Anda di halaman 1dari 4

ACARA 4 PENGENALAN MESOFAUNA, MAKROFAUNA, VAM DAN AZOLLA Tanah merupakan tempat tinggal untuk bermacam-macam binatang kecil.

Binatang ini melakukan proses pembusukan sisa tanaman sehingga menjadi unsur hara dan menggali lubang serta terowongan yang menyebabkan terbentuknya saluran peredaran air dan udara di dalam tanah. Tanah yang sehat mempunyai berbagai jenis binatang (bio-diversitas tinggi). Dominasi oleh salah satu jenis binatang merupakan tanda adanya kemungkinan ketidakseimbangan pada tanah tersebut. Misalnya, terlalu banyak atau terlalu sedikit air. Penggunaan pestisida juga bisa merusak keseimbangan biologis tanah. Binatang yang sering ditemukan di dalam atau di atas permukaan tanah adalah semut , cacing, ular, kumbang, laba-laba, tikus, jangkrik, lipan dan sebagainya. Tanah mengandung berbagai jenis biota tanah, antara lain mikroba (bakteri, fungi, aktinomisetes, mikroflora, dan protozoa) serta fauna tanah. Masing-masing biota tanah mempunyai fungsi yang khusus. Tanah dalam kaitannya dengan tanaman, mikroba sangat berperan dalam membantu pertumbuhan tanaman melalui penyediaan hara (mikroba penambat N, pelarut P), membantu penyerapan hara (cendawan mikoriza arbuskula), memacu pertumbuhan tanaman (penghasil hormon), dan pengendali hama-penyakit (penghasil antibiotik, antipatogen). Demikian pula fauna tanah, setiap grup fauna mempunyai fungsi ekologis yang khusus. Keanekaragaman biota dalam tanah dapat digunakan sebagai indikator biologis kualitas tanah. Setiap hektar lahan kering umumnya dihuni lebih dari 20 grup fauna tanah, dan aktivitas setiap grup fauna memberikan pengaruh yang khas terhadap lingkungan lahan/tanah. Aktivitas beberapa grup fauna tanah menguntungkan bagi tanaman, tetapi beberapa grup fauna tanah lainnya dapat merugikan tanaman. Berbagai aktivitas mikroorganisme tanah, mikroflora dan fauna saling mendukung keberlangsungan proses siklus hara, membentuk biogenic soil structure yang mengatur proses fisik, kimia, dan hayati tanah. Pemanfaatan biota tanah sebagai agens hayati yang menguntungkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam membantu pertumbuhan tanaman merupakan peluang yang sangat besar dalam melestarikan kesuburan dan produktivitas tanah. Oleh karena itu, di samping diperlukan pengetahuan tentang kemampuan dan keunggulan biota tanah dalam menjalankan fungsi ekologis, juga perlu diciptakan teknologi aplikasi biota yang tepat dalam pengelolaan lahan, terutama lahan kering.

Tanah didalamya fauna (binatang) tanah yang bersifat heterotrof yang berperan dalam jaringan makanan di dalam sistem tanah serta berperan dalam proses pembentukan tanah. Di seluruh ekosistem darat, Fauna tanah dikelompokkan berdasarkan ukuran panjang badannya, yaitu : Mikrofauna Mesofauna Makrofauna : memiliki ukuran tubuh 0,02-0,20 mm : memiliki ukuran tubuh 0,20-10,4 mm : memiliki ukuran tubuh 10,4-83,2 mm

Keberadaan meso dan makrofauna di tanah pertanian merupakan salah satu ciri tanah sehat karena fauna ini menjadi salah satu mata rantai penting dalam rantai makanan di dalam tanah. Fauna ini mendegradasi bahan organik, memakan akar dan sebagai pemangsa fauna yang berukuran lebih kecil. Makrofauna cacing tanah berperan sebagai akumulator logam berat. Salah satu parameter yang menentukan produktivitas tanah adalah mikroorganisme dan makroorganisme tanah. Tanah yang berada dalam kondisi normal mengandung berbagai jenis mikroorganisme dan makroorganisme. Perubahan keanekaragaman mikroorganisme dan makroorganisme berhubungan dengan kualitas tanah dan pengembangan agroekosistem yang berkesinambungan. Peranan organisme tanah: 1) Dekomposisi bahan organik & produksi humus dengan melibatkan makro & mikroorganisme tanah 2) Siklus nutrien & energi yaitu siklus N, P, S, C 3) Fiksasi unsur hara, fiksasi N 4) Pencampuran bahan2 penyusun tanah oleh aktivitas organisme (bioturbasi)

makroorganisme tanah 5) Bioremediasi tanah tercemar senyawa organik & logam berat 6) Proses pembentukan tanah Pengaruh cacing tanah adalah kotoran cacing (cast) mengandung unsur hara yang tinggi, mencacah/memotong-memotong bahan organik sehingga mempercepat dekomposisi oleh mikroorganisme. Lubang cacing berfungsi sebagai: 1) Meningkatkan aerasi & infiltrasi tanah 2) Menyediakan saluran untuk pertumbuhan akar tanaman 3) Mencampurkan bahan tanah lapisan atas dengan lapisan bawah & sebaliknya (biopedoturbasi) 4) Mendistribusikan bahan organik

5) Mempercepat pembenihan biji (berkulit tebal) tanaman melalui proses ingesti (telan), digesti (cerna) & egesti (keluar) oleh cacing tanah. Cendawan mikoriza meprupakan cendawan obligat, dimana kelangsungan hidupnya berasosiasi akar tanaman dengan sporanya. Spora berkecambah dengan membentuk apressoria sebagai alat infeksi, dimana infeksinya biasa terjadi pada zone elongation. Proses ini dipengaruhi oleh anatomi akar dan umur tanaman yang terinfeksi. Hifa yang terbentuk pada akar yaitu interseluler dan intraseluler dan terbatas pada lapisan korteks, dan tidak sampai pada stele. Hifa yang berkembang diluar jaringan akar, maka berperan terhadap penyerapan unsur hara tertentu dan air. Mosse (1981) melaporkan bahwa cendawan mikoriza mempunyai sifat dapat berkolonisasi dan berkembang secara simbiose mutualistik dengan akar tanaman, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, serta membantu menekan perkembangan beberapa patogen tanah. Menurut Aldeman dan Morton, (1986) infeksi mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan kemampuannya

memanfaatkan nutrisi yang ada dalam tanah, terutama unsur P, Ca, N, Cu, Mn, K, dan Mg. Kolonisasi mikoriza pada akar tanaman dapat memperluas bidang serapan akar dengan adanya hifa eksternal yang tumbuh dan berkembang melalui bulu akar.

DAFTAR PUSTAKA Anonima 2010. Peran Makro Fauna Bagi Tanaman. http://taufikagt2.blogspot.com. Diakses 9 Nonovember 2012. 2009. Mikroorganisme Tanah. http://agronomis.blogspot.com. Dikases 8november 2012 2010. Cacing Tanah. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diakses 8 november 2012 Aldeman, J. M., and J. B. Morton. 1986. Infectivity of Vesicular-Arbuscular Mychorrizal Fungi Influence Host Soil Diluent Combination on MPN Estimates and Percentage Colonization. Soil Biolchen 8(1) : 77-83. Mosse, B. 1981. Vesicular-arbuscular mycorrhizal research for tropical Agriculture. Res. Bull. 82p.
c b