Anda di halaman 1dari 53

Sejarah Penginderaan Jauh PERKEMBANGAN PENGINDERAAN JAUH

1.1. Perkembangan Sebelum Tahun 1960 Perkembangan penginderaan jauh (PJ) bisa dibedakan kedalam dua tahap yaitu sebelum dan sesudah tahun 1960. Sebelum tahun 1960 masih digunakan foto udara, setelah tahun 1960 sudah ditambah dengan citra satelit. Perkembangan kamera diperoleh dari percobaan yang dilakukan pada lebih dari 2.300 tahun yang lalu oleh Aristoteles dengan ditemukannya teknologi Camera Obscura yang merupakan temuan suatu proyeksi bayangan melalui lubang kecil ke dalam ruang gelap. Percobaan ini dilanjutkan dari abad ke 13 sampai 19 oleh ilmuwan seperti Leonardo da Vinci, Levi ben Gerson, Roger Bacon, Daniel Barbara (penemuan lensa yang dapat dipakai untuk pembesaran pandangan jarak jauh melalui penggunaan teleskop), Johan Zahr (penemuan cermin), Athanins Kircher, Johannes Kepler, Robert Boyle, Robert Hooke, William Wollaston dan George Airy Pada 1700 AD, mulai ditemukan proses fotografi, yang pada akhirnya dikembangkan menjadi teknik fotografi (1822) oleh Daguerre dan Niepce yang dikenal dengan proses Daguerrotype. Kemudian proses fotografi tersebut berkembang setelah diproduksi rol film yang terbuat dari bahan gelatin dan silver bromide secara besar-besaran. Kegiatan seni fotografi menggunakan balon udara yang digunakan untuk membuat fotografi udara sebuah desa dekat kota Paris berkembang pada tahun 1859 oleh Gaspard Felix Tournachon. Pada tahun 1895 berkembang teknik foto berwarna dan berkembang menjadi Kodachrome tahun 1935. Pada 1903 di Jerman, kamera pertama yang diluncurkan melalui roket yang dimaksudkan untuk melakukan pemotretan udara dari ketinggian 800 m dan kamera tersebut kembali ke bumi dengan parasut. Foto udara pertama kali dibuat oleh Wilbur Wright pada tahun 1909. Selama periode Perang Dunia I, terjadi lonjakan besar dalam penggunaan foto udara untuk berbagai keperluan antara lain untuk pelacakan dari udara yang dilakukan dengan pesawat kecil dilengkapi dengan kamera untuk mendapatkan informasi kawasan militer strategis, juga dalam hal peralatan interpretasi foto udara, kamera dan film. Pada tahun 1922, Taylor dan rekan-rekannya di Naval Research Laboratory USA, berhasil mendeteksi kapal dan pesawat udara. Pada masa ini Inggris menggunakan foto udara untuk mendeteksi kapal yang melintas kanal di Inggris guna menghindari serangan Jerman yang direncanakan pada musim panas tahun 1940. Angkatan Laut Amerika, pada tanggal 5 Januari 1942 mendirikan Sekolah Interpretasi Foto Udara (Naval Photographic Interpretation School), bertepatan dengan sebulan penyerangan Pearl Harbor. Sejak 1920 di Amerika, pemanfaatan foto udara telah berkembang pesat yang mana banyak digunakan sebagai alat bantu dalam pengelolaan lahan, pertanian, kehutanan, dan pemetaan penggunaan tanah.

Dimulai dari pemanfaatan foto hitam putih yang pada gilirannya memanfaatkan foto udara berwarna bahkan juga foto udara infra merah. Selama perang dunia ke II, pemanfaatan foto udara telah dikembangkan menjadi bagian integral aktifitas militer yang digunakan untuk pemantauan ketahanan militer dan aktifitas daerah di pasca perang. Pada masa ini Amerika Serikat, Inggris dan Jerman mengembangkan penginderaan jauh dengan gelombang infra merah. Sekitar tahun 1936, Sir Robert Watson-Watt dari Inggris juga mengembangkan sistem radar untuk mendeteksi kapal dengan mengarahkan sensor radar mendatar ke arah kapal dan untuk mendeteksi pesawat terbang sensor radar di arahkan ke atas. Panjang gelombang tidak diukur dengan sentimeter melainkan dengan meter atau desimeter. Pada tahun 1948 dilakukan percobaan sensor radar pada pesawat terbang yang digunakan untuk mendeteksi pesawat lain. Radar pertama menghasilkan gambar dengan menggunakan B-Scan, menghasilkan gambar dengan bentuk segi empat panjang, jarak obyek dari pesawat digunakan sebagai satu kordinat, kordinat lainnya berupa sudut relatif terhadap arah pesawat terbang. Gambar yang dihasilkan mengalami distorsi besar karena tidak adanya hubungan linier antara jarak dengan sudut. Distorsi ini baru dapat dikoreksi pada radar Plan Position Indicator (PPI). PPI ini masih juga terdapat distorsi, tetapi ketelitiannya dapat disetarakan dengan peta terestrial yang teliti. Radar PPI masih digunakan sampai sekarang. Radar PPI dan Radar B Scan antenanya selalu berputar. Pada sekitar tahun 1950 dikembangkan sistem radar baru yang antenanya tidak berputar yaitu dipasang tetap di bawah pesawat, oleh karena itu antenanya dapat dibuat lebih panjang sehingga resolusi spatialnya lebih baik. Pada periode tahun 1948 hingga tahun 1950, dimulai peluncuran roket V2. Roket tersebut dilengkapi dengan kamera berukuran kecil. Selama tahun 1950-an, dikembangkan foto udara infra merah yang digunakan untuk mendeteksi penyakit dan jenis-jenis tanaman. Aplikasi di bidang militer diawali dengan ide untuk menempatkan satelit observasi militer pada tahun 1955 melalui proyek SAMOS (Satellite and Missile Observation System), yang dipercayakan oleh Pentagon kepada perusahaan Lockheed. Satelit pertama dari proyek ini dilucurkan pada tanggal 31 Januari 1961 dengan tujuan menggantikan sistem yang terpasang pada pesawat-pesawat pengintai U2 (Hanggono, 1998).

1.2. Perkembangan Sesudah Tahun 1960. Perekaman bumi pertama dilakukan oleh satelit TIROS (Television and Infrared Observation Satellite) pada tahun 1960 yang merupakan satelit meteorologi. Setelah peluncuran satelit itu, NASA meluncurkan lebih dari 40 satelit meteorologi dan lingkungan dengan setiap kali diadakan perbaikan kemampuan sensornya. Satelit TIROS ini sepenuhnya didukung oleh ESSA (Environmental Sciences Services Administration), kemudian berganti dengan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) pada bulan Oktober 1970. Seri kedua dari satelit TIROS ini disebut dengan ITOS (Improved TIROS Operational System). Sejak saat ini peluncuran manusia ke angkasa luar dengan kapsul Mercury, Gemini dan Apollo dan lain-lain digunakan untuk pengambilan foto pemukaan bumi. Sensor multispektral fotografi S065 yang terpasang pada Apollo-9 (1968) telah memberikan ide pada konfigurasi spektral

satelit ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite), yang akhirnya menjadi Landsat (Land Satellite). Satelit ini merupakan satelit untuk observasi sumber daya alam yang diluncurkan pada tanggal 23 Juli 1972. Disusul oleh generasi berikutnya Landsat 2 diluncurkan pada tanggal 22 Januari 1975 dan peluncuran Landsat 3 pada tanggal 5 Maret 1978. Perkembangan satelit sumber daya alam komersial terjadi pada Landsat 4 yang diluncurkan pada tanggal 16 Juli 1982, disusul Landsat 5 yang peluncurannya pada tanggal 1 Maret 1984, dan Landsat 6 gagal mencapai orbit. Direncanakan pada awal 1998 akan segera diluncurkan satelit Landsat 7 sebagai pengganti Landsat 5. Perkembangan satelit sumber daya alam tersebut diikuti oleh negara lain, dengan meluncurkan satelit PJ operasional dengan berbagai misi, teknologi sensor, serta distribusi data secara komersial, seperti satelit SPOT-1 (Systemme Probatoire dObservation de la Terre) oleh Perancis pada tahun 1986 yang diikuti generasi berikutnya, yaitu SPOT-2, 3, dan 4. Demikian juga dengan dipasangnya sensor radar pada satelit PJ sebagai penggambaran sensor optik, merupakan peluang yang baik bagi negara Indonesia, yang wilayahnya tertutup awan sepanjang tahun. Pada tahun 1986 Heinrich Hertz melakukan percobaan yang menghasilkan bahwa berbagai obyek metalik dan non metalik memantulkan tenaga elektromagnetik pada frekwensi 200 MHz yang dekat dengan gelombang mikro. Percobaan radar pertama kali dilakukan oleh Hulsmeyer pada tahun 1903 untuk mendeteksi kapal. Satelit PJ radar yang digunakan untuk mengindera sumber daya di bumi dimulai dengan satelit eksperimen Amerika Serikat untuk mengindera sumber daya laut Seasat (Sea Satellite) tanggal 27 November 1978, SIR (Shuttle Imaging Radar)-A 12 November 1981, SIR-B tahun 1984, SIR-C tahun 1987. Disusul satelit SAR milik Rusia Cosmos 1870 tahun 1987, dan beroperasi selama dua tahun, untuk pengumpulan data daratan dan lautan. Cosmos-1870 ini hanya merupakan suatu prototipe, yang dirancang khusus untuk satelit sistem radar, yang secara operasional akan dilakukan oleh Almaz-1. Satelit Almaz-1 diluncurkan 31 Maret 1991, yang awalnya untuk pantauan kondisi cuaca setiap hari, sedangkan secara operasional mengindera bumi baru dimulai 17 Oktober 1992 dan beroperasi selama 18 bulan. Konsorsium Eropa (ESA = European Space Agency) tidak mau ketinggalan meluncurkan ERS-1 tahun 1991 dan ERS-2 tahun 1995. Disusul Jepang dengan JERS (Japan Earth Resources Satellite), yaitu JERS-1 diluncurkan tanggal 11 Februari 1992, namun program ini tidak diteruskan dan diganti dengan Adeos (Advanced Earth Observation Satellite) Agustus 1996, serta GMS (Geostationer Meteorogical Satellite), India dengan IRS (Indiana Resources Satellite); dan Canada dengan Radarsat (Radar Satelitte). Pada saat ini, satelit intelijen Amerika memiliki kemampuan menghasilkan citra dengan resolusi yang sangat tinggi, mampu mencapai orde sepuluhan sentimeter. Pada sebuah citra KH-12, mampu mengambil gambar pada malam hari dengan menggunakan gelombang infra merah yang sangat berguna untuk mendeteksi sebuah kamuflase atau bahkan dapat melihat jika seorang serdadu menggunakan topi/helmnya. Selain Amerika negara lain yang memiliki satelit pengindera bumi dengan resolusi yang sangat tinggi adalah Rusia dengan KVR 1000 (satelit Yantar Kometa), Perancis dengan Helios-2A dan Israel dengan Offeq-2.

Selain di bidang militer, pemerintah Amerika Serikat juga telah memberikan lisensi kepada tiga perusahaan swasta untuk meluncurkan satelit sipil beresolusi sangat tinggi seperti Orbview (Orbital Science Corporation), Space Imaging Satellite (Lockheed) dan Earthwatch (Ball Aerospace). Orbview akan menangani misi Orbview/Baseline yang akan diluncurkan tahun 1999 yang menawarkan resolusi 1 meter untuk mode pankromatik dan 4 meter untuk mode multispektral. Pada pertengahan tahun 1998 ini juga direncanakan peluncuran satelit Quick Bird yang merupakan satelit penerus generasi sistem Early Bird. Satelit Quick Bird akan membawa sensor QuickBird Panchromatic dengan resolusi spatial 1 meter dan QuickBird Multispectral dengan resolusi 4 meter. Setiap program satelit mempunyai misi khusus mengindera dan mengamati permukaan bumi, sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan aplikasi yang menjadi tujuannya. Misi satelit PJ resolusi tinggi sebagian berorientasi untuk inventarisasi, pantauan, dan penggalian lahan atau daratan, sebagian untuk mendapatkan informasi kelautan dan lingkungan. Tabel 1 menunjukkan program satelit PJ operasional mulai dari tahun 1990 sampai menjelang tahun 2000, yang distribusi datanya bagi masyarakat di seluruh dunia. Data PJ tersebut dapat dipesan, dibeli, atau diminta melalui operator satelit atau stasiun bumi di negara atau kawasan setempat.

CITRA PENGINDERAAN JAUH


Menurut Hornby (Sutanto, 1994:6), citra merupakan gambaran yang terekam oleh kamera atau oleh sensor lainnya. Sedangkan Simonett mengutarakan dua pengertian tentang citra yaitu : The counterpart of an object produced by the reflection or refraction of light when focussed by a lens or a mirror. Gambaran obyek yang dibuahkan oleh pantulan atau pembiasan sinar yang difokuskan oleh sebuah lensa atau sebuah cermin. The recorded representation (cinnibkt as a ogiti unage) if object produced by optical, electro-optical, opical mechanical, or electrical means. It is generally used when the EMR menited or reflected from a scene is not directly recpded pm film. Gambaran rekaman suatu obyek (biasanya berupa gambaran pada foto) yang dibuahkan dengan cara optik, elektro-optik, optik mekanik, atau elektronik. Pada umumnya ia digunakan bila radiasi elektromagnetik yang dipancarkan atau dipantulkan dari suatu obyek tidak langsung direkam pada film. (Sutanto, 1994:6) Benda yang terekam pada citra dapat dikenali berdsarkan ciri yang terekam oleh sensor. tiga ciri yang terekam oleh sensor adalah ciri spasial, ciri temporal, dan ciri spektral.Ciri spasial, adalah ciri yang berkaitan dengan ruan, meliputi : bentuk, ukuran, bayangan, pola, tekstur, situs, dan asosiasi.Ciri Temporal, adalah ciri yang terkait dengan umur benda atau waktu saat perekaman.Ciri Spektral, adalah ciri yang dihasilkan oleh tenaga elektromagnetik dengan benda, yang dinyatakan dengan rona dan warna. Citra dapat dibedakan atas citra foto (photographic image) atau foto udara dan citra nonfoto (non-photographic image).

Perbedaan antara citra foto dan citra non foto dapat dijelaskan dengan tabel berikut :

Citra foto dapat dibedakan berdasarkan : a. Sistem wahana : - foto satelit : foto yang dibuat dari perspektif satelit - foto udara : foto yang dibuat dari persepektif pesawat udara atau balon udara b. Spektrum elektromagnetik yang digunakan : - Ultraviolet - ortokromatik - pankromatik - inframerah warna asli (true color) dan - inframerah warna palsu (false color). c. Kemiringan sumbu kamera terhadap permukaan bumi ; - Foto vertikal atau Foto tegak (Orto photograph), yaitu citra foto yang dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap objek di permukaan bumi - Foto miring atau Foto condong (Oblique Photograph), yaitu citra foto yang dibuat dengan sumbu kamera membentuk

sudut

terhadap

objek

permukaan

bumi.

d. Jenis kamera - foto dengan kamera tunggal - kamera jamak (menggunakan lebih dari satu kamera) e. Warna yang digunakan - Foto warna semu, misalnya vegetasi yang berwarna hijau nampak berwarna merah karena menggunakan sinar ultraviolet.

- foto warna asli, misalnya vegetasi yang berwarna hijau akan terlihat hijau seperti objeknya. Citra nonfoto dapat dibedakan: a. Berdasarkan wahana yang digunakan - Citra dirgantara - Citra satelit b. Berdasarkan Spektrum elektromagnetik yang digunakan - citra radar

- citra inframerah termal - citra gelombang mikro c. Berdasarkan sensor yang digunakan - citra tunggal - citra multispektral

SEJARAH TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DI INDONESIA I. PENDAHULUAN Penginderaan jauh (inderaja), khususnya inderaja dari satelit, berkembang sangat pesat. Negara-negara yang terlibat dalam pengembangan satelit akan semakin banyak termasuk dari Negara berkembang dan pihak swasta. Termasuk Indonesia masuk didalamnya, dimana diketahui Indonesia merupakan Negara kepulauan yang sangat luas yang terbesar disekitar khatulistiwa dan diantara dua benua, yakni benua Asia dan benua Australia, dan diapit dua samudra besar, yakni samudra Hindia dan samudra Pasifik. Selain itu, Indonesiajuga merupakan Negara maritime atau disebut dengan Negara bahari yang memegang peran penting dalam pembentukan iklim dan lingkungan global. Era teknologi yang canggih sekelas inderaja sangat diperlukan di berbagai Negara, apalagi Negara Indonesia yang mempunyai kompleksitas bentukan lahan, bentang alam, maupun kekayaan alamnya dari mineral tambang sampai hasil laut. Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan untuk memelihara kelestarian lingkungan. Tantangan sosial, politik, ekonomi, jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 200 juta, maka pendayagunaan sumbardaya alamnya harus dilakukan secara berkelanjutan (sustainable) sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di samping itu pengolahan sumberdaya alam yang lestari dapat digunakan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi, ketahanan politik, ketahanan dan kelenturan budaya. Oleh karena itu dibutuhkan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk menghadapi tantangan tersebut. Teknologi penginderaan jauh dengan wahana satelit merupakan suatu alternative yang berdaya guna dan berhasil guna untuk pemetaan, inventarisasi, pemantauan sumberdaya alam dan lingkungan (Purwadhi, 1994 dalam Purwadhi dan sanjoto 2008: 39-40) Kepemilikan satelit yang saat ini umumnya dimiliki oleh pemerintah dan beroperasi bukan untuk tujuan komersial akan berubah kepemilikan ke pihak swasta dengan basis komersial. Tantangan tersebut bahkan lebih besar dengan adanya arus globalisasi perekonomian dan informasi melalui jaringan internet ( kertasasmita 2000:1)

PENGINDERAAN JAUH
01MAR
I.PENDAHULUAN Dalam pembuatan makalah ini merupakan salah satu dalam unsur dalam materi peginderaan jauh dimana radar ,satelit ,wahana, adalah materi penyajian dalam perkulihan.sehigga dengan melihat materi radar , satelit , wahana harus dipraktekan dalam penyajian materi .Agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk menerapkan ilmu , teknik, penginderaan jauh sebagai ilmu maupun ilmu aplikasi dalam pembagunanan . memberikan Ilmu pengetahuan kepada mahasiswa tentang pengertian penginderaan jauh . perkembangan penginderaan jauh [filosofi penginderaan jauh ] ,Tenaga penginderaan jauh [energi remote sensing ],sensor dan wahana ,foto udara ,satelit ,radar .pengunaan remote sensing dan aplikasinya [citra digital dan sistim informasi geografi ].Radar , satelit, wahana,merupan suatu kebutuhan bagi dunia perkuliahan untuk dapat mempelajari.Karena di era globalisasi ini penginderaan jauh memegang peranan penting dalam aspek kehidupan .selain sarana komunikasi , juga dalam aspek kehidupan ,teknologi .ilmu pengetahuan dan sebagainya oleh Karena itu sangat penting bagi kita untuk mempelejari mata kuliah peginderaan jauh .Dengan demikian penginderaan jauh merupakan ilmu yang harus dipelajari. II.LATAR BELAKANG Latar belakang penulisan makalah ini berdasarkan suatu konsep dari mata kuliah penginderaan jauh yang memegang peranan penting dalam ilmu atau teknik penginderaan jauh .Dalam system penginderaan jauh .teknologi pencitraan dengan mengunakan gelombang mikro masih relative baru,terutama sejak digunakan sistim side looking airbone radar pada awal tahun 1970-an .pengunaan teknologi ini ceapat sekali berkembang , mengingat kememampuannya yang lebih di bandingkan dengan metoda sebelumnya , yaitu dapat menembus awan dan bisa dilakukan dalam kondisi apapun (siang, malam,hujan,berawan dsb).disamping berkembang dalam teknologi radar ,perkembangan wahananya pun sangat menunjang dalam penginderaan jauh

sistim radar.dimulai dari pesawat terbang , satelit dan lain-lain.sejak terbakarnya satelit sea-sat tidak lama setelah peluncuran ,pengembangan sistim radar dengan wahana satelit dan terus dikembangkan .adalah Radarsat (Canada) ,ERS (konsurrsium negeranegara Eropa/ ESA), JERS (jepang) dan peningkatan sistim radar pada space shuttle. VI .TUJUAN Tujuan dari pada penulisan ini adalah : A .Mampu menyebutkan, menjelaskan ,membedakan radar ,satelit,wahana. B.Mampu menyebutkan ,menjelaskan ,membedakaan : jenis foto udara, satelit,dan radar. C.Mampu menyebutkan , menjelaskan ,membedakan :hasil remote sensing/ PJ dan peranannya serta aplikasinya (Citra Digital Dan Sistim Informasi Geografi) . D.mampu menerapkan hasil-hasil PJ dalam berbagai kegiatan perkuliahaan lainya. V.ISI A.TEKNOLOGI RADAR DALAM PENGINDERAAN JAUH Radar adalah singkatan dari Radio Detection And Ranging,bekerja pada gelombang radio dan gelombang mikro ,dengan panjang gelombang beberapa millimeter hingga sekitar satu meter , sistim pencitraan Radar sebagai sumber energi elektromaknetik, meng iluminasi permukaan bumi kemudian energi pantulannya te rdeteksi dan terekam oleh sistim radar tersebut sebagai citra.sehingga dengan demikian sistim ini sering disebut dengan penginderaan jauh aktif.pada tabel 1 ditunjukkan panjang gelombang radar tersebut yang digunakan dalam penginderaan jauh ,sedang pada tabel 2 menunjukan beberapa band yang di gunakan oleh mereka yang mengembangkan sistim radar untuk aplikasi tertentu 3.1 Konsep Radar Konsep radar adalah mengukur jarak dari sensor ke target ,ukuran jarak tersebut didapat dengan mengukur waktu yang diperlukan gelombang elektromaknetik selama perjalananya mulai dari sensor ke target dan kembali lagi ke sensor.pada awalnya penggunaan system radar pada pemetaan / pengginderaan jauh ,dilakukan dengan

system Real Apeture radar [RAR].Pada system ini digunakan antena cukup panjang ,akan tetapi dengan pemakaian antenna yang panjang tersebut ,sangat banyak keterbatasan nya, terutama menyakut ketelitian spasial dan penempatan antena wahana . 3.2.Geometri Pencitraan Radar Pencitraan radar ,baik dengan wahana pesawat terbang maupun satelit ,selalu dilakukan kearah miring [side looking ],untukjelasnya dapat di lihat dan hal ini akan berakibat timbulnya suatu resolusi spasial , yang terdidri dari komponen resolusi kearah melintang lintasan (range resolution ) dan resolusi searah lintasan ( azimuth resolution ). Resolusi melintang lintasan adalah resolusi pada arah tegak lurus terhadap arah terbang wahan.untuk dapat merekam secara terpisah dua obyek yang berdekatan pada arah tegak lurus arah terbang ,semua sinyal yang dipantulkan oleh kedua obyek harus diterima antena secara terpisah.sedangkan resolusi searah lintasan adalah resolusi searah lintasan wahana. 3.2.Dasar dasar Radar Apertur Sintesa Teknik Radar paling canggih saat ini yang di gunakan dalam penginderaan jauh adalah Radar Apertur Sintesa ( Synthetic Aperatur Radar / SAR ).dalam sistim ini, digunakan antena yang relative kecil dan mampu mengantikan antena yang panjang .perbedaan dengansistim radar konvensional ,gelombang tidak di deteksi secara bersama sama ( serentak ) dalam seluruh bagian antena sintesis.sebagai pengganti , selam antena kecil bergerak sepanjang lintasan, sinyal yang di terima pada setiap posisi di rekam , kemudian di kombinasikan dengan sistim pengolahan data.sebagai ilustrasi ,bahwa target.kualitas hasil di setiap titik sangat tergantung dari intensitas energi balik yang di pantulkan oleh setiap obyek di lapangan.oleh karena itu intesitas sinyal balik ini sangat tergantung pada sifat fisis dan bentuk permukaan yang di indera . ( bentuk topografi , kekasaran, liputan vegetasi ), juga sifat elektrisnya ( konduktifitas). 3.3.Radar Aperatur Sintesa Interferometri Radar Aperatur Interferometri merupakan suatu teknik radar aperatur sintesa dengan mengubakan dya antena.kedua antena merekam data amplitude dan fasa dari radiasi

pantulan.kedua antena dapat di pasang pada satu wahana dalam posisi memanjang wahana kedua teknik tersebut sering di sebut dengan lintasan tunggal ( single pass ).karena kedua antena terletak di wahana yang sama .teknik lain yang terletak di wahana Yang sama .teknik lain yang terus berkembang dan sangat menjanjikan di masa mendatang adalah pengunaan satu antena , akan tetapi melintas di lokasi yang sama pada saat yang tidak sama pada saat yang tidak sama ( repeat pass ) 3.4.1.Radar Aperatur Sintesa Interferometri melintang lintasan Pada teknik ini kedua antena di pasang melintang terhadap arah lintasan wahana.salah satu antena bekerja dengan mengirim dan menerima sinyal , sedang antena lainnya hanya menerima sinyal pantul.teknik ini sampai sekarang hanya di terapkan di wahana pesawat terbang. 3.4.2.Radar Aperatur Sintesa Interferometri melintang lintasan Teknik ini juga mengunakan lintasan tunggal ( single pass )akan tetapi kedua antena di pasang pada posisi memanjang wahana ,searah terhadap lintasan wahana.teknik ini juga hanya di terapkan di wahana pesawat terbang. 3.4.3.Radar Apertur Sintesa Interferometri pengulangan lintasan. Pada teknik ini,hanya di gunakan satu antena dimana pada saat melintas pada satu lokasi , di hasilkan satu citra dan pada saat kesempatan lain di hasilkan citra untuk daerah yang sama dari posisi wahana yang sedikit berbeda.garis hubung yang menghubungkan kedua posisi antena di sebut basis ( baseline ).pada teknik ini di lakukan dengan mengunakan wahana satelit.teknik ini di sebut pengulangan lintasan ( repeat pass) karena wahana melintas pada posisi yang hampir sama pada saat yang berbeda .hubungan antara beda fasa , panjang gelombang ,basis B dan beda jarak antara antena dan objek p2-p1. Dari beda fasa yang terjadi ,baik pada sistim radar interferometri melintang lintasan ,memanjang lintasan maupun pengulangan lintasan , kemudian diolah melalui proses phase- unwrapping, yaitu pengolahan fasa untuk menyelesaikan ambiguitas 2 .hasil sehingga dengan demikian bisa di turunkan model ketinggian digital untuk area yang

dicakup. B PENGINDERAAN JAUH DENGAN SATELIT 1.Konsep Untuk itu digunakan kamera yang terpasang pada wahana ruang angkasa yang diluncurkan ke angkasa luar dan sering disebut sebagai satelit .Satelit merupakan suatu banda yang mengelilingi suatu obyek yang lebih besar .contohnya bumi yang merupakan satelit dari matahari .ataupun bulan yang selalu mengintari bumi . Bumi atau bulan merupakan satelit alami sedangkan wahana ruang angkasa yang diluncurkan manusia keluar angkasa merupakan satelit buatan dan merupakan topic perkuliahan . Kamera yang di pasang pada satelit berfungsi sebagai indera penglihatan yang melakukan perekaman terhadap permukaan bumi pada saat satelit tarsebut beredar mengelilingi bumi menurut garis orbit atau edarnya ,sensor yang ada pada kamera akan mendektsi informasi permukaan bumi melalui enrgi radiasi matahari yang dipantulkan oleh permukaan keatas , data energi pantulan radiasi ini di olah menjadi gejala listrik dan data di kirim ke stasiun pengolah satelit yang ada di bumi. Terdapat 7 komponen dalam penginderaan jauh : (1) sumber cahaya matahari,(2) gelombang elektromagnetik yang sampai ke permukaan bumi ( Ei = incoming electromagnetic),(3) objek yang ada di permukaan bumi,(4) Gelombang electromagnetic yang di pantulkan (ER=Reflect electromagnetic) atau dikembalikan oleh permukaan bumi ,(5) sensor yang ada di kamera yang terpasang pada satelit di ruang angkasa ,(6) stasiun penerima dan pengolah data satelit dan (7) pengunaan data citra satelit. Suatu Ei yang sampai di permukaan bumi terdiri dari sinar tampak (visible light), sinar infra merah dekat ( near infra red /NIR) dan infra merah gelombang pendek ( short wave infra red / SWIR).komponen Ei yang sampai di permukaan bumi akan terbagi atas ER (Reflect Elektromagnetic ). EA adalah gelombang electromagnetic yang di serap (Absorp Elektromagnetic ) dan ET (Transmittan Elektromagnetic) yaitu di teruskan .skema pereedaran dan interaksi gelombang electromagnetic ini komponen dari ER berasal dari spectrum cahaya tampak dan infra merah dekat .sebagian dari Ei ada juga

yang di serap (EA= energy adsorp ) yang berada pada spectrum infra merah thermal.ET yang merupakan energy yang di teruskan akan berada pada spectrum daerah visibel biru dan hijau.semakin besar energi yang di serap maka suhu objek yang naik pula yang mengakibatkan timbulnya radiasi emisi atauEe yang semakin tinggi pula.untuk .untuk ER tergantung kepada objek.semakin tinggi nilai ER semakin besar pantulan yang mengakibatkan semakin jelas kenampakan objek .tidak semua sensor kamera dapat menerima ER sedangkan Ee akan diterima oleh sensor thermai yang berada pada kisaran daerah infara merah thermal ( thermar infra red =TIR ). Besarnya nilai persentase pantulan objek akan mencerminkan warna dari suatu objek .untuk vegetasi akan terlihat pada spectrum cahaya tampak antara 0.4-0.7 , dengan nilai 0.4-0.5 cm untuk daun yang sehat yaitu pada kisaran warna biru dan hijau ( sebagian besar gelombang electromagnetic di serap oleh klorofil ) dan jika warna daun yang merah akan terlihat pada 0.65 cm.persentase pantulan dari daerah yang tertutup vegetasi berkisar antara 5-45 % tergantung kerapatan dan jenis vegetasi yang menutupi daerah tersebut untuk tanah kering yang terbuka akan terlihat coklat abu-abu dengan pantulan berkisar antara 5-45%.sedangkan air jernih spectrum cahayanya akan terdapat pada panjang gelombang 0.4-0.78 cm dengan pantulan yang rendah kurang dari 5%.skema dari spectrum electromagnetic. System penginderaan jauh didesain memiliki sifat multi aplikasi yaitu multi spectral.multi spasial dan multi temporal .sifat multi spektraldari system penginderaan jauh di karena kan sensor kamera satelit mengunakan saluran penginderaan dua atau lebih pada saat yang bersamaan.semakin banyak kanal atau saluran yang gunakan maka informasi yang didapati semakin banyak dan lengkap .sifat multi spasial berarti system pengideraan jauh memeliki ketajaman (ketelitian) spasial sebanyak 2 atau lebih , serina juga di sebutkan ketelitian spasial ini sebagai resolusi spasial.jika resolusi spasial semakin tinggi maka semakin tinggi ketelitian citra yang berarti mempunyai skala yang semakin besar pula.sedangkan sifat multi temporal berarti kemampuan sensor penginderaan jauh untuk melakukan pengulangan penyapuan suatu daerah tertentu pada waktu yang telah di tetapkan .kembalinya satelit untuk menyapu suatu kawasan dapat pada peroade tertentu 1 jam , 1hari hingga 1 bulan berikutnya.

Resolusi spasial dari citra satelit dapat di bagi menjadi 3 yaitu : makro, sedang dan mikro dengan interpretasi deskripsi citra secara umum, agak rinci .resolusi spasial di katakan makro jika pada suatu kawasan disebut mempunyai penutup lahan bervegetasi .jika kawasan itu di sebutkan mempunyai penutup lahan terdiri dari perkebunan, hutan atau sawah maka resolusi citranya di sebut sedang dan jika disebutkan suatu daerah mempunyai vegetasi hutan pinus ,hutan jati,hutan bakau atau perkebunan kelapa sawit maka resolusi spasialnya adalah mikro. System sensor penginderaan jauh yang bekerja pada daerah sisnr tampak ( fotografi) disebut sebagai sensor optis .adapun sensor berkerja pada daerah sinar inframerah di sebut sebagai sensor thermal sedangkan yang bekerja pada gelombang mikro dikenal sebagai sensor radar .masing-masing sensor mempunyai kelebihan dan kelemahaan masing-masing .sensor optis dan thermal mudah di gunakan dan diinterplasikan tetapi hanya bekerja optimal pada thermal mudah di gunakan dan diinterplasikan tetapi hanya bekerja optimal pada keadaan ruang angkasa yang cerah tanpa ditutupi oleh awan ,kabut atau hujan.sensor optis dan thermal tidak mampu menembus hambatan ini.untuk digunakan sensor radar. C.WAHANA SATELIT Wahana satelit adalah alat pengankut kamera pemotretan adalah satelit.kamera yang di gunakan pada citra satelit adalah jenis kamera yang lebih dikenal dengan scan.scan cara rekamannya dalam bentuk panyapuan pada suatu panjang jalur edarnya .sistim ini banyak di gunakan untuk dewasa ini untuk mengelabui birokrat papua dalam merencenakan pembangunan .citra yang di peroleh kita adalah citra non foto karena data yang di terima oleh stasiun dalam bentuk digit. Wahana yang di gunakan baik berupa roket atau satelit ,selain gelombang elektromaknetic di gunakan juga gelombang pulsa aktif roket atau satelit menghasilkan citra sesuai dengan fungsi satelit tersebut begitu pula saluranya. Satelit umumnya dalamorbitan mencapai ketinggian atas 5000 km seperti : Landsat 79 km liputan 34.000 km. NoAA 950 km : 10.000.000 km GMS 36.000 km : 30% luas permukaan bumi

Satelit yang di gunakan untuk risede adalah ribuan di angkasa dengan resolusi spasial yang terus mengalami perbaikan dengan perekaman ulang terus mengalami perbaikan . VI.CARA KERJA TENAGA DAN GELOMBANG A.Tenaga dalam penginderaan jauh Tenaga penginderaan jauh adalah tenaga / kekuatan untuk membawah data (gejala obyek,daerah ) target ke sensor.tenaga (1) distribusi gelombang bunyi ,(2) distribusi tenaga elektromaknetik . Obyek,daerah, gejala :mempunyai karateristik terhadap tenaga PJ,contoh: Gravimeter gravitasi bumi magnetomete B.Tenaga elektromagnetik [ jenelek] Paket praktis dan magnetis yang bergerak demgan kecepatan sinar pada frekuensi dan panjang gelombang tertentu dengan sejumlah tenaga tertentu . Tenelek dari matahari merupakan sumber tenaga alami dan tenaga buatan. Alami pasif debu , air .uap , atau obyek obyek lain lain di bumi Bautan- aktif pulsa . Tenaga berlangsung kecepatan tetap dangan gelombang yang teratur dan sama . tenga ini mempunyai panjang gelombang dengan frekuensi berjalan terbalik . Panjang gelombang jarak puncak gelombang ke puncak berikutnya . Frekuensi sirklus gelombang yang melalui titik|detik. VII. KELEMAHAN ATAU KEUNGGULAN A.kelemahan dari radar , satelit , wahana

1.merupakan teknolilogi yang lambat dalam penyajian data 2.merupakan suatu sinyal yang di pantulkan oleh kedua obyek harus di terima antena secara terpisah 3.spektum elektromagnetik dalam kondisi yang stabil B.keuggulan dari radar , satelit , wahana . 1.Mampu menyajikan data yang akurat 2.sistim penggunaan radar , satelit , wahana semakin canggih 3.teknolgi penerapan radar , satelit , wahana. 4.obyek penentuan dapat di sajikan . VIII.KESIMPULAN Dari tulisan di atas kita dapat melihat bahwa dengan system radar , satelit , wahana , kita bisa mendaparkan informasi tematis , melalui interprestasi citra maupun informasi ketinggian melalui pengolahan fasa .sehingga dengan demikian bisa didapat pete yang menyajiakan ketiggian dan liputan lahannya . tentu saja apa yang di hasilkan masih sangat terbatas dan sampai saat ini masih di teliti . kendala lain adalah liputan lahan , bentuk topografi , atmosfir . stasui antena , yang banyak berpengaruh pada hasil akhir system penginderaan jauh aktif ini. OLEH: ROMMY SOKOY (mahasiswaFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN prog study PENDIDIKAN GEOGRAFI) DAFTAR PUSTAKA BPP tecnologi [ 1993 ] . ERS-1 LANDSAD ,SPOT : Applicatios complementary approach , collection of course materials . Gens rudiger & jhin van genderen [1995 ] ,Sar interferometry issues , techniques , applications the intenational journal of remote sensing , ITC . the Netherlands .

Dasar Pengolahan Citra Digital


Pengolahan citra (image processing) merupakan proses mengolah piksel-piksel dalam citra digital citra digital yang bertujuan untuk memanipulasi dan menganalisis citra dengan bantuan komputer. Ada beberapa alasan mengapa kita melakukan pengolahan citra digital antara lain : Untuk mendapatkan citra asli dari suatu citra yang sudah buruk karena pengaruh derau. Proses pengolahan bertujuan mendapatkan citra yang diperkirakan mendekati citra sesungguhnya. Untuk memperoleh citra dengan karakteristik tertentu dan cocok secara visual yang dibutuhkan untuk tahap lebih lanjut dalam pemrosesan analisis citra. Dalam proses akuisisi, citra yang akan diolah ditransformasikan dalam suatu representasi numerik. Pada proses selanjutnya representasi tersebutlah yang akan diolah secara digital oleh komputer. Garis besarnya pengolahan citra pada umumnya dapat dikelompokkan dalam dua jenis kegiatan, yaitu : Memperbaiki citra sesuai kebutuhan Mengolah informasi yang terdapat pada citra Mengolah informasi yang terdapat pada citra sangat erat kaitannya dengan computer aided analysis yang umumnya bertujuan untuk mengolah suatu objek citra dengan cara mengekstraksi informasi penting yang terdapat di dalamnya. Dari informasi tersebut dapat dilakukan proses analisis dan klasifikasi secara cepat memanfaatkan algoritma perhitungan komputer. Dari pengolahan citra diharapkan terbentuk suatu sistem yang dapat memproses citra masukan hingga citra tersebut dapat dikenali cirinya. Pengenalan ciri inilah yang sering diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Operasi Pengolahan Citra Operasi-operasi yang dilakukan dalam pengolahan citra banyak ragamnya, namun secara umum operasi pengolahan citra dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis sebagai berikut: 1. Perbaikkan Kualitas Citra (image enhancement) Jenis operasi ini bertujuan untuk memperbaiki citra dengan cara memanipulasi parameter-parameter citra. Dengan operasi ini, ciri-ciri khusus yang terdapat didalam citra lebih ditonjolkan. Contoh-contoh operasi perbaikkan citra: Perbaikkan kontras gelap/terang Perbaikkan tepian objek (edge enhancement) Penajaman (sharpening) Pemberian warna semu (pseudocoloring) Penapisan derau (noise filtering) 2. Pemugaran Citra (image restoration) Operasi ini bertujuan menghilangkan cacat pada citra. Tujuan pemugaran citra hampir sama dengan operasi perbaikkan citra. Bedanya, pada pemugaran citra penyebab degradasi gambar diketahui. Contoh-contoh operasi pemugaran citra : a. Penghilangan kesamaran (deblurring)

1.

2.

a. b.

a. b. c. d. e.

b. Penghilangan derau (noise) 3. Pemampatan Citra (image compression) Jenis operasi ini dilakukan agar citra dapat direpresentasikan dalam bentuk yang lebih kompak sehingga memerlukan memori yang lebih sedikit. Hal penting yang harus diperhatikan dalam pemampatan citra adalah citra yang telah dimampatkan harus tetap mempunyai kualitas gambar yang bagus. 4. Segmentasi Citra (image segmentation) Jenis operasi ini bertujuan untuk memecah suatu citra kedalam beberapa segmen dengan suatu criteria tertentu. Jenis operasi ini berkaitan erat dengan pengenalan pola. 5. Pengorakan Citra (Image Analysis) Jenis operasi ini bertujuan menghitung besaran kuantitif dari citra untuk menghasilkan diskripsinya. Tehnik pengolahan citra mengekstraksi cirri-ciri tertentu yang membantu dalam identifikasi objek. Proses segmentasi kadang kala diperlukan untuk melokalisasi objek yang diinginkan dari sekelilingnya. Contoh-contoh operasi pengorakan citra : a. Pendeteksian tepian objek (edge detection) b. Ekstraksi batas (boundary) c. Representasi Daerah (region)
6. Rekonstruksi Citra (Image Reconstruction) Jenis operasi ini bertujuan untuk membentuk ulang objek dari beberapa citra hasil proyeksi. Operasi rekonstruksi citra banyak digunakan dalam bidang medis, seperti rekonstruksi 3D CT Scan, MRI

Citra digital adalah sebuah fungsi 2D, f(x,y), yang merupakan fungsi intensitas cahaya, dimana nilai x dan y merupakan koordinat spasial dan nilai fungsi di setiap titik (x,y) merupakan tingkat keabuan citra pada titik tersebut. Citra digital dinyatakan dengan sebuah matriks dimana baris dan kolomnya menyatakan suatu titik pada citra tersebut dan elemen matriksnya (yang disebut sebagai elemen gambar atau piksel) menyatakan tingkat keabuan pada titik tersebut. Matriks dari citra digital berukuran NxM (tinggi x lebar), dimana: N = jumlah baris M = jumlah kolom L = derajat keabuan 0<yN1 0xM1 0 f(x,y) L 1

Berikut ini adalah gambaran matriks dari citra digital:

Dimana indeks baris (x) dan indeks kolom (y) menyatakan suatu koordinat titik pada citra, sedangkan f(x,y) merupakan intensitas (derajat keabuan) pada titik (x,y). Berdasarkan jenisnya, citra digital dapat dibagi menjadi 3 (Sutoyo, 2009), yaitu: 1. Citra Biner (Monokrom) Memiliki 2 buah warna, yaitu hitam dan putih. Warna hitam bernilai 1 dan warna putih bernilai 0. Untuk menyimpan kedua warna ini dibutuhkan 1 bit di memori. Contoh dari susunan piksel pada citra monokrom adalah sebagai berikut:

2. Cita Grayscale (skala keabuan)

Citra grayscale mempunyai kemungkinan warna hitam untuk nilai minimal dan warna putih untuk nilai maksimal. Banyaknya warna tergantung pada jumlah bit yang disediakan di memori untuk menampung kebutuhan warna tersebut. Semakin besar jumlah bit warna yang disediakan di memori, maka semakin halus gradasi warna yang terbentuk. Contoh: skala keabuan 2 bit jumlah kemungkinan 22 = 4 warna Jadi,, kemungkinan warna 0 (minimal) sampai 4 (maksimal) 3. Citra Warna (true color)

Setiap piksel pada citra warna mewakili warna yang merupakan kombinasi tiga warna dasar, yaitu merah, hijau, dan biru (RGB = Red, Green, Blue). Setiap warna dasar menggunakan penyimpanan 8 bit = 1 byte (nilai maksimum 255 warna), jadi satu piksel pada citra warna diwakili oleh 3 byte. Pengolahan citra digital adalah salah satu bentuk pemrosesan informasi dengan inputan berupa citra (image) dan keluaran yang juga berupa citra atau dapat juga bagian dari citra tersebut. Tujuan dari pemrosesan ini adalah memperbaiki kualitas citra agar mudah diinterpretasi oleh manusia atau mesin computer. Operasi-operasi pada pengolahan citra digital secara umum dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Perbaikan kualitas citra (image enhancement), contohnya perbaikan kontras gelap/terang, penajaman (sharpening), dan perbaikan tepian objek (edge enhancement) 2. Restorasi citra (image restoration), contohnya penghilangan kesamaran (deblurring) 3. Pemampatan citra (image compression) 4. Segmentasi citra (image segmentation) 5. Pengorakan citra (image analysis), contohnya pendeteksian tepi objek (edge enhancement) dan ekstraksi batas (boundary) 6. Rekonstruksi citra (image recronstruction)

KONSEP DASAR PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

Citra digital adalah sebuah fungsi 2D, f(x,y), yang merupakan fungsi intensitas cahaya, dimana nilai x dan y merupakan koordinat spasial dan nilai fungsi di setiap titik (x,y) merupakan tingkat keabuan citra pada titik tersebut. Citra digital dinyatakan dengan sebuah matriks dimana baris dan kolomnya menyatakan suatu titik pada citra tersebut dan elemen matriksnya (yang disebut sebagai elemen gambar atau piksel) menyatakan tingkat keabuan pada titik tersebut. Matriks dari citra digital berukuran NxM (tinggi x lebar), dimana: N = jumlah baris M = jumlah kolom 0<yN1 0xM1

L = derajat keabuan 0 f(x,y) L 1

Berikut ini adalah gambaran matriks dari citra digital:

Dimana indeks baris (x) dan indeks kolom (y) menyatakan suatu koordinat titik pada citra, sedangkan f(x,y) merupakan intensitas (derajat keabuan) pada titik (x,y). Berdasarkan jenisnya, citra digital dapat dibagi menjadi 3 (Sutoyo, 2009), yaitu: 1. Citra Biner (Monokrom)

Memiliki 2 buah warna, yaitu hitam dan putih. Warna hitam bernilai 1 dan warna putih bernilai 0. Untuk menyimpan kedua warna ini dibutuhkan 1 bit di memori. Contoh dari susunan piksel pada citra monokrom adalah sebagai berikut:

2. Cita Grayscale (skala keabuan)

Citra grayscale mempunyai kemungkinan warna hitam untuk nilai minimal dan warna putih untuk nilai maksimal. Banyaknya warna tergantung pada jumlah bit yang disediakan di memori untuk menampung kebutuhan warna tersebut. Semakin besar jumlah bit warna yang disediakan di memori, maka semakin halus gradasi warna yang terbentuk. Contoh: skala keabuan 2 bit jumlah kemungkinan 22 = 4 warna Jadi,, kemungkinan warna 0 (minimal) sampai 4 (maksimal)

3. Citra Warna (true color) Setiap piksel pada citra warna mewakili warna yang merupakan kombinasi tiga warna dasar, yaitu merah, hijau, dan biru (RGB = Red, Green, Blue). Setiap warna dasar menggunakan penyimpanan 8 bit = 1 byte (nilai maksimum 255 warna), jadi satu piksel pada citra warna diwakili oleh 3 byte.

Pengolahan citra digital adalah salah satu bentuk pemrosesan informasi dengan inputan berupa citra (image) dan keluaran yang juga berupa citra atau dapat juga bagian dari citra tersebut. Tujuan dari pemrosesan ini adalah memperbaiki kualitas citra agar mudah diinterpretasi oleh manusia atau mesin computer. Operasi-operasi pada pengolahan citra digital secara umum dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Perbaikan kualitas citra (image enhancement), contohnya perbaikan kontras gelap/terang, penajaman (sharpening), dan perbaikan tepian objek (edge enhancement) 2. Restorasi citra (image restoration), contohnya penghilangan kesamaran (deblurring) 3. Pemampatan citra (image compression) 4. Segmentasi citra (image segmentation) 5. Pengorakan citra (image analysis), contohnya pendeteksian tepi objek (edge enhancement) dan ekstraksi batas (boundary) 6. Rekonstruksi citra (image recronstruction)

Digitalisasi dan Resolusi Citra 1. Digitalisasi Citra

Digitalisasi citra merupakan proses untuk mengkonversi objek yang diindera/didapatkan oleh sensor menjadi citra digital. Digitalisasi citra terdiri dari dua proses, yaitu:

Sampling: proses pengambilan nilai diskrit koordinat (x,y) dengan melewatkan citra melalui grid (celah) Kuantisasi: proses pengelompokan nilai tingkat keabuan citra kontinu ke dalam beberapa level atau bisa juga dikatakan sebagai proses yang membagi skala keabuan (0,L) menjadi G buah level yang dinyatakan dengan suatu harga bilangan bulat (integer), dapat dituliskan sebagai berikut: G=2m dimana G adalah derajat keabuan dan m merupakan bilangan bulat positif.

Untuk penyimpanan citra digital yang disampling dengan NxM (N baris dan M kolom, sperti pada posting sebelumnya) piksel dan dikuantisasi menjadi 2m level derajat keabuannya membutuhkan memori: M x N x m. Misalnya, sebuah citra berukuran 512512 dengan 256 derajat keabuan membutuhkan memori sebesar 512x512x8bit=2.048.000bit

2. Resolusi Citra

Resolusi citra menentukan tingkat kerincian (seberapa detail) suatu citra. Terdapat dua macam resolusi citra yang berpengaruh pada besarnya informasi citra yang hilang, yaitu:

Resolusi spasial Sampling: halus / kasarnya pembagian kisi-kisi baris dan kolom. Transformasi citra kontinu ke citra digital disebut digitisasi (sampling). Hasil digitisasi dengan jumlah baris 256 dan jumlah kolom 256 adalah resolusi spasial 256 x 256. Terdapat dua macam sampling, yaitu:

Sampling Uniform, mempunyai spasi (interval) baris dan kolom yang sama pada seluruh area sebuah citra. Proses sampling melalui celah yang berukuran sama. Sampling Non-uniform, bersifat adaptif tergantung karakteristik citra dan bertujuan untuk menghindari adanya informasi yang hilang. Daerah citra yang mengandung detail yang tinggi disampling secara lebih halus, sedangkan daerah yang homogen dapat di-sampling lebih kasar. Kerugian sistem sampling Non-uniform adalah diperlukannya data ukuran spasi atau tanda batas akhir suatu spasi. Proses sampling melalui celah yg bervariasi.

Resolusi kecemerlangan (intensitas / brightness) kuantisasi: halus / kasarnya pembagian tingkat kecemerlangan. Transformasi data analog yang bersifat kontinu ke daerah intensitas diskrit disebut kuantisasi. Bila intensitas piksel berkisar antara 0 dan 255, maka resolusi kecemerlangan citra adalah 256. Terdapat tiga macam kuantisasi, yaitu:

Kuantisasi Uniform, mempunyai interval pengelompokan tingkat keabuan yang sama (misal: intensitas 1 s/d 10 diberi nilai 1, intensitas 11 s/d 20 diberi nilai 2) Kuantisasi Non-Uniform, Kuantisasi yang lebih halus diperlukan terutama pada bagian citra yang menggambarkan detail atau tekstur atau batas suatu wilayah obyek, dan kuantisasi yang lebih kasar diberlakukan pada wilayah yang sama pada bagian obyek. Kuantisasi Tapered, bila ada daerah tingkat keabuan yang sering muncul sebaiknya di-kuantisasi secara lebih halus dan diluar batas daerah tersebut dapat di-kuantisasi secara lebih kasar (local stretching).

Spektrum elektromagnetik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Spektrum elektromagnetik adalah rentang semua radiasi elektromagnetik yang mungkin. Spektrum elektromagnetik dapat dijelaskan dalam panjang gelombang, frekuensi, atau tenaga perfoton. Spektrum ini secara langsung berkaitan (lihat juga tabel dan awalan SI):

Panjang gelombang dikalikan dengan frekuensi, hasilnya kecepatan cahaya: 300 Mm/s, yaitu 300 MmHz Energi dari foton adalah 4.1 feV per Hz, yaitu 4.1eV/GHz Panjang gelombang dikalikan dengan energi per foton adalah 1.24 eVm

Spektrum elektromagnetik dapat dibagi dalam beberapa daerah yang terentang dari sinar gamma gelombang pendek berenergi tinggi sampai pada gelombang mikro dan gelombang radio dengan panjang gelombang sangat panjang. Pembagian ini sebenarnya tidak begitu tegas dan tumbuh dari penggunaan praktis yang secara historis berasal dari berbagai macam metode deteksi. Biasanya dalam mendeskripsikan energi spektrum elektromagnetik dinyatakan dalam elektronvolt untuk foton berenergi tinggi (di atas 100 eV), dalam panjang gelombang untuk energi menengah, dan dalam frekuensi untuk energi rendah ( 0,5 m m). Istilah "spektrum optik" juga masih digunakan secara luas dalam merujuk spektrum elektromagnetik, walaupun sebenarnya hanya mencakup sebagian rentang panjang gelombang saja (320 - 700 nm)[1].

Spektrum Elektromagnetik

Written by Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si. Category:Penginderaan Jauh Hits: 2448

Spektrum gelombang elektromagnetik terbagi menjadi beberapa bagian berdasar pada panjang gelombang tersebut. Beberapa diantaranya adalah saluran audio, saluran radio, saluran gelombang mikro, saluran infra merah, saluran sinar tampak, saluran ultra violet, dan saluran sinar X. Berikut adalah pembagian spektrum gelombang elektromagnetik.

Tabel. Rentangan spektrum dalam penginderaan jauh Spektrum ray X ray < 0.3 0.3 - 300

Ultraviolet Visible Near Infrared (NIR) Short Wave Infrared (SWIR)

300 0.4 m 0.4 0.7 m 0.7 1.1 m 1.1 1.35 m 1.4 1.8 m 2 2.5 m 2 4 m 4.5 5 m 8 9.5 m 10 14 m

Mid Wave Infrared (MWIR) Thermal Infrared (TIR)

Microwave

1 mm 1 m

Sumber : Elachi & Zyl, 2006; Schowengerdt, 2007

Sinar gamma dan sinar X jarang digunakan dalam penginderaan jauh sumber daya pada saat ini. Rentangan ultraviolet dimanfaatkan dalam studi permukaan atmosferik sesuai sifatnya yang peka terhadap berbagai hamburan. Saluran tampak (visible) yang terrentang antara 0.4 0.7 m dimanfaatkan dalam penginderaan jauh sistem fotografik dan satelit. Saluran tampak bermula dari spektrum biru dan berakhir pada spektrum merah. Mata manusia memiliki sensitifitas terhadap rentangan saluran tampak ini. Saluran tampak ini memiliki puncak sensitifitas pada 5.5 m. Secara detil panjang gelombang tampak ini terbagi sebagai berikut. Tabel. Rentangan spektrum tampak Warna Violet Biru Hijau Panjang Gelombang () 0.390 - 0.455 m 0.455 - 0.492 m 0.492 - 0.588 m

Kuning Orange Merah

0.577 - 0.597 m 0.597 - 0.622 m 0.622 - 0.780 m

Sumber : Mather, 2004 Saluran inframerah merupakan saluran perluasan dalam penginderaan jauh satelit. Sistem penginderaan jauh sumberdaya banyak memanfaatkan saluran ini karena dapat meningkatkan ketajaman interpretasi pada data citra penginderaan jauh. Saluran gelombang mikro berkisar antara 1 mm hingga 1 m. Saluran ini dimanfaatkan untuk sistem radar. Tabel. Panjang gelombang Mikro pada penginderaan jauh Saluran Ka K Ku X C S L P Panjang gelombang 0.8 - 1.1 cm 1.1 1.7 cm 1.7 2.4 cm 2.4 3.8 cm 3.8 7.5 cm 7.5 15 cm 15 30 cm 30 100 cm

Sumber : Schowengerdt, 2007

Saluran berikutnya adalah saluran radio meliputi wilayah panjang gelombang dengan panjang lebih dari 10 cm atau frekuensi lebih rendah dari 3GHz. Liputan ini sering dimanfaatkan untuk pemancaran radio, radar, serta sounding.

Daftar Pustaka Elachi, C., Jakob van Zyl. 2006. Introduction to the Physics and Techniques of Remote Sensing, John Wiley & Sons, New Jersey. Mather, P.M., 2004. Computer Processing of Remotely-Sensed Images, Third Edition, John Wiley & Sons, New Jersey. Schowengerdt, R.A., 2007. Remote Sensing: Models and Methods for Image Processing, Third Edition, Elsevier Inc. California.

Urutan Spektrum Gelombang Elektromagnetik POSTED BY FAHJRI ASRULLAH 1 KOMENTAR Spektrum Gelombang Elektromagnetik

Urutan Spektrum Gelombang Elektromagnetik dari Frekuensi Besar ke Frekuensi Kecil / dari Panjang gelombang Kecil ke Panjang Gelombang Besar

Urutan Frekuensi Cahaya Tampak dari Besar ke Kecil

sumber : http://fisikastudycenter.com

ELEKTROMAGNETIK A. SPEKTRUM GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK Susunan semua bentuk gelombang elektromagnetik berdasarkan panjang gelombang dan frekuensinya disebut spektrum elektromagnetik. Gambar spectrum elektromagnetik di bawah disusun berdasarkan panjang gelombang (diukur dalam satuan _m) mencakup kisaran energi yang sangat rendah, dengan panjang gelombang tinggi dan frekuensi rendah, seperti gelombang radio sampai ke energi yang sangat tinggi, dengan panjang gelombang rendah dan frekuensi tinggi seperti radiasi X-ray dan Gamma Ray. Contoh spektrum elektromagnetik 1. Gelombang Radio Gelombang radio dikelompokkan menurut panjang gelombang atau frekuensinya. Jika panjang gelombang tinggi, maka pasti frekuensinya rendah atau sebaliknya. Frekuensi gelombang radio mulai dari 30 kHz ke atas dan dikelompokkan berdasarkan lebar frekuensinya. Gelombang radio dihasilkan oleh muatan-muatan listrik yang dipercepat melalui kawat-kawat penghantar. Muatanmuatan ini dibangkitkan oleh rangkaian elektronika yang disebut osilator. Gelombang radio ini dipancarkan dari antena dan diterima oleh antena pula. Kamu tidak dapat mendengar radio secara

langsung, tetapi penerima radio akan mengubah terlebih dahulu energi gelombang menjadi energi bunyi. 2.Gelombang mikro Gelombang mikro (mikrowaves) adalah gelombang radio dengan frekuensi paling tinggi yaitu diatas 3 GHz. Jika gelombang mikro diserap oleh sebuah benda, maka akan muncul efek pemanasan pada benda itu. Jika makanan menyerap radiasi gelombang mikro, maka makanan menjadi panas dalam selang waktu yang sangat singkat. Proses inilah yang dimanfaatkan dalam microwave oven untuk memasak makanan dengan cepat dan ekonomis. Gelombang mikro juga dimanfaatkan pada pesawat RADAR (Radio Detection and Ranging) RADAR berarti mencari dan menentukan jejak sebuah benda dengan menggunakan gelombang mikro. Pesawat radar memanfaatkan sifat pemantulan gelombang mikro. Karena cepat rambat glombang elektromagnetik c = 3 X 108 m/s, maka dengan mengamati selang waktu antara pemancaran dengan penerimaan. 3.Sinar Inframerah Sinar inframerah meliputi daerah frekuensi 1011Hz sampai 1014 Hz atau daerah panjang gelombang 10-4 cm sampai 10-1 cm. jika kamu memeriksa spektrum yang dihasilkan oleh sebuah lampu pijar dengan detektor yang dihubungkan pada miliampermeter, maka jarum ampermeter sedikit diatas ujung spektrum merah. Sinar yang tidak dilihat tetapi dapat dideteksi di atas spektrum merah itu disebut radiasi inframerah. Sinar infamerah dihasilkan oleh elektron dalam molekul-molekul yang bergetar karena benda diipanaskan. Jadi setiap benda panas pasti memancarkan sinar inframerah. Jumlah sinar inframerah yang dipancarkan bergantung pada suhu dan warna benda. 4.Cahaya tampak Cahaya tampak sebagai radiasi elektromagnetik yang paling dikenal oleh kita dapat didefinisikan sebagai bagian dari spektrum gelombang elektromagnetik yang dapat dideteksi oleh mata manusia. Panjang gelombang tampak nervariasi tergantung warnanya mulai dari panjang gelombang kira-kira 4 x 10-7 m untuk cahaya violet (ungu) sampai 7x 10-7 m untuk cahaya merah. Kegunaan cahaya salah satunya adlah penggunaan laser dalam serat optik pada bidang telekomunikasi dan kedokteran. 5.Sinar ultraviolet Sinar ultraviolet mempunyai frekuensi dalam daerah 1015 Hz sampai 1016 Hz atau dalam daerah panjang gelombagn 10-8 m 10-7 m. gelombang ini dihasilkan oleh atom dan molekul dalam nyala listrik. Matahari adalah sumber utama yang memancarkan sinar ultraviolet dipermukaan bumi,lapisan ozon yang ada dalam lapisan atas atmosferlah yang berfungsi menyerap sinar ultraviolet dan meneruskan sinar ultraviolet yang tidak membahayakan kehidupan makluk hidup di bumi. 6.Sinar X Sinar X mempunyai frekuensi antara 10 Hz sampai 10 Hz . panjang gelombangnya sangat pendek yaitu 10 cm sampai 10 cm. meskipun seperti itu tapi sinar X mempunyai daya tembus kuat, dapat menembus buku tebal, kayu tebal beberapa sentimeter dan pelat aluminium setebal 1 cm.

7.Sinar Gamma Sinar gamma mempunyai frekuensi antara 10 Hz sampai 10 Hz atau panjang gelombang antara 10 cm sampai 10 cm. Daya tembus paling besar, yang menyebabkan efek yang serius jika diserap oleh jaringan tubuh. B. GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang dihasilkan dari perubahan medanmagnet den medan listrik secara berurutan, dimana arah getar vektor medan listrik dan medan magnet saling tegak lurus. Terjadinya gelombang elektromagnetik Pertama, arus listrik dapat menghasilkan (menginduksi) medan magnet. Ini dikenal sebagai gejala induksi magnet. Peletak dasar konsep ini adalah Oersted yang telah menemukan gejala ini secara eksperimen dan dirumuskan secara lengkap oleh Ampere. Gejala induksimagnet dikenal sebagai Hukum Ampere. Kedua, medan magnet yang berubah-ubah terhadap waktu dapat menghasilkan (menginduksi) medan listrik dalam bentuk arus listrik. Gejala ini dikenal sebagai gejala induksi elektromagnet. Konsep induksi elektromagnet ditemukan secara eksperimen olehMichael Faraday dan dirumuskan secara lengkap oleh Joseph Henry. Hukum induksi elektromagnet sendiri kemudian dikenal sebagai Hukum Faraday-Henry. Dari kedua prinsip dasar listrik magnet di atas dan dengan mempertimbangkan konsep simetri yang berlaku dalam hukum alam, James Clerk Maxwell mengajukan suatu usulan. Usulan yang dikemukakan Maxwell, yaitu bahwa jika medan magnet yang berubah terhadap waktu dapat menghasilkan medan listrik maka hal sebaliknya boleh jadi dapat terjadi. Dengan demikian Maxwell mengusulkan bahwa medan listrik yang berubah terhadap waktu dapat menghasilkan (menginduksi) medan magnet. Usulan Maxwell ini kemudian menjadi hukum ketiga yang menghubungkan antara kelistrikan dan kemagnetan. Jadi, prinsip ketiga adalah medan listrik yang berubah-ubah terhadap waktu dapat menghasilkan medan magnet. Prinsip ketiga ini yang dikemukakan oleh Maxwell pada dasarnya merupakan pengembangan dari rumusan hukum Ampere. Oleh karena itu, prinsip ini dikenal dengan nama Hukum Ampere-Maxwell. Dari ketiga prinsip dasar kelistrikan dan kemagnetan di atas, Maxwell melihat adanya suatu pola dasar. Medan magnet yang berubah terhadap waktu dapat membangkitkan medan listrik yang juga berubah-ubah terhadap waktu, dan medan listrik yang berubah terhadap waktu juga dapat menghasilkan medan magnet. Jika proses ini berlangsung secara kontinu maka akan dihasilkan medan magnet dan medan listrik secara kontinu. Jika medan magnetdan medan listrik ini secara serempak merambat (menyebar) di dalam ruang ke segala arah maka ini merupakan gejala gelombang. Gelombang semacam ini disebut gelombang elektromagnetik karena terdiri dari medan listrik dan medan magnet yang merambat dalam ruang.

C. POLARISASI CAHAYA Polarisasi adalah peristiwa perubahan arah getar gelombang cahaya yang acak menjadi satu arah getar. atau polarisasi optik adalah salah satu sifat cahaya yakni jika cahaya itu bergerak beroscillasi dengan arah tertentu. Terjadi akibat peristiwa berikut : 1. Polarisasi dapat diakibatkan oleh pemantulan Brewster 2. Polarisator karena penyerapan selektif 3.Polarisasi karena pembiasan ganda, terjadi pada hablur kolkspat (CaCO3),kuarsa,mike,kristal gula,topaz,dan es. Polarisasi cahaya adalah penguraian cahaya,gambar arah cahayanya merambat lurus.

CITRA FOTO Posted on 03.57 by Jurnal Geologi Citra foto dapat dibedakan berdasarkan (1) spektrum elektromagnetik yang digunakan (2) sumbu kamera (3) sudut liputan kamera (4) jenis kamera, (5) warna yang digunakan, dan (6) sistem wahana dan penginderaannya

Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, citra foto dapat dibedakan atas: 1.Foto ultraviolet, yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum ultraviolet. Spektrum ultraviolet yang dapat digunakan untuk pemotretan hingga saat ini ialah spektrum ultraviolet dekat hingga panjang gelombang 0,29 m. 2.Foto ortokromatik, yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari saluran biru hingga sebagian hijau (0,4 m 0,56 m). 3.Foto pankromatik, yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan seluruh spektrum tampak 4.Foto inframerah asli (true infrared photo), yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah dekat hingga panjang gelombang 0,9 m dan hingga 1,2 m untuk film inframerah dekat yang dibuat secara khusus. 5.Foto inframerah modifikasi, yaitu foto yang dibuat dengan spektrum inframerah dekat dan sebagian spektrum tampak pada saluran merah dan sebagian saluran hijau.

Foto pankromatik merupakan foto yang paling banyak digunakan dalam penginderaan jauh sistem fotografik. Foto ini telah dikembangkan paling lama, harganya lebih murah bila dibandingkan harga foto lain, dan lebih banyak orang yang telah terbiasa menggunakan foto jenis ini. Sumbu Kamera Foto udara dapat pula dibedakan berdasarkan arah sumbu kamera ke permukaan bumi, yaitu: 1. Foto vertikal, yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi. 2. Foto condong, yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi. Sudut ini umumnya sebesar 10 atau lebih besar. Apabila sudut condongnya berkisar antara 1 - 4, foto yang dihasilkan masih dapat digolongkan sebagai foto vertikal. Foto condong dibedakan lebih lanjut menjadi: a) Foto sangat condong (high oblique photograph), yaitu bila pada foto tampak cakrawalanya. b) Foto agak condong (low oblique photograph), yaitu bila cakrawala tidak tergambar pada foto. Sudut Liputan Kamera Paine (1981; dalam Sutanto, 1992) membedakan citra foto berdasarkan sudut liputan (angular coverage) kamera menjadi empat jenis: 1. Sudut kecil (narrow angle) dengan sudut <60 2. Sudut normal (normal angle) dengan sudut 60 - 75 3. Sudut lebar (wide angle) dengan sudut 75 - 100 4. Sudut sangat lebar (superwide angle) dengan sudut > 100 Warna yang digunakan Berdasarkan warna yang digunakan, foto berwarna dibedakan menjadi: 1.Foto berwarna semu (false color) atau foto inframerah berwarna. Pada foto berwarna semu, warna obyek tidak sama dengan warna foto. Obyek seperti vegetasi yang berwarna hijau dan banyak memantulkan spektrum inframerah akan tampak merah pada foto. 2.Foto warna asli (true color), yaitu foto pankromatik berwarna. Sistem Wahana Ada dua jenis foto yang dibedakan berdasarkan wahana yang digunakan, yaitu: 1.Foto udara, yaitu foto yang dibuat dari pesawat udara atau dari balon. 2.Foto satelit atau foto orbital, yaitu foto yang dibuat dari satelit.

Citra Foto

adalah gambaran suatu gejala di permukaan bumi sebagai hasil pemotretan/perekaman menggunakan kamera. Cita foto dibedakan atas dasar spektrum elektromagnetik yang digunakan, posisi sumbu kamera, sudut lipatan kamera, jenis kamera, warna yang digunakan, dan sistem wahananya. 1. Citra foto berdasarkan warna yang digunakan a. Citra Foto Warna Asli Citra Foto Warna Asli

b. Citra Foto Warna Semu

2. Citra foto berdasarkan posisi sumbu kamera a. Citra Foto Vertikal, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu tegak lurus terhadap permukaan bumi

b. Citra Foto Condong, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu kamera miring, dengan sudut kemiringan kamera lebih dari 100. Adadua jenis foto condong yaitu : - Citra foto agak condong, yaitu jika cakrawala tidak tergambar pada foto

- Citra foto sangat condong, yaitu jika cakrawala tergambar pada foto.

3. Citra foto berdasarkan sudut lipatan kamera Jenis kamera Sudut kecil (narrow angle) Sudut normal (normal angle) Sudut lebar (wide angle) Sudut sangat lebar (super-wide angle) > 1000 Sudut sangat lebar 750 1000 Sudut lebar 600 750 < 600 Sudut kecil Sudut Liputan Jenis Foto

Sudut normal/sudut standar

4. Citra foto berdasarkan jenis kamera yang digunakan a. Citra foto tunggal, citra foto yang dibuat dengan kamera tunggal b. Citra foto jamak, citra foto yang dibuat pada saat yang sama dan menggambarkan obyek liputan yang sama. Foto jamak dapat dibuat dengan 3 cara :

Multikamera, menggunakan beberapa kamera yang diarahkan secara bersamaan ke satu obyek. Multilensa, menggunakan satu kamera yang memiliki banyak lensa Kamera tunggal berlensa tunggal dengan pengurai warna 5. Citra foto berdasarkan sistem wahananya

a. Citra Foto Udara, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahan yang bergerak di udara misalnya pesawat terbang, helikopter dll b. Citra Foto Satelit, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahana satelit yang bergerak di luar angkasa. 6. Citra foto berdasarkan Spektrum Elektromagnetik yang digunakan a. Citra Foto Ultraviolet, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum Ultraviolet

b. Citra Foto Otokromatik, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari warna biru hingga sebagian warna hijau

c. Citra Foto Pankromatik, yaitu cira foto yang dibuat dengan menggunakan seluruh spektrum tampak

d. Citra Foto Inframerah Asli, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum infamerah

e. Citra Foto Inframerah Modifikasi, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah dan sebagian spektrum tampak dari warna merah dan sebagian hijau.

Pengindraan jauh nantinya menghasilkan data yang berupa visualdan digital. Hasil pengindraan jarak jauh dapat memiliki banyak bentuk atau hasil. Hasil pengindraan jarak jauh tidak hanya berupa gambar saja, dapat pula gambar yang memiliki row data yang bisa diolah. Data digital atau data numerik untuk dianalisis dengan menggunakan komputer. Data visual dibedakan lebih jauh atas data citra dan data non citrauntuk dianalisis dengan cara manual. Data citra berupa gambaran mirip aslinya, sedangkan data non citra berupa garis atau grafik.Citra dapat dibedakan atas citra foto (photographic image) atau foto udara dan citra non foto (non photographic image). Perbedaan citra foto dan non foto antara lain : Sensor yang digunakan : Citra foto menggunakan sensor kamera sedangkan citra non foto menggunakansensor Non kamera, mendasarkan atas penyiaman (scanning) kamera yang detektornya bukan film. Detektor : Citra foto menggunakan detektor film sedangkan citra foto menggunakan Pita magnetik, termistor foto konduktif, foto voltaik, dsb. non

Proses perekaman : citra foto menggunakan Fotografi/kimiawi sedangkan citra non foto menggunakanElektronik

Mekanisme perekaman : citra foto serentak dan citra non foto parsial Spektrum elektromagnetik : citra foto Spektrum tampak dan perluasannya sedangkan citra non foto Spektratampak dan perluasannya thermal, dan gelombang mikro.

1. Citra Foto
Citra foto adalah gambaran yang dihasilkan kamera. Citra foto dapat dibedakan berdasarkan: dengan menggunakan sensor

a. Spektrum Elektromagnetik yang digunakan Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, citra foto dapat dibedakan atas: 1) Foto ultra violet yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum ultra violet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer. 2) Foto ortokromatik yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari saluran biru hingga sebagian hijau (0,4 - 0,56 mikrometer). 3) Foto pankromatik yaitu foto yang dengan menggunakan spektrum tampak mata. 4) Foto infra merah yang terdiri dari foto warna asli (true infrared photo) yang dibuat dengan menggunakanspektrum infra merah dekat sampai panjang gelombang 0,9 mikrometer hingga 1,2 mikrometer dan infra merah modifikasi (infra merah dekat) dengan sebagian spektrum tampak pada saluran merah dan saluran hijau. Peta berdasarkan foto : contoh peta berdasarkan foto dapat dilihat dari peta di bawah ini.

Contoh Citra Foto

b. Sumbu kamera Foto udara dapat dibedakan berdasarkan arah sumbu kamera ke permukaan bumi, yaitu: 1) Foto vertikal atau foto tegak (orto photograph), yaitu foto yang dengan sumbu kamera tegak lurusterhadap permukaan bumi. dibuat

2) Foto condong atau foto miring (oblique photograph), yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kameramenyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi. Sudut ini pada umumnya sebesar 10 derajat atau lebih besar. Tapi apabila sudut condongnya masih berkisar antara 1 - 4 derajat, foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai foto vertikal. Foto condong masih dibedakan lagi menjadi: a) Foto agak condong (low oblique photograph), yaitu apabila cakrawala tidak tergambar pada foto. b) Foto sangat condong (high oblique photograph), yaitu apabila pada foto tampak cakrawalanya.

c. Warna yang digunakan Berdasarkan warna yang digunakan, citra foto dapat dibedakan atas: 1) Foto berwarna semua (false colour). Warna citra pada foto tidak sama dengan warna aslinya. Misalnya pohon-pohon yang berwarna hijau dan banyak memantulkan spektrum infra merah, pada foto tampak berwarna merah. 2) Foto berwarna asli (true colour). Contoh: foto pankromatik berwarna. d. Wahana yang digunakan Berdasarkan wahana yang digunakan, ada 2 (dua) jenis citra, yakni: 1) Foto udara, dibuat dari pesawat udara atau balon 2) Foto satelit/orbital, dibuat dari satelit

2. Citra Non Foto


Citra non foto adalah gambaran yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera. Citra non foto dibedakan atas: a. Spektrum elektromagnetik yang digunakan Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan dalam penginderaan, citra non foto dibedakan atas:

1) Citra infra merah thermal, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum infra merah thermal. Penginderaan padaspektrum ini mendasarkan atas beda suhu objek dan daya pancarnya pada citra tercermin dengan beda rona atau beda warnanya. 2) Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum gelombang mikro. Citra radar merupakan hasil penginderaan dengan sistem aktif yaitu dengan sumber tenaga buatan, sedang citra gelombang mikro dihasilkan dengan sistim pasif yaitu dengan menggunakan sumber tenaga alamiah. b. Sensor yang digunakan Berdasarkan sensor yang digunakan, citra non foto terdiri dari: 1) Citra tunggal, yakni citra yang dibuat dengan sensor tunggal, yang salurannya lebar. 2) Citra multispektral, yakni citra yang dibuat dengan sensor jamak, tetapi salurannya sempit, yang terdiri dari: Citra RBV (Return Beam Vidicon), sensornya berupa kamera yang hasilnya tidak dalam bentuk foto karenadetektornya bukan film dan prosesnya non fotografik. Citra MSS (Multi Spektral Scanner), sensornya dapat menggunakan spektrum tampak maupun spektrum infra merah thermal. Citra ini dapat dibuat dari pesawat udara. c. Wahana yang digunakan Berdasarkan wahana yang digunakan, citra non foto dibagi atas: 1) Citra Dirgantara (Airborne Image), yaitu citra yang dibuat dengan wahana yang beroperasi di udara (dirgantara). Contoh: Citra infra merah thermal, citra radar dan citra MSS. Citra dirgantara ini jarang digunakan. 2) Citra Satelit (Satellite/Spaceborne Image), yaitu citra yang dibuat dari antariksa atau angkasa luar. Citra ini dibedakan lagi atas penggunaannya, yakni: a) Citra satelit untuk penginderaan planet. Contoh: Citra satelit Viking (AS), Citra satelit Venera (Rusia). b) Citra satelit untuk penginderaan cuaca. Contoh: NOAA (AS), Citra Meteor (Rusia). c) Citra satelit untuk penginderaan sumber daya bumi. Contoh: Citra Landsat (AS), Citra Soyuz (Rusia) dan Citra SPOT (Perancis). d) Citra satelit untuk penginderaan laut. Contoh: Citra Seasat (AS), Citra MOS (Jepang).

Perbedaan citra foto dan non foto inderaja


Dalam penginderaan jauh hasil akhir yang diperoleh merupakan sebuah citra/ gambar sebuah kenampakan fenomena. Dalam inderaja dikenal dua jenis citra yaitu citra foto dan citra non foto. Citra foto merupakan gambar yang dihasilkan dari sensor kamera sedangkan citra non foto adalah gambar yang dihasilkan dari sensor selain kamera seperti gelombang elektromagnetik (sinar X, sinar infrared, dan lainnya). Berikut adalah beberapa perbedaan antara citra foto dan citra non foto. Jenis Citra

No

Variabel Pembeda

Citra Foto

Citra Non foto

Sensor

Kamera

Bukan kamera Pita magnetik, termistor, foto konduktif

Detektor

Film

Proses perekaman

Fotografi

Elektronik

Mekanisme perekaman

Serentak

parsial Sinar tampak, termal, gelombang mikro

Spektrum elektromagnetik

Sinar Tampak

Citra foto

citra elektromagnetik

Sumber gambar: http://anhso.net/data/8/huuhungnd91/335824/Stamford20Bridge20Stadiu31613.jpg http://andimanwno.files.wordpress.com/2010/02/slide1.jpg

Perbedaan citra dan peta dan Perbedaan citra foto dan citra non foto

PETA

CITRA

Berdasarkan penjelasn di depan diketahui bahwa peta dan citra merupakan media yang sama-sama menggambarkan bumi, baik sebagian maupun keseluruhan. Namun perlu kita ketahui bahwa antara keduanya memiliki perbedaan-perbedaan tertentu, yaitu:

No. 1.

Faktor Pembeda Waktu pembuatan

Peta Lama, karena merupakan hasil penggambaran yang berulangulang dengan teknik tertentu.

Citra Sebentar, karena merupakan hasil dari pemotretan langsung terhadap permukaan bumi. Merupakan gambar tiga dimensi (jika dilihat secara stereoscopic) Merupakan gambar objek yang sebenarnya.

2.

Bentuk

Merupakan gambar dua dimensi

3.

Objek/gambar

Berupa lambang atau symbol yang dapat mewakili objek di permukaan bumi.

4.

Komponen penjelas

Terdapat komponen-komponen Tidak ada komponentertentu yang dapat menjelaskan isi komponen. Oleh karena itu perlu interpretasi citra untuk peta. mengetahui/mengenali objek. Dapat dibaca tanpa alat Bantu bahkan oleh setiap orang. Tidak dapat dibaca oleh sembarang orang, karena memerlukan alat Bantu dan keahlian tertentu untuk menafsirkan

5.

Hasil

Sumber: Link Geografi Sedangkan Citra dapat dibedakan atas citra foto (photographic image) atau foto udara dan citra nonfoto (non-photographic image). Perbedaan antara citra foto dan citra non foto dapat dijelaskan dengan tabel berikut :

SUMBER :http://inderaja.blogspot/citra penginderaan jauh

http://hendrisblog.blogspot.com/2009/02/sejarah-penginderaan-jauh.html http://geoenviron.blogspot.com/2011/11/citra-penginderaan-jauh.html http://fafageo.blogspot.com/2010/04/sejarah-teknologi-penginderaan-jauh-di.html http://pmkuncen.wordpress.com/2009/03/01/penginderaan-jauh/ http://hardy-cakrawala.blogspot.com/2010/12/dasar-pengolahan-citra-digital.html

http://kunankilalank.wordpress.com/2011/03/05/konsep-dasar-pengolahan-citra-digital/ http://wisdarani.blogspot.com/2011/12/konsep-dasar-pengolahan-citra-digital.html http://id.wikipedia.org/wiki/Spektrum_elektromagnetik http://geo.fis.unesa.ac.id/web/index.php/en/penginderaan-jauh/73-spektrum-elektromagnetik http://fahjri-fisika-modern.blogspot.com/2012/03/urutan-spektrum-gelombang.html http://makalah-artikel-online.blogspot.com/2009/04/spektrum-gelombang-elektromagnetik.html http://jurnal-geologi.blogspot.com/2010/01/citra-foto-dapat-dibedakan-berdasarkan.html http://andimanwno.wordpress.com/2010/02/09/citra-foto-hasil-penginderaan-jauh/ http://kamusmeteorology.blogspot.com/2012/09/jenis-jenis-citra-pengindraan-jauh.html] http://agnazgeograph.wordpress.com/2012/12/06/perbedaan-citra-foto-dan-non-foto-inderaja/ http://g3oearth.blogspot.com/2010/11/perbedaan-citra-dan-peta-dan-perbedaan.html