Anda di halaman 1dari 21

JETri, Volume 8, Nomor 2, Februari 2009, Halaman 57-68, ISSN 1412-0372

IMPLEMENTASI DWDM PADA ERIONTM


*

Harumi Yuniarti* & Bambang Cholis Suudi** harumiwo@yahoo.com, **bcholis@yahoo.com Dosen-Dosen Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti

Abstract WDM technology has some advantages such as to enhance the network capacity, flexibility, and also has good prospect in the future (at international scale network of the undersea fiber optics). Based on the advantages in serving the future telecommunication, new technique called DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing) has been applied in instrument designed to serve dense traffic communication. With its product called Ericsson Optical Networking (ERIONTM), Ericsson has launched Errion Linier and Erion Flexing Bus. This instrument could transmit 32 channels at same time at operated 0,8 nm channel grid at third window. Furthermore, it has equipped with traffic protection to solve some failures and management control at operators overview to keep the best performance simultaneously. Keywords: WDM, DWDM, Optical Amplifier, EDFA, Channel Capacity, Digital Cross Connect (DXC.

1. Pendahuluan Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat maka dibutuhkan juga solusi untuk menghadapi masalah-masalah yang akan timbul. Oleh karena itu penggunaan serat optik sebagai saluran transmisi kabel laut suatu jaringan telekomunikasi merupakan salah satu pilihan yang fleksibel. Tantangan yang akan dihadapi dalam merancang suatu jaringan telekomunikasi untuk abad milenium ini, adalah peningkatan bandwith dan data rate untuk mengimbangi perkembangan informasi yang semakin maju pesat, diantaranya penerapan pada sistem komunikasi yang memanfaatkan teknologi WDM (Wavelength Division Multiplexing). Teknologi WDM ini merupakan salah satu pemanfaatan konsep multiplexing dibidang optik dan telah mendapat perhatian khusus dibidang komunikasi serat optik, dimana dapat ditransmisikan < 10 panjang gelombang (channel). Kelebihan utama yang diperoleh dari penggunaan teknologi ini adalah: - Meningkatkan kapasitas jaringan tanpa menambah biaya pemasangan instalasi. - Ekspansi dari sistem yang bersifat fleksibel

JETri, Volume 8, Nomor 2, Februari 2009, Halaman 57-68, ISSN 1412-0372

- Menerapkan suatu jalur yang bersifat evolusioner untuk pelayanan dimasa mendatang pada jaringan yang sudah ada. Pada perkembangan selanjutnya WDM telah disempurnakan menjadi DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing), dimana lebih banyak atau lebih padat (> 40 channel) panjang gelombang yang dapat ditransmisikan dengan channel width dan channel spacing yang lebih kecil. Teknik ini memungkinkan penyediaan layanan berbagai bentuk informasi seperti misalnya e-mail, video, multimedia, data dan suara yang dapat dilakukan dalam satu jaringan optik, sehingga format yang digunakan untuk membawa berbagai bentuk informasi ini dapat dibawa melalui optical layer. (Trischitta P,R., 1998: 63) Akhir-akhir ini teknik DWDM banyak digunakan pada jaringan komunikasi jarak jauh yang memiliki karakteristik ultrahigh bandwidth (sampai dengan THz) dan ultra high speed. Dengan adanya komunikasi teknologi dibidang laser dan perangkat optoelektronik telah didisain sebuah perangkat DWDM. Berikut akan diuraikan tentang konsep, konfigurasi fisik sistem, komponen-komponen jaringan, traffic protection dalam hal ini merupakan bagian yang sangat penting bagi operator untuk menangani kegagalan pada proses transmisi akibat terputusnya kabel serat optik dan kegagalan pada perangkat dalam sistem, serta platform management yang digunakan pada salah satu produk bernama Ericsson Optical Networking (ERIONTM), dikeluarkan oleh Ericsson. 2. Aplikasi DWDM pada Jaringan Komunikasi Optik Saat ini suatu sistem DWDM menggunakan tiap-tiap panjang gelombang sebagai channel yang berfungsi untuk membawa data-data dalam berbagai format misalnya, Synchronous Optical Network (SONET) / Synchronous Digital Hierarchy (SDH), Asynchronous Transfer Mode (ATM), dll, dan dapat juga dalam bentuk suara, video, atau Internet Protoca (IPl). Teknik DWDM ini memanfaatkan teknologi Optik (Laser, Optical Amplifier, Multiplexer/OADM, dll, untuk membangkitkan kapasitas panjang gelombang yang lebih besar pada range 1550 nm. Rekomendasi diberikan oleh ITU-TG 692 adalah 43 channel yang digunakan pada range panjang gelombang 1530 nm sampai 1565 nm dengan line spacing 100 GHz. Perkembangan penggunaannya dalam suatu jaringan optik komersial telah mencapai kemampuan membawa 16, 40, 80, dan 128 channel atau panjang gelombang (tiap-tiap fiber), dengan kemampuan transmisi data 10 Gbps atau 40 Gbps tiap-tiap channel, sehingga total bandwidth yang

58

Harumi Yuniarti & Bambang Cholis Su'udi. Implentasi DWDM Pada ErionTM

dimiliki dapat mencapai 400 Gbps, 800 Gbps, dan 1,2 Tbps. (Kartalopoulus,SV., 2000: 209) 3. Perangkat Jaringan Secara garis besar perangkat jaringan terdiri dari perangkat terminal. Perangkat tersebut dihubungkan oleh suatu interface yang disebut Cable Terminating Box (CTB). Perangkat terminal ini terdiri dari Terminal Transmission Equipment (TTE), SDH Multiplexing, Line Monitoring Equipment (LME), Sistem Survaillance Equipment (SSE) dan Power Feeding Equipment (PFE). Dalam perangkat Terminal Transmission Equipment (TTE) berfungsi sebagai penghubung yang bekerja secara full duplex (dua arah). Fungsi Operasional TTE adalah sebagai perangkat modulasi dan pemodulasi sinyal informasi yang akan dikirim dan diterima, memultiplexing dan demultiplexing sinyal, mengkonversi sinyal elektrik ke bentuk sinyal optik digital dan sebaliknya serta mengawasi kinerja sistem. Dewasa ini fungsi-fungsi tersebut diatas telah diaplikasikan dengan teknik DWDM. Untuk memperoleh performasi yang maksimum dari suatu sistem DWDM pada jaringan komunikasi optik, perlu diperhatikan beberapa masalah dalam perancangannya, antara lain: 1. Channel Capacity dan Wavelength Management 2. Optical Amplification 3. Jenis Fiber yang digunakan sebagai media transmisi 4. Aggregate Bandwidth Management 5. Optical Power Budget Channel Capacity dan Wavelength Management Channel Capacity dan Wavelength Management sangat diperlukan dalam penanggulangan bila terjadi gangguan, dan tergantung dari topologi jaringan dan jumlah channel yang digunakan, serta pemilihan frequensi tengah dan channel spacing dari masing-masing channel merupakan parameter penting untuk memperoleh proses transmisi yang memiliki gangguan terkecil. Optical Amplification Pada suatu jaringan komunikasi optik, kebutuhan terhadap penguat sinyal tergantung pada topologi, panjang fiber yang digunakan dalam transmisi, karakteristik komponen optik yang digunakan dan parameter

59

JETri, Volume 8, Nomor 2, Februari 2009, Halaman 57-68, ISSN 1412-0372

yang menentukan dalam perancangannya (channel width, channel spacing, jenis fiber yang digunakan, bit rate, teknik modulasi, dll).Oleh karena itu penggunaan EDFA (Erbium-doped fiber amplifiers) pada sistem DWDM diperlukan untuk penguatan sinyal yang akan memulihkan daya sinyal optik apabila dibutuhkan. Perlu diperhatikan juga bahwa EDFA dapat bekerja optimal pada range panjang gelombang 1,55 m. Jenis Serat Optik sebagai media transmisi Pada penentuan tipe serat optik yang digunakan sebagai media transmisi perlu diperhatikan pemilihan spektrum frequensi yang akan digunakan, sehingga diperoleh proses transmisi yang memiliki loss paling rendah (lihat Tabel 1.) Tabel 1. Pemanfaatan Frekuensi pada aplikasi serat optik Window First Second Third Fourth Fifth Fifth Label S C L Range (m) 820-900 1280-1350 1528-1561 1561-1620 1350-1450 1450-1528 Jenis fiber MMF SMF SMF DSF SMF-all wave SMF Aplikasi LAN-type DWDM DWDM DWDM DWDM DWDM/MAN

Aggregate Bandwidth Management DWDM pada suatu jaringan komunikasi optik akan melibatkan sejumlah panjang gelombang yang masing-masing membawa sinyal optik, dimana masing-masing komponen sinyal optik tersebut membawa informasi dengan protokol yang bervariasi dan bit rate yang berbeda, oleh karena itu diperlukan suatu perangkat yang dapat menangani aggregate band width pada sebuah serat optik untuk memberikan pelayanan yang diinginkan. (Kartalopoulus,SV., 2000: 192) Optical Power Budget Optical Power Budget pada teknik DWDM digunakan untuk menghitung banyaknya losses yang terjadi pada sinyal tiap komponen optik pada saat transmisi. Dengan tujuan utama adalah untuk mempertahankan daya sinyal optik yang diterima di receiver lebih besar dari pada sensitivitas dari receiver tersebut.

60

Harumi Yuniarti & Bambang Cholis Su'udi. Implentasi DWDM Pada ErionTM

4. Teknologi DWDM pada Erion Ericsson Optical Networking (ERIONTM) merupakan sebuah sistem komunikasi serat optik yang dikeluarkan oleh Ericsson. ERION TM adalah perangkat dari sistem jaringan Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) karena menggunakan channel grid 0,8 nm. Erion merupakan generasi kedua dari konsep Ericsson Transport Network Architecture (ETNA) dan untuk mengatasi masalah kepadatan trafik komunikasi, dimana di dalamnya termasuk Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM), SDH Multiplexer, Digital Cross Connect (DXC), Management System (MS), dan Network Management System (NMS).(Helin,G.,1999,np) Konsep Erion Erion mengikuti aturan standard ITU-T dan spesifikasi lainnya mengenai jaringan optic. Peralatan DWDM ERIONTM didesain sedemikian rupa sehingga mempunyai fleksibilitas tinggi, dengan mengandalkan konsep jaringan point-to-point dan ring yang disebut sebagai Erion Linier dan Erion FlexingBus. Erion Linier Merupakan produk yang mentargetkan pada jaringan point to point (p-t-p) dan bus Erion linier mempunyai kapasitas yang tinggi pada aplikasi p-t-p untuk berbagai trafik dengan kar\akteristik sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Didisain untuk aplikasi jarak jauh (long haul) Diimplementasikannya wavelength re-use pada proses transmisi Memungkinkan kanal operasi yang besar (32 kanal) Kapasitas Mode besar Optical Multiplex section Protection (OMSP)

Erion FlexingBus Merupakan jaringan yang mempunyai topologi ring. Karakteristik utamanya adalah sebagai berikut: 1. Aplikasi bersifat lokal (short haul) 2. Routing jaringan bersifat mesh 3. Jumlah kanal medium 4. Kapasitas mode medium 5. Biasa digunakan untuk jalur broadcast 6. Optical self-healing ring

61

JETri, Volume 8, Nomor 2, Februari 2009, Halaman 57-68, ISSN 1412-0372

Platform ERIONTM Platform dari sistem ERIONTM pada setiap network elements (NE) dinamakan networker. Adapun konfigurasi dari NE adalah sebagai berikut: 1. Optical Terminal Multiplexer (OTM) 2. Optical Line Amplifier (OLA) 3. Optical Add/drop Multiplexer untuk aplikasi Linier (OADM-L) 4. Optical Add/drop Multiplexer untuk aplikasi Flexing Bus (OADM-F) 5. Optical Add/drop Multiplexer reconfigurable (OADM-R), merupakan rekonfigurasi dari OADM-L yang dapat meremote add/drop untuk aplikasi bus dan ring 6. Optical Cross Connect (OXC), merupakan interkoneksi dari subnetwork Berikut ditunjukkan pada gambar 1, adalah sepasang panel Perangkat Networker Erion OTM (kiri) dan (OLA) kanan.(Helin,G., 2000: np)

Gambar 1. Perangkat Networker Erion OTM (kiri) dan (OLA) kanan. Konfigurasi Sistem Konfigurasi sistem dari Erion merupakan spesifikasi dari sistem tersebut, terbagi atas Transmit and Transponder (TET), Receive End Transponder (RET), Multiplexer, Demultiplexer, Power Amplifier dan Control Unit. Adapun fungsi masing-masing perangkat adalah sebagai berikut: - TET merubah sinyal yang datang untuk diselaraskan dengan ketentuan ITU-T.

62

Harumi Yuniarti & Bambang Cholis Su'udi. Implentasi DWDM Pada ErionTM

RET merupakan perangkat yang menghubungkan jaringan dengan terminal pengguna. - Multiplexer adalah proses multiplexing Erion menggunakan teknik grating yang mengkom binasikan beberapa buah sinyal menjadi satu - Demultiplexer menggunakan grating dalam teknik multiplexingnya. Proses Multiplexer dan Demultiplexer masing-masing untuk 16 kanal (1546,92-1559,98) nm dan 32 kanal (1534,25 - 1546,12) nm, dengan channel spcing 100 Ghz (0,8), berikut pada Gambar 2. memperlihatkan konfigurasi Multiplexer dan Demultiplexer Erion.

Gambar 2. Multiplexer dan Demultiplexer pada Erion Power Amplifier Gambar 3 adalah simbul Optical Line Amplifier (OLA) yang digunakan ERIONTM dalam sistem jaringan, karena perbedaan karakteristik transmisi antara Linier dan Flexing , maka Power amplifier yang digunakan ada 2 macam, yaitu Erion Linier Power Amplifier dan Erion FlexingBus Power Amplifier.

63

JETri, Volume 8, Nomor 2, Februari 2009, Halaman 57-68, ISSN 1412-0372

Gambar 3. Optical Line Amplifier Erion Linier Power Amplifier Power amplifier untuk 16 kanal dan 32 kanal yang digunakan a). 16 kanal, digunakan single pump / double pump amplifier b). 32 kanal, digunakan single pump, double pump atau triple pump amplifier. Erion FlexingBus Power Amplifier Tiga jenis pump pada linear terdapat pada FlexingBus, jika salah satu dari pump pada double pump mengalami kegagalan (failure), maka pump yang lain akan menaikkan output preview untuk mengembalikan kegagalan pump yang lain. Hal tersebut juga berlaku pada triple pump. Control Unit Control unit digunakan untuk mengatasi dan mengontrol kerja sistem secara keseluruhan, selama proses komunikasi berlangsung. Control unit memberikan data-data setiap kejadian dari setiap komponen yang ada. Komponen-komponen Jaringan DWDM mempunyai komponen-komponen penting dalam sistem komunikasi nya yaitu kabel laut dan optical add/drop multiplexer (OADM), dimana kabel laut digunakan 2 type yaitu Dispersion Shifted Fiber (DSF) dan Dispersion Compensating Fiber (DCF) dan proses kerja OADM secara umum yaitu memasukkan atau mengeluarkan sebuah panjang gelombang dari atau menuju jaringan utama dan selanjutnya memultiplexing atau mendemultiplexing panjang gelombang tersebut secara optik, seperti terlihat pada gambar 4. Pada Synchronous Optical Network (SONET), proses ini terjadi pada kecepatan (agregate) sinyal yang berbeda, dalam penggunaannya ada 3 macam OADM , yaitu OADM-Linier,

64

Harumi Yuniarti & Bambang Cholis Su'udi. Implentasi DWDM Pada ErionTM

OADM-Remutely dan OADM-FlexingBus, masing-masing didisain untuk mengatasi sirkulasi sinyal.

Gambar 4. Optical add/drop multiplexer

Optical Add/Drop Multiplekser Linier (OADM-L) OADM-L digunakan untuk menunjang lebih dari 6 buah panjang gelombang pada proses add/drop pada tiap sambungannya atau 12 jalur trafik dari/ke OADM yang diperlihatkan pada gambar 5.

Gambar 5. Optical Add/Drop Multiplexer-Linier (OADML) Optical add/Drop Multiplexer-Remote (OADM-R) OADM-L dapat mengontrol dari jauh proses add/drop dari panjang gelombang. Pada gambar 6. digunakan OADM-R yang menggunakan 2 X 2

65

JETri, Volume 8, Nomor 2, Februari 2009, Halaman 57-68, ISSN 1412-0372

optical switch untuk fasilitas add/drop. Komponen ini dapat menangani 2 X 32 kanal sekaligus untuk RET unit west dan RET unit east.

Gambar 6. Optical Add/Drop Multiplexer-Remotely (OADM-R) Perbedaan utama antara OADM-L dan OADM-R adalah pada komponen optic pada add/dropnya. Pada OADM-L, proses dilakukan satu per satu, add saja atau drop saja. Sedang-kan pada OADM-R, proses add/drop dapat dilakukan bersama-sama sekaligus.

Optical Add/Drop Multiplexer Flexing Bus (OADM-F) Komponen ini didisain untuk mengatasi masalah dalam sirkulasi sinyal topologi ring, Seluruh panjang gelombang pada OADM-R bertransmisi secara simultan seperti terlihat pada Gambar 7. berikut.

66

Harumi Yuniarti & Bambang Cholis Su'udi. Implentasi DWDM Pada ErionTM

Gambar 7. Optical Add/Drop Multiplexer FlexingBus (OADM-F) Digital Cross Connect (DXC) DXC adalah komponen yang berfungsi untuk melakukan cross-connect atau melakukan administrasi data sebagai komponen utama dalam proses shifting pada wavelength re-use Biasanya input dan output dari DXC mempunyai jumlah yang sama , sehingga biasa disebut N2 matriks. DXC juga berfungsi sebagai elemen utama dalam proses restorasi..Pada SONET, proses ini terjadi pada kecepatan (aggregate) sinyal yang sama. Proses kerja dari DXC berdasarkan switching atas panjang gelombang dari sebuah port ke port yang lain. Proses switching tersebut menggunakan teknik-teknik mux/demux WDM. Kecepatan select swich yang ada sekarang ini adalah 100 ms untuk mechanical switch and 50 ns untuk semiconductor switch. Gambar 7. berikut contoh DXC dengan konfigurasi 2 X 2, dimana diperlihatkan sinyal

67

JETri, Volume 8, Nomor 2, Februari 2009, Halaman 57-68, ISSN 1412-0372

A dan B dicross-connect keport yang lain.

Gambar 8. 2 X 2 WDM DXC DXC merupakan elemen yang bekerja pada domain optik. Dalam sebuah jaringan besar, DXC dan OADM biasa digunakan sebagai alat integrasi yang menghubungkan jaringan-jaringan kecil menjadi jaringan yang lebih besar (Daniel,Y., 1998: 40). Eribium Doped Fiber Amplifier (EDFA) EDFA merupakan penguat optik yang digunakan pada teknik WDM,. Pada ERIONTM sisebut optical line amplifier (OLA). Dalam jaringan point-to-point, digunakan 3 penguat optik EDFA, yaitu sebagai Power Amplifier (Booster), Inline Amplifier dan Post Amplifier yang berfungsi sebagai berikut:

a. Power amplifier digunakan untuk menguatkan pada sisi transmitter.

68

Harumi Yuniarti & Bambang Cholis Su'udi. Implentasi DWDM Pada ErionTM

b. Inline amplifier digunakan untuk menguatkan sinyal yang mengalami degradasi selama berpropagasi. c. Post amplifier, untuk menguatkan sumber cahaya yang lemah.

Gambar 9. Penguat EDFA pada transmisi p-to-p

Seperti terlihat pada gambar 9 berikut, perbedaannya hanya pada peletakan (posisi) , power amplifier ditempatkan pada sisi transmiter, post amplifier ditempatkan pada sisi receiver, sedang inline amplifier antara 2 transmiter dan receiver pada jalur serat optik. Topologi Jaringan Dalam jaringan optik terdapat 2 buah jenis saluran, yaitu trunk dan branch (subscriber). Dalam praktek transmisi kedua saluran tersebut sama, namum tingkat transmisi yang dilakukan atau besar data yang ditransmisikan berbeda. Saluran trunk menghubungkan simpul-simpul utama atau multiplexer add-drop yang beroperasi pada jaringan utama (backbone), sedang branch bekerja pada tingkatan yang lebih rendah yaitu saluran yang menghubungkan jaringan utama dengan jaringan yang lebih kecil. Topologi merupakan gambaran dari pola jaringan atau denah dari jaringan yang menggambarkan hubungan antara node-node atau antara jaingan dengan jaringan yang lain. Topologi dirancang sesuai berdasarkan efisiensi, biaya kehandalan, traffic dan kemungkinan untuk pengembangan ke depan, sedangkan ERIONTM menggunakan topologi bus untuk Linier dan ring untuk FlexingBus, juga dimungkinkan Integrasi antara Linier Line dan FlexingBus.

Traffic Protection

69

JETri, Volume 8, Nomor 2, Februari 2009, Halaman 57-68, ISSN 1412-0372

Traffic protection merupakan bagian yang sangat penting bagi operator saat ini, untuk menangani kegagalan pada proses transmisi akibat terputusnya kabel serat optik dan kegagalan pada perangkat dalam sistem. Sistem Erion mempunyai konfigurasi yang bersifat full traffik protection dalam domain optik. Berikut ditunjukkan jenis traffic protection yang terdapat pada Erion, yaitu Optical Multiplexsection Protection dan Optical Self Healing Ring (FlexingBus Ring) (Helin,G., 1999, np) Optical Multiplex section Protection (OMSP) Optical Multiplex Section Protection (OMSP) merupakan traffic protection yang digunakan pada Erion Linier seperti pada gambar 10.

70

Harumi Yuniarti & Bambang Cholis Su'udi. Implentasi DWDM Pada ErionTM

Gambar 10. Point to point Traffic Protection Konfigurasi (OMSP) adalah dua buah kabel serat optik (working dan protecting) yang membentuk hubungan parallel. Kabel yang utama digunakan transmisi sinyal pada keadaan normal, sedangkan kabel kedua adalah kabel cadangan yang selalu siaga selama kabel utama beroperasi dan digunakan apabila terjadi kegagalan pada kabel pertama. Selama sistem beroperasi normal, power amplifier bekerja pada dua kabel tersebut, namun pre-amplifier hanya bekerja pada kabel utama saja. Untuk menangani kegagalan pada proses transmisi, setiap node dilengkapi dengan protection switch yang berfungsi menukarkan saluran transmisi ke kabel cadangan dan menghidupkan pre-amplifier kabel cadangan.

Optical Self Healing Ring ( FlexingBus Ring )

71

JETri, Volume 8, Nomor 2, Februari 2009, Halaman 57-68, ISSN 1412-0372

Optical self healing ring merupakan traffic protection yang digunakan pada Erion FlexingBus. Gambar 11, menunjukkan skema fungsi dari FlexingBus Network Protection.

Gambar 11. FlexingBus Network Protection Konfigurasi dari traffic protection antara dua node pada flexingbus adalah sama dengan konfigurasi Linear, yaitu dua kabel yang terhubung parallel (gambar 11a) dibawah merupakan kasus dimana terjadinya kegagalan transmisi antara node B dan node C.

72

Harumi Yuniarti & Bambang Cholis Su'udi. Implentasi DWDM Pada ErionTM

Gambar 11a. Konfigurasi awal Erion FlexingBus Network

Sinyal ditransmisikan dari node E menuju node A melewati node D, C dan B,. namun karena kedua kabel pada jalur C B tidak berfungsi, maka protection switch pada node C mengalihkan sinyal memutar melewati node C > D > E dan F menuju node A melalui kabel cadangan pada nodenode tersebut, sehingga transmisi sinyal tetap berjalan secara simultan. Hal tersebut membuat konfigurasi jaringan berubah menjadi Bus, sedangkan apabila terdapat kegagalan pada kabel utama, maka penanganannya dilakukan proses seperti jaringtan p-to-p, berikut ditunjukkan beberapa konfigurasi traffic protection : Jika kabel putus antara E dan F, kerusakan tersebut dideteksi pada F, unsur jaringan F (Network) mengirim pesan ke B (node akhir) seperti yang ditunjukkan pada gambar 11b berikut,

Gambar 11b. Fiber Optik putus antara E dan F

Jika node berakhir pada B (berlawanan arah jarum jam), maka F menghentikan transmisi dan B aktif menjalankan transmisi , seperti pada gambar 11c berikut,

73

JETri, Volume 8, Nomor 2, Februari 2009, Halaman 57-68, ISSN 1412-0372

Gambar 11c. Node berakhir berlawanan arah dengan arah jarum jam Jika node berakhir pada C (searah jarum jam), maka E akan terdeteksi kehilangan sinyal dan mengirim pesan berakhir di C, maka C aktif terhubung dan E menghentikan transmisi (tidak aktif), dan trafik tersambung kembali melalui C>B menuju A, jaringan antara E dan F dihentikan (putus) seperti yang terlihat pada gambar 11d berikut,

Gambar 11d. Jaringan tersambung kembali (antara E dan F putus)

74

Harumi Yuniarti & Bambang Cholis Su'udi. Implentasi DWDM Pada ErionTM

Metode proteksi jaringan ini sama cepat (< 20 ms) dan bekerja otomatis, dengan kata lain operasionalnya tidak memerlukan unsur sistem management. Management Platform Sistem management dari ERIONTM dikenal dengan Integrated Management Application (IMA) yang ditunjukkan untuk operator jaringan . IMA berfungsi untuk mengoperasikan dan mengontrol jaringan seperti : Fault management (FM menghubungkan alarm pada setiap node dalam jaringan untuk memantau kinerja perangkat), Configuration management (CM melakukan pengecekan jalur sebelum jalur tersebut digunakan), Circuit Prosivisioning (CP mengatur hubungan antara alarm pada jaringan) dan Performance managemen (PM menunjukkan kinerja dari perangkat yang dapat ditampilkan melalui parameter-parameter diantaranya adalah Temperatur Laser, Arus bias Laser, Daya optik, referensi panjang gelombang dan level daya)

Pada prinsipnya IMA terbagi atas Sub-Network Manager (SNM) yang berfungsi: 1. Laporan jaringan dari optical Layer, termasuk routing kanal-kanal optik 2. Laporan terjadinya kegagalan atau degradasi 2. Performance monitoring 3. Sinkronisasi pada setiap elemen jaringan

5. Kesimpulan Implementasi teknik DWDM ERIONTM pada perangkat jaringan kabel laut diperlukan beberapa kriteria sebagai berikut:

75

JETri, Volume 8, Nomor 2, Februari 2009, Halaman 57-68, ISSN 1412-0372

1. Menggunakan channel grid 0,8 nm 100 GHz, berdasarkan rekomendasi ITU-TG-692, terdiri dari komponen kabel laut, optical add/drop multiplexer (OADM), digital cross connect (DXC) dan optical line amplifier (OLA). 2. Untuk mengatasi kegagalan transmisi digunakan traffic protection (yang bersifat full traffic protection dalam domain optik). 3. Untuk menjaga kehandalan sistem dilengkapi management platform pada bagian operator. Daftar Pustaka 1. Daniel, Y., Al-Salameh, et.al., Optical Networking, Bell Labs Technical Journal, Januari-March, p.39-61, 1998 2. Helin, G., Document General Description for ERION, Ericsson Telecom AB, 1999. 3. Kartalopoulos, Stamatios V, Introduction to DWDM Technologies, 2000. 4. Trischitta, P., R., dan Marra, W., C., Applying WDM Technology to Undersea Cable Networks, IEEE Magazine, Volume: 36, No.2, Februari, 1998

4. Kesimpulan Pemanfaatan gabungan penguat optik/hybrid C+L band EDFA/RFA saat ini dimungkinkan dengan megunakan pompa Laser pada panjang gelombang yang disesuaikan. Konsep yang digunakan berdasarkan kombinasi mekanisme penguatan EDFA dan mekanisme penguatan berbalik arah Raman (RFA). Keuntungannya terletak pada rancanganrancangan sumber yang sederhana, keunggulan dapat diperoleh bandwidth yang cukup lebar, Gain yang rata dan Noise Figure yang rendah dan rancangan ini dapat diterapkan dalam pemakaian yang luas pada sistem DWDM dengan berbagai variasi konfigurasi.

Daftar Pustaka

76

Harumi Yuniarti & Bambang Cholis Su'udi. Implentasi DWDM Pada ErionTM

1. Harumi, Y., Bambang C.S. 2008. EDFA Raman Amplifier, Penguat Optik pada Transmisi Serat Optik. Disertasi. Makalah Seminar Nasional Teknologi, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Trisakti, Jakarta,. 2. Islam, M., N., et.all. Vol.37. 2001. Comparative high power conversion efficiency of C-plus L-Band EDFA. Electron Lett. 3. Octarina N.S. Aplikasi In-line Amplifier EDFA pada sistem Transmisi Kanal Tunggal dan Trans Berbasis WDM, (online), (http://www.tpub.com. diakses 20 April 2009, pukul 11.15 WIB). 4. Seongtaek Hwang, et.all. 2001. Broad-Band Erbium Doped Fiber Amplifier With Double Pass Configuration, IEEE Photonics Tech. Letters, Vol.13, No.12. 5. Shien Kuei Liaw, et.all. Investigate C+L Band EDFA/Raman Amplifiers by Using the Same Pump Laser, (online), (http:// www.atlantispress.com/php/download_paper.php?id=108, diakses 12 Januari 2009, pukul 13.30. WIB). 6. Sholeh, H.P. Penguat Optik EDFA C-Band pada Daya Pompa yang Berbeda-beda, (online), (http://bppft.brawijaya.ac.id/hlm=bpenelitian &view=full&thnid. diakses 18 Desember 2008: 10.45 WIB). 7. Walidaini, H. 2000. Teknologi Serat Optik. Jakata: Elektro Indonesia.

77