Anda di halaman 1dari 15

PERCOBAAN III SUSPENSI A. Tujuan 1. 2. 3. Membedakan sistem flokulasi dan deflokulasi.

Menentukan volume sedimentasi dan derajat flokulasi dari suatu suspensi. Membanding bahan bahan yang dapat digunakan di suspensi.

B. Dasar teori Dispersi kasar atau suspensi adalah sistem 2 fase yang heterogen, tidak jernih dan tidak memiliki diameter partikel lebih besar dari 10-3 cm. Partikel-partikel suspensi apat dilihat dengan mikroskop biasa, mudah diendapkan, dan tidak dapat melewati kertass saring basa maupun membran semipermeabel (Sumardjo,2006). Suspensi terbagi menjadi 6 macam yaitu suspensi oral, susupensi topikal, suspensi tetes telinga,suspensi oftalmik, suspensi untuk injeksi dan suspensi untuk injeks terkostitusi. Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan bahan pengaroma yang sesuai yang ditujuakan untuk penggunaan oral. Beberapa suspensi yang diberikan etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori ini. Beberapa suspensi bdapat langsung digunakan, sedangkan yang lain berupa campuran padat dalam bentuk halus yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai, segera sebelum digunakan. Suspensi topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam pembawacair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit. Losion eksternal harus mudah menyebar di daerah pemakaian, tidak mudah mengalir di daerah pemakaian dan tidak cepat kering yang membentuk lapisan film pelindung. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai losion termasuk dalam kategori ini. Susupensi tetes telinga adalah sediaan cair mengndung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.

Suspensi oftalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikelpartikel sangat halus yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan jika terdapat massa yang mengeras atau terjadi penggumpalan. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan cair steril berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak boleh menyumbat suntikan (syringe ability) serta tidak duisuntikkan secara intravena atau ke dala larutan spinal. Suspensi untuk injeksi tekonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai (Syamsuri,2006). Suspensi yang dapat diterima memiliki mutu tertentu yang diinginkan, termasuk mutu berikut ini : 1. 2. Bahan tersuspensi tidak mengendap dengan cepat. Partikel partikel yang turun ke dasar wadah tidak membentuk gumpalan padat melainkan harus dapat tersuspensi kembali. 3. Suspensi tidak terlalu kental agar dapat dituang dengan mudah melalui mulut botol atau melewati jarum alat suntik. 4. Untuk lotion penggunaan luar, produk harus menyebar dengan mudah di area yang sedang diobati, tetapi tidak terlalu cair hingga lotion tersebut mengalir di permukaan tempat losion tersebut diberikan. 5. Produk tersebut mengandung bahan bahan yang dapat diperoleh dengan mudah yang dapat dicampurkan ke dalam campuran dengan relatif mudah dengan menggunakan metode dan perlengkapan standar. (Sinko, 2011) Salah satu masalah yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas partikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi adalah:

1.

Ukuran partikel Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut

serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya (dalam volume yang sama). Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap, sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel. 2. Kekentalan (Viskositas) Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang terdapat didalamnya. Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan, gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Tetapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. Hal ini dapat dibuktikan dengan hukum stokes: ( )

Keterangan : V = kecepatan aliran d = diameter partikel = bobot jenis partikel 0 = bobot jenis cairan g = gravitasi = viskositas cairan 3. Jumlah partikel (Konsentrasi) Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi

benturan antara partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat. 4. Sifat dan muatan suspensi Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam, maka kita tidak dapat mempe-ngaruhinya. Stabilitas fisik suspensi farmasi didefinisikan sebagai kondisi suspensi dimana partikel tidak mengalami agregasi dan tetap terdistribusi merata. Bila partikel mengendap mereka akan mudah tersuspensi kembali dengan pengocokan yang ringan. Partikel yang mengendap ada kemungkinan dapat saling melekat oleh suatu kekuatan untuk membentuk agregat dan selanjutnya membentuk compacted cake dan peristiwa ini disebut caking. Kalau dilihat dari faktor-faktor tersebut diatas, faktor konsentrasi dan sifat dari partikel merupakan faktor yang tetap, artinya tidak dapat diubah lagi karena konsentrasi merupakan jumlah obat yang tertulis dalam resep dan sifat partikel merupakan sifat alam. Yang dapat diubah atau disesuaikan adalah ukuran partikel dan viskositas. Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer, homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan pensuspensi), umumnya bersifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid) (Syamsuri,2006). Sistem pembentukan suspensi ada 2 cara, yaitu cara sistem flokulasi dan sistem deflokulasi. Terdapat perbedaan kedua sistem tersebut, yaitu: 1. Sistem flolukasi Flokulasi adalah proses lambat yang bergerak secara terus-menerus selama partikel-partikel tersuspensi bercampur dalam sistem pendispersinya., sehingga

partikel akan menjadi lebih besar dan bergerak menuju proses sedimentasi. Ide besar dari suatu flokulasi adalah untuk mengendapkan flok-flok dengan penambahan flokulan. Flokulasi merupakan kombinasi pencampuran dan pengadukan atau agitasi yang menghasilkan agregasi yang akan mengendap setelah penambahan flokulan. Flok yang terbentuk mempunyai berat molekul yang besar dari molekul air sebagai akibat dari penambahan polimer, sehingga flok tersebut akan dengan mudah mengendap (Aji,2012). Dalam sistem flokulasi, partikel terikat lemah, cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali (Syamsuri,2006). 2. Sistem deflokulasi Partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen, akan terjadi agregasi dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. Komponen sediaan suspensi secara umum terdiri dari: 1. Bahan Berkhasiat Bahan berkhasiat merupakan bahan yang mampu memberikan efek terapi, pada suspense disebut fase terdispersi, bahan ini mempunyai kelarutan yang tidak larut di dalam pendispersi. 2. a. Bahan Tambahan Bahan Pensuspensi atau Suspending Agent Bahan pensuspensi yaitu bahan tambahan yang berfungsi mendispersikan partikel tidak larut dalam pembawa dan meningkatkan viskositas sehingga kecepatan sedimentasi diperlambat. Macam suspending agent antara lain: 1) Golongan polisakarida, contohnya acasia gom, tragacantha, alginate. 2) Golongan selulosa larut air, contohnya metal selulosa, hidroksi etil selulosa, Na-CMC, avicel. 3) Golongan tanah liat, contohnya bentoit, veegum, aluminium, magnesiu silica, hectocrite. 4) Golongan sintetik, contohnya carbomer, carboxypolymethylene, colloidal, silicon dioksida. (Aulton, 1990)

b.

Bahan pemfokulasi Bahan pemflokulasi yang dipergunakan dapat berupa surfaktan, polimer, atau

larutan elektrolit. Untuk partikel yang bermuatan positif dapat digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif, dan sebaliknya (Syamsuri,2006). Penggunaan surfaktan pada kadar yang lebih tinggi akan berkumpul membentuk agregat yang disebut mise. Selain itu pemakaian pada kadar tinggi samapi Critical Micelle Concentraton (CMC) surfaktan diasumsikan mampu berinteraksi kompleks dengan obat tertentu selanjutnya dapat pula mempengaruhi permeabilitas membran tempat absorbsi obat karena surfaktan dan membran mengandung kompenen penyususn yang sama. Salah satu sifat penting dari surfaktan adalah kemampuan untuk meningkatkan kelarutan bahan yang tidak larut dalam medium pendispersinya. PEG (Polietilen glikol) 400 adalah termasuk surfaktan non ionik yang banyak digunakan dalam formulasi sedian obat karena sifatnya yang stabil, mudah campur dengan kompenen-kompenen lain, tdak beracun, tidak iritatif dan efektif pada rentang pH yang luas. Tween 80 dapat menurunkan tegangan permukaan antarmuka antara obat dan medium sekaligus membentuk misel sehingga molekul obat akan terbawa oleh misel larut ke dalam medium (Zulkarnain,2008). Penilaian stabilitas suatu obat adalah sebagai berikut : 1. Parameter sedimentasi Volume sedimentasi ditentukan dengan menjaga 50 ml dari masing-masing suspensi dalam silinder mengukur tutup dan disimpan terganggu pada suhu kamar. Pemisahan cairan bening tercatat pada interval 5 d hingga 45 d. Volume sedimentasi dihitung dengan menggunakan menggunakan rumus Vu/Vo, di mana Vu adalah volume sedimen dan Vo adalah ketinggian asli dari sample tersebut. 2. Tingkat flokulasi Tingkat flokulasi itentukan 8, 9 mengikuti persamaan = F / F, i mana F adalah volume sedimentasi tertinggi dalam suspensi terflokulasi an F a alah volume sedimentasi tertinggi dalam suspensi terdeflokulasi.

3.

Radispersion Volume tetap suspensi masing-masing (50 ml) disimpan dalam tabung

dikalibrasi yang disimpan pada suhu kamar selama interval waktu berbagai 5d, satu tabung telah dihapus dan terguncang keras untuk mendistribusikan sedimen dan adanya deposit jika ada tercatat. 4. Studi reologi Perilaku reologi dari suspensi siap dengan tragakan gusi dan gusi dari Moringa oleifera diteliti menggunakan viskometer Brookfield synchroelectric, spindle nomor 1 jenis viskositas rendah dengan gigi kecepatan berkisar 0,3-0,6 rpm. Pembacaan dial up untuk kedua kurva-kurva dan bawah dicatat dan percobaan diulang tiga kali. Menggunakan pengamatan ini, laju geser dihitung. Hasilnya dicatat dan rheogram yang diperoleh dengan tingkat plotting geser, G / sec tekanan geser (f ) vs, Dyne/cm2 (Tripathy,2006). Sebuah partikel bermuatan tersebar di media ionik cenderung memiliki konsentrasi ion yang berlawanan tertarik ke arah itu. Sebagai contoh, partikel bermuatan negatif mengumpulkan sejumlah positif kontra-ion. Sebagai salah satu bergerak lebih jauh dari partikel, konsentrasi ion lawan menurun karena difusi sampai kesetimbangan ion tercapai. Sebuah plot muatan disumbangkan oleh ion ini dibandingkan jarak dari permukaan partikel mengungkapkan peluruhan eksponensial. Saat, jika partikel membayangkan akan bergerak, maka akan cenderung menyeret ion lawan bersama dengan sambil meninggalkan ion yang lebih jauh dari permukaan. Hal ini akan membentuk bidang geser - perbedaan potensial pada yang disebut potensial zeta. Pengetahuan potensi zeta dapat digunakan untuk memprediksi dan mengendalikan stabilitas koloid suspensi atau emulsi. Besar potensi zeta, untuk suspensi adalah tetap dalam bentuk stabil. Potensi zeta sangat tergantung pada pH suspensi. Sebuah plot zeta pH vs potensial disebut kurva iso-listrik. PH yang potensial zeta adalah nol, adalah disebut 'iso-listrik titik' atau 'titik nol biaya' (PZC). Telah menunjukkan bahwa jika muatan permukaan partikel kuat, itu menghasilkan tolakan bersama yang signifikan menghambat partikel mendekat. Jika muatan pada partikel-partikel direduksi menjadi nol, kekuatan tolakan

dieliminasi. Agitasi mekanik lembut maka akan menciptakan tabrakan partikel banyak bukan 'nyaris'. Kekuatan adhesi, kohesi, dan mekanik saling oleh 'polimer menjembatani' akan menghasilkan agglomerasi. Kekeruhan (mewakili masalah partikulat yang melayang) terdiri dari dua bagian yang berbeda : fraksi kasar (1 mm sampai 1 mm) dan fraksi koloid (1 mm sampai 10). Fraksi kasar dapat berhasil dihapus oleh konvensional koagulasi / flokulasi pengobatan, tetapi fraksi koloid tidak bisa. Sebagai bentuk flok selama koagulasi / flokulasi juga dari biaya yang sama seperti yang dari partikel sebelum pengobatan, tolakan bersama ada antara partikel flok dan koloid, dan kekuatankekuatan memukul mundur mencegah koloid dari membuat kontak permanen dengan flok, terlepas agitasi. Koloid tersebut secara efektif dapat dihapus dengan menurunkan potensi zeta dari kedua flok dan koloid ke nilai sekitar nol plus atau minus 5 mV12. Hal ini dapat dilakukan dengan secara simultan menggunakan dosis yang tepat dari suatu koagulan anorganik ditambah dengan polyelektrolit organik yang sesuai (Tripathy,2006).

DAFTAR PUSTAKA Aji, Rangga Warsita, dkk. 2012. Pengaruh Konsentrasi Kitosa Terhadap Proses Flokulasi pada Pemanenan Mikroalga. Jurnal teknologi Kimia dan Industri: Volume 1 Nomor 1. Belitzh, H.D and W.Grosch.1986. Food Chemistry. Springer Veralag Berlin Heldenberg : New York. Sinko, Patrick J. 2011. Farmasi Fisik dan Ilmu Farmasetika Martin Edisi 5. EGC: Jakarta. Sumardjo, Damin. 2006. Pengantar kimia : Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran Dan Program Strata 1 Fakultas Kedokteran. EGC:Jakarta. Syamsuri, H.A. 2006. Ilmu Resep. EGC : Jakarta. Tripathy, Tridib, etc. 2006 . Flocculation : A New Way to Treat the Waste Water. Journal of Physical Sciences : Volume 10 nomor 1. Zukarrnain, Abdul Karim. 2008. Pengaruh Penambahan Tween 80 Dan Polietilengikol 400 Terhadap Absorbsi Piroksikam Melalui Lumen Usus In Situ. Majalah Farmasi Indonesia. Volume 25. Nomor 1.

F. Pembahasan Dispersi kasar atau suspensi adalah sistem 2 fase yang heterogen, tidak jernih, dan tidak memiliki diameter partikel lebih besar dari 10-3 cm. Partikel-partikel suspensi dapat dilihat dengan mikroskop biasa, mudah diendapkan, dan tidak dapat melewati kertas saring biasa maupun membran semipermeabel. Sebagian besar partikel tersebut memiliki diameter lebih dari 0,1 mikro meter yang data dilihat di bawah mikroskop, sebagian partikel tersebut menunjukkan gerak brown jika dispersi memiliki viskositas yang rendah. Suspensi yang dapat diterima masyarakat harus memiliki mutu tertentu yang diinginkan, yaitu sediaan suspensi tidak mengendap dengan cepat, partikelpartikel yang turun ke dasar wadah tidak membentuk gumpalan padat, melainkan harus mudah untuk didispersikan kembali dengan mudah membentuk campuran yang homogen dan suspensi tidak terlalu kental agar mudah dituang dengan mudah melalui mulut botol bila digunakan secara oral. Bila akan digunakan secara injeksi, sedian suspensi tidak boleh menyumbat jarum suntik. Untuk penggunaan lotion harus mudah menyebar dan tidak mudah mengalir di daerah pemakaian, tidak cepat kering serta membentuk lapisan film pelindung. Agar dapat digunakan sebagai sediaan dalam dunia farmasetika maka suspensi harus memenuhi stabilitas fisik. Stabilitas fisik suspensi dapat didefinisikan sebagai kondisi saat partikel-partikel tidak mebentuk gumpalan dan tetap dapat terdistribusi homogen diseluruh sistem dispersi, karena keadaan ideal ini jarang terwujud, perlu ditambahakan suatu zat yang dapat membantu proses kestabilan. Ada dua sistem dalam sedian suspensi yaitu sistem flokulasi dan sistem deflokulasi. Sistem flokulasi adalah partikel yang terdispersi terikat lemah, cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali karena membentuk gumpalan yang lunak dan ringan yang tergabung bersama-sama karena gaya tarik-menarik antar partikel tipe London-van der Walls yang lemah, sedangkan sistem deflokulasi adalah partikel yang terdispersi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali disebabkan gaya tarik-menarik

antar partikel tipe London-van der Walls yang kuat. Penggumpalan (caking) sering kali terjadi karena pertumbuhan dan peleburan kristal-kristal dalam endapan dan menghasilkan suatu agregat padat. Pada percobaan ini bahan aktif yang akan dibuat suspensi adalah sulfamerazin,. Pemerian dari sulfanerazin yaitu berupa serbuk atau hablur putih atau agak putih kekuningan tidak berbau atau praktis tidak berbau, rasa agak pahit, stabil di udara tetapi perlahan-lahan menjadi gelap pada pemaparan cahaya. Mempunyai kelarutan yang sangat sukar larut dalm air, agak sukar larut dalam aseton, sukar larut dalam etanol, sangat sukar larut dalam eter dan kloroform. Kelarutan yang rendah dalam air inilah maka sulfamerazin dibuat dalam sediaan suspensi, ditambahkan suspending agen berupa propilenglikol, Na-CMC, NaH2PO4 dan tween 80. Dibuat suspensi dengan penambahan suspending agen yang berbeda-beda di setiap gelas ukur, setiap gelas dibuat suspensi 50 mL. Gelas ukur pertama adalah sulfamerazin yang ditambahkan dengan air ad 50 mL tanpa adanya penambahan suspending agent. Hasilnya pada menit 0 terdapat volume sedimentasi masih 0 mL, kemudian dilanjutkan pengukuran di menit ke 5, 10, 20, 40, 60, 90, dan tak terhingga yaitu setelah 2 hari. Hasilnya, volume sedimentasi dimenit ke 5 adalah 12 mL, menit ke 10 adalah 12 ml, menit ke 20 adalah 11 ml, menit ke 40 adalah 10 ml, menit ke 60 adalah 10 mL, menit ke 90 adalah 10 mL dan untuk tak terhingga adalah 8,5 mL. Derajat flokulasi yang terhitung adalah 1,18. Seharusnya, derajat flokulasi yang baik adalah 1 yaitu tidak ada perubahan atau penambahan endapan dari menit akhir perhitungan dengan volume sedimentasi pada waktu tak terhingga. Gelas ukur kedua adalah sulfamerazin yang ditambahkan aquades dan suspending agent NaH2PO4. NaH2PO4 adalah suspending agent golongan floculating agent yang termasuk golongan elektrolit. Mekanisme kerja elektrolit adalah dengan bekerja sebagai zat yang memflokulasi dengan mengurangi barier elektrik antara partikel-partikel. Semakin berkurangnya barier elektrik antar partikel akan menyebabkan penurunan potensial zeta sehingga semakin banyak terbentuk jembatan antara partikel-partikel yang berdekatan yang menghubungkan partikel-partikel tersebut dalam struktur yang longgar. Hasil sedimentasi pada

menit ke 0 adalah 0 mL, pada menit ke 5 adalah 11 ml, pada menit ke 10 adalah 9 mL, pada menit ke 20 adalah 8 mL, pada menit ke 40 adalah 8 mL, pada menit ke 60 adalah 8 ml, pada menit ke 90 adalah 7,5 mL dan untuk waktu tak terhingga adalah 7 mL. Derajat flokulasi yang terhitung adalah 1,1. Derajat flokulasi yang baik adalah 1 yaitu tidak ada perubahan atau penambahan endapan dari menit akhir perhitungan dengan volume sedimentasi pada waktu tak terhingga.. Sistem suspensi yang terbentuk adalah sistem flokulasi, dimana suspensi cepat membentuk endapan yang mudah untuk didispersikan kembali. Gelas ukur ketiga adalah sulfamerazin yang ditambahkan aquades dan NaCMC. Hasil sedimentasi pada menit ke 0, 5, 10, 20 adalah 0 mL, pada menit 40, 60, 90 volume sedimentasinya adalah 3 mL dan waktu tak terhingga volume sedimentasinya adalah 4 mL. Derajat flokuasi yang terhitung adalah 0,75. Derajat flokulasi yang baik adalah 1 yaitu tidak ada perubahan atau penambahan endapan dari menit terakhir perhitungan sampai pada waktu tak terhingga. Sistem suspensi yang terbentuk adalah deflokulasi karena terbentuk caking di dasar wadah dan endapan tersebut sukar untuk didispersikan kembali. Menurut Belitzh and Grosch (1989) dengan adanya Na-CMC ini maka partikel-partikel yang tersuspensi akan terperangkap dalam sistem dispersi dan tidak akan mengendap dengan adanya gaya gravitasi. Mekanisme bahan penstabil dari Na-CMC mengikuti konformasi extended atau streched ribbon (tipe pita) yang terbentuk dari 1,4-D glukopiranosil yaitu rantai selulosa. Bentuk konformasi pita tesebut karena bergabungnya ikatan geometri zig-zag monomer dengan jembatan hydrogen dengan 1,4-D

glukopiranosil lain, sehingga menyebabkan susunannya menjadi stabil. Na-CMC yang merupakan derivat dari selulosa memberikan kestabilan pada produk dengan memerangkap air dengan membentuk jembatan hydrogen dengan molekul NaCMC lain. Na-CMC akan terdispersi dalam air, kemudian butiran-butiran NaCMC yang bersifat hidrofilik akan menyerap air dan terjadi pembengkakan. Air yang sebelumnya berada di luar granula dan bebas bergerak tidak dapat lagi bergerak dengan bebas sehingga larutan menjadi mantap dan terjadi peningkatan viskositas. Hal ini akan menyebabkan partikel-partikel terperangkap dalam sistem tersebut dan memperlambat pengendapan karena adanya proses gravitasi.

Gelas ukur keempat adalah sulfamerazin yang ditambahkan dengan aquades dan propilenglikol sebagai wetting agen (zat pembasah). Serbuk yang dapat terbasahkan oleh air disebut hidrofilik dan serbuk yang tidak mudah terbaahkan oleh air desebut hidrofobik. Hasil sedimentasi pada menit ke 0 adalah 0 ml, pada menit ke 5 adalah 16 mL. Pada menit ke 10 adalah 13 mL, pada menit ke 20 adalah 11 mL, pada menit ke 40 adalah 10 ml, pada menit ke 60 adalah 9 mL, pada menit ke 90 adalah 9 ml, dan pada waktu yang tak terhingga adalah 9 mL. Derajat flokulasi yang terhitung adalah 1. Sistem suspensi yang terbentuk adalah flokulasi dimana endapan yang terbentu dapat didispersikan kembali dengan mudah. Tahap kritis pembuatan sediaan suspensi adalah pencampuran partikel padat kedalam pembawa yaitu pembasahan pertikel padat untuk mendapatkan dispersi yang stabil. Pembasahan (wetting partikel padat) adalah pengusiran udara pada permukaan partikel oleh cairan. Proses pembasahan melibatkan surface dan interfaces. Umumnya serbuk yang bersifat sedikit hidrofobik tidak menimbulkan banyak masalah dan mudah dibasahi. Sedangkan serbuk yang sangat hidrofobik dapat mengambang di permukaan pembawa air karena besarnya energi interfarsial antara serbuk dan pembawa. Gelas ukur yang kelima adalah sulamerzin yang diisi dengan air dan tween 80 yang merupakan wetting agent (agen pembasah) atau suspending agent. Mekanisme kerja suspending agent adalah untuk memperbesar kekentalan (viskositas), tatapi kekentalan yang berlebihan akan mempersulit rekonstitusi dengan pengocokan.Suspensi yang baik memepunyai kekentalan yang sedang. Disamping itu penggunaan suspending agent dapat menurukan tegangan antar permukaan antar dua partikel yang tidak bisa saling tercampur yaitu zat aktif dan cairan pembawa. Hasil endapan yang terbentuk yaitu pada menit ke 0 adalah 0 ml, pada menit ke 5 adalah 2 ml. Pada menit ke 10 adalah 2,5 ml, pada menit ke 10 adalh 2,5 ml, pada menit ke 20 adalah 3 mL, pada menit ke 40 adalah 3 mL, pada menit ke 60 adalah 4 mL, pada menit ke 90 adalh 4 mL dan pada waktu yang tek terhingga adalah 5 ml. Derajat flokulasi yang terhitung adalah 0,8. Sistem suspensi yang terbentuk adalah deflokulasi dimana endapan yang terbentuk susah untuh didispersikan kembali.

Dari keseluruhan formulasi dapat dilihat pembuatan suspensi yang baik adalah pada gelar ukur keempat yang mengandung propilenglikol. Suspensi yang terbentuk adalah flokulasi dengan derajat flokulasinya 1 yang artinya suspensi tersebut dapat dengan mudah didispersikan kembali dan tidak membentuk caking. Dari semua bahan yang membuat suspensi paling stabil adalah NaH2PO4. Hal ini karena NaH2PO4 memberikan sistem suspensi terflokulasi dimana memiliki harga derajat flokulasi paling mendekati 1, yaitu sebesar 1,1.

G. Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Suspensi sulfamerazin dengan aquades membentuk sistem flokulasi dengan dengan derajat flokulasi 1,18. 2. Suspensi sulfamerazin dengan aquades dan NaH2PO4 sebagai suspending agent membentuk sistem flokulasi dengan derajat flokulasi1,1. 3. Suspensi dengan aquades dan Na-CMC sebagai suspending agent membentuk sistem deflokulasi dengan derajat flokulasi 0,75. 4. Suspensi dengan aquades dan propilenglikol sebagai wetting agent membentuk sistem flokulasi dengan derajat flokulasi 1,5. 5. Suspensi dengan aquades dan tween 80 sebagai wetting agent membentuk sistem flokulasi dengan derajat flokulasi 0,8.