Anda di halaman 1dari 7

ANAMNESIS Identitas Nama : Hendra Umur : 9 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Suku : Jawa, Indonesia Pendidikan

: SD Pekerjaan : Pelajar Alamat : Sleman Keluhan Utama Kejang Riwayat Penyakit Sekarang 2 bulan yang lalu pasien mengalami kejang. Kejang kali ini merupakan serangan yang kesekian kalinya. Sebelum terjadi serangan diawali dengan demam baru timbul kejang. Kejang berlangsung 1-2 jam. Biasanya serangan terjadi sekitar 2 atau 3 bulan sekali. Kejang hanya terjadi pada salah satu bagian tubuh saja yaitu bagian tubuh sebelah kanan pasien. Saat terjadi serangan bagian tubuh sebelah kanan pasien bergerak dan otot-otonya sedikit kaku. Selain itu saat terjadi serangan mulut pasien mencong tapi matanya tidak melirik. Pasien sudah berobat ke dokter dan saat ini sedang menjalani pengobatan rutin yang diberikan dokter yaitu Depnaken. Anamnesis Sistem Sistem Cerebrospinal demam(-) Sistem Kardiovaskuler debar (-) Sistem Respirasi Sistem Digestiva Sistem Urogenital Sistem Integumentum Sistem Muskuloskeletal Riwayat Penyakit Dahulu Pada saat pasien usia 8 bulan pernah mengalami kejang demam. Gambaran serangannya pasien tampak melotot, mengerang, dan tangannya kaku. Selain itu, 1 tahun yang lalu pasien juga mengalami kejang. Nenek pasien memaparkan, awalnya pasien pernah jatuh kemudian kepala pasien mengalami benturan dan menyebabkan pusing serta muntah. : Sakit kepala (-), pingsan(-),

: Nyeri dada (-), dada berdebar: Sesak nafas (-) : Mual (-), muntah (-), BAB normal : BAK normal : Kesemutan (-) : Kelemahan anggota gerak (-)

Selang beberapa hari kemudian pasien mulai mengalami serangan kejang yang pertama kalinya. Gambaran serangannya dimulai dengan penghentian aktivitas kemudian melamun barulah timbul kejang yang disertai dengan penurunan kesadaran. Kejangnya berlangsung kurang dari 30 menit. Kemudian pasien dibawa ke Rumah Sakit dan dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan CT Scan dan didapatkan hasil adanya kelemahan otak. Dokter juga mendiagnosis bahwa pasien mengalami Epilepsi. Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga tidak ada yang mengalami keluahan serupa dan belum pernah ada yang mondok karena suatu penyakit kronis. Riwayat Kehamilan Pasien lahir cukup bulan dan tumbuh kembang pasien normal sesuai dengan usia. Namun pasien memiliki riwayat kejang demam pada saat usia 8 bulan. Lingkungan dan Kebiasaan Lingkungan rumah pasien cukup bersih. Pola makan pasien teratur.

PEMERIKSAAN FISIK Vital Sign : Nadi Nafas Suhu Tekanan darah : 85x/menit : 24x/menit : 36,5C : 80/60 mmHg

Keadaan umum : Tidak tampak sakit Kesadaran : Compos Mentis Pemeriksaan Neurologis 1. Pemeriksaan Refleks Patologis Refleks Hoffman dan Tromner Refleks Babinski Refleks Chaddock Refleks Oppenheim Refleks Gordon Refleks Schaefer Refleks Rossolimo Refleks Mendel-Bechterew : Negatif (tangan kanan dan kiri) : Negatif (tungkai kanan dan kiri) : Negatif (tungkai kanan dan kiri) : Negatif (tungkai kanan dan kiri) : Negatif (tungkai kanan dan kiri) : Negatif (tungkai kanan dan kiri) : Negatif (tungkai kanan dan kiri) : Negatif (tungkai kanan dan kiri)

2. Pemeriksaan tanda Meningeal Kaku Kuduk : Negatif Tanda Brudzinski I : Negatif Tanda Kernig : Negatif Tanda Brudzinski II : Negatif Tanda Brudzinski III : Negatif Tanda Brudzinski IV : Negatif

RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien untuk memastikan diagnosis lebih lanjut dan untuk mengetahui penyebab kejang ataupun jenis kenjangnya adalah sebagai berikut : 1. Pemeriksaan Kimia darah Untuk menunjukkan adanya kadar elektrolit yang dapat menimbulkan kejang. Perlu diperiksa kadar glukosa, natrium, kalsium, magnesium, bilirubin, dan ureum dalam darah. Keadaan yang dapat menimbulkan kejang antara lain : hipoglikemik, hipokalium, hipomagnesium, hipo atau hipernatremia, hiperbilirubinemia, dan uremia. 2. Pemeriksaan Radiologis CT Scan kepala dan MRI kepala dapat dilakukan untuk melihat apakah ada atau tidaknya kelainan struktural di otak (Harsono, 2001). Berdasarkan anamnesis pasien pernah melakukan CT Scan kepala dengan hasil temuan yaitu adanya keterlambatan otak. 3. Pemeriksaan Elektroensefalografi Pemeriksaan EEG ini adalah pemeriksaan laboratorium yang penting untuk membantu diagnosis pada pasien karena merupakan alat bantu diagnostik utama untuk mengevaluasi pasien dengan serangan kejang. Pemeriksaan ini dapat mengklarifikasikan jenis serangan kejang dengan benar. (Harsono, 2001)

RENCANA TERAPI Tujuan utama terapi pada pasien epilepsi adalah membebaskan penderita dari serangan epilepsi, tanpa menganggu fungsi normal susunan saraf pusat agar penderita dapat menjalani kehidupan tanpa gangguan. Untuk mengurangi serangan pada pasien dapat diberikan obatobatan anti konvulsan yaitu : Sodium Valproat (Asam Valproat) Obat ini efektif untuk epilepsi yang bersifat kejang umum seperti : bangkitan lena, bangkitan tonik klonik, dan epilepsi parsial kompleks. Cara kerja obat ini dengan meningkatkan kontraksi neurotransmitter GABA di otak. Karena pasien pada kasus ini adalah anak-anak maka obat ini dapat diberikan dalam bentuk sirup yang dapat diserap baik dalam tubuh. (Sacher, Ronald A, 2004) Dosis untuk anak-anak yang dianjurkan adalah 2x20 mg/kgBB/hari.

REFLEKSI KASUS Alasan memilih kasus

Sehubungan dengan Blok Sistem Saraf maka saya mengangkat kasus dari masyarakat mengenai Epilepsi pada anak-anak. Epilepsi merupakan salah satu penyakit sistem saraf yang ditandai dengan kejang berulang. Alasan saya memilih kasus ini karena salah satu kerabat saya ada yang mengalami gejalagejala tersebut. Tinjauan dari aspek biopsikospiritual

Epilepsi dapat menyerang siapapun anak-anak, remaja dewasa, orang tua, bahkan bayi baru lahir. Masalah psikososial yang ditimbulkan dari penderita epilepsi adalah gangguan epilepsi itu sendiri, efek samping pengobatan, dan secara tidak langsung merupakan konsekuensi sebagai orang yang hidup dengan gangguan epilepsi. Hal ini disebabkan karena masih ada beberapa orang yang beranggapan negatif mengenai epilepsi sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupan sosial dan kepribadian pada penderita epilepsi seperti rasa minder. Oleh karena itu kasus epilepsi ini merupakan kasus yang menarik untuk diangkat dari masyarakat agar supaya masyarakat lebih memahami bahwa epilepsi bukan merupakan suatu penyakit yang menular melainkan mereka atau orang yang menderita epilepsi harus mendapatkan dukungan maupun motivasi dari orang-orang terdekat untuk mencapai kesembuhan dan yakin akan memperolehnya, dengan demikian akan mau bekerja sama dengan dokter, karena umumnya pengobatan epilepsi ini memakan waktu yang lama. Kesulitan dalam pemilihan kasus hingga pemeriksaan fisik neurologik

Kesulitan yang didapat dalam pemilihan kasus cukup berarti karena pasien seorang anak kecil sehingga saya hanya melakukan wawancara mendalam dengan orang-orang terdekatnya saja. Selain saat akan dilakukan pemeriksaan fisik neurologis pasien sempat menolak namun setelah dilakukan pembicaraan pasien akhirnya setuju namun hanya pemeriksaan vital sign, refleks patologis dan meningeal sign saja yang dilakukan.

REFERENSI Harsono. 2001. Epilepsi ed.1. Yogyakarta : UGM Press. Sacher, Ronald A. 2004. Temuan Hasil Klinis Laboratorium ed. 11. Jakarta : EGC.