P. 1
33275901 Modul Mekanika Teknik 1

33275901 Modul Mekanika Teknik 1

|Views: 3|Likes:
Dipublikasikan oleh Imaem Hartono

More info:

Published by: Imaem Hartono on May 18, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/03/2014

pdf

text

original

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . pertemuannya di titik 0.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. OABC . tapi masih sebidang. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. . Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. tapi titik tangkapnya tidak sama. .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1.2.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. ar 1.

. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. Urut-urutan penjumlahan.4.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. K2 dan K3. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.

 A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.5.

K3 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. D F E. salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.

d.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. garis . c. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . b.6. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. K2. Garis-garis tersebut dinamakan . K2. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). K2. dan e. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. K3 dan K4 yaitu R.

K3 dan K4. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. K2. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. diproyeksikan.1.7. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. K2.2.4. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . . .

K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. secara analitis K1x = K1 cos E . K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1.8. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : .

1.1.5. . Latihan 1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton.6. 3. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar.1. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K2. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. K3 dan K4. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1.

mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. ƏStatika IƐ ITB. French. secara bertahap. 3.1. Penutup Untuk mengukur prestasi.7.5° dari sumbu x R = 11.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . No. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11.1 ton sdt = 22. sedang soal no.1.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1.5° dari sumbu x R = 12. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis.1 ton sdt = 22. Samuel E.9. Soemono. Suwarno. Daftar Pustaka 1. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. Bab I 1. 3 hanya berupa grafis. 2.8.1. Bab I. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

balok.1. jembatan dan lainsebagainya. kolom. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung.2. 1. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. reaksi. mengerti tentang beban. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. Contoh : a.9. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. balok. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik.2. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. reaksi dan gaya dalam. kolom. apa itu beban.

peralatan dan lainsebagainya. a. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. a.2.2. balok perletaka n Gambar 1.2. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . dan lain sebagainya. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. kendaraan. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. misal : meja.10.

Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . Gambar 1. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. dan lainsebagainya. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. kg. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. Newton. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b.11.12.

Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi.2. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur.1.3. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. Contoh : a. konsep pengertian tentang perletakan. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. dan lainsebagainya.3. 1. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. jembatan. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur .2.

2. sendi. maka oleh rol tersebut dari atas. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil.15. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. jepit dan perodel.14. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. ada reaksi vertikal.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. perletakan Gambar 1. .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.13.2.3. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. (Gambar 1. a.

18.17).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Rv RH c. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. Jadi sendi tidak mekanika teknik. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas.17. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan.16. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. Karena struktur harus stabil. oleh Rv Gambar 1. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1.

dan momen Gambar 1. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. horizontal. ada reaksi searah pendel. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. ada reaksi vertikal.21.21. balok baja pendel Gambar 1. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d.20. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.

Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.22.

suatu kotak yang dilem diatas meja 1. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang.3.2.3.23. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung.3. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. dan bagaimana cara menyelesaikannya. mahasiswa perlu mengetahuinya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. Keseimbangan vertikal . hal itu merupakan syarat utama. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda.1. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. jembatan dan lain sebagainya. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. 1. a. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun.

Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal.24.25. maka kotak tersebut langsung tenggelam. Kotak Gambar 1. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv).25) Gambar 1. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Kotak tenggelam dalam lumpur b. (Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). maka kotak tersebut tidak bisa turun. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal.

sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM).27. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). PM Kotak Lem Meja . Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. maka kotak tersebut langsung bergeser.26. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH).27) Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). karena tidak ada yang menghambat.

30. dan tidak bisa terangkat. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM).29. Keseimbangan statis . momen maka kotak tersebut bisa terangkat. yang RH berarti harus stabil. RM Gambar 1. Gambar 1. benda tersebut harus tidak bisa turun.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja.

agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). atau RV . maka syarat minimum RM = PM atau RM . 1. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang. Latihan 1. tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat).4. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ).3. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol).  Dari variasi tersebut diatas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV).

Rangkuman o Macam-Macam Beban . P. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.Rol punya 1 reaksi .3.Beban terpusat.Jepit punya 3 reaksi . kg atau ton atau Newton . notasi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?.Sendi punya 2 reaksi .Beban terbagi rata. notasi. 1. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. Penutup .3. satuan. Rv = ? 2. q.6. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .5.

3.7. Suwarno. 2.3. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1. Daftar Pustaka 1.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .

seperti gedung-gedung. ada beberapa macam sistem struktur.1.1. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.1. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. jembatan dan lain sebagainya. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2.

1.1. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2.1. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. 2. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) .maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.3.2. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. Contoh a).

RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah.3. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. A B Gambar 2. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2.2. Konstruksi statis tidak tertentu . B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A).4. b).

Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.1. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. b).6. Latihan a).mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Penutup Untuk mengukur prestasi.4. 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2.1. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.1. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan.5. Perletakan A dan C sendi. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.

2. 2. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton.1. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen .1. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2.8. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2.1. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. kayu. Daftar Pustaka 1.7. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2.2. baja dan lain-lain.2. Jadi diatas adalah statis tertentu.

pendek (A). maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). Contoh (b) 2. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur.3. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. Gambar 2. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. kolom. Orang membawa membawa beban tersebut. 2. P1 A L1 Gambar 2. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. memerlukan gaya dalam. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). dansebagainya). demikian juga untuk orang B.7. pelat. P P Untuk A orangnya pendek.2.2.6. yang satu lagi besar. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2.5. tinggi. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang.2. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. Contoh : a). satu kecil. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. tinggi (B).8.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg).2. Gaya Dalam Momen a).4. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. x ƛ q. 2. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak .(pers. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. Mx = RA .x. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut.9. o Balok tersebut menderita gaya lintang. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar.

(pers.10.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) .

2. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif.11.5. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Tanda momen 2. Tanda momen (-) * Gambar 2. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.12.13. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Demikian juga sebaliknya.

Potongan balok bagian kanan . y kalau dilihat dari C ke kiri potongan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB.14.15.

atau kalau dilihat di kanan RB potongan.16. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). Karena RB adalah merupakan reaksi. C RA Dilihat dari kiri potongan C. . P Jika dilihat dari kanan potongan c. gaya yang ada hanya RA. jumlah gaya arahnya ke atas.

Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). Gambar 2. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ).17. A Dilihat dari kiri potongan D. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . Jadi RA < P. karena RA adalah reaksi. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. D maka gaya lintangnya tandanya negatif.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2.

P P Kalau dilihat pada Gambar 3. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.6.19. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N). Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. * Tanda Gaya Normal . Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang.18.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. .Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. maka pada batang AB (Gambar 3.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. 2. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.2.

maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .2. 2.7. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.

q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. P2 = 6t (¶). Ringkasan tanda gaya dalam 2.20.2. P1 = 2 2 t (º).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. q1 = 2 t/mƞ. P3 = 2t (´) P4 = 3t .8.

10 ƛ q2.4 + 2.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.6 + 6 + 1. (Bidang M.7  6. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.1 = 0 2.q2. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas. gaya lintang dan bidang normal.21. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.10 ƛ P1R.6.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .7 ƛ P2. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.6.2 .6 ƛ q1.q1 ƛ P2.12 ƛ q1.12  2.3 + P1R.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.1. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.6.4  2. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.6 + P2 + q2. yang searah diberi tanda sama.6. N. RBV 71%! RBV.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.1  6.6  2.2 = 0 1.3  2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH. D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = . di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = . Perletakan B = sendi ada RBH.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas).2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A.

Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . Variabel x2 berjalan dari E ke B.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). x2 = + x2 (persamaan liniear) . jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B). DE = 0 Dx2 = q2 .7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. melampaui beban P2. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = . Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x.1ton lintang ke bawah) 2.6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.

2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = .7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).P1H = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = .4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. ND kr = . NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri. P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. dari E ke B nilai gaya normal konstan. dimana gaya normal dihitung dari titik C.

sehingga tanda negatif (momen P1v . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .P1v .4 tm.2 = . Daerah A D . x = .2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.5)² + 11.5 m Mmax = . x1 = 5.5.5.½ . lihat pada Gambar .22.25 tm.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.2 (5.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .5 ƛ 4 = 26.

62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan. titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.½ .½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .q1.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = . 1.3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.

D balok diatas 2 tumpuan . N.286 0.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0. Gambar bidang M.22.

1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). D Balok cantilever . D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. N.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1.23. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.9.5 24. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .2.5 32. Bidang M.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. N.

5 ƛ 1.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.2. a) reaksi perletakan b) bidang N.3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .5 tm ( ) MD : .5² = .5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.1 (2. a) reaksi perletakan b) bidang N.1.5 = 32.5 t ( ) 2. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.2 ƛ ½ .3 ƛ 5. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.10.24. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .6 ƛ P2.P1.

5 ton /m· . reaksi perletakan b). bidang N. t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . a). D dan M q = 1. Ditanyakan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .

11.5 ton 4 ton 4 ton 0 4. Penutup Untuk mengukur prestasi.tekan + + + + Momen = M . Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 0.5 tm 0 Tanda/arah o o p .5 ton 0 9 tm 10.5 ton 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.12.2.5 ton 3.2.

08 m kanan A A X = 3.0 tm 0 Tanda/arah o o p .625 ton 4. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.375 ton 2.375 ton 2 ton 0 0 7.13 tm 0.08 m D B C Nilai 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.75 tm 4.625 ton 4.tekan + + Momen = M + + - . 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.375 ton 2 ton 2 ton 4.

Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx. dx² . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.0 d Mx = Dx . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. .dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. Dx dx dan qx.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).24. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. gaya lintang dan momen.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.3.dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. dx o Kiri ada Mx .dx . Hubungan Antara Momen (M) . qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx .dx. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .

1.4.4. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. Seperti pada gambar. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar.25. Skema balok miring . terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga. balok atap dan lain sebagainya. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. misal : tangga. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. 2. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D.2. N. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan.4. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. 2. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . Ditanya : Gambar bidang M.

1.2. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.1 = 0 18 ! 3.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.5 ƛ q.2 ƛ 4.3.3 ƛ 4.a.6 ton = 2.5 ƛ 1.1 = 0 RAV.2.1 = 0 RAV = 7.2 ƛ q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.26.3 ƛ P 1.12 ton .2.2 ƛ 2.3 ƛ P2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.3 ƛ 4.4 ƛ 2.3 ƛ P2.3 ƛ 4.16.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.2 ƛ P1.4 ƛ RAH. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .

E! 4. 3/5 = -1.3.x .3/5 = .6 + (2 + 4) 4/5 = 1.// sumbu batang . 3/5 = .6 + (2 + 4 + 4) cos.1.6 + 2.b.RB = .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.3. 4/5 = .26.3.(4 + 2) sin E = -6 .(4 + 4 + 2) sin E = -10.6 + q.3. cos E= .6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .4 ton 4/5 .6 ton NC kr = .3.3.2 ton DD kr = -3. sin E = -2 .6 ton Dari B ke D Dx = . Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .6 + q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .2 ton Dc kr = .2 . cos E DD kn = .2 ton (dari kanan) ND kr = .

x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .6 .2 ƛ P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3. D 1 t/mƞ 4t B .q.  . N.6 .1.1 cos E = 3. 3. 2 1  .1 = + 5.2.75 ƛ 2. 3 .q.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .5 tm Gambar bidang M.2 ƛ 4.

Seperti contoh dibawah ini.27. Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Bidang gaya dalam pada balok miring .

1. beban tekanan tanah dan lain sebagainya.6 ton 2. Cos E) RAH = 2.1 . Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. 3/5 + 2.[(7. sin E NB = .2 + 2. 4/5] = . NC kn = .6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. 3/5 = .12 .5. 4/5] = . sin E E RAV . cos E .12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. 4/5 ƛ 2.12 NA kn = . DB = -2 ƛ 2.[(7.1. DA kn = 7.16 .1. NDkn = . sin E + RAH .2 ton.16 .3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.16 . 2.12 ƛ 4).2 .3.12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.16 t D = + RAV .RAH . 4/5) t = .12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.5.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.16 .2 + q. 3/5 + 2.1. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .16 . cos E (gaya // sumbu batang) RAV.16 .12 .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV . 4/5 = . 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E . 3/5 = 1. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . 3/5 = 4.1 .R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.(7. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.(RAV .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

P = 3 ton Ditanyakan. a) reaksi perletakan c) bidang N. D dan M 30° Soal 2 q = 1. Beban q = 1 t/m· .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. seperti tergambar. a) reaksi perletakan b) bidang N. . P = 3 ton Ditanyakan. D dan M Soal 4 3m RB . seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol. B = rol.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. B = rol Ditanyakan. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi.

besarnya merupakan fungsi x. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.50 t 2.88 m Nilai 4. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.12 ton 5. 2.4.6 t 0 0 3 tm 0 3. B = rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .16 t t 2.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + . seperti tergambar.50 t 1.5.88m jarak miring dr A A B C X = 2. Ditanyakan.5.63 t 2. D dan M 2. a) reaksi perletakan b) bidang N.815 t 4.tekan .tekan . Penutup Untuk mengukur prestasi. ketelitian perhitungan perlu.76 ton 1.11 tm Tanda/arah o n o p . mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.5.88 t 3 ton 9.

l 6 q.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .5774 L dari A A B C X= Nilai q. 4 ..l 3 0 0 q. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.l 6 q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.6 ton 0 0 5.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««. X= Momen = M L 3 = 0..l 3 0 0 0 0. Jawaban soal no. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. B «««.

24m dari B A B X = 2.7.67 tm 3.5.5 ton 4.6. Bab I. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.5. Bab I Soemono.5 ton 1 ton 0 0 0 0. ITB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.5 ton 0 0 4.5 ton 3. 2. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2. Daftar Pustaka - Suwarno.24m Nilai 4. ƏStatika IƐ. UGM.

l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .a l a .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.2.

a l ax A Px a. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar.l ton 2 a.l 3 1/3 l .l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . dengan beban segitiga diatasnya.

Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan. .6. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. Gelagar Tidak Langsung 2. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2.31. bambu atau baja tersebut.1.30. dan profil baja.31).6. bambu. baja. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. bambu. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut.

31. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .

Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. memanjang gel. melainkan lewat perantara gelagar melintang. Penyederhanaan akhir. induk). tida k langsung Gambar 2. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. gel.2. q kg/mƞ beban terbagi rata gel. induk / G ambar 2. gel. untuk gel. memanjang P P P .32. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel.33.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. Penyederhanaan awal. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata.3. tidak 2.6.6. melintang gel.

P. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. melintang. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA .P/2 . memanjang genap.qP² . 2P . 2P .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. P = 6q P² .35. melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel.

Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.q P .5 P .5P . 1.5 P² . ½ P = 3.q P . 1.5 P .125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .375 q P² .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0. 2P . Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .1.2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel. 1.½ q (2P)² = 6q P² .½ q P .5 P)² = 4.½ q (1.125 q P² = 3.25 q P² Perbedaan momen (0.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.0.37.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang). namun s eperti gaya lintang beban terpusat. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.375 q P² .125 q P² = 3. tapi kalau gelagarnya tidak langsung. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . 2½ P Gambar 2. lantai = 3.

6. RB b).4. D. q = 1.5 t/mƞ sepanjang bentang. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). Gaya reaksi V A. Ditanyakan : a).6.6. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar. 2. . mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. H A. H A .5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. M. D.6.5. 2. Latihan Soal 1: q = 1. Bidang N. RB b). Bidang N. Gaya reaksi V A. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. Penutup Untuk mengukur prestasi.

0 t 3.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.5 tm 0.5 t 4.75 t 0.5 t 1.5 t 3.0 t 3. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.25 t 1.25 tm 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.0 t 1.25 t 1.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.5 t 1.75 t 2.5 t 0 4.25 t 1.00 t 0 5.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . ITB-Bab I Suwarno.24 m 3.6. 2.7.73 tm  + + Momen = M + 2.67 tm 3. Daftar Pustaka - Soemono. ƏStatika IƐ.5 ton 3.8.5 ton 1 ton 0 0 0 0.6. .24 m dari B A B X = 2. UGM Bab I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.0 tm 0 0 4.

atau gaya dalam M (Momen). gaya momen. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. . gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. Garis Pengaruh 2. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian.7. gaya lintang. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. atau N (Normal). dan gaya no rmal. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut.7. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. jika di atas struktur jembatan 2. gaya lintang dan gaya normal. gaya momen. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut.7. tersebut berjalan suatu muatan. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). maka didalam suatu garis pengaruh. Jika dua hal tersebut dipadukan. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2.1.2.

x = 0 P.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.P. R B + G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G. R A RA .x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.l ƛ P. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .P.P.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.38.P. Gambar garis pengaruh R A dan RB .

Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.39. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.40.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.41.beban y1 dan RB =sama 4 . Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.RB Gambar 2.R A + P=1 GP.3.R B t A C a + y1 y2 GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 . Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .R B Gambar 2.39 A c 1t + y3 GP.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B. dimana d c ton dan y 4 = ton.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.7.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.R A y2 GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4. y2 atau Gambar 2.

y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP.43. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B .P. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. sejarak d dari titik B. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2. sejarak b dari titik B.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.42.R B + y3 GP. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. sejarak dari titik A.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G. R A l x ton (linier ) l x=a G. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P.P.44. R B - b/l G.P.P. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2. l ƛ P.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. Gambar garis pengaruh gaya lintang .

P.a x=a Mc = G. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .45. M c ¨l a¸ b © ¹ ! .b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . a tm ª l º Untuk P di C GP R A.b a.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB .P. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . tm ª l º = 0 tm Gambar 2. a tm = © ¹ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.P.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB. P = 1t x G. b =  Untuk P di A x . a .

R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.R B : 7 .R B 1 t 3 2 3 + GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A. DD. RB.2 - GP.R A . 2 = .DD - 1 t 3 GP. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.R B.4 GP.R A. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA . DBkn Jawab : GP. M D.2 ! tm . 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.M D + GP. MD lihat kanan bagian x M D = RB . 4 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3.

DBkr 1t GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.46.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.R B GP.DD P antara A-D D D = . Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.MB 2 tm GP.

GPD I. GP D I. RB max. DI (-) max. M max. ditanyakan GP R A. 4t DI (+) max. 3m berjalan. max. GP MI a) Bila beban Ditanya. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. ditanyakan GPR A. GP RB. MI max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC.4. . Soal 2 A 3m berjalan. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GPRB. MI max.7.

3 ton MI max.1875 tm . o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton).5 ton D I (+) max.6.7.5. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.7. = + 9 tm Mmax. 2. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. = + 5. = + 9. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max. = + 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. Max. Penutup o Untuk mengukur prestasi.

8. Bab I.18 tm Nilai 1 ton 0 0.175 ton = + 9. Senarai . UGM Bab I. MI max. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . Daftar Pustaka .2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max. - Suwarno.3 ton 0 1 ton 1.Soemono.3 ton 0 0 2.3 ton 0 0.7.4 tm 1. ITB.7.6 ton 0 0. 2.7.4 ton 0. 2. ƏStatika IƐ. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.Garis pengaruh - Beban berjalan .

a). Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut.1. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. B = rol dan C = rol.1. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. maka jumlah .1. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. ( yang mempunyai lebar > 100 m ).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . 3. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. yaitu 3 buah dimana A = sendi. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah.

7H = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan.1. RBV. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. maka bisa didefinisikan bahwa : . 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru).1.2. RBV.2. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. RAH. 7H = 0. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. 7H = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. RAH. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. Skema balok gerber 3. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. 7M = 0. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. . namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.

R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. disebut dengan konstruksi balok ge rber. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. R . R . 7 H = 0. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. B = rol. . C = rol. 7M = 0 dan 7M D = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. 7 H = 0. yang masih statis tertentu. RAH. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.3.3.1. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. Detail sendi gerber .

Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. dimana balok DC tertumpu di balok AB.1.4. 3.4.

Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. Apakah mungkin ? Perhatikan . sehingga struktur bisa diselesaikan. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3.6. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. jadi untuk sementara diterima saja.1. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. sendi gerber belum ada. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. Kalau dilihat dari sub bab 3. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. maka konstruksinya masih statis tak tertentu.5. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC.2. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. D B C Cara memilih : alternatif (1). untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3.

D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. Perhatikan balok DBC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. RDH). perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). perletakan A = sendi. . maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. perletak B = rol. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. Perletakan D = Gambar 3. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga).7. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

1. b2 Jika konstruksinya (a). Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.5. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.8. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.

. perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. (ada 2 reaksi). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). perletakan B = rol (ada 1 reaksi). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. perletakan. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). Perhatikan balok DC (gambar b2). Jadi alternatif (C) adalah mungkin. dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. c = rol (ada 1 reaksi). jadi tidak ada reaksi. perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). perletakan D = sendi.

N. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. Penggambaran bidang M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. maka balok AB bisa diselesaikan. Bidang-bidang gaya dalam (M. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). N.9. Skema pemisahan balok gerber . Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. N. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3.

6 + 1.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8. .3 = 0 BID.2 ƛ q. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b). Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.8 ƛ 2. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar. N.3 4.1 = 0 RS = P. dengan jarak 1 m dari A.6 ƛ 1.33t 3t + 1t BID.1 4.1.2 ƛ 2.6.833 m 5. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.6. 4 ƛ P. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. D.3 ! ! 3t 4 4 BID.8 ƛ q. M 2.= P.667 m 7 MA = 0 RS.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. A = rol C = rol . N Gambar 3. 4 ƛ P. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .6.10.3 = 0 RA. Ditanya : Gambar bidang M. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.6.6 + RS.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.6 ƛ RS.3 = 0 RC.3 = 0 RC.6.

Rs.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.02589 = 8.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.x1 = . 2.667.833 ƛ (2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.1.667.833)² = 16.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .q x2² (parabola) 2 1 .x-P (x-1) = 3.667 x 2 .x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .x = 3.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.2.x 2 - = 5.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.667-x2 ) = 0 x2 =5.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .0546 ƛ 8.0287 tm.x2 - Mx2 = 5. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.

6 = + 6.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.5.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .667 + 2 .1.667 + 2.667 t Dbkn = -5. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a . x 2 2 = .5.Rc + q . Latihan .333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.6.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .

Gambar : bidang.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. B = rol C = rol. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. A 2 m 5m 2 m 4m 2). S = sendi gerber Beban : P = 5t. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. N.1. D) Suatu balok gerber dengan 1). S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. dengan perletakan A = sendi.bidang 3.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . Atau . B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. Rangkuman o Balok gerber adalah : .8.

4 ton 3.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. Soal No. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu. 3. 1 Keterangan Titik A Harga 1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.4 ton 7. Penutup Untuk mengukur prestasi.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - .9.

3.5 ton 5 tm 0 7.1.5 ton 2.11. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2.1.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3. Suwarno.10.2.5 tm 0 2.5 ton 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2. Daftar Pustaka 1. Garis Pengaruh Balok Gerber .5 ton 5 ton 5 tm 2.

Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.2. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . reaksi ada di B (R B).2. Gambar 3. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). 3. reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).1.2. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d).11.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

2.a.y GP.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.Mc y2 C dx P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.3.q dx Mc = ´ y.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F . MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.

15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.Dc Gambar 3. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .

4. Prinsip dasar perhitungan . 3.2.2. .1. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.16. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.2.4. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum.2.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. . Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3. Pendahuluan Pada kenyataannya.4.

Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .Mc y4 y5 Pada posisi awal. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal .17. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.

dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .bagian kiri titik C dan .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x. c1 c (x .c1 ¹  § Pr © .

Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. 12. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. .Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3. dan 01 (dengan skala) . 34.12.18. 23. 23.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar.

Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I. . . sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . .Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ.Dengan cara yang sama. .Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.

M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.2.2. . M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari.5. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3.5.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum. 3. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. . Jadi dalam hal ini-: dicari !!. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi.1.19. . Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi.

r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan.5. a ƛ R2 .x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. P4.r = R1 . dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. b 7 MA = 0 1 _P3 . P 3. R2 dan P3 atau resultante P 1. Prinsip Dasar Perhitungan . P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. P2. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.2. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B.2. .

P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.3.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.2.5). Rt .

l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar . r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3.20.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.

GP R B. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.2 = Rt.45 Rt Gambar 3.2 = 20 .55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.6. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.x 6. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.1 + 6. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. ditanyakan : GP R A . GP R C .2.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.1 4.1 + P3.21.1 4.45 r =1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.

Akibat rangkaian beban M max berjalan. ditanyakan. GP R B. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. GP DB kanan 2 2 b).2. ditanyakan : MI max . GP D I. GP M B. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. GP R C . GP R D GP M I. GP R A . Rangkuman . RA 8m 2m a). 3.7.

1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu.8. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. 3. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.2. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. .Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber.

333 tm 0 0.25 t 0 0 0 0 0 0 1.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .25 t 0 0 0 0 1t 1.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0. 2 a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.

25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.5 t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .5 t 0 0. MI max = + 14 tm.

10.2. UGM. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain. bab V-4 3. ƏStatika IƐ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14.05 tm.Suwarno. Daftar Pustaka . . ITB. bab V . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .9.Soemono.2. terjadi pada titik dibawah P 2 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

dalam. (a).1. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. D) 4. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. (c). Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. .1. N. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. a. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut.1. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan.

7 V = 0 dan 7 M = 0. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0).2.2.1.2. Bermacam-macam bentuk jembatan 4.1. kedua perletakan dibuat sendi. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. gelagar memanjang.1. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). struktur pelengkung tersebut. Penempatan Titik s (sendi) . 4. Pelengkung sungai Gambar 4. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).1.2.1. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut.2. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. Dengan konstruksi pelengkung terse but.

Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4.3.

2 q kg/mƞ (c) Gambar 4. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.x1. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE. x 1 HA HB II = HA. maka M E-E = VA. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.q x² diatasnya.x .3.1.2. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 . maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA. h1 f I = VA .4.h1 B Nilai I = V A .q x12 ƛ 2 B HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.

b1 = 0 (1) .1.3. 4. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.1.5. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.l ƛ HA.3.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. Gambar nilai I = V A.h1 Gambar 4. (hA-hB) ƛ P1. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M. Cara Penyelesaian 4.6. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.1.

a ƛ HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .hA ƛ P1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3). 7M A = 0 VB. h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1. Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.l . (4).a1 = 0 7 M S = 0 V B . masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan .H B .

Bv.b ƛ Ba .l ƛ P1. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari. f = 0 Av .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).a ƛ P 1. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .S1 ƛ Ab . f = 0 Bv .l ƛ P1. maka nilai Ab bisa dicari.

(³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang.

a. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P. maka Mx = V A .9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . x. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).3 Gambar (c). x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4. gaya lintang (D) dan gaya normal (N). seperti pada gambar (4.3. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. x ƛ ½ q x² . x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.1. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.2.9 disamping.b l RA + Bidang D RB Gambar 4. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D).HA . y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4.8.1. x P Untuk balok yang lurus. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. y I = VA . II II = HA .2.8). bukan pelengkung.

Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. Vx = V A ƛ q . * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E .10.

x cos E = . maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = .( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan .11. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah.Vx sin E.

Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen.13. H. VB. M). Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. D) ataupun bidang normal (Bid. N).5 m dari titik A. S Ec C yc f=3 m A H 2. bidang gaya lintang (Bid. .5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4.12. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. Mc. nilai gaya lintang.

½ l = 0 VA = ½ .5) ! 2. 2. 3 ƛ ½ q . 3 . l.14. 3 .l.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2. 2.H . l ƛ q.5  1 / 2.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA .Xc² = 15 . di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. (5)² = 0 H= V . ½ l = 0 VB .25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .q (5)² 15.5 ƛ 12.yc ƛ ½ . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x. 5.5 . reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.5 (10  2. 25 ! ! 12.3.3.Xc ƛ H. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B.5  1 / 2 .q.5 m yc = 4.5m Gambar 4.25 ƛ ½ . l ƛ q.2.5 ton 3 3 VA .

5 = 7. 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.4312 ƛ 6. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan. Dc = 0. Vc = VA ƛ q.(7.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.14.5145 + 12. 0.8575) = .5 . Nc = -14. 0.5 ton ( o) Hc = H = 12.5 .5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7. Contoh 2 xc=2. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .2. 0.5 .5145 = 6.(Vc.8575 ƛ 12. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .x = 15 ƛ 3.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.5774 ton.5 .15.sin Ec + Hc cos Ec) = .5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.16. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .

152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1. f = 0 1.3.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .48 ! 4. 5 ƛ HA .6 .76 ƛ HA .1. ½ l ƛ HA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.5. l + P.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . 3 = 0 HB = 1. 10 .P.yp = 0 VB .92) = 0 .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .08 ƛ 1.76  6. f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 . 3 ƛ 6 .yp = 0 VA . 1. ½ l ƛ H B . l .2 (10  2) ! 1.152 .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1.92 ton ( n)  5. 1.08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.92 = 0 (cocok) . 1.152 . 5 ƛ HB .92 = 0 VB . 10 + 6 . 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.

Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.5145 Dc = .08 .8575 Mc = . cos E = 0. 25 ƛ 6 (2.25 ƛ = .2.98 HB = 4. 2.152 .5 + 4.V A .152 . 2. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.17.5145.8575 ƛ 1.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4. 0.96° sin Ec = 0.92) = -1. = -1.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.88 + 9.08 = 1.92 ( ) 0.25 m Ec = 30.92 .Xc + HA .9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .18 ƛ 1.

HA. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.152 .5145 ƛ 1. 0. Nc. Mc. HB. HB. HA. VB. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). VB.1.1.92 .0537 ton 4.8575 = .4. Nc. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. Mc. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA.

4.1.667 ton 2. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. Penutup Untuk mengukur prestasi.6. Sedang bidang momen.5.8 o o p n . Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.6 0. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.667 ton 4.75 0. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.5 ton 4.1. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.25 m 0. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.5 ton 6. Soal No.

bab 2.64 0. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.9675 ton 3.7.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.1.3672 tm 2.5625 tm ~0 5. UGM. Daftar Pustaka 1. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. . Soemono ƠStatika Iơ ITB.226 ton 4.36 m 0.8336 ton (-) (-) Soal No.184 ton 5.842 7. bab 4.9675 ton 5.8.1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).774 ton 1.539 0.

18. V B dan H Px ) l . s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. 4.P. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . a . 6 MA = 0 VA H l a G. b ƛ H . b f VA .P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. x = 0 Untuk P di B . H P. 4. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.P VA (+) 1t G.1. x = 0 1t Untuk P di B . x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G.2. Garis pengaruh V A. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus.3 Prinsip penyelesaian. a. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.f Untuk P di A .2. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. a f Px b . x = l G. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. VB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4.P.P. f = 0.2. b l . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. b = f V B . Garis Pengaruh Reaksi x P S G.2.2.

maka lihat kiri potongan (kiri C). M C pada balok di atas dua perletakan l G.H . M C = VA .P.f G. u . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P .f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. R l C u VA VB Bagian II H. a . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan. a. x = a H=0 P.P. x = l Untuk P di S . a . B H b MC = VB . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B).b c l . u .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A .b ton l. x = 0 p H = 0 Untuk P di S .C = G. x = a p H = P.v l G.H . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . H x C v P.b ton H= l .P.f = 0 a H = VA . v sama dengan G.P. u .f v G. bagian I (+) P . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . f ton H= 6 MS = 0 VA .P. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). v . u dan V B .

H sin D I II I -> identik dengan G.P.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. NC bagian I Q sin E l (+) ( . Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G. b cos E l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4. VA sin D dan V A cos D.Mc C.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D .19. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G.f .P.P. Gambar GP.P.) v sin E H b l GP VB sin GP. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G. V A Sin D D GP NC Bagian II () P. sehingga: NC = . a .

NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP. G.b cos E l .P.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a .P. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) . Gaya lintang G. untuk GP.20. D C a b sin E l. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. f Gambar 4.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - .24. . transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . . ½ P + (b/P ). . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. . ½ P = ½ q P R2 = q . Kondisi pembebanan kolom (b). . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . (a).

e-HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh. .Yc Vc = VA.Yc Nc = -(Vc . Cos E . . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. sin E + Hcos E) Dc = Vc.4.Xc-R2.Xc-R2. R3. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.1.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. .25. .4.5 ton R5 = 1. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.5 ton a R1 R2 C R3 S e . Pendahuluan . R2. .e-HA. . Menjadi (R1. .

25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. A C I D E ½ ½ P P + 1. atau 1 kg atau Newton) . untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.N.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.Y1 + P2. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I.33 P 54.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel.5 P . 4.26.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. 2.33 P 54. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.4. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). Jika letak . P . (1 ton.Y2). P .2. P . Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1.5P .5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. dengan ordinat 1. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. P .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Gambarkan Garis pengaruh Mc . Dc dan Nc . M I gel. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4.27. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar.

Mc total (bag I + bag II) - II + P. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.x  H.a .P. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.5.P.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P.P.Nc = .b sin E lf pemaparan Gambar 4.f G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian. b GPMc bagian I P.a . a .b yc l.Y l P.Dc = Av cos E .yc A  ] II I .Q. 28. 4. GP Mc = V .a. Judul : Portal 3 sendi 4.a . .1.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.H sin E Cos E P. S .Q. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.b cos E lf pemaparanG.f G. f H R VB H VA Q . Pendahuluan . C yc .5.b yc l.

pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya.5.29. bisa berupa balok menerus. 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4.2. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. balok gerder.

b2 = 0 VA. (h ƛ hƞ) ƛ P2 . 7 MA = 0 7 MS = 0 VB. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.h ƛ P 1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4.l + HB.a + HA. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA. a1 = 0 VB.hƞ ƛ P 1 .l + HB. b1 ƛ P2 . S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .30.hƞ ƛ P2 . a2 ƛ P1 .l + HA.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .

l ƛ P1 . f = 0 .a ƛ P1 . b  P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. b 2 = 0 Av = P1. b 1 ƛ P2 . S 1 ƛ AB . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . a2 = 0 Bv = P1. S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB . f ƞ Bv. f = HB . f = 0 BA = Bv .b1  P2 . f = HA . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .a  P1 .a 2 l Nilai A B . S 2 f Nilai BA . a1 ƛ P2 .a 1  P2 . f ƞ Av.b ƛ P2 .l ƛ P1 .b 2 l 7 MA = 0 Bv. S 2 ƛ BA .

1. 38 ! 1.1 = 0 Av.32.6 ± 2.3 .5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4.l ± q .5 . Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.l ± P.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .3. selesaikanlah struktur tersebut.4333 ( q) Bvƞ = 0.3 ton Avƞ = H A .5 = 0 Bv Av.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av . 1.6 ± 4.5 ± 4. tg E Avƞ = 1.3 .1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av. 2/6 = 0. 4. 3 . 4.5 - P. P =1 Penyelesaian.q . 3ƛ2.3 ton . 3 .5ƛ HA.5 ± 2. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av. 1.3 .

7334 t VB = Bv + 0.3t B B 5.2666 t .4333 = 4.4333 = 5.4333 m = 4 5/6 + 0.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.7334 + 5.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.3t 4.7334t 1.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.

2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.3 t 1.3667 m (daerah cs) x = 2. 6 = .2666 t Mx = -1.2666. 4 = -1.5.2.3 .3667)² = -5. 4 + 4.7334 t BIDANG N - Di S 5.3 .3 t = .3 t Gambar 4. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.2666 t x=3m Ds = 4. q (x²) .32.2 + 11.2 tm - S D 7. 4 + VA .6 = 5.C A x 4.3t Dx = VA ƛ qx 1.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1. Bidang M.2666 t = 0. 2.3.3667 ƛ ½ .3 t 1.40127 tm (M max) MD = -HB .2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .7.3 t 4.1 ƛ 7.8 1.3667 Mx = -HA .4 = .7334 .60127 5. 2 (2. N.1 H B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.7334 ƛ 6 = -1. 2.8 tm - Mc = -HA .8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.7334 ton Daerah C-D = -1.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.20254 ƛ 5.3667 ƛ ½ .3 ton Daerah B-D 5. 6 = -1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4.2. 4. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu.1. . - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. maka untuk memperpanjang bentang. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan.6.6. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a).6. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.33.34.

6. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. . Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.35.3. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. merupakan struktur yang menumpu. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1.

Contoh Penyelesaian . S (b) B GA ambar 4. 4.36.7.2. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada.3. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. Pendahuluan Seperti biasanya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4.7. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.1. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.7. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.7. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.

H u.a l cb l GP.f GP. f l d.b a.R B + c l + + d l a.DD Q l GP.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.c l .f GP.ND=G P.RA a.M D cb l Gambar 4.f ! l.b l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.RB b.37.b .d l.v l a.f - + + GP.RA . Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.

N D Garis pengaruh N D sama dengan g.p. ~ g. b . P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB . DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP.b p H ! x p ND !  l l f lf .f = 0 H = RB . b ƛ H.p nilai H. R B f P di E RB = c c l c.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.

MD P berada antara D C M D = RA .V l II = H . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .f = 0 H= R A . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. Q .8. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .H . f = Garis pengaruh H x f. 4. a ƛ H.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .a f P di S b a ab RA = b p H ! . p N D !  l l f l f P di S 1 GP.

M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. H.P. VA . Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . G. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut.P N C bawah .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G. G. G.P.P. G.D C . C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal. G. .P. ditanyakan : G.P VA . 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. ditanyakanL G. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu.P NC kanan.P.PH. G. G.P D C bawah.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. G. N C .

Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.335t 0.5t m 1.447t 0 0 0 1.782t 1.1175t 0 0 0. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.10.447 0.5 0.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .9. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0. Rangkuman 4.447t 0.

11.384t 0.333t 0 0 0.40t 0 0 1.333t 0 0 0.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.336t 0 0 0.084t 1.25t 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1. Daftar Pustaka Suwarno. UGM Bab VI dan VII .20t 0.60t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.R.B. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.1.12. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.) .

1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. 5.1.4. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga. ba mbu atau baja. .3. tapi kalau materialnya dari kayu. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. Jika materialnya dari beton. Rangkaian dari material bambu.1. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. maka kita harus merangkai material tersebut. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. 5.2. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah.1.

1. 5. Pada konstruksi kayu memakai baut. pasak atau paku.5. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. paku keling atau las. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.B.5. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil.1. . Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul.R. Bentuk K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah.1.

2. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. Detail I.3. .

1. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.R.B. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi . Ruang terdiri dari 2 K. atas (ikatan angin atas) 1 K. Bidang. sisi 1 K.B.B.R.5.2. bawah (ikatan angin bawah) K.R.R.B.B.B.R.R.R.B.4. Pada Jembatan K. Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.

R. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.5.B. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.R.3. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan. Konstruksi rangka batang bidang .1. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5).5. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.B.

15.R.B. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.R.6.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.1. r = jumlah reaksi perletakan 5. Rumus Umum Untuk K.4.B. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .6.7. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.Ky = 0 b. Keseimbangan titik buhul a. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.B. 1.Kx = 0 dan 7 . Cara grafis dengan metode Cremona . Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.R.1.

P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. a. y 7H=0 7. Metode Penukaran batang 5.Kx =0 7. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. Cara Grafis Metode Cullman 3.8. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung.1. b. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. Cara Analitis Metode Ritter b.V = 0 ata 7.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. Metode Potongan : a.

2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c.8. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .

A2 dan A 1ƞ. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5.9. . selesaikan struktur tersebut. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA .4 . D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. 4 P . B2 dan B1ƞ. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . V2 dan V 1ƞ. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian.1.9. 4 P . Untuk batang atas diberi notasi A 1. tiap -tiap batang perlu diberi notasi. D2 dan D 1ƞ. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X.4 . A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.

titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. . Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. gaya yang searah diberi tanda sama. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. Dalam penjumlahan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5.R. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0.10.B.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal. V1 = .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= . 3 2 .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 2 A1 = .½ . 2 7V=0 .½ D 1 A1 = .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .

2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .1t (tekan) . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

Gaya reaksi b). 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. Beban .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). D3 1t ƛ ½ .gaya batang RB .1. Gaya ƛ Reaksi B b). Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. Gaya.10. 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.808 t 4.20 t 4. 667 t 6.555 6. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.333 t 6. bisa berupa gaya tarik. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + . Pencarian gaya-gaya batang.333 t 3.12. atau gaya tekan. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.20 t 1. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.835 0.11.00 t 6.000 t 2. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.00 t 1. 5.1.667 t 5.1. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.

1.1. UGM Bab Soemono. . - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .13. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.14. bab 5. ƏStatika IƐ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. - Daftar Pustaka Suwarno.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->