MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. pertemuannya di titik 0.2.3 Penju mlaha n gaya secara grafis.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. . Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.. tapi titik tangkapnya tidak sama. tapi masih sebidang. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . ar 1. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. OABC . .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1.4. K2 dan K3. . K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. Urut-urutan penjumlahan. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.

5.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.

D F E.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. K3 .

Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. d. K2. c. dan e. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. K2. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. garis . b. K2. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a.6. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. K3 dan K4 yaitu R.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di .garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. Garis-garis tersebut dinamakan .

K2. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy.7. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. . diproyeksikan. K3 dan K4. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E .4. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x .2. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. . dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1.1. K2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . secara analitis K1x = K1 cos E . K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox.8.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.

Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. K2. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. 1.6. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. Latihan 1. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. 3. K3 dan K4. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang.1.5.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. .

Daftar Pustaka 1. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. sedang soal no. Bab I 1.1. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I.1 ton sdt = 22. ƏStatika IƐ ITB. 3 hanya berupa grafis.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. No.5° dari sumbu x R = 11. 3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.8. Soemono.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Samuel E. French. secara bertahap. 2. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. Suwarno.1.7.1 ton sdt = 22.1. Bab I.5° dari sumbu x R = 12. Penutup Untuk mengukur prestasi.9. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. balok. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik .9. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. kolom.2. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik.2. kolom. reaksi. apa itu beban. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. reaksi dan gaya dalam. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. 1. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. balok. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. mengerti tentang beban. Contoh : a. jembatan dan lainsebagainya. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung.

a. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. a.2. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. dan lain sebagainya. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata. peralatan dan lainsebagainya.1. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. balok perletaka n Gambar 1. kendaraan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b.10. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1.2. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik .2. misal : meja.

12. Newton. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . Gambar 1. Gambar 1. kg.11. dan lainsebagainya. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton.

2. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. konsep pengertian tentang perletakan. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. dan lainsebagainya.3. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . 1. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. jembatan.3.2. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. Contoh : a.1.

maka oleh rol tersebut dari atas.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. perletakan Gambar 1. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b.2. . Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. a. Rol Strukt Bentuk perletakan rol.14.15. sendi. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. (Gambar 1. jepit dan perodel. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan.3. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. ada reaksi vertikal.13. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal.

Jepit Rv balok jembatan Gambar 1.17. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas.16.18. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. Jadi sendi tidak mekanika teknik. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. oleh Rv Gambar 1. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. Rv RH c.17).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. Karena struktur harus stabil.

hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. balok baja pendel Gambar 1. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d.21. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. ada reaksi searah pendel. horizontal. ada reaksi vertikal.21.20. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. dan momen Gambar 1.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan.

Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.22.

dan bagaimana cara menyelesaikannya.1.3.23. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. hal itu merupakan syarat utama. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. a. Keseimbangan vertikal . suatu kotak yang dilem diatas meja 1. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. mahasiswa perlu mengetahuinya. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung.3. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun.2. jembatan dan lain sebagainya.3.

Kotak Gambar 1. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). (Gambar 1. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Kotak tenggelam dalam lumpur b.25. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv).24.25) Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . maka kotak tersebut tidak bisa turun. maka kotak tersebut langsung tenggelam.

maka kotak tersebut langsung bergeser. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). karena tidak ada yang menghambat.27) Gambar 1. Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM).26. PM Kotak Lem Meja . Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1.27. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen.

Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM).29.30. dan tidak bisa terangkat. yang RH berarti harus stabil. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. RM Gambar 1. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). Keseimbangan statis . momen maka kotak tersebut bisa terangkat. Gambar 1. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. benda tersebut harus tidak bisa turun.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem.

Latihan 1.4. tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. maka syarat minimum RM = PM atau RM .  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ).3. atau RV . maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg .  Dari variasi tersebut diatas. Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). 1.PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat).

6.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. notasi. Rv = ? 2.5. 1.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .Sendi punya 2 reaksi .3. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. q. satuan.Rol punya 1 reaksi . Rangkuman o Macam-Macam Beban . notasi. kg atau ton atau Newton .Jepit punya 3 reaksi .Beban terpusat.Beban terbagi rata. P.3. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. Penutup .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. 2.3. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.8.3. Daftar Pustaka 1. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . Suwarno.7.

Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. ada beberapa macam sistem struktur. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. jembatan dan lain sebagainya. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. 2.1. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2.1.1. seperti gedung-gedung. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil.

A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A).1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. 2. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Contoh a).2. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan.3.1.1.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.

sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3.2. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah.4.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. b). Konstruksi statis tidak tertentu . Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. A B Gambar 2.3. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.5. Latihan a).1. b).4. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.6. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar.1.1. Perletakan A dan C sendi. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar. 2.

2. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2. 2.1. baja dan lain-lain.7.2.1. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. kayu. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . Jadi diatas adalah statis tertentu.8. 2. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton.1. Daftar Pustaka 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.

Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2.8. pelat. yang satu lagi besar. satu kecil. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. kolom.2. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. tinggi. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. 2. dansebagainya). Contoh : a). Orang membawa membawa beban tersebut. memerlukan gaya dalam. demikian juga untuk orang B. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. tinggi (B).2. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang .3.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. pendek (A). Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. P P Untuk A orangnya pendek. P1 A L1 Gambar 2.7. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda.6. Contoh (b) 2. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). Gambar 2. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg.5. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

x ƛ q. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. o Balok tersebut menderita gaya lintang. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut.4.9. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. 2. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . Gaya Dalam Momen a). Mx = RA . balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D.x. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2.(pers.2. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang.

10. (pers.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi .

12. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Tanda momen (-) * Gambar 2.5.11.13. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA .2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. Tanda momen 2. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Demikian juga sebaliknya. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B.

maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2.14. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. Potongan balok bagian kanan . Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.15.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan.

maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. Karena RB adalah merupakan reaksi. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. C RA Dilihat dari kiri potongan C. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. gaya yang ada hanya RA. maka perlu memberi tanda (+) dan (-).16. P Jika dilihat dari kanan potongan c. jumlah gaya arahnya ke atas. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. . Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc).

Jadi RA < P.17. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). A Dilihat dari kiri potongan D. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. D maka gaya lintangnya tandanya negatif. Gambar 2. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. karena RA adalah reaksi. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah .17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD).

P P Kalau dilihat pada Gambar 3.6. maka pada batang AB (Gambar 3.18.2.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. . Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N). 2. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. * Tanda Gaya Normal .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang.19. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.

Jika gaya yang ada arahnya menarik balok. 2. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- . maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.7.2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2.8. P3 = 2t (´) P4 = 3t . P2 = 6t (¶). P1 = 2 2 t (º). q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .2.20. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. Ringkasan tanda gaya dalam 2. q1 = 2 t/mƞ.

dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.12 ƛ q1. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.6 ƛ q1.6  2.6.q1 ƛ P2.6.1  6.12  2. N. (Bidang M.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.2 .1 = 0 2.10 ƛ P1R.6.6 + P2 + q2.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .10 ƛ q2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.21.7 ƛ P2. yang searah diberi tanda sama.4 + 2.7  6.3 + P1R. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.2 = 0 1. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.q2.6. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.4  2.6 + 6 + 1.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas. RBV 71%! RBV.1.3  2. gaya lintang dan bidang normal.

D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. Perletakan B = sendi ada RBH. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .

jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B). Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). melampaui beban P2. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. x2 = + x2 (persamaan liniear) . Variabel x2 berjalan dari E ke B.1ton lintang ke bawah) 2.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. DE = 0 Dx2 = q2 . Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C.

4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = .4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. dari E ke B nilai gaya normal konstan. ND kr = . P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. dimana gaya normal dihitung dari titik C. batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = .2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C.P1H = . NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = .

2. x = .2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = . sehingga tanda negatif (momen P1v .2 = .P1v .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . Daerah A D . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).4 tm.

25 tm. lihat pada Gambar .2 (5.5.5.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.5)² + 11.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .5 ƛ 4 = 26.5 m Mmax = . x1 = 5.½ .½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.22.

3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.½ . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .q1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .½ . 1.x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .

22. Gambar bidang M. D balok diatas 2 tumpuan .3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.286 0. N.

parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1.2.5 32.5 24.23.9.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. Bidang M.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). N. N. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. D Balok cantilever . 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.

1.5 tm ( ) MD : .10. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.5 ƛ 1. a) reaksi perletakan b) bidang N.2 ƛ ½ .C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.24. a) reaksi perletakan b) bidang N.5² = .3 ƛ 5.5 = 32. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.5 t ( ) 2.1 (2. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .6 ƛ P2.3.P1.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .2.

5 ton /m· . a). t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . bidang N. D dan M q = 1. reaksi perletakan b). Ditanyakan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   .

5 ton 4 ton 4 ton 0 4.2.5 ton 0.2.5 ton 3.tekan + + + + Momen = M . mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.12. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 3.5 ton 0 9 tm 10. Penutup Untuk mengukur prestasi.11. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.5 tm 0 Tanda/arah o o p .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.

08 m D B C Nilai 4.08 m kanan A A X = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.tekan + + Momen = M + + - .tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.375 ton 2 ton 2 ton 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p .625 ton 4.375 ton 2. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .75 tm 4.375 ton 2 ton 0 0 7.13 tm 0.625 ton 4.

3. dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx). ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q.dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. Dx dx dan qx. . ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. dx o Kiri ada Mx .qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . Hubungan Antara Momen (M) . qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx .0 d Mx = Dx .dx . gaya lintang dan momen. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = . Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. dx² .24.dx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.

Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur.1.25.4. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.4. 2. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Skema balok miring . terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). Seperti pada gambar. balok atap dan lain sebagainya. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. misal : tangga. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2.

2. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . Ditanya : Gambar bidang M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. N. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.4.2. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D.

1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.2 ƛ P1. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.5 ƛ q.1.2 ƛ 4.a.2 ƛ 2.2.1 = 0 RAV = 7.3.3 ƛ 4.26.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.12 ton . Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.3 ƛ P2.1 = 0 RAV.4 ƛ 2.2 ƛ q.3 ƛ 4.3 ƛ P2.3 ƛ 4.2.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .1 = 0 18 ! 3.4 ƛ RAH.3 ƛ P 1.6 ton = 2.2.5 ƛ 1.16.

3.26.3.(4 + 4 + 2) sin E = -10.4 ton 4/5 .3/5 = . sin E = -2 .3.1.B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.6 ton Dari B ke D Dx = .6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = . cos E= . Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q . 3/5 = .E! 4. 3/5 = -1.2 .// sumbu batang .RB = .6 + (2 + 4 + 4) cos.6 ton NC kr = .b.3.6 + 2.2 ton (dari kanan) ND kr = .x .3. cos E DD kn = .6 + q.(4 + 2) sin E = -6 .6 + (2 + 4) 4/5 = 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .3.6 + q.2 ton Dc kr = .2 ton DD kr = -3. 4/5 = .

3 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.q. 3.5 tm Gambar bidang M.1.2 ƛ P.6 . 2 1  . N.1 = + 5. D 1 t/mƞ 4t B .6 .  .4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .75 ƛ 2.q.2.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .1 cos E = 3.2 ƛ 4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Gambar 2.27. Seperti contoh dibawah ini. Bidang gaya dalam pada balok miring .

cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. 4/5] = .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .RAH . Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .1.6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.16 t D = + RAV . cos E (gaya // sumbu batang) RAV.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. beban tekanan tanah dan lain sebagainya.16 . 4/5 ƛ 2. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .1 . 3/5 + 2.5. 2.2 + 2.[(7. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.3.(RAV . 3/5 = 4. Cos E) RAH = 2. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. sin E E RAV .16 .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.16 . sin E NB = . NC kn = .12 ƛ 4).4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.12 NA kn = .12 . sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .(7. 4/5] = . Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. 3/5 = 1.1 . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .16 . 3/5 + 2. sin E + RAH . Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .16 .2 .5.1. cos E .16 .1. 4/5 = .6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.2 ton. DA kn = 7. 4/5) t = .6 ton 2.12 . NDkn = .[(7. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. 3/5 = .3. DB = -2 ƛ 2.2 + q.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

Beban q = 1 t/m· . a) reaksi perletakan c) bidang N. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . a) reaksi perletakan b) bidang N. a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol. B = rol.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. seperti tergambar. B = rol Ditanyakan. D dan M Soal 4 3m RB . . seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. D dan M 30° Soal 2 q = 1. P = 3 ton Ditanyakan. P = 3 ton Ditanyakan.

6 t 0 0 3 tm 0 3.815 t 4.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + . 2.tekan .5.76 ton 1.11 tm Tanda/arah o n o p . B = rol. a) reaksi perletakan b) bidang N. ketelitian perhitungan perlu.16 t t 2.50 t 1.88m jarak miring dr A A B C X = 2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.5. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.88 m Nilai 4. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no. besarnya merupakan fungsi x.63 t 2.88 t 3 ton 9.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi . seperti tergambar. D dan M 2.4.50 t 2. Penutup Untuk mengukur prestasi. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.12 ton 5.tekan . Ditanyakan.

l 3 0 0 q. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.l 3 0 0 0 0. 4 . Jawaban soal no.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .5774 L dari A A B C X= Nilai q.l 6 q. B «««. X= Momen = M L 3 = 0. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.l 6 q.6 ton 0 0 5...

6.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.5.5 ton 4. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .7. Bab I. Bab I Soemono.24m dari B A B X = 2. 2.5 ton 3.24m Nilai 4.67 tm 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2. ƏStatika IƐ.5 ton 0 0 4. UGM. Daftar Pustaka - Suwarno. ITB.5. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.5 ton 1 ton 0 0 0 0.

x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .a l a .

bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B.l ton 2 a. dengan beban segitiga diatasnya.l 3 1/3 l . Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.a l ax A Px a. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a .

Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. .31. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung.30. bambu. bambu.6. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. bambu atau baja tersebut. baja.31). Untuk jembatan yang terbuat dari kayu.6. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. dan profil baja. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. Gelagar Tidak Langsung 2.1. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2.

melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .31. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. Penyederhanaan akhir.6.32.33. melintang gel. induk / G ambar 2. q kg/mƞ beban terbagi rata gel. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. untuk gel.6. Penyederhanaan awal. gel. memanjang P P P .2. melainkan lewat perantara gelagar melintang. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. induk). tida k langsung Gambar 2. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. tidak 2.3. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. gel. memanjang gel.

2P . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel.qP² .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. 2P . melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2.q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. P = 6q P² . melintang. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. memanjang genap.P.P/2 .35.

q P . 2P .125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.5 P .1.5P .25 q P² Perbedaan momen (0. Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.½ q P .q P . 1. 1. ½ P = 3.375 q P² .5 P² .125 q P ² 8 P/2 = 3 qP . 1.125 q P² = 3.2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.½ q (1.½ q (2P)² = 6q P² .5 P)² = 4.5 P . Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .

maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).37.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M.0.125 q P² = 3. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata. namun s eperti gaya lintang beban terpusat. lantai = 3. tapi kalau gelagarnya tidak langsung. 2½ P Gambar 2.375 q P² . garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.

.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. H A. Gaya reaksi V A. RB b).6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. Latihan Soal 1: q = 1. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan.5.6. q = 1.6. Penutup Untuk mengukur prestasi. M. H A .4. Ditanyakan : a). 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a).5 t/mƞ sepanjang bentang. D. Gaya reaksi V A. Bidang N. 2. Bidang N. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar. RB b). D. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.6. 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.5 tm 0.5 t 3.0 t 3.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .25 t 1.75 t 0.5 t 0 4.25 tm 4. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.0 t 1.5 t 4.0 t 3.25 t 1.5 t 1.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.5 t 1.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.75 t 2.00 t 0 5.25 t 1.

ƏStatika IƐ.24 m 3. 2. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.0 tm 0 0 4. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .73 tm  + + Momen = M + 2.7. .8.5 ton 3.24 m dari B A B X = 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2. ITB-Bab I Suwarno.67 tm 3.5 ton 1 ton 0 0 0 0.6. UGM Bab I.6. Daftar Pustaka - Soemono.

atau gaya dalam M (Momen). atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. . gaya lintang. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. gaya momen. Garis Pengaruh 2. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). dan gaya no rmal. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. atau N (Normal). gaya lintang dan gaya normal. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. Jika dua hal tersebut dipadukan.7.2. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. tersebut berjalan suatu muatan. gaya momen. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. maka didalam suatu garis pengaruh.7. jika di atas struktur jembatan 2. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan.7. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan.

RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.P.P.P.P.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .x = 0 P. Gambar garis pengaruh R A dan RB . R B + G. R A RA .38.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.l ƛ P.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.

jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.R A y2 GP.RB Gambar 2. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2.39 A c 1t + y3 GP.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.3. dimana d c ton dan y 4 = ton. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .41. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.beban y1 dan RB =sama 4 .R B t A C a + y1 y2 GP.40.39.R B Gambar 2. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .7.R A + P=1 GP. y2 atau Gambar 2. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 . sejarak dari titik A.P. sejarak b dari titik B.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.42.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2.R B + y3 GP.43. sejarak d dari titik B.

R B - b/l G.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. Gambar garis pengaruh gaya lintang .44.P. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.P. R A l x ton (linier ) l x=a G.P. l ƛ P. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.

Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .45.P.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. b =  Untuk P di A x .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. M c ¨l a¸ b © ¹ ! . b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . a tm = © ¹ . Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . a tm ª l º Untuk P di C GP R A. tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . P = 1t x G.b a. a . tm ª l º = 0 tm Gambar 2.a x=a Mc = G.P.P.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA .

4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .R B : 7 .R A .RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.R B. M D. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP. 2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. 4 = .R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.2 ! tm . RB.M D + GP. DBkn Jawab : GP.R A. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP. DD.2 - GP. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .4 GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.R B 1 t 3 2 3 + GP.DD - 1 t 3 GP. MD lihat kanan bagian x M D = RB .

Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.MB 2 tm GP.46.R B GP.DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.DD P antara A-D D D = .RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.DBkr 1t GP.

GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. GPRB. RB max. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. . MI max. Soal 2 A 3m berjalan. MI max. GP D I. GP RB. ditanyakan GP R A. max. M max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. GP MI a) Bila beban Ditanya. ditanyakan GPR A. 4t DI (+) max. 3m berjalan. GPD I.4.7. DI (-) max. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC.

7. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. Max. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). = + 9.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.3 ton MI max. = + 3.5 ton D I (+) max. = + 9 tm Mmax.7. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max. Penutup o Untuk mengukur prestasi.5. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik.1875 tm . = + 5. 2.

7. Senarai . - Suwarno. ƏStatika IƐ.3 ton 0 0. 2.18 tm Nilai 1 ton 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.175 ton = + 9. Bab I. UGM Bab I. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.Garis pengaruh - Beban berjalan .7. 2.3 ton 0 1 ton 1.6 ton 0 0. Daftar Pustaka .Soemono.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.4 tm 1.3 ton 0 0 2.4 ton 0. ITB.7.8. MI max. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .

perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. yaitu 3 buah dimana A = sendi. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. B = rol dan C = rol. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut.1. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3.1. 3. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. a). ( yang mempunyai lebar > 100 m ). Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. maka jumlah .1.

karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. 7H = 0. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. maka bisa didefinisikan bahwa : . 7H = 0. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. Skema balok gerber 3. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu.1. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3.2. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. RAH. 7M = 0. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0.1. RBV. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu .2. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). 7H = 0. RAH. RBV. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV.

namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah.

R . 7 H = 0. yang masih statis tertentu. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. C = rol. B = rol. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. disebut dengan konstruksi balok ge rber. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. RAH. 7M = 0 dan 7M D = 0. 7 H = 0. R . 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV.

maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. Detail sendi gerber . Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3.3.1.3.

dimana balok DC tertumpu di balok AB. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.4.1.4. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . 3.

akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. Kalau dilihat dari sub bab 3. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. sendi gerber belum ada. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. D B C Cara memilih : alternatif (1).5. Apakah mungkin ? Perhatikan . maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. sehingga struktur bisa diselesaikan. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan.2. maka konstruksinya masih statis tak tertentu.1.6. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. jadi untuk sementara diterima saja.

D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber.7. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). perletak B = rol. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. karena kedua perletakan B dan C adalah rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. Perhatikan balok DBC. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). perletakan A = sendi. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. Perletakan D = Gambar 3. . RDH).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.8. b2 Jika konstruksinya (a). maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu.5. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.1.

Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . perletakan B = rol (ada 1 reaksi).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). c = rol (ada 1 reaksi). perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). perletakan. Perhatikan balok DC (gambar b2). perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. jadi tidak ada reaksi. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. . dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). perletakan D = sendi. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). (ada 2 reaksi). sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC.

Skema pemisahan balok gerber . maka balok AB bisa diselesaikan. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. Bidang-bidang gaya dalam (M. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. Penggambaran bidang M. N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b).9. N. N. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C.

1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. N.3 = 0 RA.2 ƛ q.6 ƛ RS.= P.6.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.3 = 0 RC. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b). Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu. D.6 ƛ 1.3 4.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.3 = 0 BID.3 ! ! 3t 4 4 BID.6. 4 ƛ P.6 + RS.6. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.6 + 1. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . 4 ƛ P.667 m 7 MA = 0 RS.833 m 5. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.8 ƛ q.6.1 = 0 RS = P. M 2.1 4. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. Ditanya : Gambar bidang M.2 ƛ 2.10.3 = 0 RC. A = rol C = rol . dengan jarak 1 m dari A. N Gambar 3.8 ƛ 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.6.1.33t 3t + 1t BID. .

2.q x2² (parabola) 2 1 .x1 = .833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.0287 tm.833 ƛ (2. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.x-P (x-1) = 3.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.x2 - Mx2 = 5.x 2 - = 5.833)² = 16.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .x = 3.667-x2 ) = 0 x2 =5.667 x 2 .02589 = 8.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.667.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.667.0546 ƛ 8.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.1.2.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.Rs.

333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .5.5.667 t Dbkn = -5. Latihan .6 = + 6.667 + 2 .Rc + q .833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .667 + 2.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a . x 2 2 = .667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.6. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .

A 2 m 5m 2 m 4m 2). dengan perletakan A = sendi.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. B = rol C = rol.1. S = sendi gerber Beban : P = 5t. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. Rangkuman o Balok gerber adalah : . N.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. Atau .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. D) Suatu balok gerber dengan 1). P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. Gambar : bidang.bidang 3.8.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.4 ton 7. Soal No. Penutup Untuk mengukur prestasi.1.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol. 3.4 ton 3.9.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. 1 Keterangan Titik A Harga 1.

Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2.5 ton 2. Suwarno.5 ton 2.2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.5 tm 0 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.1.10. 3.11.5 ton 5 ton 5 tm 2. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.1. Daftar Pustaka 1. Garis Pengaruh Balok Gerber .5 ton 5 tm 0 7.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3.

maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. Gambar 3. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan.2. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut.1. reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . reaksi ada di B (R B). Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban. 3.11. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga.2.2. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

q dx Mc = ´ y. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.Mc y2 C dx P.3.y GP.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .2.a. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.

15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.Dc Gambar 3. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .

. . Prinsip dasar perhitungan .2.2.4. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.16.2.2.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.4. Pendahuluan Pada kenyataannya. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. 3. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.1. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.4.

ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.17.Mc y4 y5 Pada posisi awal. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.

c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © . c1 c (x .c1 ¹  § Pr © .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .bagian kiri titik C dan .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x. c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .

18.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. . 34.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C.12. dan 01 (dengan skala) . M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . 23. 23. 12.

tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. .Dengan cara yang sama.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ. . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum.Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. . .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. . °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. 3. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.5.5. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.2. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I.1. . mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. . Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. .19. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.2. Jadi dalam hal ini-: dicari !!.

R2 dan P3 atau resultante P 1.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . P4.2. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B.r = R1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. P 3. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1. . b 7 MA = 0 1 _P3 .2. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. a ƛ R2 . Prinsip Dasar Perhitungan .5.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. P2.

5).3.4.2. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1. Rt .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar . 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.20.

Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.45 r =1.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.2 = 20 .x 6. GP R C .55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.1 4.2 = Rt.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0. GP R B.1 + P3. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.1 4.1 + 6.2.45 Rt Gambar 3.21. ditanyakan : GP R A . Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.

GP M B. GP R A . Akibat rangkaian beban M max berjalan. 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. GP R C . ditanyakan. GP D I.7. RA 8m 2m a). Rangkuman . GP DB kanan 2 2 b). ditanyakan : MI max . GP R D GP M I. GP R B.2.

1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .2.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . . Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. 3. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.8. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan.

2 a).667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .25 t 0 0 0 0 1t 1.333 tm 0 0. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.25 t 0 0 0 0 0 0 1.

5 t 0.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .5 t 0 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0. MI max = + 14 tm.

bab V-4 3. terjadi pada titik dibawah P 2 3.2. . ITB.05 tm.10.Suwarno. Daftar Pustaka .Soemono.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14.2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . ƏStatika IƐ. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain. bab V .9. UGM.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). (a). dalam. D) 4.1. a. N. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. (c). .1.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan.

sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0. gelagar memanjang. 4. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi. kedua perletakan dibuat sendi. struktur pelengkung tersebut. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. Pelengkung sungai Gambar 4. Penempatan Titik s (sendi) .2.2. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.2. 7 V = 0 dan 7 M = 0.1. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4.1.2. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).1. Dengan konstruksi pelengkung terse but.1. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B).2. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4.1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B.3. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b). Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak.

Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.q x² diatasnya.4. x 1 HA HB II = HA.3.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.q x12 ƛ 2 B HA. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.h1 B Nilai I = V A . maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.x1. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.1. maka M E-E = VA. h1 f I = VA . x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .2.x . 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.

3. Gambar nilai I = V A.3.l ƛ HA. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.1.5.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. 4.h1 Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.1. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan. Cara Penyelesaian 4. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.1.b1 = 0 (1) . P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. (hA-hB) ƛ P1.6.

S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .hA ƛ P1.a ƛ HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.

Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).a1 = 0 7 M S = 0 V B . 7M A = 0 VB. h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1. masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan .H B .l . (4).

b ƛ Ba . f = 0 Bv .a ƛ P 1. maka nilai Ab bisa dicari.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.l ƛ P1. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab . Bv. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.l ƛ P1. f = 0 Av . a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).S1 ƛ Ab .

( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang.

Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.8.8). x. y I = VA . x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4.a. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a). y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. gaya lintang (D) dan gaya normal (N). bukan pelengkung.2. seperti pada gambar (4. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ.3.1.1. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M).b l RA + Bidang D RB Gambar 4.2. x ƛ ½ q x² . x P Untuk balok yang lurus. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). maka Mx = V A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. II II = HA .HA .3 Gambar (c).9 disamping. Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA .

dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. Vx = V A ƛ q . Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4.10. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal.

Vx sin E.( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak . Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung. maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. x cos E = .11.

. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. nilai gaya lintang. bidang gaya lintang (Bid. H.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. S Ec C yc f=3 m A H 2. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. M). Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2.13. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. N).5 m dari titik A. VB. D) ataupun bidang normal (Bid.12. Mc.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen.

(5)² = 0 H= V . maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . 3 ƛ ½ q .3.q. l ƛ q. ½ l = 0 VB . 2.5) ! 2. l.5m Gambar 4.H .5  1 / 2 .5 .14.yc ƛ ½ .5 ƛ 12.5 (10  2. 5.5 ton 3 3 VA . 3 . di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .2.l. ½ l = 0 VA = ½ .25 ƛ ½ . l ƛ q. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.q (5)² 15.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.Xc ƛ H.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA .Xc² = 15 . 2. Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.5 m yc = 4.3. 2. 3 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. 25 ! ! 12.5  1 / 2.

8575 ƛ 12.5 . jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7. 0. Contoh 2 xc=2.(7.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.5 = 7.5145 = 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal. 0.5 ton ( o) Hc = H = 12.2.14. Vc = VA ƛ q. Dc = 0.5 . 0.4312 ƛ 6.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.sin Ec + Hc cos Ec) = .5774 ton.5145 + 12. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal . Nc = -14. 0.(Vc.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.5 .5 .8575) = . Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .x = 15 ƛ 3.15.

16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .

½ l ƛ HA . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA . 1.152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA . 10 + 6 . 1.yp = 0 VB .76 ƛ HA .yp = 0 VA .92 = 0 (cocok) .92 = 0 VB . 3 ƛ 6 (3 ƛ 1. 10 . 5 ƛ HA .5.92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1.92) = 0 .92 ton ( n)  5. l + P. 5 ƛ HB .152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.P. 3 ƛ 6 .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4. l .2 (10  2) ! 1.152 .08 ƛ 1.76  6. ½ l ƛ H B . 3 = 0 HB = 1.152 .6 .48 ! 4.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . f = 0 1.3.1. 1.

152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.V A . Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.5145.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.96° sin Ec = 0.08 = 1.98 HB = 4.88 + 9.08 .92 . 2.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .Xc + HA .18 ƛ 1.92) = -1.152 .152 .32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4. = -1.25 m Ec = 30. cos E = 0.5 + 4.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1. 0.8575 ƛ 1. 25 ƛ 6 (2. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.5145 Dc = .8575 Mc = . yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.25 ƛ = .17.92 ( ) 0.2. 2.

c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . HB. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.92 . dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. VB. Nc. HB. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. 0.1. HA.1. HA. Nc.152 . Mc.5145 ƛ 1. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1).0537 ton 4. VB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1.8575 = .4. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. 0. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). Mc.

gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.5 ton 4.667 ton 4.667 ton 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4.6. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. Sedang bidang momen. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol. 4. Penutup Untuk mengukur prestasi.1.25 m 0.8 o o p n . Soal No.5 ton 6.5.1.6 0. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.75 0.

2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.184 ton 5. UGM. . bab 2.226 ton 4. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan). Soemono ƠStatika Iơ ITB.7.1.842 7. Daftar Pustaka 1.9675 ton 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.539 0. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.64 0. bab 4.8.5625 tm ~0 5.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.8336 ton (-) (-) Soal No.1.3672 tm 2.36 m 0.774 ton 1.9675 ton 5.

Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. b l . Garis Pengaruh Reaksi x P S G.f Untuk P di A .P. VB . b f VA . 4. a.2. 6 MA = 0 VA H l a G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus.2.3 Prinsip penyelesaian. Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. a . Garis pengaruh V A. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan. x = 0 Untuk P di B . f = 0. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. x = l G. b = f V B . H P. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.2. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. x = 0 1t Untuk P di B .1. a f Px b . V B dan H Px ) l .2.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . 4. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.P VA (+) 1t G.18.2. b ƛ H .P.P.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A .

b ton l. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . x = 0 p H = 0 Untuk P di S . x = l Untuk P di S . M C pada balok di atas dua perletakan l G.P.b c l . B H b MC = VB . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P .f G.P. x = a H=0 P. x = a p H = P. a . R l C u VA VB Bagian II H.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . v sama dengan G.P.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. u . u .C = G. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B .v l G. H x C v P.P. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C).H . bagian I (+) P . a. v . maka lihat kiri potongan (kiri C).f = 0 a H = VA . u .P.f v G. M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). f ton H= 6 MS = 0 VA . M C = VA .P.H . u dan V B . a . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.b ton H= l .

H sin D I II I -> identik dengan G.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C. VA sin D dan V A cos D.P. sehingga: NC = .f .(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.) v sin E H b l GP VB sin GP. a .P. b cos E l .Mc C. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G. Gambar GP.P. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D. NC bagian I Q sin E l (+) ( .19.P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G. V A Sin D D GP NC Bagian II () P.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a .b cos E l .f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H).20. G. D C a b sin E l.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l. f Gambar 4. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP.P. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) . NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.P. untuk GP. Gaya lintang G.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . Kondisi pembebanan kolom (b). P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . (a).24. ½ P + (b/P ). P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. ½ P = ½ q P R2 = q . .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . . . .

5 ton R5 = 1. sin E + Hcos E) Dc = Vc. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. R2.5 ton a R1 R2 C R3 S e .e-HA.4.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. Pendahuluan . . Cos E . .1. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4.25.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. . . . Menjadi (R1. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.Xc-R2.4.Yc Vc = VA. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar. .e-HA. R3.Yc Nc = -(Vc .Xc-R2. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan.

langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. P . Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.Y2). 4. Jika letak . Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. P .2. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. atau 1 kg atau Newton) . Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54.33 P 54. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.26.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. (1 ton.33 P 54. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.4.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a).5P . maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. dengan ordinat 1.N.5 P . P . P . untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M. A C I D E ½ ½ P P + 1. 2.Y1 + P2.

tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada.27. Dc dan Nc . Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Gambarkan Garis pengaruh Mc . Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. M I gel.

C yc .f G. b GPMc bagian I P.b cos E lf pemaparanG. S .a .x  H.yc A  ] II I .P.a .(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.5. Mc total (bag I + bag II) - II + P. 28.P.f G.Dc = Av cos E .Q. Judul : Portal 3 sendi 4.P.Y l P. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.Q.H sin E Cos E P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung. GP Mc = V .Nc = .b yc l.1.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. f H R VB H VA Q . Pendahuluan .a .b sin E lf pemaparan Gambar 4. a . .a. 4.5.b yc l. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.

Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. bisa berupa balok menerus. balok gerder.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.5. 4. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya.2.29.

l + HB. b2 = 0 VA.hƞ ƛ P2 .30.l + HB.h ƛ P 1 . a2 ƛ P1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4.l + HA. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II . Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi. a1 = 0 VB. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA. (h ƛ hƞ) ƛ P2 . b1 ƛ P2 . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.a + HA.hƞ ƛ P 1 .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .31.

f = HB . a2 = 0 Bv = P1. b 1 ƛ P2 . f = 0 BA = Bv . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . S 1 ƛ AB .b ƛ P2 . b 2 = 0 Av = P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. f ƞ Bv. b  P2 . S 2 f Nilai BA .b 2 l 7 MA = 0 Bv. S 2 ƛ BA .l ƛ P1 . f = HA .a 1  P2 . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .l ƛ P1 .a ƛ P1 . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .a 2 l Nilai A B . a1 ƛ P2 .b1  P2 . f = 0 . f ƞ Av.a  P1 .

m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.32.5ƛ HA.3 . 4.3. 38 ! 1.6 ± 2.4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av . 1.3 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar . 2/6 = 0. 3 .5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .3 ton .1 = 0 Av. 3 .4333 ( q) Bvƞ = 0.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av. 3ƛ2. 1.q . tg E Avƞ = 1.5 ± 2. P =1 Penyelesaian.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4.l ± q .3 . 4. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.5 - P. 1.3 ton Avƞ = H A .5 . selesaikanlah struktur tersebut.5 ± 4.l ± P.6 ± 4.5 = 0 Bv Av.

7334 t VB = Bv + 0.7334 + 5.2666 t .2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.3t 4.7334t 1.4333 = 5.3t B B 5.4333 = 4.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.4333 m = 4 5/6 + 0.

3667)² = -5.2 + 11.3 t 4.2666. 6 = .32.4 = .3.7.7334 ƛ 6 = -1.2666 t Mx = -1.20254 ƛ 5.5. 4 + VA .7334 ton Daerah C-D = -1.2666 t x=3m Ds = 4.3t Dx = VA ƛ qx 1.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.1 ƛ 7. N.3 t Gambar 4.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1. 4 = -1.2.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1. 2.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4. 2 (2.3 .C A x 4.2 tm - S D 7.7334 t BIDANG N - Di S 5.2666 t = 0. 2.3 t 1.60127 5.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1. 4 + 4. 6 = -1.1 H B.6 = 5.3667 Mx = -HA .7334 .3667 ƛ ½ .3 ton Daerah B-D 5.3667 ƛ ½ .2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .3 .8 1. q (x²) .40127 tm (M max) MD = -HB .3 t 1.3 t = .8 tm - Mc = -HA .3667 m (daerah cs) x = 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5. Bidang M.

2. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.33.1. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. maka untuk memperpanjang bentang.34. . dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4.6. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu.6. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa.6.

35. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. merupakan struktur yang menumpu. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. . termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4.6.3.

namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.7. S (b) B GA ambar 4. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.7. Contoh Penyelesaian .C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1.7. 4.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4.36. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. Pendahuluan Seperti biasanya. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.3.2.1.

f l d.R B + c l + + d l a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.v l a.d l.f ! l.b .f - + + GP.H u.b l .M D cb l Gambar 4.a l cb l GP.RA a.b a.ND=G P.37.DD Q l GP.f GP. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.RA .RB b.f GP.c l .

b .p nilai H.f = 0 H = RB .b p H ! x p ND !  l l f lf . ~ g.p. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB . N D Garis pengaruh N D sama dengan g. R B f P di E RB = c c l c. b ƛ H.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP.

V l II = H . Q . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA . f = Garis pengaruh H x f.8.a f P di S b a ab RA = b p H ! . 4.H .f = 0 H= R A . p N D !  l l f l f P di S 1 GP.MD P berada antara D C M D = RA . a ƛ H.

N C . G. G.P N C bawah .D C . ditanyakanL G.P VA .x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G. G. VA . G.PH.P D C bawah. G. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.P. G. ditanyakan : G.P.P.P.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu.P NC kanan. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. H. G. . Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu.P. G.

335t 0.5 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.447 0.9.447t 0.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.5t m 1.782t 1.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .1175t 0 0 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.10.447t 0 0 0 1. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini. Rangkuman 4. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.

40t 0 0 1.384t 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.25t 0.333t 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.60t 0.336t 0 0 0.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.11.084t 1. Daftar Pustaka Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.20t 0. UGM Bab VI dan VII .333t 0 0 0.

1.B.R.) . Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.12.

Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. Jika materialnya dari beton. Rangkaian dari material bambu. . Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah.1. tapi kalau materialnya dari kayu.1. 5. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. 5. ba mbu atau baja. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5.3.1. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5.4. maka kita harus merangkai material tersebut.2.1. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.

Bentuk K. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). Pada konstruksi kayu memakai baut.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah.R. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5.1.1. pasak atau paku. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul.5. 5. paku keling atau las.1.5. .

.2. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. Detail I.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.3.

Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .B.R. Bidang.R.2.R.4.B. bawah (ikatan angin bawah) K.B. atas (ikatan angin atas) 1 K.R.B. Ruang terdiri dari 2 K. Gambar 5.B.R. Pada Jembatan K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.1.R.B.R. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5. sisi 1 K. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.B.5.

5.B.B. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . Konstruksi Statis Tertentu Pada K. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan. Konstruksi rangka batang bidang .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.R.R. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.3.5.1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.B.6.15.1.4.B.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5. Rumus Umum Untuk K.R. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .R. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K. r = jumlah reaksi perletakan 5. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.

Keseimbangan titik buhul a. 1.6.Kx = 0 dan 7 .1.B.Ky = 0 b.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.R.7. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5. Cara analitis dengan menggu nakan 7 . Cara grafis dengan metode Cremona . Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.

1. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. a.Kx =0 7.8. y 7H=0 7. Metode Potongan : a. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. Cara Grafis Metode Cullman 3.V = 0 ata 7. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. Cara Analitis Metode Ritter b. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . Metode Penukaran batang 5. b.

8. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.

. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. A2 dan A 1ƞ. 4 P . D2 dan D 1ƞ. Untuk batang atas diberi notasi A 1.9. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. selesaikan struktur tersebut. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . 4 P .4 . V2 dan V 1ƞ. B2 dan B1ƞ. tiap -tiap batang perlu diberi notasi.1. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5.4 . 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.9. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !.

Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui.10. Dalam penjumlahan. .B. gaya yang searah diberi tanda sama. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0.

½ D 1 A1 = . V1 = . 3 2 . 2 7V=0 .½ .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 2 A1 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.

1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik. Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .1t (tekan) .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5.1. 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . Gaya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . Gaya ƛ Reaksi B b). Beban . D3 1t ƛ ½ . Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar.10. 2. Gaya reaksi b).gaya batang RB . P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). P2 = 3t Ditanyakan : RB P a).

5.20 t 1.333 t 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.835 0. bisa berupa gaya tarik.1. Pencarian gaya-gaya batang.11.00 t 6.20 t 4.808 t 4. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.00 t 1.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .12. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.000 t 2. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.333 t 6. 667 t 6.667 t 5.1.555 6. atau gaya tekan.

. ƏStatika IƐ. - Daftar Pustaka Suwarno. UGM Bab Soemono. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.13.1.1. bab 5.14. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful