Anda di halaman 1dari 9

Tike

Cyperus esculentus L

Botani
Famili : Cyperaceae Nama Ilmiah : Cyperus esculentus L Nama Indonesia : Tike atau Teki Deskripsi singkat : rimpang kekuningan ditutupi

dengan sisik-sisik yang pucat, rimpang seringkali menghilang sesudah umbi terbentuk, umbi membulat telur sampai membulat. Batang langsing, tegar. Daun agak pendek atau lebih panjang dari pada batang. Perbungaan tunggal atau majemuk, renggang sampai rapat, menyerupai payung, buliran terdiri atas 8-16 bunga, sekam berurat 7, kuning emas sampai coklat pucat. Buah menyegi tiga, membulat telur sungsang

Potensi Hasil
Beberapa jenis Cyperus ditanam untuk dimakan umbinya

(terutama pada saat paceklik/kekurangan makanan), untuk diambil batangnya yang enak dimakan (sebagai sayuran atau sebagai pakan ternak). Teki menghasilkan umbi yang bisa dimakan secara segar, dikukus atau dipanggang serta ditumbuk untuk membuat tepung yang digunakan dalam pembuatan roti. Minyak dapat dihasilkan dari ekstrak umbi. Batang yang sudah kering dapat digunakan untuk membuat tikar dan anyaman. Umbi dan bagian-bagian yang ada di atas tanah juga dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Di Indramayu, Tike diolah menjadi emping dan dijadikan makanan khas Indramayu sebagai oleh-oleh. Bentuk dan rasanya mirip emping melinjo, tetapi emping tike memiliki rasa yang lebih renyah, lebih gurih, dan warnanya putih bercampur coklat kehitaman

Lingkungan
Pada dasarnya Tike adalah tanaman yang sering dianggap

sebagai pengganggu (gulma) sehingga lingkungan tumbuhnya juga luas, karena Tike memiliki daya tumbuh yang kuat dan dapat beradaptasi di lingkungan manapun. Namun secara spesifik, Tike tergolong tanaman terrestrial yaitu tanaman yang tumbuh di daratan. Cyperus esculentus tumbuh di padang rumput basah musiman, tanah-tanah pertanian yang beririgasi, padang rumput basah dan sepanjang aliran air. Tike juga tahan terhadap daerah yang sama sekali kering tetapi tidak bertoleransi terhadap naungan. Suhu optimum rata-rata adalah 27-30C, dan variasi curah hujan optimumnya 6001200 mm. Lebih menyukai tanah-tanah liat berpasir dengan pH 5.5-6.5, tetapi jenis tersebut tumbuh pada semua macam tipe tanah dengan drainase bagus dan bertoleransi terhadap tanah-tanah yang mengandung garam. Fotoperiode pendek 8-12 jam mendukung pembentukan umbi, sedangkan fotoperiode panjang mendukung pertumbuhan vegetatif lainnya.

Budidaya
Umumnya

tike tidak dibudidayakan secara komersial, karena tanaman ini masih dianggap sebagai gulma pengganggu. Namun apabila ingin membudidayakan tike, dapat dilakukan dengan menggunakan umbinya yang kecil-kecil. Daya tumbuhnya juga relatif tinggi.

Pasca Panen
Tidak ada perlakuan pasca panen khusus yang

dilakukan terhadap tike. Namun apabila ingin digunakan untuk emping, berikut adalah perlakuan terhadap tike yang dapat dilakukan :
Emping tike dibuat dari umbi, bukan akar, sehingga

perlu dilakukan pengumpulan umbi-umbi tike yang bergerombol (rimpang), kecil-kecil, dan sekilas mirip akar. Proses pembuatannya mirip dengan proses pembuatan emping melinjo, disangrai dulu, lalu dipukul-pukul sampai pipih dan gepeng, dijemur, kemudian digoreng. Biasanya dikemas dalam plastik, dalam bentuk yang sudah digoreng atau masih berupa bahan setengah jadi. Karena umbinya kecil-kecil, ukuran empingnya sudah dipastikan kecil-kecil juga, lebih kecil dari emping melinjo

Gambar Tike (Cyperus esculentus L)

Gambar 1. Tanaman tike

Gambar 2. Umbi tike

Gambar 3. Emping tike