Anda di halaman 1dari 18

Mengalami kecelakaan tetapi ketawa terbahak-bahak

PENDAHULUAN
Pemakaian ganja/cannabis paling sering dilakukan dengan cara

merokok dalam bentuk seperti sigaret dan sering disebut joint. Tembakau sering juga ditambahkan untukmemudahkan dalam membakarnya. Pemakaian hashish juga sering dicampur dengantembakau dan dengan cara merokok seperti juga cigaret, namun lebih banyak yangmenggunakan pipa air yang lebih dikenal dengan bong Efek psikologis dan kesehatan yang segera setelah seseorang mengkonsumsi ganja adalah euphoria, relaksasi, perubahan persepsi, dan intensifikasi dari pengalaman pancaindra yang luar biasa, seperti makan, melihat film, dan mendengarkan musik. Efek kognitifnya meliputi berkurangnya memori jangka pendek dan kehilangan hubungan. ketrampilan dan reaksi motoriknya juga mengalami kemunduran. Efek tidak nyaman yang biasa terjadi dari ganja adalah gelisah, panik, dan perasaan tertekan. Pengaruh ini hanya terjadi pada mereka yang belum terbiasa dengan ganja dan pasien yang diberikan THC untuk tujuan pengobatan. Bagi mereka yang telah terbiasa dengan ganja maka mereka akan menginginkan harapan-harapan yang lebih tinggi lagi dengan konsumsi yang lebih banyak sehingga menimbulkan efek delusi dan halusinasi.

LAPORAN KASUS
Skenario 1 Tn G anda, 25 tahun dimasukkan ke UGD RSU Trisakti dengan

diantar oleh polisi setelah mengendarai sepeda motornya menabrak pohon. Ia jatuh dengan akibat hematoma pada daerah kepala pelipis kiri, tetapi tidak pingsan. Di kamar tunggu, ia banyak bicara, marah-marah, tertawa terbahak-bahak, gelisah, tremor kecil dan berkeringat banyak. Penampilan dan status gizi pasien baik. Skenario 2 Sejak remaja, Tn G anda sudah merokok dan kadang-kadang minum alkohol tapi tidak pernah mabok. Sejak satu tahun yang lalu ia merokok ganja terutama pada malam hari libur. Pada pemeriksaan fisik tensi 150/70, nadi 120, suhu 36,5oC, pupil melebar, konjungtiva merah. Ia masih dapat bekerja biasa dan tidak ada masalah dalam pergaulan sosialnya

Skenario 3 1). Pemeriksaan Status Mental ( terdapat dipersonalisasi dan derealisasi, tetapi waham dan halusinasi tidak ada ) 2). Pemeriksaan diagnostic lanjut. Pemeriksaan Fisik Umum : dalam batas normal Pemeriksaan Neurologis : tanpa deficit neurologi EKG : normal. Pemeriksaan radiologi kepala tidak ada kelainan Laboratorium darah dan urine : normal, kecuali tetrahidrokanabiol positif. Skenario 4 Perkembangan masa kanak dan remaja tidak ada kelainan yang berarti, hanya ia mengeluh dididik oleh ayahnya terlalu keras dan disiplin. Setelah menginjak dewasa, ia menunjukkan cirri kepribadian yang sering bimbang, selalu tepat waktu, tertib dan sering berfikir berulangulang. Ia tahu bahwa fikiran tersebut tidak rasional dan ingin menghilangkannya, tetapi akibatnya ia menjadi gelisah. Sebelum tidur ia selalu mengunci pintu lima kali agar dapat tidur lebih nyenyak. Kadang-kadang ia juga merasa sedih karena masalah pekerjaannya. Scenario 5 Pasien belum pernah berobat ke psikiater, tapi beberapa kali berobat pada dokter umum dan berikan obat penenang dan obat tidur dengan tujuan agar lebih tenang dan tidur lebih nyenyak.

PEMBAHASAN

Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Status Keluhan utama

: Tn G : 25 tahun : laki-laki :: : : Mengalami kecelakaan tetapi ketawa terbahak-bahak

Riwayat gangguan sekarang : Banyak bicara Marah-marah Tremor kecil tertawa terbahak-bahak gelisah berkeringat banyak

Riwayat psikiatri /gangguan dahulu . Setelah menginjak dewasa, ia menunjukkan ciri kepribadian yang

sering bimbang, selalu tepat waktu, tertib dan sering berfikir berulangulang. Ia tahu bahwa fikiran tersebut tidak rasional dan ingin menghilangkannya, tetapi akibatnya ia menjadi gelisah. Sebelum tidur ia selalu mengunci pintu lima kali agar dapat tidur lebih nyenyak. Kadang-kadang ia juga merasa sedih karena masalah pekerjaannya Kondisi medik umum : status gizi baik Riwayat penggunaan zat : Sejak satu tahun lalu ia merokok ganja Riwayat keluarga : ia mengeluh dididik oleh ayahnya terlalu keras dan disiplin Riwayat pengobatan : beberapa kali berobat pada dokter umum dan berikan obat penenang dan obat tidur dengan tujuan agar lebih tenang dan tidur lebih nyenyak Riwayat sosial / ekonomi : Sejak remaja ia sudah merokok Masih dapat bekerja dan tidak ada masalah dalam pergaulan sosialnya

Pemeriksaan status mental Gambaran umum : penampilan baik Alam perasaan : ambivalensi,labil Fungsi intelektual : Perilaku gelisah Gangguan persepsi : Proses Pikiran : kompulsif Sensorium dan kognitif : Kesadaran biologik, kompos mentis, kesadaran psikologik dan sosial terganggu Pengendalian impuls : Pertimbangan dan tilikan : Reliabilitas : PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dan neurologis tidak ditemukan kelainan Normal

Pemeriksaan Lanjutan Pemeriksaan fisik Tensi : 150/70 Terjadinya takikardia akibat daripada

penggunaan ganja Nadi : 120 Terjadinya takikardia akibat daripada penggunaan ganja Suhu : 36,5oC normal Pupil melebar Terjadi midriasis diduga akibat daripada penggunaan ganja Konjungtiva merah Terjadi dilatasi pembuluh darah konjungtiva akibat penggunaan ganja Pemeriksaan laboratorium darah dan urine : normal, kecuali tetrahidrokanabiol positif PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemerikasaan EKG normal Pemeriksaan radiologi kepala normal Pada pemeriksaan laboratorium darah Normal Pada pemeriksaan laboratorium urin tetrahidrokanabinol positif

Anamnesis Tambahan Riwayat Penyakit Sekarang Ada atau tidak gangguan psikosis seperti banyak bicara,

marah-marah, tertawa terbahak-bahak dan gelisah? Ada atau tidak mengkonsumsi ganja atau alkohol sebelum kecelakaan? Riwayat Penyakit Dahulu Penyakit lain yang dihidapi atau pernah ada atau tidak penyakit hipertensi kerana tekanan darah pasien agak tinggi?

Riwayat Kebiasaan alkohol berapa banyak alkohol pada setiap kali

konsumsi? penggunaan ganja berapa banyak ganja atau dosis yang diambil setiap kali mengkonsumsi?

Hipotesis
1. penyalahgunaan alkohol/narkotika

/obat-obatan 2. sindroma putus alkohol 3. trauma akibat kecelakaan

Neurofarmakologi Ganja.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, komponen utama dari kanabis

(ganja) adalah tetrahidrokanabinol, tetapi tanaman kanabis mengandung lebih 400 zat kimia, yang kira-kira 60 buah di antaranya secara kimiawi berhubungan dengan tetrahidrokanabinol. Pada manusia, tetrahidrokanabinol secara cepat dikonversi menjadi 11hidroksi tetrahidrokanabinol, suatu metabolit yang aktif di dalam system saraf pusat. Suatu reseptor spesifik untuk kanabinol telah diidentifikasi, diklon (cloned), dan dikarakterisasi. Reseptor adalah anggota dari keluarga reseptor yang berkaitan dengan protein G. Reseptor kanabinoid diikat dengan protein G inhibitor (Gi), yang berikatan dengan adenilil siklase di dalam pola menginhibisi. Reseptor kanabinoid ditemukan dalam konsentrasi yang tertinggidi ganglia basalis, hipokampus, dan serebelum, dengan konsentrasi yang lebih rendah di korteks serebral. Reseptor tidak ditemukan di batang otak, suatu kenyataan yang konsisten dengan efek kanabis yang minimal pada fungsi pernafasan dan jantung.\

FORMULASI DIAGNOSTIK Menurut DSM-IV Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Delusional


Pemakaian kanabis yang belum lama Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakma secara

klinis ( misalnya gangguan koordinasi motorik, euforia, kecemasan, sensasi waktu menjadi lambat, gangguan pertimbangan, penarikan sosial) yang berkembang segera atau segera setelah pemakaian kanabis. Dua ( atau lebih) tanda berikut, berkembang dalam 2 jam pemakaian kanabis Injeksi konjungtiva Peningkatan nafsu makan Mulut kering Takikardia Gejala tidak disebabkan oleh kondisi medis umum dan tidak diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain.

DIAGNOSIS MULTIAKSIAL

AKSIS I F12.01 : riwayat kanabis ada trauma AKSIS II F 60.0 Ciri Kepribadian Paranoid AKSIS III (-) AKSIS IV Masalah dengan hukum dan criminal. AKSIS V GAF 75 Gejala sementara dapat diatasi dalam disabilitas

TERAPI
Obat penenang dan obat tidur. Rawat inap ( rehabilitas) dengan alasan supaya untuk mengelakan

pasien kembali menggunakan ganja dan membantu menghentikan kecanduan 1. Psikofarmaka

Sewaktu pasien datang dalam keadaan darurat dilakukan :

Diberi Obat penenang untuk gelaja psikosisnya. Pemantauan dan perawatan hematoma pada pelipis kiri. Memastikan keadaan umum pasien stabil.

Terapi selanjutnya :

2.

Farmakoterapi : antianxietas : benzodiazepine. Contoh : diazepam, antipsikosis : fenotiazin, klorpromazin- hendaya dalam menilai realitas

Terapi nonmedika mentosa


Psikoterapi psikososial : Memperbaiki fungsi

psikologi dan fungsi adaptasi sosial -rehab (berkelompok) - lingkungan. Pergaulan dan mendapat dukungan keluarga - kepolisian (akan terjerat hokum setelah rehab)

Hokum pidana yang terdapat pada pasien ini


Menurut UU RI No.22/1997 tentang narkotika, yang dimaksud dengan

narkotika ialah zat atau obat, baik yang berasal dari tanaman maupun bukan tanaman, baik sintetik maupun semi sintetik, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan dan kecanduan. Tiga golongan zat yang termasuk kategori ini ialah opioda tanaman ganja, dan kokain. Menurut UU R.I No. 5/1997 tentang Psikotropika, yang dimaksud dengan psikotropika ialah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetik, bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. UU Narkotika (pasal 45) dan UU Psikotropika (pasal 37) menyebutkan bahwa pecandu/pengguna narkotika dan psikotropika wajib menjalani pengobatan dan/atau perawatan.

PROGNOSIS
Prognosis : Ad vitam : Ad bonam

Ad Sanationam : dubia ad bonam


Ad fungsionam : dubia ad bonam

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. 3. 4. 5. 6.

Kaplan H.I. Sadock B.J. ,Kaplan dan Sadock, Sinopsis Psikiatri: Gangguan Psikotik Lain, Edisi Kesepuluh, Jilid 1, Penerbit Williams & Wilkins, Baltimore, Philadelphia; 2007; p.771-84. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ III), Departemen Kesehatan RI., Direktorat Jenderal Pelayanan Medik; 1993. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2nd ed. Surabaya: Airlangga University Press; 2009. P. 369-78 Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa,Rujukan Ringkas PPDGJ-III.Cetakan I. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Atma Jaya; 2001. P. 36-39, 104 Ebert H.M dan rakan-rakan, CURRENT Diagnosis and Treatmant PSYCHIATRY, Mc Graw Hill LANGE, 2nd ed, Singapore, 2008 ; p. 230-261 Fauman M.A, Study Guide to DSM-IV, America Psychiatric Press Inc, Washington, DC, London, England, 1st ed, 1994 ; p. 97-137

Anda mungkin juga menyukai