Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas Teknologi Bahan Alam Farmasi ini. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan tugas ini. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sebagai tim penyusun pada khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Jakarta, Mei 2013

Penyusun

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................. 1 DAFTAR ISI .............................................................................................................................................. 2 BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................................. 3 I. II. Latar Belakang .............................................................................................................................. 3 Tujuan ........................................................................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................................... 4 I. II. Bentuk Sediaan ............................................................................................................................. 4 Cara Pembuatan ........................................................................................................................... 4

III. Komposisi Kimia Tanaman ............................................................................................................ 4 IV. Simplisia ........................................................................................................................................ 6 V. Proses Ekstraksi ............................................................................................................................ 6

VI. Cara Identifikasi ............................................................................................................................ 9 VII. Spesifikasi Produk ....................................................................................................................... 12 VIII. Dosis............................................................................................................................................ 12 IX. Cara Pemakaian .......................................................................................................................... 12 BAB III KESIMPULAN & SARAN ............................................................................................................ 14 I. II. Kesimpulan ................................................................................................................................. 14 Saran ........................................................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................. 15

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 2

BAB I PENDAHULUAN
I. Latar Belakang Menyusui adalah kegiatan yang sangat alamiah ketika seorang wanita baru melahirkan. Namun tidak semua wanita dapat menyusui anaknya dengan lancar, bahkan ada yang tidak bisa menyusui karena payudaranya tidak berfungsi dengan benar. Padahal Air Susu Ibu (ASI) tidak diragukan lagi manfaatnya bagi bayi. ASI adalah sumber gizi terbaik bagi tumbuh kembang bayi. Di dalamnya mengandung immunoglobin atau zat kekebalan tubuh. ASI selalu tersedia, bersih, segar, aman dan selalu bersuhu tepat untuk bayi. Manfaat psikisnya tak kalah penting bagi perkembangan emosi dan kepribadian anak. Kapsul Katuk adalah herbal yang terbuat dari 100% daun katuk. Daun Katuk adalah daun dari tanaman Sauropus adrogynus (L) Merr, famili Euphorbiaceae. Mempunyai nama daerah: Memata (Melayu), Simani (Minang), Katuk (Sunda), Kebing & Katukan (Jawa), Kerakur(Madura). Daun katuk merupakan tanaman khas daerah tropis. Tumbuh berlimpah di kawasan Asia, khususnya di dataran Cina, India, Vietnam, Taiwan, Malaysia dan Indonesia. Daun katuk tersusun selang-seling pada satu tangkai, berbentuk lonjong sampai bundar dengan panjang 2,5cm dan lebar 1,25-3cm. bunga daun katuk berbentuk tunggal berkelompok tiga. Buah bertangkai panjang 1,25cm. tanaman katuk dapat diperbanyak dengan stek dari batang yang sudah berkayu. Dari hasil penelitian yang pernah dimuat dalam jurnal Media Litbang Kesehatan volume XIV No. 3 tahun 2004 daun katuk sangat efektif meningkatkan jumlah ASI. Disebutkan, ibu menyusui yang sejak hari kedua setelah melahirkan diberi ekstrak daun katuk sebanyak 3 x 300 mg setiap hari selama 15 hari berturut-turut, produksi ASI meningkat sebanyak 50,7%. Selain itu daun katuk mengandung protein, lemak, kalium, fosfor, besi, vitamin A, B1, dan C yang lengkap. Kandungan nutrisi inilah yang membuat daun katuk melancarkan ASI dengan berperan mencukupi asupan nutrisi. Tanaman yang daunnya bersifat dingin dan manis ini juga mengandung flavonoid, saponin, dan tanin. Kandungan tersebut menyebabkan daun katuk juga berperan sebagai antidemam, melancarkan air seni (diuretic), dan membersihkan darah, sehingga baik untuk ibu yang baru melahirkan. II. Tujuan Kemampuan menyuburkan air susu berhubungan dengan peranannya dalam refleks prolaktin, yaitu refleks yang merangsang alveoli untuk memproduksi susu. Refleks ini dihasilkan dari reaksi antara prolaktin dengan hormon adrenal steroid dan tiroksin. Daun katuk mengandung polifenol dan steroid yang berperan dalam refleks prolaktin.

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


I. Bentuk Sediaan Bentuk Sediaan yang akan dibahas pada daun katuk ini yaitu dalam bentuk kapsul.

II. Cara Pembuatan Budidaya tanaman katuk dikembangkan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro), Bogor. Hasil panennya kemudian diekstraksi untuk melakukan uji toksikologi, uji akut, dan uji subkronik. Ekstrak daun katuk dimasukkan dengan kateter lewat abomasum (lambung ke-4 pada binatang pemamah biak). Dari penelitian selama 12 21 hari itu diperoleh hasil, kualitas air susunya tetap, tapi kuantitasnya naik menjadi 1,5 kalinya Sekarang tinggal melanjutkan lagi dengan uji klinik pada manusia, tambahnya. Untuk keperluan itu dibikinlah formulasi untuk tablet, dan pada Juni 1996 ekstrak daun katuk tersebut berhasil ditabletkan. Diameter tablet itu + 1,4 cm. Memang relative besar. Pasalnya, pil itu masih merupakan fraksi, serat - seratnya banyak, tidak murni.Kalau nanti berhasil ditemukan zat aktifnya, ukurannya akan bias lebih kecil.Barang kali tinggal seperempat atau sepertiganya. III. Komposisi Kimia Tanaman Hasil analisis GCMS pada ekstrak heksana menunjukkan adanya beberapa senyawa alifatik. Pada ekstrak eter terdapat komponen utama yang meliputi : monometil suksinat, asam benzoate dan asam 2-fenilmalonat; serta komponen minor meliputi : terbutol, 2propagiloksan, 4H-piran-4-on, 2-metoksi-6-metil, 3-peten-2-on, 3-(2-furanil),

danasampalmitat. Pada ekstrak etil asetat terdapat komponen utama yang meliputi: sis-2metil-siklopentanol asetat. Kandungan daun katuk meliputi protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C. pirolidinon, dan metal piroglutamat serta p-dodesil fenol sebagai komponen minor.

Adapun komposisi kimia daun katuk dapat dilihat pada Tabel 1.

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 4

Tabel 1. Komposisi Kimia dalam 100 gram Daun Katuk Komponen gizi Energi (kkal) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Serat (g) Abu (g) Kalsium (mg) Fosfor (mg) Besi (mg) Vitamin A (SI) Vitamin C (mg) Vitamin B1 (mg) Vitamin B6 (mg) Vitamin D (g) Karotin (mcg) Air (g) Sumber : Santoso (2009). Kadar 59,0 4,8-6,4 1,0 9,9-11,0 1,5 1,7 204,0 83 2,7-3,5 10.370 164-239 0,1 0,1 3.111 10.020 81

Tanaman katuk dapat meningkatkan produksi ASI diduga berdasarkan efek hormonal dari kandungan kimia sterol yang bersifat estrogenik. Pada penelitian terdahulu daun katuk mengandung efedrin. Daun katuk tua terkandung air 10,8%, lemak 20,8%, protein kasar, 15.0%, serat kasar 31,2%, abu 12,7%, dan BETN 10.2%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tepung daun katuk mengandung air 12%, abu 8,91%, lemak 26,32%, protein 23,13%, karbohidrat 29,64%, -carotene (mg/100 g) 165,05 dan energi (kal) 134,10. (Santoso, 2009).daun katuk juga mempunyai sifat antikuman dan antiprotozoa. Daun dan akar katuk sering digunakan sebagai obat luar untuk mengobati borok, bisul, koreng, demam, darah kotor dan frambusia.

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 5

Zat yang berfungsi sebagai antikuman pada daun katuk diduga adalah tanin dan flavonoid. Tanin bersifat toksis terhadap fungi berfilamen, bakteri maupun ragi. Mekanisme kerjanya yaitu berdasarkan sifat astrigensinya dapat menghambat enzim tertentu; berdasarkan aksi terhadap membran; dan berdasarkan pembentukan kompleks tanin dengan ion logam. Selain itu, dalam daun katuk juga terdapat senyawa alkaloid yang juga bersifat antiprotozoa dan antikuman. Ekstrak metanol, ekstrak eter dan ekstrak n-butanol daun katuk mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhosa (Santoso, 2009). IV. Simplisia Daun Katuk ( Sauropi folium) a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Tracheobionta : Spermatophyta : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Rosidae : Euphorbiales : Euphorbiaceae : Sauropus : Sauropus androgynus (L.) Merr.

V. Proses Ekstrasi Daun Katuk Segar

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 6

Dikeringkan tak langsung dengan matahari

Dikeringkan lanjutan menggunakan oven

Daun katuk kering

PEMURNIAN Diekstraksi dengan metode maserasi (solvent = etanol)

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 7

Filtrat dievaporasi dengan rotary evaporator

Ekstraksi Kental

Dikeringkan dengan metode freeze drying


Penjelasan :

Daun katuk segar dikeringkan tak langsung dengan bantuan sinar matahari untuk menjaga kebersihan dari simplisisa yang dikeringkan, dan untuk mengurangi kadar air dari simplisia. Kemudian dilanjutkan dengan pengeringan dengan oven untuk mencapai bobot tetap. Untuk menghindari resiko dari pemanasan yang akan merusak senyawa, dapat digunakan metode ekstraksi maserasi yang tidak menggunakan pemanasan serta prosedur kerjanya yang cukup mudah. Maserasi merupakan penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperature kamar, terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan didalam sel dengan diluar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan diluar sel dan didalam sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalamcairan penyari, tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin. Pelarut yang baik untuk ekstraksi adalah pelarut yang mempunyai daya melarutkan yang tinggi terhadap zat yang diekstraksi. Daya melarutkan yang tinggi ini berhubungan dengan kepolaran pelarut dan kepolaran senyawa yang diekstraksi. Terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa polar larut dalam pelarut polar dan sebaliknya.

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 8

Kami memilih etanol karena memiliki sifat seperti diatas dan juga sifatnya yang mudah menguap. Pemekatan dengan rotary evaporator dengan proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat, cairan penyari dapat menguap 5-10C dibawah titik didih pelarutnya disebabkan oleh karena adanya penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekulmolekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung. Rotary evaporator kami pilih karena selain alasan diatas, alat ini juga dapat berlangsung pada suhu yang lebih rendah yang cocok untuk bahan-bahan yang termolabil seperti daun katuk. Pada prinsipnya pengeringan beku terdiri atas dua urutan proses, yaitu pembekuan yang dilanjutkan dengan pengeringan. Dalam hal ini, proses pengeringan berlangsung pada saat bahan dalam keadaan beku, sehingga proses perubahan fase yang terjadi adalah sublimasi. Metode pengeringan yang kami pilih adalah metode peneringan yang menggunakan metode freeze drying karena metode ini menggunakan suhu yang relative rendah jadi cocok untuk hasil ekstraksi simplisia yang tidak stabil denga suhu ruang, dan juga keunggulan dari metode ini adalah tidak akan mengubah tekstur serta kandungan yang ada dalam simplisia daun katuk.

VI. Cara Identifikasi Tanaman katu (Sauropus androgynus (L.) Merr. yang diambil dari kebun budidaya PT. Kimia Farma Bandung dideterminasi di Balai Penelitian dan Pengembangan Botani Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, LIPI Bogor. Sejumlah 1 gram serbuk bahan ditambah 100 ml air panas, dididihkan selama 5 menit dan disaring, filtrat digunakan sebagai larutan percobaan. Ke dalam 5 ml larutan percobaan ditambahkan sedikit serbuk magnesium, 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil-alkohol, dikocok dengan kuat dan dibiarkan memisah. Terbentuknya warna jingga atau merah jingga pada lapisan amil-alkohol menunjukkan adanya senyawa flavonoid. Daun katu (Sauropus androgynus (L.) Merr. diambil dari dari tanaman yang terdapat di kebun budidaya PT. Kimia Farma Bandung, pada waktu tumbuhan tersebut sedang berbunga. Setelah dibersihkan dari bagian tumbuhan lain, dari bahan organik asing dan pengotor lainnya, daun dikeringkan secara alami di udara dengan tidak dikenai sinar matahari langsung, kemudian digiling dan diayak dengan ayakan nomor 6, sehingga diperoleh serbuk dengan derajat kehalusan tertentu. Ekstraksi dilakukan secara maserasi bertingkat dengan menggunakan pelarut mula-mula n-heksana kemudian etanol 95%. Sejumlah 1 kg serbuk kering daun katu pertama-tama diekstrasi dengan n-heksana berkali-kali sampai filtrat jernih. Ampas dikeringkan kemudian diekstraksi dengan etanol 95% berkali-kali hingga filtrat jernih. Masingmasing ekstrak dipekatkan dengan penguap putar vakum sehingga diperoleh ekstrak kental. Pada penelitian ini yang digunakan adalah ekstrak etanol. Bagan ekstraksi dapat dilihat pada Gambar.

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 9

Isolasi senyawa flavonoid dikerjakan dengan metode Charaux-Paris. Ekstrak pekat etanol dalam air panas, disaring kemudian diekstraksi dengan n-heksana, fraksi n-heksana dikumpulkan dan di pekatkan, diperoleh fraksi n-heksana pekat. Fraksi air diekstraksi dengan kloroform, fraksi kloroform dikumpulkan dan dipekatkan diperoleh fraksi kloroform pekat. Fraksi air diekstrasi lagi dengan etil asetat, fraksi etil asetat dikumpulkan dan dipekatkan, diperoleh fraksi etil asetat pekat. Kemudian fraksi air diekstraksi dengan n-butanol, fraksi n-butanol dikumpulkan dan dipekatkan, sehingga diperoleh fraksi n-butanol pekat. Ekstraksi dengan n-butanol dilakukan 3 kali, setiap kali dengan pelarut

n-butanol yang baru, sehingga diperoleh fraksi n-butanol I, fraksi n-butanol II dan fraksi n-butanol .

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 10

Telah dilakukan penelitian identifikasi dengan kromatografi lapis tipis dan daya hambat terhadap bakteri uji pada ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus Merr.) yang dibuat dengan dua cara, yaitu maserasi dan soksletasi dengan pelarut metanol. Ekstrak metanol yang diperoleh dikeringkan, sebagian ekstrak metanol kering diekstraksi lagi dengan dietileter dan dengan n-butanol jenuh air. Diuji 6 macam ekstrak, yaitu: 1) ekstrak metanol maserasi, 2) ekstrak eter maserasi, 3) ekstrak n- butanol maserasi, 4) ekstrak metanol soksletasi, 5) ekstrak eter soksletasi, dan 6) ekstrak n-butanol soksletasi. Bakteri uji yang digunakan adalah Staphylococcusaureus, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhosa dan Escherichia coli.

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 11

VII. Spesifikasi Produk Komposisi : Setiap kapsul mengandung ekstrak yang setara dengan 1 gram simplisia Seuru sandrogius L. merr folium 1 gram simplisia Nigella sativa semen Khasiat : - Membantu melancarkan dan memperbanyak jumlah ASI - Mencegah Osteoporosis - Membangkitkan vitalitas pria - Sebagai sumber gizi - Sebagai pewarna makanan - Sebagai tanaman obat - Dll : 80 Kapsul

Isi

Izin Depkes RI: 503/4683/2 Diproduksi oleh : UD RACHMA SARI Sukoharjo Didistribusikan oleh : UD TAZAKKA Sukoharjo Peringatan: TIDAK DIJUAL BEBAS, UNTUK KALANGAN SENDIRI

VIII. Dosis Dosis yang dikonsumsi untuk ibu menyusui yaitu 3 x 2 kapsul/hari IX. Cara Pemakaian Cara mengonsumsi daun katuk secara alami adalah sebagai berikut : A. Sebagai lalapan Pilih 50 gram daun katuk yang mulus dan segar, bersihkan dari tangkai-tangkainya, lalu cuci bersih. Sementara itu, didihkan segelas air dan tambahkan seperempat sendok teh garam. Masukkan daun katuk ke dalam air yang mendidih, aduk-aduk lalu tutup selama 3-4 menit. Setelah itu angkat dan tiriskan.

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 12

B. Sebagai sayur Bersihkan daun katuk, lalu rebus air bersama bumbu yang sudah dilembutkan. Masukkan daun katuk ke dalam rebusan air, aduk-aduk dan tutup. Biarkan selama 5 menit, lalu angkat. C. Sebagai minuman Ambil 300 gram daun katuk yang segar dan bersih, kemudian rebus dengan 1,5 gelas air selama 15 menit. Saring rebusan dan minum air hasil saringan tersebut. Pada era modern seperti sekarang ini sudah banyak dijumpai yang lebih praktis penggunaannya yaitu dalam bentuk ekstrak yang sudah dikemas dalam sediaan kapsul. Aturan pemakaian dalam bentuk kapsul yaitu 3 x 2 kapsul/hari 1 jam sebelum makan.

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 13

BAB III KESIMPULAN & SARAN


I. Kesimpulan ASI adalah sumber gizi terbaik bagi tumbuh kembang bayi. Di dalamnya mengandung immunoglobin atau zat kekebalan tubuh. ASI selalu tersedia, bersih, segar, aman dan selalu bersuhu tepat untuk bayi. Manfaat psikisnya tak kalah penting bagi perkembangan emosi dan kepribadian anak. Daun Katuk adalah daun dari tanaman Sauropus adrogynus (L) Merr, famili Euphorbiaceae. Daun katuk mengandung protein, lemak, kalium, fosfor, besi, vitamin A, B1, dan C yang lengkap. Kandungan nutrisi inilah yang membuat daun katuk melancarkan ASI dengan berperan mencukupi asupan nutrisi. Tanaman yang daunnya bersifat dingin dan manis ini juga mengandung flavonoid, saponin, dan tanin. Kandungan tersebut menyebabkan daun katuk juga berperan sebagai antidemam, melancarkan air seni (diuretic), dan membersihkan darah, sehingga baik untuk ibu yang baru melahirkan. Pada era modern seperti sekarang ini sudah banyak dijumpai yang lebih praktis penggunaannya yaitu dalam bentuk ekstrak yang sudah dikemas dalam sediaan kapsul.

II. Saran Gunakan kapsul katuk 2 x 1 kapsul/hari atau sesuai aturan Dr. Sisilia Indradjaja, B.Med, MHM (dokter ahli herba) mengatakan : Herba pelancar ASI justru efektif jika dikonsumsi pada awal masa menyusui. Kelancarannya tetap bergantung pada hisapan bayi, kondisi psikologis ibu dan nutrisi yang cukup. Sebaiknya hindari herba yang dapat mengurangi produksi ASI seperti Saga (Salvia officinalis) dan Peterseli (Pertoselinum crispum); herba yang sifat kerjanya mempengaruhi hormon seperti Adas (Foeniculum vulgare); bersifat pencahar seperti Lidah Buaya (Aloe vera)".

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 14

DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/99179625/DAUN-KATUK http://agengamat.obat-alami.net/tag/manfaat-ekstrak-daun-katuk http://digilib.uin-suka.ac.id/4220/1/BAB%20I,%20V,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf http://www.tokomarwa.com/index.php?pg=detail&noid=1508 http://www.facebook.com/permalink.php?id=317851761348&story_fbid=10151271 436781349 http://pernikmuslim.com/herbal-khusus-perempuan/2167-kapsul-lansi-kapsullancar-asi-untuk-ibu-menyusui.html http://science.howstuffworks.com/innovation/edible-innovations/freezedrying.htmhttp://yefrichan.wordpress.com/2011/02/26/pengeringan-beku-freezedrying/http://repository.ipb.ac.id/ http://daunkatuk.com/tanaman-daun-katuk/ http://daunkatuk.com/khasiat-daun-katuk/ http://toko-ikhtiyar.com/produk-154-katuk.html

TEKNOLOGI BAHAN ALAM FARMASI

Page 15