Anda di halaman 1dari 13

BAB II PEMBAHASAN 2.

1 PENGERTIAN PASAR MONOPOLISTIS Pasar persaingan monopolistis pada dasarnya adalah pasar yang berada di antara dua jenis pasar yang ekstrem, yaitu persaingan sempurna dan monopoli. Oleh sebab itu sifatsifatnya mengandung unsur-unsur sifat pasar monopoli dan unsur-unsur sifat pasar persaingan sempurna. Pasar persaingan monopolistis dapat didefinisikan sebagai suatu pasar di mana terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang yang berbeda corak (differentiated products). 2.2 CIRI-CIRI PASAR PERSAINGAN MONOPOLISTIS Ciri-ciri pasar persaingan monopolistis adalah sebagai berikut : 1. Terdapat Banyak Penjual Terdapat cukup banyak penjual dalam pasar persaingan monopolistis, namun demikian tidaklah sebanyak seperti dalam pasar persaingan sempurna. Apabila di dalam pasar sudah terdapat beberapa puluh perusahaan, maka pasar persaingan monopolistis sudah mungkin terwujud. Dimana perusahaan dalam pasaran monopolistis mempunyai ukuran yang relatif sama besarnya. 2. Barangnya Bersifat Berbeda Corak (Diferensiasi Produk) Ciri ini merupakan sifat yang terpenting dalam membedakan antara pasar persaingan monopolistis dan persaingan sempurna. Produksi dalam pasar persaingan monopolistis berbeda coraknya dan secara fisik mudah dibedakan diatara produksi suatu perusahaan dengan produksi perusahaan lainnya. Di samping perbedaan dalam bentuk fisik barang tersebut terdapat pula perbedaan-perbedaan dalam pengemasannya, perbedaan dalam bentuk jasa perusahaan setelah penjualan dan perbedaan dalam cara membayar barang yang dibeli. Sebagai akibat dari perbedaan-perbedaan ini, barang yang diproduksikan oleh perusahaan-perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis bukanlah barang yang bersifat pengganti sempurna kepada barang yang diproduksikan perusahaan lain. Mereka hanya merupakan pengganti yang dekat atau close substitute. Perbedaan dalam sifat barang yang dihasilkan inilah yang menjadi sumber dari adanya kekuasaan monopoli, walaupun kecil, yang dimiliki oleh perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis. 3. Perusahaan Mempunyai Sedikit Kekuasaan Mempengaruhi Harga Berbeda dengan perusahaan dalam pasar persaingan sempurna, yang tidak mempunyai kekuasaan dalam mempengaruhi harga, perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis dapat mempengaruhi harga. Namun demikian, pengaruhnya ini relatif kecil kalau dibandingkan dengan perusahaan oligopoli dan monopoli. Kekuasaan mempengaruhi harga oleh perusahaan monopolistis bersumber dari sifat barang yang dihasilkannya, yaitu yang bersifat berbeda corak atau differentiated produk. Perbedaan ini menyebabkan para pembeli bersifat memilih, yaitu lebih menyukai barang dari sesuatu perusahaan tertentu dan kurang menyukai barang yang dihasilkan perusahaan lainnya. Maka apabila sesuatu perusahaan menaikkan harga barangnya, ia masih dapat menarik pembeli walaupun jumlah pembelinya tidak sebanyak seperti sebelum kenaikan harga. Sebaliknya, apabila perusahaan menurunkan harga, tidaklah mudah untuk menjual semua barang yang diproduksinya. Banyak di antara konsumen di pasar masih tetap membeli barang yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan lain, walaupun harganya sudah menjadi relatif lebih mahal. 4. Penjual Dapat Keluar Masuk Pasar Relatif Mudah Perusahaan yang akan masuk dan menjalankan usaha di dalam pasar persaingan monopolistis tidak akan banyak mengalami kesukaran. Hal ini dikarenakan, modal yang diperlukan relatif besar kalau dibandingkan dengan mendirikan perusahaan dalam pasar persaingan sempurna dan perusahaan itu harus menghasilkan barang yang berbeda coraknya dengan yang sudah tersedia di pasar, serta mempromosikan barang tersebut untuk memperoleh langganan. Maka perusahaan baru yang masuk di pasar persaingan monopolistis harus berusaha memproduksi barang yang lebih menarik dari yang sudah ada di pasar, dan harus dapat meyakinkan konsumen akan kebaikan mutu barang tersebut.

5. Promosi Penjualan Harus Aktif Harga bukanlah penentu utama dari besarnya pasar dari perusahaan-perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis. Suatu perusahaan mungkin menjual barangnya dengan harga relatif tinggi, tetapi masih dapat menarik banyak pelanggan. Sebaliknya suatu perusahaan lain mungkin harga barangnya rendah, tetapi tidak banyak menarik pelanggan. Keadaan seperti ini disebabkan oleh sifat barang yang mereka hasilkan, yaitu barang yang bersifat berbeda corak, citarasa pembeli, para pengusaha melakukan persaingan bukan-harga. Persaingan yang demikian itu antara lain adalah dalam rangka memperbaiki mutu dan desain barang, melakukan kegiatan iklan yang terus menerus, memberikan syarat penjualan yang menarik dan sebagainya. 2.3 KESEIMBANGAN DALAM PASAR PERSAINGAN MONOPOLISTIS Ciri-ciri persaingan monopolistis seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya menimbulkan pengaruh yang cukup penting atas corak permintaan yang dihadapi oleh perusahaan dalam persaingan monopolistis. Kurva permintaan yang dihadapi oleh perusahaan dalam persaingan monopolistis adalah lebih elastis dari yang dihadapi oleh perusahaan dalam persaingan monopolistis adalah lebih elastis dari yang dihadapi monopoli, tetapi elastisitansya tidak sampai mencapai elastis sempurna (yaitu kurva permintaan sejajar dengan sumbu datar) yang mana merupakan kurva permintaan yang dihadapi suatu perusahaan dalam persaingan sempurna. Maka pada hakikatnya kurva permintaan atas barang produksi perusahaan dalam persaingan monopolistis adalah bersifat menurun secara sedikit demi sedikit (lebih mendatar dan bukan turun dengan curam). Kurva permintaan yang bersifat seperti ini berarti : (i) apabila perusahaan menaikkan harga maka jumlah barang yang dijualnya menjadi sangat berkurang, dan sebaliknya (ii) apabila perusahaan menurunkan harga maka jumlah barang yang dijualnya menjadi sangat bertambah. Oleh karena kurva permintaan dalam persaingan monopolistis tidak bersifat elastis sempurna, kurva hasil penjualan marjinal (MR) tidak berimpit dengan kurva permintaan. Dalam persaingan monopolistis kurva MR adalah sama seperti yang terdapat dalam monopoli, yaitu kurva tersebut terletak di bawah kurva permintaan. 1. Keseimbangan Pasar Jangka Pendek Oleh karena kurva permintaan adalah menurun sedikit demi sedikit, dan sebagai akibatnya kurva MR tidak berimpit dengan kurva permintaan, keseimbangan yang dicapai suatu perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis adalah sama dengan di dalam monopoli. Bedanya, di dalam monopoli yang dihadapi adalah permintaan dari seluruh pasar, sedangkan dalam persaingan monopolistis, permintaan yang dihadapi perusahaan adalah sebagian dari keseluruhan permintaan pasar.

Berikut ini adalah grafik perusahaan monopolistis yang mana perusahaan memperoleh keuntungan :
Gambar 1

Keuntungan maksimum akan diperoleh apabila perusahaan memproduksi pada tingkat dimana keadaan MC = MR tercapai. Maka keuntungan maksimum tercapai apabila jumlah produksi adalah Q dan pada tingkat produksi ini tingkat harga adalah P. Segi empat PABC menunjukkan jumlah keuntungan maksimum yang dinikmati perusahaan monopolistis itu. Sedangkan untuk grafik yang menunjukkan perusahaan mengalami kerugian adalah sebagai berikut :
Gambar 2

Pada saat perusahaan mengalami kerugian, kerugian dapat diminimumkan apabila keadaan MC = MR tercapai. Ini berarti perusahaan harus mencapai tingkat produksi sebanyak Q. Pada tingkat produksi ini harga mencapai P. Besarnya kerugian yang diderita digambarkan oleh kotak PABC. Walaupun mengalami kerugian perusahaan akan terus beroperasi selama hasil penjualannya melebihi jumlah biaya berubah (atau harga melebihi AVC). Untuk lebih memperjelas tentang pemahaman dalam memaksimumkan keuntungan pada pasar persaingan monopolistis, maka terdapat contoh soal sebagai berikut : Diketahui fungsi permintaan perusahaan Herlambang dalam pasar persaingan monopolistic adalah P = 100 - 2Q. Sedangkan fungsi biayanya adalah TC = 5 + 2Q dan MR = 100 4Q. Dalam hal ini p = tingkat harga, q = tingkat out put dan TC = biaya total. Tentukan kombinasi harga dan tingkat produksi yag memaksimumkan keuntungan perusahaan. Hitunglah laba yang diperoleh perusahaan. Penyelesaian : P = 100 - 2Q TR = PQ MR = 100 - 4Q MC = 2 Syarat tercapainya laba maksimum adalah MR = MC 100 - 4Q = 2 4Q = 98 Q = 24,5 P = 100 - (2 x 24,5) P = 51 = TR - TC = (51x24,5) (5 + 2x24,5) = 1195,5 2. Keseimbangan Pasar Jangka Panjang Dalam pasar persaingan monopolistis, setiap perusahaan hanya mendapat keuntungan normal di dalam jangka panjang. Keseimbangan jangka panjang memerlukan syarat keseimbangan jangka pendek dan keuntungan sama dengan nol untuk semua perusahaan yang representatif.

Implikasi dari model persaingan monopolistis ini merupakan gabungan dari implikasi dari persaingan sempurna dan monopoli, antara lain: a. Harga lebih besar dari marginal Cost (P>MC) b. Keuntungan sama dengan nol. c. AC lebih besar dari titik minimum pada kurva LRAC Ketiga kondisi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: a. Harga (P) Lebih besar dari Marginal Cost (MC) P>MC
Gambar 3

Jadi keseimbangan dalam pasar monopolistis jangka panjang akan terjadi pada saat : 1. MR = MC 2. Kurva AC dan kurva DD berpotongan pada tingkat harga dan kuantitas yang dapat memaksimalkan keuntungan. 3. Keuntungan sama dengan nol Pada gambar diatas, keseimbangan jangka panjang tersebut akan terjadi pada kuantitas QL dan harga PL. pada titik (QL,PL) tersebut syarat tersebut terpenuhi. b. Keuntungan Sama dengan Nol Keuntungan akan sama dengan nol dalam keseimbangan jangka panjang, karena ada kemudahan untuk memasuki pasar, sehingga keuntungan di atas tingkat normal akan segera hilang. Keadaan ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4

Pada gambar diatas, kurva dd akan bersinggungan dengan kurva LRAC dalam keseimbangan jangka panjang. Jika keuntungan sama dengan nol, maka P harus sama dengan AC. Jika kurva dd diatas kurva LRAC pada setiap titik, maka paling tidak akan ada sebuah ukuran pabrik yang menghasilkan keuntungan yang positif. Selama masih ada perusahaan yang memperoleh keuntungan positif, maka masih terdapat peluang bagi perusahaan lain memasuki industri. Penyesuaian menuju keseimbangan pada posisi keuntungan sama dengan nol dapat dijelaskan melalui penyesuaian masuknya beberapa

perusahaan baru ke pasar. Atau melalui persaingan harga antar perusahaan yang terdapat dalam industri. Untuk menjelaskan pernyataan diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 5

Gambar diatas menjelaskan bahwa pada awalnya kurva permintaan yang dihadapi oleh perusahaan dalam pasar monopolistis adalah dd dan biaya dalam jangka panjang adalah LRAC, sedangkan biaya marginalnya adalah LRMC. Harga yang terbentuk P* dan output yang dijual sebanyak Q*. Pada posisi ini perusahaan menikmati keuntungan supernormal. Adanya keuntungan dalam industri ini merangsang perusahaan lain untuk memasuki pasar, sehingga permintaan tidak lagi pada posisi dd, melainkan bergeser ke bawah. Proses bergesernya kurva permintaan dan masuknya perusahaan baru ini akan terus berlangsung sampai kurva permintaan penyinggung LRAC jangka panjang, yaitu pada kurva permintaan dd. Pada kondisi ini, kurva permintaan tidak lagi kecenderungan untuk turun karena pada Posisi ini keuntungan perusahaan sama dengan nol, sehingga tidak lagi mendorong perusahaan baru untuk memasuki industri. Harga yang terbentuk menjadi P** dan output yang dapat dijual menjadi berkurang hanya pada Q**. Proses menuju keseimbangan sama dengan nol juga bisa terjadi melalui perang harga antar perusahaan sehingga menggeser kurva permintaan masing masing perusahaan. Hal ini dapat dijelaskan dengan gambar berikut ini:
Gambar 6

Kondisi awal perusahaan berada pada ketidakseimbangan. Untuk menigkatkan penjualannya perusahaan tersebut menurunkan harganya menjadi P1 dengan harapan kuantitas penjualan dapat ditingkatkan sebesar Q1 namun kondisi ini tidak terjadi karena perusahaan lain juga melakukan hal yang sama begitu seterusnya sampai tercipta kondisi dimana semua perusahaan tidak lagi bersedia menurunkan harganya karena mereka hanya menikmati keuntungan normal (P=AC) dan proses perang harga ini akan terhenti pada harga P**. Dua analisis diatas telah menjelaskan bahwa perang harga maupun proses masuknya perusahaan baru ke dalam industri akan terhenti bila perusahaan yang ada dalam pasar berada pada posisi keuntungan sama dengan nol. Oleh karena itu, pasar monopolistis keuntungan sama dengan nol merupakan keseimbangan jangka panjang. c. Kelebihan Kapasitas (Exces Capacity) Pasar persaingan monopolistis bisa mengakibatkan kelebihan kapasitas. Ada kecenderungan dalam jangka panjang untuk mengurangi AC (biaya rata-rata) perusahaan dalam pasar monopolistic cenderung meningkatkan produksinya dan akan mengurangi pabrik-pabrik yang dimilikinya. Kondisi ini akan dapat menyebabkan kelebihan pasokan.

2.4 PENILAIAN ATAS PERSAINGAN MONOPOLISTIS Di dalam bagian ini analisis yang dibuat hanya meliputi penilaian atas efek dari pasar bersifat persaingan monopolistis kepada penggunaan sumber-sumber daya, dorongan untuk mengembangkan teknologi dan melakukan inovasi, serta corak distribusi pendapatan. Salah satu kegiatan penting yang dilakukan oleh perusahaan monopolistis adalah melakukan promosi penjualan secara iklan. Kebaikan dan keburukan dari kegiatan ini akan dinilai dalam bagian berikut. 1. Efisiensi Dalam Menggunakan Sumber Daya Untuk menilai sampai di mana efisiensi pasar persaingan monopolistis di dalam mengalokasikan sumber-sumber daya, akan dibuat suatu perbandingan dengan efisiensi perusahaan dalam pasar persaingan sempurna. Perbandingan tersebut menunjukkan keseimbangan suatu perusahaan dalam pasar persaingan sempurna dan keseimbangan suatu perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis. Kedua keadaan keseimbangan tersebut adalah di dalam jangka panjang. Dalam membuat perbandingan tersebut biaya produksi dalam perusahaan persaingan sempurna dan perusahaan monopolistis bersamaan. Dengan demikian ACS = ACm dan MCS = MCm. MC P ACs

Ps

MR

Qs (i) Persaingan Sempurna

P MC D Pm Ps D MR O Qm (ii) Persaingan Monopolistis Qs Q ACm

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa: Biaya produksi per unit adalah pada tingkat yang paling minimum, Biaya per unit adalah Ps. Harga yang berlaku di pasar adalah PS. Jumlah barang yang diproduksikan adalah Qs. Sedangkan keadaan yang satu lagi menunjukkan bahwa: Biaya produksi per unit perusahaan monopolistis adalah lebih tinggi dari biaya produksi per unit yang paling minimum. Biaya per unit adalah Pm. Harga yang berlaku di pasar adalah Pm. Jumlah barang yang diproduksikan adalah Qm.

Kesimpulan pokok yang dapat dibuat dari membuat perbandingan tersebut adalah: walaupun perusahaan persaingan sempurna dan perusahaan monopolistis sama-sama mendapat keuntungan normal, tetapi dalam perusahaan monopolistis biaya produksi per unit lebih tinggi, harga barang lebih tinggi, dan jumlah produksi lebih rendah (sehingga menyebabkan kapasitas memproduksi yang digunakan adalah di bawah tingkat yang optimal). Kesimpulan di atas menunjukkan bahwa perusahaan persaingan sempurna adalah lebih efisien dari perusahaan monopolistis di dalam menggunakan sumber-sumber daya. Baik ditinjau dari sudut efisiensi produktif (seperti telah diterangkan ia dicapai apabila biaya produksi per unit adalah yang paling minimum), maupun dari sudut efisiensi alokatif (ia dicapai apabila harga sama dengan biaya marginal) perusahaan dalam persaingan sempurna adalah lebih efisien dari perusahaan dalam persaingan monopolistis. 2. Efisiensi Dan Diferensiasi Produksi Telah diterangkan dalam analisis sebelum ini bahwa barang-barang yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan persaingan monopolistis bersifat berbeda corak, yaitu ia berbeda dari segi mutu barangnya, pembukusannya, dan pelayanan setelah penjualan. Perbedaan-perbedaan ini menyebabkan para konsumen mempunyai pilihan yang lebih baik dari pilihan yang dapat dibuat mereka di dalam pasar persaingan sempurna. Pilihan lebih baik, ini dapatlah dipandang sebagai kompensasi kepada penggunaan sumber- sumber daya yang kurang efisien seperti yang baru saja diterangkan. Persoalannya sekarang adalah: manakah yang lebih baik kepada masyarakat? Barang yang diproduksikan secara efisien sehingga dapat dijual dengan harga murah? Ataukah harga yang lebih mahal sedikit tetapi masyarakat dapat menentukan barang yang akan dikonsuminya dan pilihan jenis barang yang lebih banyak? Ini merupakan persoalan normatif, yang jawaban sangat tergantung kepada value judgment masyarakat tersebut. Sekiranya mereka lebih menyukai harga yang murah, maka kekurangan pilihan tidak dipandang sebagai suatu yang merugikan. Sebaiknya, apabila masyarakat menginginkan pilihan barang yang lebih banyak, sehingga dapat dibuat pilihan yang lebih tepat, harga yang lebih tinggi sedikit tidaklah perlu terlalu dirisaukan. 3. Perkembangan Teknologi Dan Inovasi Sampai di manakah persaingan monopolistis akan mendorong perkembangan teknologi dan inovasi? Pada umumnya ahli ekonomi berpendapat bahwa pasar persaingan monopolistis memberikan dorongan yang sangat terbatas untuk melakukan perkembangan teknologi. Terbatasnya dorongan tersebut disebabkan karena dalam jangka panjang perusahaan hanya memperoleh keuntungan normal. Keuntungan yang melebihi normal di dalam jangka pendek dapat mendorong kepada kegiatan mengembangkan teknologi. Tetapi dorongan tersebut adalah sangat lemah karena perusahaan-perusahaan menyadari bahwa keuntungan yang diperoleh dari mengembangkan teknologi dan melakukan inovasi tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Keuntungan melebihi normal yang diperoleh akan mendorong perusahaan-perusahaan lain untuk masuk ke industri tersebut, dan ini akan terus berlangsung sehingga keuntungan melebihi normal tidak ada lagi. Maka dalam jangka panjang keuntungan yang diperoleh dari perkembangan teknologi dan melakukan inovasi tidak dapat lagi dinikmati. 4. Distribusi Pendapatan Persaingan monopolistis mengakibatkan corak distribusi pendapatan yang sama sifatnya seperti yang biasanya terdapat dalam persaingan sempurna, yaitu distribusi pendapatan adalah seimbang. Karana tidak terdapat keuntungan yang berlebih-lebihan dalam jangka panjang, maka pengusaha dan pemilik modal tidak memperoleh pendapatan yang berlebih-lebihan. Di samping itu dalam pasar terdapat banyak perusahaan, dan ini berarti keuntungan normal yang diperoleh akan dibagikan kepada jumlah pemilik modal dan pengusaha yang banyak jumlahnya. Berdasarkan kepada kecenderungan ini ahli-ahli ekonomi berpendapat bahwa pasar persaingan monopolistis menimbulkan distribusi pendapatan yang lebih merata. 2.5 PERSAINGAN BUKAN-HARGA Persaingan bukan-harga pada hakikatnya mengandung arti usaha usaha di luar perubahan harga yang dilakukan oleh perusahaan untuk menarik lebih banyak pembeli atas barang yang diproduksinya. Maka pada hakikatnya usaha-usaha untuk melakukan persaingan bukan-harga bertujuan untuk memindahkan kurva permintaan ke kanan. Perpindahan itu berarti pada setiap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja, jumlah

barang yang diminta menjadi bertambah banyak. Persaingan bukan-harga dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu : 1. Diferensiasi Produksi Setiap perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis akan berusaha untuk memproduksi barang yang mempunyai sifat yang khusus, dan yang dapat dengan jelas dibedakan dari produksi perusahaan-perusahaan lainnya. Maka di dalam pasar akan terdapat berbagai barang yang dihasilkan suatu industri yang mempunyai corak, mutu, desain, mode dan merek yang berbeda-beda.terdapatnya berbagai variasi dari suatu jenis barang adalah sifat istimewa dari pasar persaingan monopolis, yang tidak terdapat dalam pasar persaingan sempurna. Terdapat barang yang beraneka ragam coraknya di pasar persaingan monopolistis menimbulkan keuntungan kepada perusahaan maupun kepada para konsumen. Kepada setiap perusahaan, barang yang berbeda-beda sifatnya tersebut akan menjadi daya tarik khusus atas barang yang diproduksinya. Beberapa konsumen tertentu akan lebih suka membeli barangnya (walaupun harganya lebih mahal) kalau dibandingkan dengan barang-barang yang sejenis yang dihasilkan produsen-produsen lain. Dengan demikian diferensiasi produksi dapat menciptakan suatu bentuk kekuasaan monopoli. Dengan menghasilkan suatu barang tertentu yang berbeda dari barang lainnya, perusahaan menciptakan suatu penghambat kepada perusahaan-perusahaan lain untuk menarik para pelanggannya. Diferensiasi produksi memungkinkan seorang produsen dalam pasar monopolistis untuk tetap menjual produksinya (tetapi jumlahnya semakin sedikit) apabila ia menaikkan harga. Tetapi sebaliknya, produsen itu dapat menarik sebagian dari langganan perusahaan-perusahaan lain, sekiranya ia menurunkan harga penjualan barangnya. Kepada para konsumen, barang yang sejenis tetapi berbeda corak tersebut menimbulkan suatu keuntungan pula, yaitu pilihan mereka untuk membeli sesuatu barang menjadi lebih beraneka ragam. Ini memungkinkan mereka memilih barang yang benar-benar sesuai dengan keinginannya. Berdasarkan para ahli-ahli ekonomi, mereka banyak yang memandang pilihan yang beraneka ragam itu sebagi suatu kompensasi terhadap ketidakefisienan persaingan monopolistis di dalam menggunakan sumber-sumber daya. 2. Iklan Dan Berbagai Bentuk Promosi Penjualan Di dalam perusahaan-perusahaan modern kegiatan mempersiapkan dan membuat iklan adalah suatu bagian penting dari usaha untuk memasarkan hasil produksinya. Pengeluaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan untuk pengiklanan meliputi jumlah yang cukup besar yang adakalanya menimbulkan pertambahan yang nyata pada biaya produksi. Perusahaan-perusahaan melakukan kegiatan pengiklanan untuk mencapai salah satu atau gabungan dari tiga tujuan berikut ini : a. Untuk memberikan informasi mengenai produk. b. Untuk menekankan kualitas suatu produk secara persuasive c. Untuk memelihara hubungan baik dengan para konsumen 2.6 KEBAIKAN DAN KEBURUKAN PENGIKLANAN Di dalam menilai apakah iklan memberikan manfaat kepada masyarakat, terdapat berbagai pendapat. Beberapa orang berkeyakinan bahwa iklan merupakan suatu penghamburan karena biaya produksi bertambah tinggi sedangkan konsumen tidak menerima kenikmatan tambahan dari barang yang dipromosikan melalui kegiatan pengiklanan. Pengiklanan tidak menambah atau memperbaiki mutu suatu barang. Selain itu juga ada yang berpendapat bahwa iklan memberikan sumbangan yang positif kepada masyarakat karena ia dapat menurunkan biaya produksi per unit. Di samping perbedaan pendapatn mengenai pengaruh iklan atas biaya produksi dan harga, perbedaan pendapat mengenai kegunaan iklan dikemukakan berdasarkan beberapa argumen lain, yaitu sebagai berikut : 1. Iklan dan Biaya Produksi Adakah iklan akan menaikkan atau menurunkan biaya produksi per unit ? Keduanya mungkin berlaku, dan ia tergantung kepada perubahan permintaan yang terjadi sebagai akibat kegiatan pengiklanan yang dilancarkan. Apabila permintaan menjadi sangat bertambah elastis, besar kemungkinan biaya produksi per unit akan menjadi lebih rendah. Tetapi kemungkinan ini tidak banyak berlaku, dan ini berarti bahwa pada umumnya iklan akan menimbulkan kenaikan biaya produksi. Perbedaan pendapat mengenai pengaruh iklan kepada biaya produksi dan harga dapat diterangkan pada gambar di bawah ini :

P AC P2 P1 A C

AC1

D3 D2 D1 Q1 Q1 Q1 Q Pengaruh Iklan terhadap Biaya Produksi Biaya rata-rata jangka panjang dari suatu perusahaan monopolistis sebelum melakukan kegiatan pengiklanan adalah AC. Permintaan atas barang yang diproduksi oleh perusahaan itu adalah D1. Maka keseimbangan jangka panjang perusahaan monopolistis tersebut dicapai pada titik A, dan keseimbangan ini menunjukkan bahwa harga pasar mencapai P1 dan jumlah barang yang akan diproduksikan perusahaan monopolistis tersebut adalah Q1. Apabila perusahaan melakukan pengiklanan biaya produksi akan menjadi lebih tinggi dan ini dicerminkan oleh kenaikan kurva biaya rata-rata dari AC menjadi AC1. pada waktu yang sama usaha mempromosikan penjualan melalui iklan tersebut menyebabkan permintaan atas produksi perusahaan bertambah. Apabila permintaan tersebut bertambah dari D1 ke D2, keseimbangan menyebabkan jumlah barang yang dijual bertambah dari Q1 ke Q2, akan tetapi iklan tersebut menaikkan harga dari P1 menjadi P2. Berdasarkan keadaan tersebut, beberapa ahli ekonomi berpendapat bahwa iklan merupakan suatu penghamburan karena ia menaikkan biaya produksi tanpa membuat suatu perubahan apapun atas bentuk, berat dan mutu suatu barang. Namun, beberapa ahli ekonomi lain tidak sependapat dengan kesimpulan di atas, dan sebaliknya berpendapat bahwa iklan adalah sangat berguna karena ia akan dapat menurunkan biaya produksi per unit. Promosi penjualan melalui iklan, menurut mereka, akan menyebabkan permintaan berubah dari D1 menjadi D3. Maka keseimbangan jangka panjang dari suatu perusahaan monopolistis yang melakukan kegiatan iklan akan dicapai di titik C. Ini berarti iklan menaikkan jumlah penjualan yang cukup banyak, yaitu dari Q1 menjadi Q3. Pertambahan penjualan yang banyak menyebakan biaya produksi per unit semakin rendah, dan memungkinkan perusahaan menjual barangnya pada harga yang lebih rendah dari harga pada waktu belum ada iklan (P1), yaitu harga penjualan yang sekarang adalah P3. 2. Pandangan lain yang mendukung pengiklanan Bebarapa keuntungan dari menggunakan pengiklanan adalah sebagai berikut : a. Pengiklanan membantu konsumen untuk membuat keputusan yang lebih baik di dalam menentukan jenis-jenis barang yang akan dibelinya. b. Iklan akan menggalakkan kegiatan memperbaiki mutu suatu barang. c. Iklan membantu membiayai perusahaan komunikasi masa seperti radio, televisi, surat kabar dan majalah. d. Iklan menaikkan kesempatan kerja. 3. Pandangan lain yang mengkritik pengiklanan Beberapa kekurangan dari pengiklanan adalah sebagai berikut : a. Promosi secara iklan adalah suatu penghamburan. b. Iklan tidak selalu memberi informasi yang benar. c. Iklan bukanlah suatu cara yang efektif untuk menambah jumlah pekerjaan dalam perekonomian. d. Iklan dapat menjadi penghambat kepada perusahaan-perusahaan baru untuk masuk ke dalam industri. 2.7 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PASAR MONOPOLISTIS Keuntungan dari Pasar Monopolistis adalah sebagai berikut : 1. Banyaknya produsen di pasar memberikan keuntungan bagi konsumen untuk dapat memilih produk yang terbaik baginya. 2. Kebebasan keluar masuk bagi produsen, mendorong produsen untuk selalu melakukan inovasi dalam menghasilkan produknya. O

3. Diferensiasi produk mendorong konsumen untuk selektif dalam menentukan produk yang akan dibelinya, dan dapat membuat konsumen loyal terhadap produk yang dipilihnya. 4. Pasar ini relatif mudah dijumpai oleh konsumen, karena sebagian besar kebutuhan sehari-hari tersedia dalam pasar monopolistik.

5. Adanya distribusi pendapatan dalam masyarakat yang lebih merata. Oleh karena perusahaan terdiri dari perusahaan-perusahaan kecil yang memperoleh untung normal, pemilik modal tak memiliki kekayaan yang berlebihan dan kesempatan kerja yang diciptakan lebih besar. Sedangkan Kerugian dari Pasar Monopolistis adalah sebagai berikut : 1. Pasar monopolistik memiliki tingkat persaingan yang tinggi, baik dari segi harga, kualitas maupun pelayanan. Sehingga produsen yang tidak memiliki modal dan pengalaman yang cukup akan cepat keluar dari pasar. 2. Dibutuhkan modal yang cukup besar untuk masuk ke dalam pasar monopolistik, karena pemain pasar di dalamnya memiliki skala ekonomis yang cukup tinggi. 3. Pasar ini mendorong produsen untuk selalu berinovasi, sehingga akan meningkatkan biaya produksi yang akan berimbas pada harga produk yang harus dibayar oleh konsumen.

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Pasar persaingan monopolistis adalah suatu pasar di mana terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang yang berbeda corak (differentiated products). Dimana memiliki ciri-ciri yaitu terdapat banyak penjual, barangnya bersifat berbeda corak, dapat mempengaruhi harga, keluar masuk relatif mudah, dan banyak melakukan persaingan bukan-harga. Dalam jangka pendek suatu perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis dapat memperoleh untung lebih normal, untung normal maupun mengalami kerugian. Dan dalam jangka panjang, keuntungnan akan menimbulkan masuknya perusahaan baru dan kerugian akan mendorong perusahaan keluar dari pasar persaingan monopolistis. Oleh sebab itu, dalam jangka panjang semua perusahaan dalam persaingan monopolistis hanya memperoleh untung normal. Persaingan monopolistis memiliki kelebihan, yaitu diantaranya adalah menghasilkan barang yang berbeda corak dan distribusi pendapatan dalam masyarakat lebih merata. Sedangkan kelemahannya adalah memiliki tingkat persaingan yang tinggi dan dibutuhkan modal yang besar untuk dapat masuk dalam pasar persaingan monopolistis. 3.2 SARAN Berdasarkan uraian makalah, penulis memberikan saran kepada produsen yang akan masuk ke dalam lingkungan pasar persaingan monopolistis agar dapat lebih kreatif dan berinovasi lebih tinggi di pasar persaingan monopolistis. Supaya nantinya mampu mengatasi segala permasalahan yang ada pada pasar persaingan monopolistis. Prinsip kelebihan dan kelemahan dari pasar persaingan monopolistis dapat digunakan sebagai dasar dalam mempelajari konsep pasar persaingan monopolistis.

19

DAFTAR PUSTAKA Sukirno, Sadono.2012. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada. http://www.smanepus.sch.id/kumpulan%20materi/KUMPULAN %20MATERI/Ekonomi/kls%20x/mp_312/konsep.html http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar#Pasar_Menurut_Organisasinya http://ikamaiyastri.blogspot.com/2010/12/pasar-persaingan-monopolistik.html

iii