Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN Ketergantungan dan penyalahgunaan zat bukan merupakan masalah baru di Indonesia.

Lebih dari tiga rarus tahun yang lalu, salah satu bahan mentah sejenis zat psikoaktif yang disebut opium (atau opioid) telah diperdagangkan dan disalahgunakan oleh sekelompok masyarakat di Jawa dan Sumatera. Kemudian pada awal tahun 1970an, peredaran morfin, juga sejenis golongan opioid, menyebar di beberapa kota besar di Indonesia yang kemudian diikuti oleh penyalahgunaan turunan opioid lainnya seperti petilin. Pada medio tahun 1990-an, peredaran zat psikoaktif golongan opioid menanjak tajam terutama heroin, diikuti golongan amphetamine-type stimulants (amfetamin, ecstasy, shabu) l. Rasemik amphetamine sulfate pertama kali disintesis tahun 1887 dan diperkenalkan dalam praktek klinis tahun 1932 sebagai inhaler yang dapat dibeli bebas untuk mengobati kongesti nasal dan asma. Tahun 1937 dikenal untuk mengobati narkolepsi, parkinsonisme, pascaensefalitis, depresi dan letargi. Penggunaan gelap amfetamin meningkat sampai tahun 1970an sehingga mulai diberikan aturan untuk membatasi penggunaannya2. Dewasa ini, diperkirakan di Indonesia terdapat lebih dari 3,5 juta pengguna zat psikoaktif (Badan Narkotika Nasional, 2006). Dalam jumlah tersebut, hanya kurang dari 10 ribu orang yang tersentuh Iayanan "terapi": 1000 orang dalam tetapi substitusi metadon, 500 orang tetapi substitusi buprenorfin, kurang dari 1000 orang dalam rehabilitasi (pesantren, therapeutic communities, kelompok bantu diri/self-help group), 2000 orang dalam Iayanan medis lain dan sekitar 4000 orang menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan dan tahanan polisi. Jumlah adiksi zat psikoakatif yang belum mendapat layanan pemulihan di Indonesia sangat besar. Bandingkan dengan di negara adidaya, Amerika Serikat, dari 5 juta yang mengalami adiksi zat psikoaktif, hanya 2 juta yang mendapatkan pelayanan pemulihan, terdapat kesenjangan sekitar 60% (Clearinghouse, 2001)1. Berbagai bentuk resiko yang berhubungan dengan penyalahgunaan obat antara lain intoksikasi, masalah medis sekunder, masalah psikiatrik sekunder,

resiko ketergantungan, gangguan dalam sosial, pekerjaan, pernikahan, dan konsekuensi forensik3. Indikasi yang disetujui saat ini oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk amfetamin terbatas pada gangguan pemusatan perhatian / hiperaktivitas dan narkolepsi dan depresi. Amfetamin juga digunakan dalam penanganan obesitas, walaupun khasiat dan keamanannya masih menjadi kontroversi2.

BAB II STATUS PSIKIATRI Nama Pasien No RM Tanggal Periksa Dokter Pemeriksa Dokter Muda : Tn. A :: 21 Mei 2012 : dr. Laila Sylvia sari, SpKJ : Asyiyatur Raudhah, S.Ked

Diagnosis

: Aksis I

: F.15.24 Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penggunaan stimulan kini sedang menggunakan zat (ketergantungan aktif)

Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V

:gangguan kepribadian(-);retardasi mental(-) : Tidak ada diagnosis : Masalah psikososial dan lingkungan : GAF Scale 60 51 gejala sedang, disabilitas sedang.

KETERANGAN PRIBADI PASIEN Nama Jenis Kelamin Tempat, tanggal Lahir/ Umur Status Perkawinan Bangsa Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn. A : Laki-laki : Jambi/ 15-06-1985/ 27 Tahun : cerai : Indonesia : Melayu : Islam : SMA : Wiraswasta : Jl. Pattimura RT.18 No. 102, Kel. Kenali Besar, Kec. Kota Baru. Kota Jambi Pernah masuk Rumah Sakit dengan : Belum pernah keluhan yang sama atau berbeda 3

KETERANGAN DARI ALLO/INFORMAN Nama Jenis Kelamin Umur Pekerjaan Alamat dan telepon : Ny. M : Perempuan : 53 tahun : PNS : Jl. Pattimura RT.18 No. 102, Kel. Kenali Besar, Kec. Kota Baru. Kota Jambi Hubungan dengan Pasien Keakraban dengan Pasien Kesan pemeriksa/Dokter terhadap keterangan yang diberikan : Ibu kandung os : Akrab : Dapat dipercaya

I. ANAMNESIS Keterangan/anamnesis di bawah ini diperoleh dari : 1. Pasien sendiri 2. Informan

1. Pasien datang ke fasilitas kesehatan ini atas keinginan Keluarga 2. Sebab utama pasien dibawa ke laboratorium psikiatri

Os dan keluarga ingin os berhenti menggunakan sabu-sabu. 3. Keluhan utama pasien dan telah berlangsung selama Os merasa cemas sejak 2 tahun yang lalu. :

4. Riwayat perjalanan penyakit pasien sekarang

Sejak + 2 tahun SMRS (2010), os menggunakan sabu-sabu, sejak saat itu os merasa cemas dan gelisah. Os melihat bayangan dan mendengar suarasuara yang tidak jelas. Os merasa bingung, sangat jenuh, tidak semangat melakukan aktivitas, dan os suka jalan mondar mandir di rumah.

Os mengaku awalnya menggunakan sabu-sabu hanya karena ingin cobacoba. Kemudian menjadi berkelanjutan hingga sekarang. Os mengaku saat awal-awal menggunakan sabu-sabu, os menjadi mudah tersinggung. Os mengaku frekuensi penggunaan lebih sering dan lebih dominan ketika os memiliki masalah terutama setelah os bercerai dengan istrinya. Setelah os menggunakan sabu-sabu, os merasa bisa melupakan masalah, os banyak tidur dan saat bangun os banyak makan. Seringkali Os berniat untuk berhenti, tetapi usaha os gagal, karena os akan menggigil dan berkeringat. Os merasa sangat terganggu dengan keadaan tersebut. Os mampu mengurus diri sendiri.

5. Riwayat penyakit pasien sebelumnya Tidak terdapat penyakit sebelumnya.

6. Riwayat Keluarga pasien a. Identitas Orang tua ORANG TUA IDENTITAS AYAH: Tn. M A Bangsa Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Umur Alamat Indonesia Melayu Islam S1 Ekonomi Pensiunan PNS 56 tahun

IBU: Ny. M Indonesia Melayu Islam SMA PNS 53 tahun

Jl. Pattimura RT.18 No. Jl. Pattimura RT.18 102, Kel. Kenali Besar, No. 102, Kel. Kenali Kec. Kota Baru. Kota Besar, Kec. Kota Baru. Jambi Kota Jambi Akrab

Hubungan dengan Os

Biasa

b. Kepribadian, dijelaskan oleh Ny. M dan Tn. A Ayah Ibu : Ayah os seorang yang humoris (+), banyak teman (+) : Ibu os seorang yang humoris (+), banyak teman (+)

c. Os bersaudara 2 orang dan os anak ke- 1

d. Urutan saudara dan usianya : 1. Laki-laki (27 tahun) Os 2. Laki-laki (19 tahun)

e. Gambaran kepribadian masing-masing saudara os dan hubungan terhadap saudara :

Saudara Ke 1 2

Gambaran Kepribadian

Hubungan dengan saudara

Terbuka, Suka bergaul, banyak teman

Tidak Akrab

f. Gambaran kepribadian orang lain yang tinggal di rumah os dan hubungan terhadap os : Tidak ada orang lain yang tinggal di rumah, selain keluarga os.

g. Riwayat penyakit jiwa, kebiasaan-kebiasaan dan penyakit fisik pada anggota keluarga : Tidak ada riwayat keluarga dengan penyakit jiwa.

h. Riwayat tempat tinggal Rumah tempat tinggal Rumah Orang tua os Tenang Keadaan Rumah Cocok Nyaman Tak Menentu -

7. Gambaran seluruh faktor-faktor fisik dan mental yang bersangkut paut dengan perkembangan kejiwaan os seelama masa sebelum sakit (pramorbid) a. Riwayat sewaktu dalam kandungan dan dilahirkan : Os lahir aterm, lahir dengan bidan di rumah dan tidak ada kelainan. Os anak yang direncanakan dan sangat diinginkan, os lahir setelah 4 tahun usia pernikahan orang tua os.

b. Riwayat masih bayi dan anak-anak Pertumbuhan fisik Minum ASI Usia mulai bicara Usia mulai jalan : Normal seperti anak sebaya os : () sampai usia 11 bulan : 10 bulan : 14 bulan

c. Simptom-simptom yang berhubungan dengan problem perilaku yang dijumpai pada masa kanak-kanak Ngompol ( )

d. Toilet training Umur : 4 tahun Tingkah laku orang tua : sangat memperhatikan Perasaan terhadap hal ini : biasa

e. Kesehatan fisik masa kanak-kanak Saat os berusia 4 tahun, os pernah terjatuh dan terluka pada kepala bagian belakang dan di jahit

f. Kepribadian serta tempramen sewaktu anak-anak Suka berolahraga ( ), suka bergaul ( )

g. Masa sekolah Perihal Umur Prestasi Aktifitas Sekolah Sikap terhadap Teman Sikap terhadap Guru Baik Baik Baik Baik Baik Baik SD 7-13 tahun Baik Baik SMP 13-16 tahun Baik Baik SMA 16-18 tahun Baik Baik

h. Masa remaja Os seorang yang tertutup, namun suka bergaul dan banyak teman. Kenakalan remaja ( ), Suka berbohong ( ), suka mengambil uang orang tua tanpa sepengetahuan orang tua ( ), Perokok berat ( ), Peminum minuman keras ( ), i. Riwayat pekerjaan Os mulai bekerja setelah selesai SMA, saat usia 18 tahun. Pindah-pindah kerja ( ), Pernah bekerja sebagai sales rokok

j. Percintaan, perkawinan, kehidupan sosial, dan rumah tangga : Os telah menikah saat usia os 26 tahun dan telah bercerai 1 tahun yang lalu. Os memiliki kepribadian sebelum sakit berupa kepribadian dissosial (tidak mampu bekerja tetap, impulsif, sering berbohong) dan pasif agresif (keras kepala).

8. Stressor psikososial Pergaulan dengan teman-teman yang pecandu ( ).

9. Riwayat penyakit fisik yang pernah diderita os Tidak ada riwayat penyakit fisik

10. Pernah suicide (-); Os tidak pernah punya keinginan untuk bunuh diri. 11. Penggunaan alkohol/zat adiktif lainnya (+); Os menggunakan alkohol/zat adiktif lainnya sejak tahun 2005.

II.

PEMERIKSAAN PSIKIATRIK KHUSUS A. Gambaran Umum 1. Penampilan Sikap Tubuh Cara berpakaian Kesehatan fisik : Biasa ( ) : Rapi ( ) : Sehat ( ) : Normoaktif ( ) , biasa ( )

2. Perilaku dan aktifitas psikomotor Cara berjalan 3. Sikap terhadap pemeriksa Kooperatif ( ), penuh perhatian ( ) B. Pembicaraan dan fragmen pembicaraan Arus pembicaraan Produktifitas Perbendaharaan bahasa : Biasa : Biasa : Biasa 9

C. Afek, mood, dan emosi lainnya Afek Mood D. Pikiran E. Persepsi : Sesuai (appropriate) : disforik : relevansi menjawab pertanyaan(),logis(), : Halusinasi visual (), halusinasi auditorik () F. Mimpi dan fantasi G. Sensorium 1. Alertness 2. Orientasi 3. Konsentrasi dan kalkulasi 4. Memori 5. Pengetahuan Umum 6. Pikiran abstrak H. Insight Derajat 3. Sadar akan penyakitnya tetapi menyalahkan orang lain, faktor luar & faktor organik. I. Judgment Judgement sosial Judgement tes : Baik : Baik : Komposmentis : Waktu, tempat, dan orang baik : Baik : Tidak ada gangguan : Baik : Baik :-

J. Kemampuan mengendalikan rangsang dari dalam diri : baik K. Kemampuan mengendalikan dari dalam sendiri : baik L. Pemeriksaan psikiatrik khusus lainnya Tidak dilakukan

III.

PEMERIKSAAN INTERNA
: : : Komposmentis 80x/menit 120/80 mmHg Suhu Pernafasan Turgor : : : 36,8oC 18x/menit Baik BB TB Status Gizi : : : 68 kg 168 cm Baik

Keadaan Umum Sensorium Nadi TD

10

Sistem kardiovaskular Sistem Respiratorik Sistem Gastrointestinal Sistem Urogenital Kelainan Khusus

: Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelianan : Tidak ada

IV. PEMERIKSAAN NEUROLOGI Panca Indra Gejala Rangsang Meningeal : Tidak ada kelainan : Tidak ada : Tidak ada

Gejala Peningkatan Tekanan Intrakranial Mata ;

- Gerakan: Gerakan baik ke segala arah, tidak ada kelumpuhan/nistagmus o Persepsi Mata o Pupil : Bentuk Ukuran Refleks Cahaya : Bulat, isokor : 3mm/3mm : +/+ : Baik, diplopia (-), visus normal

Refleks Konvergensi : +/+ : +/+

o Refleks Kornea

o Pemeriksaan Oftalmoskop : Tidak dilakukan Motorik: o Tonus o Turgor o Refleks o Kekuatan : eutoni o Koordinasi : baik : baik : Refleks fisiologis +/+ ; Refleks patologis -/: Kekuatan otot lengan 5/5; otot tungkai 5/5

o Sensibilitas : Tidak ada kelainan Susunan saraf vegetatif Fungsi luhur Kelainan khusus : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada

11

V. PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK KHUSUS LAINNYA : Pemeriksaan urin : Amphetamine (+) Metamphetamine (+) Opiates (-) Canabonoid (-) Benzodiazepine (-)

VI. PEMERIKSAAN OLEH PSIKOLOG/PETUGAS SOSIAL DAN LAINLAIN : Tidak dilakukan

VII.

RESUME Tn. A (27 tahun), telah bercerai, pendidikan terakhir SMA dengan

kepribadian premorbid dissosial dan pasif agresif, namun suka bergaul dan banyak teman dibawa oleh keluarga ke RSJ Provinsi Jambi dengan keluhan menggunakan sabu-sabu. Sejak + 2 tahun SMRS (2010), os menggunakan sabusabu, sejak saat itu os merasa cemas dan gelisah. Os melihat bayangan dan suarasuara yang tidak jelas. Os merasa bingung, sangat jenuh, tidak semangat melakukan aktivitas, dan os suka jalan mondar mandir di rumah. Os mengaku awalnya menggunakan sabu-sabu hanya karena ingin cobacoba. Kemudian menjadi berkelanjutan hingga sekarang. Os mengaku saat awalawal menggunakan sabu-sabu, os menjadi mudah tersinggung. Os mengaku frekuensi penggunaan lebih sering ketika os memiliki masalah terutama setelah os bercerai dengan istrinya. Setelah os menggunakan sabu-sabu, os merasa bisa melupakan masalah, os banyak tidur dan saat bangun os banyak makan. Seringkali Os berniat untuk berhenti, tetapi usaha os gagal, karena os akan menggigil dan berkeringat. Os merasa sangat terganggu dengan keadaan tersebut. Os mampu mengurus diri sendiri. Os mengaku terakhir menggunakan sabu-sabu pukul 11.00-00.00 Wib tadi malam.

12

Dari

hasil

observasi,

didapatkan

keadaan

umum;

kesadaran:

komposmentis, kontak ada serta kooperatif. Keadaan psikiatrik khusus : afek appropriate dan mood disforik. Daya ingat tidak ada gangguan, orientasi baik, dan daya konsentrasi baik. Didapatkan gangguan spesifik pada sensasi dan persepsi Tn. A, ditemukan halusinasi auditorik (+), visual (+). Dari pemeriksaan laboratorium drug monitoring pada urin, di peroleh hasil positif amphetamine dan metamphetamine. Atas dasar gejala-gejala di atas, maka berdasarkan PPDGJ-III dipertimbangkan diagnosis berupa F.15.24 Gangguan mental dan perilaku akibat Penggunaan Stimulansia kini sedang menggunakan zat (ketergantungan aktif). Dimana penegakan diagnosis, berdasarkan4,5: GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT ZAT PSIKOAKTIF MENURUT PPDGJ III F10. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan alkohol F11. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan opioida F12. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabinoida F13. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan sedativa atau hipnotika F14. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kokain F15. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia lain termasuk kafein F16. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan halusinogenika F17. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan tembakau F18. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan pelarut yang mudah menguap F19. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat multipel dan pengggunaan zat psikoaktif lainnya

Pedoman Diagnostik Identifikasi dari zat psikoaktif yang digunakan dapat dilakukan berdasarkan data laporan individu, analisis objektif dari spesimen urin, darah dan sebagainya, atau bukti lain (adanya sampel obat yang ditemukan pada pasien, tanda dan gejala

13

klinis atau dari laporan pihak ketiga). Selalu disarankan untuk mencari bukti yang menguatkan lebih dari satu sumber yang berkaitan dengan penggunaan zat5.

{pada kasus ini : diperoleh berdasarkan keterangan pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium drug monitoring dari urin os}

PENETAPAN KONDISI KLINIS F1x.0 Intoksikasi akut F1x.1 Penggunaan yg merugikan (harmful use) F1x.2 Sindrom ketergantungan F1x.3 Keadaan putus obat F1x.4 Keadaan putus zat dg delirium F1x.5 Gangguan psikotik F1x.6 Sindrom amnesik F1x.7 Gangguan psikotik residual atau onset lambat F1x.8 Gangguan mental dan perilaku lainnya F1x.9 Gangguan mental dan perilaku YTT

Pedoman Diagnostik Sindrom Ketergantungan Diagnosis ketergantungan yang pasti ditegakkan jika ditemukan 3 atau lebih gejala dibawah ini dalam masa 1 tahun sebelumnya: a. Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa (kompulsi) untuk menggunakan zat psikoaktif. b. Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan zat, termasuk sejak mulainya, usaha penghentian, atau pada tingkat sedang menggunakan. c. Keadaan putus zat secara fisiologis (lihat F1x.3 atau F1x.4) ketika penghentian penggunaan zat atau pengurangan, terbukti dengan adanya gejala putus zat yang khas, atau orang tersebut menggunakan golongan zat sejenis dengan tujuan untuk menghilangkan atau menghindari terjadinya gejala putus zat. d. Terbukti adanya toleransi, berupa peningkatan dosis zat psikoaktif yang diperlukan guna memperoleh efek yang sama yang biasanya diperoleh dengan

14

dosis lebih rendah (pada individu dengan ketergantungan alcohol dan opiate yang dosis hariannya dapat mencapai taraf yang dapat membuat tak berdaya atau mematikan pada pengguna pemula). e. Secara progresif mengabaikan menikmati kesenangan atau minat lain disebabkan zat psikoaktif, meningkatnya jumlah waktu yang diperlukan untuk mendaptkan zat atau untuk pulih dari akibatnya. f. Tetap menggunakan zat meskipun ia menyadari adanya akibat yang merugikan kesehatannya, seperti gangguan fungsi hati karena alkohol berlebihan, keadaaan depresi sebagai akibat dari suatu periode penggunaan zat yang berat, hendaya fungsi kognitif berkaitan dengan penggunaan zat upaya perlu diadakan untuk memastikan bahwa pengguna zat sungguh-sungguh, atau dapat diandalkan, sadar akan hakekat dan besarnya bahaya.

Diagnosis sindroma ketergantungan dapat ditentukan lebih lanjut dengan kode lima karakter berikut: F1x.20 Kini abstinen F1x.21 Kini abstinen, tetapi dalam suatu lingkungan yang terlindung (seperti dalam rumah sakit, komuniti terapeutik, lembaga pemasyarakatan, dll) F1x.22 Kini dalam pengawasan klinis dengan terapi pemeliharaan atau dengan pengobatan zat pengganti (ketergantungan terkendali, misalnya dengan methadone, penggunaan nicotine gum atau nicotine patch) F1x.23 Kini abstinen, tetapi sedang dalam terapi obat aversif atau penyekat (misalnya naltrexone atau disulfiram) F1x.24 Kini sedang menggunakan zat (ketergantungan aktif) F1x.25 Penggunaan berkelanjutan F1x.26 Penggunaan episodik

VIII. DIAGNOSIS BANDING -

15

IX. DIAGNOSIS Aksis I : F.15.24 Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penggunaan Stimulansia kini sedang menggunakan zat (ketergantungan aktif) Aksis II :Gangguan kepribadian(-);retardasi mental(-)

Aksis III : Tidak ada diagnosis Aksis IV : Masalah psikososial dan lingkungan Aksis V : GAF Scale 60 51 gejala sedang, disabilitas sedang.

X. SARAN/USUL Tidak ada pemeriksaan diagnostik lanjutan yang harus dilakukan pada kasus Tn. A (27 tahun). Hal yang sebaiknya digali lebih dalam adalah

mengenai frekuensi dan dosis penggunaan shabu-shabu serta cara pakai yang digunakan oleh pasien selama ini sejak awal pemakaian hingga sekarang sehingga dapat diidentifikasi peningkatan dosis yang mengarah pada toleransi. Hal yang juga sebaiknya dilakukan dalam penanganan kasus Tn. A (27 tahun) adalah memberikan motivasi yang besar untuk meyakinkan niatnya dan membulatkan tekadnya berhenti menggunakan shabu-shabu.

XI. PROGNOSIS Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif merupakan suatu gangguan mental yang bersifat klinis, berlangsung bertahuntahun, sering kambuh atau terjadi eksaserbasi, diselingi dengan remisi total atau parsial. Prognosis gangguan mental dan perilaku ini sangat bergantung pada banyak faktor, seperti faktor kepribadian, ada tidaknya komorbiditas, lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, mudah tidaknya zat psikoaktif diperoleh. Faktor yang memperburuk prognosis : a. Semakin mudah seseorang mulai menggunakan zat psikoaktif dan mudah diperolehnya zat psikoaktif,. b. Bila dalam satu keluarga terdapat lebih dari satu pengguna zat psikoaktif. c. Adanya gangguan kepribadian disosial/antisocial d. terdapat depresi berat.

16

e. Sikap keluarga yang tidak mendukung proses penyembuhan, f. lingkungan pergaulan yang buruk.

{Pada kasus ini, dapat disimpulkan prognosis Tn. A adalah dubia ad bonam}

XII. -

TERAPI Olanzapine 5mg diberikan 1 kali dalam sehari (setiap 24 jam) sebanyak 1 tablet (sediaan 5mg; 10mg)

Buspirone 10 mg diberikan 1 kali dalam sehari (setiap 24 jam) sebanyak 1tablet

Selain terapi psikofarmaka, juga perlu dilakukan : Psikoterapi individual Terapi perilaku Terapi keluarga, kelompok pendukung (seperti narcotic anonymous) Latihan keterampilan sosial. Terapi adiksi zat

17

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Preparat Stimulansia Sebagai suatu kelas umum amphetamin dimasukkan sebagai suatu simpatomimetik, stimulan dan psikostimulan. Amfetamin utama yang saat ini tersedia dan digunakan di Amerika Serikat adalah dekstroamfetamin (Dexedrine), metamfetamin (Desoxyn), campuran garam dekstroamfetamin-amfetamin

(Adderall), dan metilfenidat (Ritalin). Obat-obat ini memiliki nama jalanan yaitu es, kristal. crystal meth dan speed2. Amfetamin merupakan salah satu amin simpatomimetik yang paling kuat merangsang SSP, disamping mempunyai kerja perifer pada reseptor dan melalui pelepasan NE endogen. Amfetamin merangsang pusat nafas di medulla oblongta dan mengurangi depresi sentral yang ditimbulkan oleh berbagai obat karena adanya perangsangan pada korteks dan sistem aktivasi retikular6. Efek psikis amfetamin dosis 10-30mg dapat berupa peningkatkan kinerja, kewaspadaan dan membangkitkan perasaan euforia contohnya oleh pelajar yang sedang belajar untuk ujian, berkurangnya rasa lelah, perbaikan mood, hilangnya rasa mengantuk contohnya pada pengendara truk jarak jauh dalam perjalanan, orang bisnis dengan tenggat waktu penting, serta atlet dalam kompetisi. Meski efek adiktifnya tidak seperti kokain, amfetamin kurang lebih tepat disebut obat adiktif2,6. Metamfetamine serupa dengan amfetamin perbedaannya dalam

perbandingan antara efek sntral dan perifer. Metamfetamin (disebut juga "es") adalah bentuk zat murni yang disalahgunakan dengan cara dihirup, dihisap, atau injeksi intravena Efek psikologisnya berlangsung berjam-jam dan sangat kuat. Tidak seperti crack cocaine (lihat bagian 9.6), yang harus diimpor, metamfetamin adalah obat sintetik yang dapat dibuat secara domestik di laboratorium illegal2,6.

18

3.2. Epidemiologi2 Pada tahun 1999, sekitar 7 persen populasi AS menggunakan psikostimulan. Kelompok usia 18 sampai 25 tahun merupakan pengguna tertinggi diikuti kelompok usia l2 sampai 17 tahun. Penggunaan amfetamin terjadi pada semua kelompok sosioekonomi dan penggunaan amfetamin meningkat di antara professional kulit putih. Oleh karena amfetamin tersedia melalui resep dokter untuk indikasi spesifik. clokter yang meresepkan sebaiknya menyadari risiko penggunaan oleh orang lain, termasuk teman dan anggota keluarga pasien yang menerima amfetamin. Tidak ada data tersedia yang dapat diandalkan tentang epidemiologi penggunaan Menurut amfetamin desainer, namun obat ini sangat dan

disalahgunakan.

DSM-IV-T&

prevalensi

ketergantungan

penyalahgunaan amfetamin seumur hidup adalah 1,5 persen; dan rasio pria terhadap wanita adalah 1. 3.3. Neurofarmakologi2 Semua amfetamin diabsorpsi cepat secara oral dan memiliki mula kerja yang cepat, biasanya dalam waktu I jam bila dikonsumsi per oral. Amfetamin klasik juga dikonsumsi secara intravena dan memiliki efek hampir seketika dengan rute ini. Amfetamin yang tidak diresepkan dan amfetamin desainerjuga dihirup ("snorting"). Toleransi terjadi baik pada amfetamin klasik maupun desainer meski pengguna amfetamin sering kali mengatasi toleransi dengan mengonsumsi lebih banyak lagi. Amfetamin tidak terlalu adiktif dibanding kokain yang dibuktikan melalui eksperimen pada tikus yaitu tidak semua hewan secara spontan memakai sendiri amfetamin dosis rendah. Amfetamin klasik (dekstroamfetamin, metamfetamin, dan metilfenidat) menirnbulkan efek primer dengan menyebabkan pelepasan katekolamin, terutama dopamin, dari terminal prasinaptik. Efeknya terutama poten untuk neuron dopamlnergik yang berjalan dari area tegmental ventral ke korteks serebri dan area limbik. Jaras ini disebut sebagai jaras sirkuit reward dan aktivasinya mungkin menjadi mekanisme adiktif utama untuk amfetamin.

19

Amfetamin

desainer

(MDMA,

MDEA,

MMDA,

dan

DOM)

rnenyebabkan pelepasan katekolamin (dopamin dan norepinefrin) serta serotonin, neurotransmiter yang dianggap sebagai jaras neurokimiawi utama untuk halusinogen. Oleh karena itu, efek klinis amf'etamin desainer merupakan campuran efek amfetamin klasik dan halusinogen. Farmakologi MDMA paling baik dipahami dari kelompok ini. MDMA diambil di neuron serotonergik oleh transporter serotonin yang berlanggung jawab untuk reuptake serotonin. Bila telah berada di neuron, MDMA menyebabkan pelepasan cepat bolus serotonin dan menghambat aktivilas enzim penghasil serotonin. 3.4. DIAGNOSIS2,4,5 DSM-IV-TR mencantumkan banyak gangguan terkait amfetamin (atau lir-amfetamin) namun hanya merinci kriteria diagnosis intoksikasi amfetamin, keadaan putus amfetamin, dan gangguan terkait amfetamin yang tak-tergolongkan pada bagian gangguan terkait amfetamin (atau lir-arnfetamin). Kriteria diagnosis gangguan terkait amfetamin (atau lir-amfetamin) lain tercantum dalam bagian DSM-IV-TR yang berhubungan dengan gejala fenomenologis primer (contohnya psikosis). Sindrom intoksikasi kokain (menghalangi reuptake dopamin) dan amfetamin (menyebabkan pelepasan dopamin) sifatnya serupa. Oleh karena penelitian tentang penyalahgunaan dan intoksikasi kokain dilakukan lebih teliti dan mendalam dibanding pada amfetamin, literatur klinis tentang amfetamin sangat dipengaruhi temuan klinis pada penyalahgunaan kokain. Pada DSM-IVTR, kriteria diagnosis intoksikasi amfetamin dan intoksikasi kokain terpisah namun hampir sama. DSM-IV-TR merinci gangguan persepsi sebagai gejala intoksikasi amfetamin. Bila tidak ada uji realitas yang intak, dipikirkan diagnosis gangguan psikotik terinduksi amfetamin dengan awitan saat intoksikasi. Gejala intoksikasi amfetamin sebagian besar pulih setelah 24 jam dan umumnya akan hilang sepenuhnya setelah 48 jam.

20

Kriteria diagnostik intoksikasi amfetamin: A. Pemakaian amfetamin atau zat yang berhubungan (misalnya methylpenidate) yang belum lama terjadi. B. Perilaku maladaptif atau perubahan perilaku yang bermakna secara klinis, misalnya: 1. Euforia atau penumpulan afektif 2. Perubahan sosiabilitas 3. Kewaspadaan berlebihan 4. Kepekaan interpersonal 5. Kecemasan, Ketegangan atau Kemarahan 6. Perilaku stereotipik 7. Gangguan pertimbangan 8. Gangguan fungsi sosial atau pekerjaan Yang berkembang selama atau segera setelahpemakaian amfetamin atau zat yang berhubungan. C. Dua atau lebih hal berikut, berkembang selama atau segera sesudah pemakaian amfetamin atau zat yang berhubungan: 1. 2. takikardia dilatasi pupil

3. peningkatan tekanan darah 4. berkeringat atau rasa dingin 5. mual atau muntah 6. tanda-tanda penurunan berat badan 7. agitasi atau retardasi psikomotor 8. kelemahan otot, depresi pernapasan, nyeri dada atau aritmia jantung 9. konfusi, kejang, diskinesia, distonia atau koma.

D. Gejala tidak disebabkan oleh kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain.

21

Keadaan setelah intoksikasi amfetamin, dapat disertai dengan gejala ansietas, gemetar, mood disforik, letargi, kelelahan, mimpi buruk disertai tidur dengan rapid eye movement yang berulang), sakit kepala, berkeringat hebat, kram otot, kram perut, dan rasa lapar yang tak terpuaskan. Gejala putus zat biasanya memuncak dalam 2 sampai 4 hari dan hilang dalam I minggu. Gejala putus zat yang paling serius adalah depresii yang terutama dapat menjadi berat setelah penggunaan amfetamin dosis tinggi terus-menerus dan dapat dikaitkan dengan ide atau perilaku bunuh diri. Kriteria diagnosis DSM-IV-TR untuk keadaan putus amfetamin (Tabel 9.3-3) merinci bahwa mood disforik dan perubahan fisiologis diperlukan untuk diagnosis tersebut. Kriteria diagnostik putus amfetamin : A. Penghentian (atau penurunan) amfetamin (atau zat yang berhubungan) yang telah lama atau berat. B. Mood disforik dan dua (atau lebih) perubahan fisiologis berikut : 1. Kelelahan 2. Mimpi yang gamblang dan tidak menyenangkan 3. Insomnia atau hipersomnia 4. Peningkatan nafsu makan 5. Retardasi atau agitasi psikomotor. C. Gejala dalam kriteria menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya. D. Gejala tidak disebabkan oleh kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain

Sedangkan pembagian gangguan mental dan perilaku psikoaktif menurut PPDGJ III yaitu : F10. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan alkohol F11. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan opioida F12. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabinoida

akibat zat

F13. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan sedativa atau hipnotika F14. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kokain

22

F15. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia lain teramasuk kafein F16. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan halusinogenika F17. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan tembakau F18. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan pelarut yang mudah menguap F19. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat multipel dan pengggunaan zat psikoaktif lainnya

Kemudian ditetapkan kondisi klinis pasien saat ini : F1x.0 Intoksikasi akut F1x.1 Penggunaan yg merugikan (harmful use) F1x.2 Sindrom ketergantungan F1x.3 Keadaan putus obat F1x.4 Keadaan putus zat dg delirium F1x.5 Gangguan psikotik F1x.6 Sindrom amnesik F1x.7 Gangguan psikotik residual atau onset lambat F1x.8 Gangguan mental dan perilaku lainnya F1x.9 Gangguan mental dan perilaku YTT

Pedoman diagnostik Intoksikasi Akut (F1x.0 ) menurut PPDGJ III: A. Intoksikasi akut sering dikaitkan dengan tingkat dosis zat yang digunakan, individu dengan kondisi organik tertentu yang mendasarinya (misalnya insufisiensi ginjal atau hati) yang dalam dosis kecil dapat menyebabkan efek intoksikasi berat yang tidak proporsional. B. Disinhibisi yang ada hubungannya dengan konteks sosial yang perlu dipertimbangkan (misalnya disinhibisi perilaku pada pesta atau upacar keagamaan. C. Merupakan suatu kondisi peralihan yang timbul akibat penggunaan alkohol atau zat psikoaktif lain sehingga terjadi gangguan kesadaran, fungsi kognitif,

23

persepsi, afek atau perilaku, fungsi dan respons psikofisiologis lainnya. Intensitas intoksikasi berkurang dengan berlalunya waktu dan akhirnya efeknya menghilang bila tidak terjadi penggunaan zat lagi. Dengan demikian orang tersebut akan kembali ke kondisi semula, kecuali jika ada jaringan yang rusak atau terjadi komplikasi lainnya.

Kode lima karakter berikut digunakan untuk menunjukkan apakah intoksikasi akut itu disertai dengan suatu komplikasi : F1x.00 Tanpa komplikasi F1x.01 Dengan trauma atau cedera tubuh lainnya F1x.02 Dengan komplikasi medis lainnya F1x.03 Dengan delirium F1x.04 Dengan distorsi persepsi F1x.05 Dengan koma F1x.06 Dengan konvulsi F1x.07 Intoksikasi patologis o Hanya pada penggunaan alkohol o Onset secara tiba-tiba dengan agresi dan sering berupa perilaku tindak kekerasan yang tidak khas bagi individu tersebut saat ia bebas alkohol o Biasanya timbul segera setelah minum alkohol. Pedoman diagnostik penggunaan yang merugikan (F1x.1) : A. Adanya pola penggunaan psikoaktif yang merusak kesehatan, berupa fisik (seperti pada kasus hepatitis karena menggunakan obat melalui suntikan diri sendiri) atau mental (misalnya episode gangguan depresi sekunder karena konsumsi berat alkohol). B. Sering dikecam oleh pihak lain dan seringkali disertai berbagai konsekuensi sosial yang tidak diinginkan. C. Tidak ada sindroma ketergantungan (F1x.2), gangguan psikotik (F1x.5) atau bentuk spesifik lain dari gangguan yang berkaitan dengan penggunaan obat atau alkohol.

24

Pedoman diagnostik sindrom ketergantungan (F1x.2) : Diagnosis ketergantungan yang pasti ditegakkan jika ditemukan 3 atau lebih gejala dibawah ini dalam masa 1 tahun sebelumnya: a. Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa (kompulsi) untuk menggunakan zat psikoaktif. b. Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan zat, termasuk sejak mulainya, usaha penghentian, atau pada tingkat sedang menggunakan. c. Keadaan putus zat secara fisiologis (lihat F1x.3 atau F1x.4) ketika penghentian penggunaan zat atau pengurangan, terbukti dengan adanya gejala putus zat yang khas, atau orang tersebut menggunakan golongan zat sejenis dengan tujuan untuk menghilangkan atau menghindari terjadinya gejala putus zat. d. Terbukti adanya toleransi, berupa peningkatan dosis zat psikoaktif yang diperlukan guna memperoleh efek yang sama yang biasanya diperoleh dengan dosis lebih rendah (pada individu dengan ketergantungan alcohol dan opiate yang dosis hariannya dapat mencapai taraf yang dapat membuat tak berdaya atau mematikan pada pengguna pemula). e. Secara progresif mengabaikan menikmati kesenangan atau minat lain disebabkan zat psikoaktif, meningkatnya jumlah waktu yang diperlukan untuk mendaptkan zat atau untuk pulih dari akibatnya. f. Tetap menggunakan zat meskipun ia menyadari adanya akibat yang merugikan kesehatannya, seperti gangguan fungsi hati karena alkohol berlebihan, keadaaan depresi sebagai akibat dari suatu periode penggunaan zat yang berat, hendaya fungsi kognitif berkaitan dengan penggunaan zat upaya perlu diadakan untuk memastikan bahwa pengguna zat sungguh-sungguh, atau dapat diandalkan, sadar akan hakekat dan besarnya bahaya.

Diagnosis sindrom ketergantungan dapat ditentukan lebih lanjut dengan kode lima karakter berikut : F1x.20 Kini abstinen

25

F1x.21 Kini abstinen, tetapi dalam suatu lingkungan yang terlindung (seperti dalam rumah sakit, komuniti terapeutik, lembaga pemasyarakatan, dll) F1x.22 Kini dalam pengawasan klinis dengan terapi pemeliharaan atau dengan pengobatan zat pengganti (ketergantungan terkendali, misalnya dengan methadone, penggunaan nicotine gum atau nicotine patch) F1x.23 Kini abstinen, tetapi sedang dalam terapi obat aversif atau penyekat (misalnya naltrexone atau disulfiram) F1x.24 Kini sedang menggunakan zat (ketergantungan aktif) F1x.25 Penggunaan berkelanjutan F1x.26 Penggunaan episodik

Pedoman diagnostik Keadaan putus zat (F1x.3) : A. Keadaan putus obat merupakan indikator dari sindrom ketergantungan (F1x.2) dan diagnosis sindrom ketergantungan zat harus dipertimbangkan. B. Keadaan putus zat hendaknya dicatat sebagai diagnosis utama, bila ini merupakan alasan rujukan dan cukup parah sampai memerlukan perhatian medis secara khusus. C. Gejala fisik bervariasi sesuai dengna zat yang digunakan. Gangguan psikologis (anxietas, depresi, gangguan tidur) merupakan gambaran umum dari keadaan putus zat. Yang khas ialah pasien akan melaporkan bahwa gejala putus zat akan mereda dengan meneruskan penggunaan zat ini. Diagnosis dapat ditentukan lebih lanjut dengan kode lima karakter berikut : F1x.30 Tanpa konvulsi F1x.31 Dengan konvulsi

Pedoman diagnostik Keadaan putus zat dengan delirium (F1x.4): A. Suatu keadaan putus zat (F1x.3) disertai komplikasi delirium (F05.-). B. Termasuk Delirium Tremens yang merupakan akibat dari putus alkohol secara absolut atau relatif pada penggunaan yang ketergantungan berat dengan riwayat penggunaan yang lama. Onset biasanya terjadi sesudah putus alkohol.

26

Keadaan gaduh gelisah toksik (toxic confusional state) yang berlangsung singkat tetapi adakalanya dapat membhayakan jiwa yang disertai gangguan somatik. C. Gejala prodromal khas berupa: insomnia, gemetar dan ketakutan. Onset dapat didahului kejang setelah putus zat. Trias yang klasik dari gejalanya adalah: Kesadaran berkabut dan kebingungan Halusinasi dan ilusi yang hidup (vivid) yang mengenai salah satu pancaindra Tremor berat. Biasanya ditemukan juga waham, agitasi, insomnia atau siklus tidur terbalik, dan aktivitas otonomik yang berlebihan. Diagnosis dapat ditentukan lebih lanjut dengan kode lima karakter berikut : F1x.40 Tanpa konvulsi F1x.41 Dengan konvulsi

Pedoman diagnostik Gangguan psikotik (F1x.5) : A. Gangguan psikotik yang terjadi selama atau segera sesudah penggunaan zat psikoaktif (biasanya dalam waktu 48 jam), bukan manifestasi dari keadaan putus zat dengan delirium (F1x.4) atau suatu onset lambat gangguan psikotik onset lambat (dengan onset lebih dari 2 minggu setelah penggunaan zat) dimasukkan dalam F1x.75. B. Gangguan psikotik yang disebabkan oleh zat psikoaktif dapat tampil dengan pola gejala yang bervariasi. Variasi ini akan dipengaruhi oleh jenis zat yang digunakan dan/atau penggunaan zat yang berkepanjangan. Diagnosis gangguan psikotik jangan hanya ditegakkan berdasarkan distorsi persepsi atau pengalaman halusinasi bila zat yang digunakan ialah halusinogenika primer (misalnya Lisergide [LSD]), meskalin, kanabis dosis tinggi. Perlu dipertimbangkan kemungkinan diagnosis intoksikasi akut (F1x.0).

Diagnosis banding, gangguan mental lain yang dicetuskan dan diberatkan oleh penggunaan zat psikoaktif, misalnya Skizofrenia (F20.-), Gangguan Afektif (F30F39), Gangguan Kepribadian Paranoid (F60.0, F60.1).

27

Diagnosis sindrom ketergantungan dapat ditentukan lebih lanjut dengan kode lima karakter berikut : F1x.50 Lir-skizofrenia (Schizophrenic-like) F1x.51 Predominan waham F1x.52 Predominan halusinasi (termasuk halusinasi alkoholik) F1x.53 Predominan polimorfik F1x.54 Predominan gejala depresi F1x.55 Predominan gejala manik F1x.56 Campuran

Pedoman diagnostik sindrom amnestik (F1x.6) A. Sindrom amnestik yang disebabkan psikoaktif harus memenuhi kriteria umum untuk sindrom amnestik organik (F04). B. Syarat utama untuk menentukan diagnosis adalah: a. Gangguan daya ingat jangka pendek (recent memory, dalam mempelajari hal baru); gangguan sensasi waktu (time sense), menyusun kembali urutan kronologis, meninjau kejadian yang berulang menjadi satu peristiwa, dll); b. Tidak ada gangguan daya ingat segera (immediate recall), tidak ada gangguan kesadaran, dan tidak ada gangguan kognitif secara umum; c. Adanya riwayat atau bukti yang objektif dari penggunaan alkohol atau zat yang kronis (terutama dosis tinggi).

Diagnosis Banding Sindrom amnestik organic non-alkoholik (F04) Sindrom organik lain yang meliputi gangguan daya ingat yang jelas (F00-F03; F05) Gangguan Depresif (F31-F33)

Pedoman diagnostik gangguan psikotik residual atau onset lambat F1x.7 :

28

A. Onset harus secara langsung berkaitan dengan penggunaan alkohol atau zat psikoaktif. B. Gangguan fungsi kognitif, afek, kepribadian atau perilaku yang disebabkan oleh alkohol atau zat psikoaktif yang berlangsung melampaui jangka waktu khasiat psikoaktifnya (efek residual zat tersebut terbukti secara jelas). Gangguan tersebut harus memperlihatkan suatu perubahan atau kelebihan yang jelas dari fungsi sebelumnya yang normal. C. Gangguan ini harus dibedakan dari kondisi yang berhubungan dengan peristiwa putus obat (F1x.3 dan F1x.4). Pada kondisi tertentu dan untuk zat tertentu fenomena putus zat dapat terjadi beberapa hari atau minggu sesudah zat dihentikan penggunaannya.

Diagnosis Banding Gangguan mental yang sudah ada terselubung oleh penggunaan zat dan yang muncul kembali setelah pengaruh zat tersebut menghilang (misalnya anxietas fobik, gangguan depresif, skizofrenia atau gangguan skizotipal). Gangguan psikosis akut dan sementara (F23.) Cedera organik dan retardasi mental ringan atau sedang (F70-F71) yang terdapat bersama dengan penyalahgunaan zat psikoaktif.

F1x.70 Kilas balik (flashback) Dapat dibedakan dari gangguan psikotik, sebagian karena sifat episodiknya, sering berlangsung dalam waktu sangat singkat (dalam hitungan detik sampai menit) dan oleh gambaran duplikasi dari pengalaman sebelumnya yang berhubungan dengan penggunaan zat.

F1x.71 Gangguan kepribadian atau perilaku Memenuhi kriteria untuk gangguan kepribadian organik (F07.0)

F1x.72 Gangguan afektif residual Memenuhi kriteria untuk gangguan afektif organik (F06.3)

29

F1x.73 Demensia Memenuhi kriteria umum untuk demensia (F00-F09)

F1x.74 Hendaya kognitif menetap lainnya Suatu kategori residual untuk gangguan dengan hendaya kognitif yang menetap, tetapi tidak memenuhi kriteria untuk sindrom amnestik yang disebabkan oleh zat psikoaktif (F1x.6) atau demensia (F1x.73) F1x.75 Gangguan psikotik onset lambat

F1x.8 Gangguan Mental dan Perilaku lainnya Kategori untuk semua gangguan sebagai akiba penggunaan zat psikoaktif yang dapat diidentifikasi berperan langsung pada gangguan tersebut, tetapi yang tidak memenuhi criteria untuk dimasukkan dalam salah satu gangguan yang telah disebutkan diatas.

F1x.9 Gangguan Mental dan Perilaku YTT Kategori untuk yang tidak tergolongkan

3.5.

GAMBARAN KLINIS Pada orang yang sebelumnya tidak pernah mengonsumsi amfetamin,

dosis tunggal 5 mg meningkatkan perasaan sehat dan menginduksi elasi, euforia, dan rasa bersahabat. Dosis kecil umumnya memperbaiki atensi dan meningkatkan kinerja pada tugas terlulis, oral, dan penampilan. Juga terdapat penurunan kelelahan, induksi anoreksia, dan peningkatan ambang nyeri yang dikaitkan dengan hal ini. Efek tak diinginkan timbul akibat penggunaan dosis tinggi dalam periode waktu yang lama2.

30

3.6. EFEK SAMPING a. Fisik. Penyalahgunaan amfetamin dapat menyebabkan efek samping, yang paling serius mencakup efek serebrovaskular, kardiak, dan

gastrointestinal. Di antara kondisi spesifik yang mengancam nyawa adalah infark miokardium, hipertensi berat, penyakit serebrovaskular, dan kolitis iskemia. Gejala neurologis yang berkepanjangan, dari kedutan, tetani, kejang, sampai koma dan kematian, dikaitkan dengan amfetamin dosis tinggi yang terus meningkat. Penggunaan amfetamin intravena dapat menularkan human immunodeficiency virus dan hepatitis serta menyebabkan perkembangan abses paru, endokarditis, dan angiitis nekrotikans lebih lanjut. Sejumlah studi menunjukkan bahwa

penyalahguna amfetamin hanya mengetahui sedikit-atau tidak pedulitentang praktik seks yang aman serta penggunaan kondom. Efek samping yang tidak mengancam nyawa mencakup semburat merah, pucat, sianosis, demam, sakit kepala, takikardia, palpitasi, mual, muntah, bruksisme (gigi gemeretuk), sesak nafas, tremor, dan ataksia. Wanita hamil yang menggunakan amfetamin sering melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, lingkar kepala kecil, usia kehamilan dini, dan retardasi pertumbuhan2. b. Psikologis. Efek samping psikologis yang disebabkan oleh penggunaan amfetamin mencakup kegelisahan, disforia, insomnia, iritabilitas, sikap bermusuhan, dan kebingungan Konsumsi amfetamin juga dapat menginduksi gejala gangguan ansietas seperti gangguan ansietas menyeluruh dan gangguan panik serta ide rujukan, waham paranoid, dan halusinasi2.

3.7. PENGOBATAN Penanganan gangguan terkait amfetamin (atau lir-amfetamin) bersama dengan gangguan terkait kokain sama-sama mengalami kesulitan dalam membantu pasien untuk tetap abstinensi dari zat, vang sangat memperkuat dan

31

menginduksi ketagihan. Situasi rawat inap dan penggunaan rnetode terapeutik multipel (psikoterapi individual, keluarga, dan kelompok) biasanya dibutuhkan untuk mencapai abstinensi seterusnya. Penanganan gangguan spesifik terinduksi amfetamin (contohnya gangguan psikotik terinduksi amfetamin dan gangguan ansietas terinduksi amfetamin) dengan obat spesifik (contohnya antipsikotik dan anti anxietas) rnungkin diperlukan dalam jangka pendek. Antipsikotik dapat diresepkan untuk beberapa hari pertama Bila tidak ada psikosis, diazepam (Valium) berguna untuk menangani agitasi dan hiperaktivitas pasien2. Dokter sebaiknya membangun aliansi terapeutik dengan pasien untuk mengatasi depresi atau gangguan kepribadian yang mendasari atau keduanya. Namun. karena banyak pasien sangat tergantung obat, psikoterapi terutama dapat sangat sulit2.

3.8. PROGNOSIS Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif merupakan suatu gangguan mental yang bersifat klinis, berlangsung bertahuntahun, sering kambuh atau terjadi eksaserbasi, diselingi dengan remisi total atau parsial. Prognosis gangguan mental dan perilaku ini sangat bergantung pada banyak faktor, seperti faktor kepribadian, ada tidaknya komorbiditas, lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, mudah tidaknya zat psikoaktif diperoleh. Adiksi stimulan jangka panjang tidak diketahui denga pasti, hal ini menunjukkan bahwa pada beberapa kasus bisa mengalami remisi sempurna atau sebagian secara spontan setelah penggunaan beberapa waktu2,9. Faktor yang memperburuk prognosis : g. Semakin mudah seseorang mulai menggunakan zat psikoaktif dan mudah diperolehnya zat psikoaktif,. h. Bila dalam satu keluarga terdapat lebih dari satu pengguna zat psikoaktif. i. Adanya gangguan kepribadian disosial/antisocial j. terdapat depresi berat. k. Sikap keluarga yang tidak mendukung proses penyembuhan, l. lingkungan pergaulan yang buruk.

32

BAB IV ANALISIS KASUS

Anamnesis dan pemeriksaan psikiatrik yang dilakukan terhadap pasien Tn. A umur 27 tahun yang datang ke Poli Spesialis Kesehatan Jiwa RSJ Jambi, Os datang bersama ayah dan ibu os karena os telah menggunakan sabu-sabu. Sejak + 2 tahun SMRS (2010), os menggunakan sabu-sabu, sejak saat itu os merasa cemas dan gelisah. Os melihat bayangan dan suara-suara yang tidak jelas. Os merasa bingung, sangat jenuh, tidak semangat melakukan aktivitas, dan os suka jalan mondar mandir di rumah. Os mengaku awalnya menggunakan sabu-sabu hanya karena ingin cobacoba. Kemudian menjadi berkelanjutan hingga sekarang. Os mengaku saat awalawal menggunakan sabu-sabu, os menjadi mudah tersinggung. Os mengaku frekuensi penggunaan lebih sering ketika os memiliki masalah terutama setelah os bercerai dengan istrinya. Setelah os menggunakan sabu-sabu, os banyak tidur dan saat bangun os banyak makan. Seringkali Os berniat untuk berhenti, tetapi usaha os gagal, karena os akan menggigil dan berkeringat. Os merasa sangat terganggu dengan keadaan tersebut. Os mampu mengurus diri sendiri. Os mengaku terakhir menggunakan sabu-sabu pukul 11.00-00.00 Wib tadi malam. Dari hasil observasi, didapatkan keadaan umum; kesadaran:

komposmentis, kontak ada, serta kooperatif. Keadaan psikiatrik khusus : afek appropriate, mood disforik, Daya ingat tidak ada gangguan, orientasi baik, dan daya konsentrasi baik. Didapatkan gangguan spesifik pada sensasi dan persepsi Tn. A, ditemukan halusinasi auditorik (+), visual (+). Pengendalian impuls baik, insight derajat 3. RTA pasien baik. Dari pemeriksaan laboratorium drug monitoring pada urin, di peroleh hasil positif amphetamine dan metamphetamine. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan psikiatri dan pemeriksaan urin dapat ditegakkan diagnosa pasien ini dengan gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia kini ketergantungan aktif yang berlangsung selama 2 tahun sejak tahun tahun 2005.

33

Penatalaksanaan pada gangguan yang berhubungan dengan amfetamin ini mengalami kesulitan dalam membantu pasien untuk tetap abstinensi dari zat, yang sangat memperkuat dan menginduksi ketagihan. Situasi rawat inap dan penggunaan rnetode terapeutik multipel (psikoterapi individual, keluarga, dan kelompok) biasanya dibutuhkan untuk mencapai abstinensi seterusnya. Sehingga Penatalaksanaan yang diberikan pada penderita ini adalah dengan farmakoterapi dan nonfarmakoterapi. Penanganan gangguan spesifik terinduksi amfetamin (contohnya gangguan psikotik terinduksi amfetamin dan gangguan ansietas terinduksi amfetamin) dengan obat spesifik (contohnya antipsikotik dan anti anxietas) rnungkin diperlukan dalam jangka pendek. Antipsikotik dapat diresepkan untuk beberapa hari pertama. Antipsikotik yang diberikan pada penderita ini adalah golongan antipsikotik generasi kedua (atipikal) yaitu olanzapine 5mg dosis tunggal dengan pertimbangan untuk mengatasi gejala negatif dan positif pasien ini; untuk menangani kegelisahan dan kecemasan pasien diberikan buspirone 10mg yang merupakan obat anti anxietas golongan non benzodiazepin. Selain terapi obat-obatan, juga perlu diterapkan terapi psikososial yang terdiri dari terapi perilaku, terapi berorientasi keluarga, terapi kelompok, psikoterapi individual. Prognosis penderita ini adalah dubia ad bonam. Hal ini didasarkan pada penilaian terhadap keberadaan faktor yang memperburuk prognosis pada kondisi lingkungan dan kehidupan pasien .

34

DAFTAR PUSTAKA

1. Husain AB. Gangguan penggunaan zat. Dalam: buku ajar psikiatri. Sylvia D.E, Gitayanti H., editor. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. hal. 138-63. 2. Kaplan, Harold I, Benjamin J. Sadock dan Jack A. Grebb. Gangguan berhubungan dengan zat. Dalam: synopsis psikiatri. Jilid satu. Jakarta: Binapura Aksara; 2010. hal. 474; 6528 35. 3. David S, Roger S, Jonathan B, Rajan D, Andrew M. Oxford handbook of psychiatry. 1st edition. UK: Oxford University Press. 2005. P. 496-524. 4. Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III. Jakarta : PT.Nuh Raya; 2001. hal. 34 41. 5. Departemen kesehatan RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III. Jakarta: Departemen kesehatan RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. 1993. Hal. 84-102. 6. Gunawan SG, Setabudy R, Nafrialdi, dan Elysabeth. Farmakologi dan terapi. Edisi ke-lima. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. 2007. hal. 73-4. 7. Maslim R. Panduan praktis penggunaan klinis obat psikotropik. Jakarta. 2007. Hal.3-5; 15-22; 36-46. 8. Departemen Kesehatan Dirjen Bina Pelayanan Medik Direktorat Bina Pelayanan kesehatan Jiwa. Buku pedoman pelayana kesehatan jiwa di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Jakarta: Departemen Kesehatan Ditjen Bina Pelayanan Medik Direktorat Bina Pelayanan kesehatan Jiwa.2006. hal.20-2. 9. Moore and Jefferson. Handbook of Medical Psychiatry, 2nd ed. Philadelpia: Elsevier. 2007.

35