Anda di halaman 1dari 27

DATA KUALITATIF STATISTIK INDUSTRI

KELOMPOK II : ANDI CAHYO ENELIS ( H1F111003 ) RIZQI ANSHORI ( H1F111014 ) DENI SETIADI ( H1F111049 ) IMAM CHOIRI SUTRISNO ( H1F111029 ) AKHMAD FAKHRUR ROZAK ( H1F111202 )

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS TEKNIK TEKNIK MESIN BANJARBARU 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan. Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar dengan judul DATA KUALITATIF Lambung Mangkurat Banjarbaru. Terima kasih disampaikan kepada Adeilia Noor Syarif ,MT selaku dosen mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini. Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, agar dapat memenuhi tugas mata kuliah Statistik Industri. di Fakultas Teknik Universitas

Banjarbaru,28 Februari 2013

Penulis

DATA KUALITATIF

Data Kualitatif ( Qualitative Data ) D a t a k u a l i t a t i f s e c a r a s e d e r h a n a b i s a d i s e b u t d a t a ya n g b u k a n b e r u p a a n g k a . D a t a kualitatif mempunyai ciri tidak bisa dilalukan operasi matematik seperti penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Data kualitatif mempunyai ciri tidak bisa dilalukan operasi matematik seperti penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Contohnya : seperti jenis kelamin, pendidikan, warna, suku, dan sebagainya.

CONTOH DATA KUALITATIF

1. Data Dua Warna Favorit Siswa Dibawah 10 Tahun No 1 2 3 4 5 6 7 Nama AdeHermawan Eka Safitri Joshua Okta N Reggy Hadiyatna RenataChairih Karina WiwitNovianti Yunita Astuti Warna 1 Hitam Merah Biru Hijau Putih Biru Hijau Warna 2 Ungu Kuning Kuning Merah Hitam Merah Kuning

2. Data Penilaian Pengunjung Terhadap Pelayanan Restoran V No Nama Makanan Minuman Tempat 1 HandraSaputra Memuaskan Cukup Buruk 2 atriaYudha Cukup Cukup Sangat Buruk 3 Eka Anggraini Cukup Memuaskan Cukup

Harga Cukup Murah Mahal

PENELITIAN KUALITATIF Proses Penelitian Kualitatif 1. 2. 3. 4. 5. Pemilihan proyek suatu masalah Merumuskan pertanyaan Mengumpulkan data Mentabulasi data Menganalisis data

Penelitian kualitatif yang dapat dikuantifikasikan Tidak semua penelitian kualitatif bisa dikuantifikasikan. Syaratnya: - Kerangka penelitian - Metodologi penelitian - Prosedur analisis Semuanya harus sesuai dengan kaidah ilmiah: valid dan reliable. Jika syarat terpenuhi, data kualitatif dapat diubah menjadi data kuantitatif yang sepadan _ membuat indeks Tahapan dalam penyusunan kerangka indeks _ Merumuskan definisi/dimensi _ Merumuskan indikator untuk tiap dimensi _ Memberi bobot bagi tiap indikator _ Merumuskan skala untuk tiap indikator Contoh kasus: Indeks tingkat kesejahteraan/kemiskinan - Definisi/dimensi kesejahteraan/kemiskinan - Indikator kesejahteraan/kemiskinan - Bobot untuk tiap indicator kesejahteraan/kemiskinan - Skala untuk tiap indicator kesejahteraan/kemiskinan

Asumsi Pradigma Data Kualitatif ASUMSI PERTANYAAN Asumsi ontologis Apakal realitas itu? KUALITATIF Realitas itu subyektif, ganda dan sebagai dilihat oleh penelitinya. Asumsi Bagaimanakah hubungan antara Peneliti berinteraksi dengan epistemologis peneliti dengan yang diteliti? yang diteliti. Asumsi aksiologis Bagaimanakah peranan nilai? Terikat nilai dan bias. Asumsi retorik Bagaimanakah bahasa Informalpenelitian itu? Melibatkan keputusankeputusan Suaranya personal

Asumsi metodologis

Bagaimanakah proses penelitiannya?

Menggunakan katakata kualitatif yang telah diterima. Proses induktifFaktor-faktor yang terbentuk secara stimulan dan timbal balik Rancangan berkembang; kategorikategorinya diidentifikasi selama proses penelitian Terikat konteks

Pola=pola dan teori dikembangkan untuk pemahaman Akurat dan reliabel

Data kualitatif bisa dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Nominal Data tipe nominal adalah data yang paling rendah dalam pengukuran data. Jika suatu pengukuran data hanya menghasilkan satu dan hanya satu-satunya kategori , data tersebuta d a l a h d a t a n o m i n a l ( d a t a k a t e g o r i ) . M i s a l , p r o s e s p e n d a f t a r a n t e m p a t t i n g g a l 4 0 responden dalam suatu penelitian. Dalam kasus ini setiap orang akan bertempat tinggal disuatu tempat tertentu (berdasarkan pada KTP), tidak bisa ditempat lain. Misal, Amir berdomisili di Solo, maka dia (dianggap) tidak tinggal di Yogyakarta, atau punya duaKTP. Jadi, data tempat tin ggal adalah data nomial karena Amir hanya satu dan satu-satunya, tidak bisa lebih dari satu, tempat tinggal yang ditunjukan dengan KTP. 2. Ordinal Data ordial, seperti pada nominal, adalah juga data kualitatif namun dengan level yang l e b i h t i n g g i d a r i p a d a d a t a n o m i n a l . J i k a p a d a d a t a n o m i n a l , s e m u a d a t a k a t e g o r i dianggap sama, pada data ordinal, ada tingkat data. Misal pada data jenis kelamin diatas,lelaki dianggap setara dengan wanita, atau dalam data tempat kelahiran, data Yogyakartadianggap sama dengan data Solo, Surabya, boyolali daan seterusnya.

B. CONTOH PROSES PENELITIAN DATA KUALITATIF Proses penelitian disajikan menurut tahap-tahapnya, yaitu: (1) Tahap Pra-lapangan, (2) Tahap Kegiatan Lapangan, dan (3) Tahap Pasca-lapangan. 1. Tahap Pra-lapangan Beberapa kegiatan dilakukan sebelum peneliti memasuki lapangan. Masing-masing adalah: (1) Penyusunan rancangan awal penelitian, (2) Pengurusan ijin penelitian, (3) Penjajakan lapangan dan penyempurnaan rancangan penelitian,

(4) Pemilihan dan interaksi dengan subjek dan informan, dan (5) Penyiapan piranti pembantu untuk kegiatan lapangan. Perlu dikemukakan, peneliti menaruh minat dan kepedulian terhadap gejala menglaju dan akibat-akibat sosialnya. Pengamatan sepintas sudah dilakukan jauh sebelum rancangan penelitian disusun dan diajukan sebagai topik penelitian. Berbekal pengamatan awal dan telaah pustaka, peneliti mengajukan usulan penelitian tentang mobilitas penduduk dan perubahan di pedesaan. Usulan yang diajukan dan diseminarkan dengan mengundang teman sejawat dan pakar. Karena berpendekatan kualitatif, usulan penelitian itu dipandang bersifat sementara (tentative). Karena itu peluang seminar digunakan untuk menangkap kritik dan masukan, baik terhadap topik maupun metode penelitian. Berdasarkan kritik dan masukan tersebut, peneliti membenahi rancangan penelitiannya dan melakukan penjajakan lapangan. Penjajakan lapangan dilakukan dengan tiga teknik secara simultan dan lentur, yaitu (a) pengamatan; peneliti mengamati secara langsung tentang gejala- gejala umum permasalahan, misalnya arus menglaju pada pagi dan sore hari, (b) wawancara; secara aksidental peneliti mewawancari beberapa informan dan tokoh masyarakat, (c) telaah dokumen; peneliti memilih dan merekam data dokumen yang relevan, baik yang menyangkut Bandulan maupun Kotamadya Dati II Malang. Perumusan masalah dan pemilihan metode penelitian yang lebih tepat dilakukan lagi berdasarkan penjajakan lapangan (grand tour observation). Sepanjang kegiatan lapangan, ternyata pusat perhatian dan teknik-teknik terus mengalami penajaman dan penyesuaian. Dalam ungkapan Lincoln dan Guba (1985: 208), kecenderungan rancangan penelitian yang terus-menerus mengalami penyesuaian berdasarkan interaksi antara peneliti dengan konteks ini disebut rancangan membaharu (emergent design). Berdasarkan penjajakan lapangan, peneliti menetapkan tema pokok penelitian ini, yaitu: perubahan sosial di mintakat penglaju (commuters' zone). Pusat perhatian diberika pada peran penglaju dalam perubahan sosial di Bandulan, Kecamatan Sukun, Kotamadya Malang. Secara rinci pusat perhatian ini mencakup beberapa pertanyaan sebagaimana diajukan dalam bab pendahuluan, yaitu:

(1) Faktor apa saja, baik dari dalam diri, dari dalam desa, maupun dari luar desa, yang mendorong perilaku menglaju pada sebagian penduduk Bandulan? Apakah makna menglaju sebagaimana dihayati oleh mereka?, (2) Bagaimanakah ragam gaya hidup, pola interaksi sosial, solidaritas dan peran sosial masing-masing kategori empiris penduduk dalam perubahan sosial di Bandulan?, dan (3) Akibat-akibat sosial apa saja yang terjadi karena banyaknya penduduk yang menglaju ke luar Bandulan, baik pada sistem nilai dan kepercayaan, pranata sosial dan ekonomi, dan pola pelapisan sosial sebagaimana dirasakan oleh masyarakat setempat?

2. Tahap Pekerjaan Lapangan Sepanjang pelaksanaan penelitian, ternyata penyempurnaan tidak hanya menyangkut pusat perhatian penelitian, melainkan juga pada metode penelitiannya. Bogdan dan Taylor (1975:126) memang menegaskan agar para peneliti sosial mendidik (educate) dirinya sendiri. "To be educated is to learn to create a new. We must constantly create new methods and new approaches". Konsep sampel dalam penelitian ini berkaitan dengan bagaimana memilih informan atau situasi sosial tertentu yang dapat memberikan informasi mantap dan terpercaya mengenai unsur-unsur pusat perhatian penelitian. Pemilihan informan mengikuti pola bola salju (snow ball sampling). Bila pengenalan dan interaksi sosial dengan responden berhasil maka ditanyakan kepada orang tersebut siapa-siapa lagi yang dikenal atau disebut secara tidak langsung olehnya. Dalam menentukan jumlah dan waktu berinteraksi dengan sumber data, peneliti menggunakan konsep sampling yang dianjurkan oleh Lincoln dan Guba (1985), yaitu maximum variation sampling to document unique variations. Peneliti akan menghentikan pengumpulan data apabila dari sumber data sudah tidak ditemukan lagi ragam baru. Dengan konsep ini, jumlah sumber data bukan merupakan kepedulian utama, melainkan ketuntasan perolehan informasi dengan keragaman yang ada. Tidak semua penduduk bisa memberikan data yang diperlukan. Karena itu, hanya 25 orang sumber data yang diwawancarai secara mendalam. Masing-masing adalah 14 orang penduduk asli penglaju, 6 orang penduduk asli bukan penglaju, dan 5 orang penduduk pendatang penglaju.

Karena data utama penelitian ini diperoleh berdasarkan interaksi dengan responden dalam latar alamiah, maka beberapa perlengkapan dipersiapkan hanya untuk memudahkan, misalnya : (1) tustel, (2) tape recorder, dan (3) alat tulis termasuk lembar catatan lapangan. Perlengkapan ini digunakan apabila tidak mengganggu kewajaran interaksi sosial. Pengamatan dilakukan dalam suasana alamiah yang wajar. Pada tahap awal, pengamatan lebih bersifat tersamar. Teknik ini seringkali memaksa peneliti melakukan penyamaran. Misalnya: untuk mengamati aspek-aspek yang berhubungan dengan perilaku dan gaya hidup, peneliti beranjang-sana di rumah informan. Sambil berbincang-bincang, peneliti mencermati cara berbicara, berpakaian, penataan ruang, gaya bangunan rumah, benda-benda simbolik dan sebagainya. Ketersamaran dalam pengamatan ini dikurangi sedikit demi sedikit seirama dengan semakin akrabnya hubungan antara pengamat dengan informan. Ketika suasana akrab dan terbuka sudah tercipta, peneliti bisa mengkonfirmasikan hasil pengamatan melalui wawancara dengan informan. Dengan wawancara, peneliti berupaya mendapatkan informasi dengan bertatap muka secara fisik danbertanya-jawab dengan informan. Dengan teknik ini, peneliti berperan sekaligus sebagai piranti pengumpul data. Selama wawancara, peneliti juga mencermati perilaku gestural informan dalam menjawab pertanyaan. Untuk menghindari kekakuan suasana wawancara, tidak digunakan teknik wawancara terstruktur. Bahkan wawancara dalam penelitian ini seringkali dilakukan secara spontan, yakni tidak melalui suatu perjanjian waktu dan tempat terlebih dahulu dengan informan. Dengan ini peneliti selalu berupaya memanfaatkan kesempatan dan tempat-tempat yang paling tepat untuk melakukan wawancara. Selama kegiatan lapangan peneliti merasakan bahwa pengalaman sosialisasi, usia dan atribut- atribut pribadi peneliti bisa mempengaruhi interaksi peneliti dengan informan. Semakin mirip latar belakang informan dengan peneliti, semakin lancar proses pengamatan dan wawancara. Sebaliknya, ketika mewawancarai informan yang berbeda latar belakang, peneliti harus menyesuaikan diri dengan mereka. Banyak ragam cara menyesuaikan diri. Di antaranya dengan cara berpakaian, bahasa yang digunakan, waktu wawancara, hingga penyamaran seolah-olah peneliti memiliki sikap dan kesenangan yang sama dengan

informan. Karena kendala itu, pengumpulan data terhadap penduduk asli, baik penglaju dan lebih-lebih yang bukan penglaju, berjalan agak lamban. Kejenuhan, bahkan rasa putus-asa kadang-kadang muncul dan menyerang peneliti. Dalam keadaan demikian, peneliti beristirahat untuk mengendapkan, membenahi catatan lapangan, dan merenungkan hasil-hasil yang diperoleh. Dengan cara ini, peneliti bisa menemukan informasi penting yang belum terkumpul. Kedekatan antara tempat tinggal peneliti dengan informan ternyata sangat membantu kegiatan lapangan. Secara tidak sengaja peneliti bisa bertemu dengan informan, sehingga pembicaraan setiap saat bisa berlangsung. Kendati tidak dirancang, bila hasil percakapan itu memiliki arti penting bagi penelitian, akan dicatat dan diperlakukan sebagai data penelitian. Pada dasarnya wawancara dilaksanakan secara simultan dengan pengamatan. Kadang-kadangwawancara merupakan tindak-lanjut dari pengamatan. Misalnya, setelah mengamati suasana rumah tangga dan keluarga informan, peneliti menuliskan hasilnya dalam bentuk catatan lapangan. Wawancara dilakukan setelah itu untuk mengungkapkan makna dari setiap hasil pengamatan yang menarik. Penelaahan dokumentasi dilakukankhususnya untuk mendapatkan data konteks. Kajian dokumentasi di lakukan terhadap catatan-catatan, arsip- arsip, dan sejenisnya termasuk laporan-laporan yang bersangkut paut dengan permasalahan penelitian. Perekaman dokumen menjadi lebih mudah karena dokumen, baik dari kelurahan maupun dari Kotamadya cukup lengkap. Agar tidak menyulitkan lembaga yang menyediakan, peneliti meminta ijin untuk menfoto-copy dokumen-dokumen yang diperlukan atau menyalinnya ke dalam catatan peneliti. Pemeriksaan keabsahan (trustworthiness) data dalam penelitian ini dilakukan dengan empat kriteria sebagaimana dianjurkan oleh Lincoln dan Guba (1985: 289-331). Masing-masing adalah derajat: (1) kepercayaan (credibility), (2) keteralihan (transferability), (3) kebergantungan (dependability), dan (4) kepastian (confirmability).

Untuk meningkatkan derajat kepercayaan data perolehan, dilakukan dengan teknik: (1) perpanjangan keikut-sertaan, (2) ketekunan pengamatan, (3) triangulasi, (4) pemeriksaan sejawat, (5) kecukupan referensial, (6) kajian kasus negatif, dan (7) pengecekan anggota. Kegiatan lapangan penelitian ini semula dijadwal tidak lebih dari enam bulan. Dengan pertimbangan bahwa peningkatan waktu masih memunculkan informasi baru, maka lama kegiatan lapangan diperpanjang. Dengan perpanjangan waktu ini, seperti dikemukakan Moleong (1989), peneliti dapat mempelajari "kebudayaan", menguji kebenaran dan mengurangi distorsi. Dengan mengamati secara tekun, peneliti bisa menemukan ciri-ciri atau unsur-unsur dalam suatu situasi yang sangat relevan dengan peran penglaju dalam perubahan sosial di Bandulan. Bila perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman. Triangulasi dilakukan untuk melihat gejala dari berbagai sudut dan melakukan pengujian temuan dengan menggunakan berbagai sumber informasi dan berbagai teknik. Empat macam triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pemeriksaandengan memanfaatkan sumber, metode, penyidik dan teori. Meskipun Lincoln dan Guba (1985) tidak menganjurkan triangulasi teori, tampaknya Patton (1987: 327) berpendapat lain. Menurutnya, triangulasi antar teori tetap dibutuhkan sebagai penjelasan banding (rival explanation). Dalam penelitian ini, penempatan teori lebih mengikuti anjuran Bogdan dan Taylor (1975). Menurut mereka, teori memberikan suatu penjelasan atau kerangka kerja penafsiran yang memungkinkan peneliti memberi makna pada kekacauan data (morass of data) dan menghubungkan data dengan kejadian-kejadian dan latar yang lain. Karena itu, sangat penting bagi peneliti untuk mengetengahkan temuannya dengan perspektif teoretik lain, khususnya selama tahap pengolahan data penelitian yang intensif.

Pengamatan dan wawancara tidak terstruktur yang diterapkan dalam penelitian ini memang menghasilkan data yang masih kacau. Untuk memilah dan memberi makna pada data tersebut, peneliti tidak bisa tidak harus berpaling kepada teori-teori sosiologi dan antropologi yang relevan. Pemeriksaan sejawat dilakukan dengan cara mengetengahkan (to expose) hasil penelitian, baik yang bersifat sementara maupun hasil akhir, dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat. Dengan cara ini peneliti berusaha mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran, dan mencari peluang untuk menjajaki dan menguji hipotesis yang muncul dari peneliti (pemikiran peneliti). Sebelum menetapkan temuan sebagai kecenderungan pokok, peneliti melakukan pengecekan anggota. Ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan berapa proporsi kasus yang mendukung temuan, dan berapa yang bertentangan dengan temuan. Bila ada penyimpangan dalam kasus-kasus tertentu, peneliti menelaahnya secara lebih cermat. Telaah lebih cermat terhadap kasus-kasus yang menyimpang sering disebut sebagai analisis kasus negatif. Teknik ini dilakukan untuk menelaah kasus-kasus yang saling bertentangan dengan maksud menghaluskan simpulan sampai diperoleh kepastian bahwa simpulan itu benar untuk semua kasus atau setidak-tidaknya sesuatu yang semula tampak bertentangan, akhirnya dapat diliput aspek-aspek yang tidak berkesesuaian tidak lagi termuat. Dengan kata-kata lain dapat dijelaskan "duduk persoalannya". Selain itu, peneliti juga menguji kecukupan acuan dalam menarik simpulan. Kecukupan acuan dalam penelitian ini dilakukan dengan mengajukan kritik internal terhadap temuan penelitian. Berbagai bahan digunakan untuk meneropong temuan penelitian. Usaha meningkatkan keteralihan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara "uraian rinci" (thick description). Untuk itu, peneliti melaporkan hasil penelitiannya secermat dan selengkap mungkin yang menggambarkan konteks dan pokok permasalahan secara jelas. Dengan demikian, peneliti menyediakan apa-apa yang dibutuhkan oleh pembacanya untuk dapat memahami temuan-temuan. Kebergantungan penelitian ini diupayakan dengan audit kebergantungan. Dalam hal ini peneliti memberikan hasil penelitian dan melaporkan proses penelitian termasuk "bekas-bekas" kegiatan yang digunakan. Berdasarkan penelusurannya, seorang auditor dapat menentukan apakah temuan-temuan penelitian telah bersandar pada hasil di lapangan. Kepastian penelitian ini diupayakan dengan memperhatikan topangan catatan data lapangan dan koherensi internal laporan penelitian. Hal ini dilakukan dengan cara

meminta berbagai pihak untuk melakukan audit kesesuaian antara temuan dengan data perolehan dan metode penelitian.

3. Tahap Pasca Lapangan Telah disinggung bahwa penelitian ini menerapkan metode kualitatif, yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata orang baik tertulis maupun lisan dan tingkah laku teramati, termasuk gambar (Bogdan and Taylor, 1975). Walau peneliti tidak sependapat dengan teknik-teknik analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman (1987), model analisis interaktif yang digambarkannya sangat membantu untuk memahami proses penelitian ini. Model analisis interaktif mengandung empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan data, (3) pemaparan data, dan (4) penarikan dan pengujian simpulan. Mengacu model interaktif, analisis data tidak saja dilakukan setelah pengumpulan data, tetapi juga selama pengumpulan data. Selama tahap penarikan simpulan, peneliti selalu merujuk kepada "suara dari lapangan" untuk mendapatkan konfirmabilitas. Analisis selama pengumpulan data (analysis during data collection) dimaksudkan untuk menentukan pusat perhatian (focusing), mengembangkan pertanyaanpertanyaan analitik dan hipotesis awal, serta memberikan dasar bagi analisis pasca pengumpulan data (analysis after data collection). Dengan demikian analisis data dilakukan secara berulang-ulang (cyclical). Pada setiap akhir pengamatan atau wawancara, dicatat hasilnya ke dalam lembar catatan lapangan (field notes). Lembar catatan lapangan ini berisi: (1) teknik yang digunakan, (2) waktu pengumpulan data dan pencatatannya, (3) tempat kegiatan atau wawancara,

(4) paparan hasil dan catatan, dan (5) kesan dan komentar. Contoh catatan lapangan dapat diperiksa pada lampiran. Pendirian ontologis penelitian adalah bahwa tujuan penyelidikan adalah mengembangkan suatu bangunan pengetahuan idiografik dalam bentuk "hipotesis kerja" yang menggambarkan kasus individual (Lincoln and Guba, 1985: 38). Implikasinya, konstruksi realitas, yang dalam hal ini adalah gejala menglaju dan pengaruh sosialnya, tidak dapat dipisahkan dari konteks (kedisinian, Bandulan) dan waktu (kekinian, 1996). Untuk itu peneliti memandang penting untuk menyelidiki secara cermat akar-akar gejala menglaju sebagai konteks kajian. Berdasarkan asal faktor pemicu gejala menglaju peneliti menemukenali tiga kategori faktor, yaitu: (1) dari dalam diri (2) dari dalam desa, dan (3) dari luar desa. Empat teknik analisis data kualitatif sebagaimana dianjurkan oleh Spradley (1979) diterapkan dalam penelitian ini. Masing-masing adalah: (1) analisis ranah (domain analysis), (2) analisis taksonomik (taxonomic analysis), (3) analisis komponensial (componential analysis). dan (4) analisis tema budaya (discovering cultural themes). Analisis ranah bermaksud memperoleh pengertian umum dan relatif menyeluruh mengenai pokok permasalahan. Hasil analisis ini berupa pengetahuan tingkat "permukaan" tentang berbagai ranah atau kategori konseptual. Kategori konseptual ini mewadahi sejumlah kategori atau simbol lain secara tertentu. Pada tahap awal, berdasarkan pola mobilitas hariannya, peneliti menemukenali dua kategori pokok penduduk Bandulan. Masing-masing adalah penduduk penglaju dan bukan penglaju. Berdasarkan asalnya, peneliti menemukenali dua kategori pokok penduduk Bandulan, yaitu: penduduk asli dan penduduk pendatang. Pada analisis taksonomik, pusat perhatian penelitian ditentukan terbatas pada ranah yang sangat berguna dalam upaya memaparkan atau menjelaskan gejala-gejala yang menjadi sasaran penelitian. Pilihan atau pembatasan pusat perhatian dilakukan berdasarkan pertimbangan nilai strategik temuannya bagi program peningkatan

kualitas hidup subyek penelitian atau mengacu pada strategic ethnography (Faisal, 1990 : 43). Analisis taknonomik tidak dilakukan secara murni berdasar data lapangan, tetapi dikonsultasikan dengan bahan-bahan pustaka yang telah ada. Beberapa anggota ranah yang menarik dan dipandang penting dipilih dan diselidiki secara mendalam. Dalam hal ini adalah bagaimana peran masing-masing kategori tersebut dalam proses perubahan sosial yang berlangsung di Bandulan. Analisis komponensial dilakukan untuk mengorganisasikan perbedaan (kontras) antar unsur dalam ranah yang diperoleh melalui pengamatan dan atau wawancara terseleksi. Dalam hemat peneliti, kedalaman pemahaman tercermin dalam kemampuan untuk mengelompokkan dan merinci anggota sesuatu ranah, juga memahami karakteristik tertentu yang berasosiasi dengannya. Dengan mengetahui warga suatu ranah, memahami kesamaan dan hubungan internal, dan perbedaan antar warga dari suatu ranah, dapat diperoleh pengertian menyeluruh dan mendalam serta rinci mengenai suatu pokok permasalahan. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman makna dari masing-masing warga ranah secara holistik. Hasil lacakan kontras di antara warga suatu ranah dimasukkan ke dalam lembar kerja paradigma (Spradley, 1979: 180). Kontras-kontras tersebut selalu diperiksa kembali sebagaimana dalam model analisis interaktif. Ringkasananalisis komponensial, yang digunakan sebagai pemandu penulisan paparan hasil penelitian inidisajikan dalam lampiran. Dalam mengungkap tema-tema budaya, peneliti menggunakan saran yang diberikan oleh Bogdan dan Taylor (1975:82-93). Langkah-langkah yang dilakukan adalah: (1) membaca secara cermat keseluruhan catatan lapangan, (2) memberikan kode pada topik-topik pembicaraan penting, (3) menyusun tipologi, (4) membaca kepustakaan yang terkait dengan masalah dan konteks penelitian. Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Beberapa sub-topik disusun secara deduktif, dengan mendahulukan kaidah pokok yang diikuti dengan kasus dan contoh-contoh. Sub-topik selebihnya disajikan secara induktif, dengan memaparkan kasus dan contoh untuk ditarik kesimpulan umumny

C. Analisis Data Penelitian Kualitatif Pengumpulan data untuk model kualitatif pada umumnya langsung mengadakan analisis saat begitu mendapatkan data. Oleh sebab itu, dalam laporan penelitian kualitatif laporan dan pembahasan menjadi satu. Perlu diingat, saat ini banyak peneliti yang menggunakan model penelitian kualitatif dan kuantitatif sekaligus. Yaitu pada saat melihat hubungan antar variabel menggunakan model kuantitatif dan pada tahap analisis data menggunakan model kualitatif. Akhir-akhir ini, teknik pengumpulan data dengan observasi menjadi sangat menarik. Teknik ini dikenal dengan teknik pengamatan langsung berstruktur. Caranya ialah mengalihkan indikator variabel ke dalam suatu lembar observasi. Fenomena yang diamati ditulis dengan ketat dengan bahasa yang ringkas dan padat. Kemudian alternatif pemberian jawaban penelitian hanya memberi kode tertentu, jika peristiwa itu terjadi. Jika tidak terjadi, diberikan kode yang berbeda. Analisis data hendaknya dilakukan secara bersama begitu selesai wawancara (Sudjarwo, 2001 :73-75). Analisis data penelitian kuantitatif dilakukan diakhir pengumpulan data dengan menggunakan perhitungan statistik, sedangkan penelitian kualitatif, analisis datanya dilakukan sejak awal turun ke lokasi melakukan pengumpulan data, dengan cara mengangsur atau menabung informasi, mereduksi, mengelompokkan dan seterusnya sampai memberikan interpretasi (Hamidi, 2004 : Analisis Data Kualitatif Analsis data sangat memerlukan data yang berupa kalimat-kalimat yang dikumpulkan lewat survei, wawancara, dokumen dan lain-lain yang sudah disusun secara teratur, data itu berupa kata-kata. Menurut Prof. Dr. Sugiyono, analisis data dibagi menjadi dua, yaitu analisis data sebelum di lapangan dan analisis data selama di lapangan. 1. Analisis data sebelum di lapangan, analisis data sebelum memasuki lapangan dilakukan terhadap data yang diperoleh dari studi pendahuluan atau data sekunder sebelum ditentukan fokus penelitian. Namun focus penelitian bersifat sementara dan akan berkembang ketika peneliti memasuki lapangan. 2. Analisis selama di lapangan, analisis ini terbagi ke dalam beberapa tipe, yaitu : 1. Analisis Data Model Miles & Hubberman

Analisis data reduksi (Reduction Data)

Merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, dan abstraksi data kasar yang ada dalam fieldnote. Proses ini berlangsung terus menerus sepanjang jalannya penelitian.bahkan data reduksi sudah dimulai sejak peneliti mengambil keputusan tentang kerangka kerja konseptual, pemilihan kasus, pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan serta mengenai pengumpulan data yang akan dipakai. Data reduction merupakan bagian dari analisis, suatu bentuk analisis yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal yang tidak penting, dan mengatur data sedemikian rupa sehingga kesimpulan dapat dilakukan. Tahapan-tahapan reduksi data meliputi:

Membuat ringkasan atau singkatan Mengkode (coding) o Menelusur tema (memusatkan tema) Membuat gugus-gugus atau batasan-batasan permasalahan

Membuat partisi Menulis memo Data display

Merupakan suatu rakitan organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan penelitian dapat dilakukan. Penyajian data dapat dilakukan dengan uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flow chart atau gambar. the most frequence from of display data for qualitative research data in the past has been narrative text (Miles & Hubberman, 1984). Dalam hal ini display meliputu berbagai jenis matriks, gambar / skema, jaringan kerja keberkaitan kegiatan, tabel. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam mengamati data hasil penelitian.

Conclusion drawing / verification

Kesimpulan awal dalam penelitian kualitatif hanya bersifat sementara, masih dapat berubah apabila terdapat bukti-bukti baru. Namun apabila pada saat penelitian ditemukan bukti-bukti yang valid, maka hasil penelitian dapat dikatakan kredibel atau baik. 1. Analisis Data Model Spradley

Analisis Domain

Yaitu analisis yang ditujukan untuk memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari penelitan atau situasi sosial yang dipakai sebagai pijakan peneliian berikutnya.

Analisis Taksonomi

Analisis berdasarkan data keseluruhan yang telah terkumpul berdasarkan domain yang telah ditetapkan. Domain yang ada diurai secara lebih terperinci untuk menggambarkan struktur. Hasil analisis bisa digambarkan dalam bentuk diagram.

Analisis Komponensial

Analisis yang dipakai untuk mencari cirri yang spesifik pada setiap struktur internal dengan cara mengkontraskan antar elemen. Analisis ini dilakukan melalui observasi dan wawancara terseleksi dengan pertanyaan yang kontras.

Analisis Tema Budaya (Kultural)

Merupakan upaya mencari benang merah yang mengintegrasikan lintas domain yang ada (Sanapiah Faisal, 1990). Dengan ditemukan benang merah dari analisis domain, taksonomi dan kompensial maka selanjutnya akan dapat disusun sebuah konstruksi bangunan dari situasi sosial yang sebelumnya masih remang-remang. Analisis dapat juga dapat dilakukan ketika sedang diadakannya pengumpulan data. Analisis pada waktu pengumpulan data ini terdiri dari berbagai tahapan, yaitu :

Membuat keputusan untuk membatasi lingkup studi. Membuat keputusan tentang tipe studi yang adan dipakai. Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan analitik. Merencanakan pertemuan pengumpulan data dengan mengingat apa yang telah ditemukan sebelumnya. Tulis komentar pengamat terhadap berbagai gagasan yang muncul. Tulis memo mengenai apa yang sedang dipelajari. Uji coba pada semua gagasan dan tema pada subyek. Jelajahi literature pada waktu penelitian di lapangan. Gunakan metafora, analogi, dan konsep.

Sebaliknya, analisis yang dilakukan setaelah pengumpulan data dapt terbagi ke dalam beberapa proses, yaitu :

Pengembangan kategori coding

Kode ini seperti misalnya kode definisi situasi, kode proses, kode aktivitas, kode peristiwa, kode strategi, kode struktur sosial dan pergaulan, dan kode metode. Contoh pengkodean adalah sebagai berikut : a = teknik pengambilan data yang digunakan : wawancara (w), dokumentasi (d), dan untuk observasi (o).

bb = sumber data atau lokasi yang diambil management representative (re), rektor (re), dosen (do), auditor (au), ketua jurusan (kj), dekan (de), mahasiswa (mh), kepala perpustakaan (pu), pembersih (cs), kepala bagian keuangan (ke), kepala LPPM (pm), kepala PSDM (sd), manajer kampus (ka), manajer akademik (oa), manajer on duty (mo), manajer keuangan (ke) dokumen juga tidak luput dari pengkodean, missal manual mutu (mm), manual prosedur (mp), instruksi kerja (ik). Sedangkan untuk observasi, dokumen (do), kelas (kl), ruang dosen (rd), kantor ISO (ki), kantor pusat (kp), kampus (km), ruang tamu (rt), ruang rector (rr), ruang pertemuan (rp), ruang manajer (rm).

Pengembangan tabel / matriks

Tabel / matriks ini dapat berupa tabel konteks (dalam bentuk grafik menunjukkan hubungan antar peran, kelompok/organisasi agar bisa dilihat kontes dari tingkah laku pribadi), matriks checklist (untuk menganalisis data lapangan yang dapat digabungkan kedalam indeks sumatif atau skala), matriks urutan waktu (prinsip dasarnya adalah susunan kronologis, berbagai peristiwa yang saling berhubungan dapat dipaparkan waktu terjadinya, sehingga mudah untuk dimengerti apa yang telah terjadi), matriks peran , matriks kelompok konseptual,matriks pengaruh, matriks dinamika kasus, dan lain sebagainya.

Analisis antar kasus

Analisis ini dilakukan apabila penelitian merupakan studi kasus ganda. Maksudnya adalah apabila tempat penelitian iti tidak hanya satu, namun dalam waktu yang bersamaan. Disini dapat digunakan matriks, diantaranya meta matriks tak beraturan, matriks deskriptif teratur, matriks predictor hasil dengan urutan lokasi, meta matriks tentang urutan waktu, scatterplots (cara yang membeberkan data dari semua kasus pada dua atau lebih dimensi-dimensi yang diminati yang menghubungkan antara yang satu dengan yang lain) dan matriks pengaruh.

Model-model analisis kausal

Model kausal yaitu suatu jaringan kerja berbagai variabel dengan hubungan kausal (sebab-akibat) yang diambil dari analisis kasus ganda. Yang diteiti di sini misalnya matriks predictor dan hasil / akibat, matriks urutan waktu, atau matriks pengaruh dapat menunjukkan kepada kita tentang apa yang berproses, dan dengan apa?. Dari variable ke variable, kita dapat mengerti bahwa x terjadi sebelum y, dan lebih banyak x akan lebih banyak y pula. Keseluruhannya agak bersifat atomistic, dan masih ada dua masalah yang dihadapi.

Menyusun kesimpulan

Miles dan Hubberman (1984) menyarankan dua belas taktik dalam menarik kesimpulan, yaitu : (1) perhitungan, (2) pencatatan pola atau tema, (3) pencarian hal-hal yang masuk akal, (4) pengelompokan, (5) pembuatan metafora, (6) pemilihan variabel, (7) peliputan dari yang khusus ke yang umum, (8) pembuatan faktor, (9) pencatatan hubungn antar variabel, (10) penemuan variabel antara, (11) penyusunan jaringn logis dari sejumlah bukti, dan (12) penyusunan hubungan konseptual dan teoritis.

Mengatur data

Dalam pengaturan data sangat diperlukan pengecekan keabsahan data. Pengecekan tersebut melalui empat tahap, yaitu : 1. 2. 3. 4. Kredibilitas (credibility), derajat kepercayaan. Transferabilitas (transferability), keteralihan Dependabilitas (debendability), ketergantungan. Konfirmabilitas (confirmability), kepastian.

1. Pastikan ranah penelitian yang dipilih dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan peneliti. Hal ini meliputi pemilihan topik yang sesuai minat, kebermanfaatan hasil penelitian, subjek serta latar penelitian yang jelas dan dapat digapai. 2. Tentukan metode penelitian yang sesuai dengan topik yang dipilih.

3. Bangun pertanyaan analitik. Terdapat dua macam pertanyaan, yakni pertanyaanteoretikal substantif (substantive theoretical questions) (fokus pada subjek dan latar khusus penelitian yang tengah dilakukan) dan pertanyaan teoretikal formal (formaltheoretical questions) (tidak berfokus pada subjek dan latar khusus penelitian yangtengah dilakukan, namun bersifat lebih umum). 4. Rencanakan sesi pengumpulan data dengan cermat. 5. Tulis sebanyak mungkin komentar informan atas ide yang peneliti hasilkan berdasarkan temuan penelitian. 6. Catat segala hal yang berhubungan dengan ranah penelitian sebagai hal-hal yangdapat dipelajari lebih lanjut untuk perkembangan topik penelitian baik aspek teori,metode maupun isu substantif. 7. Nilai seberapa akurat dan objektif data yang diambil dari para informan. 8. Mulai bereksplor pada kajian literatur ketika peneliti berada di lapangan. 9. Bermain dengan metafora, analogi dan konsep.10. Gunakan alat-alat visual seperti grafik dan chart misalnya tabel, matrik dandiagram.Tahap selanjutnya setelah hal-hal yang disebutkan di atas adalah analisis daninterpretasi setelah pengumpulan data. Bogdan dan Biklen menyebutnya denganaktivitas membangun kategori data (developing coding categories). 1. Setting/context codes. Kode yang berisi informasi-informasi yang masih umumtentang latar, topik dan subjek penelitian. 2. Definition of the situation codes. Penempatan unit-unit data yang dapatmenunjukkan bagaimana subjek menggambarkan latar dan topik penelitian. 3. Perspectives held by subjects. Kode yang dibentuk berdasarkan alur berpikir subjek terhadap latar dan topik penelitian. 4. Subjects ways of thinking about people and objects. Kode yang dibentuk berdasarkan pemahaman subjek terhadap subjek lainnya, subjek terhadap orang luar,dan subjek terhadap objek yang dapat membangun dunia mereka. 5. Process codes. Kata atau frasa yang memfasilitasi pengkategorian urutan kejadian, perubahan dari waktu ke waktu. 6. Activity codes. Kode yang berisi berbagai catatan perilaku dan tindakan yangkonstan terjadi. 7. Event codes. Kode yang berisi catatan aktivitas khusus yang terjadi pada latar ataukehidupan subjek penelitian. 8. Stategy codes. Kode yang berisi berbagai strategi yang merujuk pada taktik,metode, manuver, dan sejenisnya yang digunakan oleh subjek. 9. Relationship and social structure codes. Pola-pola perilaku subjek yang tidak ditunjukkan di muka umum yang bersifat hubungan (persahabatan, permusuhan, percintaan). 10. Narrative codes. Berisi struktur dan isi pembicaraan yang dikemas menurut versisubjek sendiri yang juga menggambarkan nilai dan kepercayaan sujek. 11. Methods codes. Kode yang berisi prosedur penelitian, masalah-masalah sertasuka-dukanya.Setelah analisis data dilakukan melalui pengkodean, selanjutnya adalah interpretasidata. Dalam hal ini Bogdan dan Biklen menawarkan beberapa saran, antara lain:

1. Mengulas hasil analisis data. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan misalnya apa asumsi dasar interaksi simbolik?, bagaimanatemuan data dikorelasikan dengan premis yang telah dirumuskan? apakah cara berfikir peneliti merefleksikan ide-ide tersebut? Atau peneliti mencoba menggunakankerangka teoretik yang lain? Kerangka apa yang digunakan? 2. Membaca hasil penelitian serupa. Mempelajari bagaimana peneliti lain menggagaskonsep, ide dan teorinya, membingkai data-data mereka, apakah perbedaan dan persamaan data yang dihimpun, apa yang terlewat dari temuan penelitian maupunanalisis data? 3. Berusaha evaluatif terhadap subjek dan situasi penelitian . 4. Mengajukan beberapa pertanyaan dasar, seperti: apa implikasi temuan penelitian bagi kehidupan sehari-hari peneliti? Bagi orang lain? 5. Berspekulasi terhadap asumsi yang dimiliki oleh subjek, berstrategi bagaimanamenginterpretasi temuan. 6. Kemukakan cerita yang mungkin ada untuk menghasilkan pemahaman yangmaksimal atas penelitian yang dilakukan. 7. Buatlah laporan penelitian sejelas mungkin. 2. Barney G. Glaser dan Anselm L. Strauss (1990)Constant Comparative MethodPenyusunan teori yang berasal dari data dapat dilakukan melalui analisis komparatif seperti yang dikemukakan oleh Glaser dan Strauss, meskipun pada awalnya metodeini dikenalkan oleh Weber, Durkheim dan Mannheim. Terdapat empat tahap dalammetode komparatif konstan, yakni 1) membandingkan kejadian yang aplikatif terhadap setiap kategori, 2) mengintegrasi kategori beserta kawasannya, 3)memutuskan batasan teori, dan 4) menulis teori.Ada beberapa saran yang dapat dilakukan jika menggunakan metode ini untuk menganalisis data penelitian. 1. Mengkaji seluruh data yang terhimpun dengan melihat sumber data yakniwawancara, pengamatan dan dokumen. 2. Menelaah semua indikator dari kategori-kategori yang sedang diamati dalamdokumen dan memberinya kode. 3. Membandingkan kode-kode yang sejenis untuk melihat persamaan dan perbedaanyang muncul antar data yang berkode sama. 4. Kesamaan yang muncul antar kode merupakan bentuk keteraturan yang nantinyadapat diklasifikasikan ke dalam sebuah kategori. 5. Perbedaan yang ada merupakan indikasi bahwa data tersebut terkelompokkan kedalam kategori yang berbeda. 6. Proses pengkategorian data selesai bila semua data sudah diberi kode dan semuakode sudah dikelompokan ke dalam kategori. 7. Proses analisis data berakhir bila telah ditentukan kategori-kategori tertentu yangmerupakan kategori penting (esensial) sedangkan kategori yang lain sebagai kategori penunjang dan menyimpulkan hubungan dari semua ketegori yang ada.

3. Anselm L. Strauss dan Juliet Corbin (1990) Grounded TheoryBerikut adalah proses analisis data menurut Strauss dan Corbin yang terdiri dari tigatahap yakni open coding, axial coding dan selective coding yang menghasilkanmatriks kondisional, kemudian diakhiri dengan penyusunan teori substantif berdasarkan matriks yang telah disusun dan temuan penelitian. 1. Open CodingPada proses open coding (pengkodean terbuka), peneliti membentuk kategori awaldari informasi tentang fenomena yang dikaji dengan pemisahan informasi menjadi beberapa kategori (segmen). Di dalam setiap segmen, peneliti berupaya menemukansubsegmen (propertics) dan mencari data untuk membuat dimensi ataumemperlihatkan kemungkinan ekstrim pada kontinum subsegmen tersebut. 2. Axial CodingDalam axial coding (pengkodean poros), peneliti menyusun data dengan cara barusetelah open coding. Rangkaian data ini disajikan dengan menggunakan paradigma pengkodean atau diagram logika melalui beberapa langkah yakni mengidentifikasifenomena sentral, menjajaki kondisi kausal (kategori yang memengaruhi fenomena),menspesifikasi strategi-strategi (tindakan atau interaksi yang dihasilkan fenomenasentral), mengidentifikasi konteks dan kondisi yang menengahinya (luas dansempitnya kondisi yang memengaruhi strategi), dan menggambarkan konsekuensi(hasil strategi). 3. Selective CodingPada proses selective coding (pengkodean terpilih), peneliti mengidentifikasi alur cerita kemudian mencatatkannya berdasarkan pengintegrasian kategori-kategori yangtelah dilakukan pada axial coding. Dalam fase ini proposisi bersyarat (conditional proposition) atau hipotesis dapat dibangun.

KESIMPULAN 1 . D a t a k u a l i t a t i f s e c a r a s e d e r h a n a b i s a d i s e b u t d a t a ya n g b u k a n b e r u p a a n g k a . D a t a kualitatif mempunyai ciri tidak bisa dilalukan operasi matematik seperti penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian 2.Proses Penelitian Kualitatif dilakukan dengan 5 cara yaitu ; 1. 2. 3. 4. 5. Pemilihan proyek suatu masalah Merumuskan pertanyaan Mengumpulkan data Mentabulasi data Menganalisis data

3. Tidak semua penelitian kualitatif bisa dikuantifikasikan. Syaratnya: - Kerangka penelitian - Metodologi penelitian - Prosedur analisis 4. Proses penelitian disajikan menurut tahap-tahapnya, yaitu: (1) Tahap Pra-lapangan, (2) Tahap Kegiatan Lapangan, dan (3) Tahap Pasca-lapangan. 5.Analisis penelitian data kualitatif dapat dilakukan dengan banyak cara

LAMPIRAN-LAMPIRAN