Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PATOLOGI DENGAN PLASENTA PREVIA

D I S U S U N

OLEH
Kelompok II Nama : Asmarani Cristin N Pane Denni Silitonga Desla Pasaribu Desi Tobing Eni Wilda Harapan Imelda Pulungan KELAS DOSEN PEMBIMBING : 1.A :

AKADEMI KEBIDANAN SENIOR MEDAN T.A 2012/2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kematian maternal masih menjadi tolak ukur untuk menilai baik buruknya keadaan pelayanan kebidanan dan salah satu indikator tingkat kesejahteraan ibu. Angka kematian maternal di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Menurut SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) tahun 1992 yaitu 421 per 100.000 kelahiran hidup, SKRT tahun 1995 yaitu 373 per 100.000 kelahiran hidup dan menurut SKRT tahun 1998 tercatat kematian maternal yaitu 295 per 100.000 kelahiran hidup. Diharapkan PJP II (Pembangunan Jangka Panjang ke II) (2019) menjadi 60 - 80 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah perdarahan (40- 60%), infeksi (20-30%) dan keracunan kehamilan (20-30%), sisanya sekitar 5% disebabkan penyakit lain yang memburuk saat kehamilan atau persalinan. Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas. Plasenta previa adalah plasenta yang implantasinya tidak normal, sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum, kasus ini masih menarik dipelajari terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, karena faktor predisposisi yang masih sulit dihindari, prevalensinya masih tinggi serta punya andil besar dalam angka kematian maternal dan perinatal yang merupakan parameter pelayanan kesehatan.

B. Tujuan 1. Tujuan Umum Agar mahasiswa mampu menerapkan asuhan kebidanan pada ibu hamil patologi dengan plasenta previa totalis di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dengan menggunakan manajemen asuhan kebidanan menurut Varney. 2. Tujuan Khusus a. b. c. d. e. f. g. Mahasiswa mampu melakukan pengumpulan data pada Ny.G dengan plasenta previa totalis. Mahasiswa mampu melakuan interpretasi data pada Ny.G dengan plasenta previa totalis. Mahasiswa dapat mengantisipasi diagnosa dan masalah potensial pada Ny.G dengan plasenta previa totalis. Mahasiswa dapat membuat antisipasi masalah atau kolaborasi pada kasus Ny.G dengan plasenta previa totalis. Mahasiswa mampu merencanakan asuhan yang menyeluruh pada Ny.G dengan plasenta previa totalis. Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan yang sesuai dengan pemecahan pada Ny.G dengan plasenta previa totalis. Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil dari asuhan kebidanan pada Ny.G dengan plasenta previa totalis.

BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Plasenta previa totalis adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (FKUI, 2000). Plasenta previa merupakan implantasi plasenta di bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri internum, serta menimbulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim (Cunningham 2006). Plasenta Previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yakni pada segmen bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan/ostium uteri internal (OUI). B. Klasifikasi Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu atau derajat abnormalitas tertentu, yaitu : 1. Plasenta previa totalis : bila ostium internum servisis seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta. 2. Plasenta previa lateralis : ostium internum servisis bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta. 3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir. 4. Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan jalan lahir. Derajat plasenta previa akan tergantung kepada luasnya ukuran dilatasi serviks saat dilakukan pemeriksaan. Perlu ditegaskan bahwa palpasi digital untuk mencoba memastikan hubungan yang selalu berubah antara tepi plasenta dan ostium internum ketika serviks berdilatasi, dapat memicu terjadinya perdarahan hebat.

C. Etiologi Menurut Manuaba (2003), penyebab terjadinya plasenta previa diantaranya adalah mencakup : 1. Perdarahan (hemorrhaging). 2. Usia lebih dari 35 tahun. 3. Multiparitas. 4. Pengobatan infertilitas. 5. Multiple gestation. 6. Erythroblastosis. 7. Riwayat operasi/pembedahan uterus sebelumnya. 8. Keguguran berulang. 9. Status sosial ekonomi yang rendah. 10. Jarak antar kehamilan yang pendek. 11. Merokok. Penyebab plasenta previa secara pasti sulit ditentukan, tetapi ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa, misalnya bekas operasi rahim (bekas sesar, atau operasi mioma), sering mengalami infeksi rahim (radang panggul), kehamilan ganda, pernah plasenta previa, atau kelainan bawaan rahim. D. Tanda dan gejala 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Perdarahan tanpa nyeri. Perdarahan berulang. Warna perdarahan merah segar. Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah. Timbulnya perlahan-lahan. Waktu terjadinya saat hamil. His biasanya tidak ada. Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi. Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina.

10. Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul. 11. Presentasi mungkin abnormal.

Jadi Kejadian yang paling khas pada plasenta previa adalah pendarahan tanpa nyeri biasanya baru terlihat setelah trimester kedua atau sesudahnya. Namun demikian, banyak peristiwa abortus mungkin terjadi akaibat lokasi abnormal plasenta yang sedang tumbuh. Penyebab pendarahan perlu ditegaskan kembali. Kalau plasenta terletak pada ostium internum, pembentukan segmen bawah uterus dan dilatasi ostium internum tanpa bias diletakkan akan mengakibatkan robekan pada tempat peletakan plasenta yang diikuti oleh pendarahan dari pembuluh-pembuluh darah uterus. Pendarahan tersebut diperberat lagi dengan ketidakmampuan serabut-serabut otot miometrium segmen bawah uterus untuk mengadakan kontaksi dan retraksi agar bias menekan pembuluh darah yang ruptur sebagaimana terjadi secara normal ketika terjadi pelepasan plasenta dari dalam uterus yang kosong pada kala tiga persalinan. Akibat pelekatan yang abnormal seperti terlihat pada plasenta akreta, atau akibat daerah pelekatan yang sangat luas, maka proses perlekatan plasenta kadangkala terhalang dan kemudian dapat terjadi pendarahan yang banyak setelah bayi dilahirkan. Pendarahan dari tempat implantasi plasenta dalam segmen bahwa uterus dapat berlanjut setelah plasenta dilahirkan, mengingat segmen bahwa uterus lebih cendrung memiliki kemampuan kontraksi yang jelek dibandingkan korpus uteri. Sebagai akibatnya, pembuluh darah memintas segmen bahwa kurang mendapat kompresi. Pendarahan dapat terjadi pula akibat laserasi pada bagian bahwa uterus dan serviks yang rapuh, khususnya pada usaha untuk mengeluarkan plasenta yang melekat itu secara manual. E. Faktor Predisposisi dan Presipitasi Menurut Mochtar (1998), faktor predisposisi dan presipitasi yang dapat mengakibatkan terjadinya plasenta previa adalah : 1. Melebarnya pertumbuhan plasenta : a. Kehamilan kembar (gemeli). b. Tumbuh kembang plasenta tipis.

2. Kurang suburnya endometrium : a. Malnutrisi ibu hamil. b. Melebarnya plasenta karena gemeli. c. Bekas seksio sesarea. d. Sering dijumpai pada grande multipara. 3. Terlambat implantasi : a. Endometrium fundus kurang subur. b. Terlambatnya tumbuh kembang hasil konsepsi dalam bentuk blastula yang siap untuk nidasi. F. Patofisiologi Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadangkadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding uterus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.
G. Diagnosa dan Gambaran Klinis

1. Anamneses a. Gejala pertama: perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu/trimester III b. Sifat perdarahan: tanpa sebab, tanpa nyeri, dan berulang c. Sebab perdarahan: plasenta dan pembuluh darah yang robek, terbentuknya SBR, terbukanya osteum/manspulasi intravaginal/rektal. 2. Inspeksi a. Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau sedikit. b. Jika perdarahan lebih banyak; ibu tampak anemia. 3. Palpasi abdomen a. Janin sering belum cukup bulan; TFU masih rendah. b. Sering dijumpai kesalahan letak c. Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya kepala masih goyang/floating.

H. Komplikasi Menurut Roeshadi (2004), kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan dari adanya plasenta previa adalah sebagai berikut : 1. Pada ibu dapat terjadi : a. Perdarahan hingga syok akibat perdarahan b. Anemia karena perdarahan c. Plasentitis d. Endometritis pasca persalinan 2. Pada janin dapat terjadi : a. Persalinan premature b. Asfiksia berat I. Penatalaksaan Plasenta Previa 1. Konservatif bila : a. Kehamilan kurang 37 minggu. b. Perdarahan tidak ada atau tidak banyak (Hb masih dalam batas normal). c. Tempat tinggal pasien dekat dengan rumah sakit (dapat menempuh perjalanan selama 15 menit). Perawatan konservatif berupa : a. Istirahat. b. Memberikan hematinik dan spasmolitik unntuk mengatasi anemia. c. Memberikan antibiotik bila ada indikasii. d. Pemeriksaan USG, Hb, dan hematokrit. Bila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan konservatif maka lakukan mobilisasi bertahap. Pasien dipulangkan bila tetap tidak ada perdarahan. Bila timbul perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh melakukan senggama. 2. Penanganan aktif bila : a. Perdarahan banyak tanpa memandang usia kehamilan. b. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih. c. Anak mati

Penanganan aktif berupa : a. Persalinan per vaginam. b. Persalinan per abdominal. Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double set up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan : a. Plasenta previa marginalis b. Plasenta previa letak rendah c. Plasenta lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala sudah masuk pintu atas panggul dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit perdarahan maka lakukan amniotomi yang diikuti dengan drips oksitosin pada partus per vaginam bila gagal drips. Bila terjadi perdarahan banyak, lakukan seksio sesar.
3. Penanganan (pasif)

a. Tiap perdarahan triwulan III yang lebih dari show harus segera dikirim ke Rumah sakit tanpa dilakukan suatu manipulasi/UT. b. Apabila perdarahan sedikit, janin masih hidup, belum inpartus, kehamilan belum cukup 37 minggu/berat badan janin kurang dari 2.500 gram persalinan dapat ditunda dengan istirahat, obat-obatan; spasmolitik, progestin/progesterone, observasi teliti. c. Siapkan darah untuk transfusi darah, kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya tidak prematur d. Bila ada anemia; transfusi dan obat-obatan penambah darah. Penatalaksanaan kehamilan yang disertai komplikasi plasenta previa dan janin prematur tetapi tanpa perdarahan aktif, terdiri atas penundaan persalinan dengan menciptakan suasana yang memberikan keamanan sebesarbesarnyabagi ibu maupun janin. Perawatan di rumah sakit yang memungkinkan pengawasan ketat, pengurangan aktivitas fisik, penghindaran setiap manipulasi intravaginal dan tersedianya segera terapi yang tepat, merupakan tindakan yang ideal. Terapi yang diberikan mencangkup infus

larutan elektrilit, tranfusi darah, persalinan sesarea dan perawatan neonatus oleh ahlinya sejak saat dilahirkan. Pada penundaan persalinan, salah satu keuntungan yang kadang kala dapat diperoleh meskipun relatif terjadi kemudian dalam kehamilan, adalah migrasi plasenta yang cukup jauh dari serviks, sehingga plasenta previa tidak lagi menjadi permasalahn utama. Arias (1988) melaporkan hasil-hasil yang luar biasa pada cerclage serviks yang dilakukan antara usia kehamilan 24 dan 30 minggu pada pasien perdarahan yang disebabkan oleh plasenta previa. Prosedur yang dapat dilakukan untuk melahirkan janin bisa digolongkan ke dalam dua kategori, yaitu persalinan sesarea atau per vaginam. Logika untuk melahirkan lewat bedah sesarea ada dua : 1. Persalinan segera janin serta plasenta yang memungkinakan uterus untuk berkontraksi sehingga perdarahan berhenti 2. Persalinan searea akan meniadakan kemungkinan terjadinya laserasi serviks yang merupakan komplikasi serius persalinan per vaginam pada plasenta previa totalis serta parsial.

J.

Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Kehamilan 1. Karena terhalang oleh placenta maka bagian terbawah janin tidak dapat masuk PAP. Kesalahan- kesalahan letak; letak sunsang, letak lintang, letak kepala mengapung. 2. Sering terjadi partus prematur; rangsangan koagulum darah pada servix, jika banyak placenta yang lepas kadar progesterone menurun dan dapat terjadi His, pemeriksaan dalam.

K. Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Partus

1. Letak janin yan tidak normal; partus akan menjadi patologis. 2. Bila pada placenta previa lateralis; ketuban pecah/dipecahkan dapat terjadi prolaps funkuli.

3. Sering dijumpai insersi primer. 4. Perdarahan.

L. Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Persalinan 1. Seksio Sesarea Seksio Sesarea merupakan metode persalinan janin yang bisa diterima hampir pada semua kasus plasenta previa. Jika letak janin plasenta cukup jauh di posterior sehingga segmen bawah uterus dapat diinsisi tranversal tanpa mengenai jaringan plasenta dan jika posisi sefalik, maka insisi yang disukai adalah insisi transversal. 2. Prognosis Prematuritas merupakan penyebab utama kematian perinatal, sekalipun penatalaksanaan plasenta previa seperti yang diharapkan sudah dilakukan.

M. Manajemen Kebidanan Menurut Varney Langkah 1. Pengumpulan Data Dasar - Pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap (subyektif dan obyektif) - Riwayat kesehatan - Pemeriksaan fisik sesuai kebutuhan - Catatan terbaru atau sebelumnya - Data laboratorium, pemeriksaan penunjang, dll Langkah 2. Interpretasi Data Dasar - Identifikasi terhadap diagnosis dan kebutuhan klien berdasar data yang diperoleh dan dengan interpretasi yang benar - Diagnosis kebidanan harus memenuhi standar nomenklatur, yaitu: - Diakui dan disyahkan oleh profesi - Berhubungan langsung dengan praktik kebidanan

- Memiliki ciri khas kebidanan - Dapat diselesaikan dengan pendekatan menejemen kebidanan Langkah 3. Mengidentifikasi Diagnosis atau Masalah Potensial - Berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis yang telah diidentifikasi. Dituliskan juga data dasar yang mendukung Langkah 4. Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera (antisipasi masalah) Langkah 5. Merencanakan asuhan yang menyeluruh Langkah 6. Melaksanakan perencanaan Langkah 7. Evaluasi

BAB III TINJAUAN KASUS ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PATOLOGI PADA NY. G UMUR 38 TAHUN G5P3Ab1Ah3 UK 32+2 MINGGU DENGAN PLASENTA PREVIA TOTALIS No. MR Masuk tanggal Jam Ruang I. PENGKAJIAN Tgl/jam : 10 Desember 2012/ 13.00 WIB A. Data Subyektif 1. Identitas Nama Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Suku Bangsa Alamat 2. Anamnesa a. Alasan kunjungan saat ini : Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya, ini adalah kunjungan ulang ibu. b. Keluhan Utama Ibu mengatakan mengeluh kenceng-kenceng sejak jam 07.00 WIB tangggal 09/12/2012,dan keluar darah jam 07.00 WIB tanggal 09/12/2012. c. Riwayat Perkawinan : IRT : WNI Istri : Ny. G : 38 tahun : Islam : SMK Swasta WNI Suami Tn. S 40 tahun Islam SMA : 773222 : 09 Desember 2012 : 09.00 WIB : -------

: Gunung Wuled Rt 03/01, Rembang

Perkawinan ke Lama perkawinan Status perkawinan d. Riwayat Haid Menarche Lama menstruasi Banyaknya Teratur/tidak Sakit/tidak Siklus HPHT HPL UK e. Riwayat Obstetrik G5P3Ab1Ah3
No Tahun UK Jenis persalinan

:1 : 12 tahun : Syah menurut Negara dan agama : 13 tahun : 7 hari : ibu ganti pembalut 2x dalam sehari : teratur : tidak : 28 hari : 25 April 2012 : 02 Februari 2013 : 32+2 minggu

Menikah sejak umur : 22 tahun

Penolong

Tempat

H/ M

L/P

BBL

Komplikasi

1 2 3 4 5

2001 2004 2007 2010 2012

aterm aterm aterm 3bulan Hamil ini

Spontan Spontan Spontan -

Dukun Dukun Dukun Bidan

Rumah Rumah Rumah RSMS

H H H M

L P L -

3.000gr 2.600gr 2.500gr -

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Abortus

f. Riwayat KB Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontasepsi jenis apapun. g. Riwayat Kesehatan 1. Riwayat Kesehatan yang lalu Ibu pernah menderita penyakit jantung dan hipertensi sebelum kehamilannya. 2. Riwayat Kesehatan Sekarang

Ibu tidak sedang menderita penyakit menular dan penyakit menurun seperti TBC, AIDS, Hepatitis B, Diabetes dan Jantung. 3. Riwayat Kesehatan Keluarga Keluarga ibu dan keluaga suami tidak pernah dan tidak sedang menderita penyakit menular dan penyakit menurun seperti TBC, AIDS, Hepatitis B, Diabetes, Hipertensi dan Jantung. h. Riwayat kehamilan sekarang ANC di puskesmas Rembang sejak umur kehamilan 10 minggu. Gerakan pertama kali dirasakan pada umur kehamilan 22 minggu Gerakan dalam 12 jam 10-11 kali Frekuensi periksa ANC : Trimester I : 1 kali Trimester II : 3 kali Trimester III: 2 kali Senam Hamil : Ibu mengatakan belum pernah melakukan senam hamil Imunisasi TT : TT1 : tgl 01 Juni 2012 TT2 : tgl 12 Juli 2012 Keluhan yang dirasakan
Trimester I Keluhan Mual, muntah terapi Asam folat 1x1 tablet/hari Kalk 1x1 tablet/hari II Pusing Vit B6 3x1 tablet/hari Biosanbe 1x1 tablet/hari Kalk 1x1 tablet/hari III Punggung pegal Vit C Biosanbe 1x1 tablet/hari Kalk 1x1 tablet/hari Vit C

Pendidikan kesehatan yang diperoleh


Trimester I II III Pendidikan kesehatan yang diperoleh Tanda bahaya kehamilan, perubahan fisiologis, gizi seimbang pada ibu hamil Perubahan fisiologis trimester II Perubahan fisiologis trimester III, tanda dan persiapan persalinan

i. Pola kebutuhan sehari-hari 1) Nutrisi Porsi makan sehari Jenis Makanan pantang Pola minum Alergi makanan Masalah 2) Eliminasi a. BAK Frekuensi Warna Jumlah Keluhan b. BAB Frekuensi Warna Jumlah Keluhan 3) Istirahat Siang Malam Keluhan : ibu tidur siang 1 1/2 jam : ibu tidur malam 8 jam : ibu tidak ada keluhan saat tidur : 1x sehari : kuning kecoklatan : sedang, tidak terlalu banyak : Ibu tidak ada keluhan dalam BAB : 5 kali sehari : Jernih : sedang, tidak terlalu banyak : tidak ada keluhan dalam BAK : 3x sehari dengan porsi sedang : nasi, sayur, lauk pauk, buah : Ibu tidak ada makanan pantang : 8 gelas sehari Ibu tidak minum jamu : Ibu tidak ada alergi makanan : Tidak ada

4) Aktivitas Ibu mengatakan aktivitasnya setiap hari mengerjakan pekerjaan rumah, seperti memasak, menyapu, mencuci serta merawat suami dan anaknya.

5) Personal Higiene : Ibu mengatakan mandi 2 kali/hari, gosok gigi 2 kali/hari, ganti celana dalam 2 kali/hari, keramas 2 hari sekali, membersihkan bagian alat kelamin setelah BAK, BAB serta ketika mandi, memotong kuku setiap 1 minggu sekali. 6) Pola seksual : Ibu mengatakan sebelum hamil melakukan hubungan seksual sebanyak 3 kali dalam seminggu, dan saat hamil melakukan hubungan seksual 1 kali dalam seminggu, tidak ada keluhan saat melakukan hubungan seksual. j. Data Psikososial Spiritual 1) Tanggapan ibu dan keluarga terhadap kehamilan ini : Ibu dan keluarga sangat mendukung terhadap kehamilan ini. 2) Pengetahuan ibu dan keluarga tentang kehamilan : Ibu mengetahui dirinya menderita plasenta previa, tetapi ibu belum begitu paham mengenai plasenta previa. 3) Pengambilan keputusan oleh : Pengambilan keputusan dilakukan oleh Ibu bersama suami. 4) Ketaatan ibu beribadah : Ibu meleksanakan shalat 5 waktu, mengaji sehabis shalat maghrib, mengikuti pengajian di RT. 5) Ibu tinggal bersama : Ibu tinggal bersama suami. 6) Hewan piaraan : Ibu tidak mempunyai hewan piaraan. 7) Rencana melahirkan di : Ibu akan melahirkan di RSMS menggunakan Jampersal.

B. Data Obyektif 1. Pemeriksaan Umum KU Kesadaran : Baik : Composmentis

TB BB LILA Vital Sign

: 158 cm : sebelum hamil : 52 kg : 27 cm : TD : 130/90 mmHg Rr : 20x/menit N : 82x/menit S : 36,50 C sekarang : 59 kg

2.

Pemeriksaan Fisik a. Kepala b. Mata c. Muka d. Hidung : bentuk mesochepal, rambut warna hitam, bersih, tidak rontok, serta tidak berketombe. : konjungtiva merah muda, sklera putih, reflek pupil positif, tidak ada gangguan penglihatan. : bentuk simetris, tidak pucat, tidak ada cloasma gravidarum. : bentuk simetris, keadaan bersih, tidak ada polip, fungsi penciuman normal, simetris, tidak ada pernapasan cuping hidung. e. Mulut dan gigi : bentuk simetris, tidak ada caries bersih, bersih, maupun fungsi fungsi stomatitis, f. Telinga g. Leher h. Dada i. Payudara : bentuk keadaan simetris, mulut keadaan

pengecapan baik, kebersihan cukup. pendengaran baik. : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, limfe dan vena jugularis. : bentuk dada simetris kanan dan kiri. : simetris kanan dan kiri, putting susu menonjol, hyperpigmentasi pada areola mammae, tidak ada bekas luka operasi. j. Abdomen : bentuk simetris, pembesaran sesuai dengan usia kehamilan, tidak ada bekas luka operasi, ada linea nigra hiperpigmentasi, ada striae gravidarum.

Leopold I

: TFU 1/2 pusat ke procesus xipoideus, bagian fundus teraba bulat, lunak, tidak melenting kesimpulan bokong.

Leopold II

: bagian kanan teraba panjang, keras, memanjang seperti papan (punggung janin) dan bagian kiri teraba tonjolan-tonjolan kecil yang tidak penuh kesimpulan ekstremitas janin.

Leopold III Leopold VI

bagian bawah teraba bulat, keras, dan melenting, bisa digoyangkan kesimpulan kepala.

: kedua tangan masih bertemu (konvergen), kepala belum masuk PAP.

TFU menurut Mc.donald : 28 cm TBJ DJJ His k. Genetalia l. Ekstremitas Atas Bawah 3. : bentuk simetris, tidak ada cacat, tidak ada oedema. : bentuk simetris, keadaan bersih, tidak ada oedema pada kaki, reflek patella kanan/kiri: positif. Pemeriksaan penunjang : Golongan darah :O Tanggal 10 Desember 2012 : Hb 12,7 gr% Tanggal 10 Desember 2012 : Pemeriksaan darah lengkap Hemoglobin Leukosit Hematokrit Eritrosit : L 10,2 g/dL : H 12.300/uL : L 30 % : L 3,8 10^6/uL : (TFU-12) x 155 = (28-12) x 155 = 2.480 gram. : terdengar jelas, 136x/menit kuat dan teratur. : tidak ada his : tidak ada benjolan abnormal dan varises, perdarahan hanya flek saja, warna kecoklatan.

Trombosit Protein Glukosa

: 315.000/uL

Tanggal 10 Desember 2012 : Pemeriksaan urin : negatif : 100mg/dL

Hasil USG tanggal 10-12-2012 : Tampak janin presentasi kepala, kepala BPD= 83,5 sesuai kehamilan 33 minggu, Placenta di SBR belakang meluas sampai menutupi Osteum Uteri Internum Grade II. II. INTERPRETASI DATA A. Diagnosa Kebidanan Ny. G umur 38 tahun hamil G5P3Ab1Ah3 UK 32+2 minggu dengan perdarahan antepartum plasenta previa totalis. Data dasar 1. Data subyektif : Ibu mengatakan mengeluh kenceng-kenceng sejak jam 07.00 WIB tangggal 09/12/2012,dan keluar darah jam 07.00 WIB tanggal 09/12/2012. Ibu mengatakan ini merupakan kehamilan yang kelima, pernah keguguran 1 kali umur 3 bulan. Ibu mengatakan gerakan janin pertama kali dirasakan pada umur kehamilan 22 minggu dan gerakan dalam 12 jam terakhir sebanyak 10-11 kali 2. HPHT : 25 April 2012. : 02 Februari 2013 : TD : 130/90 mmHg N : 82x/menit Rr : 20x/menit S : 36,50 C

Data obyektif : HPL Vital Sign Umur Kehamilan : 32+2 minggu

Leopold I

TFU 1/2 pusat ke procesus xipoideus, bagian fundus teraba bulat, lunak, tidak melenting kesimpulan bokong.

Leopold II

: bagian kanan teraba panjang, keras, memanjang seperti papan kesimpulan punggung janin dan bagian kiri teraba tonjolan-tonjolan kecil yang tidak penuh kesimpulan ekstremitas janin.

Leopold III Leopold VI

: bagian bawah teraba bulat, keras, dan melenting, bisa digoyangkan kesimpulan kepala. : kedua tangan masih bertemu (konvergen), kepala belum masuk PAP.

TFU menurut Mc.donald : 28 cm TBJ DJJ His Perdarahan Hasil USG : (TFU-12) x 155 = (28-12) x 155 = 2.480 gram. : terdengar jelas, 136x/menit kuat dan teratur. : tidak ada : tinggal flek,warna cokelat. : tanggal 10-12-2012

Tampak janin presentasi kepala, kepala BPD= 83,5 sesuai kehamilan 33 minggu, Placenta di SBR belakang meluas sampai menutupi Osteum Uteri Internum Grade II. B. Masalah Plasenta Previa Totalis III. DIAGNOSA POTENSIAL Prematuritas IUFD IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA Kolaborasi dengan dr.Sp.OG V. RENCANA TINDAKAN Tgl/Jam: 10-12-12 / 13.15 WIB

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Observasi KU dan tanda-tanda vital ibu. Monitor DJJ dan perdarahan ibu. Jelaskan pada ibu tentang keadaan ibu saat ini. Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup. Beritahu ibu untuk segera menghubungi petugas kesehatan bila ibu mengalami perdarahan yang banyak dari vagina. Beri ibu terapi obat sesuai anjuran dokter. Kolaborasi dengan dokter Sp.OG untuk rencana selanjutnya.

10. Dokumentasi hasil tindakan.

VI. IMPLEMENTASI Tgl/Jam: 10 Desember 2012 / 13.15 WIB 1. 2. 3. Mengobservasi keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital meliputi tekanan darah, suhu, nadi dan respirasi. Memonitor perdarahan dan memonitor DJJ tiap satu jam sekali. Menjelaskan pada ibu tentang keadaan ibu saat ini, bahwa plasenta atau ariari ibu letaknya berada di bawah dan menutupi jalan lahir. Dengan keadaan seperti ini ibu tidak bisa melakukan persalinan normal, dan kelahiran bayi akan di tolong dengan operasi caesar. Tapi karena saat ini umur kehamilan ibu belum mencukupi untuk melahirkan bayinya, sebisa mungkin kehamilan ibu dipertahankan dahulu sampai nanti umur kehamilannya mencukupi. 4. 5. 6. Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat dan tidak sering-sering turun dari tempat tidur. Memberitahu ibu untuk segera menghubungi petugas kesehatan bila ibu mengalami perdarahan yang banyak dari vagina. Memberi ibu terapi obat sesuai anjuran dokter yaitu Nifedipin 10 mg 3x1. Dexamethasone 6 mg IM tiap 12 jam selama 48 jam untuk mempercepat pematangan paru bayi. 7. 8. Melakukan kolaborasi dengan dr. Sp. Og untuk perencanaan selanjutnya. Mendokumentasikan hasil tindakan di catatan rekam medic.

VII. EVALUASI Tgl/Jam: 10 Desember 2012 / 13.25 WIB 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. KU : Baik Kesadaran : composmentis R : 20x/m S : 36,50 TD : 130/90 mmHg N : 82x/m DJJ : 136x/menit, teratur. Ibu mengerti tentang keadaannya saat ini dan sudah bisa menerimanya dengan ikhlas. Ibu bersedia untuk cukup istirahat dan tidak sering turun dari tempat tidur. Ibu mengerti dan bersedia memanggil petugas kesehatan bila mengalami perdarahan yang banyak dari vagina. Ibu sudah menerima terapi obat dan bersedia meminumnya sesuai dosis yang diberikan. Kolaborasi dengan dokter Sp.OG untuk rencana selanjutnya. Hasil tindakan sudah di dokumentasikan.

Perdarahan : ibu masih mengeluarkan flek darah, tapi hanya sedikit saja.

PEMANTAUAN SETELAH PENGKAJIAN Ibu sudah diberi terapi Nifedipine 3x10 mg sehari dan injeksi Dexamethasone 6 mg secara IM sebanyak 4 kali. Keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu dalam keadaan baik. Perdarahan pada ibu sudah berhenti. Instruksi dokter ibu diperbolehkan pulang pada tanggal 11 Desember 2012. Akan tetapi karena keterbatasan waktu maka penulis tidak dapat mengetahui perkembangan klien selanjutnya.

BAB IV PEMBAHASAN 1. Pengumpulan Data Pada langkah pengumpulan data ini sudah sesuai dengan teori, tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek. 2. Interpretasi Data Dari kasus yang ditemukan pada Ny G G5P3Ab1Ah3, usia 38 tahun, umur kehamilan 32+5 minggu, janin hidup, intra uteri, tunggal, punggung kanan, presentasi kepala, dengan plasenta previa totalis, dapat disimpulkan tidak ada kesenjangan antara teori dengan praktek. 3. Mengindentifikasikan diagnose atau masalah potensial Dari hasil anamnesa maupun hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan obstretri, maupun pemeriksaan penunjang ditemukan adanya masalah potensial yaitu IUFD. 4. Identifikasi Kebutuhan yang memerlukan penanganan segera Pada Kasus Ny G dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu dengan plasenta previa totalis, antara teori dan praktik sudah sesuai. 5. Merencanakan asuhan yang menyeluruh Rencana asuhan yang diberikan pada Ny.G berdasarkan hasil anamnesa dan juga hasil pemeriksaan yang telah dilakukan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek. 6. Melaksanakan asuhan yang menyeluruh Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah di uraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. 7. Evaluasi Pada diagnosis di atas penulis tidak menemukan kesenjangan antara praktik, intervensi, implementasi, dan evaluasi yang telah dilakukan berdasarkan masalah yang muncul.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Setelah melaksanakan asuhan kebidanan pada Seorang ibu Ny G G5P3Ab1Ah3 usia 38 tahun, umur kehamilan 32+2 minggu, janin hidup, intra uteri, tunggal, punggung kiri, presentasi kepala, dengan plasenta previa totalis di dapatkan bahwa pada tinjauan kasus muncul masalah keluar darah dari jalan lahir maka penulis dapat melaksanakan/menganalisis tentang pengkajian data subjektif dan objektif, merencanakan dan melaksanakan rencana tindakan serta melakukan evaluasi pada masalah tersebut. Pada diagnosis di atas penulis tidak menemukan kesenjangan antara praktik, intervensi, implementasi, dan evaluasi yang telah dilakukan berdasarkan masalah yang muncul. B. Saran Bagi RS Untuk mempertahankan profesionalisme sehingga pelayanan pada klien sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan pendidikan lebih banyak meningkatkan prosedur belajar mengajar mengenai manajemen kebidanan karena penulis masih sangat kurang dalam hal pemahaman tersebut. Bagi Ny.G Hendaknya waspada terhadap komplikasi yang mungkin terjadi seperti halnya plasenta previa totalis.

DAFTAR PUSTAKA Sulistyawati, Ari. 2011. Asuhan Kebidanan Patologi. Jakarta : EGC Gede, Ida Bagus. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB. Manuaba DSOD. EGD

Anda mungkin juga menyukai