Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN PERUBAHAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI

I.

Masalah Utama Perubahan Sensori Persepsi : Halusinasi

II.

Proses Terjadinya Masalah a. Pengertian Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn, 1998). Halusinasi adalah persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indera seorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar/terbangun. (Maramis, hal 119) Jadi, halusinasi yaitu gangguan persepsi (proses penyerapan) pada panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar pada pasien dalam keadaan sadar.

b. Etiologi Menurut Mary Durant Thomas (1991), halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi dapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi

1 |Page

sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis , psikologis , sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan , biologis , pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping. Faktor Predisposisi dan Presipitasi Menurut Stuart dan Sundeen, (1995) halusinasi pada seseorang muncul akibat adanya dua macam faktor, yaitu faktor predisposisi dan faktor presipitasi. (Keliat, 1998 : 3) A. Faktor Predisposisi Faktor predisposisi yang mungkin mengakibatkan gangguan orientasi realitas adalah aspek biologis, psikologis dan sosial. Biologis Gangguan perkembangan dan fungsi otak/SSP dapat menimbulkan gangguan seperti : 1) Hambatan perkembangan khususnya korteks frontal, temporal, dan limbik. Gejala yang mungkin timbul adalah: hambatan dalam belajar, berbicara dan daya ingat. 2) Pertumbuhan dan perkembangan individu pada pranatal, perinatal, neonatus dan kanak-kanak. Psikologis Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis dari klien, sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau kekerasan dalam kehidupan klien. Penolakan dapat dirasakan dari ibu, pengasuh atau teman yang bersikap dingin, cemas, tidak sensitif atau bahkan terlalu melindungi. Pola asuh usia kanak-kanak yang tidak adekuat misalnya tidak ada kasih sayang, diwarnai kekerasan, ada kekosongan
2 |Page

emosi.

Konflik

dan

kekerasan

dalam

keluarga

(pertengkaran orangtua, aniaya dan kekerasan rumah tangga) merupakan lingkungan resiko gangguan orientasi realitas. Sosial Budaya Kehidupan sosial budaya dapat pula mempengaruhi gangguan orientasi realitas seperti kemiskinan, konflik sosial budaya, kehidupan yang terisolasi disertai stres yang menumpuk. B. Faktor Presipitasi

Umumnya sebelum timbul gejala klien mengalami hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, pengangguran, yang disertai perasaan tidak berguna, tidak berdaya dan putus asa. Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah: Biologis Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan. Stress lingkungan Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku. Sumber koping Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor. c. Psikopatologi Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum diketahui. Banyak teori yang diajukan yang menekankan pentingnya faktor-faktor psikologik, fisiologik dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa dalam keadaan terjaga yang normal otak dibombardir oleh aliran stimulus yang yang
3 |Page

datang dari dalam tubuh ataupun dari luar tubuh. Input ini akan menginhibisi persepsi yang lebih dari munculnya ke alam sadar. Bila input ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai pada keadaan normal atau patologis, maka materi-materi yang ada dalam unconsicisus atau preconscious bisa dilepaskan dalam bentuk halusinasi. Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan adanya keinginan yang direpresi ke unconsicious dan kemudian karena sudah retaknya kepribadian dan rusaknya daya menilai realitas maka keinginan tadi diproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus eksterna.

d. Klasifikasi Ada beberapa jenis halusinasi, Stuart dan Larara 1908 membagi halusinasi menjadi 7 jenis yaitu : 1. Halusinasi Pendengaran Karakteristinya meliputi mendengar suara-suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien bahkan sampai ke percakapan lengkap antara 2 orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh melakukan sesuatu yang kadang-kadang dapat membahayakan. 2. Halusinasi Penglihatan Karakteristiknya meliputi stimulus visual dalam bentuk kuatan cahaya, gambar geometrik, gambar kartoon, bayangan yang rumit atau kompleks, bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster. 3. Halusinasi Penghidu

4 |Page

Karakteristiknya meliputi membaui bau tertentu seperti bau darah, kemenyan atau faeces yang umumnya tidak menyenangkan. 4. Halusinasi Pengcapan Merasa mengecap, seperti rasa darah, urine, dan faeces 5. Halusinasi Perabaan Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan berupa stimulus yang jelas, rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang.

6. Halusinasi Cenesthehe Dimana klien merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah vena atau arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine. 7. Halusinasi Kinestetic Merasakan pergerakan sementara, berdiri tanpa bergerak

e. Tahapan Halusinasi Halusinasi berkembang menjadi 4 fase (Habes, dkk, 1902): 1. Fase pertama (conforting) Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stres, perasaan yang terpisah, kesepian klien mungkin melamun atau memfokuskan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menglilangkan kecemasan dan stres. Cara ini menolong untuk sementara. 2. Fase kedua (condeming)
5 |Page

Pencemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal. Klien berada pada tingkat Listening pada halusinasi. Pemikian internal menjadi menonjol. Gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas. Klien takut apabila orang lain mendengar dan klien tidak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain atau tempat lain. 3. Fase Ketiga (controlling) Halusinasi menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi kesenangan dan rasa aman yang sementara. 4. Fase Keempat (conquerting) Klien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya. Klien mungkin berada dalam dunia yang menakutkan dalam waktu yang singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi. f. Rentang Masalah Menurut Stuart dan Laraia (2001), halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologi.

6 |Page

1) Pikiran logis: yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren. 2) Persepsi akurat: yaitu proses diterimanya rangsang melalui panca indra yang didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang ada di dalam maupun di luar dirinya. 3) Emosi konsisten: yaitu manifestasi perasaan yang konsisten atau afek keluar disertai banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung tidak lama. 4) Perilaku sesuai: perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalah masih dapat diterima oleh norma-norma social dan budaya umum yang berlaku. 5) Hubungan social harmonis: yaitu hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antar individu dan individu, individu dan kelompok dalam bentuk kerjasama. 6) Proses pikir kadang terganggu (ilusi): yaitu menifestasi dari persepsi impuls eksternal melalui alat panca indra yang memproduksi gambaran sensorik pada area tertentu di otak kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah dialami sebelumnya. 7) Emosi berlebihan atau kurang: yaitu menifestasi perasaan atau afek keluar berlebihan atau kurang. 8) Perilaku tidak sesuai atau biasa: yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma norma social atau budaya umum yang berlaku.

7 |Page

9) Perilaku aneh atau tidak biasa: perilaku individu berupa tindakan nyata dalam menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh normanorma sosial atau budaya umum yang berlaku. 10) Menarik diri: yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. 11) Isolasi sosial: menghindari dan dihindari oleh lingkungan sosial dalam berinteraksi. g. Tanda dan Gejala 1. Manurut Keliat 1998: 96: Bicara, senyum, tertawa sendiri. Menarik diri dan menghindar dari orang lain. Tidak dapat membedakan hal nyata dan tidak nyata Tidak dapat memusatkan perhatian atau konsentrasi Sikap curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungan ), takut. Ekspresi muka tegang dan mudah tersungging. 2. Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut: Bicara sendiri. Senyum sendiri. Ketawa sendiri. Menggerakkan bibir tanpa suara. Pergerakan mata yang cepat Respon verbal yang lambat Menarik diri dari orang lain. Berusaha untuk menghindari orang lain. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik.
8 |Page

h. Penatalaksanaan

Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori. Sulit berhubungan dengan orang lain. Ekspresi muka tegang. Mudah tersinggung, jengkel dan marah. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat. Tampak tremor dan berkeringat. Perilaku panik. Agitasi dan kataton. Curiga dan bermusuhan. Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan. Ketakutan. Tidak dapat mengurus diri. Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.

Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara : a) Menciptakan lingkungan yang terapeutik untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan. b) Melaksanakan program terapi dokter, sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.

9 |Page

c) Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada. Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien. d) Memberi aktivitas pada pasien. Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai. e) Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan. Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.

III.

a. Pohon Masalah Resiko mencederai diri,orang lain,dan lingkungan (efek)

Regiment
10 | P age Terapeutik Tidak

Efektif

(misal:Defisit perawatan diri)

HALUSINASI (Core Problem)

KIS: Menarik Diri (Etiologi)

b. Data Yang Perlu Dikaji

Analisa Data Data Subjektif : 1. Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata. 2. Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata. 3. Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus. 4. Klien merasa makan sesuatu. 5. Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya. 6. Klien takut pada suara/ bunyi/ gambar yang dilihat dan didengar. 7. Klien ingin memukul/ melempar barang-barang.
11 | P a g e

Diagnosa Keperawatan Perubahan sensori persepi : halusinasi

Data Obyektif: 1. Klien berbicar dan tertawa sendiri. 2. Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu. 3. Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu. Data Subyektif: 1. Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh, ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya. Data Obyektif: 1. Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya. Resiko mencederai diri,orang lain,dan lingkungan

Data Subyektif: 1. Klien mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi
2.

Kerusakan Interaksi Sosial : Menarik Diri

Klien mengungkapkan enggan berbicara dengan orang lain Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain.

3.

Data Obyektif: 1. Klien terlihat lebih suka sendiri 2. Bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan
3.

Ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup

12 | P a g e

Data subyektif: 1. Keluarga klien mengatakan klien memiliki gejala putus obat karena keluarga tidak lagi mampu untuk membiayai pengobatan klien 2. Keluarga klien mengatakan klien sudah sering bolak-balik Rumah Sakit Jiwa Data Obyektif: 1. Berdasarkan catatan rekam medik,klien sudah sering bolakbalikm Rumah Sakit Jiwa Data Subyektif: 1. Klien mengaku tidak berdaya untuk mengurus dirinya 2. Klien hanya berdiam diri dan malas untuk melakukan kegiatan perawatan diri Data Obyektif: 1. Klien tampak berdiam diri,tidak mau melakukan kegiatan perawatan diri,missal:mandi 2. Bau badan klien tidak sedap,rambut tampak kusam,tempat tidur terlihat kotor

Regiment Terapeutik Tidak Efektif

Defisit perawatan diri

c.Pengkajian Umum Isi pengkajian meliputi : a. Identitas klien Nama, umur, tanggal masuk, tanggal pengkajian, informan, No. RM.

13 | P a g e

b.

Keluhan utama/alasan masuk Apa penyebab klien masuk RS, apa yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah klien dan bagaimana hasilnya.

c.

Faktor predisposisi Apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu, pengobatan yang pernah dilakukan, riwayat penganiayaan fisik, seksual, penolakan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal, baik itu dilakukan, dialami, disaksikan oleh klien, apakah ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, pengalaman yang tidak menyenangkan.

d. e.

Aspek fisik / biologis Aspek psikososial Genogram Pembuatan genogram minimal 3 generasi yang menggambarkan hubungan klien dengan keluarga, masalah yang terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan, pola asuh, pertumbuhan individu dan keluarga. Konsep diri Citra tubuh Identitas diri Peran Ideal diri Harga diri

Ukur tanda vital, TB, BB. Tanyakan apakah ada keluhan fisik yang dirasakan.

f. Status mental Penampilan; penggunaan dan ketepatan cara berpakaian. Pembicaraan; cepat, keras, gagap, membisu, apatis, lambat, inkoheren, atau tidak dapat memulai pembicaraan. Aktivitas motorik; nampak adanya kegelisahan, kelesuan, ketegangan, gelisah, agitasi, tremor, TIK, grimasum, kompulsif Alam perasaan; sedih, putus asa, gembira, ketakutan, khawatir. Afek; datar, tumpul, labil, tidak sesuai. Interaksi selama wawancara; bermusuhan, kooperatif / tidak, mudah tersinggung, curiga,kontak mata kurang, defensif.

14 | P a g e

Persepsi : Klien mendengar suara dan bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata dan orang lain tidak mendengar, kadang suara yang didengar bisa menyenangkan tetapi kebanyakan tidak menyenangkan, menghina bisa juga perintah untuk melakukan sesuatu yang berbahaya baik diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Biasanya terjadi pada pagi, siang, sore, malam hari atau pada saat klien sedang sendiri. Proses pikir; sirkumstansial, tangensial, kehilangan asosiasi, flight of ideas, bloking, perseverasi.

Isi pikir; obsesi, phobia, hipokondria, depersonalisasi, waham, pikiran magis, ide yang terkait. Tingkat kesadaran; orientasi orang, waktu, tempat jelas, bingung, sedasi, stupor. Memori; apakah klien mengalami gangguan daya ingat jangka panjang, jangka pendek, saat ini, ataupun konfabulasi. Tingkat konsentrasi dan berhitung; observasi kemampuan klien berkonsentrasi, berhitung. Kemampuan penilaian; berikan pilihan tindakan yang sederhana. apakah klien membuat keputusan atau harus dibantu. Daya tilik diri; apakah klien menerima atau mengingkari penyakitnya, menyalahkan orang lain atas penyakitnya. g.Kebutuhan persiapan pulang Observasi kemampuan klien akan mandi, BAB/BAK, makan, berpakaian, istirahat, tidur, penggunaan obat, pemeliharaan kesehatan, aktivitas didalam dan diluar rumah. h.Mekanisme koping Tanyakan tentang koping klien dalam mengatasi masalah baik yang adaptif maupun yang maladaptif. i. Masalah psikososial dan lingkungan Apakah ada masalah dengan dukungan kelompok, lingkungan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi, dan pelayanan kesehatan. j. Pengetahuan

15 | P a g e

Mengkaji kurang pengetahuan klien tentang penyakit jiwa, faktor presipitasi, koping, sistem pendukung, penyakit fisik, obat-obatan. k. Aspek medik Tuliskan diagnosa medik klien, tulis obat-obatan klien. IV. Diagnosa Keperawatan 1. Perubahan sensori persepi : halusinasi 2. Resiko mencederai diri,orang lain,dan lingkungan 3. Kerusakan Interaksi Sosial : Menarik Diri 4. Regiment Terapeutik Tidak Efektif 5. Defisit perawatan diri

V.

Rencana Keperawatan : : Dx Kep TUJUAN Dx Medis Ruangan : :

Nama Klien RM no TG L N o D x

PERENCANAAN KRITERIA EVALUASI

INTERVENSI

Gangg TUK: 1. Klien 1.Setelah uan sensor i si:halu


16 | P a g e

kali 1.Bina hubungan saling percaya dengan tanda- mengungkapkan prinsip terapeutik.

dapat membina hubungan

interaksi,klien menunjukkan perawat:

tanda percaya kepada komunikasi

persep saling percaya

sinasi (lihat/ denga r/peng hidu/r aba/ke cap)

Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa, senang,

Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.

Perkenalkan diri dengan sopan Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien

ada mata,

kontak

Mau tangan,

berjabat

nama,

mau menyebutkan

Buat kontrak yang jelas Jujur dan menepati janji setiap kali berin teraksi

mau menjawab salam, mau

Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien

klien duduk

berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah dihadapi yang

Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien

Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien

2.Klien dapat 2.1Setelah mengenal halusinasinya interaksi

kali 2.1 Adakan kontak sering dan klien singkat secara bertahap 2.2 Observasi tingkah laku

menyebutkan : waktu, isi, klien terkait dengan

halusinasinya (dengar/lihat/penghidu/raba/ke

17 | P a g e

Frekuensi situasi kondisi halusinasi

cap) njika menemukan klien dan yang sedang halusinasi : yang Tanyakan apakah klien mengalami kali klien dan saat /raba/kecap) Jika klien menjawab ia,tanyakan apa yang sedang dialaminya Katakan mengalami bahwa hal sesuatu (dengar/lihat/penghidu

menimbulkan

2.1 Setelah interaksi

menyatakan perasaan responnya mengalami halusinasi: Marah Takut Sedih Senang Cemas jengkel

perawat percaya klien tersebut,namun perawat sendiri tidak mengalaminya (dengan bersahabat menuduh menghakimi) Katakan klien sama Katakan perawat membantu klien Jika kita sedang tentang pengalaman bahwa akan bahwa lain ada yang nada tanpa atau

mengalami hal yang

berhalusinasi klarifikasi adanya


18 | P a g e

halusinasi,diskusikan dengan klien: Isi,waktu frekluensi terjadinya halusinasi (pagi,siang,sore ,malam sering kadangkadang) Situasi kondisi dan yang atau dan

menimbulkan atau yang tidak menimbulkan halusinasi Diskusikan dengan apa terjadi halusinasi dan beri kesempatan untuk mengungkapka n perasaannya Diskusikan dengan apa
19 | P a g e

klien yang

dirasdakan jika

klien yang

dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut Diskusikan tentang dampak akan bila menikmati halusinasinya yang dialami klien

3. Klien dapat 3.1 mengontrol halusinasinya

Setelah

kali Identifikasi bersama klien cara klien atau tindakan yang dilakukan terjadi halusinasi

interaksi yuang dilakukan mengendalikan halusinasinya 3.2 Setelah 1

menyebutkan tindakan jika untuk diri,dll)

biasanya (tidur,marah,menyuibukkan

3.2Diskusikan kali klien cara 1 kali dan Juka pujian Jika

cara

yang

digunakan oleh klien: interaksi menyebutkan baru halusinasi 3.3 Setelah cara yang

digunakan adaptif beri cara yang kerugian

mengontrol

digunakan maladaptive diskusikan cara tersebut interaksi klien dapat memilih memperagakan

cara 3.3Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrolo mengatasihalusinasi (dengar/penghidu/lihat


20 | P a g e

timbulnya halusinasi:

/raba/kecap) 3.4 Setelah 1 kali klien cara dipilih

Katakan

pada

diri

sendiri bahwa ini tidak nyata (saya tidak mau dengar/lihatr/penghidu /raba/kecap pada saat halusinasi) Menemui orang lain (perawat/teman/anggot a keluarga) untuk tentang 1 kali klien terapi menceritakan halusinasinya Membuat melaksanakan kegiatan dan jadwal sehari-hari

interaksi melaksanakan yang telah

untuk mengendalikan halusinasinya 3.5 setelah

pertemuan mengikuti

aktivitas kelompok

yang telah disusun. Meminta keluarga,teman,perawa t,menyapa jika sedang berhalusinasi 3.4Bantu klien memilih cara yang sudah dianjurkan dan latih untuk mencobanya 3.5Beri kesempatan untuk

melakukan cara yang dipilih dan dilatih 3.6Pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih jika berhasil beri pujian 3.7Anjurkan klien mengikuti

21 | P a g e

terapi kelompok,orientasi

aktivitas

realita,stimulasi persepsi

4.Klien dapat 4.1Setelah.x dukungan dari petemuan keluarga dalam mengontrol halusinasinya keluarga,keluarga menyatakan untuk pertemuan perawat 4.2Setelah.x interaksi menyebutkan pengertian,tanda gejala dan tindakan dan proses untuk keluarga setuju mengikuti dengan

4.1Buat keluarga

kontrak untuk

dengan pertemuan

(waktu,tempat,topic/ 4.2Diskusikan dengan kelurga (pada saat pertemuan keluarga/kunjungann rumah) Pengertian halusinasi Tanda halusinasi Proses halusinasi Cara keluarga yang dapat untuk terjadinya dan gejala

trerjadinya halusinasi mengendalikan halusinasi

dilakukan klien dan memutus halusinasi Obat-obatan halusinmasi Cara merawat anggota keluarga Yang halusinasinya di rumah (beri kegiatan, jangan biarkan sendiri,makan bersama,berpergian

22 | P a g e

bersama,

memantau untuk

obat-obatan dan cara pemberiannya mengatasi halusinasi) Beri informasi waktu kontrol ke rumah sakit dan bagaimana cara mencari bantuan jika halusinasi tidak dapat diatasi di rumah

5. Klien dapat memanfaatka n obat dengan baik

5.1 Setelah 1 kali interaksi klien menyebutkan : Manfaat minum obat Kerugian tidak minum obat

5.1 Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat,nama,warna,dosis,cara,ef ek,terapi dan efek samping penggunaan obat

5.2 Pantau klien saat Nama, warna, penggunaan obat dosis, efek terapi dan efek samping obat. 5.3 Beri pujian jika klien 5.2 Setelah 1 kali interaksi klien mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar 5.3 Setelah 1 kali interaksi klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter menggunaan obat dengan benar 5.4 Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter 5.5Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter atau perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

23 | P a g e

VI.

Evaluasi Tindakan

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya. 2. Klien dapat mengenal halusinasi 3. klien dapat mengontrol halusinasinya 4. klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya 5. klien memanfaatkan obat dengan baik
24 | P a g e

25 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Hamid, Achir Yani. (2000). Buku Pedoman Askep Jiwa-1 Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hawari, Dadang. (2001). Pendekatan Holistik pada gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Isaacs, Ann. (2005). Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Keliat, Budi Anna. (2006). Proses keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Maramis, W. F. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 9. Surabaya: Airlangga University Press

26 | P a g e