P. 1
999

999

|Views: 6|Likes:
Dipublikasikan oleh Eka Novia Endriany

More info:

Published by: Eka Novia Endriany on May 19, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2014

pdf

text

original

LAPORAN AKHIR TAHUN 2010

PROGRAM INSENTIF PENEUTI DAN PEREKAYASA LIPI
JUDUL KEGIATANI PENEUTIAN:
SELEKSI SERASAH TANAIIAN KOLEKSI KEBUN RAYA
PURWODADI DALAM UPAYA IIENGHASILKAN KOMPOS
BERKUAUT AS TINGGI
PENEUTI PENGUSUL : Abban Putri Fiqa, S.Si.
UPT BKT KEBUN RAYA PURWODADI - UPI
JENIS INSENTIF : RISET DASAR
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI REPUBUK INDONESIA
DAN
LEMBAGA lUlU PENGETAHUAN INDONESIA
I_, IPI
LAPORAN AKHIR
PROGRAM INSENTIF PENELITI DAN PEREKAYASA LIPI TAHUN 2010
SELEKSI SERASAH TANAMAN KOLEKSI KEBUN RAY A PURWODADI
DALAM UPAYA MENGHASILKAN KOMPOS BERKUALITAS TINGGI
PENELITI PENGUSUL
Abban Putri Fiqa, S.Si (Koordinator)
Anggota
1. Agung Sri Darmayanti , S.Tp.
2. lr. Solikin, MP.
[
JENIS INSENTIF : ]
____________
BIDANG FOKUS :
Sumber Daya Alam dan Lingkungan
LIPI 1.02 Teknologi Peningkatan Nilai Tambah
UPT BALAI KONSERVASI TUMBUHAN KEBUN RAYA PURWODADI
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN ALAM
LEMBAR PENGESAHAN
SATUAN KERJA PENANDA TANGAN KONTRAK
1. Judul Kegiatan/Penelitian
2. Bidang Fokus
1. Peneliti Pengusul
• Nama Lengkap
• Jenis Kelamin
2. Surat Perjanjian
• Nomor
• Tanggal
3. Biaya Total2010
DISETUJUI:
: Seleksi Serasah Tanaman Koleksi Kebun Raya
Purwodadi dalam Upaya Menghasilkan Kompos
Berkualitas Tinggi
: Sumber Daya Alam dan Lingkungan
LIPI 1.02 Teknologi Peningkatan Nilai Tambah
: Abban Putri Fiqa, S.Si
: Perempuan
: 05/SU/SP/Insf-Ristek/IV/10
: 6 April2010
: Rp. 96.000.000,00
PENELITI PENGUSUL
1 ~
Abban Putri Fiqa, S.Si
MENGETAHUI
DEPUTI TERKAIT
NIP: 19830801 200604 2 003
Prof. Dr. lr. Bambang Prasetya
NIP: 19600323 198412 1 001
'""""'
RINGKASAN
Seleksi Serasah Tanaman Koleksi Kebun Raya Purwodadi
dalam Upaya Menghasilkan Kompos Berkualitas Tinggi
Abban Putri Fiqa, Agung Sri Darmayanti , Solikin, Ridesti Rindyastuti , Siti Sofiah
UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi-LIPI
Kebun Raya Purwodadi merupakan lembaga konservasi tanaman dataran rendah
kering. Tanaman-tanaman ini memiliki ciri beradaptasi terhadap kekeringan dengan
menggugurkan daun. Tanaman ini menambah masukan bahan organik ke alam tanah
berupa serasah melalui daun-daun, cabang dan rantingnya yang gugur dan juga melalui
akar-akarnya yang telah mati yang membentuk suatu lapisan pada permukaan tanah.
Diversitas flora yang tinggi di Kebun Raya Purwodadi menyebabkan keragaman kualitas
bahan organik dan tingkat penutupan tanah oleh lapisan serasah.
Seleksi lokasi diperlukan untuk memperoleh informasi lingkungan di Kebun Raya
yang memiliki serasah dalam jumlah banyak dan berkualitas tinggi, digambarkan secara
deskriptif. Dilanjutkan dengan pengujian kandungan unsur hara untuk mendapatkan
penggambaran secara kuantitatif. Serasah yang terseleksi diolah lebih lanjut untuk menjadi
kompos dengan tujuan meningkatkan manfaat serasah dan menciptakan kompos yang
berkualitas lebih baik dari bahan serasah yang terpilih. Selain itu dilakukan pula uji
dekomposisi serasah, untuk mengetahui kecepatan laju dekomposisi serasah secara alami.
Tiap tiga minggu dilakukan uji kandungan unsur C, N, P dan K, untuk mengetahui tingkat
ketersediaan unsur-unsur tersebut pada tanah. Kompos yang dihasilkan diuji untuk
memperoleh kandungan unsur hara sebelum diujikan pada tanaman untuk diketahui respon
pertumbuhannya. Manfaat penelitian ini secara langsung dapat memberikan informasi
lingkungan Kebun Raya yang menyumbangkan serasah berkualitas sehi ngga berguna untuk
kemajuan Kebun Raya pada khususnya dan memberikan sumbangsih bagi lingkungan
hidup pada umumnya, dengan memperbaiki kualitas tanah.
Kegiatan yang telah di lakukan sampai sejauh ini adalah proses penginderaan di
lokasi kebun. Di mana hasil penginderaan dan hasil penelitian sebelumnya yang pernah
dilakukan menunjukkan bahwa area-area (selanjutnya disebut vak) yang memiliki serasah
melimpah adalah vak VI , VII, XX, XXII , XXIII, XXV. Berdasarkan pada jumlah biomassa
serasah, vak XXV, XXIII dan XXII memiliki biomassa serasah yang lebih tinggi . Serasah
yang banyak dijumpai di vak XXV adalah serasah mahoni (Swietenia macrophylla), kenari
(Canarium vulgare) , trembesi (Aibizia saman) dan angsana (Pferocarpus indicus) .
Sedangkan di vak XXIII , dijumpai serasah mahoni, beringin (Ficus benjamina) dan bungur
(Lagerstroemia speciosa). Serasah kigelia (Kige/ia africana), jambu (Syzygium javanicum)
dan mahoni paling banyak dijumpai di vak XXII. Berdasarkan perhitungan biomassa serasah
yang dilakukan, diketahui bahwa vak dengan biomassa serasah terbesar adalah vak XXII ,
sebesar 1021.68 ton/ha selanjutnya vak VI sebesar 765.03 ton/ha, vak XX sebesar 704.185
ton/ha, vak XXIII sebesar 665. 627 ton/ha, vak VII sebesar 467.501 ton/ha dan yang paling
kecil vak XXV sebesar 435.584 ton/ha.
Selain pemilihan vak, dilakukan pemilihan komposisi jenis tanaman yang menyusun
serasah di lokasi tersebut. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, beberapa jenis
tanaman yang menyusun komposisi serasah pada vak-vak yang diamati adalah
Chrysophylum cainito (kenitu), Syzygium javanicum Uambu) , Acaci a auriculiformis Uambu),
Swietenia macrophylla (mahoni), Canarium vulgare (kenari), Pterocarpus indicus (angsana) ,
Syzygium sp. , Kigelia africana (kigelia), Lagerstroemia speciosa (bungur), Terminalia
microphylla (clumprit), Ficus benjamina (beringin), Diospyros malabarica (diospiros) . Pada
serasah terpilih yang telah di uji kandungan lignin dan polifenolnya, diketahui bahwa mahoni,
akasia dan kenitu memiliki kandungan lignin yang tinggi, sebali knya kigelia memiliki
kandungan lignin yang terendah. Tanaman dengan kandungan poli fenol tinggi adalah
bungur dan clumprit, sedangkan yang paling rendah adalah kigelia. Dari hasil uji kompos
yang dilakukan terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman sawi , terong dan
kangkung, hasil menunjukkan keragaman. Tanaman memerlukan unsur hara dalam jumlah
yang spesifik bagi masing-masing tanaman, oleh karena itu hasil berbeda sangat mungkin
ditunjukkan.
Kata kunci : serasah, dekomposisi, kompos, Kebun Raya Purwodadi.
PRAKATA
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kami waktu dan
kemampuan untuk menyelesaikan dengan cukup baik kegiatan program insentif riset peneliti
dan perekayasa tahun 201 0 selama 5 bulan kedua dan telah berhasil menyelesaikan
laporan akhir. Penelitian yang berjudul Seleksi Serasah Tanaman Kebun Raya Purwodadi
dalam Upaya Menghasilkan Kompos Berkualitas Tinggi dilaksanakan di Kebun Raya
Purwodadi, Pasuruan. Laporan Akhir ini mengupas tentang latar belakang serta metode
kegiatan kami , penggunaan dana tahap II, dan hasil kegiatan serta penelitian kami selama di
lapangan.
Proyek penelitian ini berhasil dengan baik dan seluruh keberhasilan ini tiada lain
karena kerja sama tim dan bantuan-bantuan dari pihak-pihak terkait. Atas bantuan dan
dukungan tersebut, kami mengucapkan banyak terimakasih pada :
1. Kementrian Riset dan Teknologi sebagai penyandang dana penelitian
2. BKPI-LIPI selaku ti m sekretariat Program lnsentif Peneliti dan Perekayasa
Kementrian Riset dan Teknologi 2010.
3. Kedeputian llmu Pengetahuan Hayati
4. Kepala UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi
5. Rekan-rekan tim proyek atas kerja sama dan bantuannya
6. Semua pihak yang terkait atas keberhasilan proyek dan terselesaikannya laporan ini
Laporan kemajuan tahap I ini semoga dapat memberikan beberapa gambaran tentang
kemajuan proyek penelitian kami dan berapa prosentase dana yang telah dipergunakan.
Namun walaupun demikian manusia tak luput dari kesalahan dan kekurangan, bila dalam
laporan ini terdapat kesalahan kami mohon maaf dan semoga dapat memberikan manfaat
yang maksimal bagi pembacanya.
Purwodadi , 12 Nopember 2010
Tim Penelitian
5
LAPORAN AKHIR
DAFTAR lSI
Halaman
Lembar ldentitas dan pengesahan .. . .... . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . .. . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
Ringkasan. ... .. ..... ... ..... ... .. ...... .. .......... .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
Prakata ... ................ ... ... ... .... ..... ......................................... ..... ............................. .. .... 5
Daftar lsi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
Daftar Tabel..... .. ..... .... ... ... .... ....... .. ...... ... ... ....... ... .......... .... ... ..... ..... ...... ............ .. ... .... 7
Daftar Gambar ... ......... ... ..... ............. ..... ...... .... .. ........ .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah .. . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
1.2 Perumusan Masalah...... .. ... ..... .... .... .... .......... .... ..... ... .. .... .. ... ........ ........ .... 9
Bab 2 Tinjauan Pustaka
2.1 Kekayaan Serasah Kebun Raya Purwodadi ....... .. .... .. ... .... ...... ..... .. .. .. .. .... 10
2.2 Dekomposisi Serasah dan Bahan Organik Tanah ..... ........ ............ .... ..... ... 10
2.3 Pengomposan .... ... .. .. ..... ....... ....... .. ... ......... ..... ........ .... .. ... .......... .............. 11
Bab 3 Tujuan dan Manfaat
3.1 Tujuan ....... ... ....... .. ....... .. ..... .... ....... .. ... ....... .. ... .. ... ..... ..... ..... .. .. ................. 13
3.2 Manfaat .. .... ... .. .... .... ..... ... ...... ..... .... ........ .... .. .... ... ............. ... .. ............. ..... 13
Bab 4 Metodologi
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian ..................... ........ .... ..... ............ ..... ............ 14
4.2 Pelaksanaan Penel itian .... .. .. ... .. ... ... .. ......... ... .. .. ............. .... .... ......... ..... .... 14
4.3 Analisis Data .... ...... .. .. ............. .... ... ... ... .... ... ..... ..... .. .... ........ ...... ........ .. .... .. 16
4.4 Skema Kerja ... ..... ........... ... ..... .... ... ..... ... ...... .. .. ... ........ ......... .... ............. ... 16
Bab 5 Hasil dan Pembahasan
5.1 Penentuan jenis lokasi pengambilan serasah yang akan dijadikan sam pel
dan Pengukuran biomassa Serasah .... .. ... ......... ...... ....................... ... ............. 18
5.2 Pengujian laju dekomposisi serasah ... .. .... .. .... ........ ................ .. ..... .... ... .... 20
5.3. Pembuatan kompos .. .. ... .. .. .. ...... ....................... ... ... ...... ... ................ ... ..... 21
Bab 6 Kesimpulan
6.1 Kesimpulan ... .... .... ........ ... .. ....... ... ........ .. .... .. .......... .. .. ............. .. .............. .. 24
Daftar Pustaka .......... .. ......... .... .. ........ ......... ... ............... ......... ........ ... .... ...... .. ............ . 25
c
DAFTAR TABEL
Tabel 10 Tanaman dengan Serasah Domin an di Masing-Masing Vak .. 0 ............. oo ...... 19
Tabel 20 Kandungan C, N, P danK awal pada masing-masing Serasah ................ 0000 21
Tabel 30 Konstanta dan waktu dekomposisi pada masing-masing serasahooo 00 0 000 .. 0 .. 021
Tabel 40 Kandungan unsur hara pada masing-masing kompos yang dihasilkan
+ kompos kontrol oo 0 00 . 00 0 .. 00 00 00 0 .. 0 00 0 .. 00 00 00 0 00 0 00 0 00 00 00 00 0 00 0 00 0 00 0 ...... 00 0 00 0 00 0 00 0 .. 23
DAFTAR GAMBAR
Gambar 10 Tahapan penelitian dan capaian 0000 .. ........ ...... 00 .... .... .... .... 00 ............. .. .... .. .. 1?
Gam bar 20 Vak XXIII dengan Serasah yang Melimpah .... .. ........ 00 00 00 .. 00 00 ......... 00 .. 00 00 .. 00 18
Gam bar 30 Biomassa pada Masing-Masing Vak yang Diamati ...... 00 .. . .............. .. .. oooooo 0 18
Gam bar 40 Perbandingan Kandungan Bahan Organik pada Serasah yang Diujikan ° 0 ° 20
Gambar 50 Proses Pengomposano .... o .. oooo .... .. oo ooooo oooo oo .. .. .... ooooo oooooo o .. oooooooooo ooooooooooo o00oo 22
1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1
PENDAHULUAN
Kebun Raya Purwodadi memiliki wewenang dalam bidang konservasi flora. Koleksi
tumbuhannya mencapai memiliki koleksi tumbuhan sekitar 10.605 spesies tanaman yang
terdiri atas 3.621 nomor, 171 familia dan 894 genera. Selain koleksi tersebut terdapat pula
85 spesies pohon tahan kering yang dapat beregenerasi secara generatif dan sebanyak 27
spesies yang memiliki karakter menggugurkan daun secara serentak maupun perlahan-
lahan. Kebun Raya Purwodadi memiliki curah hujan rata-rata/tahun 2.372 mm dengan bulan
basah antara November-Maret dan bersuhu 22-320C. Bulan kering tanpa hujan sama sekali
pada musim kemarau dapat berlangsung selama 4-5 bulan, yaitu pada bulan Juni-Oktober
yang ditunjukkan fenomena daun-daun kering dan banyak yang gugur (Suprapto dkk, 2007) .
Diversitas flora yang ti nggi di Kebun Raya Purwodadi menyebabkan keragaman
kualitas bahan organik dan tingkat penutupan tanah oleh lapisan serasah. Lapisan serasah
terbentuk akibat adanya fenomena gugur daun dari tanaman yang ditanam, proses
dekomposisi dan pengelolaan di kebun raya. Menurut Soejono (2006) sinkronisasi fenologi
gugur daun dan semi daun di Kebun Raya Purwodadi dengan musim sangat nyata terlihat.
Dari 27 jenis pohon yang diamati, seluruhnya menggugurkan daun pada saat musim hujan
mulai berkurang bulan Juni dan puncaknya terjadi pada musim kemarau. Namun terdapat
variasi awal, akhir gugur daun, semi daun dan kecenderungan gugur daun, semi daun antar
jenis maupun individu. Hal ini mempengaruhi kondisi serasah di Kebun Raya Purwodadi.
Serasah dari tanaman koleksi Kebun Raya Purwodadi yang melimpah, telah
dimanfaatkan sebagai bahan membuat kompos oleh unit kompos Kebun Raya Purwodadi-
LIPI. Menurut Putri dkk. (2009) , serasah tumbuhan Leguminoseae ditemukan pada seluruh
vak Kebun Raya Purwodadi, serasah tumbuhan Swietenia macrophilla masih mendominasi
48% vak dan 8% vak di KRP memiliki serasah berkualitas tinggi yang mudah
terdekomposisi.
Pembuatan kompos oleh unit kompos di Kebun Raya Purwodadi sangat penting
dilakukan selain dapat meningkatkan nilai serasah itu sendiri, sekaligus untuk meningkatkan
kualitas pertumbuhan tanaman koleksi Kebun Raya Purwodadi. Selama ini, serasah yang
digunakan sebagai sumber kompos diambil dari berbagai lingkungan dan vak kebun raya
yang berasal dari jenis tanaman yang berbeda-beda tanpa melalui tahap seleksi terlebih
dahulu sehingga kualitas kompos yang dihasilkan tidak terkontrol dan terstandarisasi.
Proses standarisasi perlu dilakukan pada bahan dasar kompos maupun teknologi
pembuatan. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian mengenai jenis-jenis serasah apa
,....,
yang baik dan bisa menghasilkan produk kompos yang berkualitas dari segi kesediaan
unsur haranya, dan proses pengomposan yang dapat dipercepat.
1.2 Perumusan Masalah
Seleksi serasah tanaman koleksi Kebun Raya Purwodadi, penting dilakukan untuk
mendapatkan kompos dengan kualitas tinggi yang terstandarisasi kandungan unsur
haranya. Untuk itu penelitian ini diperlukan untuk menjawab pertanyaan di bawah ini:
1. Serasah yang manakah yang berpotensi menjadi kompos yang berkualitas berdasarkan
kandungan unsur hara?
2. Bagaimana cara menggunakan serasah tersebut untuk menghasilkan kompos yang
berkualitas?
3. Bagaimanakah kualitas kompos yang dihasilkan?
4. Bagaimanakah pengaruh pemberian kompos terhadap respon pertumbuhan tanaman?
a
BAB2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kekayaan Serasah Kebun Raya Purwodadi
Kebun Raya Purwodadi merupakan salah satu lembaga konservasi ex-situ tumbuhan
kering dataran rendah, memiliki keunikan diantaranya adalah fenomena gugur daun dan
semi bunga yang terjadinya di musim kemarau setiap tahunnya. Sumber biomassa yang
dihasilkan melalui fenomena ini merupakan potensi yang besar bagi Kebun Raya Purwodadi
untuk mengurangi kendala pada tanah vertisol Kebun Raya Purwodadi , yang mengkerut bila
dalam keadaan panas serta mengembang dalam keadaan basah. Keberadaan serasah
yang melimpah, jika dikelola secara maksimal akan dapat memperbaiki sifat fisik tanah,
diantaranya meningkatnya aerasi dan porositas tanah, sehingga daya infiltrasi dapat
meningkat serta membentuk agregat tanah yang stabil.
Serasah adalah guguran segala batang, cabang, daun, ranting, bunga, dan buah.
Serasah memiliki peran penting karena merupakan sumber humus, yaitu lapisan tanah
teratas yang subur. Serasah juga menjadi rumah dari serangga dan berbagai mikro
organisme lain (Wikipedia, 2010).
Kebun Raya Purwodadi memiliki curah hujan rata-rata/tahun 2.372 mm dengan
bulan basah antara Nopember-Maret dan bersuhu 22-32°C. Sedangkan bulan-bulan kering
tanpa hujan sama sekali pada musim kemarau dapat berlangsung sellama 4-5 bulan, yaitu
pada Bulan Juni-Oktober yang ditunjukkan fenomena daun-daun kering dan banyak yang
menggugurkan daun (Kebun Raya Purwodadi, 2006).
Suhu dan kelembaban udara mempengaruhi jatuhan serasah tumbuhan. Naiknya
suhu udara akan menyebabkan menurunnya kelembaban udara sehi ngga transpirasi akan
meningkat, dan untuk menguranginya maka daun harus segera digugurkan (Salisbury,
1992).
2.2 Dekomposisi Serasah dan Bahan Organik Tanah
Oekomposisi bahan organik adalah sebuah proses ekologi yang penting dalam
sebuah ekosistem hutan. Mel alui proses dekomposisi ini, serasah yang jatuh ke tanah,
bersama dengan kandungan nutrisi yang ada di dalamnya dilepaskan ke dalam tanah dan
tersedia bagi tanaman (Prescott et. al., 2004).
Sebagian besar unsur hara yang dikembalikan ke lantai hutan adalah dalam bentuk
serasah. Unsur hara ini tidak dapat langsung diserap oleh tumbuhan, tetapi harus melalui
proses dekomposisi terlebih dahulu. Cepat lambatnya proses dekomposisi serasah juga
merupakan salah satu indikator cepat atau lambatnya humus terbentuk; humus sangat
penting bagi konservasi tanah dan air (Hadiwinoto dkk., 1994).
Menurut Mason (1977) terdapat 3 tahap proses dekomposisi serasah, yaitu:
1. Proses pelindihan (leaching), yaitu mekanisme hilangnya bahan-bahan yang terdapat
pada serasah atau detritus akibat curah hujan atau aliran air.
2. Penghawaan (wathering) , merupakan mekanisme pelapukan oleh faktor-faktor fisik
seperti pengikisan oleh angin atau pergerakan molekul air.
3. Aktivitas biologi yang menghasilkan pecahan-pecahan organik oleh makhluk hidup yang
melakukan dekomposisi
Smith (1980) , menyatakan bahwa proses dekomposisi adalah gabungan dari proses
fragmentasi, perubahan struktur fisik dan kegiatan enzim yang dilakukan oleh dekomposer
yang merubah bahan organik menjadi senyawa anorganik. Proses dekomposisi dimulai dari
proses penghancuran atau pemecahan struktur fisik yang dilakukan oleh hewan pemakan
bangkai (scavenger) terhadap tumbuhan dan menyisakan sebagai bahan organik mati
menjadi serasah, debris atau detritus dengan ukuran yang lebih kecil . Secara biologi bakteri
yang melakukan proses secara enzimatik terhadap partikel-parti kel organik. Bakteri
mengeluarkan enzim protease, selulase, ligninase yang digunakan untuk menghancurkan
molekul-molekul organik kompleks seperti protein dan karbohidrat dari tumbuhan yang telah
mati. Beberapa senyawa yang dihasilkan digunakan oleh dekomposer.
Takeda et. al. (1987), juga melaporkan bahwa tingkat kekerasan daun dan beberapa
sifat kimia seperti kandungan awal lignin, selulosa dan karbohidrat, nyata berpengaruh
terhadap tingkat dekomposisi serasah daun.
2.3 Pengomposan
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan
organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba
dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Sedangkan
pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis,
khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber
energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar
kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang
seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator
pengomposan (Wikipedia, 201 0).
Kondisi
Rasio C/N
Kelembaban
Konsentrasi oksigen tersedia
Ukuran partikel
Bulk Density
pH
Konsisi yang bisa diterima
20:1 s/d 40:1
40-65%
>5%
1 inchi
1 000 lbs/cu yd
5.5-9.0
Ideal
25-35:1
45 - 62 % berat
>10%
bervariasi
1 000 lbs/cu yd
6.5 -8.0
Suhu
Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan sempuma
serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi pertumbuhan tanaman.
Penggunaan kompos yang belum matang akan menyebabkan persaingan bahan
nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah yang mengakibatkan terhambatnya
pertumbuhan tanaman. Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
o Berwama coklat tua hingga hitam mirip dengan wama tanah,
o Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi ,
o Nisbah C/N sebesar 10 - 20, tergantung dari bahan baku dan derajat
humifikasinya,
o Berefek baik jika diapl ikasikan pada tanah,
o Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan
o Tidak berbau.
BAB3
TUJUAN DAN MANFAAT
3.1 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui serasah yang berkualitas dari Kebun Raya Purwodadi-LIPI.
2. Memanfaatkan serasah menjadi kompos yang berkualitas.
3. Mendapatkan informasi kandungan kompos yang dihasilkan sesuai dengan standar
kompos yang baik.
4. Mengetahui respon pertumbuhan tanaman terhadap kompos yang dihasilkan.
3.2 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Membantu memberikan kontribusi berupa hasil kompos yang berkualitas bagi Kebun
Raya Purwodadi
2. lkut serta dalam memperbaiki lingkungan, berupa pemanfaatan serasah untuk
membantu mengkonservasi tanah dan air
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian
BAB4
METODOLOGI
Penelitian dilakukan pada beberapa vak terseleksi di Kebun Raya Purwodadi.
Penentuan vak-vak ini dilakukan berdasarkan jumlah tanaman yang mempunyai
intensitas guguran daun yang tinggi. Sehingga diperoleh informasi sementara bahwa di
vak-vak tersebut hasil dan kualitas serasahnya banyak dan berkualitas. Analisis serasah
dan kompos dilakukan Laboratorium Tanah, Fakultas Pertanian jurusan llmu Tanah
Universitas Brawijaya, Malang dan Laboratorium Tanah UPT Pengembangan Agribisnis
Tanaman Pangan dan Hortikultura, Malang. Pembuatan kompos dilakukan di unit
kompos Kebun Raya Purwodadi. Pengujian respon pertumbuhan tanaman dilakukan di
unit Pembibitan Kebun Raya Purwodadi. Waktu penelitian adalah mulai Bulan Februari
hingga Nopember 2010.
4.2 Pelaksanaan Penelitian
a. Penentuan jenis lokasi pengambilan serasah yang akan dijadikan sampel dan
Pengukuran biomassa Serasah
Penentuan jenis lokasi adalah dengan pengamatan lokasi yang diduga memiliki jenis
dan jumlah tanaman yang mampu menggugurkan daun, lalu dilanjutkan dengan
penghitungan biomassa serasah yang digugurkan. Pengambilan sampel untuk biomassa
serasah dilakukan dengan metode kuadran kayu 0.5 m x 0.5 m diletakkan di lokasi
sampling. Serasah berupa daun kering, ranting gugur dalam kuadran dimasukkan dalam
karung dan ditimbang berat basahnya. Kemudian dioven dalam oven suhu 800C selama
48 jam (Hairiyah dan Subekti, 2007). Setelah itu berat kering ditimbang dan dicatat.
Lokasi yang dianggap memiliki biomassa yang besar dan berkualitas berdasarkan
kriteria yang telah ditentukan, diambil sampel serasahnya untuk dilakukan pengujian
unsur hara. Jumlah serasah yang tinggi, ketebalan yang tinggi , dan kualitas wama
serasah dinyatakan secara deskriptif.
b. Pengujian kandungan serasah
Uji serasah dilakukan di laboratorium tanah, Jurusan llmu Tanah, Fakultas Pertanian,
Universitas Brawijaya. Parameter uji adalah kandungan lignin, polifenol, abu dan
sellulosa. Data ini akan mendasari pemilihan bahan baku kompos berdasarkan laju
kecepatan dekomposisi serasah.
c. Pengujian laju dekomposisi serasah
1 "
Pengujian dilakukan dengan metode litter bag, di mana serasah dikumpulkan dan
dimasukkan dalam litter bag. Tiap tiga minggu diamati dan ditimbang berat keringnya,
dan dianalisis unsur C, N, P dan K pada serasah terdekomposisi, untuk diketahui
kandungan bahan organik yang tersedia bagi tanah.
Parameter Metode
C Organik Black Wekly
N Keydhal/ Destruksi, Tetrasi
P205 Olsen/ Spektrofotometri
K20 Am. Acetat 1 N/ AAS
d. Pembuatan kompos
Pembuatan kompos dil akukan di unit Kompos Kebun Raya Purwodadi. Bahan baku
adalah serasah terseleksi dan metode yang digunakan adalah metode pengomposan
yang umum digunakan di Kebun Raya Purwodadi. Serasah yang diambil dari kebun,
kemudian diproses dengan menggunakan mesin. Mesin yang digunakan memakai
metode tumbuk untuk mencacah serasah yang masuk. Hasil cacahan, kemudian
dicampur dengan air gamping, katalek dan pupuk kandang. Hasil campuran ditutup
dengan plastik mulsa dan dibiarkan hingga kompos masak lebih kurang selama 2 bulan,
tergantung dari serasah tanaman yang digunakan.
e. Pengujian Kompos
Uji kandungan unsur hara kompos dilakukan di laboratorium tanah, Jurusan llmu
Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Diperoleh data kandungan unsur hara
kompos. Parameter yang diamati adalah unsur organik, unsur mikro, pH, tekstur tanah,
kadar air dan KTK.
Parameter Metode
C Organik Black Wekly
N Keydhal/ Destruksi, Tetrasi
P205 Olsen/ Spektrofotometri
K20 Am. Ace tat 1 N/ AAS
Ca Am. Acetat 1 N/ AAS
Mg Am. Acetat 1 N/ AAS
Na Am. Acetat 1 N/ AAS
Cu HN03/ HCI I AAS
1C:
Fe Am. Acetat I AAS
AI KCI I Tetrasi
Tekstur Cara pipet
Kadar air Oven 105°C
KTK Distilasi I Tetrasi
e. Pengujian Respon Pertumbuhan Tanaman
Dengan cara menguj icobakan kompos pada tanaman semusim yang respon
pertumbuhannya cepat. Diperlakukan dengan perbandingan kontrol , kompos yang ada
di pasaran, dan kompos yang dihasilkan oleh serasah terseleksi. Setelah tanaman
panen, dibandingkan hasil panen dan perbandingan biomassa segar dan kering pada
tanaman yang diujikan.
4.3 Analisis Data
Data mengenai kualitas serasah yang diujikan ditabulasikan dan dikomparasikan
secara deskriptif. Hasil uji respon pertumbuhan dianalisis secara statistik.
4.4 Skema Kerja
Skema Kerja dan Tahapan pekerjaan yang telah dan belum dilakukan ditampilkan
pada Gambar 1, warna biru menunjukkan tahapan yang telah dilakukan, dan warna hijau
menunjukkan tahapan yang belum dilakukan.
SKEMA
, ,
:IJ- _., ·*t;l;: ,,
KOMPOS
:,::: -> . ', - -:;: .>:
PENGUJIAN RESPON TANAMAN
_,.,. X:
Gambar 1. Tahapan penelitian dan capaian
BASS
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Penentuan jenis lokasi pengambilan serasah yang akan dijadi kan sampel dan
Pengukuran biomassa Serasah
Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan pada bulan Maret-April 2010,
maka sampel serasah yang diambil dan diukur biomassanya adalah serasah dari vak VI, VII ,
XX, XXII, XXIII , XXV. Salah satu lokasi vak yang diamati ditampilkan pada Gambar 2.
Gam bar 2. Vak XXIII dengan Serasah yang Melimpah
Penentuan pengambilan serasah juga dilakukan berdasarkan penel itian sebelumnya,
yang dilakukan oleh Putri dkk. (2009), yang menyatakan bahwa, lokasi-lokasi di Kebun Raya
Purwodadi yang memiliki biomassa serasah 5,8-12,1 Mg/ha terletak di lokasi vak XXII, XXIII
dan XXV. Sementara vak VI, VII dan XX, biomassa serasahnya adalah 3,1-4,5 Mg/ha. Hasil
pengukuran biomassa serasah yang dilakukan pada bulan Maret-April 2010 ditunjukkan
pada Gambar 3.
1200
1021.68
1000
ii
.c
800
-
s::::
0
~
"'
600
~
467.501
"' E
400
0
:E
200
0
VII
Vak
Gam bar 3. Biomassa pada Masing-Masing Vak yang Diamati
Perbedaan hasil yang ditunjukkan pada biomassa karbon di masi ng-masing vak,
dikarenakan perbedaan waktu pengamatan. Penelitian sebelumnya dilakukan pada Bulan
Juni-Nopember 2009. Kebun Raya Purwodadi mengalami masa bul an-bulan kering tanpa
hujan sama sekali pada Bulan Juni-Oktober yang ditunjukkan fenomena daun-daun kering
dan banyak yang menggugurkan daun (Kebun Raya Purwodadi , 2006). Pada Bulan Maret-
April, beberapa tanaman masi h belum menggugurkan daunnya, sehingga biomassa serasah
yang terukur tidak sama.
Selain dilakukan pengukuran biomassa serasah, dilakukan pula pemilihan jenis
sersah yang akan dianalisis kandungan organiknya, untuk mendukung data kualitas kompos
dan laju dekomposisinya. Pemilihan jenis pada masing-masing vak, didasari dengan
pengamatan langsung yang di lakukan pada masing-masing vak, serasah dari tanaman apa
saja yang mendominasi keseluruhan serasah yang dihasilkan pada vak-vak tersebut.
Tanaman pada masing-masing vak dengan serasah dominan ditunjukkan pada Tabel1 .
Tabel 1. Tanaman dengan Serasah Dominan di Masing-Masi ng Vak
No Vak Tanaman dengan Serasah Dominan
1 XXII Syzygium javanicum
Swietenia macrophyl/a
Decaspermum sp.
2 XXIII Kige/ia africana
Lagerstroemia speciosa
Ficus benjamina
Swietenia macrophyl/a
3 XXV Swietenia macrophyl/a
Canarium vulgare
Albizia saman
Milletia xy/ocarpa
4 VI Swietenia macrophylla
Acacia auricu/iformis
Chrysophylum cainito
Syzygium javanicum
5 VI I Swietenia macrophyl/a
6 XX Swietenia macrophyl/a
Terminalia microcarpa
Diospyros malabarica
Perbandingan kandungan bahan organik hasil analisis yang dilakukan di
laboratorium ditunjukkan pada Gambar 4. Berdasarkan hasil uji lab, diketahui bahwa
tanaman mahoni ( Swietenia macrophylla), memiliki kandungan lignin tertinggi yaitu sebesar
52,59%, sedangkan tanaman clumprit (Terminalia microcarpa), memiliki kandungan polifenol
terbesar, sebesar 26,365%. Tanaman buah gada (Kigelia africana), memil iki kandungan
sellulosa terbesar yaitu 52,1 9%. Jika bahan organik memiliki kandungan lignin tinggi,
kecepatan mineralisasi N akan terhambat. Lignin adalah senyawa poli mer yang mengisi
rongga antar sel pada tanaman, sehingga menyebabkan jaringan tanaman menjadi keras
dan sulit untuk dirombak ol eh organisme tanah (Stevenson, 1982). Sejalan dengan itu,
Hairiah dkk. (2002), menyatakan bahwa bahan organik berupa lignin, polifenol dan selulosa,
termasuk dalam bahan yang agak lambat didekomposisi. Proses dekomposisi atau
mineralisasi dipengaruhi kuat oleh kualitas bahan organiknya.
-

0
-
60
50
40
30
20
10
0
r f
'
>
[
rr
[
~
< [
[
Spesies dengan serasah Dominan
f
[
o polifenol
a lignin
oabu
o sellulosa
Gam bar 4. Perbandingan Kandungan Bahan Organik pada Serasah yang
Diujikan
5.2 Pengujian laju dekomposisi serasah
Menurut Mason (1977) terdapat 3 tahap proses dekomposisi serasah, yaitu:
1. Proses pelindihan (leaching), yaitu mekanisme hilangnya bahan-bahan yang terdapat
pada serasah atau detritus akibat curah hujan atau ali ran air.
2. Penghawaan (wathering) , merupakan mekanisme pelapukan oleh faktor-faktor fisik
seperti pengikisan oleh angin atau pergerakan molekul air.
3. Aktivitas biologi yang menghasilkan pecahan-pecahan organik oleh makhluk hidup yang
melakukan dekomposisi.
Pengujian laju dekomposisi serasah ini dilakukan untuk mengetahui kecepatan dekomposisi
pada masing-masing serasah tanaman dan kandungan bahan organik utama yang
dibutuhkan tanaman yaitu C, N, P dan K serta ketersediaannya bagi tanaman. Hal ini akan
mempengaruhi kandungan kompos jadi yang akan dihasilkan. Kandungan C, N, P dan K
awal, ditampilkan pada tabel 2.
')()
Tabel 2. Kandungan C, N, P dan K awal pada masing-masing Serasah
No Tanaman %C %N C/N %P %K
1 Chrysophylum cainito 24.7 0.72 34.31 0.77 0.52
2 Terminalia macrocarpa 23.9 0.74 32.3 0.98 0.54
3 Acacia auriculiformis 23.01 0.88 26.15 0.8 0.56
4 Ficus benjamina 22.8 0.86 26.51 0.86 0.85
5 Lagerstroemia speciosa 25.2 0.85 29.65 1.02 0.8
6 Diospyros malabarica 25 0.8 31 .25 1 0.76
7 Milletia xylocarpa 27.1 0.9 30.11 1.03 0.6
8 Canarium vulgare 24 0.84 28.57 0.85 0.78
9 Syzygium javanicum 24.99 0.78 32.04 0.78 0.84
10 Decaspermum sp. 25.9 0.82 31 .59 0.81 0.75
11 Albizia saman 23.8 0.94 25.32 0.84 0.79
12 Swietenia macrophy/la 23.6 0.79 29.87 1.16 0.69
13 Kigelia africana 25.1 0.98 25.57 0.86 0.86
Pada uji dekomposisi serasah yang dilakukan, diketahui bahwa serasah tanaman
trembesi, memiliki kecepatan dekomposisi yang tinggi bila dibandingkan tanaman yang lain.
Sedangkan serasah mahoni, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terdekomposisi.
Konstanta dekomposisi dan waktu yang diperlukan untuk mendekomposisi serasah,
ditampilkan pada tabel 3
Tabel 3. Konstanta dan waktu dekomposisi pada masing-masing serasah
konstanta wkt
Jenis dekomposisi dekomposisi
Albizia saman 0.175521964 17.09187803
Diospyros malabarica 0.033891296 88.51830153
Terminalia microphy/la 0.032195364 93.18111745
Acacia auriculiformis 0.030390727 98.71432195
Milletia xylocarpa 0.028236649 106.2449027
Chrysophylum cainito 0.027930468 107.4095877
Lagerstroemia speciosa 0.024090966 124.5280094
Ficus benjamina 0.021030082 142.6527959
Canarium vulgare 0.017714699 169.3508832
Kigelia africana 0.010736451 279.4219415
Syzygium javanicum 0.009460638 317.1 033446
Decaspermum sp. 0.007778839 385.661656
Swietenia macrophy/la 0.006823242 439.6736826
5.3. Pembuatan kompos
Pembuatan kompos hingga laporan ini dibuat, telah mencapai tahap akhir. Prosesing
dan pembalikan sudah dilakukan. Pengomposan diperkirakan selesai dilakukan akhir Juli
2010. Secara sing kat, proses awal pembuatan kompos, mulai dari pengumpulan serasah
hingga penimbunan ditampilkan pada Gambar 5.
Gambar 5. Proses Pengomposan
a. Bahan dasar serasah
b. Proses penggilingan
c dan d. Bahan dasar setelah digiling
e dan f. Tumpukan kompos untuk ditunggu masaknya
Setelah itu, dilakukan pembalikan kompos tiap minggu untuk menetralisir turunnya pH.
Proses dekomposisi menghasilkan asam-asam humik yang menyebabkan pH turun.
T1
No
-
1
-
2
3
-
4
' 5
J
6
7
Kompos yang telah masak kemudian diuji unsur hara dan diujikan pada tanaman
sebagai campuran media tanam. Hasil uji kandungan pada masing-masing kompos,
disajikan dalam tabel 4
Kompos
vak VII
vakXX
vak
XXIII
vakXXII
vakVI
vakXXV
kontrol
Tabel 4. Kandungan unsur hara pada masing-masing kompos yang dihasilkan
+ kompos kontrol
P205 Cu Mn
pH larut Bahan Organik (%) K20 Ca Mg Na (ppm) (ppml
Tekstur
H20 KCI %C %N CIN Larut H2S04 + H202
lempung
7.99 7.08 15.5 1 15.5 0.7 0.81 0.86 0.09 0.048 13 170 berliat
lempung
8.1 7.2 16.44 0.98 16.78 0.64 0.86 1.08 0.117 0.034 12 171 berliat
8.12 7.22 15.9 0.9 17.67 0.69 0.79 0.96 0.128 0.022 14 180 lempung
7.9 7 18.8 1.02 18.43 0.72 0.7 0.9 0.126 0.04 11 159 lempung
8.12 7.2 16.6 0.98 16.94 0.8 0.73 0.98 0.12 0.029 10 160 lempung
8.1 7.21 17.2 1.1 15.94 0.85 0.9 1.1 0.108 0.03 12 168 lempung
8.6 7.8 17.8 1.01 1762 0.81 0.88 1.18 0.114 0.022 13 140 lempung
KTK
me
20
21
19
23
20
23
22
Masing-masing tanaman yang diujikan memberi respon berbeda pada hasil
produktivitasnya. Tanaman membutuhkan bahan organik yang spesifik, sehingga respon
yang diberikan juga spesifik. Uji statistik terhadap kandungan kimia dan respon tanaman
terhadap kompos yang diberi kan hingga saat ini masih dilakukan, sehingga belum dapat
dilaporkan. Uji tanaman dilakukan pada tanaman sawi, bayam, kangkung dan terong.
K.Air
(%)
44
46
42
47
46
45
44
I
•'
6.1 KESIMPULAN (sementara)
BAB6
KESIMPULAN
Serasah mahoni ( Swietenia macrophylla), memiliki kandungan lignin tertinggi yaitu
sebesar, sedangkan tanaman clumprit (Tenninalia microcarpa) , memiliki kandungan
polifenol terbesar. Tanaman buah gada (Kigelia africana), memiliki kandungan sellulosa
terbesar. Keberadaan lignin, polifenol dan selulosa yang tinggi ini akan menjadikan serasah
sulit terdegradasi. Kigelia africana memiliki kadar N dan K tertinggi, sedangkan mahoni
memiliki kadar P tertinggi. Uji dekomposisi menunjukkan trembesi membutuhkan waktu
paling sedikit untuk terdekomposisi bila dibandingkan tanaman lain, sedangkan serasah
mahoni, paling lama terdekomposisi. Uji hara pada hasil kompos menunjukkan variasi yang
besar, tidak ada satu kompos yang memiliki unsur hara tertinggi dibandingkan dengan yang
lain.

DAFTAR PUSTAKA
Hadiwinoto S, Supriyo H, Mangkuwibowo F. dan Sabarnurdin S. 1994. Pengaruh Sifat Kimia
terhadap Tingkat Dekomposisi Beberapa Jenis Daun Tanaman Hutan. Manusia
dan Lingkungan. Nomor 4 Tahun II. 25-36.
Hairiyah K dan Subekti R. 2007. Petunjuk Praktis Pengukuran Karbon Tersimpan di
Berbagai Macam Penggunaan Lahan. World Agroforestry Center-ICRAF, SEA-
Regional Office. Bogor
Hairiah K, Utami SR, Lusiana B and van Noordwijk M. 2002. Neraca hara dan karbon dalam
sistem agroforestri. In: Hairiah K, Widianto and Lusiana B,eds. WaNuLCAS
Model Simulasi Untuk Sistem Agroforestri . Bahan Ajar 6. Bogor, Indonesia.
International Centre for Research in Agroforestry, SEA Regional Research
Programme.
Kebun Raya Purwodadi. 2006. Purwodadi Botanical Garden : Botanical Conservation
Center. www.krpurwodadi.lipi.go.id. Akses tanggal 30 Juni 2010.
Mason, CF. 1977. Decomposi tion. The Institute of Biology.s Studies in Biology No. 74.
Edward Arnold. London.
Putri, DP, Arisoesilaningsih E dan Rahardi B. 2009. Keberhasilan Kebun Raya Purwodadi
untuk Mitigasi Pemanasan Global Melalui Konservasi Serasah Hutan Kota.
Presiding Seminar Nasional Biologi XX dan Kongres PSI XIV. UIN Maliki.
Malang.
Prescott, CE. , Blevins LL., and Staley C. 2004. Litter Decomposition in British Columbia
Forests: Controll ing Factors and Influences of Forestry Activities. Journal of
Ecosystems and Management 5(2):44-57.
Salisbury F. 1992. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 3. ITS Press. Bandung
Smith, R. L. 1980. Ecology and Field Biology. Harper and Row Publishers New York.
Soejono. 2006. Fenologi Gugur Daun dan Semi Daun Beberapa Jenis Pohon Tanah Kering
di Kebun Raya Purwodadi. Presiding Seminar Nasional Konservasi dan
Pendayagunaan Keanekaragaman Tumbuhan Lahan Kering. Tanggal 28
Januari 2006. Kebun Raya Purwodadi-LIPI. Pasuruan.
Suprapto, A., D. Narko dan Ki swojo. 2007. An Alphabetical List of Plant Species Cultivated
in The Purwodadi Botanical Garden. Purwodadi Botanic Garden-Indonesian
Institute of Sciences. Purwodadi
Stevenson, F.T. 1982. Humus Chemistry. John Wiley and Sons. New York.
Takeda H., Ishida Y. and Tsutsumi T. 1987. Decomposition of Leaf Litter Relation to Litter
Quality and Site Condition. Mem. Coli. Agric. Kyoto Univ. 130:17-38.
Wikipedia. 2010. Hutan. http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan. Akses tanggal15 Juli 2010.
Wikipedia. 2010. Kompos. http://id.wikipedia.org/wiki/Kompos. Akses tanggal 15 Juli 2010.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->