MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

3 Penju mlaha n gaya secara grafis. pertemuannya di titik 0. . 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama..Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. tapi masih sebidang. tapi titik tangkapnya tidak sama.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. . Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. ar 1.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. OABC .2. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan .

Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. Urut-urutan penjumlahan. K2 dan K3. .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1.4.

5.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 . Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.

K3 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. D F E. salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.

Garis-garis tersebut dinamakan . d. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. K3 dan K4 yaitu R. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. b. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. dan e. c.6. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. K2. K2. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. garis . K2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1.

Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. K2. K2. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ.7. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. .2. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul.1. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. diproyeksikan.4. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . K3 dan K4. .

Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. secara analitis K1x = K1 cos E .  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : .

sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1.5. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. 3. K2. K3 dan K4.1. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. 1. Latihan 1.1.6.

1 ton sdt = 22. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. ƏStatika IƐ ITB. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. Daftar Pustaka 1. Suwarno. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1. 2. secara bertahap. Soemono.1 ton sdt = 22. Penutup Untuk mengukur prestasi.1. 3.9.5° dari sumbu x R = 11. Bab I 1. Samuel E. Bab I.1. sedang soal no. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. No.1. French. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I.5° dari sumbu x R = 12.7. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. 3 hanya berupa grafis.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12.8.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. Contoh : a.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1.1. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. 1. kolom.2.9. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. kolom. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. reaksi. reaksi dan gaya dalam. apa itu beban. balok.2. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . balok. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. jembatan dan lainsebagainya. mengerti tentang beban.

dan lain sebagainya.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. peralatan dan lainsebagainya. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . balok perletaka n Gambar 1. kendaraan. a.1. misal : meja. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a.2. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. a. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.10. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati.2.

anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ.12.11. dan lainsebagainya. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. Gambar 1. Newton. Gambar 1. kg. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya.

2. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. dan lainsebagainya. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur.1. 1. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. jembatan.2. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. konsep pengertian tentang perletakan.3. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. Contoh : a. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi.3.

a. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan.14. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. (Gambar 1. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal.3. sendi.2. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. . Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. perletakan Gambar 1. ada reaksi vertikal. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1.2. jepit dan perodel. maka oleh rol tersebut dari atas. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.13.15. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil.

Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. Karena struktur harus stabil.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. oleh Rv Gambar 1. Rv RH c. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal.17. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen.18. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH).16. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Jadi sendi tidak mekanika teknik.17).

Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1.20. horizontal.21. dan momen Gambar 1. balok baja pendel Gambar 1. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. ada reaksi vertikal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d.21. ada reaksi searah pendel. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut.

Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .22.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.

1. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. a. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. dan bagaimana cara menyelesaikannya. mahasiswa perlu mengetahuinya. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda.3.2. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang.3. jembatan dan lain sebagainya. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang.23. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. hal itu merupakan syarat utama. 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. Keseimbangan vertikal . Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang.3. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. serta manfaatnya dalam struktur tersebut.

25. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). maka kotak tersebut langsung tenggelam. maka kotak tersebut tidak bisa turun.24. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH).25) Gambar 1. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). Kotak tenggelam dalam lumpur b.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). (Gambar 1. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. Kotak Gambar 1.

Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH).26. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen.27) Gambar 1. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM).27. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. karena tidak ada yang menghambat.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. PM Kotak Lem Meja . maka kotak tersebut langsung bergeser. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat).

29. RM Gambar 1. benda tersebut harus tidak bisa turun. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). momen maka kotak tersebut bisa terangkat. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. Keseimbangan statis . yang RH berarti harus stabil. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. dan tidak bisa terangkat. Gambar 1.30. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal.

dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang. agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. maka syarat minimum RM = PM atau RM . Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . atau RV . maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol).4.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ).3. maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). Latihan 1.PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ).  Dari variasi tersebut diatas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). 1. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).

6.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan . notasi. Rv = ? 2. Rangkuman o Macam-Macam Beban .3.Beban terbagi rata. Penutup .5.Jepit punya 3 reaksi . notasi.Beban terpusat. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?.Rol punya 1 reaksi . 1. satuan.3. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. kg atau ton atau Newton .Sendi punya 2 reaksi . P. q.

7.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi.3. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Daftar Pustaka 1.3. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . 2.8. Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I.

1. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks.1. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. jembatan dan lain sebagainya. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. 2. ada beberapa macam sistem struktur. seperti gedung-gedung. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu.

3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. 2. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah.1. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.1.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.1.2. Contoh a).

Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A).4. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A.3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2.2. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. Konstruksi statis tidak tertentu . b). A B Gambar 2.

P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. Penutup Untuk mengukur prestasi. Latihan a). Perletakan A dan C sendi. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. b).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.1. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan.1. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar. 2. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.1. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah .4.6.5.

Jadi diatas adalah statis tertentu. Daftar Pustaka 1. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2.1. 2.1. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2.8.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan.7.2. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. baja dan lain-lain. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. kayu. Jadi konstruksi statis tidak tertentu.1. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. 2.

beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B.2. tinggi. P P Untuk A orangnya pendek. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda.2. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. 2. pelat.7. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut.8. kolom. Orang membawa membawa beban tersebut. tinggi (B). pendek (A).5. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. yang satu lagi besar.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya.3.2. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. satu kecil. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. Contoh : a). Contoh (b) 2. Gambar 2. memerlukan gaya dalam. demikian juga untuk orang B. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. dansebagainya).6. P1 A L1 Gambar 2. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak.2. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ.x. o Balok tersebut menderita gaya lintang. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D.(pers. x ƛ q. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar.4. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2.9. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . 2. Mx = RA . Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. Gaya Dalam Momen a).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan.

½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2.10. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . (pers.

11. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Tanda momen 2.5. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut.12. Demikian juga sebaliknya.2. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. Tanda momen (-) * Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap .13. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif.

15. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2.14.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c. Potongan balok bagian kanan . maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB.

maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. C RA Dilihat dari kiri potongan C. . jumlah gaya arahnya ke atas. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. P Jika dilihat dari kanan potongan c. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). atau kalau dilihat di kanan RB potongan. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). Karena RB adalah merupakan reaksi. gaya yang ada hanya RA.16.

Jadi RA < P. D maka gaya lintangnya tandanya negatif. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2.17. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . karena RA adalah reaksi. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. A Dilihat dari kiri potongan D. Gambar 2.

19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. . P P Kalau dilihat pada Gambar 3.19.2.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. 2. maka pada batang AB (Gambar 3. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).18. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. * Tanda Gaya Normal . Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.6.

Jika gaya yang ada arahnya menarik balok. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) . 2.7. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .

Ringkasan tanda gaya dalam 2. P3 = 2t (´) P4 = 3t . Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. q1 = 2 t/mƞ.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. P2 = 6t (¶). q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .20.2. P1 = 2 2 t (º).8.

maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.6.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.6.6.6.12 ƛ q1.10 ƛ q2.1 = 0 2.7 ƛ P2.2 .3  2.6  2. yang searah diberi tanda sama. gaya lintang dan bidang normal.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2. RBV 71%! RBV.21.4 + 2. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.6 + P2 + q2.2 = 0 1.6 ƛ q1. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.3 + P1R.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .10 ƛ P1R.q2. (Bidang M.6 + 6 + 1. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas. N. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.7  6.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.12  2.4  2.1  6.q1 ƛ P2.

Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = . D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. Perletakan B = sendi ada RBH.

1ton lintang ke bawah) 2.6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). Variabel x2 berjalan dari E ke B. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = . DE = 0 Dx2 = q2 .7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. x2 = + x2 (persamaan liniear) . melampaui beban P2. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = .

4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri. dari E ke B nilai gaya normal konstan.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. dimana gaya normal dihitung dari titik C. Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . ND kr = .7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).P1H = . ND kn = (-2 ƛ 2) ton = .

2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .2 = . Daerah A D .4 tm. sehingga tanda negatif (momen P1v .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .P1v . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).2. x = .

1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .5)² + 11.25 tm.22. x1 = 5.5.5.½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.5 ƛ 4 = 26. lihat pada Gambar .2 (5.5 m Mmax = .½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.

1.q1.½ .3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .½ .x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .

3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2. Gambar bidang M. N.22.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.286 0.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5. D balok diatas 2 tumpuan .

x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. D Balok cantilever . pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.23.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2.5 32. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.5 24. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶).9.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. N.2. Bidang M. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). N.

P1.1 (2. a) reaksi perletakan b) bidang N.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.3.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.5 tm ( ) MD : .5² = .2.6 ƛ P2. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.5 t ( ) 2.1. a) reaksi perletakan b) bidang N.2 ƛ ½ . Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.5 = 32. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .10.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .3 ƛ 5.24.5 ƛ 1. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.

t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . reaksi perletakan b). Ditanyakan.5 ton /m· . P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . D dan M q = 1. bidang N. a).

5 ton 4 ton 4 ton 0 4.5 ton 3. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.12. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.2.tekan + + + + Momen = M .11. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 3.5 ton 0.5 ton 0 9 tm 10.2.5 tm 0 Tanda/arah o o p .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.

0 tm 0 Tanda/arah o o p .08 m D B C Nilai 4.13 tm 0.tekan + + Momen = M + + - .75 tm 4.625 ton 4. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.625 ton 4.375 ton 2.375 ton 2 ton 0 0 7.08 m kanan A A X = 3. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.375 ton 2 ton 2 ton 4.

qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx .dx.0 d Mx = Dx . Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. Dx dx dan qx. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. dx² . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.dx . gaya lintang dan momen. dx o Kiri ada Mx .24. Hubungan Antara Momen (M) .dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q.3. . Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).

Skema balok miring .25. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. 2. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Seperti pada gambar.4. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal).1. balok atap dan lain sebagainya. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. misal : tangga. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.4. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2.

N.4. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. 2. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. Ditanya : Gambar bidang M. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal.2.

Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.2 ƛ 4.16.5 ƛ 1.1 = 0 RAV.6 ton = 2.2. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.26.3 ƛ P 1.3 ƛ 4.2 ƛ 2.2.3 ƛ P2.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.1.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .4 ƛ 2.3 ƛ P2.2.3 ƛ 4.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.1 = 0 18 ! 3.12 ton .6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.1 = 0 RAV = 7.a.4 ƛ RAH.2 ƛ q.5 ƛ q.3 ƛ 4.2 ƛ P1.

6 + (2 + 4) 4/5 = 1.E! 4.1.2 ton Dc kr = .6 + q.6 ton NC kr = . cos E DD kn = . 3/5 = .3. 3/5 = -1. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .x .3/5 = .6 + (2 + 4 + 4) cos.6 + 2. 4/5 = .// sumbu batang .3.6 + q.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .3.2 .6 ton Dari B ke D Dx = .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.26.(4 + 2) sin E = -6 .2 ton DD kr = -3.RB = .3.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .4 ton 4/5 . sin E = -2 .(4 + 4 + 2) sin E = -10.b.3. cos E= .2 ton (dari kanan) ND kr = .

2 ƛ 4.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .5 tm Gambar bidang M. N.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .1.q. 3. 3 .  . D 1 t/mƞ 4t B .1 cos E = 3.q.6 .2 ƛ P.75 ƛ 2.1 = + 5.2. 2 1  .6 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.

27. Bidang gaya dalam pada balok miring . Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Seperti contoh dibawah ini.

Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.16 t D = + RAV .12 .16 . 3/5 + 2. sin E E RAV . sin E NB = . DB = -2 ƛ 2.1. beban tekanan tanah dan lain sebagainya. sin E + RAH . cos E (gaya // sumbu batang) RAV.12 NA kn = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.(RAV . 4/5) t = . 2.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .1. 3/5 = 4.16 .1.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. cos E . Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7. 3/5 = 1.1. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah. 4/5 ƛ 2.2 + q.2 + 2.5.16 .6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. 4/5 = .[(7.3.3.16 .R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .(7.16 . 4/5] = . NDkn = . 3/5 + 2.12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.12 .5. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .12 ƛ 4).1 .[(7. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. NC kn = . Cos E (gaya B sumbu batang) RAV . 3/5 = .RAH .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH. Cos E) RAH = 2. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.16 . Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .6 ton 2. 4/5] = .2 . DA kn = 7.2 ton.1 .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

a) reaksi perletakan c) bidang N. Beban q = 1 t/m· .5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. . D dan M Soal 4 3m RB . a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . seperti tergambar. B = rol Ditanyakan. a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . P = 3 ton Ditanyakan. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. D dan M 30° Soal 2 q = 1. B = rol. P = 3 ton Ditanyakan.

63 t 2.11 tm Tanda/arah o n o p . B = rol. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .12 ton 5.76 ton 1. seperti tergambar. 2. ketelitian perhitungan perlu.4.16 t t 2. D dan M 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.50 t 2.50 t 1. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah. a) reaksi perletakan b) bidang N.tekan .6 t 0 0 3 tm 0 3. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no. besarnya merupakan fungsi x.88 t 3 ton 9.88m jarak miring dr A A B C X = 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .tekan .88 m Nilai 4.5.5. Ditanyakan.5. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.815 t 4.

3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.l 6 q.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. X= Momen = M L 3 = 0.l 6 q. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.5774 L dari A A B C X= Nilai q.6 ton 0 0 5. 4 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no. Jawaban soal no.l 3 0 0 q.l 3 0 0 0 0.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««. B «««...2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.24m Nilai 4.24m dari B A B X = 2. Bab I. ITB.5 ton 1 ton 0 0 0 0.5 ton 4.5 ton 0 0 4. UGM. 2.7. ƏStatika IƐ. Bab I Soemono.6.5. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x . Daftar Pustaka - Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.5.67 tm 3.5 ton 3.

2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .2. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .a l a .

a l ax A Px a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.l 3 1/3 l .l ton 2 a. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. dengan beban segitiga diatasnya.

bambu. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. bambu. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2.31).31.6. bambu atau baja tersebut. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut.1. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang.6. baja. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. dan profil baja.30. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan. . Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. Gelagar Tidak Langsung 2.

Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan . melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel.31. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel.

Penyederhanaan awal. memanjang gel.2. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. gel.32.6. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. melintang gel. memanjang P P P .33. untuk gel.6. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. q kg/mƞ beban terbagi rata gel. induk / G ambar 2. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. tida k langsung Gambar 2. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. Penyederhanaan akhir. gel. tidak 2.3. melainkan lewat perantara gelagar melintang. induk).

melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . melintang.P/2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.35.qP² . P = 6q P² . memanjang genap. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. 2P .P. 2P . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel.q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP .

1.5 P² .½ q P . 1.5 P)² = 4.125 q P² = 3.½ q (1.375 q P² . ½ P = 3.5P . 2P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung. 1.5 P .q P .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.½ q (2P)² = 6q P² .25 q P² Perbedaan momen (0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.q P .5 P .125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. 2½ P Gambar 2. namun s eperti gaya lintang beban terpusat. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . tapi kalau gelagarnya tidak langsung. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).125 q P² = 3.375 q P² . Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.37. lantai = 3.0. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.

mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.6. 2. Latihan Soal 1: q = 1.6. q = 1. D. H A. M. Bidang N. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. .6.6. H A .5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. RB b). Bidang N. Gaya reaksi V A. D. RB b). Penutup Untuk mengukur prestasi.4. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). Ditanyakan : a). Gaya reaksi V A. 2. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.5 t/mƞ sepanjang bentang. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar.

25 t 1.75 t 0.0 t 3.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.5 t 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.5 t 3.25 t 1.25 tm 4. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.5 t 1.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .25 t 1.5 t 0 4.0 t 3.00 t 0 5.5 tm 0.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.0 t 1.75 t 2.5 t 1.

67 tm 3.24 m 3.7.73 tm  + + Momen = M + 2.5 ton 3. Daftar Pustaka - Soemono. ITB-Bab I Suwarno.8.5 ton 1 ton 0 0 0 0. .24 m dari B A B X = 2. ƏStatika IƐ. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.6. UGM Bab I.0 tm 0 0 4.6. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk. 2.

maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. Garis Pengaruh 2. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. maka didalam suatu garis pengaruh.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. atau gaya dalam M (Momen). Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan.7. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut.1.2.7. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). gaya momen. gaya lintang dan gaya normal. Jika dua hal tersebut dipadukan. tersebut berjalan suatu muatan. gaya momen. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. jika di atas struktur jembatan 2. gaya lintang. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. . atau N (Normal).7. dan gaya no rmal.

P. R B + G.l ƛ P.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.P.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2. R A RA .x = 0 P.P.38.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G. Gambar garis pengaruh R A dan RB .P. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.

39.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.R A + P=1 GP. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.39 A c 1t + y3 GP. dimana d c ton dan y 4 = ton. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.R A y2 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.3.beban y1 dan RB =sama 4 . Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2.40.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 . Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .R B Gambar 2.41.R B t A C a + y1 y2 GP.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.7. y2 atau Gambar 2. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.RB Gambar 2.

maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.42. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.P. sejarak b dari titik B.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. sejarak dari titik A. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. sejarak d dari titik B.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2.R B + y3 GP.43.

D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.P.P. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB . l ƛ P. R B - b/l G. R A l x ton (linier ) l x=a G.44.P. Gambar garis pengaruh gaya lintang .x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.P.

M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a .45. tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . tm ª l º = 0 tm Gambar 2.b a. b =  Untuk P di A x . M c ¨l a¸ b © ¹ ! .P. a tm = © ¹ . P = 1t x G. a .P. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB .P.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. a tm ª l º Untuk P di C GP R A.a x=a Mc = G.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA .

M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP. DBkn Jawab : GP.DD - 1 t 3 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. RB.4 GP.2 - GP. M D.R B. 2 = . t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.M D + GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .R B : 7 .2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.R B 1 t 3 2 3 + GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.R A .R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP. MD lihat kanan bagian x M D = RB . 4 = . DD.2 ! tm .4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .R A.

RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.DD P antara A-D D D = .R B GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.MB 2 tm GP.DBkr 1t GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.46.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.

GP MI a) Bila beban Ditanya. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. ditanyakan GPR A. DI (-) max. . M max. ditanyakan GP R A. GPRB. 3m berjalan. RB max. MI max. 4t DI (+) max. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. Soal 2 A 3m berjalan.7. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC.4. GP RB. GP D I. max. GPD I. MI max.

5 ton D I (+) max. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). = + 9 tm Mmax. Max.5. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.7. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. = + 5.3 ton MI max.6. = + 3. 2. = + 9.7. Penutup o Untuk mengukur prestasi. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik.1875 tm .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no.

2. ƏStatika IƐ. MI max.3 ton 0 0. 2. ITB.175 ton = + 9. Daftar Pustaka .2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.Soemono.3 ton 0 0 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no. Bab I. UGM Bab I.7.7. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.18 tm Nilai 1 ton 0 0.8. Senarai .3 ton 0 1 ton 1.6 ton 0 0. - Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .7.4 tm 1.4 ton 0.Garis pengaruh - Beban berjalan .

( yang mempunyai lebar > 100 m ). A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b.1. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. maka jumlah . sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. 3. B = rol dan C = rol. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu.1.1. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. a). Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. yaitu 3 buah dimana A = sendi. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV.

RBV. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. RAH. 7H = 0. 7H = 0. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. 7H = 0.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. RAH. RBV. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). 7M = 0. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu .2.1. Skema balok gerber 3. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan.1. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. maka bisa didefinisikan bahwa : . maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. . namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.

7 H = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. RAH. 7M = 0 dan 7M D = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. yang masih statis tertentu. R . B = rol. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. . C = rol. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. R . disebut dengan konstruksi balok ge rber. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. 7 H = 0.

3.3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. Detail sendi gerber .1. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.

4. dimana balok DC tertumpu di balok AB. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.1.4. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . 3.

Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. sendi gerber belum ada. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. jadi untuk sementara diterima saja. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. Kalau dilihat dari sub bab 3. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber.1. Apakah mungkin ? Perhatikan . untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. sehingga struktur bisa diselesaikan. maka konstruksinya masih statis tak tertentu.6. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru.5. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ.2. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. D B C Cara memilih : alternatif (1).

Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. Perletakan D = Gambar 3. . jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. perletakan A = sendi.7. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). RDH). maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. perletak B = rol. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. Perhatikan balok DBC. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu.5. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 .8. demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3. b2 Jika konstruksinya (a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.1. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c).

dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. Perhatikan balok DC (gambar b2). Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. (ada 2 reaksi). per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). perletakan D = sendi. Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). c = rol (ada 1 reaksi). jadi tidak ada reaksi. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. perletakan. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. . dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). perletakan B = rol (ada 1 reaksi). Jadi alternatif (C) adalah mungkin.

Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. maka balok AB bisa diselesaikan. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. N. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. Bidang-bidang gaya dalam (M. Skema pemisahan balok gerber . Penggambaran bidang M. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a).9. N. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. N. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB.

Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.6 ƛ RS. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.3 = 0 RC. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b). Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.6. A = rol C = rol .6.6.6 + RS.8 ƛ q. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. N.3 4. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB. M 2.667 m 7 MA = 0 RS.2 ƛ 2.833 m 5.3 = 0 RA.6 + 1. . 4 ƛ P.8 ƛ 2.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.6.3 = 0 RC.= P.3 ! ! 3t 4 4 BID.3 = 0 BID.1. Ditanya : Gambar bidang M. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C. 4 ƛ P. N Gambar 3.10.1 4.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.33t 3t + 1t BID. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . dengan jarak 1 m dari A.1 = 0 RS = P.2 ƛ q. D.6 ƛ 1.

667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.0287 tm.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .833)² = 16.833 ƛ (2.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .667.x 2 - = 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.02589 = 8. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.Rs.667.667 x 2 .x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.667-x2 ) = 0 x2 =5.x = 3.0546 ƛ 8.q x2² (parabola) 2 1 . 2.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.x1 = .x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.2.1.x2 - Mx2 = 5.x-P (x-1) = 3.

Latihan .6.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .Rc + q .1.6 = + 6.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .667 t Dbkn = -5.5. x 2 2 = .Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .667 + 2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .5.667 + 2.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.

Gambar : bidang. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. N. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . S = sendi gerber Beban : P = 5t.8. B = rol C = rol.bidang 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . D) Suatu balok gerber dengan 1). S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. Atau . A 2 m 5m 2 m 4m 2).1. dengan perletakan A = sendi. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. Rangkuman o Balok gerber adalah : . 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.4 ton 3.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . 3.1. Soal No. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1.9. Penutup Untuk mengukur prestasi. 1 Keterangan Titik A Harga 1. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.4 ton 7.

5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3. 3. Daftar Pustaka 1.1. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.5 ton 5 ton 5 tm 2.5 tm 0 2.10.2.5 ton 2.11.5 ton 5 tm 0 7. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2.1. Suwarno. Garis Pengaruh Balok Gerber .5 ton 2.

atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan. Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d).2.2. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . 3. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan.2. reaksi ada di B (R B). reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c). Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga.11.1. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

Mc y2 C dx P. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .a. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.3.y GP.2.q dx Mc = ´ y.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.

Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.Dc Gambar 3.15.

Prinsip dasar perhitungan .2. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.2.2. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.4.4. .16. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.4. .2. Pendahuluan Pada kenyataannya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. 3.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.1.

17. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.Mc y4 y5 Pada posisi awal. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.

bagian kiri titik C dan .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x. c1 c (x .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .c1 ¹  § Pr © . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .

18. 23. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3. dan 01 (dengan skala) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar.12.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. 34. 23. 12. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. .

°1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. .Dengan cara yang sama. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah. . sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I. .Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. .Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. .

M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum. . Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3.19. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.1. .5.5. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. Jadi dalam hal ini-: dicari !!.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. .2. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar. 3.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari.

. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. P4.r = R1 .x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.2.5. Prinsip Dasar Perhitungan .Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. P 3. R2 dan P3 atau resultante P 1. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. P2.2. b 7 MA = 0 1 _P3 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. a ƛ R2 .

2. Rt .5). P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.4.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.

20.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .

x 6.6.1 4. ditanyakan : GP R A . GP R C .1 + P3.1 + 6. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.1 4.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.21.2.45 r =1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.2 = 20 .45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0. GP R B. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.45 Rt Gambar 3. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.2 = Rt.

Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. RA 8m 2m a). ditanyakan : MI max .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. 3.7. Rangkuman . P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. GP R D GP M I. GP D I.2. GP DB kanan 2 2 b). GP R A . Akibat rangkaian beban M max berjalan. GP R B. ditanyakan. GP R C . GP M B.

Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .8. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. 3. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- .2.

25 t 0 0 0 0 0 0 1.25 t 0 0 0 0 1t 1. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .333 tm 0 0. 2 a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.

pada saat P 2 terletak pada titik I .5 t 0 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0. MI max = + 14 tm.

Soemono. .9. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . bab V . ITB.10.2. Daftar Pustaka . UGM.05 tm. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14.Suwarno. ƏStatika IƐ. bab V-4 3. terjadi pada titik dibawah P 2 3.2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b).1. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut.1. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. a.1. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. . Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. N. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. (c). D) 4. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. dalam. (a). maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4.

Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. Penempatan Titik s (sendi) . kedua perletakan dibuat sendi.1.1.2. 4. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.2.1. 7 V = 0 dan 7 M = 0. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.2. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4.1. struktur pelengkung tersebut. Dengan konstruksi pelengkung terse but. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). gelagar memanjang. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).2.2. Pelengkung sungai Gambar 4.1.

Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).3. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B.

1.q x² diatasnya. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.x1.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian. x 1 HA HB II = HA.4.h1 B Nilai I = V A . h1 f I = VA .2.q x12 ƛ 2 B HA. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.3. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.x . x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 . maka M E-E = VA. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.

6.h1 Gambar 4. Gambar nilai I = V A. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.3.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.1. 4.1.l ƛ HA.3. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen. (hA-hB) ƛ P1. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. Cara Penyelesaian 4. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.b1 = 0 (1) .1. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.

a ƛ HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .hA ƛ P1.

7M A = 0 VB.l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1. h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.a1 = 0 7 M S = 0 V B . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).H B .l . (4). masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.

a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1). b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .S1 ƛ Ab .l ƛ P1.a ƛ P 1.b ƛ Ba .l ƛ P1. Bv. f = 0 Av . a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari. f = 0 Bv . b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. maka nilai Ab bisa dicari.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) .

bukan pelengkung.3 Gambar (c).2.b l RA + Bidang D RB Gambar 4. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. x. II II = HA . x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D).8. y I = VA . maka Mx = V A . dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ.3. seperti pada gambar (4. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.1.1.2. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?. Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. gaya lintang (D) dan gaya normal (N).a.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).HA . x P Untuk balok yang lurus.8). gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M).9 disamping.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. x ƛ ½ q x² . x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4.

x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?.10. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . Vx = V A ƛ q . Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada.

maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . x cos E = . Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.11. Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4.( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan .Vx sin E.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. H.12. nilai gaya lintang. bidang gaya lintang (Bid. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. S Ec C yc f=3 m A H 2.13. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. Mc. N). . Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. VB. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. M). dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. D) ataupun bidang normal (Bid.5 m dari titik A.

5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2. ½ l = 0 VB .Xc ƛ H. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga.5 m yc = 4. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² .3.5  1 / 2 .5m Gambar 4. 3 . yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA .2. 3 .l. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.H .3.5) ! 2.25 ƛ ½ .Xc² = 15 .25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x. 5.5 . 3 ƛ ½ q .10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2. 2. l ƛ q.q.5 ton 3 3 VA .14.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. 2.5 (10  2. (5)² = 0 H= V .q (5)² 15.yc ƛ ½ . l. l ƛ q. ½ l = 0 VA = ½ .5  1 / 2. 2.5 ƛ 12. 25 ! ! 12.

2.5774 ton. 0.x = 15 ƛ 3. 0.5 ton ( o) Hc = H = 12.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.4312 ƛ 6.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.5 . Vc = VA ƛ q.5 = 7. Contoh 2 xc=2.sin Ec + Hc cos Ec) = . Dc = 0. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .8575 ƛ 12. Nc = -14.(Vc. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5 . 0.(7.14.8575) = .5 . 0.5145 = 6.5145 + 12.5 .

16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .

48 ! 4.08 ƛ 1.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . 10 .152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.92) = 0 .92 ton ( n)  5.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA . 5 ƛ HA .76 ƛ HA . ½ l ƛ HA .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.92 = 0 VB . 3 ƛ 6 .6 .5. l . 5 ƛ HB .1. 1. 1. f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 .152 . 10 + 6 . f = 0 1.2 (10  2) ! 1.152 . 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.yp = 0 VB .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1.76  6. ½ l ƛ H B .92 = 0 (cocok) . l + P. 1.152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.P.3.yp = 0 VA . 3 = 0 HB = 1.

Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.5 + 4.92 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.5145 Dc = .17. 2.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .92) = -1.5145.18 ƛ 1.2.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.Xc + HA .8575 Mc = .08 = 1.08 . Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.96° sin Ec = 0.92 ( ) 0. cos E = 0.98 HB = 4.25 m Ec = 30. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1. 25 ƛ 6 (2.88 + 9.152 .V A .8575 ƛ 1. 0. 2. = -1.25 ƛ = .32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.152 .

Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA. VB. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). Nc. HA. HB. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). HB. HA. 0.152 .1. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. Nc. VB.8575 = . dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B.5145 ƛ 1. Mc. Mc.0537 ton 4. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m .92 .1.4. 0. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A.

Penutup Untuk mengukur prestasi.8 o o p n . Soal No.5 ton 6. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.1.75 0.5 ton 4.1.6 0.667 ton 4.667 ton 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.25 m 0. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.5. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7. Sedang bidang momen. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.6. 4.

UGM.184 ton 5. Soemono ƠStatika Iơ ITB.7. bab 2.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0. . Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan). 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.842 7.3672 tm 2.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.5625 tm ~0 5. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.8336 ton (-) (-) Soal No.64 0.539 0. Daftar Pustaka 1.9675 ton 5.226 ton 4.1.8.9675 ton 3. bab 4.774 ton 1.36 m 0.

b ƛ H .P VA (+) 1t G. 6 MA = 0 VA H l a G.2. V B dan H Px ) l . 4. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. a f Px b . b l . a.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4.P. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. a . s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan.P. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. x = 0 Untuk P di B . gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. H P. Garis Pengaruh Reaksi x P S G. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan. Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. 4. b = f V B .1. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A .2.3 Prinsip penyelesaian.18. f = 0.2. Garis pengaruh V A. VB .2. x = 0 1t Untuk P di B . x = l G.f Untuk P di A . b f VA .P.

u .H .P.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. a . v . f ton H= 6 MS = 0 VA . x = 0 p H = 0 Untuk P di S . H x C v P. R l C u VA VB Bagian II H. M C pada balok di atas dua perletakan l G.P.H . M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) .P.b c l . u . a.f G. M C = VA .b ton H= l . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B).P. x = a p H = P. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . B H b MC = VB . maka lihat kiri potongan (kiri C). u dan V B . v sama dengan G. bagian I (+) P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A .f v G.P.P. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan. bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA .f = 0 a H = VA . x = a H=0 P.C = G. x = l Untuk P di S . u . a .v l G.b ton l.

Gambar GP. b cos E l . NC bagian I Q sin E l (+) ( . N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G. V A Sin D D GP NC Bagian II () P.H sin D I II I -> identik dengan G.19.Mc C. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P. a .P.) v sin E H b l GP VB sin GP.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D .P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D. sehingga: NC = .f .P. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4. VA sin D dan V A cos D. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.P.

P.b cos E l .DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l. Gaya lintang G. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. untuk GP. NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP. G. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a .P. f Gambar 4.20.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H). D C a b sin E l.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

½ P = ½ q P R2 = q . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . (a).24. . . . . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. . ½ P + (b/P ). transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . Kondisi pembebanan kolom (b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - .

Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. .qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. R3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.Yc Nc = -(Vc . sin E + Hcos E) Dc = Vc. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar. .e-HA. Menjadi (R1. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan.4. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4. Cos E .Xc-R2.25.e-HA.5 ton R5 = 1. .Yc Vc = VA. . Pendahuluan . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. . .4. R2.Xc-R2. .1.5 ton a R1 R2 C R3 S e .Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.

P . Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.4. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. Jika letak . karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I.2.33 P 54. dengan ordinat 1.26. P .5 P . 2.Y2). B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). P .33 P 54.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. P . (1 ton. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. 4. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.N. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2.Y1 + P2.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4. A C I D E ½ ½ P P + 1. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1.5P . atau 1 kg atau Newton) .

M I gel.27. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Dc dan Nc . Gambarkan Garis pengaruh Mc . Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP.

Y l P.a .H sin E Cos E P. 4.yc A  ] II I .5.1.a.P. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.Nc = .b sin E lf pemaparan Gambar 4. f H R VB H VA Q .5.b cos E lf pemaparanG. b GPMc bagian I P.Q.Q.b yc l.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P.P.x  H.P. a . C yc .a .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.b yc l. Pendahuluan . . 28.f G. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.Dc = Av cos E . Judul : Portal 3 sendi 4.f G. S .(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P. Mc total (bag I + bag II) - II + P. GP Mc = V .a .

2. bisa berupa balok menerus. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. 4. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. balok gerder.29.5.

l + HB.30. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.h ƛ P 1 .hƞ ƛ P 1 . S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.l + HB. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi. a1 = 0 VB. b1 ƛ P2 .a + HA. b2 = 0 VA. a2 ƛ P1 . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.l + HA. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. (h ƛ hƞ) ƛ P2 .hƞ ƛ P2 .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .31.

b1  P2 . f = 0 BA = Bv .a 2 l Nilai A B . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . f = HA . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .a ƛ P1 . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . b  P2 . S 2 f Nilai BA . S 2 ƛ BA .b 2 l 7 MA = 0 Bv.b ƛ P2 . a1 ƛ P2 . a2 = 0 Bv = P1.l ƛ P1 . f = HB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. S 1 ƛ AB . f ƞ Bv.a  P1 .a 1  P2 .l ƛ P1 . f ƞ Av. f = 0 . b 1 ƛ P2 . b 2 = 0 Av = P1.

5 ± 2.3 ton Avƞ = H A . 1. 4.3 ton .6 ± 2. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.3 . 38 ! 1.5ƛ HA. 1.1 = 0 Av. 2/6 = 0.3 .5 = 0 Bv Av.q .1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av.6 ± 4. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .4333 ( q) Bvƞ = 0. 3 . 4. 1.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 . selesaikanlah struktur tersebut.5 .5 ± 4.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4.l ± P. 3 .3 .5 - P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .l ± q . tg E Avƞ = 1.32. 3ƛ2.3. P =1 Penyelesaian.

4333 = 4.3t B B 5.4333 = 5.7334 + 5.4333 m = 4 5/6 + 0.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.7334t 1.2666 t .3t 4.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.7334 t VB = Bv + 0.

2 + 11.7334 t BIDANG N - Di S 5.20254 ƛ 5.40127 tm (M max) MD = -HB .3 ton Daerah B-D 5. 6 = -1.7.3667 ƛ ½ . 2.3667)² = -5.3 .3 t = .2666.4 = . D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.6 = 5.2666 t x=3m Ds = 4.7334 .3667 m (daerah cs) x = 2.2666 t Mx = -1.3 t Gambar 4.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA . 4 = -1. 2 (2.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.7334 ton Daerah C-D = -1.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.60127 5. 2. q (x²) .1 H B.3 t 4.3 t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.8 1.3 t 1.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1. 4 + VA .3667 ƛ ½ .2666 t = 0.5.3t Dx = VA ƛ qx 1.7334 ƛ 6 = -1.3.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.1 ƛ 7.32. Bidang M.2 tm - S D 7.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.2. 6 = . 4 + 4.3 .3667 Mx = -HA .C A x 4. N.8 tm - Mc = -HA .

JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.6.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. maka untuk memperpanjang bentang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. 4.33. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa.34. .2. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.6. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a).6. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu.

.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1.3. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.35. merupakan struktur yang menumpu. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya.

Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.3.7.1.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.36. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. Contoh Penyelesaian .7. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. 4.7. S (b) B GA ambar 4. Pendahuluan Seperti biasanya. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.7. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.

f - + + GP. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.c l .R B + c l + + d l a.a l cb l GP.37.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.b l .f GP.f ! l.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.d l.H u.RA a. f l d.RA .b a.b .M D cb l Gambar 4.RB b.f GP.ND=G P.v l a.DD Q l GP.

RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP. b .p nilai H. N D Garis pengaruh N D sama dengan g.b p H ! x p ND !  l l f lf . ~ g. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB . DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP. b ƛ H.p. R B f P di E RB = c c l c.f = 0 H = RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP.

8.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA . 4.a f P di S b a ab RA = b p H ! . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .MD P berada antara D C M D = RA . f = Garis pengaruh H x f.V l II = H . p N D !  l l f l f P di S 1 GP. a ƛ H. Q .f = 0 H= R A . p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .H .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a.

P. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. .P N C bawah .PH. G.P. G. G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut.P D C bawah.P NC kanan.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. G.D C . C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal. G. VA .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G. H. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . G.P. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. G. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. G.P. ditanyakan : G. N C . ditanyakanL G.P VA .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.9.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .447t 0 0 0 1.782t 1. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.5t m 1.447t 0.5 0. Rangkuman 4.335t 0.10.447 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.1175t 0 0 0.

2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.333t 0 0 0.333t 0 0 0.20t 0.384t 0.25t 0.11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.60t 0. UGM Bab VI dan VII .75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.336t 0 0 0. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. Daftar Pustaka Suwarno.40t 0 0 1.084t 1.

Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.12.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.) . Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.1.B. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.

1. tapi kalau materialnya dari kayu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. Jika materialnya dari beton. 5. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. .4. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !.3.2. 5. ba mbu atau baja. maka kita harus merangkai material tersebut.1.1. Rangkaian dari material bambu. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana.1.

Pada konstruksi kayu memakai baut. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.B.R. Bentuk K. .5. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. 5. paku keling atau las.5.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah.1.1. pasak atau paku. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.

tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI.2.3. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. Detail I. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil. .R.

B.1.R.B.R.B. atas (ikatan angin atas) 1 K. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.B.B. bawah (ikatan angin bawah) K.R.R.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.5.B. Ruang bisa dipisahkan menjadi K. Bidang.R. sisi 1 K. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .4.B.R. Ruang terdiri dari 2 K. Pada Jembatan K.2. Gambar 5.

merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.B. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . Konstruksi Statis Tertentu Pada K.R. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5).R.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.5.5.3. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.1. Konstruksi rangka batang bidang .

7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.B.B.1. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) . Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.6.15.R.4. Rumus Umum Untuk K. r = jumlah reaksi perletakan 5.

B. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.6. Keseimbangan titik buhul a. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.R.Ky = 0 b. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .Kx = 0 dan 7 . Cara grafis dengan metode Cremona . 1.7.1. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.

Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. Metode Penukaran batang 5. Cara Grafis Metode Cullman 3. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol.1. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung.Kx =0 7. Cara Analitis Metode Ritter b.8.V = 0 ata 7. b. y 7H=0 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. Metode Potongan : a. a.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.8. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .

tiap -tiap batang perlu diberi notasi. 4 P . A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !.4 . D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. Untuk batang atas diberi notasi A 1. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB .9. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.9. selesaikan struktur tersebut. V2 dan V 1ƞ.1.4 . B2 dan B1ƞ. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. A2 dan A 1ƞ. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . D2 dan D 1ƞ. 4 P .

titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. . gaya yang searah diberi tanda sama. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui.10. Dalam penjumlahan.R.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0.

3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) . 3 2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= . V1 = .½ .½ D 1 A1 = .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 2 7V=0 . 2 A1 = .

2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .1t (tekan) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . Gaya. 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5.10.gaya batang RB . P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . Gaya reaksi b). Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. 2. Gaya ƛ Reaksi B b). D3 1t ƛ ½ .1. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). Beban .

00 t 6.333 t 3.1. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.000 t 2. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.11. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + . 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.555 6. Pencarian gaya-gaya batang.20 t 4.835 0. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.12.1. 667 t 6.20 t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.00 t 1.667 t 5. atau gaya tekan. 5.333 t 6. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya. bisa berupa gaya tarik.808 t 4.

1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. ƏStatika IƐ.14.1. - Daftar Pustaka Suwarno. UGM Bab Soemono.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. bab 5. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .13. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful