Anda di halaman 1dari 7

ANTIKOAGULAN

I.

Tujuan Percobaan 1. Mengetahui dan memahami mekanisme kerja yang mendasari menifestasi efek toksisitas antikoagulan dan koagulansia. 2. Memahami bahaya penggunaan obat-obatan tersebut diatas dan obat lain yang berefek pada pembekuan darah.

II.

Tinjauan Pustaka Koagulasi darah adalah transformasi darah dari sifat solution menjadi bentuk gel. Bentukan suatu bekuan di sumbat trombosit akan memperkuat dan menunjang sumbatan tersebut dapat menutupi lubang di pembuluh. Koagulasi merupakan mekanisme homeostatik yang difungsikan dalam proses koagulasi darah. Reaksi dasar koagulasi darah adalah perubahan protein plasma yang larut (fibrinogen) dari fibrin yang bersifat tidak larut. Proses tersebut memerlukan pengeluaran 2 pasang peptide 4c dari setiap molekul fibrinogen. Bagian yang tersisa (fibrin monomer) kemudian akan berpolimerasi rerga-, fibrin monomer lainnya membentuk fibrin.

Menurut Campbell (2003), proses penggumpalan darah dimulai ketika endothelium pembuluh misak akibat adanya luka dan jaringan ikat pada dinding terpapar ke darah. Trombosit menempel ke Kolagen dalam jaringan ikat tersebut dan mengeluarkan fibrinogen yang membuat trombosit riaur-a berdekatan dan menjadi lengket. Trombosit selanjutnya membentuk sumbat yang memberikan perlindungan darurat sehingga tidak terjadi kehilangan darah. Penutupan ini diperkuat oleh gumpalan.

Trombin adalah suatu enzim yang dapat mengubah fibrinogen menjadi benang fibrin (yang diperlukan untuk terjadinya proses koagulasi darah). Selain itu, trombin juga berfungsi untuk : 1. Mengaktifkan factor Xlil (fibrin stabilizing factor, untuk menstabilkan jaringan fibrin yang sudah terbentuk)

2. Meningkatkan agregasi trombosit; sebagai umpan balik positif pada peristiwa pembentukan trombin selanjutnya. Berikut ini adalah faktor-faktor koagulasi darah : 1. Faktor Fibrinogen 2. Faktor Prothrombin 3. Faktor Thromboplastin 4. Faktor Calcium 5. Faktor Proaccelerin labile factor ( accelerator globulin) 6. Faktor Proconvertin 7. Faktor Antihemofilic factor A (antihemofili globulin) 8. Faktor Plasma thromboplastin component (PTC antihemofili B / Chrismass Factor) 9. Faktor Stuart proyer factor 10. Faktor Plasma thromboplastin anteccedent (PTA antihemofili C) 11. Faktor Hageman Factor (glass factor) 12. Faktor Fibrin stablizing factor

Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalan menghambat pembentukan atau menghambat fungsi beberapa faktor pembekuan darah. Atas dasar ini antikoagulan diperlukan untuk mencegah terbentuk dan meluasnya trombus dan emboli, maupun untuk mencegah bekunya darah di luar tubuh pada pemeriksaan laboratorium atau tranfusi. Antikoagulan oral dan heparin menghambat pembentukan fibrin dan digunakan sebagai pencegahan untuk mengurangi insiden tromboemboli (masuknya udara pada aliran darah) terutama pada vena. Kedua macam antikoagulan ini juga bermanfaat untuk pengobatan trombosis arteri karena mempengaruhi pembentukan fibrin yang diperlukan untuk mempertahankan gumpalan trombosit. Antikoagulan dapat dibagi menjadi 3 kelompok : 1. Heparin, 2. Antikoagulan oral, terdiri dari derivat 4 -hidroksikumarin misalnya : dikumoral, warfarin dan derivat indan-1,3-dion misalnya : anisindion;

3. Antikoagulan yang bekerja dengan mengikat ion kalsium, salah satu faktor pembekuan darah. Antitrombolitik adalah obat yang dapat menghambat agregasi trombosit sehingga menyebabkan terhambatnya pembentukan trombus yang terutama sering ditemukan pada sistem arteri. Aspirin, sulfinpirazon, dipiridamol, tiklopidin dan dekstran merupakan obat yang termasuk golongan ini. Heparin Heparin merupakan satu-satunya antikoagulan yang diberikan secara parenteral dan merupakan obat terpilih bila diperlukan efek yang cepat misalnya untuk tromboemboli paru-paru dan trombosis vena dalam, oklusi arteri akut atau infark miokard akut. Obat ini juga digunakan untuk pencegahan tromboemboli vena selama operasi dan untuk mempertahankan sirkulasi ekstrakorporal selama operasi jantung terbuka. Heparin juga diindikasikan untuk wanita hamil yang memerlukan antikoagulan. Antikoagulan oral Seperti halnya heparin, antikoagulan oral berguna untuk pencegahan dan pengobatan tromboemboli. Untuk pencegahan, umumnya obat ini digunakan dalam jangka panjang. Terhadap trombosis vena, efek antikoagulan oral sama dengan heparin, tetapi terhadap tromboemboli sistem arteri, antikoagulan oral kurang efektif. Antikoagulan oral diindikasikan untuk penyakit dengan kecenderungan timbulnya tromboemboli,antara lain infark miokard, penyakit jantung rematik, serangan iskemia selintas, trombosis vena, emboli paru. Antikoagulan pengikat ion kalsium Natrium sitrat dalam darah akan mengikat kalsium menjadi kompleks kalsium sitrat. Bahan ini banyak digunakan dalam darah untuk transfusi, karena tidak tosik. Tetapi dosis yang terlalu tinggi umpamanya pada transfusi darah sampai 1.400 ml dapat menyebabkan depresi jantung.

Asam oksalat dan senyawa oksalat lainnya digunakan untuk antikoagulan di luar tubuh (in vitro), sebab terlalu toksis untuk penggunaan in vivo (di dalam tubuh). Natrium edetat mengikat kalsium menjadi kompleks dan bersifat sebagai antikoagulan. III. Bahan dan Alat a. Bahan yang dipakai 1. Vitamin K 0,75 mg/KgBB 2. Vitamin K 1 mg/KgBB 3. Asetosal 75 mg/KgBB 4. Asetosal 100 mg/KgBB 5. Heparin 750 ui/Kg 6. Heparin 1000 ui/Kg b. Alat yang digunakan 1. Timbangan hewan 2. Stopwatch 3. Alat suntik 4. Beker gelas 5. Gunting

IV.

Cara Kerja 1. Timbang hewan 2. Hitung dosis untuk masing-masing hewan 3. Injeksi hewan dengan obat 4. 15 menit setelah injeksi, potonglah ekor mencit dengan alat pemotong yang atajam kira-kira 1 cm dari ujung paling distal 5. Setelah ekor dipotong, cepat-cepat celupkan ekor mencit ke dalam air hangat 6. Catat waktu pendarahan, mulai pada saat memotong ekor sampai darah berhenti mengalir 7. Bandingkan waktu perdarahan antara control dengan perlakuan dan antara kelompok anda dengan kelompok obat lain 8. Bahas hasil saudara dan ambil kesimpulan

V.

Hasil dan Pembahasan a. Hasil pengamatan Berat badan mencit Dosis untuk mencit Konsentrasi Vitamin K : 19 g : Vitamin K 1 mg/KgBB : 0,1 mg/ml

= Kelompok 1 Control 2 3 4 5 6 Dosis untuk mencit Asetosal 75 mg/KgBB NaCl fisiologis Asetosal 100 mg/KgBB Vitamin K 0,75 mg/KgBB Vitamin K 1 mg/KgBB Heparin 750 ui/Kg Heparin 1000 ui/Kg Bleeding time 7 menit 47 detik 3 menit 28 datik 9 menit 25 detik 7 menit 28 detik 6 menit 40 detik 10 menit 11 detik 11 menit 21 detik

b. Pembahasan

VI.

Kesimpulan

VII.

Jawaban Pertanyaan-Pertanyaan 1. Jelaskan mekanisme kerja yang mendasari efek farmakologi obat-obat yang digunakan dalam percobaan ini ! Jawab : Heparin Antikoagulan ini merupakan asam mukopolisacharida yang bekerja dengan cara menghentikan pembentukan trombin dari prothrombin sehingga menghentikan pembentukan fibrin dari fibrinogen sehingga cara kerjanya

berdaya seperti antitombin dan antitromboplastin. Heparin merupakan antikoagulan yang normal terdapat dalam tubuh tetapi dalam di laboratorium jarang dipakai pada pemeriksaan hematologi karena mahal. Untuk tiap 0,1 0,2 mg heparin dapat mencegah pembekuan 1 ml darah. Sering digunakan dalam penentuan PCV cara mikrokapiler yang bagian dalamnya dilapisi dengan heparin.

Vitamin K Phytonadione ( vitamin K1 ) diperlukan untuk pembentukan faktor pembekuan darah dalam hati seperti faktor II ( protrombin), VII, IX, dan X.Phytonadione (vitamin K1) berperan sebagai koenzim pada karboksilasi rantai samping yang mengandung asam glutamate. Senyawa karboksi glutamil yang dihasilkan mengubah precursor menjadi factor pembekuan aktif yang kemudian dikeluarkan oleh sel hati dalam darah.

Asetosal Menghambat sintesa tromboksan A-2 (TXA-2) di dalam trombosit, sehingga akhirnya menghambat agregasi trombosit. Pada endotel pembuluh darah, menghambat pembentukan prostasiklin. Hal ini membantu mengurangi agregasi trombosit pada pembuluh darah yang rusak.

2. Factor-fajtor apa saja yang mempengaruhi toksisitas obat antikoagulan dan koagulan ? jelaskan alasannya ! Jawab : Faktor yang mempengaruhi toksisitas obat diantaranya adalah umur,genetik,dan riwayat penyakit. Hal ini dikarenakan Antikoagulan,Efek toksisitas obat ini dapat menyebabkan perdarahan akibat penurunan respon homeostatik vaskular pada pasien lansia. Pada penggunaan obat antikoagulan heparin atau warfarin, sekitar 9% dapat terjadi perdarahan intraserebral. Biasanya terjadi perdarahan apabila antikoagulan digunakan secara berlebihan atau penggunaan jangka panjang dengan insidens 8-11 kali jika dibandingkan pada pasien yang tidak mendapatkan antikoagulan.

Faktorpredisposisi yang dapatmenyebabkan

perdarahan pada pasien

yang menggunakan antikoagulan adalah meningkatnya umur, infark iskemik yang luas dan adanya hipertensi berat.

3. Jelaskan tanda-tanda atau gejala-gejala keracunan Heparin, Vitamin K dan asetosal ! Jawab :

VIII.

Daftar Pustaka