Anda di halaman 1dari 4

LAVA BANTAL Lava Bantal (pillow lava), sesuai dengan namanya, aliran lava ini bentuknya menyerupai bantal

yang tumpang tindih. Ukuran dari lava bantal ini sekitar 30 60 cm, dengan jarak antar bantal berdekatan yang diantaranya diisi oleh batuan klastik. Sering dijumpai bersamaan dengan batuan sedimen marine sehingga dapat disimpulkan terbentuk di bawah permukaan air. Lava bantal terbentuk akibat dari lava hasil erupsi lelehan yang langsung kontak dengan fluida (masa air, bisa di laut atau danau). Pembekuan yang cepat karena kontak dengan masa air menyebabkan mineral-mineralnya tidak terbentuk dengan baik, dan membentuk geometri mirip bantal sehingga disebut lava bantal atau pillow lava. STEP-POOL MORFOLOGI Satu lagi kenampakan morfologi yang dapat ditemukan pada daerah sungai, tepatnya pada dasar sungai adalah Morfologi Step-Pool. Morfologi Step Pool merupakan bentukan dasar sungai yang menyerupai anak tangga, bentukan anak tangga tersebut dipengaruhi oleh material sedimen hasil transportasi sungainya. Morfologi dasar sungai terbentuk karena material sedimen yang bergradasi tinggi, tersusun mulai dari bongkah-bongkah besar hingga material sedimen berukuran pasir sampai lempung. Material-material berukuran besar akan menjadi Step atau undakan pada anak tangga dan material-material yang lebih halus akan menjadi Pool atau pijakan pada anak tangga. Pool sangat berpotensi sebagai habitat hewan dan tumbuhan yang sangat baik, karena gradasi material sedimennya yang halus dan arusnya yang tenang, sedangkan steep berpotensi sebagai dam sabo atau groundsill alami yang menahan material sedimen dan memperlambat arus sungai. Sehingga sungai dengan morfologi step-pool disimpulkan dapat menjadi ekosistem yang baik antara makhluk hidup dengan lingkungan sekitarnya. Step-Pool sering ditemukan pada sungai-sungai yang terdapat di daerah pegunungan maupun hutan, yang memiliki arus aliran air musiman yang sangat tinggi. Sungai bermofologi Step-Pool sangat baik untuk mengontrol banjir yang umumnya terjadi karena hujan lebat yang terjadi pada daerah pegunungan ditambah dengan turunnya juga salju. Karena arus alirannya yang deras dan pelepasan energinya yang tinggi pada hulu sungai, sungai mampu mengangkut(berkompetensi) material-material sedimen berukuran bongkah.

SPUR Spur yaitu bagian kepala dari meander. Spurs merupakan kenampakan morfologi pada daerah sungai atau umumnya pada bentang alam fluviatil, yaitu kenampakan dua buah slope bersebrangan yang saling menjorok ke lembah sungai berselang-seling sehingga berbentuk seperti resleting yang saling mengunci. Spurs terbentuk karena erosi vertikal yang terjadi sangat dominan pada saat proses peremajaan sungai, yaitu yang hanya terjadi pada daerah hulu yang sangat curam karena terletak pada perbukitan yang tinggi. Mekanismenya, bukan spurs yang terbentuk terlebih dahulu lalu sungai mengikuti alurnya, namun sungai yang awalnya merupakan air permukaanlah yang membentuk spurs. Air permukaan yang tengah membentuk sungai pada daerah hulu harus mengerosi perbukitan yang tinggi dan umumnya sangat terjal, karena itulah erosi vertikal berjalan sangat dominan dan profil V yang terbentuk. Dalam proses pengerosiannya air permukaan terus mengikis batuan ke arah vertikal, lalu mengalir terus ke hilir menuruni bukit, saat proses pemanjangan sungai ke daerah hilir inilah kerap kali air permukaan menemukan batuan yang sangat resisten terhadap erosi, oleh sebab itu air harus mencari jalan lain yang batuannya lebih mudah dierosi . Akibatnya sambil mengikis ke arah vertikal, alur sungai mengelak-ngelok mencari bidang lemah bukit yang litologinya lebih unresisten. Akhirnya terbentuklah kenampakan spurs atau profil V berselangseling sebagai hasil dari erosi vertikal intensif dan kelokan alur air permukaan ke daerah hilir yang berjalan bersamaan. SPIT Spit (lidah pasir) terbentuk ketika gelombang dominan dan arus membawa s edimen menjadi dataran yang memanjang, menjauhi headland yang tererosi ( atau sumber sedimen lain). Bentuk dari spits ini disampaikan pada spits dapat membesar dengan bentuk yang bermacammacam, dan secara umum akan mengikuti arah gelombang dominan (arah sedime n transport). Spits yang melengkung (recurve spits), dapat terjadi bila kondisi gelo mbang berubah dari kondisi yang membentuk spits tersebut.

LAGUNA Laguna (atau lagoon dalam bahasa Inggris) adalah sekumpulan air asin yang terpisah dari laut oleh penghalang yang berupa pasir, batu karang atau semacamnya. Jadi, air yang tertutup di belakang gugusan karang (barrier reef) atau pulaupulau atau di dalam atol disebut laguna. Istilah lagoon dalam bahasa Inggris dimulai tahun 1769. Diadaptasi dari laguna Venesia (cf Latin lacuna, 'ruang kosong'), yang secara khusus menunjuk ke pembatas Venesia, tanah pembendung air laut, yang melindungi dari Laut Adriatik dengan pantai penghalang Lido (lihat Laguna Venesia). Laguna menunjuk ke laguna pantai yang terbentuk oleh pasir atau karang di pantai yang dangkal dan laguna atol yang terbentuk dari pertumbuhan terumbu karang. Dari bahasa Inggris inilah kata laguna dalam bahasa Indonesia berasal. Laguna pantai biasa ditemukan di pantai dengan pasang surut relatif kecil. Ia mencakup kira-kira 13 persen dari keseluruhan garis pantai. Umumnya memanjang sejajar dengan pantai dan dipisahkan dari laut oleh pulau penghalang, pasir dan bebatuan atau terumbu karang. Penghalang laguna bukan karang dibentuk oleh aksi gelombang atas arus pelabuhan yang terus menerus membuat sedimen kasar lepas pantai. Sekali penghalang laguna terbentuk, sedimen yang lebih runcing bisa menetap di air yang relatif tenang di belakang penghalang, termasuk sedimen yang dibawa ke laguna oleh sungai. Khasnya laguna pesisir

memiliki bukaan sempit ke laut. Sebagai akibatnya, keadaan air dalam laguna bisa agak berbeda dari air terbuka di laut dalam hal suhu, salinitas, oksigen yang dibebaskan dan muatan sedimen.

TRIANGULAR FACET Triangular facet merupakan salahsatu penampakan oleh proses bentang alam struktural. Dimana dicirikan adanya aliran-aliran air pada suatu bidang miring, dimana aliran tersebut membentuk segitiga. Genesa Proses dimana terjadinya suatu struktur aliran seperti itu diakibatkan oleh awal mula terkbentuknya suatu bidang miring dimana pada permukaan bidang miring tersebut adanya garis gerus akibat proses sesar. Gerus hasil sesar itu merupakan saluran bagi air untuk mengalir. Akibat adanya aliran air terjadinya pengikisan dan terbentuknya suatu aliran yang akhirnya membentuk kenampakan segitiga. Dalam morfologi ini terbentuknya pola penyaluran distribusi, sehingga dari pusat menyebar sehingga akibat aliran air yang membetuk seperti gambaran garis membentuk segitiga.