Anda di halaman 1dari 48

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perkembangan Regio Orofacial 2.1.1 Perkembangan Wajah Setelah ujung caput embrio membengkok di sekitar ujung anterior notochorda dan mencapai panjang rata-rata 3mm (sekitar hari ke-25 setelah pembuahan), cavum oris primitivum (stomatodeum) akan berkembang sebagai suatu celah kecil yang dikelilingi oleh capsula otak di bagian atas, pericardium di bagian bawah, processus mandibula dan maxilla pada bagian samping (Dixon, 1993). Processus mandibula dengan cepat akan meluas ke medial untuk membentuk rahang bawah primitif dan memisahkan stomatodeum dari pericardium. Pada saat bersamaan, capsula otak akan terpisah dari cavum oris primitivum melalui pembentukan processus frontonasalis. Sel-sel crista neuralis akan bermigrasi dari posisi semula di bagian samping tubus neuralis dan membentuk lembaran sel jauh di dalam ectoderma embryonicum, bila sudah mencapai regio mata yang sedang berkembang, akan terpisah menjadi dua bagian. Aliran sel-sel ke anterior akan masuk membentuk mesoderma embryonicum dari processus frontonasalis, sedangkan perluasan posterior akan ikut membentuk mesoderma dari arcus pharyngeus. Pembesaran processus facialis embryonicum merupakan akibat proliferasi mesoderma embryonicum yang berkesinambungan, dimana akan terjadi pembentukan tulang-tulang. Batas-batas processus facialis dipisahkan oleh sulcus-sulcus atau lipatan yang terletak diantaranya. Sulcus terisi oleh processus yang kecepatan proses pertumbuhannya tidak sama, menyebabkan terbentuknya wajah khas seperti yang biasa kita temukan pada bayi (Dixon, 1993). Kegagalan processus facialis untuk tumbuh dengan akurat dan untuk saling bergabung satu terhadap yang lain, dimana melibatkan penggabungan atau penutupan selubung ectoderma yang berkontak dengannya, akan menimbulkan cacat perkembangan, dikenal sebagai celah wajah. Celah merupakan akibat terganggunya salah satu atau beberapa tahap penggabungan processus, termasuk

induksi normal oleh sel-sel crista neuralis, beberapa keabnormalan pada tahap migrasi atau penggabungan mesoderma embryonicum (Dixon, 1993).

2.1.2

Perkembangan Labium Oris Superius Perkembangan labium oris superius pada manusia sampai sekarang ini

masih belum diketahui dengan jelas dan bahkan ada dua pendapat yang saling berlawanan tentang apa peranan mesoderma maxillaris pada pembentukan labium oris ini. Salah satu pendapat tersebut diformulasi berdasarkan hasil penelitian klasik dari Frazer yaitu labium oris terbentuk seluruhnya dari processus maxillaris. Pendapat lain yag sudah diterima kalangan luas tentang perkembangan labium oris manusia adalah berdasarkan konsep klasik His, bersama-sama dengan pakar embriologi lainnya pada abad tersebut, menganggap bahwa bagian sentral labium oris, termasuk daerah cekungan yang disebut philtrum, berasal dari processus frontonasalis sedangkan bagian lateral berasal dari processus maxillaris (Dixon, 1993).

2.1.3

Perkembangan Palatum Pada tahap perkembangan ini, celah nasalis akan meluas ke belakang dan

membentuk orifisium posterior sekunder yang mengarah ke stomatodeum. Jadi melalui cara inilah akan terbentuk cavum nasi primitivum. Cavum nasi dikelilingi di bagian bawah oleh perluasan ke mesial dari processus maxillaris dan juga oleh mesoderma frontonasalis (Dixon, 1993). Walaupun demikian mesenchyma maxillaris juga meluas ke medial di balik otak sedang berkembangan pada atap cavum oris primitivum. Perluasan mesoderma embyonicum dari setiap sisi akan bertemu di garis median dan kemudian mulai meluas ke bawah sebagai processus septal, berhubungan di bagian depan dengan septum nasi primer dari processus frontonasalis. Processus septal ikut membentuk sebagian besar septum nasi definitif (Dixon, 1993). Palatum terbentuk dalam dua bagian, pertama palatum primer dan kedua palatum sekunder. Bagian bawah processus frontonasalis kadang-kadang disebut sebagai segmen intermaxillaris, ikut membentuk regio philtrum dari labium oris superium; segmen premaxillaris yang mengandung empat gigi incisivus dan

sebuah processus kecil berbentuk segitiga yang meluas ke belakang sebagai palatum primer. Pada sekitar minggu perkembanga keenam, dua perluasan processus maxillaris akan tumbuh ke arah dalam dan ke bawah sebagai processus palatinus atau lereng yang nantinya akan terletak pada kedua sisi lingua yang sedang berkembang (Dixon, 1993). Pada minggu kedelapan, processus palatinus akan menjadi horizontal, saling berkontak satu sama lain, akan bergabung tepat di bawah ujung bebas septum nasi. Dengan terjadinya perubahan orientasi dari processus palatinus, cavum oris primitivum akan terbagai menjadi tiga bagian: cavum nasi kiri dan kanan diatas palatum sedang berkembang pada kedua sisi septum nasi, dan cavum oris definitif yang terletak di bawah palatum. Pembentukan palatum ini biasanya

mengakibatkan orifisium posterior dari cavum nasi bergeser ke belakang, sehingga orifisium ini tidak lagi membuka ke cavum oris tetapi malahan membuka ke bagian atas pharynx (nasopharynx) (Dixon, 1993). Baik septum nasi maupun palatum tampaknya berkembang dalam dua tahapan: a. Septum nasi primer berasal dari processus frontonasalis; palatum primer terbentuk dari perluasan ke belakang processus frontonasalis b. Bagian septum nasi lainnya dan palatum sekundder terbentuk dari jaringan processus maxillaris yang terletak di belakang processus frontonasalis (Dixon, 1993). Bagian-bagian wajah yang terbentuk dari processus frontonasalis

mempunyai persarafan sensorik dari cabang-cabang n. opthalmicus cabang n. trigeminus (n. ethmoidalis dan n. nasalis externa). Sedangkan bagian yang terbentuk dari processus maxillaris mempunyai persarafan sensorik berupa cabang-cabang n. maxillaris cabang n. trigeminus (n. nasalis, n. nasopalatinus, n. palatinus dan n. infraorbitalis) (Dixon, 1993).

2.1.4

Cartilago Rangka Wajah Sebelum pembentukan tulang dan juga selama tahap awal pembentukan

tulang, rangka wajah umumnya terbentuk dari cartilago. Cartilago Meckel terbentuk di dalam arcus mandibularis dan meluas dari basis cranii sedang

berkembang pada regio capsula optica ke garis median bakal regio dagu, dan bergabung dengan cartilago dari sisi berlawanan. Cartilago capsula nasalis terbentuk pada jaringan processus maxillaris dan meluas ke depan menuju processus frontonasalis. Di bagian belakangnya berhubungan dengan cartilago dari basis cranii. Di dalam bagian cavum nasi primer dan sekunder cartilago ini akan membentuk anyaman skeletal primordial (Dixon, 1993). Bagian lateral capsula dari kedua sisi wajah yang sedang berkembang akan membentuk rangka skeletal bagian luar dari cavum nasi; ujung bebas bagian bawahnya akan membelok ke dalam sebagai suatu concha nasalis inferior yang sedang berkembang. Di dalam kedua bagian septum nasi, processus ini akan membentuk cartilago septi nasi (Dixon, 1993). Pada tahap berikut akan terbentuk os maxilla dan premaxilla pada bagian luar cartilago capsula nasalis dan mandibula berkembang pada bagian luar cartilago Meckel. Vomer akan terbentuk dalam hubungannya dengan tepi bawah cartilago septal (Dixon, 1993).

2.1.5

Lingua Menurut Dixon (1993), lingua terbentuk dalam dua bagian, yaitu:

a. Pars anterior lingua (oral), berasal dari tiga tonjolan mesoderma arcus mandibularis, terletak tepat di dalam cavum oris. Ketiga tonjolan ini terdiri dari tonjolan lingual lateral dan struktur garis median di dasar mulut, yang sering disebut sebagai tuberculum impar, terletak di dlam sulcus diantara arcus mandibularis dan arcus hyoideus b. Pars poterior (pharyngeus) tertius berasal terutama dari arcus pharyngeus tertius dan akan tumbuh ke depan. Ke atas arcus pharyngeus secundus (hyoideus) pada dasar mulut untuk bergabung dengan ujung belakang pars anterior lingua. Daerah ini disebut juga sebagai copula atau aminentia hypobranchialis. Bagian belakang eminentia hypobranchialis ini nantinya akan membentuk epiglotis. Perbedaan daerah origo dari bagian-bagian lingua ini menyebabkan terjadinya perbedaan persarafan sensorik pada membrana mukosa dorsum lingua; dua pertiga anterior lingua dipersarafi n. lingualis cabang n. trigeminus,

sedangkan sepertiga posterior lingua dipersarafi oleh n. glossopharyngeus saraf dari arcus pharyngeus primus dan tertius (Dixon, 1993). Saraf yang keluar dari arcus secundus (n. facialis) ikut memberi persarafan sensorik bagi serabut-serabut indra pengecap pada pars anterior lingua. Otot-otot lingua mulai terbentuk diantara minggu perkembangan keenam dan kedelapan, dan pada saat ini lingua sudah mengisi sebagian besar cavum oris. Pada sulcus antara lingua dan processus mandibularis akan terbentuk glandula sublingualis dan submandibularis yang merupakan perluasan pertumbuhan ke bawah dari epitel yang menutupinya. Glandula diperkirakan berasal dari jaringan endoderma embryonicum (Dixon, 1993).

2.1.6

Pipi Pipi terbentuk dari jaringan yang berasal baik dari processus mandibularis

maupun processus maxillaris. Pada kedua sisi cavum oris pada regio pipi terlihat adanya kantung kecil dari cavum oris yang meluas keluar, terletak tidak terlalu jauh antara processus maxillaris di bagian atasnya dan processus mandibularis di bagian bawahnya. Batas luar dari kantung tersebut yang terletak pada kedua sisi wajah terletak pada epithelium cavum oris, meluas dari processus maxillaris ke processus mandibularis dan mengelilingi permukaan dalam pipi. Baru kemudian, tinggi vertikal dari bagian cavum oris ini (vestibulum) akan makin meningkat. Pada belakang regio vestibularis di kedua sisi cavum oris akan terbentuk glandula parotidea sebagai suatu proyeksi seperti gemma epitel cavum oris yang mengarah ke mesoderma di sekitarnya (Dixon, 1993).

2.2 Organ Pembentuk Benih Gigi 1. Organ enamel; yang berkembang seperti tombol, tumbuh di atas lamina gigi (berasal dari ectodermal), dan berasal dari epitel, dimana lapisan dalamnya akan membentuk enamel. Kuntum dari sel epithelial (organ enamel) dibetnuk sebagai hasil dari pembiakan sel-sel. Perkembangan selanjutnya, menghasilkan bentuk kuntum (bud), bentuk top (cap) dan bentuk lonceng (bell) dari organ enamel.

2. Dental papilla (organ dentin); yang berkembang dari dasar jaringan mesenhim (jaringan pengikat permulaan) yang berasal dari mesenhim dan akan membentuk dentin dan tinggal di sekitar ruang sentral dari dentin sebagai pulpa. 3. Kantung gigi (organ periodontal); yang juga berkembang dari dasar jaringan mesenhinm, yang berasal dari mesenhim dan akan membentuk struktur penyanggah gigi, sementum, tulang alveolar dan selaput periodontal(Harshanur, 1991).

Perkembangan organ enamel berfungsi untk membentuk jaringan pengikat bawah, yang kana berkembang dan menjadi padat untuk membentuk dental papilla. Dengan cara serupa jaringan pengikat mengelilingi organ enamel dan dental papilla menjadi padat dan membentuk organ periodontal (Harshanur, 1991). Sebelum embrio berusia 3 minggu, stomodeum sudah terbentuk. Pada daerah ujung anterior dari embrio, ectodermal telah menyatu untuk bertemu dengan endodermal sehingga terbentuk mulut primitif (stomodeum) dan membrane bukofaringeal,membrane ini terletak kira-kira pada posisi tonil palatine yang akan terbentuk kemudian. Mulut primitif diliputi oleh ectodermal, dan di bawahnya adalah mesenhim. Ectodermal berkembang menjadi epitel mulut dan mesenhim berkembang menjadi jaringan pengikat di bawahnya (Harshanur, 1991).

2.3 Siklus Kehidupan dari Gigi Setiap gigi mengalami tahap yang berturut-turut dari perkembangan selama siklus kehidupannya, yaitu (Harshanur, 1991): a. Tahap pertumbuhan 1) Tahap inisiasi adalah permulaan pembentukan kuntum gigi (bud) dari jaringan epitel mulut. (epitelial bud stage). 2) Tahap ploreferasi adalah spesialisasi dari sel-sel dan perluasan dari organ enamel (cap stage).

3) Tahap histodeferensiasi adalah spesialisasi dari sel-sel, yang mengalami perubahan histologi dalam susunannya (sel-sel epitel bagian dalam dari organ enamel menjadi ameloblas, sel-sel perifer dari organ dentin pulpa menjadi odontoblas). 4) Tahap morfodeferensiasi adalah susunan dari sel-sel pembentuk sepanjang dentino enamel dan dentino cemental junction yang akan datang, yang memberi garis luar dari bentuk dan ukuran korona dan akar yang akan datang. b. Erupsi intraoseus 1) Tahap aposisi adalah pengendapan dari matriks enamel dan dentin dalam lapisan tambahan. 2) Tahap kalsifikasi adalah pengerasan dari matriks oleh pengendapan garam-garam kalsium (Harshanur, 1991). c. Erupsi Erupsi gigi adalah munculnya tonjolan gigi atau tepi insisal gigi menembus gingiva. Erupsi gigi dapat terjadi pada gigi susu maupun gigi permanen (Purba, 2004). Tahap erupsi gigi dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu (Purba, 2004): 1) Tahap praerupsi Tahap praerupsi dimulai saat pembentukan benih gigi sampai mahkota selesai dibentuk. Pada tahap praerupsi rahang mengalami pertumbuhan pesat di bagian posterior dan permukaan lateral yang mengakibatkan rahang mengalami peningkatan panjang dan lebar ke arah anterior- posterior. Untuk menjaga hubungan yang konstan dengan tulang rahang yang mengalami pertumbuhan pesat ini maka benih gigi bergerah ke arah oklusal. 2) Tahap prafungsional Tahap prafungsional dimulai dari pembentukan akar sampai gigi mencapai daratan oklusal. Pada tahap prafungsional gigi bergerak lebih cepat ke arah vertikal. Selain bergerak kearah vertikal, pada tahap prafungsional gigi juga bergerak miring dan rotasi. Gerakan miring dan rotasi dari gigi ini bertujuan untuk memperbaiki posisi

10

gigi berjejal di dalam tulang rahang yang masih mengalami pertumbuhan. 3) Tahap fungsional Tahap ini dimulai sejak gigi difungsikan dan berakhir ketika gigi telah tanggal.selama tahap fungsional gigi bergerak ke arah oklusal, mesial dan proksimal. Pergerakan gigi pada tahap funfsional ini bertujuan untuk mengimbangi kehilangan substansi gigi yang terpakai selama berfungsi sehingga oklusi dan titik kontak proksimal dari gigi dapat dipertahankan. d. Kegagalam Erupsi Kegagalan erupsi adalah gigi yang erupsinya terhalang oleh sesuatu sebab sehingga gigi tersebut tidak keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal di dalam deretan susunan gigi geligi (Purba, 2004). Ada dua faktor yang mempengaruhi kegagalan erupsi yaitu (Purba, 2004): a) Faktor-faktor kegagalan erupsi yang berasal dari gigi yaitu: 1) Kelainan dalam perkembangan benih gigi Pada kondisi kelainan perkembangan benih gigi ini, benih gigi yang sudah terbentuk tidak mengalami perkembangan dengan sempurna sehingga gigi gagal dalam bererupsi. 2) Kegagalan dalam pergerakan praerupsi dan prafungsional Pada kondisi ini, pembentukan gigi berlangsung dengan sempurna tetapi gigi yang sudah terbentuk tidak mengalami pergerakan selama tahap praerupsi dan prafungsional sehingga gigi tetap pada tempatnya di dalam tulang alveolar. 3) Letak benih yang abnormal Letak benih yang abnormal seperti letak benih yang terlalu miring ke arah lingual, bukal dapat menyebabkan gigi tersebut mengalami kesulitan dalam pergerakan erupsi sehingga gigi gagal bererupsi.

11

b) Faktor-faktor kegagalan gigi yang berasal dari sekitar gigi 1) Tulang yang tebal dan padat Gagalnya gigi bererupsi pada kondisi ini disebabkan konsistensi tulang yang sangat keras dan padat sehingga tekanan erupsi normal tidak mencukupi untuk menembus tulang yang tebal dan padat tersebut (Purba, 2004). 2) Tempat untuk gigi tersebut kurang Kurangnya tempat untuk gigi yang disebabkan oleh berbagai hal seperti ukuran yang terlalu besar, tulang rahang yang tidak berkembang juga dapat menyebabkan gigi tidak muncul di rongga mulut (Purba, 2004). 3) Posisi gigi tetangga menghalangi erupsi gigi tersebut Posisi gigi tetangga yang menghalangi jalanya erupsi dapat menyebabkan gigi tidak muncul kepermukaan (Purba, 2004). 4) Adanya gigi susu yang persistensi Gigi susu yang tidak tanggal pada waktunya dapat menyebabkan kegagalan erupsi pada gigi permanen . kegagalan erupsi gigi permanen pada kondisi gigi persistensi ini disebabkan oleh tidak tersedianya ruangan untuk gigi permanen yang akan erupsi menggantikan gigi susu yang persistensi tersebut (Purba, 2004).

2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erupsi Gigi Erupsi gigi adalah proses yang bervariasi pada setiap anak. Variasi ini masih dianggap sebagai suatu keadaan yang normal jika lamanya perbedaan waktu erupsi gigi masih berkisar antara 2 tahun. Variasi dalam erupsi gigi dapat disebabkan oleh faktor yaitu (Harahap, 2010) : a. Faktor Genetik Faktor genetik mempunyai pengaruh terbesar dalam menentukan waktu dan urutan erupsi gigi yaitu sekitar 78%, termasuk proses kalsifikasi.

12

b. Faktor Jenis Kelamin Pada umumnya waktu erupsi gigi anak perempuan lebih cepat dibandingkan anak laki-laki. Perbedaan ini berkisar antara 1 hingga 6 bulan. Waktu erupsi gigi anak perempuan lebih cepat dibanding dengan anak laki-laki disebabkan faktor hormon yaitu estrogen yang memainkan peranan dalam pertumbuhan dan perkembangan sewaktu anak perempuan mencapai pubertas.

c. Faktor Ras Waktu erupsi gigi orang Eropa dan campuran Amerika dengan Eropa lebih lambat daripada waktu erupsi orang Amerika berkulit hitam dan Amerika Indian. Orang Amerika, Swiss, Perancis, Inggris, dan Swedia termasuk dalam ras yang sama yaitu Kaukasoid dan tidak menunjukkan perbedaan waktu erupsi yang terlalu besar.

d. Faktor Lingkungan Faktor lingkungan tidak banyak mempengaruhi pola erupsi. Faktor tersebut adalah: 1. Sosial Ekonomi Tingkat sosial ekonomi dapat mempengaruhi keadaan nutrisi, kesehatan seseorang. Anak dengan tingkat ekonomi rendah cenderung menunjukkan waktu erupsi gigi yang lebih lambat dibandingkan anak dengan tingkat ekonomi menengah. 2.Nutrisi Nutrisi sebagai faktor pertumbuhan dapat mempengaruhi erupsi dan proses kalsifikasi.(2,3,6,13,17,28,30) Keterlambatan waktu erupsi gigi dapat dipengaruhi oleh faktor kekurangan nutrisi, seperti vitamin D dan gangguan kelenjar endokrin.

e. Faktor lokal Faktor-faktor lokal yang dapat mempengaruhi erupsi gigi adalah jarak gigi ke tempat erupsi, malformasi gigi, persistensi gigi desidui, adanya gigi berlebih, trauma terhadap benih gigi, mukosa gusi yang menebal, ankilosis pada akar gigi, dan gigi sulung yang tanggal sebelum waktunya.

13

f. Faktor Penyakit Gangguan pada erupsi gigi desidui dan gigi permanen dapat disebabkan oleh penyakit sistemik seperti Down syndrome, Cleidocranial dysostosis, Hypothyroidism, Hypopituitarism, beberapa tipe dari Craniofacial synostosis dan Hemifacial atrophy. 1. Atrisi Yaitu ausnya permukaan gigi karena lamanya pemakaian waktu berfungsi (Harshanur, 1991). 2. Resobsi Yaitu penghapusan dari akar-akar gigi susu oleh aksi dari osteoclast (Harshanur, 1991).

2.5 Pertumbuhan dan perkembangan gigi sulung dan gigi tetap Pertumbuhan dan perkembangan dari gigi geligi seperti halnya organ lainnya telah dimulai sejak 4 5 bulan dalam kandungan. Pada waktu lahir, maksila dan mandibwula merupakan tulang yang telah dipenuhi oleh benih-benih gigi dalam berbagai tingkat perkembangan. Tulang alveolar hanya dilapisi oleh mucoperiosteum yang merupakan bantalan dari gusi. Pada saat lahir, tulang maksila dan mandibula terlihat mahkota gigi-gigi sulung telah terbentuk dan mengalami kalsifikasi, sedangkan benih gigi-gigi tetap masih berupa tonjolan epitel(Harshanur, 1991). Pada umur 6 7 bulan telah terjadi erupsi dari gigi sulung dan pada umur 12 bulan gigi insisif pada maksila dan mandibula telah erupsi. Pada umur 2 3 tahun semua gigi sulung telah erupsi dan email gigi-gigi sulung telah terbentuk sempuna(Harshanur, 1991). Pertumbuhan dan perkembangan gigi ini terlihat pada tabel berikut ini : A. Gigi Sulung 1. Rahang Gigi Pembentukan Erupsi Akar lengkap 2. Atas Insisif pertama 4 bl inutero 7 bl 1 th 3. Insisif kedua 4 bl inutero 9 bl 2 th

14

4. Caninus 5 bl inutero 18 bl 3 th 5. Molar pertama 5 bl inutero 14 bl 2 th 6. Molar kedua 6 bl inutero 24 bl 3 th 7. Bawah Insisif pertama 4 bl inutero 7 bl 1 th 8. Insisif kedua 4 bl inutero 7 bl 1 th 9. Caninus 5 bl inutero 16 bl 3 th 10. Molar pertama 3 bl inutero 12 bl 2 th 11. Molar kedua 6 bl inutero 20 bl 3 th

B. Gigi Tetap 1. Rahang Gigi Mulai terbentuk Erupsi Akar lengkap 2. Atas Insisif pertama 3 4 bl 7 8 th 10 tahun 3. Insisif kedua 10 12 bl 8 9 th 11 tahun 4. Caninus 4 5 bl 11 12 th 13 15 th 5. Premolar pertama 18-21 bl 10 12 th 12 14 th 6. Premolar kedua 3033 bl 10 12 th 12 14 th 7. Molar pertama 0 3 bl 6 7 th 9 10 th 8. Molar kedua 27 36 bl 12 13 th 14 16 th 9. Molar ketiga 7 9 th 17 21 th 18 25 th 10. Bawah Insisif pertama 3 4 bl 6 7 th 9 th 11. Insisif kedua 3 4 bl 7 8 th 10 th 12. Caninus 4 6 bl 9 10 th 12 14 th 13. Premolar pertama 18 24 bl 10 12 th 12 13 th 14. Premolar kedua 24 30 bl 11 12 th 13 14 th 15. Molar pertama 0 3 bl 6 7 th 9 10 th 16. Molar kedua 2 3 th 11 13 th 14 15 th 17. Molar ketiga 8 10 th 17 21 th 18 25 th 2.6 Anatomi dan morfologi Gigi Permanen 1. Gigi Incisivus Tetap Pertama Atas Gigi Incisivus sentral atas adalah gigi kesatu di rahang atas, yang terletak dikiri kanan dari garis tengah / median (Itjingningsh, 1991).

15

Gambar 1. Insisivus sentral atas kanan

Ciri Identifikasi Utama : 1. Permukaan mesial lurus dan terletak pada sudut tegak lurus tajam ke tepi insisal. Sudut disto-insisal lebih bulat 2. Mahkota besar, dibandingkan akar-merupakan gigi anterior terbesar 3. Marginal ridge cukup jelas pada permukaan palatal cekung, dengan cingulum berkembang baik. 4. mahkota berinklinasi ke palatal; akar berinklinasi sedikit ke distal. 5. permukaan labial cembung dan halus. 6. Cervical margin paling berkelok pada sisi mesial. 7. Akar tunggal meruncing, dengan potongan melintang berbentuk segitiga membulat dan salah satu permukaan yang agak datar menghadap ke labial (Geoffrey C. van Beek, 1996).

2. Incisivus Kedua Atas Gigi ini adalah gigi ke- 2 dari garis tengah. Bentuk fungsionalnya sama dengan I1 atas, sehingga mempunyai tugas yang sama di dalam mulut, yakni untuk menggigit dan memotong makanan. Dibandingkan dengan I1 atas, dimensi koronanya lebih kecil dalam semua jurusan dan bentuknya lebih bulat. Akarnya lebih langsing dan apeksnya runcing. I2 atas mempunyai banyak variasi / anomali (Itjingningsih, 1991).

16

Gambar 2. Insisiv lateral atas kanan

Ciri Identifikasi Utama : 1. Sudut mesio-insisal lancip; sudut disto-insisal lebih membulat. 2. Tepi insisal jelas miring ke bawah ke permukaan distal yang lebih pendek. 3. mahkota lebih membulat, lebih pendek dan lebih sempit dimensi mesio distal daripada incicivus pertama atas. 4. Cingulum pada permukaan palatal sering menutupi lubang foramen caecum incisivum. 5. Permukaan palatal lebih cekung daripada incisivus pertama atas. 6. Akar tunggal yang meruncing halus ke apeks, runcing yang membengkok ke distal. 7. Cervical margin lebih berkelok-kelok pada permukaan mesial daripada permukaan distal (Geoffrey C. van Beek, 1996).

3. Incisivus Pertama Bawah Incisivus pertama bawah adalah gigi pertama di rahang bawah, kanan atau kiri dari garis tengah. Pada umumnya, gigi ini adalah gigi yang paling kecil dalam lengkung gigi. Lebar koronanya sedikit lebih besar dari setengah ukuran mesio distal insisivus pertama atas, tetapi lebar labiolingualnya hanya lebih kecil 1 mm. perbaikan tidak mudah dilakukan pada gigi ini, tetapi untungnya, gigi ini jarang sekali perlu diperbaiki. Akarnya, satu, sempit mesio-distal, panjang akar hampir sama dengan insisivus pertama atas dan apeksnya bengkok ke distal (Itjingningsih, 1991).

17

Ciri Identifikasi Utama : 1. Akar tunggal, mendatar mesio-distal dan cenderung bengkok ke distal. 2. Tepi insisal tegak lurus terhadap garis yang membagi dua mahkota labio lingual. 3. Panjang akar 12 mm. 4. Alur longitudinal distal akar lebih jelas daripada mesial. 5. Gigi terkecil pada gigi-geligi tetap (Geoffrey C. van Beek, 1996).

4. Incisivus Kedua Bawah 1. Sedikit lebih kecil daripada incisivus pertama bawah; mahkota berbentuk kipas dan tepi insisal lebih lebar mesiodistal. 2. Sisi insisal: tepi insisal tidak tegak lurus terhadap garis yang membelah dua akar, tetapi terpuntir ke distal, dalam arah lingual, mengikuti garis lengkung gigi. 3. Panjang akar 14 mm. 4. Permukaan mesial mahkota sedikit lebih panjang daripada distal, sehingga tepi insisal sedikit miring. 5. Marginal ridge mesial dan distal samar-samar, tetapi lebih menonjol daripada incisivus pertama bawah (Geoffrey C. van Beek, 1996).

5. Kaninus Atas Kaninus / Canine / Cuspid adalah gigi ke 3 dari garis tengah, dan satu satunya gigi di rahang yang mempunyai 1 cusp. Gigi ini diberi nama Kaninus karena pertumbuhan gigi ini pada binatang Carnivorous baik sekali (mis. anjing) sebab mempunyai akar yang terpanjang dan terbesar sehingga gigi ini kuat sekali. Koronanya adalah korona yang terpanjang di dalam mulut dan berbentuk baik sekali baik kekuatan terhadap stress dan pemakaian maupun kebersihan. Pada umumnya gigi ini adalah gigi terakhir yang akan tanggal, kadangkala masih tetap di rahang sesudah gigi lainnya hilang. Seringkali dipakai untuk pegangan dari geligi tiruan. Karena posisinya dalam rahang, panjang dan angulasi akarnya maka gigi

18

Kaninus menjadi struktur yang penting dari muka, yang member karakter, kekuatan dan kecantikan (Itjingningsh, 1991). Ciri Identifikasi Utama : 1. Cuspis tunggal runcing kira-kira segaris dengan sumbu panjang akar. 2. Lereng distal cuspis lebih panjang daripada lereng mesial dan menyatu dengan permukaan distal cembung. 3. Proporsi keseluruhan kekar panjang. 4. Bagian labial cembung jelas dan cingulum palatal besar. 5. Garis cervikal kurang berkelok pada permukaan distal. 6. Akar tunggal sangat panjang dengan potongan melintang segitiga membulat. 7. Permukaan disto dan mesio-palatal akar sering beralur longitudinal (Geoffrey C. van Beek, 1996).

Gambar 3 dan 4. Caninus atas dan bawah

6. Kaninus Bawah Tugas kaninus bawah dan atas sama, sehingga glnya dari semua permukaan sama. Koronya lebih panjang serviko insisal dan lebih sempit mesio distal daripada C atas. Singulumnya tidak begitu nyata. Pada permukaan mesial dan distal, bagian sepertiga servikal tidak begitu tebal. Permukaan lingual lebih rata daripada permukaan lingual dari C atas, hampir sama dengan lain lain gigi geligi depan bawah. Pada umumnya ujung akar melengkung ke distal, tetapi kadang kadang juga terdapat C dengan ujung akar yang membengkok ke mesial. Jika C ini belum aus, gigi ini adalah gigi yang paling panjang di dalam mulut (Itjingningsih, 1991). Ciri Identifikasi Utama :

19

1. Profil distal mahkota lebih membulat daripada mesial. 2. mahkota lebih sempit mesiodistal dibanding caninus atas, sehingga mahkota tampak lebih besar sebanding. 3. Hanya caninus bawah yang mungkin mempunyai akar berbifurkasi, suatu variasi yang tidak jarang terjadi. 4. Lereng mesial cuspis lebih pendek daripada yang dista 5. Cingulum kurang jelas bila dibanding dengan caninus atas. 6. Permukaan labial dari mahkota kurang lebih segaris lurus dengan akar. 7. Permukaan labial dari mahkota bersambung lengkung longitudinal dengan akar. 8. Pada kebanyakan kasus, akar cenderung bengkok sedikit ke distal. Mahkota tampak miring ke distal dalam hubungan dengan akar (Geoffrey C. van Beek, 1996).

7. Premolar Pertama Atas 1. Akar dua (bukal dan palatal) dan inklinasi ke distal. 2. Cusp dua buah (bukal dan palatal), cusp bukal lebih besar dari palatal. 3. Lereng mesial cusp bucal lebih panjang dari distal. 4. Cusp palatal sedikit miring ke mesial. 5. Bagian oklusal lebih angular dari Premolar kedua. 8. Premolar Kedua Atas 1. Akar tunggal, mesiodistal datar dan lebih panjang dari premolar pertama atas. 2. Cusp bukal dan palatal lebih kecil dan lebih rendah dari premolar pertama atas. 3. Lereng mesial bukal cusp lebih pendek dari distal. 4. Bagian oklusal oval. 9. Premolar Pertama Bawah 1. Fossa oklusal distal lebih besar dari mesial. 2. Cusp bukal besar dan runcing, cusp lingual kecil. 3. Mahkota inklinasi ke palatalPermukaan bukal mahkota cembung, permukaan lingual hampir lurus.

20

4. Bagian oklusal sirkular, menndatar pada mesiolingual. 5. Akar tunggal, bulat dan inklinasi ke distal.

10. Molar Pertama Atas 1. Gigi molar paling besar. 2. Mempunyai 4 cusp dengan mesiopalatal paling besar dan distopalatal paling kecil. 3. Cusp bukal lebih runcing dari cusp palatal. 4. Bukolingual mahkota lebih besar dari mesiodistal. 5. Terdapat tuberculum carabelli pada cusp mesiopalatal. 6. Akar tiga, dan terpisah, akar palatal paling panjang dan mengembang, akar bukal berinklinasi ke distal. 7. Bagian oklusal berbentuk jajaran genjang

11. Molar Pertama Bawah 1. Gigi terbesar pada rahang bawah. 2. Mempunyai 5 cusp, 3 bukal dan 2 lingual. 3. Permukaan bukal berinklinasi ke lingual. 4. Mesiodistal mahkota lebih besar dari bukolingual. 5. Bagian oklusal berbentuk segi empat. 6. Mempunyai 2 akar, akar mesial lebih panjang, akar distal lebih bulat. (Itjingningsh, 1991).

12. Molar Kedua Atas 1. Tidak ada cusp carabelli 2. Bagan oklusal jajaran genjang lebih jelas, ukuran mesio-distal lebih sempit dari pada molar pertama RA. 3. Koronanya lebih pendek serviko-oklusal dan lebih sempit mesiodistal. 4. Cusp disto-bukal lebih kecil, sehingga marginal ridge distal dan sebagian cusp disto-palatal dapat terlihat.

21

5. Akar-akarnya membengkok ke distal sehingga crest curve dari akar disto-bukal terletak disto dari crest korona. 6. Keseluruhan mahkota agak lebih kecil daripada molar pertama RA walau sangat mirip

13. Molar Kedua Bawah 1. Korona tidak begitu panjang serviko-oklusal 2. Memiliki dua akar yang hampir sejajar dan tidak begitu besar 3. Cusp lingual lebih tinggi dari cusp bukal, tetapi sama besar 4. Cusp mesio-lingual sedikit lebih lebar mesio-distal\ 5. Tidak ada cups distal 6. Batas semnto-enamel berombak 7. Bagan oklusal persegi membulat

14. Molar Ketiga Atas 1. Bagan oklusal segitiga cups disto palatal yang kecil sering tidak ada 2. Akar pendek, kurang berkembang, konvergen, sering berdifusi, membengkok ke distal, biasanya berjumlah tiga buah. 3. Molar atas terkecil, mahkota lebih kecil daripada molar kedua RA. 4. Cusp terbesar mesio-palatal 5. Hanya mempunyai daerah kontak mesial 6. Mahkota sering tampak terlalu besar untuk akar

15. Molar Ketiga Bawah 1. Bentuk mahkota sama dengan molar kedua RB, kebanyakan lebih kecil. 2. Dua akar pendek, kurang berkembang, sering bergabung, dengan inklinasi ke distal yang jelas. 3. Bagan oklusal empat persegi/bujur, sudut membulat 4. Memiliki empat cusp. 5. Ukuran bucco-lingual terkecil pada bagian distal. 6. Permukaan bukal cembung, berinklinasi ke lingual.

22

B. Anatomi dan morfologi Gigi sulung 1. Insisif Pertama Atas a. Sudut disto-insisal membulat, sudut mesio-insisal lancip b. Bentuk mahkota mirip insisif permanen pertama RA, secara keseluruhan lebih kecil dan kelihatan lebih gemuk c. Singulum palatal besar d. Akar miring ke distal, dan agak ke labial dari sumbu panjang mahkota dan meruncing ke arah apek e. Dimensi mesio-distal dan serviko-insisal mahkota hampir sama

2. Insisif Pertama Bawah a. Akar tunggal meruncing dan lebih membulat daripada

insisif/permanen pertama RB. Akar cenderung berinklinasi ke distal b. Merupakan gigi terkecil pada kelompok gigi sulung c. Servikal margin sisi mesial berkelok-kelok d. Bentuk berbentuk pahat

3. Insisif Kedua Atas a. Bentuk serupa dengan insisif sulung pertama RA, tetapi mahkota lebih kecil dan lebih sempit b. Singulum palatal lebih kurang menonjol c. Sudut disti-insisal membulat, sudut mesio-insisal lancip d. Akar tunggal

4. Insisif Kedua Bawah a. Sudut disto-insisal membulat, sudut mesio-insisal lancip b. Akar tunggal meruncing, cenderung berinklinasi ke distal c. Dari medial ke distal, tepi insisal miring ke bawah d. Tepi insisal mengikuti bentuk lengkung mandibula e. Lebih besar daripada insisif sulung pertama RB

23

f. Permukaan lingual lebih cekung daripada insisif sulung pertama RB

5. Caninus Atas a. Lereng mahkota mesial lebih panjang daripada distal b. Mahkota lebih kecil dan bulat dibandingkan caninus permanen RA c. Ridge labial dan palatal terbentang dari ujung cups d. Sisi insisal berbentuk intan dengan sudut membulat e. Servikal margin mesial lebih luas ke insisal daripada distal f. Akar tunggal meruncing ramping, panjang dua kali mahkota, dan cenderung berinklinasi ke distal 6. Caninus Bawah a. Lebih kecil dan ramping daripada caninus sulung RA b. Lereng distal lebih panjang daripada lereng mesial c. Permukaan lingual cekung d. Servikal margin mesial lebih berlekuk e. Akar tunggal meruncing, bengkok ke distal dan ke labial f. Ridge longitudinal labial dan lingual kurang baik, ridge lingual sering tak ada

7. Molar Pertama Atas a. Mahkota trapezoid b. Cusp mesio-palatal terbesar dan paling runcing c. Ukuran mahkota labial-palatal terbesar pada sisi mesial d. Tiga akar yang divergen e. Type premolar form: sepertiga premolar RA f. Type molar form: 1. Tiga cusp: Satu bukal dan dua palatal, cusp mesio-palatal lebih besar daripada disto-palatal 2. Empat cusp: dua cusp bukal dan dua cusp palatal

24

8. Molar Pertama Bawah a. Terdapat molar tubercle zucherkandl b. Terdapat empat cusp: dengan cusp mesio-bukal terbesar c. Panjang mahkota mesio-distal lebih besar daripada disto-lingual d. Marginal ridge mesial lebih menonjol daripada mesial e. Terdapat dua akar pada mesial dan distal, akar mesial lebih panjang

9. Molar kedua Atas a. Molar permanen pertama RA, dengan ukuran lebih kecil b. Terdapat tiga akar: Mesio-bukal, disto-bukal dan palatal yang divergen c. Didapatkan cusp carabelli

10. Molar kedua Bawah a. Cusp dan akar sama dengan molar permanen pertama RB, dengan ukuran yang lebih kecil b. Oklusal berbentuk empat persegi panjang c. Cusp mesio-bukal dan disto-bukal berukuran sama d. Berakar dua: mesial dan distal, akar mesial lebih panjang

2.7 Resorpsi Akar 2.7.1 Pengertian Resorpsi Akar Dalam ilmu kedokteran gigi, resorpsi akar adalah pengrusakan atau penghancuran yang menyebabkan kehilangan struktur gigi. Hal ini disebabkan oleh kerja sel tubuh yang menyerang bagian dari gigi. Bila kerusakan meluas ke seluruh gigi, dinamakan resorpsi gigi. Kerusakan akar yang parah dapat terjadi bila kerusakan sudah mencapai pulpa, sehingga sangat sulit untuk dirawat dan biasanya memerlukan ekstraksi gigi. Resorpsi akar terjadi akibat diferensiasi makrofag menjadi odontoklas yang akan meresorpsi sementum permukaan akar serta dentin akar. Tingkat keparahannya bervariasi dapat dilihat dari bukti-bukti berupa lubang mikroskopis permukaan akar (Abass, 2007). yang dapat menyebabkan kehancuran pada

25

Resorpsi akar dapat disebabkan oleh tekanan pada permukaan akar gigi. Tekanan tersebut dapat berasal dari trauma, erupsi gigi ektopik yang mengenai akar gigi tetangga, infeksi, beban oklusal yang berlebihan , pertumbuhan tumor yang agresif, maupun yang tidak dapat diketahui penyebabnya atau idiopatik. Menurut Weiland, penyebab yang paling umum (Abass, 2007). Akar gigi dilindungi oleh sementum. Sementum merupakan struktur yang menyerupai tulang. Namun sementum lebih resisten terhadap resorpsi dari pada tulang. Ada sejumlah teori yang menjelaskan mengapa ini terjadi. Hipotesis yang paling umum adalah bahwa sementum lebih keras dan lebih termineralisasi dibandingkan dengan tulang. Sementum juga bersifat antiangiogenik, sehingga dapat mencegah akses osteoklas. Walaupun demikian, bila kekuatan besar diberikan pada apeks gigi, sementum juga dapat mengalami resorpsi (El-Bialy, 2004). 2.7.2 Klasifikasi Resorpsi Akar Resorpsi akar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu resorpsi akar internal yang dimulai dari pulpa, dan resorpsi akar eksternal yang dimulai dari luar gigi (Harahap, 2010). 1. Resorpsi Internal Resorpsi internal diduga terjadi akibat pulpitis kronis. Tronstad (1988) berpendapat adanya jaringan nekrotik menyebabkan resorpsi internal menjadi progresif. Pada kebanyakan kasus, kondisi ini tidak menimbulkan rasa sakit sehingga cenderung hanya dapat didiagnosa sewaktu pemeriksaan radiografi adalah kekuatan ortodonti

rutin. Pulpitis kronis dapat terjadi akibat trauma , karies atau prosedur iatrogenik seperti preparasi gigi yang salah, ataupun idiopatik. Resorpsi internal jarang terjadi, namun dapat muncul pada setiap gigi, baik gigi yang telah direstorasi ataupun gigi yang bebas karies. Defeknya bisa terdapat di mana saja di dalam saluran akar. Bila hal tersebut terjadi pada ruang pulpa, dinamakan pink spot karena pulpa yang membesar terlihat melalui mahkota. Resorpi internal biasanya berjalan lambat. Namun bila tidak dirawat, maka lesi akan menjadi progresif dan

26

menyebabkan perforasi dinding saluran akar sehingga pulpa menjadi mati. Penghancuran dentin yang parah dapat menyebabkan gigi fraktur. Perawatan untuk resorpsi internal tanpa perforasi adalah dengan perawatan saluran akar. Kasus ini memiliki prognosis yang baik dan resorpsi tidak akan terjadi lagi (Harahap, 2010).

2. Resorpsi Eksternal Resorpsi akar dapat disebabkan oleh beberapa hal, baik umum maupun lokal. Adanya perubahan keseimbangan antara osteoblas dan osteoklas pada

ligamen periodontal dapat menghasilkan sementum tambahan pada permukaan akar (hipersementosis) atau menyebabkan hilangnya sementum bersama dengan dentin, yang dinamakan resorpsi eksternal. Resorpsi dapat didahului oleh peningkatan suplai darah ke suatu daerah yang berdekatan dengan permukaan akar. Proses inflamasi mungkin disebabkan oleh infeksi, kerusakan jaringan pada ligamen periodontal, atau gingivitis hiperplastik pasca trauma dan epulis. Osteoklas diduga berasal dari derivat monosit darah. Inflamasi meningkatkan permeabilitas dari pembuluh darah, sehingga memungkinkan pelepasan monosit yang akan bergerak ke tulang atau permukaan akar yang cedera. Penyebab lain dari resorpsi meliputi tekanan, bahan kimia, penyakit sistemik dan gangguan endokrin. Menurut Tronstad, resorpsi akar eksternal dapat dibagi menjadi enam jenis (Harahap, 2010). 3. Resorpsi Permukaan Resorpsi permukaan merupakan temuan patologis yang umum terjadi pada permukaan akar. Aktivitas osteoklas merupakan respon terhadap injuri pada ligamen periodontal atau sementum. Resorpsi permukaan biasanya dapat dilihat

27

melalui Scanning Electron Microscopy (SEM). Permukaan akar menunjukkan resorption lacunae superfisial (Gambar 2). Kondisi ini dapat mengalami perbaikan spontan berupa pembentukan sementum baru (Harahap, 2010). Resorpsi Akibat Inflamasi Resorpsi akibat inflamasi diduga terjadi karena infeksi jaringan pulpa. Daerah yang terinfeksi biasanya berada di sekitar foramen apikal dan canalis lateralis. Sementum, dentin, dan jaringan periodontal yang berdekatan juga dapat terlibat. Pada pemeriksaan radiografi terlihat adanya radiolusen pada daerah tersebut. Saluran akar dan tubulus dentin terinfeksi dan nekrosis, serta respon inflamatori dengan aktivitas osteoklas terjadi di dentin dan tulang.

Pertambahan aktivitas osteoklas yang berada di dentin pada sebelah kanan menunjukkan pengaruh bakteri yang berada di tubulus dentin (Harahap, 2010)..

4. Resorpsi Penggantian Resorpsi penggantian (Gambar 4) biasanya terjadi pada trauma yang berat. Resorpsi penggantian sering terjadi setelah replantasi, terutama bila replantasi terlambat dilakukan. Cedera pada permukaan akar biasanya berat, sehingga

penyembuhan dengan sementum tidak dapat terjadi, yang menyebabkan kontak langsung antara tulang alveolar dan permukaan akar. Proses ini dapat bersifat reversibel apabila permukaan akar yang terlibat kurang dari 20%. Karena osteoklas berkontak langsung dengan dentin, maka resorpsi dapat terus berlangsung tanpa stimulasi hingga tulang alveolar mengggantikan dentin. Istilah ankylosis dapat digunakan pada kasus ini karena tulang alveolar melekat langsung ke dentin.Secara radiografis, ruang ligamen periodontal tidak akan terlihat karena

28

penggabungan tulang dengan dentin. Pada kasus ini, saluran akar harus diobturasi untuk mencegah resorpsi akar akibat infeksi pulpa (Harahap, 2010).

5. Resorpsi Akibat Tekanan Tekanan pada akar gigi dapat menyebabkan resorpsi yang merusak jaringan ikat diantara dua permukaan. Tekanan dapat disebabkan oleh gigi yang erupsi atau impaksi, pergerakan ortodonti, trauma karena oklusi, atau jaringan patologis seperti kista atau neoplasma. Resorpsi akibat tekanan, misalnya akibat perawatan ortodonti dapat terjadi pada apeks gigi , dengan cedera berasal dari tekanan pada sepertiga apeks sewaktu menggerakkan gigi. Akibatnya dapat terjadi pemendekkan akar gigi. Rangsangan terhadap aktivitas osteoklas di apeks akibat tekanan berlebihan selama perawatan ortodonti dapat menyebabkan terjadinya resorpsi akar. Osteoklas dapat meluas sampai ke dentin dan mengenai tubulus dentin tanpa adanya bakteri. Menurut Newman, gigi yang paling sering mengalami resorpsi akibat tekanan adalah gigi insisivus karena gigi insisivus lebih sering digerakkan. Tekanan yang diberikan dapat membangkitkan pelepasan selsel monosit dan pembentukan osteoklas sehingga terjadi resorpsi. Apabila

penyebab tekanan dihilangkan, maka resorpsi dapat dihentikan (Harahap, 2010).

29

6. Resorpsi Sistemik Resorpsi sistemik adalah resorpsi yang diakibatkan adanya gangguan

sistemik. Jenis ini dapat terjadi pada sejumlah penyakit dan gangguan endokrin, seperti : Pagets disease, calcinosis, Gauchers disease dan Turners syndrome. Selain itu, resorpsi ini dapat terjadi pada pasien yang menjalani terapi radiasi (Harahap, 2010). 7. Resorpsi Idiopatik Etiologi resorpsi akar idiopatik sampai saat ini masih belum diketahui secara jelas. Pada beberapa kasus dapat terjadi resorpsi akar yang penyebabnya bukan karena faktor sistemik maupun lokal . Resorpsi ini dapat terjadi pada satu gigi maupun beberapa gigi. Laju resorpsi bervariasi dari lambat (bertahun-tahun), sampai cepat dan agresif (beberapa bulan) yang melibatkan sejumlah besar kerusakan jaringan. Letak dan bentuk defek resorpsi juga bervariasi. Resorpsi idiopatik dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu resorpsi apikal dan resorpsi servikal. Resorpsi apikal biasanya lambat dan dapat berhenti secara spontan, yang mungkin akan mempengaruhi satu atau beberapa gigi, dengan pemendekan akar secara bertahap, dan apeks gigi tetap bulat. Sedangkan resorpsi servikal terdapat pada bagian servikal gigi. Defek dapat melebar dan berbentuk lekukan dangkal (Gambar 7). Tipe ini dapat juga disebut sebagai resorpsi perifer , resorpsi tersembunyi, pseudo pink spot, atau ekstrakanal invasif. Defek dapat juga dijumpai pada permukaan eksternal gigi yang kemudian berlanjut ke dentin berupa ramifikasi. Hal ini tidak mempengaruhi dentin dan predentin pada sekitar pulpa. Resorpsi tipe ini sering dianggap keliru sebagai resorpsi internal.

Resorpsi servikal dapat disebabkan oleh inflamasi kronis ligamen periodontal atau trauma. Resorpsi servikal paling baik ditangani dengan pembedahan dan pembuangan jaringan granulasi. Defek tersebut lalu dibentuk untuk direstorasi. Usia rata-rata pasien yang mengalami resorpsi idiopatik pada wanita adalah berusia 32 tahun, sedangkan laki-laki berusia 44 tahun. Resorpsi idiopatik lebih

30

sering terjadi pada perempuan daripada laki-laki. Resorpsi akar idiopatik yang terdapat pada beberapa gigi biasanya asimptomatik. Resorpsi ini biasanya dapat diketahui dari foto radiografi. Beberapa pasien mengeluhkan tambalan longgar, restorasi lepas, goyangnya gigi, dan juga nyeri yang berhubungan dengan gigi dan jaringan sekitarnya, namun nyeri terhadap perkusi dan palpasi bukan merupakan gejala awal. Penyebab resorpsi ini tidak tunggal, melainkan berkaitan dengan kondisi lain seperti adanya inflamasi periapikal, tumor atau kista, kekuatan mekanis yang berlebihan atau reimplantasi gigi (Harahap, 2010).

2.8. Neuromuskularpadastomatognati (mastikasi dandeglutasi) 2.8.1 Otot-otot mastikasi a. M.Masseter Masseter adalah suatu massa otot yang tebal, berbentuk empat persegi panjang disebelah pinggir wajah. Melekat diantara permukaan lateral dari ramus mandibula dan arcus zygomaticus persis dibawah kulit. Masseter digunakan untuk penghancuran dan penggilingan makanan. Selain untuk mengangkat mandibula ke vertikal, masseter dapat memberikan vektor anterior pada rahang selama rahanag diangkat dari suatu posisi depresi ke posisi interkuspal maksimal pada busur midsagital pengangkatan. Initerjadi karena penyebaran kontraksi dari fasikuli yang paling anterior ke yang paling posterior. Kaput profunda dapat memberikan efek retrusi. Ada kemungkinan bahwa kaput superfisialis yang kuat itu mempunyai peranan penting pada komponen anterior sewaktu mandibula mendekati relasi sentrik. Cabang masseter dari saraf kranialis kelima memasok persarafan. Pasokan arteri berasal dari cabang-cabang arteri masseterika (McDevitt, 2002). b. M.Temporalis Merupakan otot berempal dua dengan origo berbentuk kipas dan tendon yang sangat besar, kuat, serta berinsersio kedalam prosesus koronoideus, krista temporalis profunda dan batas anterior ramus mandibula. Pada pokoknya otot ini dalah suatu elevator dan retraktor (pengangkat dan penarik) mandibula dan apabila otot diaktifkan secara bertahap, dari anterior ke posterior, maka arah dari tarikan serabut-serabut berkontraksi akan menjadi sama seperti perjalanan kearah

31

atas dari prosesus koronoideus ketika mandibula diangkat dari suatu posisi tertekan (McDevitt, 2002). c. Pterygoideus Medialis Pterygoideus medialis adalah suatu massa jaringan otot yang kuat, empat persegi panjang, terletak pada sisi medial dari ramus mandibula. Otot ini tidak selebar atau setebal masseter. Batas posteriornya tersusun serupa dengan batas posterior dari masseter pada proyeksi lateral, tetapi batas anteriornya terletak lebih distal kearah dorsal. Pada potongan horizontal, separuh atas dari pterygoideus medialis berbentuk baji dengan pinggir yang tipis menghadap kearah belakang. Setengah bawahnya berbentuk oval (McDevitt, 2002). d. Pterygoideus Lateralis Otot pterygoideus lateralis menempati suatu posisi yang dalam dan tersembunyi. Posisi ini dianggap disebabkan oleh fungsi protraksi mandibula. Karena dulunya pergerakan mandibula adalah suatu problem yang relatif kecil dan karena posisinya yang dalam dan ukurannya kecil, massa otot ini kurang mendapat perhatian dan hampir terabaikan oleh para ahli ilmu anatomi yang dulu. Secara anatomi dan fungsional, bagian atas dan bawah dari pterygoideus lateralis kemungkinan adalah dua otot yang berbeda. Pada umumnya, peranan dari kedua bagian ini adalah berkenaan dengan posisi dan keseimbangan persatuan kondildiskus pada eminensia artikularis selama adanya gerakan-gerakan fungsional dan kemungkinan juga pada posisi postural. Demikian juga bagian inferior aktif apabila persatuan kondil-diskus protrusi (tertarik kedepan) dan distabilkan pada posisi protrusi. Karena itu pterygoideus lateralis terlibat dalam gerakan mandibula. Gangguan fungsi normal pterygoideus lateralis yang berat mengakibatkan fungsi mandibula sangat terbatas atau mengalami kegagalan. (McDevitt, 2002).

2.8.2 Nervus mastikasi Sistem mastikasi merupakan unit fungsional dalam pengunyahan yang mempunyai komponen terdiri dari gigi geligi, sendi temporomandibula (STM), otot kunyah, dan sistem syaraf. Otot digerakan oleh sistem impuls syaraf karena ada tekanan yang timbul dari gigi bawah berkontak dengan gigi atas sehingga

32

mandibula dapat melaksanakan aktifitasfungsional dari sistem mastikasi. Keharmonisan antara komponen komponen ini sangat penting dipelihara kesehatan dan kapasitas fungsionalnya (Mc Devid, 2002).

Persyarafan pada otot Mastikatori menurut Mc Devid (2002) : 1. Musculus Maseter Inervasi oleh Nervus V (Trigeminus) 2. Musculus Pterigoideus lateralis Inervasi oleh Nervus V (Trigeminus) 3. Musculus Pterigoideus medialis Inervasi oleh Nervus V (Trigeminus) 4. Musculus Temporalis Inervasi oleh Nervus V (Trigeminus), Nervus Auriculotemporalis.

2.8.3 Aktivitas otot deglutasi Berkovitz (1995) dan William (1995) menyatakan bahwa otot-otot yang berperan dalam proses penelanan adalah otot-otot didalam kavum oris proprium yang bekerja secara volunteer, otot-otot faring dan laring bekerja secara involunter. Kavum oris terbagi menjadi dua bagian yaitu vestibulum oris dan kavum oris proprium. Vestibulum oris adalah ruang antara gigi-geligi dan batas mukosa bagian dalam dari pipi dan labium oris. Sedangkan kavum oris proprium merupakan ruang antara arkus dentalis superior dan inferior. Batas anterior dan lateral kavum oris proprium adalah permukaan lingual gigi geligi dan prosesus alveolaris (Andriyani, 2001). a. Otot di dalam kavum oris proprium Otot yang termasuk didalam kelompok ini adalah otot-otot lidah dan otot-otot palatum lunak. Otot- otot lidah terdiri dari otot- otot instrinsik dan ekstrinsik. Otot-otot intrinsic lidah merupakan otot yang membentuk lidah itu sendiri yaitu muskulus longitudinalis lingua superfisialis,

muskulus longitudinalis lingua provunda, muskulus transfersus lingua dan muskulus vertikalis lingua. Otot ekstrinsik lidah merupakan otot yang berada di bawah lidah yaitu muskulus genioglossus untuk mengerakan

33

bagian tengah lidah ke belakang dan muskulus styloglossus yang menarik lidah keatas dan kebawah. Sedangan otot- otot palatum lunak yaitu muskulus tensor dan muskulus levator veli palatini untuk mengangkat faring dan muskulus palatoglossus yang menyebabkan terangkatnya uvula (Andriyani, 2001). b. Otot faring Terbagi menjadi 2 golongan yaitu otot- otot yang jalannya melingkar dan otot- otot yang menbujur faring. Otot-otot melingkar terdiri atas muskulus konstriktor faringis superior, muskulus konstriktror faringis media dan muskulus konstriktor faringis inferior. Sedangkan otot- otot membujur faring yaitu muskulus stilofaringeus. Faring tertarik kearah medial untuk saling mendekat. Setelah itu lipatan- lipatan faring membentuk celah sagital yang akan di lewati makanan menuju kedalam faring posterior celah ini melakukan kerja selektif sehingga makanan yang telah di kunyah dapat lewat dengan mudah (Andriyani, 2001). c. Otot laring. Terbagi dua yaitu otot laring instrinsik dan otot laring ekstrinsik. Otot laring ekstrinsik yaitu muskulus krikotiroideus, sedangan otot- otot laring intrinsic yaitu muskulus tireoepiglottikus dan muskulus aritenoideus pada laring terdapat dua sfingter yaitu aditus laringis dan rima glottidis. Aditus laringis berfungsi hanya pada saat menelan. Ketika bolus makanan di pindahkan kebelakang diantara lidah dan palatum lunak laring tertarik keatas. Aditus laringis di persempit oleh kerja muskulus arytinoideus obliqus dan muskulus oroepiglottikus. Bolus makanan atau cairan, kini masuk ke esophagus dengan mengelincir di atas epiglottis atau turun lewat alur pada sisi aditus laringis rima glottidis berfungsi sebagai sfingter pada saat batuk atau bersin tetapi yang terpenting adalah epiglottis membantu mencegah makanan agar sejauh mungkin dari pita suara, dimana akan mempengaruhi tegangan pita suara pada waktu bicara (Andriyani, 2001).

34

2.8.4 Nervus Deglutasi 1. Nervus Facialis (N. Cranialis VII) Saraf ini melekat ke batang otak pada ujung atas medulla dalam hubungan yang erat terhadap tepi bawah pons melalui redix sensori dan motoriknya. Kedua radix ini melintasi subarachnoidea di atas n. Vestibulococlearis (n. Cranialis VIII) dan masuk ke meatus acusticus internus. Di dalam meatus, kedua radix saraf bergabung dan pada bagiam dasar meatus, n facialis akan masuk ke canalis facialis dan berputar di sekitar os. Temporale, keluar dari foramen stylomastoideum pada basis cranii (Dixon, 1993). Tepat di luar foramen stylomastoideum, n. facialis mengeluarkan 3 cabang motorik (Dixon, 1993): 1) N. auricularis ke m. auricularis posterior dan m. occipitalis kulit kepala. 2) Saraf ke venter posterior mm. digastrici. 3) Saraf ke m. stylomastoideum N. facialis kemudian menembus selubung fascia dari glandula parotidea dan masuk ke subtansu glandula, terbagi menjadi dua cabang yang besar. Dari cabang superior dikeluarkan rami temporales, zygomatici dan bucales; cabang inferior dikeluarkan n. bucalis inferior, ramus marginalis mendibulae dan colli. Cabang terminal terlihat pada tepi anterior glandula parotidea, menyebar memlalui wajah, membentuk plexus saraf dengan saraf yang lain dan dengan ujung terminal n. trigeminus (Dixon, 1993). 1) Rami temporales mempersarafi m. auricularis anterior dan superior, m. frontalis, bagian atas orbicularis oculi, dan corrugator supercilli. 2) Rami zygomatici mempersarafi serabut luar orbicularis oculi. 3) Rami buccales mempersarafi m. buccinator, otot labium oris superius, risorius dan otot hidung. 4) Ramus marginalis mandibulae mempersarafi otot labium oris inferior dan mentalis.

35

5) Ramus colli mempersarafi m. platysma pada leher dan mengeluarkan ramus communicans untuk bergabung dengan ramus marginalis mandibulae. 2. Nervus Glassopharyngeus (Nervus Cranialis) Cabang utama dari nervus glassopharyngeus adalah (Dixon, 1993): 1) Plexus tympanicus, pada telinga tengah saraf ini bergabung dengan cabang n. facial untuk membentuk olexus tympanicus, tempat keluarnya cabang sensorik ke membran mukosa telinga tengah, antrum mastoideum dan tuba auditiva dan n. petrosus minor superficialis berasal dari n. glassopharingeus, mempersarafi ganglion oticum dan glandula parotidea. 2) Ramus caroti, membawa serabut sensorik (otonom) dan ikut berperan dalam mengatur tekanan darah. 3) Cabang motorik ke m. stylopharyngeus. 4) Rami pharyngei (sensorik) ke plexus pharyngeus pada dinding samping pharyng. Dari plexus, saraf sensorik yang berasal dari n. glassopharyngeus berjalan ke membran mukosa pharynx 5) Rami tonsillares naik di dalam m. hyoglossus untuk membentuk plexus di sekitar tonsilla. Dari plexus saraf sensori didestribusikan ke bagian atas pharynx dan pangkal tuba auditiva. 6) Rami linguales berjalan jauh ke dalam ke m. hyoglossus dan membentuk persarafan sensorik ke membran mukosa pars pharyngea (sepertiga posterior) lingua. 7) Ramus communicans bersama dengan ganglion cervicalis superior sympathicus, n. vagus dan facialis. 3. Nervus Vagus (Nervus Cranialis) Cabang-cabang n. vagus pada leher adalah (Dixon, 1993): 1) Ramus meningeus recurrens, mempersarafi dura meter dari fossa cranii posterior. 2) Ramus auricularis, saraf terbagi menjadi cabang yang bergabung dengan n. auricularis posterior (cabang n. facialis) dan cabang yang mempersarafi membran mukosa meatus acusticus externus dan

36

permukaan

luar

membran

tympani

(dengan

cabang

n.

auriculotemporalis). 3) Cabang kecil didistribusikan ke sinus caroticus dan copus carotid. 4) Rami pharyngei, saraf ini mengandung serabut motorik dari m. contrictor pharynx dan m. palatopharyngeus, levator vlei palatini, paloglossus dan uvula dari palatum molle. 5) N. laryngeus superior, terpisah menjadi n. laryngeus superior ramus internus yang besar (sensorik) yang menyertai a. Laryngea interna dan cabang motorik yang lebih kecil (n. laryngeus superior ramus externus) berjalan jauh ke dalam ke mm. infrahyoidei menuju ke m. cricothyroideus dan constrictor pharyngis inferior. 4. Nervus Accessorius (Nervus Cranialis XI) Merupakan saraf motorik yang mempersarafi otot dinding pharynx dan larynx, serta dua otot superficialis pada leher yaitu m.

sternocleidomastoideus dan trapezius. Terdiri dari dua bagian yang berbeda baik origo maupun distribusinya. Radices craniales atau pars vagalis berasal dari bagian samping medulla, di caudal n, vagus dan radices spinalles berasal dari bagian samping corda spinalis sejauh mungkin ke bawah ke perekatan nn. Cervicales V (Dixon, 1993). 5. Nervus Hypoglossus (Nervus Cranialis XIII) Merupakan saraf motorik dari otot lingua, kecuali m. palatoglossus dipersarafi oleh n. vagus (Dixon, 1993).

2.8.5 Saraf Kepala dan Leher Menurut Dixon (1993), saraf kepala dan leher yang penting antara lain: 1. N. Trigeminus N. trigeminus merupakan n. cranialis terbesar dan hubungan perifernya mirip dengan n. spinalis, yaitu keluar berupa radix motoria dan sensoria yang terpisah dan radix sensoria mempunyai ganglion terbesar. Serabut sensoriknya berhubungan dengan ujung saraf yang berfungsi sebagai sensasi umum pada wajah, bagian depan kepala, mata, cavum nasi, sinus paranasal, sebagian telinga luar dan membran tympani, membran mukosa cavum oris termasuk bagian

37

anterior lingua, gigi geligi dan struktur pendukungnya serta duramater dari fossa cranii anterior. Radix motoria mempersarafi otot pengunyahan, otot palatum molle, dan otot telinga tengah. 2. N. Opthalmicus Di bagian depan sinus, saraf terbelah menjadi tiga cabang besar, yaitu n. lacrimalis, frontalis dan nasociliaris yang masuk ke orbita dan keluar dari sinus cavernosus, melintasi fissura orbitalis superior diantara ala major dan minor ossis sphenoidalis. N. lacrimalis berjalan di sepanjang dinding lateral orbita, n. frontalis berjalan di balik atap orbita dan n. nasociliaris berjalan pada bagian dalam orbita. 3. N. Maxillaris Cabang-cabang n. maxillaris pada fossa pterygopalatina adalah: a. Dua rami ganglionik menuju ganglion pterygopalatinum b. N. alveolaris superior posterior c. N. zygomaticus dan cabang-cabangnya keluar dari ganglion pterygopalatina d. N. palatinus major dan nn. palatini minores e. Rami nasales dan n. nasopalatinus f. Ramus pharyngeus ke membrana mukosa atap nasopharynx 4. N. Mandibularis Setelah berjalan singkat, truncus n. mandibularis terbelah menjadi divisi posterior dan divisi anterior. Divisi posterior yang besar mengeluarkan a. auriculotemporalis, n. alverolaris inferior dan n. lingualis. Sedangkan divisi anterior yang lebih kecil mengeluarkan percabangan ke m. temporalis, pterygoideus lateralis dan masseter dan berlanjut ke m. buccinator. 5. N. Facialis Saraf ini melekat ke batang otak pada ujung atas medulla. Tepat di luar foramen stylomastoideum, n. facialis mengeluarkan tiga cabang motorik, yaitu n. auricularis posterior ke m. auricularis posterior dan m. occipitalis kulit kepala, saraf ke venter posterior mm. digastrici dan saraf ke m. stylohyoideus 6. N. Glossopharyngeus N. glossopharyngeus melekat di bagian samping permukaan atas medulla di bawah pons melalui tiga atau empat filamen yang mengandung serabut sensorik

38

dan motorik. Saraf berjalan melalui bagian depan foramen jugulare dalam selubung duramater. 7. N. Vagus N. vagus melekat melalui serangkaian filamen ke batang otak pada bagian samping medulla, di caudal dan pada serangkaian n. glossopharyngeus. N. vagus mempunyai komponen berupa serabut somatik sensorik, serabut somatik motorik dan serabut sensorik dan motorik autonom.

8.

N. Accessorius N. accessorius merupakan saraf motorik yang mempersarafi otot dinding

pharynx,

larynx,

serta

dua

otot

superficialis

pada

leher

yaitu

m.

sternocleidomastoideus dan trapezius. Terdiri dari dua bagian yang berbeda baik origo maupun distribusinya. 9. N. Hypoglossus N. hypoglossus merupakan saraf motorik dari otot lingua, kecuali m. palatoglossus dipersarafi oleh n. vagus. N. hypoglossus melekat melalui serangkaian filamen pada bagian samping medulla, diantara oliva dan pyramid (Dixon, 1993).

Gambar 1. Saraf-saraf cranial

39

Nomor Nama

Jenis

Fungsi Menerima rangsang dari hidung dan

Olfaktorius

Sensori

menghantarkannya ke otak untuk diproses sebagai sensasibau Menerima rangsang dari mata dan

II

Optikus

Sensori

menghantarkannya ke otak untuk diproses sebagai persepsi visual

III IV

Okulomotor Troklearis

Motorik Motorik

Menggerakkan sebagian besar otot mata Menggerakkan beberapa otot mata Sensori: Menerima rangsangan dari wajah

Trigeminus

Gabungan untuk diproses di otak sebagai sentuhan Motorik: Menggerakkan rahang

VI

Abdusen

Motorik

Abduksi mata Sensorik: Menerima rangsang dari bagian anterior lidah untuk diproses di otak

VII

Fasialis

Gabungan sebagai

sensasi

rasa

Motorik: Mengendalikan otot wajah untuk menciptakan ekspresi wajah Sensori sistem vestibular: Mengendalikan VIII Vestibulokoklearis Sensori keseimbangan Sensori koklea: Menerima rangsang untuk diproses di otak sebagai suara Sensori: Menerima rangsang dari bagian IX Glosofaringeal Gabungan posterior lidah untuk diproses di otak sebagai Motorik: sensasi Mengendalikan rasa organ-organ

40

dalam Sensori: Menerima rangsang dari organ X Vagus Gabungan dalam Motorik: dalam XI XII Aksesorius Hipoglossus Motorik Motorik Mengendalikan pergerakan kepala Mengendalikan pergerakan lidah Mengendalikan organ-organ

Tabel 1. 12 Syaraf Cranial

2.9 Persistensi Gigi 2.9.1 Definisi Gigi sulung yang belum tanggal pada waktunya, sehingga gigi tetap yang akan bererupsi mulai muncul keluar kemudian gigi permanen ini akan mencari arah. Hal itu disebabkan benih gigi permanen tidak terletak persis dibawah gigi susu yang digantikannya melainkan terletak didepan atau dibelakang gigi susu sehingga biasa timbul variasi seperti ini. 2.9.2 Faktor-Faktor yang menyebabkan terjadinya persistensi Gigi susu tidak tanggal walaupun gigi tetap penggantinya telah tumbuh (persistens). Kelainan gigi ini merupakan kebalikan dari kelainan premature loss. Dimana gigi tetap muncul diluar lengkung rahang dan tampak berjejal (Shari, 2008). 2.9.3 Penyebab tidak langsung Segala hal yang menyebabkan terjadinya gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan tubuh, secara tidak langsung juga berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan rahang dan gigi geligi, seperti (Shari, 2008) :

41

a. Faktor keturunan (genetika) Seorang anak yang mengalami kelainan posisi gigi bisa diturunkan dari kedua orang tuanya. Contohnya orang tua dengan kelainan skelatal (tulang rahang) kelas III Angle (cakil) kemungkinan akan mempunyai anak dengan kondisi gigi yang serupa. Faktor keturunan itu tidak bisa dicegah karena setiap orang tua pasti akan mewariskan gen-gen (sifat menurun) kepada anak-anaknya.

b. Faktor gangguan pada janin (kongenital) Berbagai gangguan dari luar yang dapat mempengaruhi keadaan janin pada saat berada di dalam kandungan, misalnya ; mengkonsumsi obat-obatan pada saat hamil, menderita trauma /penyakit tertentu dan kurang gizi. Faktor kongenital ini harus menjadi perhatian bagi para calon orang tua. Terutama bagi ibu hamil agar hati-hati dalam mengonsumsi obat-obatan pada usia 8 - 14 minggu masa kehamilan. Sebab menurut para ahli saat usia inilah terjadinya pembentukan rahang atas dan bawah.

c. Gangguan keseimbangan kelenjar endokrin Kelenjar endokrin berfungsi menghasilkan hormon dalam tubuh untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan. Termasuk ini adalah kelenjar pituitary, thyroid dan parathyroid. Apabila ada kelainan pada kelenjar-kelenjar tersebut, maka dapat terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan tubuh termasuk rahang dan gigi.Contohnya, bila hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitary berlebih mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan tubuh melebihi normalnya atau gigantisme, dan gigi geligi menjadi renggang (diastema). Begitupula sebaliknya bila hormon yang dihasilkan kelenjar pituitary berkurang, maka pertumbuhan akan terhambat. Penderita menjadi kerdil dan creatism serta gigi geligi menjadi berjejal (crowding).Setelah mengetahui penyebab gigi tidak teratur, maka perlu langkah-langkah untuk mencegahnya. Ketidakteraturan gigi dapat dicegah pada saat usia anak prasekolah dan sekolah dasar (3-11 tahun). Ada tiga langkah yang perlu dilakukan dalam mencegah gigi tidak teratur yaitu (Shari, 2008) :

42

1. Pendekatan psykologis. Secara psykologis anak-anak belum peduli dengan keberhasilan dan kesehatan giginya. Oleh karena itu peran orang tualah untuk mengajarkan pada anak tentang perlunya menjaga kebersihan dan kesehatan gigi. Misalnya, memberi contoh dan membiasakan menyikat gigi setelah makan dan sebelum tidur pada si anak. 2. Perawatan gigi anak. Setelah si anak secara psykologis sudah dapat menerima perawatan, maka butuh konsultasi ke dokter gigi untuk diambil tindakan bila dipandang perlu. Seperti mencabut gigi susu yang belum tanggal sedangkan gigi tetapnya sudah tumbuh. Penambalan gigi susu yang berlubang agar tidak tanggal sebelum waktunya. Pembuatan alat (space maintainer) untuk mempertahankan posisi ruangan gigi yang telah tanggal sebelum waktunya. 3. Mencegah dan menghilangkan kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh anak-anak, seperti mengisap jari, bernapas melalui mulut dan proses penelanan yang salah. Oleh karena itu orang tualah harus mengetahui kebiasaan buruk si anak dan mencegahnya sejak dini. Bila anak sudah melakukan kebiasaan buruk, maka orang tua segera berkonsultasi ke dokter gigi untuk menghilangkan kebiasaan buruk tersebut sebelum terjadi kelainan gigi (Shari, 2008). 2.10 Penanganan gigi persistensi Yang harus dilakukan orang tua dalam hal ini adalah membawa anak kedokter gigi untuk dilakukan pencabutan gigi susu (Maulani, 2005). 1. Pencabutan gigi susu yang masih kuat membutuhkan obat anestesi (penghilang rasa sakit). 2. Orang tua tidak perlu mengkhawatirkan pencabutan ini, karena berkat kemajuan teknologi, saat ini telah diciptakan alat suntik yang mempunyai jarum sangat kecil, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit Contoh alat ini:

43

a. Sitoject 1. alat suntik berbentuk bolpen yang mengeluarakan suara ctik. . .ctik. . . bila digunakan 2. Alat ini bias memakai jarum dengan diameter kecil menacapai 0,28 mm. karena jarumnya sangat kecil, friksi yang terjadi menjadi berkurang, sehingga tidak akan terasa sakit . 3. Apalagi bila sebelum disuntik dioleskan anestesi topical (penghilang rasa sakit yang bekerja dipermukaan kulit) yang mempunyai keharuman buah-buahan orange, strawberry atau anggur yang sekaligus bias menjadi salah satu pengalih perhatian anak, anestesi dapat berjalan dengan lancer tanpa rasa sakit. Namun demikian kasus pencabut gigi anak yang pertama sekitar usia 6 tahun padaakhir masa TK atau awal masuk SD biasa menimbulkan trauma apabila tidak ditangani dengan baik. Anak perlu dialihkan perhatian selama duduk di kursi gigi dengan berbagai cara (Maulani, 2005) : a. Dengan menanyakan dimana sekolahnya, diajari pap saja disekolah, dan lain sebagainya. b. sementara dokter gigi mempersiapkan sepengetahuan anak alatnya-alatnya tanpa

44

Pencabutan gigi yang sudah goyang berbeda dengan pencabutan gigi yang masih kuat tertanam didalam gusi. Pada kasus ini yang dipergunakan hanya anatesi topikal, biasanya memakai chlor Ethyl. Anestesi ini menimbulkan rasa dingin. 1. Sebelum pemberian Chlor Ethyl, anak diberitahu terlabih dahulu bahawa giginya akan menjadi dingin, seperti makan es. 2. Saat gigi tercabut, umumnya anak tidak merasakan sakit dan biasanya pada saat itu dia baru merasa ketakutan. 3. Seakarang si anak bisa turun dari kursi perawataan gigi sambil tersenyum, terkadang sambil mengusap air mata yang semapat menetes (Maulani, 2005)

45

BAB III KONSEP MAPPING

Benih Gigi

Enamel Organ

Dental Papilla

Kantung Gigi

Erupsi Intraoseus

Aposisi

Kalsifikasi

Tahap Erupsi

T. Praerupsi

T. Prafungsional

T. Fungsional

Erupsi Gigi

Abnormal

Normal

Penatalaksanaan

Faktor Lokal

Faktor Sistemik

45

46

BAB IV PEMBAHASAN

Perkembangan orofacial dimulai dari perkembangan wajah, perkembangan labium oris superius, perkembangan palatum, perkembangan dan erupsi gigi geligi, cartilago rangka wajah, lingua dan pipi (Dixon, 1993). Organ pembentuk benih gigi terdiri dari organ enamel yang berkembang seperti tombol, tumbuh di atas lamina gigi, dan berasal dari epitel. Dental papilla atau organ dentin, yang berkembang dari dasar jaringan mesenkim yang berasal dari mesenkim dan akan membentuk dentin dan tinggal di sekitar ruang sentral dari dentin sebagai pulpa. Kantung gigi (organ periodontal), yang juga berkembang dari dasar jaringan mesenkim dan akan membentuk struktur penyanggah gigi, sementum, tulang alveolar dan selaput periodontal (Harshanur, 1991). Siklus kehidupan gigi dimulai dari tahap pertumbuhan, erupsi intraoseus sampai tahap erupsi (Purba, 2004). Erupsi gigi adalah proses yang bervariasi pada setiap anak. Variasi ini masih dianggap sebagai suatu keadaan yang normal jika lamanya perbedaan waktu erupsi gigi masih berkisar antara 2 tahun. Variasi dalam erupsi gigi dapat disebabkan oleh faktor genetik dan lokal (Harshanur, 1991).Faktor-faktor kegagalan erupsi dapat berasal dari gigi yang mencakup kelainan dalam perkembangan benih gigi, kegagalan dalam pergerakan praerupsi dan

prafungsional, dan letak benih yang abnormal. Sedangkan yang berasal dari sekitar gigi terdiri dari tulang yang tebal dan padat, tempat untuk gigi tersebut kurang, posisi gigi tetangga menghalangi erupsi gigi tersebut, dan adanya gigi susu yang persistensi (Purba, 2004). Persistensi gigi terjadi akibat gigi sulung yang belum tanggal pada waktunya, sehingga gigi tetap yang akan bererupsi mulai muncul keluar kemudian gigi permanen ini akan mencari arah. Hal itu disebabkan benih gigi permanen tidak terletak persis dibawah gigi susu yang digantikannya melainkan terletak didepan atau dibelakang gigi susu sehingga biasa timbul variasi seperti ini. Perawatan yang dilakukan adalah dengan melakukan pencabutan pada gigi susu.

46

47

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan 1. Setiap gigi mengalami tahap pertumbuhan yang berturut-turut dari perkembangan selama siklus hidupnya yaitu dengan tahap pertumbuhan yang terdiri dari inisiasi, polifersi, histodeferensiasi, morfodiferensiasi. Tahap selanjutnya tahap erupsi intraoseous yang dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap aposisi dan tahap kalsifikasi. Erupsi gigi munculnya tonjolan gigi atau tepi insisal gigi menembus gingival, dapat terjadi pada gigi susu maupun permanen. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi ada dua macam, yaitu faktor lokal meliputi akar gigi yang bengkok, ankilosis gigi, kehilangan premature gigi sulung, dan trauma pada gigi susu, dan sedangkan faktor sistemik meliputi gangguan endokrin, faktor keturunan, ras, dan hipovitaminosis D. 3. Gigi sulung yang belum tanggal pada waktunya, sehingga gigi tetap yang akan bererupsi mulai muncul keluar kemudian gigi permanen ini akan mencari arah. Hal itu disebabkan benih gigi permanen tidak terletak persis dibawah gigi susu yang digantikannya melainkan terletak didepan atau dibelakang gigi susu sehingga biasa timbul variasi. 4. Penanganan yang dilakukan : a. Pencabutan gigi susu yang masih kuat membutuhkan obat anestesi (penghilang rasa sakit). b. Orang tua tidak perlu mengkhawatirkan pencabutan ini, karena berkat kemajuan teknologi, saat ini telah diciptakan alat suntik sitoject yang mempunyai jarum sangat kecil, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit. Sebelum disuntik dioleskan anestesi topikal (penghilang rasa sakit yang bekerja dipermukaan kulit) yang mempunyai keharuman buah-buahan orange, strawberry atau anggur yang sekaligus bisa menjadi salah satu pengalih perhatian anak, Pada kasus ini yang dipergunakan hanya anatesi topikal,

47

48

biasanya memakai chlor Ethyl. Anestesi ini menimbulkan rasa dingin. c. anestesi dapat berjalan dengan lancr tanpa rasa sakit Anak perlu dialihkan perhatian selama duduk di kursi gigi dengan berbagai cara

5.2 Saran Diharapkan dengan adanya makalah ini Mahasiswa Kedokteran Gigi IIK Bhakti Wiyata Kediri dapat memahami dan mengetahui tentang pertumbuhan dan perkembangan gigi dan persistensi gigi.

49

DAFTARPUSTAKA

Abass SK, Hartsfield JK. 2007. Orthodontic and external apical root resorption. Seminars in Orthodontics

Andriyani, Anita.2001. Aspek fisiologis pengunyahan dan penelanan pada system stomagtonathi e-repository. Medan : USU

Drg. Chaerita Maulani. 2005. Kiat Merawat Gigi Anak Panduan Orang

Tua

dalam Merawat dan Menjaga Kesehatan Gigi bagi anak-anaknya. PT Elex Media Kompuitindo : Jakarta

Dixon, Andrew D. 1993. Anatomi Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC

El-Bialy T, El-Shami Iman, Graber TM. Repair of orthodontically induced root resorption by ultrasound in humans. Am J Orthod Dentofac 2004

Harshanur, Itjiningsih Wangidjaja. 1991. Anatomi Gigi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Harahap

N.

2010.

Resorpsi

Akar.

Diunduh

dari

Http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17805/3/Chapter%20II.pd f. Diakses Kamis 09 Mei 2013, pukul 22.30

Maulani, Chaerita. 2005. Kiat Merawat Gigi Anak. Jakarta: Elex Media Komputindo

McDevitt, W.E. 2002. Anatomi Fungsional dari Sistem Pengunyahan. Jakarta : EGC

Nasution MI. Morfologi gigi desidui dan gigi permanen. USU Press 2008; 1:10412

49

50

Purba, SD. 2004. Erupsi Gigi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatra Utara Medan.

Shari, C,. 2008. Perkembangan Gigi Geligi Dan Kelainan-Kelainan Bawaannya. USU Repository. Diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8362/1/950600018.pdf. Pada tanggal 07 Mei 2013.

Thomaz EBAF, Cangussu MCT, da Silva AAM, Assis AMO. 2010. Is malnutrition associated with crowding in permanent dentition?. Int. J. Environ. Res. Public Health. (8):3531-41