MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. .Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2.. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. ar 1.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. tapi masih sebidang.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan.2. pertemuannya di titik 0. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. OABC . tapi titik tangkapnya tidak sama.

Urut-urutan penjumlahan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. . Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1.4. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. K2 dan K3. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal.

5.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.

K3 . salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. D F E.

Garis-garis tersebut dinamakan . pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. K2. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. dan e. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). K3 dan K4 yaitu R.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. K2. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. d. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . garis .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. K2. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. b.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. c. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut.6.

diproyeksikan. . K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1.7.4. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. .2. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy.1. K2. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . K2. K3 dan K4. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan.

8. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda. secara analitis K1x = K1 cos E . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : .  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1.

sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. 3. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton.1. K3 dan K4. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. 1.1. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang.5.6. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. . Latihan 1. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar.

Samuel E.9. Bab I. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11.1. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12.5° dari sumbu x R = 11. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat.8. Soemono.5° dari sumbu x R = 12. 3. Daftar Pustaka 1. Bab I 1.1.1. ƏStatika IƐ ITB. 3 hanya berupa grafis. sedang soal no. No.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. Suwarno. French. 2.1 ton sdt = 22.1 ton sdt = 22. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. secara bertahap.7. Penutup Untuk mengukur prestasi. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. mengerti tentang beban.9. reaksi. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. 1. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik.2. apa itu beban.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. Contoh : a. jembatan dan lainsebagainya. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. kolom. balok. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik .1. balok. kolom. reaksi dan gaya dalam. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil.2.

misal : meja. dan lain sebagainya.2. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a.2. kendaraan. balok perletaka n Gambar 1. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. peralatan dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. a.2.10. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. a.1. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik.

Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . Gambar 1. Newton.11. dan lainsebagainya. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. kg. Gambar 1. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya.12.

maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi.3. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. konsep pengertian tentang perletakan. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. dan lainsebagainya.3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1.2. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas.2. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi.1. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. Contoh : a. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . jembatan. 1.

15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur.15.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. (Gambar 1. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. maka oleh rol tersebut dari atas. . Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik.3.2. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. Rol Strukt Bentuk perletakan rol.13.14. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. jepit dan perodel.2. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. perletakan Gambar 1. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. a. ada reaksi vertikal. sendi.

Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Rv RH c. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Karena struktur harus stabil.17. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1.17). maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1.16. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan.18. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Jadi sendi tidak mekanika teknik. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. oleh Rv Gambar 1.

21. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. ada reaksi vertikal. horizontal. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik.21. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.20. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . dan momen Gambar 1. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. balok baja pendel Gambar 1. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. ada reaksi searah pendel.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d.

22. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.

3.23. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. dan bagaimana cara menyelesaikannya. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. a. hal itu merupakan syarat utama.3. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. Keseimbangan vertikal . yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. mahasiswa perlu mengetahuinya. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. 1.3.2. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. jembatan dan lain sebagainya.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. suatu kotak yang dilem diatas meja 1.

Kotak Gambar 1. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . maka kotak tersebut langsung tenggelam.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). (Gambar 1.25. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). maka kotak tersebut tidak bisa turun. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv).24. Kotak tenggelam dalam lumpur b. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal.25) Gambar 1. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH).

Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. maka kotak tersebut langsung bergeser. karena tidak ada yang menghambat.27) Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH).27. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). PM Kotak Lem Meja . perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen.26. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1.

RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. yang RH berarti harus stabil. dan tidak bisa terangkat.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem.30. benda tersebut harus tidak bisa turun. momen maka kotak tersebut bisa terangkat. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). Gambar 1.29. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). Keseimbangan statis . RM Gambar 1. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja.

maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). maka syarat minimum RM = PM atau RM . maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV).  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang. 1.PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol).3.PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat).4. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). Latihan 1. tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ).  Dari variasi tersebut diatas. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . atau RV . agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.

Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.Sendi punya 2 reaksi . satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .5. satuan.3. notasi. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. 1.Beban terbagi rata. Rv = ? 2.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.6. P.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. kg atau ton atau Newton .Rol punya 1 reaksi .3.Beban terpusat. Penutup . notasi. q.Jepit punya 3 reaksi . Rangkuman o Macam-Macam Beban . PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.

Suwarno. 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi.7.3.3. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . Daftar Pustaka 1.8. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.

seperti gedung-gedung. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. 2.1. ada beberapa macam sistem struktur.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. jembatan dan lain sebagainya. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi .1. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan.

2.1. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar.3. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.2. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Contoh a). maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3.1. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.1. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.

A B Gambar 2. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. Konstruksi statis tidak tertentu .2. b). maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui.3.4. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu.

Latihan a). Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2. Perletakan A dan C sendi. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. b).4.6.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2.5. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan.1. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Penutup Untuk mengukur prestasi. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.1. 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan.8. 2. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.1.1. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . 2.2.1. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. Daftar Pustaka 1.2.7. kayu. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. Jadi diatas adalah statis tertentu. baja dan lain-lain. Jadi konstruksi statis tidak tertentu.

pelat. P P Untuk A orangnya pendek. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. kolom.2.3. demikian juga untuk orang B. 2. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . yang satu lagi besar. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. Contoh : a).8. memerlukan gaya dalam. Gambar 2. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. P1 A L1 Gambar 2. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. dansebagainya).2. Orang membawa membawa beban tersebut. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. pendek (A).6.7.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya.5. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b).2. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. tinggi. satu kecil. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. Contoh (b) 2. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. tinggi (B).

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

x. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg).(pers. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. Mx = RA . Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. o Balok tersebut menderita gaya lintang. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. Gaya Dalam Momen a).2. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang.4. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan.9. x ƛ q. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. 2. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang.

½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ.10. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . (pers.

Tanda momen (-) * Gambar 2.11.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.5.13.2. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2.12. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. Tanda momen 2. Demikian juga sebaliknya.

maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB.14. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan.15. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. Potongan balok bagian kanan . y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. P Jika dilihat dari kanan potongan c. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah.16. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. jumlah gaya arahnya ke atas. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. . jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. gaya yang ada hanya RA. C RA Dilihat dari kiri potongan C. Karena RB adalah merupakan reaksi. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc).

Jadi RA < P. karena RA adalah reaksi. Gambar 2. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. A Dilihat dari kiri potongan D.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). D maka gaya lintangnya tandanya negatif. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif.17.

Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok.6.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N). * Tanda Gaya Normal . P P Kalau dilihat pada Gambar 3.18. maka pada batang AB (Gambar 3. .19) menerima gaya normal (N) sebesar P. 2.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.2. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.19. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.

maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.2.7. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .Jika gaya yang ada arahnya menarik balok. 2.

2. q1 = 2 t/mƞ. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. P3 = 2t (´) P4 = 3t .8. Ringkasan tanda gaya dalam 2.20.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . P2 = 6t (¶). P1 = 2 2 t (º).

gaya lintang dan bidang normal.6 ƛ q1.1.2 .2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar. yang searah diberi tanda sama. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.6.4 + 2.q2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.1  6.6 + P2 + q2.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.12  2.7  6.10 ƛ q2.1 = 0 2. RBV 71%! RBV.3 + P1R.6.12 ƛ q1.3  2.6.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.21.6 + 6 + 1. (Bidang M. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.10 ƛ P1R.4  2. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1. N.2 = 0 1.q1 ƛ P2. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.6  2.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal . sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.7 ƛ P2.6.

D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH. Perletakan B = sendi ada RBH.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . Variabel x2 berjalan dari E ke B.6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.1ton lintang ke bawah) 2. x2 = + x2 (persamaan liniear) . DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = . melampaui beban P2. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. DE = 0 Dx2 = q2 .2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x.

Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A .P1H = . NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . dimana gaya normal dihitung dari titik C. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = .2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. dari E ke B nilai gaya normal konstan.4 ton Daerah BE dihitung dari kanan.7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. ND kr = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).

4 tm.2.P1v . sehingga tanda negatif (momen P1v . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .2 = . x = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . Daerah A D .

1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.5.5 m Mmax = .25 tm.2 (5.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .5.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.5 ƛ 4 = 26. x1 = 5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.5)² + 11.22.½ . lihat pada Gambar .

1.½ . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .q1.x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .

D balok diatas 2 tumpuan .3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5. N.286 0.22. Gambar bidang M.

N.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.23. N.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.2.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q . 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2.5 24. D Balok cantilever . Bidang M.9. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶).3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).5 32. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan.

Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.1.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.2.10.3. a) reaksi perletakan b) bidang N.5 tm ( ) MD : .1 (2.24.5 = 32.3 ƛ 5.5 ƛ 1.2 ƛ ½ . a) reaksi perletakan b) bidang N.P1.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.5 t ( ) 2. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .5² = .6 ƛ P2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .

D dan M q = 1. a). P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . bidang N.5 ton /m· . reaksi perletakan b). Ditanyakan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol .

5 ton 0.5 ton 3.5 ton 3. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.5 ton 0 9 tm 10.tekan + + + + Momen = M . Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.12.2.11. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.5 tm 0 Tanda/arah o o p .

375 ton 2 ton 0 0 7.0 tm 0 Tanda/arah o o p . 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.tekan + + Momen = M + + - .625 ton 4.13 tm 0.08 m D B C Nilai 4.75 tm 4. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .375 ton 2 ton 2 ton 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.625 ton 4.08 m kanan A A X = 3.375 ton 2.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.

distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .dx .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.0 d Mx = Dx . potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx. dx o Kiri ada Mx . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. dx² . Dx dx dan qx. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).dx.dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx .dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2.3. . Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . gaya lintang dan momen. Hubungan Antara Momen (M) . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx.24. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx.

Skema balok miring . dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. misal : tangga.25. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. 2. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.4. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal.1. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. balok atap dan lain sebagainya. Seperti pada gambar.4.

2. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. N. Ditanya : Gambar bidang M. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan.2.4. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.

16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.6 ton = 2.4 ƛ 2.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.5 ƛ 1.2.3 ƛ 4. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .2 ƛ q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.2 ƛ 2.2.5 ƛ q.3.12 ton .2.1 = 0 RAV.4 ƛ RAH.3 ƛ P 1.2 ƛ P1.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.1.3 ƛ P2.26. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.3 ƛ 4.1 = 0 RAV = 7. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.2 ƛ 4.a.1 = 0 18 ! 3.16.3 ƛ 4.3 ƛ P2.

3/5 = .E! 4.3.x .2 ton Dc kr = . cos E DD kn = .(4 + 4 + 2) sin E = -10.2 ton DD kr = -3.// sumbu batang .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.2 ton (dari kanan) ND kr = .6 ton NC kr = .3.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .2 .6 + q.b.3. 4/5 = . cos E= .6 + q.4 ton 4/5 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : . 3/5 = .6 + (2 + 4 + 4) cos.RB = .6 ton Dari B ke D Dx = .3.1.6 + 2.26.3.(4 + 2) sin E = -6 .3. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q . 3/5 = -1.6 + (2 + 4) 4/5 = 1. sin E = -2 .

6 .2 ƛ P. 3 . 3.6 . D 1 t/mƞ 4t B .1 cos E = 3.q.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .1.1 = + 5.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.2.q.  . 2 1  .5 tm Gambar bidang M. N.75 ƛ 2.2 ƛ 4.

Bidang gaya dalam pada balok miring . Gambar 2.27.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Seperti contoh dibawah ini.

beban tekanan tanah dan lain sebagainya.6 ton 2. 2.5.1 .2 ton.RAH .2 .12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.16 . Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .[(7.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. cos E . sin E NB = .(7. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV. NC kn = .16 . NDkn = .5.(RAV . Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.2 + q. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. 3/5 = 1.16 t D = + RAV .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV . 4/5] = . sin E E RAV .12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. cos E (gaya // sumbu batang) RAV.3.2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan . Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah. 3/5 = 4.1 .6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.12 . Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.16 .16 .12 ƛ 4).1.2 + 2. DA kn = 7.[(7.3.1. 4/5] = . 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E . 3/5 + 2. 3/5 = . 4/5) t = . 4/5 ƛ 2. sin E + RAH .16 .1.12 . 4/5 = . cos E RAH diuraikan menjadi : RAH. Cos E) RAH = 2. 3/5 + 2.16 . DB = -2 ƛ 2.12 NA kn = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

. seperti tergambar. a) reaksi perletakan c) bidang N. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi .5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. D dan M Soal 4 3m RB . a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. P = 3 ton Ditanyakan. B = rol. D dan M 30° Soal 2 q = 1. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . a) reaksi perletakan b) bidang N. Beban q = 1 t/m· . B = rol Ditanyakan. P = 3 ton Ditanyakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi.

Ditanyakan. B = rol. D dan M 2.5.50 t 1.5.12 ton 5. a) reaksi perletakan b) bidang N. Penutup Untuk mengukur prestasi. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.16 t t 2.6 t 0 0 3 tm 0 3.4. ketelitian perhitungan perlu.tekan . Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.815 t 4. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.tekan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi . seperti tergambar. besarnya merupakan fungsi x.88m jarak miring dr A A B C X = 2.5.63 t 2.88 t 3 ton 9.76 ton 1.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + . 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.11 tm Tanda/arah o n o p .88 m Nilai 4. 2.50 t 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.5774 L dari A A B C X= Nilai q. 4 ..tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .. X= Momen = M L 3 = 0.6 ton 0 0 5.l 6 q.l 3 0 0 q. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.l 6 q. Jawaban soal no.l 3 0 0 0 0. B «««.

ƏStatika IƐ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.67 tm 3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x . UGM.24m Nilai 4. Bab I. Daftar Pustaka - Suwarno.5. Bab I Soemono. 2. ITB.5 ton 1 ton 0 0 0 0.7.5 ton 3.5 ton 4.5 ton 0 0 4.6.5.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.24m dari B A B X = 2.

2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.2.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.a l a . x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .

bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal. dengan beban segitiga diatasnya. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.l 3 1/3 l .a l ax A Px a. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air.l ton 2 a.

Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.6.6. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2.31). bambu atau baja tersebut. bambu. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. . maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu.31. bambu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. dan profil baja. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. baja.1. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu.30. Gelagar Tidak Langsung 2.

memanjang Potongan Melintang Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel.31. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .

induk / G ambar 2. tidak 2.2. induk). gel. Penyederhanaan awal. melintang gel. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel.6.6.32. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. melainkan lewat perantara gelagar melintang. gel. untuk gel. memanjang P P P . q kg/mƞ beban terbagi rata gel. memanjang gel. Penyederhanaan akhir. tida k langsung Gambar 2.33.

2P .P.qP² . memanjang genap.35. melintang. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. 2P . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP .P/2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. P = 6q P² . melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.½ q (1.½ q (2P)² = 6q P² . 1. 1.1.25 q P² Perbedaan momen (0.125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .q P .125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.q P .5 P .5 P² .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel. 2P .5 P . Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P . ½ P = 3.125 q P² = 3.5P .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.5 P)² = 4. Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.375 q P² . 1.½ q P .

tapi kalau gelagarnya tidak langsung.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung .0. 2½ P Gambar 2. lantai = 3. namun s eperti gaya lintang beban terpusat.125 q P² = 3.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.37. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang). garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.375 q P² .

H A.6.4.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. Bidang N. Ditanyakan : a).5.5 t/mƞ sepanjang bentang. RB b). 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada. RB b).6. Gaya reaksi V A. 2. Gaya reaksi V A. . M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. Penutup Untuk mengukur prestasi. q = 1. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. Latihan Soal 1: q = 1. D. 2. H A . M. Bidang N.6.6. D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2.

5 tm 0.75 t 2.25 tm 4.5 t 4.75 t 0.0 t 3.0 t 1.25 t 1.00 t 0 5.0 t 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.5 t 3.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.5 t 1.5 t 1.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .25 t 1.5 t 0 4.25 t 1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.

. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .8.5 ton 1 ton 0 0 0 0. UGM Bab I.6. Daftar Pustaka - Soemono.6. 2.73 tm  + + Momen = M + 2. ƏStatika IƐ.7.0 tm 0 0 4. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk. ITB-Bab I Suwarno.24 m 3.24 m dari B A B X = 2.5 ton 3.67 tm 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.

Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh.7. atau N (Normal). Jika dua hal tersebut dipadukan. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. gaya lintang. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. tersebut berjalan suatu muatan. atau gaya dalam M (Momen). muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. . jika di atas struktur jembatan 2.7. gaya momen. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. gaya momen. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. maka didalam suatu garis pengaruh. dan gaya no rmal. Garis Pengaruh 2. gaya lintang dan gaya normal.1.2.

x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.P.38.x = 0 P.P. Gambar garis pengaruh R A dan RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.P.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.P. R B + G.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.l ƛ P. l ƛ P (l-x) = 0 P(l . R A RA .

jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2.41.R B Gambar 2. dimana d c ton dan y 4 = ton. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.beban y1 dan RB =sama 4 .40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.39 A c 1t + y3 GP.RB Gambar 2.R A + P=1 GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP.R B t A C a + y1 y2 GP.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 . dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.R A y2 GP. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.3.7. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.40. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l . y2 atau Gambar 2.39.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.

Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.P. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.42.43. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. sejarak d dari titik B. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 . Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . sejarak b dari titik B.R B + y3 GP. sejarak dari titik A.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.

x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. R A l x ton (linier ) l x=a G.P. Gambar garis pengaruh gaya lintang . l ƛ P. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.P.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G. R B - b/l G.P. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .44.

a tm ª l º Untuk P di C GP R A. tm ª l º = 0 tm Gambar 2. b =  Untuk P di A x .45.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.a x=a Mc = G.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.P. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . M c ¨l a¸ b © ¹ ! . Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . a tm = © ¹ .M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. P = 1t x G.b a. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) . a .P.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA .

R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 . DBkn Jawab : GP.R A .R B : 7 .M D + GP.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.4 GP. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.2 - GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.R B 1 t 3 2 3 + GP.2 ! tm . 4 = . 2 = .R B. MD lihat kanan bagian x M D = RB . t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP. RB. M D.DD - 1 t 3 GP. DD.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.R A.

DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.MB 2 tm GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.46.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.DBkr 1t GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .DD P antara A-D D D = .RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.R B GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.

MI max. GPRB. max. M max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. GP RB. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GPD I. . ditanyakan GP R A. GP D I. DI (-) max.7. ditanyakan GPR A.4. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GP MI a) Bila beban Ditanya. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. 4t DI (+) max. 3m berjalan. MI max. RB max. Soal 2 A 3m berjalan.

7. 2.5.3 ton MI max. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). = + 3. Max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. Penutup o Untuk mengukur prestasi.6.1875 tm . = + 9.5 ton D I (+) max.7. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. = + 5. = + 9 tm Mmax.

3 ton 0 0. 2.3 ton 0 1 ton 1.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max. MI max. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.3 ton 0 0 2.8. 2.4 tm 1. Bab I. Daftar Pustaka .7.Soemono. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .18 tm Nilai 1 ton 0 0. ITB.6 ton 0 0.7. ƏStatika IƐ.Garis pengaruh - Beban berjalan .175 ton = + 9. - Suwarno.7.4 ton 0. UGM Bab I. Senarai .

( yang mempunyai lebar > 100 m ). Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. a).1. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3.1.1. 3. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. maka jumlah . perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. yaitu 3 buah dimana A = sendi. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. B = rol dan C = rol.

RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. maka bisa didefinisikan bahwa : .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. 7H = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. 7H = 0. RBV. 7M = 0.1. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. 7H = 0. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber.2. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. Skema balok gerber 3.1. RBV. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. RAH. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. RAH. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0.2.

namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah.

7M = 0 dan 7M D = 0. yang masih statis tertentu. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. 7 H = 0. 7 H = 0. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. . RAH. R . dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. R . B = rol. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. disebut dengan konstruksi balok ge rber. C = rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut.

3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.1. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton. Detail sendi gerber .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. 3. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.4.4.1. dimana balok DC tertumpu di balok AB. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.

untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. Apakah mungkin ? Perhatikan . maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. D B C Cara memilih : alternatif (1). Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. jadi untuk sementara diterima saja.1. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas.2. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. sehingga struktur bisa diselesaikan. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. sendi gerber belum ada.5.6. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. Kalau dilihat dari sub bab 3. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. perletakan A = sendi. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. .7. Perhatikan balok DBC. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. Perletakan D = Gambar 3. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. RDH). perletak B = rol. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). b2 Jika konstruksinya (a). maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.8. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2).5.1. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.

Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. perletakan D = sendi. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). . perletakan. perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). (ada 2 reaksi). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. c = rol (ada 1 reaksi). Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). perletakan B = rol (ada 1 reaksi). Jadi alternatif (C) adalah mungkin. perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. Perhatikan balok DC (gambar b2). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). jadi tidak ada reaksi. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin .

D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). Skema pemisahan balok gerber . N.9. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. N. maka balok AB bisa diselesaikan. Bidang-bidang gaya dalam (M. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. N. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. Penggambaran bidang M.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3. N Gambar 3. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.8 ƛ q.6 ƛ 1. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.833 m 5.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.= P.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.3 = 0 RA. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. dengan jarak 1 m dari A. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.2 ƛ 2.3 4.3 = 0 RC.6.8 ƛ 2. 4 ƛ P. Ditanya : Gambar bidang M.3 = 0 BID.1.6. M 2.6.3 = 0 RC.6 ƛ RS.6. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b). . A = rol C = rol . N.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.3 ! ! 3t 4 4 BID. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.6 + 1.6 + RS.33t 3t + 1t BID.2 ƛ q. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . 4 ƛ P.1 4.667 m 7 MA = 0 RS.1 = 0 RS = P.6.10. D.

0546 ƛ 8.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.667.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.833 ƛ (2.x 2 - = 5.x1 = . 2.667-x2 ) = 0 x2 =5.667.2.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.667 x 2 .Rs.q x2² (parabola) 2 1 .667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.833)² = 16. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .x-P (x-1) = 3.0287 tm.x = 3.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .02589 = 8.1.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .x2 - Mx2 = 5.

Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .667 + 2.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.667 + 2 .Rc + q .6 = + 6.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.667 t Dbkn = -5.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = . x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = . x 2 2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .1.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2. Latihan .6.5.5.

A 2 m 5m 2 m 4m 2).Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah.8. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). N. D) Suatu balok gerber dengan 1). o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. Rangkuman o Balok gerber adalah : . Gambar : bidang. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. Atau . dengan perletakan A = sendi.1.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu.bidang 3. S = sendi gerber Beban : P = 5t. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . B = rol C = rol. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB.

1 Keterangan Titik A Harga 1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut.4 ton 3. Penutup Untuk mengukur prestasi.9.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol. 3.4 ton 7. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . Soal No.

5 tm 0 2.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2. Garis Pengaruh Balok Gerber .1. Suwarno.5 ton 2.1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3. 3.10.5 ton 2.5 ton 5 tm 0 7.11. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2.5 ton 5 ton 5 tm 2. Daftar Pustaka 1.

1.2. 3.11. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.2.2. reaksi ada di B (R B). reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c). RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). Gambar 3. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

a.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.2. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.y GP.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.Mc y2 C dx P.q dx Mc = ´ y.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .

Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .Dc Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.15.

4. 3.16.2. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.2.4.2. Pendahuluan Pada kenyataannya. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. Prinsip dasar perhitungan . Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.2. . ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.1.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.4.

c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.17. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.Mc y4 y5 Pada posisi awal.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.

c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .c1 ¹  § Pr © . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .bagian kiri titik C dan .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x. dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : . c1 c (x .

18.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. dan 01 (dengan skala) . M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang.12. 12. 23. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. 34.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. .di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. 23.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01.

* Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.Dengan cara yang sama. sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ. . .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . .Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah. . .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- .Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12.

2. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. 3.5.19. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.5. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.2. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.1. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. . . .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I.

r = R1 .2. a ƛ R2 . Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. P 3.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . R2 dan P3 atau resultante P 1. Prinsip Dasar Perhitungan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3.2. b 7 MA = 0 1 _P3 . .5. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. P2. P4.

5).3.2. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1. Rt .4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.

20. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .

x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4. GP R B. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.x 6.2. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.21.6.1 4. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.2 = Rt.1 + P3.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.1 + 6.1 4. ditanyakan : GP R A . GP R C .2 = 20 .45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.45 r =1.45 Rt Gambar 3.

3. Rangkuman .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP M B.7. RA 8m 2m a). GP R C . GP R D GP M I. GP DB kanan 2 2 b). ditanyakan : MI max . GP R A . GP R B. GP D I. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. Akibat rangkaian beban M max berjalan. ditanyakan.2.

8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- .2. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No. 3.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o . perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi. .Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu.

25 t 0 0 0 0 0 0 1.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.25 t 0 0 0 0 1t 1.333 tm 0 0. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0. 2 a).

5 t 0.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b). pada saat P 2 terletak pada titik I . MI max = + 14 tm.

2. Daftar Pustaka .10. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain. bab V-4 3.9. ƏStatika IƐ.Suwarno.2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14.Soemono. terjadi pada titik dibawah P 2 3. UGM.05 tm. bab V . ITB. .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

D) 4.1. . mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut.1. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut.1. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. N. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. a. dalam. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. (a). (c). seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang.

1. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.2.2. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). Penempatan Titik s (sendi) . maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. kedua perletakan dibuat sendi. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). 7 V = 0 dan 7 M = 0. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. Dengan konstruksi pelengkung terse but.2. 4.2.1. Pelengkung sungai Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c).1. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0. struktur pelengkung tersebut.1. gelagar memanjang. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah.2. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut.1.

dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b). Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B.

h1 B Nilai I = V A .q x² diatasnya. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA. x 1 HA HB II = HA. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.3.2.4. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.q x12 ƛ 2 B HA.x1. maka M E-E = VA.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian. h1 f I = VA . Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.x . x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.

Gambar nilai I = V A.5.3.l ƛ HA. (hA-hB) ƛ P1. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.6. Cara Penyelesaian 4. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.1.1.1.b1 = 0 (1) . Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.h1 Gambar 4.3. 4.

a ƛ HA.hA ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .

7M A = 0 VB.l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1. Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti. (4).l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.a1 = 0 7 M S = 0 V B . masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.H B . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).

l ƛ P1. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.l ƛ P1. f = 0 Av .a ƛ P 1. maka nilai Ab bisa dicari. f = 0 Bv . y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.b ƛ Ba .S1 ƛ Ab . b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. Bv. a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1). b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av.

( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A.

maka Mx = V A .2.HA . x P Untuk balok yang lurus. II II = HA .9 disamping. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D).3 Gambar (c).b l RA + Bidang D RB Gambar 4. x ƛ ½ q x² .1. Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.8). gaya lintang (D) dan gaya normal (N). y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . x. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a). dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. y I = VA .8.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4.1.a.3. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). seperti pada gambar (4. bukan pelengkung. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya.

* Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. Vx = V A ƛ q .y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !.10.

maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = .11. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung. x cos E = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4.Vx sin E.( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .

S Ec C yc f=3 m A H 2. D) ataupun bidang normal (Bid. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. M). Mc.12.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. VB. bidang gaya lintang (Bid.13. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. . nilai gaya lintang. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen.5 m dari titik A. N). H.

yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA .5  1 / 2.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .5 . 2. ½ l = 0 VB .5 ton 3 3 VA . l ƛ q.5 m yc = 4.3. l.yc ƛ ½ . 25 ! ! 12.H .25 ƛ ½ .5m Gambar 4. 3 .Xc ƛ H.5 ƛ 12. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga.3.q (5)² 15.Xc² = 15 . 2.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.q. 2.5) ! 2.14.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. l ƛ q. (5)² = 0 H= V . 3 . 3 ƛ ½ q .2.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2. 5. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.5  1 / 2 . maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² .l. ½ l = 0 VA = ½ .5 (10  2. Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.

0.5 . hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .14.2.5 .x = 15 ƛ 3.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.4312 ƛ 6.sin Ec + Hc cos Ec) = .5145 + 12.(7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.8575 ƛ 12.5 .(Vc. Nc = -14. 0.5774 ton.15.5 . 0.5 ton ( o) Hc = H = 12. Contoh 2 xc=2. Dc = 0.5 = 7.5145 = 6. 0.8575) = . jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4. Vc = VA ƛ q. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.16. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .

92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .152 .92 ton ( n)  5. 1. 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.48 ! 4.152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.152 . 10 .6 .1.yp = 0 VB .2 (10  2) ! 1. f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 . 3 ƛ 6 . l . 5 ƛ HB .92 = 0 (cocok) . 1.08 ƛ 1.92 = 0 VB .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.92) = 0 . 3 = 0 HB = 1. l + P.76 ƛ HA .08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .3. ½ l ƛ HA .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. 10 + 6 .yp = 0 VA .P. ½ l ƛ H B . f = 0 1. 1.152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .5.76  6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4. 5 ƛ HA .

98 HB = 4.96° sin Ec = 0. 2.5 + 4.18 ƛ 1. = -1.2.25 ƛ = . cos E = 0. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4. 2.152 .Xc + HA .5145.92 .25 m Ec = 30.92) = -1.88 + 9.08 = 1.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.5145 Dc = . Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .8575 Mc = .17.V A .92 ( ) 0. 0.152 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.08 . yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1. 25 ƛ 6 (2.8575 ƛ 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. 0. HA. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. Mc.4.8575 = .1. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA. VB. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . 0. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. HB.1. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). VB.5145 ƛ 1. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). Mc.0537 ton 4.92 . Nc. HB. Nc. HA.152 . Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan.

mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol. Penutup Untuk mengukur prestasi. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.1.75 0.6 0.667 ton 2.8 o o p n . gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.25 m 0. Sedang bidang momen.5 ton 4.667 ton 4.1. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.5. 4.5 ton 6. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.6. Soal No.

3672 tm 2. Soemono ƠStatika Iơ ITB.9675 ton 3. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).539 0.1.7.774 ton 1. .1. bab 4. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.842 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0. Daftar Pustaka 1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.226 ton 4.8336 ton (-) (-) Soal No. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. UGM.5625 tm ~0 5.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.9675 ton 5.64 0. bab 2.184 ton 5.8.36 m 0.

6 MA = 0 VA H l a G. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. b l . Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. Garis pengaruh V A. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan.18.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. f = 0.2. b = f V B .2.1. x = 0 Untuk P di B . 4. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.2. VB . a f Px b . V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B.f Untuk P di A .P. V B dan H Px ) l . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen.2. Garis Pengaruh Reaksi x P S G. x = l G. x = 0 1t Untuk P di B . yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan. b f VA . 4. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G.P VA (+) 1t G.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A .2. b ƛ H .H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB .P. a. a . H P.3 Prinsip penyelesaian. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus.

P.P.P. a . x = a p H = P. u .b ton l. a . M C pada balok di atas dua perletakan l G.P. v sama dengan G. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan. f ton H= 6 MS = 0 VA . v .P. u .f = 0 a H = VA .b ton H= l . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . u . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . x = 0 p H = 0 Untuk P di S . R l C u VA VB Bagian II H.b c l .H . M C = VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A .f G. B H b MC = VB .v l G. x = a H=0 P. bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . maka lihat kiri potongan (kiri C).f v G.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). bagian I (+) P .H . x = l Untuk P di S . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). u dan V B .C = G. a.P. H x C v P. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B .

HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D. VA sin D dan V A cos D. NC bagian I Q sin E l (+) ( . Gambar GP.P.P. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D . Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G.Mc C. a .H sin D I II I -> identik dengan G. V A Sin D D GP NC Bagian II () P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G. b cos E l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4.19.f . sehingga: NC = .P.P.) v sin E H b l GP VB sin GP. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G.

20.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.b cos E l . f Gambar 4. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) . untuk GP. D C a b sin E l. G.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H). Gaya lintang G.P. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a . NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.P.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

Kondisi pembebanan kolom (b). . ½ P = ½ q P R2 = q .24. transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . . ½ P + (b/P ).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . . . . (a). P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4.

Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. . sin E + Hcos E) Dc = Vc. .e-HA. Pendahuluan .4.25.5 ton a R1 R2 C R3 S e . . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.5 ton R5 = 1.e-HA. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. Cos E . . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. R2.1. R3. . . R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.Xc-R2.Yc Nc = -(Vc . Menjadi (R1. .Xc-R2.Yc Vc = VA.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4.

Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. A C I D E ½ ½ P P + 1. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. 2.Y2).26. P .N. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). P .5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.5 P . (1 ton.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung.5P . Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.33 P 54.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. dengan ordinat 1. atau 1 kg atau Newton) .D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1.4. Jika letak .2. P . P . Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D.Y1 + P2.33 P 54. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. 4.

Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. M I gel. Gambarkan Garis pengaruh Mc . tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Dc dan Nc . Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar.27.

b sin E lf pemaparan Gambar 4. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.P.a.1. Mc total (bag I + bag II) - II + P.5.a . f H R VB H VA Q . Pendahuluan .Nc = . . GP Mc = V . 28.b yc l.P. C yc .Dc = Av cos E .x  H. b GPMc bagian I P.a .Y l P.f G.yc A  ] II I . Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung. 4.H sin E Cos E P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.a . S .Q.P.5.b yc l.f G. a . Judul : Portal 3 sendi 4.b cos E lf pemaparanG.Q.

4. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . balok gerder.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.5.2. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya.29. bisa berupa balok menerus.

7 MA = 0 7 MS = 0 VB. b1 ƛ P2 .hƞ ƛ P 1 .hƞ ƛ P2 .l + HB.l + HB.h ƛ P 1 . Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.a + HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. a1 = 0 VB. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. a2 ƛ P1 .30. b2 = 0 VA. (h ƛ hƞ) ƛ P2 .l + HA. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .

Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.31.

b  P2 .a ƛ P1 . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB . f = HB .b 2 l 7 MA = 0 Bv. b 2 = 0 Av = P1. a1 ƛ P2 . f = 0 BA = Bv . f = 0 .b ƛ P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA .a 1  P2 .l ƛ P1 .a  P1 . f ƞ Av. S 2 f Nilai BA .a 2 l Nilai A B . S 1 ƛ AB .b1  P2 . a2 = 0 Bv = P1.l ƛ P1 . f = HA . S 2 ƛ BA . f ƞ Bv. b 1 ƛ P2 . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .

1 = 0 Av. 3 .3 ton . 1. tg E Avƞ = 1.5ƛ HA. 1.5 ± 4.3 .32.4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av . 2/6 = 0. 4.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4. 3 . 1.6 ± 2. 4.q .5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .5 ± 2. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.3 .3.3 ton Avƞ = H A . m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.5 . 38 ! 1.4333 ( q) Bvƞ = 0.l ± q .5 - P.l ± P. selesaikanlah struktur tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .6 ± 4.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av. 3ƛ2. P =1 Penyelesaian.5 = 0 Bv Av.3 .

3t B B 5.7334t 1.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.3t 4.4333 = 4.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.4333 m = 4 5/6 + 0.4333 = 5.7334 + 5.2666 t .7334 t VB = Bv + 0.

2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.2 + 11. Bidang M.7.7334 t BIDANG N - Di S 5.3t Dx = VA ƛ qx 1.C A x 4.3 t 1.2.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1. 4 = -1.3 t Gambar 4. 2 (2. 6 = .3 ton Daerah B-D 5.2666 t x=3m Ds = 4.7334 .1 ƛ 7.3667 m (daerah cs) x = 2.2 tm - S D 7.3 t 1.8 tm - Mc = -HA .2666.60127 5.1 H B.3667)² = -5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.3 . 6 = -1.3 .3 t 4.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .3667 Mx = -HA .32. 4 + VA .3.2666 t Mx = -1. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4. 2.7334 ton Daerah C-D = -1.8 1.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.4 = .20254 ƛ 5.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.5.6 = 5. N. 4 + 4.3 t = . 2.40127 tm (M max) MD = -HB .3667 ƛ ½ .3667 ƛ ½ .2666 t = 0. q (x²) .7334 ƛ 6 = -1.

- Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu.6.2.33. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. maka untuk memperpanjang bentang.34.1. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu.6.6. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. . dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. 4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.3. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. .6.35. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. merupakan struktur yang menumpu.

bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada.3.7.1.36. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.7. S (b) B GA ambar 4. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4.7.2. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.7. Pendahuluan Seperti biasanya. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada. 4. Contoh Penyelesaian .C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1.

R B + c l + + d l a.v l a.RA .f ! l.H u.RB b.b l .a l cb l GP.b a.DD Q l GP.b .R A + 1t C l V l 1t l d l GP.ND=G P.c l .f - + + GP.f GP.M D cb l Gambar 4. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.f GP.d l.37.RA a. f l d.

~ g. N D Garis pengaruh N D sama dengan g. R B f P di E RB = c c l c. b ƛ H.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP.b p H ! x p ND !  l l f lf . b .RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.f = 0 H = RB . DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.p.p nilai H. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .

Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi . a ƛ H.a f P di S b a ab RA = b p H ! .H .8. p N D !  l l f l f P di S 1 GP.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA . p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .V l II = H .MD P berada antara D C M D = RA . Q . f = Garis pengaruh H x f. f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q.f = 0 H= R A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. 4.

G.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung.P. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar.P VA . ditanyakan : G. G. G. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. ditanyakanL G. H. G. N C .P. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut.P N C bawah . G.P D C bawah.P. .D C .P NC kanan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G.P. G. VA . C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal. G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu.P.PH. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. G.

Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.335t 0. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini. Rangkuman 4.447t 0 0 0 1.10.5t m 1.447 0.1175t 0 0 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .9.5 0.782t 1.447t 0.

11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.60t 0.20t 0.333t 0 0 0.25t 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.384t 0.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.333t 0 0 0. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.336t 0 0 0.40t 0 0 1. Daftar Pustaka Suwarno. UGM Bab VI dan VII .084t 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.R.B. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.) . Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.12.1.

1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5.1.1. 5.2.3. maka kita harus merangkai material tersebut. Jika materialnya dari beton. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. ba mbu atau baja.4. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga. tapi kalau materialnya dari kayu.1. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. . Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. Rangkaian dari material bambu. 5.

Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. pasak atau paku.1.1.5. 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. Pada konstruksi kayu memakai baut.1.R. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). Bentuk K. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil.B. paku keling atau las. . Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.5.

R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. Detail I. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.2.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.3. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. .

R.B. Pada Jembatan K.5.R.B. Ruang terdiri dari 2 K.1.R.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.B.4. atas (ikatan angin atas) 1 K.R. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .R. bawah (ikatan angin bawah) K. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.2.B.B. Gambar 5.R. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5. Bidang. sisi 1 K.B.B.

3. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.5. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.B. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.R. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.5. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. Konstruksi rangka batang bidang . 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.R.1.

15. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .B. r = jumlah reaksi perletakan 5. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.6. Rumus Umum Untuk K.1. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.B.R.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.4.

Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K. Cara grafis dengan metode Cremona .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.7.Kx = 0 dan 7 .1. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.Ky = 0 b.R. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.6. 1.B. Cara analitis dengan menggu nakan 7 . Keseimbangan titik buhul a.

Metode Penukaran batang 5.1. b. a. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. Cara Grafis Metode Cullman 3.8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. y 7H=0 7. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. Metode Potongan : a.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. Cara Analitis Metode Ritter b. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 .Kx =0 7.V = 0 ata 7. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat.

2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.8. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c.

4 . . B2 dan B1ƞ. A2 dan A 1ƞ.1.4 . tiap -tiap batang perlu diberi notasi.9. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. selesaikan struktur tersebut. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. 4 P . V2 dan V 1ƞ. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. D2 dan D 1ƞ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. Untuk batang atas diberi notasi A 1. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA .9. 4 P .

B. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5.R. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K.10. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. gaya yang searah diberi tanda sama. Dalam penjumlahan. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui.

½ .½ D 1 A1 = . V1 = .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) . 2 7V=0 .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 2 A1 = . 3 2 .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.

2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .1t (tekan) . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). Beban . 2. D3 1t ƛ ½ . Gaya ƛ Reaksi B b).10. 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . Gaya.gaya batang RB . Gaya reaksi b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ .1. Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. P2 = 3t Ditanyakan : RB P a).

1.808 t 4.20 t 4. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.00 t 6. 5. bisa berupa gaya tarik.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.11. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .835 0.333 t 6.667 t 5.1. 667 t 6. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.555 6. Pencarian gaya-gaya batang.00 t 1.333 t 3. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.000 t 2.20 t 1.12. atau gaya tekan.

1. UGM Bab Soemono. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. - Daftar Pustaka Suwarno. ƏStatika IƐ. .13. bab 5.1.14.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful