Anda di halaman 1dari 7

PERENCANAAN PRODUKSI & PENGELOLAAN OPERASIONAL PENGOLAHAN

I. PENDAHULUAN Kegiatan mengelola operasional pengolahan di pabrik gula merupakan tugas yang harus ditangani para pengelola atau manager pabrik dengan mendasarkan kepada segala factor atau sumber yang terkait dengan operasional pengolahan, antara lain : - Mengelola merupaka seni dari ilmu penggunaan sumber daya secara efektif dan menguntungkan sesuai dengan sasaran. - Operasional pengolahan gula merupakan proses perubahan bahan masakan menjadi hasil akhir didalam pabrik gula. - Pengelolaan operasional pengolahan merupakan seni dan ilmu penggunaan sumber daya didalam memproses bahan masakan menjadi hasil akhir secara efektif dan menguntungkan. Operasional pengolahan gula dimulai dari masuknya bahan baku ( tebu ) dari kebun, diproses sehingga menghasilkan SHS ( GKP ), tetes dan hasil ikutan lainnya seperti ampas dan blotong. Dengan sendirinya didalam pengelolaan operasional pengolahan gula tersebut tidak hanya bahan baku tebu yang harus ditangani manajer pengolahan tetapi sumber-sumber lain yang terkait sumber-sumber tersebut adalah bahan, manusia, mesin, metode, biaya dan pasar ditambah stakes holder, waktu, dll. Untuk mencapai sasaran setiap manager harus menguasai sifat dari sumber yang dikelola agar dapat mengambil keputusan yang tepat. Bahan baku untuk pabrik gula adalah tebu dan bahan baku yang dikelola oleh manager pengolahan adalah nira mentah dikarenakan komponen tebu akan mempengaruhi sifat dari nira mentah dan di pabrik sebenarnya tidak membuat gula tapi memisahkan gula dari komponen yang lain meka secara ideal bahan baku tebu harus memenuhi syarat manis, bersih dan segar. - Manis terkait dengan kemasakan tebu yang berarti kandungan gula atau rendemen tinggi. - Segar terkait dengan sifat tebu yang tidak tahan simpan sedang bersih terkait dengan kandungan kotoran yang akan menyulitkan proses pengambilan gula dan bertambahnya kehilangan gula.

II.

SUMBER DAYA MANUSIA


Setiap manager didalam kegiatannya selalu melibatkan sumber daya manusia baik itu bawahan, kawan setingkat maupun atasan. - Terhadap bawahan setiap manager harus berusaha agar bawahan tahu, mau dan mampu melakukan kegiatan sesuai dengan rencana agar sasaran tercapai. Kalau bawahan belum tahu harus dibuat menjadi tahu terlebih dulu ( diberi petunjuk, dilatih, dsb ). - Terhadap kawan setingkat setiap menager harus dapat mengajak kawan setingkat agar mau bersama-sama melaksanakan kegiatan untuk mencapai sasaran. - Terhadap atasan setiap manager harus dapat mengelola sehingga dalam membuat rencana & keputusan sesuai dengan seharusnya..

III.

PARADIGMA KEPEMIMPINAN ANTARA LAIN :


- Budaya bicara harus diganti dengan budaya mendengar. - Budaya memerintah harus diganti dengan budaya mengharapkan. - Sikap reaktif dalam menghadapi persoalan perlu diubah menjadi sikap proaktif. - Kebiasaan mencari dan mengingat kesalahan dan kelemahan bawahan perlu diganti dengan kebiasaan mengembangkan kekuatan dan kelebihan karyawan. - Buang jauh-jauh kebiasaan mendengar secara negative dan gantikan dengan mendengar secara positif. - Keahlian memperumit masalah yang sederhana perlu dirubah menjadi keahlian menyederhanakan masalah.

IV.

A. PERENCANAAN PRODUKSI MELIPUTI :


- Perencanaan bahan baku - Persiapan peralatan - Perencanaan proses

B. SASARAN
- Merencanakan produktivitas optimal untuk mendapatkan keuntungan maksimal dengan biaya yang wajar ( rendah ).

C. STRATEGI
- Menentukan jumlah kebutuhan bahan baku - Menentukan kualitas bahan baku - Mengeliminir pengaruh iklim dengan teknik budi daya tanaman tebu yang benar dan baik - Pengawasan tanaman yang ketat.

D. KUALITAS BAHAN BAKU DITENTUKAN OLEH


:

Masa tanam Varietas ( disiapkan sejak pembibitan, masa awal, tengah dan akhir ) Kemurnian jenis dalam satu kebun Pencegahan dan pemberantasan hama penyakit Iklim ( bias disiasati ) Paska panen

V.

PERENCANAAN PASCA PANEN ANTARA LAIN :


- Taksasi Desember Dilaksanakan bulan Desember Gambaran awal jumlah produksi tebu - Taksasi Maret Dilaksanakan bulan Maret Mendapatkan angka produksi yang mendekati kebenaran Untuk merencanakan proses produksi dan hasil produksi yang pasti. - Analisa pendahuluan Menentukan kemasakan tanaman tebu dalam satu petak tebang Sebagai dasar perencanaan penebangan dan penggilingan Dapat digunakan untuk mengoreksi taksasi Maret ( berat tebu /m ).

VI.

PERENCANAAN PROSES PRODUKSI


- Maksud dan Tujuan Merencanakan proses produksi dengan peralatan yang ada dan disesuaikan dengan bahan baku yang sudah tersedia Supaya proses berjalan secara effisien & efektif

- Sasaran Efisiensi proses ( WR ) > 96% HK tetes < 33 Pol ampas < 2 HPB total > 95 HPB I > 68 PSHK > 95 Pemakaian uap % tebu < 50 - Stagnasi Persiapan pabrik Perhitungan jumlah produksi Menentukan awal & lama giling Proses produksi Effisiensi energi Kualitas produk Pengelolaan limbah Persiapan pabrik Bagian pengolahan ikut aktif dalam pelaksanaan persiapan peralatan Peran bagian pengolahan akan ikut menentukan effisiensi proses dan effisiensi energi Dilaksanakan diluar musim giling Menyiapkan semua peralatan mulai dari timbangan tebu s/d gudang gula dan penampungan tetes Semua peralatan dicoba kembali supaya bekerja pada kondisi optimal

A. BOILER
transfer energi Semua alat untuk ( manometer thermometer ) dikalibrasi kembali Menyiapkan peralatan water treatment & Peralatan utama ditangani bidang teknik Cleaning pipa-pipa boiler menentukan

B. STASIUN PEMBANGKIT TENAGA


- Semua peralatan pembangkit tenaga ( turbine generator ) di servis sebaik mungkin - Semua peralatan ukur ( thermometer & manometer ) dikalibrasi

C. STASIUN GILINGAN
Sasaran : - HPB total > 95% tergantung kualitas bahan bakar yang digiling - HPB I > 68%, makin tinggi HPB I analisa MPP makin mendekati kenyataan. - Po lampas < 2% - Imbibisi % sabut > 200% - PI > 90

D. STASIUN PEMURNIAN
Sasaran : - Mengeluarkan bukan gual selayak mungkin ( efek pemurnian min. 15% ) - Pol blotong < 2% - Kadar kapur NE < 600 ppm - Turbidity NE < 80 - Prinsip pemurnian nira tebu ( pH, sulm, waktu ) bias terlaksana - Menghitung kapasitas peralatan proses didasarkan pada prinsip-prinsip pemurnian nira tebu - Kapasitas terkecil sebagai dasar penentuan kecepatan giling - Sistem pemurnian yang dipakai disesuaikan dengan kualitas bahan baku yang diolah.

E. STASIUN EVAPORATOR
Sasaran : - Nira yang diproses minimum 60% brix - Kemampuan kapasitas nira semaksimal mungkin - Tidak ada kondensate yang terbuang - Percobaan vacuum tiap badan penyiapan pada tekanan min. 67 cmHg - Penurunan vacuum individual maupun pada saat steam test maksimal 10 mmHg/jam - Vacuum badan akhir min. 64 cmHg

- Air diuapkan per M2LP min. 25 kg.

F. STASIUN MASAKAN & CRYSTALIZER


Sasaran : - Mengambil gula sebanyak-banyaknya - Kualitas masakan baik HK Masakan A > 85 HK Masakan B = 80 - 84 HK Masakan C > 74 HK Masakan D < 60 - Percobaan vacuum pada tekanan min. 67 cmHg - Penurunan vacuum individual maupun pada saat steam test max. 10 mmHg/jam - Penyekuran semua valve yang berhubungan dengan pan crystalisasi harus diperhatikan - Tingkat masak ditentukan oleh kualitas bahan baku yang digiling HK NM > 84 4 tingkat ( A, B, C, D ) HK NM 80 84 3 tingkat ( A, B, D ) HK NM < 80 3 tingkat ( A, C, D

G. STASIUN PUTARAN
Sasaran : - Kualitas produk akir memenuhi standar SNI - HK tetes akhir serendah mungkin < 33% - Pemakaian air pencuci seminimal mungkin - Setiap putaran dicoba supaya bisa beroperasional pada rpm optimal - Hasil putaran gula produk harus kering - Penggunaan air untuk putaran seminimal mungkin - Anpapen Gula A, C & D gunakan klare SHS atau klare D

H. PERENCANAAN EFFISIENSI PROSES DAN EFFISIENSI ENERGI


- Menentukan sasaran effisiensi proses ( BHR ) Persiapan peralatan proses sebaik mungkin Semua valve yang berhubungan dengan vacuum dipastikan tidak bocor. Menekan kehilangan pol terutama di blotong & HK tetes serta kehilangan pol tak diketahui ( chemis & mekanis )

Menjaga keajegan & kelancaran giling. Tidak memaksakan kapasitas hanya untuk menekan sisa tebu di emplasemen. TMA menyesuaikan kapasitas giling. - Menentukan sasaran effisiensi pabrik Effisiensi pabrik dipengaruhi oleh effisiensi gilingan. Menentukan kehilangan pol di stasiun gilingan dengan sasaran pol ampas < 2% Penyetelan gilingan disesuaikan dengan kualitas bukan tebu. HPB. I setinggi-tingginya > 68% - Menentukan sasaran effisiensi energi ( pemakaian uap ) Pengaturan pemberian imbibisi di stasiun gilingan di dasarkan pada perhitungan untung ruginya dengan gula yang didapat dari penurunan pol ampas dan biaya penguapan kembali air imbibisi di evaporator. Pengawasan pemakaian / kualitas air condens harus bebas gula. Semua air condens harus dimanfaatkan untuk proses. Melaksanakan bleeding hal ini mengurangi pemakaian uap bekas.

I. PERENCANAAN PENGOLAHAN LIMBAH


Untuk limbah padat bisa dibuat kompos dan dikembalikan ke kebun. Untuk limbah cair diolah supaya memenuhi persyaratan lingkungan hidup. Untuk limbah B.3 perlu dikelola khusus

Untuk tahun 2010 ada pemanfaatan air limbah untuk tambahan air injeksi sebagai air pendingin disirkulasikan kembali ke sprai pont, sehingga tidak ada pembuangan air limbah ke badan sungai sesuai dengan peraturan KLH.Hal ini mengatasi bila pada musim kemarau dengan kondisi air Ogan cenderung level air turun/kering