dengan jadwal operasi. l) Memesan alat habis pakai yang akan dipakai utuk operasi. m) Memindahkan pasien dan mengantar dari ruang penerimaan ke kamar operasi n) Melakukan pemeriksaan TTV o) Mengeksplorasi perasaan klien saat akan menjalani operasi

22

c. Pengkajian Post-Operatif 1) Operasi selesai pada pukul 12.00 dan klien dipindahkan ke RR dengan menggunakan brankar dengan posisi aman. 2) TTV : a) TD : 120/80 mmHg b) RR : 22 x/mnt c) Nadi : 82 x/mnt d) S : 36,8 C 3) Pernafasan a) Kemampuan untuk bernafas dengan dalam dan batuk. b) Upaya bernafas terbatas (dispneu atau membebat). c) Tidak ada upaya spontan 4) Sirkulasi a) 80 % dari tingkat pra anastetik (baik) b) 50 % - 80 % dari tingkat pra anastetik c) < 50 % dari tingkat pra anastetik 5) Tingkat kesadaran a) Respon secara verbal terhadap pertanyaan / terorientasi terhadap waktu b) Terbangun ketika dipanggil namanya c) Tidak memberi respon terhadap perntah 6) Warna a) Warna dan penampilan kulit normal b) Warna kulit berubah : pucat, agak kehitaman, keputihan, ikterik c) Sianosis

23

7) Aktivitas Bergerak secara spontan atau atas perintah : a) Kemampuan untuk menggerakan semua ekstremitas b) Kemampuan untuk menggerakan 2 ekstremitas c) Tidak mampu untuk mengontrol setiap ekstremitas

2. Diagnosa, Intervensi, dan Evaluasi a. Diagnosa, Intervensi, dan Evaluasi Pre-Operatif Dx 1 : Risiko infeksi berhubungan dengan perforasi apendiks.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan infeksi teratasi. DS DO : Nyeri, demam, menggigil. : Suhu tubuh naik, berkeringat, perubahan mental.

Kriteria evaluasi : Bebas dari tanda-tanda infeksi dan peradangan, drainase purulen, eritema, dan demam.

Intervensi Melakukan praktik dan perawatan luka yang baik dengan mencuci tangan. Menyediakan perawatan perineum. Memonitor tanda-tanda vital. Catat timbulnya demam, menggigil, diaforesis, dan peningkatan nyeri perut. Mendapatkan spesimen drainase, jika ada indikasi.

Rasional Mengurangi risiko infeksi bakteri

Melihat tanda-tanda adanya infeksi

Pengujian sensitivitas dan pemeriksaan stain gram berguna

24

dalam mengidentifikasi organisme penyebab dan pilihan terapi. Memberikan antibiotik jika diperlukan Antibiotik diberikan sebelum apendiktomi terutama untuk profilaksis infeksi luka dan biasanya tidak dilanjutkan pasca operasi. Terapi antibiotik yang diberikan jika apendiks ruptur atau abses.

Dx 2

: Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan vomiting preoperatif.

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan volume cairan adekuat.

DS DO

: Haus, tidak nafsu makan, mual. : Perubahan status mental, penurunan turgor kulit dan lidah, penurunan haluaran urin, penurunan pengisisan vena, kulit dan membran mukosa kering.

Kriteria evaluasi: Tanda vital normal, turgor kulit normal, membran mukosa lembab, produksi urin output seimbang, muntah berhenti.

Intervensi Memonitor tekanan darah dan denyut nadi

Rasional Variasi volume intravaskular membantu mengidentifikasi fluktuasi atau perubahan tandatanda vital terkait dengan respon imun terhadap Inflamasi

Periksa membran mukosa, kaji

Indikator kecukupan sirkulasi

25

turgor kulit Monitor intake dan output cairan

perifer dan hidrasi selular. Penurunan output urin terkonsentrasi dengan spesifik menunjukkan dehidrasi dan kebutuhan cairan meningkat.

Auskultasi bunyi bowel lihat adakah flatus atau pergerakan usus.

Indikator kembalinya peristaltik dan kesiapan untuk memulai lisan asupan. Catatan: Ini tidak mungkin terjadi di rumah sakit jika klien memiliki memiliki prosedur laparoskopi dan telah habis dalam waktu kurang dari 24 jam

Berikan cairan intravena dan elektrolit

Peritoneum bereaksi terhadap iritasi dan infeksi dengan memproduksi dalam jumlah besar cairan usus, menarik cairan dari vaskular ruang dan mungkin mengurangi sirkulasi darah volume, sehingga elektrolit dehidrasi dan relatif tidak seimbang

Dx 3

: Nyeri akut berhubungan dengan distensi jaringan intestinal oleh inflamasi.

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan nyeri dapat terkontrol.

DS DO

: Klien mengungkapkan seara verbal atau non verbal : Posisi menghindari nyeri, perubahan selera makan, perilaku distraksi, menarik diri, pucat, rentang perhatian

26

terbatas. Kriteria evaluasi : Nyeri dapat diendalikan dan klien tampak santai dan dapat beristirahat. Intervensi Menilai nyeri, lokasi, karakteristik, dan tingkat keparahan (skala 0 sampai 10). Menyelidiki dan melaporkan perubahan nyeri, seperti yang sesuai. Rasional Berguna dalam memantau efektivitas pengobatan dan perkembangan penyembuhan. Perubahan karakteristik nyeri dapat menunjukkan pengembangan abses.

Baringkan Fowler.

dalam

posisi

semi-

Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis, menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi telentang.

Dorong ambulasi dini.

Meningkatkan normalisasi fungsi organ, contoh merangsang peristaltik dan kelancaran flatus, menurunkan ketidaknyamanan abdomen.

Berikan aktivitas hiburan.

Fokus perhatian kembali, meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

Berikan analgesik jika diindikasikan.

Nyeri

memfasilitasi

kerjasama

dengan terapi intervensi lainnya, seperti ambulasi dan pulmonary toilet.

27

Dx 4

: Defisit pengetahuan berhubungan dengan misinterpretasi informasi

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien mendapatkan pengetahuan mengenai penyakit dan perawatannya.

DS DO

: Klien mengungkapkan ketidaktahuannya. : Merasa kebingungan, cemas, dan khawatir.

Kriteria evaluasi : Secara verbal memahami terapi yang sedang diberikan dan komplikasi yang dapat terjadi.

Intervensi Berikan informasi mengenai terapi dan pengobatan yang akan dilakukan Diskusikan mengenai perawatan luka pasca operasi

Rasional Mengetahui tujuan tindakan

Memberikan informasi perawatan yang dilakukan setelah apendiktomi dilakukan.

Diskusikan fase pemulihan setelah operasi

Pemahaman tentang tindakan yang harus dan tidak boleh dilakukan dapat meningkatkan proses penyembuhan.

Libatkan keluarga dalam pemberian edukasi kepada klien mengenai tindakan perioperatif

Keluarga akan membantu klien untuk mengingat informasi yang diberikan.

28

Dx 5

: Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien tidak merasakan ansietas

DS

: Klien mengatakan masih memikirkan keadaannya, merasa cemas akan penyakitnya, dan tindakan operasi yang akan dijalaninya serta tidak nyaman dengan kondisinya.

DO

: Tampak gelisah, cemas, dan sedikit berkeringat. Serta tidak nyaman dengan rasa nyerinya.

Kriteria evaluasi :

Ansietas klien dapat teratasi.

Intervensi Evaluasi tingkat ansietas, catat respon verbal dan non verbal klien. Dorong ekspresi bebas klien.

Rasional Ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, peningkatan perasaan sakit, dan kemungkinan pembedahan

Berikan informasi tentang proses penyakit dan informasi tindakan

Mengetahui apa yang diharapkan dapat mengurangi ketakutan dan kecemasan.

Menentukan apakah klien membutuhkan dukungan spiritual

Beberapa klien membutuhkan dukungan spiritual sebagai koping

Jadwalkan istirahat yang adekuat

Membatasi kelemahan dan meningkatkan sumber energi.

29

b. Diagnosa, Intervensi, dan Evaluasi Post-Operatif Dx 1 : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan.

Definisi: Berisiko terhadap invasi organisme patogen. Faktor risiko : Prosedur invasif, malnutrisi, pengetahuan yang kurang untuk menghindari pajanan patogen. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x24 jam, diharapkan infeksi teratasi. Hasil : Peningkatkan penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda infeksi atau inflamasi, drainase purulen, eritema, dan demam. DS DO : Nyeri, demam, menggigil. : Suhu tubuh naik, berkeringat, perubahan mental. Intervensi Aktivitas keperawatan: Awasi tanda vital. Dugaan adanya infeksi atau terjadinya sepsis, abses, peritonitis. Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptik. Lihat insisi dan balutan. Catat karakteristik drainase luka atau drein (bila dimasukan), adanya eritema. Berikan informasi yang tepat, jujur pada klien atau orang terdekat. Memberikan deteksi dini terjadinya proses infeksi, dan/atau pengawasan penyembuhan yang telah ada sebelumnya. Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan ansietas. Menurunkan risiko penyebaran bakteri. Rasional

30

Ambil contoh drainase bila diindikasikan.

Kultur pewarnaan gram dan sensivitas berguna untuk mengidentifikasikan organisme penyebab dan pilihan terapi.

Berikan antibiotik sesuai indikasi.

Mungkin diberikan secara prifilaktik atau menurunkan jumlah organisme untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya pada rongga abdomen.

Bantu irigasi dan drainase bila diindikasikan. Aktivitas kolaboratif: Berikan terapi antibiotik.

Dapat diperlukan untuk mengalirkan isi abses terlokalisir.

Etiologi infeksi berkurang atau bahkan hilang.

Aktivitas lain: Lindungi pasien terhadap kontaminasi silang dengan tidak menugaskan perawat yang sama untuk pasien lain yang mengalami infeksi dan memisahkan ruang perawatan pasien dengan pasien yang terinfeksi. Bersihkan lingkungan dengan benar setelah dipergunakan masing-masing pasien, pertahankan teknik isolasi, terapkan kewaspadaan universal, batasi jumlah Mengendalikan pajanan infeksi. Menghindari penularan infeksi kepada pasien lain yang tidak terpajan sebelumnya.

31

pengunjung.

Dx 2

: Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pasca operasi.

Definisi

: Kondisi individu yang berisiko mengalami dehidrasi vaskular, selular atau intraselular.

Faktor risiko Tujuan

: Status hipermetabolik (proses penyembuhan). : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x24 jam, diharapkan kebutuhan cairan terpenuhi.

Hasil

: Tanda vital dalam batas normal, turgor kulit normal, membran mukosa lembab, produksi urin output seimbang, muntah berhenti.

DS DO

: Tidak nafsu makan, mual, haus. : Perubahan status mental, penurunan turgor kulit dan lidah, penurunan haluaran urin, penurunan pengisisan vena, kulit dan membran mukosa kering, peningkatan tanda-tanda vital, penurunan berat badan yang tiba-tiba, kelemahan Intervensi Rasional

Aktivitas keperawatan: Ukur dan catat intake dan output cairan tubuh serta catat warna urin. Penurunan output urine atau konsentrasi urin pekat mengidentifikasikan dehidrasi membutuhkan peningkatan cairan. Awasi vital sign: Evaluasi nadi, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa. Hipotensi, takikardi, peningkatan pernafasan, mengidentifikasikan kekurangan volume cairan.

32

Catat mual dan muntah.

Mual yang terjadi selama 12-24 jam pasca operasi umumnya karena efek anastesi.

Observasi membran mukosa, turgor kulit, suhu kulit dan palpasi perifer, capillary refill time. Aktivitas kolaboratif: Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian cairan parental.

Kulit dingin atau lembab, denyut perifer lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer.

Cairan parenteral dapat membantu kebutuhan cairan yang dibutuhkan tubuh.

Dx 3 Definisi

: Nyeri (akut) berhubungan dengan insisi pembedahan. : Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah seperti awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan.

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x24 jam, diharapkan nyeri berkurang bahkan hilang.

Hasil DS DO

: Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. : Mengungkapkan secara verbal atau nonverbal. : Posisi menghindari nyeri, perubahan selera makan, perilaku distraksi, menarik diri, pucat, rentang perhatian terbatas.

33

Intervensi Aktivitas keperawatan: Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0 10). Selidiki dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat.

Rasional

Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan. Perubahan pada karakteristik nyeri menunjukkan terjadinya abses atau peritonitis. Memerlukan upaya evaluasi medik dan intervensi.

Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler.

Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis, menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi telentang.

Dorong ambulasi dini.

Meningkatkan normalisasi fungsi organ, contoh merangsang peristaltik dan kelancaran flatus, menurunkan ketidaknyamanan abdomen.

Berikan aktivitas hiburan.

Fokus perhatian kembali, meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

Pertahankan puasa atau penghisapan NGT pada awal.

Menurunkan ketidaknyamanan pada peristaltik usus dini dan iritasi gaster atau muntah.

Aktivitas kolaboratif: Kelola nyeri pasca bedah awal dengan pemberian opiat yang terjadwal (misalnya setiap 4 jam selama 36 jam) Mencegah nyeri lebih lanjut atau berat.

34

atau PCA. Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri menjadi lebih berat. Laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil atau jika keluhan saat ini merupakan perubahan yang bermakna dari pengalaman nyeri pasien di masa lalu. Aktivitas lain: Sesuaikan frekuensi dosis sesuai indikasi melalui pengkajian nyeri dan efek samping. Pemberian analgesik yang tidak sesuai dosis menyebabkan nyeri stabil bahkan tidak berkurang (kurang dosis) atau overdosis dapat menyebabkan kematian. Bantu pasien mengidentifikasi tindakan kenyamanan yang efektif di masa lalu, seperti distraksi, relaksasi, atau kompres hangat atau dingin. Hadir di dekat pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman dan aktivitas lain untuk membantu relaksasi. Bantu pasien lebih fokus pada aktivitas, bukan pada nyeri dan rasa tidak nyaman dengan melakukan pengalihan melalui televisi, radio, tape, dan interaksi dengan pengunjung. Gunakan pendekatan yang positif untuk mengoptimalkan respons pasien Dapat menegakkan evaluasi Distraksi dapat membuat pasien melupakan rasa nyeri yang dialaminya. Pasien mendapatkan rasa nyaman. Mempermudah menemukan metode menghilangkan nyeri. Memanajemen nyeri yang dirasakan pasien.

35

terhadap analgesik. Eksplorasi perasaan takut ketagihan.

keefektifan penggunaan analgesik. Rasa takut ketagihan menyebabkan pasien enggan mengonsumsi obat analgesik sehingga nyeri tidak akan hilang.

Libatkan pasien dalam modalitas peredaan nyeri, kendalikan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi respons pasien terhadap ketidaknyamanan, pastikan pemberian analgesia terapi atau strategi non farmakologi sebelum melakukan prosedur yang menimbulkan nyeri.

Manajemen nyeri pada pasien.

Dx 4 Definisi

: Intoleran aktivitas berhubungan dengan nyeri post operasi. : Ketidakmampuan fisiologis atau psikologis untuk melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang ingin atau harus dilakukan.

Faktor risiko : Kelemahan sekunder terhadap pembedahan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x24 jam, Diharapkan dapat menoleransi aktivitas yang dilakukan dengan Kriteria klien dapat bergerak tanpa pembatasan dan tidak berhatihati dalam bergerak. Hasil : Dapat menoleransi aktivitas, tahan (mampu) terhadap aktivitas yang dilakukan, dapat mengelola nyeri untuk menyelesaikan aktivitas, pelaksanaan akivitas fisik yang penuh vitalitas, mampu melakukan tugas-tugas fisik paling dasar dan aktivitas perawatan pribadi secara mandiri. DS : Ketidaknyamanan saat beraktivitas, melaporkan nyeri apabila

36

melakukan aktivitas. DO : Posisi menghindari nyeri, menarik diri, rentang perhatian kurang. Intervensi Aktivitas keperawatan: Catat respon emosi terhadap mobilitas. Immobilisasi yang dipaksakan akan memperbesar kegelisahan. Berikan aktivitas sesuai dengan keadaan klien. Berikan klien untuk latihan gerakan gerak pasif dan aktif. Bantu klien dalam melakukan aktivitas yang memberatkan. Aktivitas kolaborasi: Berikan pengobatan nyeri sebelum aktivitas, apabila nyeri merupakan salah satu penyebab. Dengan ahli terapi okupasi, fisik atau rekreasi untuk merencanakan dan memantau program aktivitas. Rujuk pasien ke ahli gizi untuk perencanaan diet. Aktivitas lain: Hindari menjadwalkan pelaksanaan aktivitas perawatan selama periode istirahat. Bantu pasien mengubah posisi secara berkala. Menyimpan energi pasien agar saat melakukan aktivitas ketahanan tubuh pasien dapat lebih lama. Menghindari atrofi atau luka dekubitus. Meningkatkan asupan makanan yang kaya energi. Melatih ketahanan tubuh untuk melakukan aktivitas. Menstimulasi pasien melakukan aktivitas tanpa ragu. Menghindari hal yang dapat memperparah keadaan. Meningkatkan kormolitas organ sesuiai dengan yang diharapkan. Memperbaiki mekanika tubuh. Rasional

37

Pantau TTV sebelum, selama, dan setelah aktivitas.

Apabila tidak normal berarti pasien tidak bisa menoleransi aktivitas yang dijalaninya.

Bantu pasien mengidentifikasi plihan aktivitas, aktivitas pada periode saat pasien memiliki energi paling banyak, bantu dengan aktivitas teratur, batasi rangsangan lingkungan, bantu melakukan pemantauan mandiri dengan membuat dan menggunakan dokumentasi tertulis yang mencatat asupan kalori dan energi.

Memanajemen energi tubuh.

Dx 5

: Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan post operatif.

Definisi

: Ketidakmampuan pola melakukan aktivitas untuk diri sendiri yang membantu mencapai tujuan terkait kesehatan dan dapat ditingkatkan.

Faktor risiko : Nyeri. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x24 jam, klien dapat melakukan perawatan diri secara mandiri. Hasil : Mampu melakukan tugas fisik paling dasar dan aktivitas perawatan pribadi secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu. DS : Melaporkan ketidakmampuan untuk mandi, makan, berhias diri secara mandiri. DO : Tidak mampu duduk atau berdiri, tidak mampu meletakkan makanan ke piring, tidak mampu mengingesti makanan secara aman, tidak mampu mengambil makanan dan peralatannya.

38

Intervensi Aktivitas mandiri: Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku klien. Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih. Berikan HE pada klien dan keluarganya tentang pentingnya kebersihan diri. Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya. Bimbing keluarga klien memandikan. Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien.

Rasional

Agar badan menjadi segar, melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kesehatan.

Melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman. Klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga personal higiene. Klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam kebersihan. Keterampilan dapat diterapkan. Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi.

Aktivitas kolaboratif: Tawarkan pengobatan nyeri sebelum mandi. Menggunakan ahli terapi okupasi dan fisiologi sebagai sumber dalam merencanakan tindakan perawatan pasien. Aktivitas lain: Dukung kemandirian dalam melakukan mandi dan higiene oral, berpakaian dan berhias serta makan. Melatih kemandirian dan mengurangi tingkat ketergantungan klien dan meningkatkan harga dirinya. Mengurangi rasa khawatir klien timbulnya rasa nyeri saat mandi. Agar tepat tindakan yang diberikan untuk klien.

39

Tawarkan mencuci tangan setelah eliminasi dan sebelum makan. Bantu pasien memilih pakaian yang mudah dipakai dan dilepas.

Mengurangi terpajannya infeksi.

Memudahkan klien dalam melakukan perawatan diri sehingga kemandirian dapat tercapai.

Berikan keamanan dengan memperthanankan lingkungan yang teratur dan pencahayaan yang baik. Singkirkan benda yang menghambat akses ke toilet.

Menghindari klien terjatuh atau hal lain yang dapat membahayakan keselamatan klien. Memudahkan klien menuju toilet tanpa alat bantu atau hanya sedikit bantuan.

Dx 6

: Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan insisi pembedahan.

Definisi

: Kerusakan pada membran mukosa, jaringan, integumen, atau subkutan.

Tujuan

: Dalam waktu ..x24 jam luka mengering dan dalam waktu ...x24 jam luka sembuh dan pasien dapat pulang.

Hasil

: Struktur dan fungsi fisiologis normal kulit dan membran mukosa utuh, terjadinya penyembuhan luka primer, luka kering dan tidak mengeluarkan nanah atau darah, luka jahitan bersih, dan tidak ada tanda-tanda infeksi.

DS DO

: Nyeri. : Kerusakan atau kehancuran jaringan. Intervensi Rasional

Aktivitas keperawatan:

40

Kaji luka, awasi adanya odema, pada insisi. Jangan melakukan observasi TTV pada sisi yang sakit. Lakukan perawatan luka dengan teknik steril. Kaji daerah sekitar luka, apakah ada pus, atau jahitan basah. Jaga luka jahitan tetap kering dan bersih. Perhatikan intake nutrisi klien.

Deteksi dini tanda infeksi pada pasien. Agar pasien tidak kesakitan.

Mengurangi risiko infeksi pada luka. Deteksi awal jika terjadi gangguan dalam proses penyembuhan. Mengurangi risiko infeksi.

Penting untuk mempercepat penyembuhan luka.

Aktivitas kolaboratif: Berikan es pada daerah luka jika dibutuhkan. Gunakan korset pada abdominal jika dibutuhkan. Beri antibiotik sesuai indikasi. Melindungi luka dari perlukaan mekanis dan kontaminasi. Mengurangi infeksi luka. Mengurangi nyeri yang dirasakan.

Dx 7

: Risiko perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan intake (pembatasan pasca operasi).

Definisi

: Asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.

Faktor risiko : Peningkatan kebutuhan nutrisi sekunder terhadap pembedahan. Tujuan : Dalam waktu ..x24 jam kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat.

41

Hasil

: Klien menunjukkan kebutuhan nutrisi yang adekuat, seimbang antara intake dan output.

DS

: Kram abdomen, nyeri abdomen, persepsi ketidakmampuan mencerna makanan, melaporkan perubahan sensasi rasa, melaporkan kurangnya makanan.

DO

: Kekurangan makanan, bising usus hiperaktif, membran mukosa pucat. Intervensi Rasional

Aktivitas keperawatan: Jelaskan pentingnya masukan nutrisi harian yang optimal. Penyembuhan luka memerlukan masukan cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral untuk pembentukan fibroblas dan jaringan granulasi serta pembentukan kolagen. Pantau status hipermetabolisme (hiperglikemia, keseimbangan nitrogen negatif, penurunan berat badan, peningkatan frekuensi pernapasan). Ambil tindakan untuk menurunkan nyeri. Nyeri menyebabkan keletihan dan mual yang dapat menurunkan nafsu makan. Evaluasi kemungkinan mual dan muntah. Pengertian klien tentang sumber dan kenormalan mual dan muntah mengurangi ansietas yang dapat membantu mengurangi gejala. Lakukan tindakan untuk mengurangi mual dan muntah. Memberikan perbaikan masukan oral saat tidak mual dan muntah. Hipermetabolisme diperkirakan tiga sampai empat kali pada hari pertama pasca operasi.

42

Pertahankan higiene oral yang baik.

Mulut yang bersih dan segar dapat merangsang nafsu makan dan mengurangi mual.

Aktivitas kolaboratif: Berikan agen anti mimetik sebelum makan bila diindikasikan. Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan protein pasien yang mengalami ketidakadekuatan asupan protein atau kehilangan protein. Penyembuhan luka memerlukan masukan cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral untuk pembentukan fibroblas dan jaringan granulasi serta pembentukan kolagen. Diskusikan dengan dokter kebutuhan stimulasi nafsu makan, makanan pelengkap, pemberian makanan melalui slang, atau nutrisi parenteral total. Agar asupan kalori yang adekuat dapat dipertahankan. Mengurangi mual dan muntah.

Dx 8

: Konstipasi berhubungan dengan efek pembedahan, perubahan diet, imobilisasi.

Definisi

: Penurunan frekuensi normal defekasi disertai pengeluaran feses yang sulit atau tidak tuntas atau pengeluaran feses yang sangat keras dan kering karena penurunan motilitas usus.

Tujuan

: Dalam waktu ..x24 jam eliminasi fekal dapat dilakukan secara adekuat.

Hasil

: Pola defekasi normal, kecukupan air dalam kompartemen intrasel dan ekstrasel tubuh.

DS

: Nyeri abdomen, nyeri tekan abdomen dengan atau tanpa resistansi otot yang dapat dipalpasi, anoreksia, perasaan penuh pada rektum,

43

sakit kepala, kelelahan umum, perasaan penuh atau tekanan pada rektum. DO : Perubahan pola defekasi, penurunan volume feses, feses kering, keras, dan padat, bising usus hipoaktif atau hiperaktif, massa abdomen dapat dipalpasi, massa rektal dapat dipalpasi, bunyi pekak pada perkusi abdomen, flatus berat. Intervensi Aktivitas keperawatan: Kaji bising usus untuk menentukan kapan memberikan cairan. Jelaskan efek aktivitas harian pada eliminasi dan bantu ambulasi sesuai kebutuhan. Adanya bising usus menunjukkan kembalinya peristaltik. Aktivitas mempengaruhi eliminasi usus dengan memperbaiki tonus otot abdomen dan merangsang nafsu makan serta peristaltik. Tingkatkan faktor faktor yang membantu eliminasi yang optimal (diet seimbang, masukan cairan yang adekuat, stimulasi lingkungan rumah). Diet seimbang tinggi serat merangsang peristaltik. Masukan cairan yang adekuat diperlukan untuk mempertahankan pola defekasi dan meningkatkan konsistensi feses. Aktivitas kolaboratif: Beri tahu dokter bila bising usus tidak terdengar dalam dalam enam sampai sepuluh jam pasca operasi atau bila tidak terjadi elminasi dalam dua sampai tiga hari pasca operasi. Konsultasi dengan ahli gizi untuk meningkatkan serat dan cairan dalam diet. Serat dan cairan akan melunakkan massa feses sehingga mudah untuk dieliminasikan. Tidak adanya bising usus dapat menandakan paralitik ileus, tidak adanya defekasi dapat menandakan obstruksi. Rasional

44

Minta program pada dokter untuk memberikan bantuan eliminasi (diet serat tinggi, pelunak feses, enema, dan laksatif). Aktivitas lain: Anjurkan pasien meminta obat nyeri sebelum defeksi. Berikan privasi dan keamanan untuk pasien selama defekasi.

Mempermudah melakukan defekasi.

Memfasilitasi pengeluaran feses tanpa nyeri. Rasa nyaman dapat mempermudah defekasi.

Dx 9

: Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi.

Definisi Tujuan

: Tidak ada atau kurang informasi kognitif. : Dalam ...x24 jam menunjukkan pemahaman atas segala informasi yang diberikan.

Hasil

: Menyatakan pemahaman proses penyakit dan perawatan yang dianjurkan serta berpartisipasi dalam program pengobatan.

DS DO

: Mengungkapkan masalah secara verbal. : Tidak mengikuti instruksi yang diberikan secara akurat, performa uji tidak akurat, perilaku tidak sesuai. Intervensi Rasional

Aktivitas keperawatan: Kaji ulang pembatasan aktivitas pasca operasi. Diskusikan fase pemulihan setelah operasi (hal yang harus dan tidak Memberikan informasi untuk intervensi yang sesuai. Pemahaman tentang tindakan yang harus dan tidak boleh dilakukan

45

boleh dilakukan setelah operasi, mengenai mobilitas dini, olahraga, mengangkat beban berat, penggunaan pakaian diskusikan cara perawatan insisi). Diskusikan cara perawatan insisi.

dapat meningkatkan proses penyembuhan.

Pemahaman meningkatkan kerjasama dengan program terapi, meningkatkan penyembuhan dan proses perbaikan.

Diskusikan gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh: peningkatan nyeri, edema luka, kemerahan dan demam). Aktivitas kolaboratif: Buat rencana pengajaran multidisipliner yang terkoordinasi. Rencanakan penyesuaian dalam terapi bersama pasien dan dokter. Aktivitas lain: Berinteraksi demgan pasien dengan cara tidak menghakimi untuk memfasilitasi pembelajaran.

Upaya intervensi menurunkan risiko komplikasi serius, contoh lambatnya penyembuhan.

Meningkatkan pemahaman pasien dari sudut pandang manapun. Memfasilitasi kemampuan pasien mengikuti program terapi.

Bila pasien merasa dihargai dan merasa disamakan derajatnya akan mengikuti instruksi perawat.

Evaluasi Dx 1 : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan. 1. Faktor risiko infeksi hilang dibuktikan oleh pengendalian risiko komunitas: status imun, keparahan infeksi: penyembuhan luka: primer dan sekunder.
46

2. Pasien memperlihatkan pengendalian risiko yang dibuktikan oleh mengikuti strategi pengendalian pemajanan dan menggunakan metode pengendalian penularan infeksi.

Dx 2

: Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pasca operasi. Kekurangan volume cairan akan dicegah dibuktikan oleh keseimbangan cairan, keseimbangan elektrolit dan asam basa, hidrasi, dan status nutrisi: asupan makanan dan cairan.

Dx 3

: Nyeri (akut) berhubungan dengan insisi pembedahan.

1. Memperlihatkan pengendalian nyeri dibuktikan oleh indikator mengenali awitan nyeri, menggunakan tindakan pencegahan, dan melaporkan nyeri dapat dikendalikan. 2. Menunjukkan tingkat nyeri dibuktikan oleh indikator ekspresi nyeri pada wajah, gelisah atau ketegangan otot, durasi episode nyeri, merintih, dan menangis. Dx 4 : Intoleran aktivitas berhubungan dengan nyeri post operasi.

1. Menoleransi aktivitas yang bisa dilakukan dibuktikan oleh toleransi aktivitas: ketahanan, penghematan energi, kebugaran fisik, energi psikomotorik, dan perawatan diri: aktivitas kehidupan sehart-hari. 2. Menunjukkan toleransi aktivitas dibuktikan oleh indikator saturasi oksigen saat beraktivitas, frekuensi pernapasan saat beraktivitas, kemampuan untuk berbicara saat beraktivitas fisik. 3. Mendemonstrasikan penghematan energi dibuktikan oleh indikator menyadari keterbatasan energi, menyeimbangkan aktivitas dan istirahat, dan mengatur jadwal aktivitas untuk menghemat energi. Dx 5 : Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan post operatif.

47

1. Menunjukkan perawatan diri: aktivitas kehidupan sehari-hari dibuktikan oleh indikator mandi, higiene, higiene oral, berpakaian, berhias, makan, dan eliminasi tidak ada gangguan. 2. Mempertahankan mobilitas yang diperlukan untuk ke toilet dan menyediakan perlengkapan mandi. 3. Menggunakan deodoran. 4. Mengungkapkan kepuasan dalam mandi sendiri, berpakaian dan berhias, makan, dan eliminasi. 5. Mengenakan pakaian dan rambut secara rapi. 6. Menunujukkan asupan makanan dan cairanh yang adekuat. 7. Mengenali dan berespons terhadap urgensi untuk berkemih dan/atau defekasi. 8. Mampu duduk dan turun kloset. 9. Membersihkan diri setelah eliminasi. Dx 6 : Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan insisi pembedahan. 1. 2. 3. 4. 5. Dx 7 Pasien dapat mendemonstrasikan aktivitas perawatan luka yang efektif. Memiliki nadi kuat dan simetris. Memiliki warna kulit normal. Memiliki suhu tubuh normal. Tidak mengalami nyeri pada luka. : Risiko perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan intake (pembatasan pasca operasi). 1. Memperlihatkan status gizi: asupan makanan dan cairan dibuktikan oleh indikator adekuatnya pemberian makanan lewat slang, atau nutrisi parenteral total atau asupan cairan IV.

48

2. Pasien mempertahankan berat badan ____ kg atau bertambah ___ kg pada _____ (tanggal). 3. Pasien dapat menjelaskan komponen diet bergizi sehat. 4. Menoleransi diet yang dianjurkan. 5. Memiliki nilai laboratorium (misalnya transferin, albumin, dan elektrolit) dalam batas normal. 6. Melaporkan tingkat energi yang adekuat. Dx 8 : Konstipasi berhubungan dengan efek pembedahan, perubahan diet, imobilisasi. 1. Konstipasi menurun dibuktikan oleh pola eliminasi tidak terganggu, feses lunak dan berbentuk, tidak ada nyeri saat defekasi, dan mengeluarkan feses tanpa bantuan. 2. Pasien akan menunjukkan pengetahuan program defekasi yang dibutuhkan untuk mengatasi efek samping obat. 3. Melaporkan keluarnya feses disertai berkurangnya nyeri dan mengejan. 4. Memperlihatkan hidrasi yang adekuat (turgor kulit baik, asupan cairan kira-kira sama dengan haluaran). Dx 9 : Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi. 1. Memperlihatkan pengetahuantentang proses penyakit dan penyembuhan yang dialaminya. 2. Mengidentifikasi kebutuhan terhadap informasi tambhan tentang program terapi.

49

B. Pembahasan Kasus Berkaitan dengan Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan medis pada kasus apendiktomi mengarah pada penanganan apendiks agar tidak terjadi komplikasi yang lebih buruk, seperti perforasi. Bila melihat dari kasus, seorang laki-laki berumur 22 tahun yang memiliki gejala nyeri perut dari pertengahan perut lalu 6 jam kemudian berpindah di kuadran kanan bawah , dengan anoreksia, mual, demam 38 C yang disertai leukositosis 12.000 mikroliter dan neutrofil 85%, maka dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami apendisitis akut yang telah terjadi peradangan. Diagnosa yang sudah ditegakkan dengan melakukan berbagai

pemeriksaan baik anamnesa, fisik, maupun laboratorium dan diagnostik, maka perlu dilakukan tindakan apendiktomi segera, mengingat apendisitis akut yang menyerang dapat mengakibatkan perforasi yang berujung pada peritonitis (peradangan pertonium). Jika melihat dari kasus, maka perlu dilakukan operasi apendiktomi terbuka, karena dengan operasi ini, visualisasi yang terjadi pada daerah tersebut dapat terbukti, apakah sudah terjadi peritonitis yang sudah perforasi atau risiko perforasi. Selain itu, bila klien belum mengalami perforasi, maka sebelum tindakan operasi klien diberikan antibiotik IV dengan dosis tunggal. Namun, bila sudah terjadi perforasi, maka klien harus diberikan antibiotik kombinasi yang adekuat.

50

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Apendisitis merupakan kondisi dimana terjadi infeksi pada umbai apendiks dan merupakan penyakit bedah abdomen yang paling sering terjadi. Banyak penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya peradangan pada umbai apendiks seperti infeksi bakteri, fekalit, parasit, dan konstipasi. Apabila hal tersebut dibiarkan akan menyebabkan ulserasi dan parahnya lagi mengakibatkan perforasi. Apendisitis diawali oleh beberapa gejala seperti nyeri pada umbilikus, mual, muntah, nafsu makan menurun, dan demam ringan. Apendisitis harus ditangani dengan intervensi keperawatan dan penatalaksanaan medis yang sesuai dengan klasifikasi apendisitis yang dialami pasien. Penatalaksanaan medis yang diberikan berupa farmakoterapi dan non farmakoterapi seperti pembedahan. Apabila pembedahan

diindikasikan, maka perawat harus memberikan asuhan keperawatan perioperatif pada pasien.

51

DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M. (2005). Medical Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes. St. Louis: Elsevier Saunders Boedihartono. (1994). Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta: EGC. Brooker, Christine. (2001). Kamus Saku Keperawatan. Jakarta : EGC. Muttaqin, A., & Sari, K. (2011). Gangguan gastrointestinal: aplikasi asuhan keperawatan medical bedah. Jakarta: Salemba Medika. Nasrul Effendi. (1995). Pengantar Proses Keperawatan. Jakarta: EGC. Norton, Jeffrey. A., Barie, Philip S., etc. (2008). Surgery Basic Science and Clinical Evidence. Secon edition. New York: Springer. Oswari. E., (2000). Bedah & perawatannya. Jakarta: Gaya Baru. Price, S. A. (2005). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: EGC. Schrock, Theodore R. (1991). Ilmu bedah Terjemahan edisi 7. Jakarta: EGC. Sjamsuhidajat, R. & Jong, W. D. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC. Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah : Brunner Suddarth, Vol. 1. Jakarta: EGC. Wibowo, Soetamto, dkk. (2001). Pedoman Teknik Operasi OPTEK. Surabaya: Airlangga University Press.

52