Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA Nama Percobaan Kelompok Nama Mahasiswa / NRP : : : Kromatografi Lapis Tipis (KLT) 3 (Tiga) 1.

Andriana Febi 2. Stefani Kartika 3. Harris Kristanto 4. Caterine Sanjaya I. Tujuan Percobaan : 2443010041 2443010043 2443010044 2443010046

Melakukan pemisahan dan identifikasi senyawa dengan Kromatografi Lapis Tipis.

II.

Dasar Teori

Kromatografi lapis tipis adalah suatu cara pemisahan dimana komponenkomponen yang akan dipisahkan didistribusikan dalam 2 fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Fasa diam adalah fasa yang tidak bergerak, sedangkan fasa gerak adalah fasa yang bergerak melalui fasa diam dan membawa komponen-komponen senyawa yang akan dipisahkan. Contoh fase diam yang paling sering digunakan adalah silica gel. Fase gerak terdiri dari satu atau beberapa pelarut. Pemilihan fase gerak didasarkan pada sifat bahan yang akan dianalisis. Pelarut untuk fase gerak dapat dikelompokan ke dalam deret eluotropik berdasarkan efek elusinya sebagai berikut : n-heksana Heptana Sikloheksana Karbontetraklorida Benzena Kloroform Eter Etil Asetat Piridin Aseton Etanol Metanol Air. Pada prinsipnya, proses pemisahan secara kromatografi melibatkan beberapa sifat fisika utama dari molekul, yaitu kecenderungan molekul melarut dalam cairan (kelarutan), kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk halus (adsorpsi), dan kecenderungan molekul untuk menguap. Berdasarkan sifat tersebut, komponen yang kurang larut dalam fase gerak atau terikat kuat dengan fase diam akan tertinggal, sedangkan komponen yang lebih larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat.

Sebuah garis menggunakan pinsil digambar dekat bagian bawah lempengan dan setetes pelarut dari campuran pewarna ditempatkan pada garis itu. Diberikan penandaan pada garis di lempengan untuk menunjukkan posisi awal dari tetesan. Jika ini dilakukan menggunakan tinta, pewarna dari tinta akan bergerak selayaknya kromatogram dibentuk. Ketika bercak dari campuran itu mengering, lempengan ditempatkan dalam sebuah gelas kimia bertutup berisi pelarut dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Perlu diperhatikan bahwa batas pelarut berada di bawah garis dimana posisi bercak berada. Alasan untuk menutup gelas kimia adalah untuk meyakinkan bawah kondisi dalam gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Untuk mendapatkan kondisi ini, dalam gelas kimia biasanya ditempatkan beberapa kertas saring yang terbasahi oleh pelarut. Kondisi jenuh dalam gelas kimia dengan uap mencegah penguapan pelarut. Karena pelarut bergerak lambat pada lempengan, komponen-komponen yang berbeda dari campuran pewarna akan bergerak pada kecepatan yang berbeda dan akan tampak sebagai perbedaan bercak warna.

Gambar menunjukkan lempengan setalah pelarut bergerak setengah dari lempengan.

Pelarut dapat mencapai sampai pada bagian atas dari lempengan. Ini akan memberikan pemisahan maksimal dari komponen-komponen yang berwarna untuk kombinasi tertentu dari pelarut dan fase diam. Perkiraan identifikasi suatu senyawa diperoleh dengan pengamatan 2 bercak dengan harga Rf dan ukuran bercak yang kurang lebih sama. 
 

Ada dua cara untuk menyelesaikan analisis sampel yang tidak berwarna: 1. Menggunakan pendarflour Mungkin anda masih ingat apa yang telah saya sebutkan bahwa fase diam pada sebuah lempengan lapis tipis seringkali memiliki substansi yang ditambahkan kedalamnya, supaya menghasilkan pendaran flour ketika diberikan sinar ultraviolet (UV). Itu berarti jika anda menyinarkannya dengan sinar UV, akan berpendar. Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada kromatogram berada, meskipun bercak-bercak itu tidak tampak berwarna jika dilihat dengan mata. Itu berarti bahwa jika anda menyinarkan sinar UV pada lempengan, akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda dengan posisi bercak-bercak. Bercak tampak sebagai bidang kecil yang gelap.

Sementara UV tetap disinarkan pada lempengan, anda harus menandai posisiposisi dari bercak-bercak dengan menggunakan pinsil dan melingkari daerah bercakbercak itu. Seketika anda mematikan sinar UV, bercak-bercak tersebut tidak tampak kembali.

2. Penunjukkan bercak secara kimia Dalam beberapa kasus, dimungkinkan untuk membuat bercak-bercak menjadi tampak dengan jalan mereaksikannya dengan zat kimia sehingga menghasilkan
3

produk yang berwarna. Sebuah contoh yang baik adalah kromatogram yang dihasilkan dari campuran asam amino. Kromatogram dapat dikeringkan dan disemprotkan dengan larutan ninhidrin. Ninhidrin bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawa-senyawa berwarna, umumnya coklat atau ungu.

Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian ditempatkan pada wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji) bersama dengan kristal iodium. Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan bercak pada kromatogram, atau dapat dilekatkan lebih dekat pada bercak daripada lempengan. Substansi yang dianalisis tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.

III.

Alat & Bahan : a. Alat : 6) Kaca Arloji 7) Corong 8) Kertas saring 9) Waterbath

1) Chamber 2) Tabung reaksi 3) Plat KLT 4) Pipa kapiler 5) Beaker glass

b. Bahan

1) Serbuk kunyit 2) Kurkumin 3) Larutan Toluen : Etil asetat (7:3)

IV.

Cara Kerja

1) Membuat larutan sampel: a) Timbang serbuk kunyit 200 mg. Masukkan ke dalam tabung reaksi.kemudian larutkan dengan etanol sampai volume 10 ml. b) Tutup tabung dengan corong yang telah disumbat dengan kapas basah. Panaskan di atas waterbath, dijaga agar larutan tidak meluap. c) Dinginkan, kemudian saring. 2) Menjenuhkan Chamber (Bejana) Kromatografi: a) Tuangkan pelarut (toluen dan etil asetat) ke dalam chamber hingga tinggi pelarut 1 cm. b) Tempatkan sehelai kertas saring dari dasar chamber sampai ke mulut chamber. c) Tutup chamber dengan rapat. Biarkan sistem mencapai kesetimbangan, kertas saring menjadi basah seluruhnya. d) Setelah chamber menjadi jenuh ambil kertas saring dan tutup chamber kembali. 3) Cuci pipa kapiler dengan alkohol terlebih dahulu. Kemudian bilas dengan larutan sampel. 4) Ambil larutan sampel dan totolkan pada plat kromatografi. Biarkan kering. 5) Cuci pipa kapiler dengan alkohol terlebih dahulu. Kemudian bilas dengan Kurkumin. 6) Ambil larutan kurkumin dan totolkan pada plat kromatografi. Biarkan kering. 7) Masukkan plat kromatografi ke dalam chamber. Biarkan sampai pelarut bergerak naik. 8) Keluarkan plat dan keringkan. 9) Hitung Rf.

V.

Data Hasil Pengamatan

Kelompok 3: dengan volume penotolan 2 L.

Kelompok 4: dengan volume penotolan 4 L.

VI.

Pembahasan

Anda mungkin juga menyukai