MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

.2.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. ar 1. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. tapi titik tangkapnya tidak sama. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. tapi masih sebidang. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . OABC .3 Penju mlaha n gaya secara grafis.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. .Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang.. pertemuannya di titik 0.

Urut-urutan penjumlahan. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. . K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. K2 dan K3.4. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal.

Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.5.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.

D F E. K3 . salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01.

perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. K2. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. K2. b. c.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. K3 dan K4 yaitu R. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. K2. garis .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. Garis-garis tersebut dinamakan . dan e. d.6.

4. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. K3 dan K4. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy.1. . Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . diproyeksikan. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1.2. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . K2. . K2. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat.7. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D.

Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : .8. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. secara analitis K1x = K1 cos E . K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.

K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°.5. 3. . Latihan 1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1.1.1. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. 1. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton.6. K2. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. K3 dan K4. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2.

1 ton sdt = 22.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1.8.9. secara bertahap. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. Daftar Pustaka 1. No. sedang soal no. Bab I. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11.5° dari sumbu x R = 12. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. Penutup Untuk mengukur prestasi. ƏStatika IƐ ITB. 3.1. Soemono.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.1.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12.1.5° dari sumbu x R = 11. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. 3 hanya berupa grafis.7. 2. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. French. Suwarno. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Bab I 1. Samuel E.1 ton sdt = 22.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

balok. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. reaksi. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. kolom. balok. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. kolom.2. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1.1. jembatan dan lainsebagainya. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1.9. mengerti tentang beban. reaksi dan gaya dalam. apa itu beban.2. 1. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. Contoh : a. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik.

10. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1.2.1. a. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b.2. kendaraan. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . dan lain sebagainya.2. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. peralatan dan lainsebagainya. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata. balok perletaka n Gambar 1. misal : meja. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. a.

Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. kg. dan lainsebagainya.12. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. Newton.11. Gambar 1. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Gambar 1.

konsep pengertian tentang perletakan.3. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. dan lainsebagainya. 1. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi.2. jembatan. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . Contoh : a. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1.1. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini.3.2.

2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. . perletakan Gambar 1. sendi.13.2. (Gambar 1. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. a.14. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. jepit dan perodel. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1.3. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. ada reaksi vertikal.15. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol. maka oleh rol tersebut dari atas.

Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas.17). Jadi sendi tidak mekanika teknik. oleh Rv Gambar 1.16.18. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. Rv RH c. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Karena struktur harus stabil. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen.17.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1.

Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur.21. balok baja pendel Gambar 1.20.21. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel. ada reaksi vertikal.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. dan momen Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. horizontal. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . ada reaksi searah pendel. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik.

Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.22.

JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda.2. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. hal itu merupakan syarat utama.3. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja.23. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. mahasiswa perlu mengetahuinya. jembatan dan lain sebagainya. 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan.1. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. Keseimbangan vertikal . Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri.3. a. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun.3. dan bagaimana cara menyelesaikannya.

25. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. (Gambar 1.24. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. Kotak Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). Kotak tenggelam dalam lumpur b. maka kotak tersebut langsung tenggelam. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). maka kotak tersebut tidak bisa turun.25) Gambar 1.

27) Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). karena tidak ada yang menghambat.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. maka kotak tersebut langsung bergeser. PM Kotak Lem Meja . yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM).26. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM).27.

Gambar 1. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. RM Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. Keseimbangan statis . PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). dan tidak bisa terangkat.30. yang RH berarti harus stabil. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. momen maka kotak tersebut bisa terangkat. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut.29. benda tersebut harus tidak bisa turun.

agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.4.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). 1.  Dari variasi tersebut diatas. maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). maka syarat minimum RM = PM atau RM .PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol).PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). atau RV .3. Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). Latihan 1.

satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .3. P. q. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1.Sendi punya 2 reaksi . kg atau ton atau Newton . 1.Rol punya 1 reaksi .5. notasi.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.6. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. Penutup . Rv = ? 2.Beban terpusat. notasi.Beban terbagi rata. Rangkuman o Macam-Macam Beban .Jepit punya 3 reaksi .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.3. satuan.

Daftar Pustaka 1.3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.7.3. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . Suwarno. 2. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi.

1. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. seperti gedung-gedung. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.1. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. jembatan dan lain sebagainya. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan.1. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. ada beberapa macam sistem struktur. 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2.

Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan.2. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah.3. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2.1.1.1. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). 2. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. Contoh a).maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3.

3. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. Konstruksi statis tidak tertentu .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. b). A B Gambar 2. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A).4.2. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B).

1. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan.1. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan. b).6. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah .1. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. 2.5. Penutup Untuk mengukur prestasi. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. Latihan a). Perletakan A dan C sendi.4.

Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . 2.1. baja dan lain-lain. kayu. Daftar Pustaka 1. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton.2. 2.1.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.2. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2.1. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.7. Jadi diatas adalah statis tertentu.

P1 A L1 Gambar 2. tinggi (B). maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). tinggi. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut.2.6.3. satu kecil.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. Contoh : a). dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang .5. yang satu lagi besar. demikian juga untuk orang B. memerlukan gaya dalam. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. pendek (A). maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang.2. 2. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. Orang membawa membawa beban tersebut. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b).8. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg.7. dansebagainya). Contoh (b) 2. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. P P Untuk A orangnya pendek. pelat. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. Gambar 2. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur.2. kolom.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. Gaya Dalam Momen a). maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar.2.(pers. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ.x. x ƛ q.4. 2. o Balok tersebut menderita gaya lintang.9. Mx = RA . Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan.

Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) .10.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. (pers.

q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Demikian juga sebaliknya. Tanda momen (-) * Gambar 2. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . Tanda momen 2. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut.5.11.13.12.2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. Potongan balok bagian kanan . Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2.14. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2.15. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB.

Karena RB adalah merupakan reaksi. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). P Jika dilihat dari kanan potongan c. C RA Dilihat dari kiri potongan C.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). jumlah gaya arahnya ke atas. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah.16. . gaya yang ada hanya RA. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau.

17. A Dilihat dari kiri potongan D. D maka gaya lintangnya tandanya negatif. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . Gambar 2. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. Jadi RA < P. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). karena RA adalah reaksi.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. maka pada batang AB (Gambar 3. P P Kalau dilihat pada Gambar 3.18.6. . Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.2.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.19.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. 2. * Tanda Gaya Normal . berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N). Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang.

maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.7. 2.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .Jika gaya yang ada arahnya menarik balok. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .

P2 = 6t (¶). q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . P1 = 2 2 t (º).2.20. q1 = 2 t/mƞ. Ringkasan tanda gaya dalam 2.8. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. P3 = 2t (´) P4 = 3t .

q1 ƛ P2. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.6.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .10 ƛ P1R.1.7  6.2 . Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.6 ƛ q1. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.4 + 2. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.7 ƛ P2.q2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.2 = 0 1.6.3 + P1R.21.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2. yang searah diberi tanda sama.1  6.3  2. (Bidang M.10 ƛ q2. gaya lintang dan bidang normal. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.1 = 0 2.6. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.12  2.4  2.6 + 6 + 1. RBV 71%! RBV.6  2.6 + P2 + q2. N.6.12 ƛ q1.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.

P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = . Perletakan B = sendi ada RBH. D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A.

DE = 0 Dx2 = q2 .6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = . Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. Variabel x2 berjalan dari E ke B. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . x2 = + x2 (persamaan liniear) . melampaui beban P2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).1ton lintang ke bawah) 2.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban.

dari E ke B nilai gaya normal konstan.4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).P1H = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = .2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . dimana gaya normal dihitung dari titik C. P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . ND kr = .7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.

2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ). sehingga tanda negatif (momen P1v . x = .2.P1v .2 = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . Daerah A D .4 tm.

5)² + 11.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.5.5 ƛ 4 = 26. lihat pada Gambar . x1 = 5.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.25 tm.5.½ .22.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.2 (5.5 m Mmax = .

3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan. 1.x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0. titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .½ .4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .q1.

22.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5. N. Gambar bidang M.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2. D balok diatas 2 tumpuan .286 0.

23.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.2.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .5 24. Bidang M. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. D Balok cantilever .1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶).5 32. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). N. N.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.9.

5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5. a) reaksi perletakan b) bidang N.24. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.2.1 (2.2 ƛ ½ . a) reaksi perletakan b) bidang N.1.5 t ( ) 2. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .10. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.5 tm ( ) MD : .3.5 = 32.6 ƛ P2.3 ƛ 5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B . D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.5² = .5 ƛ 1.P1.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.

reaksi perletakan b). P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .5 ton /m· .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . bidang N. D dan M q = 1. t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . Ditanyakan. a).

5 tm 0 Tanda/arah o o p . mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.2.11.tekan + + + + Momen = M .5 ton 4 ton 4 ton 0 4.5 ton 3. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 0. Penutup Untuk mengukur prestasi.12.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.5 ton 0 9 tm 10.2.5 ton 3.

tekan + + Momen = M + + - .625 ton 4.625 ton 4.75 tm 4.375 ton 2 ton 2 ton 4.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.08 m kanan A A X = 3.375 ton 2 ton 0 0 7. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.08 m D B C Nilai 4. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.375 ton 2.13 tm 0.0 tm 0 Tanda/arah o o p .

gaya lintang dan momen.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. Hubungan Antara Momen (M) . Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban.dx. Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = . .0 d Mx = Dx .dx .dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. dx o Kiri ada Mx . dx² .dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx .24. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).3. Dx dx dan qx.

2.4. Seperti pada gambar. Skema balok miring . terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga. balok atap dan lain sebagainya. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.1. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. misal : tangga.4. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal.25. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. Ditanya : Gambar bidang M.2.4. N. 2. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.

5 ƛ q.3 ƛ P2.5 ƛ 1.26.2 ƛ 2.4 ƛ RAH.3 ƛ 4.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.1 = 0 RAV = 7.4 ƛ 2. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.a.6 ton = 2.2 ƛ 4.1.3 ƛ 4.1 = 0 18 ! 3.2 ƛ q.3 ƛ 4.2.3 ƛ P2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.3 ƛ P 1.16.1 = 0 RAV.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.12 ton .3. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .2 ƛ P1.2.

3.// sumbu batang .6 + (2 + 4) 4/5 = 1.2 ton (dari kanan) ND kr = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .6 ton Dari B ke D Dx = . cos E DD kn = .6 + q. sin E = -2 .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2. cos E= .E! 4.3. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q . 3/5 = .26.3. 4/5 = .6 ton NC kr = .(4 + 2) sin E = -6 .2 .3.6 + q.3.RB = .(4 + 4 + 2) sin E = -10.b.6 + (2 + 4 + 4) cos. 3/5 = -1.6 + 2.x .3/5 = .6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .4 ton 4/5 .1.2 ton Dc kr = .3.2 ton DD kr = -3.

q.1 = + 5.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .6 . 2 1  .2. 3 .6 .4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .2 ƛ 4. D 1 t/mƞ 4t B .q.5 tm Gambar bidang M.1. N.2 ƛ P.75 ƛ 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.  .1 cos E = 3. 3.

27. Gambar 2. Bidang gaya dalam pada balok miring .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Seperti contoh dibawah ini.

4/5 ƛ 2.16 t D = + RAV .16 .12 ƛ 4). Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2. 3/5 = 4. sin E (gaya B sumbu batang) RAH. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.5.1 .3.2 + q.12 . cos E (gaya // sumbu batang) RAV. 4/5] = .(7.5.12 . Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .6 ton 2.16 . sin E NB = . DA kn = 7.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. sin E + RAH .1. 4/5] = .3.RAH .12 NA kn = . Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata. Cos E) RAH = 2. DB = -2 ƛ 2. 3/5 = 1.1.(RAV . cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.2 .12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV. 3/5 + 2. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . sin E E RAV . cos E .16 . 3/5 + 2.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.2 + 2.1 . NC kn = .2 ton. 2. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .[(7.16 .16 .6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan . 4/5) t = .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7.16 .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .[(7. beban tekanan tanah dan lain sebagainya. NDkn = .1.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. 3/5 = . 4/5 = . Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

B = rol. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. a) reaksi perletakan b) bidang N. P = 3 ton Ditanyakan. seperti tergambar. D dan M 30° Soal 2 q = 1. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . B = rol Ditanyakan. Beban q = 1 t/m· .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . . P = 3 ton Ditanyakan. D dan M Soal 4 3m RB . B = rol. a) reaksi perletakan c) bidang N. a) reaksi perletakan b) bidang N.

5. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.815 t 4.88m jarak miring dr A A B C X = 2.5. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.tekan .tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + . B = rol. besarnya merupakan fungsi x. Penutup Untuk mengukur prestasi.4. D dan M 2. ketelitian perhitungan perlu. seperti tergambar.5.11 tm Tanda/arah o n o p .12 ton 5.16 t t 2. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga. 2. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.6 t 0 0 3 tm 0 3.76 ton 1.50 t 2.88 m Nilai 4.tekan .63 t 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .88 t 3 ton 9. Ditanyakan.50 t 1. a) reaksi perletakan b) bidang N.

.l 3 0 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.l 6 q. X= Momen = M L 3 = 0.6 ton 0 0 5. Jawaban soal no. 4 .06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««. B «««.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p . 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3..5774 L dari A A B C X= Nilai q. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.l 3 0 0 q.l 6 q.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no.

24m Nilai 4. Daftar Pustaka - Suwarno. ITB.67 tm 3. Bab I Soemono.5 ton 3.5. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x . 2.5 ton 1 ton 0 0 0 0. ƏStatika IƐ.7.24m dari B A B X = 2. UGM.5 ton 0 0 4.6.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. Bab I.5 ton 4.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.

l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .2.2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.a l a . x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.

Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.l ton 2 a. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air.l 3 1/3 l . dengan beban segitiga diatasnya. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.a l ax A Px a.

Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. . Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. bambu atau baja tersebut.6. bambu. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. dan profil baja. baja.31).6.1. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.30.31. Gelagar Tidak Langsung 2. bambu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung.

31. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .

Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel.32. Penyederhanaan awal. tidak 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. gel.2. gel. memanjang P P P .6. melintang gel. untuk gel. Penyederhanaan akhir. memanjang gel. induk). maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. induk / G ambar 2.6.3. melainkan lewat perantara gelagar melintang.33. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. tida k langsung Gambar 2. q kg/mƞ beban terbagi rata gel.

P/2 . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. P = 6q P² .P. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. memanjang genap.35. 2P . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. 2P . dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel.q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . melintang.qP² .

5 P)² = 4. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P . ½ P = 3.125 q P² = 3.125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.375 q P² .½ q (1. 1.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0. Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.q P .125 q P ² 8 P/2 = 3 qP . 1.1.q P .5 P .5 P² .25 q P² Perbedaan momen (0.½ q (2P)² = 6q P² .5 P . 2P . 1.5P .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.½ q P .

garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier. tapi kalau gelagarnya tidak langsung.37. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . lantai = 3.125 q P² = 3.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang). namun s eperti gaya lintang beban terpusat. 2½ P Gambar 2. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.375 q P² .0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M.

6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2.6.5. Bidang N. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan.5 t/mƞ sepanjang bentang.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. H A . Latihan Soal 1: q = 1. Ditanyakan : a). D. q = 1. H A. Gaya reaksi V A. Gaya reaksi V A. Penutup Untuk mengukur prestasi.6. 2. . 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. RB b).6. 2. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada. D.4. RB b). Bidang N. M. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.

5 t 0 4.25 t 1.5 t 1.5 t 3.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.25 t 1.5 t 4.5 tm 0.75 t 0.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .00 t 0 5.5 t 1.25 tm 4.0 t 1.0 t 3.75 t 2. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.25 t 1.0 t 3.

5 ton 3.8.5 ton 1 ton 0 0 0 0.0 tm 0 0 4.6. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .73 tm  + + Momen = M + 2.67 tm 3. Daftar Pustaka - Soemono. 2.24 m 3.24 m dari B A B X = 2. ITB-Bab I Suwarno.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2. ƏStatika IƐ. . UGM Bab I. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.6.7.

gaya lintang dan gaya normal. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. tersebut berjalan suatu muatan. atau N (Normal).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi).7. . gaya momen.1.7. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. dan gaya no rmal.2. maka didalam suatu garis pengaruh. Jika dua hal tersebut dipadukan. Garis Pengaruh 2. jika di atas struktur jembatan 2. gaya lintang. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. atau gaya dalam M (Momen). gaya momen. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut.7. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan.

x = 0 P.P. R B + G. Gambar garis pengaruh R A dan RB .P.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.l ƛ P.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.P.38.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.P. R A RA . l ƛ P (l-x) = 0 P(l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.

maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l . jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. y2 atau Gambar 2. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.3.RB Gambar 2.40.41.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.R B Gambar 2.39 A c 1t + y3 GP.7.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.R A y2 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.R B t A C a + y1 y2 GP. dimana d c ton dan y 4 = ton.beban y1 dan RB =sama 4 . dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.39.R A + P=1 GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.

R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 .43.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1. sejarak dari titik A. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.R B + y3 GP.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. sejarak b dari titik B. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP. sejarak d dari titik B. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .42.P.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G. R B - b/l G.P.P.44. Gambar garis pengaruh gaya lintang . Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P.P. l ƛ P.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2. R A l x ton (linier ) l x=a G.

tm ª l º = 0 tm Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. b =  Untuk P di A x .b a.P. M c ¨l a¸ b © ¹ ! . Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) . a .M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a .P.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . a tm = © ¹ . P = 1t x G.P. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a .a x=a Mc = G. a tm ª l º Untuk P di C GP R A.45.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.

R A . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.R B.R A. 2 = .R B : 7 .4 GP. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.DD - 1 t 3 GP. DBkn Jawab : GP. 4 = .2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . MD lihat kanan bagian x M D = RB .2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP. RB. DD.M D + GP. M D.2 ! tm . 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.2 - GP.R B 1 t 3 2 3 + GP.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .

Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .46.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.MB 2 tm GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.DBkr 1t GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.R B GP.DD P antara A-D D D = .

MI max. max. GP D I.4. Soal 2 A 3m berjalan. RB max. DI (-) max. 3m berjalan. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya.7. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GPD I. GP RB. M max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. ditanyakan GPR A. GPRB. ditanyakan GP R A. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. MI max. . 4t DI (+) max. GP MI a) Bila beban Ditanya.

2. Penutup o Untuk mengukur prestasi. = + 9 tm Mmax. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2.5 ton D I (+) max.6. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. = + 3.7. Max. = + 9. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton).1875 tm . = + 5.5.3 ton MI max.

6 ton 0 0.4 tm 1.175 ton = + 9. UGM Bab I.7. ƏStatika IƐ.3 ton 0 0 2.18 tm Nilai 1 ton 0 0. 2.4 ton 0. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.3 ton 0 1 ton 1.7.Garis pengaruh - Beban berjalan .3 ton 0 0. MI max.7.Soemono.8. 2. Daftar Pustaka . - Suwarno.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max. Bab I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no. ITB. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . Senarai .

3. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. a).1. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. yaitu 3 buah dimana A = sendi. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. maka jumlah . B = rol dan C = rol.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b.

RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. RAH. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV.2. 7M = 0. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. 7H = 0. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi.2. RBV. 7H = 0. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. 7H = 0. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. RBV.1.1. Skema balok gerber 3. maka bisa didefinisikan bahwa : . RAH.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan. .

C = rol. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. B = rol. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. R . dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. disebut dengan konstruksi balok ge rber. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. 7 H = 0. 7 H = 0. yang masih statis tertentu. 7M = 0 dan 7M D = 0. . R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. RAH. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. R .

Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.3.3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.1. Detail sendi gerber .

3. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A .4.4. dimana balok DC tertumpu di balok AB.1.

maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3.6. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. D B C Cara memilih : alternatif (1).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. Kalau dilihat dari sub bab 3. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas.1. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. jadi untuk sementara diterima saja. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2.5. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. Apakah mungkin ? Perhatikan . maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. sendi gerber belum ada. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. maka konstruksinya masih statis tak tertentu.2. sehingga struktur bisa diselesaikan.

RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. perletak B = rol. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. Perhatikan balok DBC. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. perletakan A = sendi. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. Perletakan D = Gambar 3. RDH).7. . jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.8. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 .5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.1. b2 Jika konstruksinya (a).

dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). (ada 2 reaksi). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. c = rol (ada 1 reaksi). Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . . perletakan D = sendi. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). perletakan B = rol (ada 1 reaksi). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. jadi tidak ada reaksi. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. perletakan. dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). Perhatikan balok DC (gambar b2).

D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). maka balok AB bisa diselesaikan. Bidang-bidang gaya dalam (M. Skema pemisahan balok gerber . N. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3.9. Penggambaran bidang M. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). N. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD.

1 = 0 RS = P.6.6. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.8 ƛ 2. 4 ƛ P. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C. . 4 ƛ P.6.3 4.3 ! ! 3t 4 4 BID.667 m 7 MA = 0 RS.2 ƛ q. A = rol C = rol . D.3 = 0 RA. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. Ditanya : Gambar bidang M.1.6.833 m 5.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.10.3 = 0 RC.3 = 0 RC.3 = 0 BID.6 ƛ 1. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8. N Gambar 3. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar. M 2.6.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA. dengan jarak 1 m dari A.6 + RS.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.6 ƛ RS.33t 3t + 1t BID. N.= P.8 ƛ q.6 + 1.1 4.2 ƛ 2. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.

667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2. 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.667-x2 ) = 0 x2 =5.0287 tm.1.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .x = 3.x-P (x-1) = 3.833 ƛ (2.667.x 2 - = 5.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.x1 = .02589 = 8.x2 - Mx2 = 5.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.Rs.667 x 2 .667.2.833)² = 16.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .0546 ƛ 8.q x2² (parabola) 2 1 .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .667 t Dbkn = -5.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.667 + 2 . Latihan .Rc + q .5.5.6.6 = + 6.1. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.667 + 2.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = . x 2 2 = .333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .

Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . Atau .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). D) Suatu balok gerber dengan 1). Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M.8. S = sendi gerber Beban : P = 5t. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . Gambar : bidang.bidang 3. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. A 2 m 5m 2 m 4m 2). o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah.1. dengan perletakan A = sendi. N. Rangkuman o Balok gerber adalah : . B = rol C = rol. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit.

1. 1 Keterangan Titik A Harga 1. 3.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . Penutup Untuk mengukur prestasi. Soal No. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.4 ton 7. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.4 ton 3.9.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1.

5 tm 0 2.10.1. 3.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya. Suwarno. Daftar Pustaka 1. Garis Pengaruh Balok Gerber .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.11.5 ton 2.2.5 ton 2.5 ton 5 ton 5 tm 2.1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.5 ton 5 tm 0 7. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2.

Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A).1. Gambar 3. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.2. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d).11. reaksi ada di B (R B). o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan.2. 3.2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

2.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.q dx Mc = ´ y.Mc y2 C dx P.a.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.y GP.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.

Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.Dc Gambar 3.15.

Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.1.16.2.4.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.2. Prinsip dasar perhitungan . Pendahuluan Pada kenyataannya. 3.4. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.4.2.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum.2. . muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. .

Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.Mc y4 y5 Pada posisi awal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l.17. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.

bagian kiri titik C dan . c1 c (x .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x. c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.c1 ¹  § Pr © .

.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. 34. 23.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. 23.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) .34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B.12.18. dan 01 (dengan skala) . 12.

Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. . . yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.Dengan cara yang sama. . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. .Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12.Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. . tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- .Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II.

2. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi.19. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.5. .2. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.5. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3.1. . Jadi dalam hal ini-: dicari !!. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. . mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. 3.

Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. Prinsip Dasar Perhitungan . Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. P 3. R2 dan P3 atau resultante P 1. P4.r = R1 .2.2. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. a ƛ R2 . dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. .Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. b 7 MA = 0 1 _P3 . Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1. P2. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.5.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.

2. Rt .5).4. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.3.

l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar . r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar.20.

1 + P3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.6.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0. ditanyakan : GP R A . Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.2 = 20 .x 6.1 4. GP R C .2 = Rt. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.21. GP R B.1 4.45 r =1.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.1 + 6.2.45 Rt Gambar 3.

GP R B. GP D I. 3. ditanyakan : MI max . ditanyakan. GP M B. GP DB kanan 2 2 b). GP R D GP M I.7. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. Akibat rangkaian beban M max berjalan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. RA 8m 2m a). GP R C .2. GP R A . Rangkuman .

3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.2. .Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o . maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan.8.

25 t 0 0 0 0 0 0 1. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.25 t 0 0 0 0 1t 1.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.333 tm 0 0. 2 a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.

pada saat P 2 terletak pada titik I .333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).5 t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0 0. MI max = + 14 tm.

ITB.9. ƏStatika IƐ.10. terjadi pada titik dibawah P 2 3. Daftar Pustaka . bab V-4 3.05 tm.Soemono.2. bab V . Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.Suwarno. UGM. .2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). (c). N. a.1. D) 4. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. . sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. (a). dalam.1. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M.1. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m.

2. kedua perletakan dibuat sendi. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.1. struktur pelengkung tersebut. Pelengkung sungai Gambar 4. 4. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4.1. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.2. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.1. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. gelagar memanjang.2. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. Penempatan Titik s (sendi) . Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c).1. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut.1. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.2.2. 7 V = 0 dan 7 M = 0. Dengan konstruksi pelengkung terse but.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi .3. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).

maka M E-E = VA.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.x . h1 f I = VA .q x² diatasnya.3.x1.q x12 ƛ 2 B HA.1. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .4. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.h1 B Nilai I = V A . Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ. x 1 HA HB II = HA.

Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.3.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A.1. (hA-hB) ƛ P1.b1 = 0 (1) . P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.6. 4.1.l ƛ HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.5. Cara Penyelesaian 4.3.h1 Gambar 4.1. Gambar nilai I = V A.

a ƛ HA.hA ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .

masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . 7M A = 0 VB.a1 = 0 7 M S = 0 V B . h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari. HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.H B . (4).l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1. Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.

Bv.l ƛ P1. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.a ƛ P 1. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab . a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.l ƛ P1. a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. f = 0 Av .b ƛ Ba . maka nilai Ab bisa dicari. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv.S1 ƛ Ab . f = 0 Bv .

(³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B.

x.2. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. maka Mx = V A .HA . seperti pada gambar (4. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ.3. II II = HA . bukan pelengkung.8. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.b l RA + Bidang D RB Gambar 4. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.8).a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya.1. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA .9 disamping. x ƛ ½ q x² . gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). y I = VA . x P Untuk balok yang lurus.3 Gambar (c). gaya lintang (D) dan gaya normal (N). x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).1.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.2.

10. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. Vx = V A ƛ q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx.

11. x cos E = .( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = .Vx sin E.

Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. bidang gaya lintang (Bid.13. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA.12.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. H. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2.5 m dari titik A. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. Mc. D) ataupun bidang normal (Bid. S Ec C yc f=3 m A H 2. VB. . M). nilai gaya lintang. N).

5  1 / 2 . reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga.3.2.5 (10  2. l. ½ l = 0 VA = ½ .Xc² = 15 .10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.Xc ƛ H.H . 3 .25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .5 ƛ 12. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² .5m Gambar 4. 2. Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.5 ton 3 3 VA .5  1 / 2.yc ƛ ½ .5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2. 5.14.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. 25 ! ! 12. 2.5 m yc = 4. 3 . l ƛ q. ½ l = 0 VB .q. l ƛ q.l.25 ƛ ½ .5) ! 2.5 . (5)² = 0 H= V . 2.3. 3 ƛ ½ q . yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA .q (5)² 15.

2. 0.5774 ton.5 = 7.(7. 0. Vc = VA ƛ q.8575 ƛ 12.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.8575) = .x = 15 ƛ 3.15.sin Ec + Hc cos Ec) = .5 .5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.5 .(Vc.5 . Nc = -14.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.5 . jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.4312 ƛ 6. 0.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .5145 = 6.14.5 ton ( o) Hc = H = 12.5145 + 12. Contoh 2 xc=2. 0. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = . Dc = 0.

Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.

5 ƛ HB .92 ton ( n)  5.5. 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . f = 0 1.152 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4. ½ l ƛ H B .92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 .08 ƛ 1.92) = 0 .6 .2 (10  2) ! 1.yp = 0 VA .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .92 = 0 (cocok) .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. ½ l ƛ HA . 3 ƛ 6 .yp = 0 VB . l + P.08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4. 1.P. 1.152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1. 5 ƛ HA .1.92 = 0 VB . l . 1. 10 . 10 + 6 . 3 = 0 HB = 1.48 ! 4.76  6.3.76 ƛ HA .152 .

18 ƛ 1.25 m Ec = 30. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.5145 Dc = .88 + 9.98 HB = 4.5145.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1. 2.152 .152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .2.96° sin Ec = 0.92) = -1.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4. cos E = 0.V A .Xc + HA . 0.92 ( ) 0.08 = 1.08 . 25 ƛ 6 (2.25 ƛ = .8575 ƛ 1. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.152 .92 .17. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.8575 Mc = . = -1.5 + 4. 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.

0.1. HA. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. Nc. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. 0. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. Mc.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1.0537 ton 4. VB. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. HB.92 . 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA. Mc.152 . Nc. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1).5145 ƛ 1.4. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). HB. HA.8575 = . VB.

Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.5 ton 6. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.1. Soal No. Sedang bidang momen.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.6 0.8 o o p n .667 ton 4.75 0.25 m 0. 4. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.5.5 ton 4.6. Penutup Untuk mengukur prestasi.1.667 ton 2.

bab 4.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.36 m 0.8. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.3672 tm 2.64 0. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan). Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.9675 ton 5. Soemono ƠStatika Iơ ITB.8336 ton (-) (-) Soal No. Daftar Pustaka 1.226 ton 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.9675 ton 3. . UGM.184 ton 5.7.5625 tm ~0 5.1.539 0.1.842 7.774 ton 1. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10. bab 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus.P. V B dan H Px ) l .2. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.f Untuk P di A . Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.18. H P.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . x = 0 Untuk P di B . s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. a . Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. Garis Pengaruh Reaksi x P S G.2.P. a. 6 MA = 0 VA H l a G.3 Prinsip penyelesaian.P.2.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . a f Px b . b l . b f VA . yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.2. f = 0. Garis pengaruh V A.1. b = f V B . 4. VB . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen.2.P VA (+) 1t G. 4. x = l G. x = 0 1t Untuk P di B . b ƛ H .

b c l . a . f ton H= 6 MS = 0 VA . maka lihat kiri potongan (kiri C).f G.P. a .C = G.f v G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A .v l G.H . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan. v . x = 0 p H = 0 Untuk P di S . u . M C pada balok di atas dua perletakan l G. bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P .f = 0 a H = VA . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . u . u . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B .P. x = a p H = P. u dan V B . a.b ton l. B H b MC = VB . R l C u VA VB Bagian II H.P. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C).P. M C = VA .P. H x C v P. x = a H=0 P.H . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B).b ton H= l . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . x = l Untuk P di S .P. bagian I (+) P . v sama dengan G.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H.

P.) v sin E H b l GP VB sin GP.Mc C. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G. VA sin D dan V A cos D. NC bagian I Q sin E l (+) ( . V A Sin D D GP NC Bagian II () P. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D.P.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D .f .H sin D I II I -> identik dengan G.P.19.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4. Gambar GP. a . sehingga: NC = . b cos E l . Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.P.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G.

Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. D C a b sin E l. G. Gaya lintang G.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.P. NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.20. untuk GP.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a .b cos E l .P. f Gambar 4. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

½ P = ½ q P R2 = q . ½ P + (b/P ). . . . . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q .24. transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . (a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. . Kondisi pembebanan kolom (b). Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 .

qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0.Xc-R2. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4.5 ton a R1 R2 C R3 S e . R3. Cos E . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.4. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA.Yc Nc = -(Vc . Menjadi (R1. .e-HA. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.25. R2.Xc-R2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.e-HA. . Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. sin E + Hcos E) Dc = Vc.4.Yc Vc = VA. .5 ton R5 = 1. . . Pendahuluan . .1.

2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. P . Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. P .33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I.26. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. dengan ordinat 1. Jika letak . atau 1 kg atau Newton) . P .Y1 + P2. A C I D E ½ ½ P P + 1.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara.2. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. 4.N.5 P .33 P 54. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. P .Y2).4.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a).33 P 54. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.5P . (1 ton. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1.

Dc dan Nc .27. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Gambarkan Garis pengaruh Mc . M I gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP.

S .b yc l. GP Mc = V . Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.P. .b cos E lf pemaparanG. f H R VB H VA Q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian. 4.H sin E Cos E P. 28. b GPMc bagian I P. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. Pendahuluan .b sin E lf pemaparan Gambar 4.P.f G.yc A  ] II I .5. a .Y l P.Q.5.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.a .Dc = Av cos E . C yc .f G.Nc = .x  H.P.1. Judul : Portal 3 sendi 4. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung. Mc total (bag I + bag II) - II + P.a .Q.a .a.b yc l.

2. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. 4. bisa berupa balok menerus. balok gerder.5.29. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.

a1 = 0 VB. b2 = 0 VA.l + HA.a + HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4.l + HB. b1 ƛ P2 . (h ƛ hƞ) ƛ P2 .hƞ ƛ P 1 .30. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.l + HB. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB. a2 ƛ P1 . S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .h ƛ P 1 .hƞ ƛ P2 . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.

Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.31.

a 1  P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. f = HA . f = HB . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .a ƛ P1 . b 1 ƛ P2 .b 2 l 7 MA = 0 Bv. f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA .b1  P2 . f ƞ Bv. f ƞ Av.a  P1 . b 2 = 0 Av = P1. f = 0 BA = Bv . S 1 ƛ AB . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .l ƛ P1 .l ƛ P1 .a 2 l Nilai A B . f = 0 . S 2 f Nilai BA . a1 ƛ P2 .b ƛ P2 . b  P2 . a2 = 0 Bv = P1. S 2 ƛ BA .

l ± q .3 . 4. 3ƛ2. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.3 . 3 .6 ± 4.1 = 0 Av.5 ± 4.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av. P =1 Penyelesaian.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4. 38 ! 1.4333 ( q) Bvƞ = 0.6 ± 2.q .3.32.5 - P.5ƛ HA.l ± P. 1. 4. 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av . 3 . 2/6 = 0.5 = 0 Bv Av. tg E Avƞ = 1. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.5 ± 2.5 .3 ton .3 . selesaikanlah struktur tersebut. 1.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .3 ton Avƞ = H A .

3t B B 5.4333 m = 4 5/6 + 0.3t 4.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.7334 t VB = Bv + 0.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.4333 = 5.4333 = 4.7334 + 5.7334t 1.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.2666 t .

3 t 1.1 H B.7334 ƛ 6 = -1. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.40127 tm (M max) MD = -HB . 6 = .4 = .2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.C A x 4.7334 .2666.3 t Gambar 4. 2 (2. 2.60127 5.3 ton Daerah B-D 5. 4 + 4.2666 t x=3m Ds = 4.3 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.20254 ƛ 5.3667 ƛ ½ .3t Dx = VA ƛ qx 1.7.6 = 5.3667 m (daerah cs) x = 2.3 t 1. 4 + VA .8 tm Momen dibawah beban P MP=VB. N.3 . Bidang M.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.2666 t Mx = -1.3 t = .3667 Mx = -HA .2 + 11.3667)² = -5.8 tm - Mc = -HA .5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1. 6 = -1.1 ƛ 7.5.7334 t BIDANG N - Di S 5.3 t 4.2 tm - S D 7.2666 t = 0. 4 = -1. 2.32.3667 ƛ ½ .7334 ton Daerah C-D = -1. q (x²) .3.2.8 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4.6. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.33. .34. 4. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu.2. maka untuk memperpanjang bentang.6. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu.6. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a).1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan.

35. . Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.6.3. merupakan struktur yang menumpu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya.

(a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.36.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.2. Pendahuluan Seperti biasanya.7. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.7. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. 4.7. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.1. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada.7. Contoh Penyelesaian .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4.3. S (b) B GA ambar 4. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.

f l d.RB b.d l.RA a.R B + c l + + d l a.ND=G P.f ! l.f GP.a l cb l GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.v l a.b l .RA .M D cb l Gambar 4.37.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.H u. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.f - + + GP.f GP.b .DD Q l GP.b a.c l .

b ƛ H. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .b p H ! x p ND !  l l f lf .f = 0 H = RB .RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.p nilai H. R B f P di E RB = c c l c. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.p. ~ g. b . N D Garis pengaruh N D sama dengan g.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP.

V l II = H . 4.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .8.a f P di S b a ab RA = b p H ! . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. Q .H .f = 0 H= R A . p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .MD P berada antara D C M D = RA . p N D !  l l f l f P di S 1 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. f = Garis pengaruh H x f. a ƛ H.

P N C bawah . G. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar.P. G. ditanyakan : G. H. G. G.P NC kanan.P D C bawah.P. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G.D C .P VA .P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu.P. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. G. G. ditanyakanL G. N C . G. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. . G. VA .P.P.PH.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung.

Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.1175t 0 0 0.10.447t 0.5t m 1.447t 0 0 0 1.447 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.5 0. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .335t 0.782t 1. Rangkuman 4.9.

20t 0.60t 0.336t 0 0 0.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.084t 1.384t 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.25t 0.333t 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No. UGM Bab VI dan VII .333t 0 0 0.40t 0 0 1.11. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. Daftar Pustaka Suwarno.

) . MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.R.B.1.12. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.

Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. tapi kalau materialnya dari kayu. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.1. ba mbu atau baja. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. maka kita harus merangkai material tersebut.1. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. 5.3.1. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga. Rangkaian dari material bambu. Jika materialnya dari beton.4.1. .2. 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5.

5. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). Pada konstruksi kayu memakai baut. pasak atau paku.5.1.R. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut. 5.1. Bentuk K.B. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. paku keling atau las.1. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5.

2. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.3.R. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. .B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5. Detail I.

atas (ikatan angin atas) 1 K. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.1. Pada Jembatan K.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.R. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.R. Ruang terdiri dari 2 K.B.R.B.R.B.B. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .R. Gambar 5.R.B.4.B. bawah (ikatan angin bawah) K.5. Bidang.B.R. sisi 1 K.

3.R. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.B.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.1. Konstruksi rangka batang bidang .B.5. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.R. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.

15. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.4.B.B. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus. Rumus Umum Untuk K.6.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5. r = jumlah reaksi perletakan 5.1.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.R. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .

Keseimbangan titik buhul a. Cara grafis dengan metode Cremona .7. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.Ky = 0 b.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.R.Kx = 0 dan 7 . 1.6. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .B.

a. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat.1. Metode Penukaran batang 5. Metode Potongan : a. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 .V = 0 ata 7. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul.8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. Cara Analitis Metode Ritter b. b. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. Cara Grafis Metode Cullman 3. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung.Kx =0 7. y 7H=0 7.

8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik . Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.

Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. selesaikan struktur tersebut. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5.9. V2 dan V 1ƞ. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. A2 dan A 1ƞ. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. .4 . P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . D2 dan D 1ƞ.4 . B2 dan B1ƞ.9. tiap -tiap batang perlu diberi notasi. 4 P . 4 P . 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. Untuk batang atas diberi notasi A 1. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1.1. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.

gaya yang searah diberi tanda sama. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik.R.10. Dalam penjumlahan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui.B. . Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan.

½ . V1 = . 2 7V=0 .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= . 2 A1 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.½ D 1 A1 = . 3 2 .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2.

2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .1t (tekan) . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

P2 = 3t Ditanyakan : RB P a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. D3 1t ƛ ½ . Gaya ƛ Reaksi B b).10.gaya batang RB . 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . Beban . Gaya reaksi b). P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). Gaya. 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. 2.1.

00 t 1. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.11.12.835 0.808 t 4.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .000 t 2.1.00 t 6. atau gaya tekan. 667 t 6. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.667 t 5.20 t 1. bisa berupa gaya tarik. Pencarian gaya-gaya batang.20 t 4. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. 5. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.333 t 3.555 6.1.333 t 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.

- - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .14.1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.13. bab 5. UGM Bab Soemono. ƏStatika IƐ. - Daftar Pustaka Suwarno.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No.1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful