Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bakteri Salmonella sp. adalah bakteri bentuk batang, gram negatif, hidup dalam saluran pencernaan manusia maupun hewan. Salmonella sp. yang masuk bersama makanan dan minuman yang tercemar akan menyebabkan demam enterik. Demam enterik dapat di kelompokan menjadi dua yaitu demam tifoid atau tipus (typhus) yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi (S. typhi), sedangkan demam paratifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella paratyphi A, B, dan C (S. paratyphi A, B, dan C). Gejala dan tanda klinis keduanya sama yang paling menonjol adalah demam lebih dari tujuh hari. Demam ini juga ditandai gejala tidak khas lainnya seperti diare, batuk, dan pusing, namun gejala demam paratifoid lebih ringan dari pada demam tifoid. Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik, bersifat endemis dan merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Terutama dari golongan masyarakat dengan standar hidup dan kebersihannya rendah. Kejadian penyakit demam tifoid di Indonesia cenderung meningkat. Sub Direktorat Surveilans Departemen Kesehatan tahun 1990-1994 melaporkan demam tifoid rata-rata 395 kasus per 10.000 penduduk sedangkan dari Rumah Sakit dan Pusat Kesehatan data penyakit demam 2 tifoid juga meningkat dari 92 kasus pada tahun 1994 menjadi 125 kasus pada tahun 1996 per 100.000 penduduk. Angka kematian demam tifoid di beberapa daerah adalah 2-5%. Untuk itu diagnosis dini demam tifoid perlu segera ditegakkan. Sebagai seorang tenaga kesehatan, sangatlah perlu untuk mengetahui morfologi maupun penyakit yang ditimbulkan oleh Salmonella sp., dalam hal ini penyakit demam tifoid atau tipus, yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi, serta bagaimana penyakit ini berkembang di suatu lingkungan (penyebarannya). Agar dapat dilakukan suatu rancangan

kesehatan yang bersisi pencegahan atau perlindungan serta penuntasan segala sesuatu yang menyangkut salmonella sp., khususnya penyakit yang disebabkannya (typhus).

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud Salmonella sp. ? 2. Apa penyakit yang di sebabkan oleh Salmonella sp. ? 3. Bagaiman siklus hidup Salmonella sp. (khususnya Salmonella typhi)? 4. Bagaimana cara mengatasi permasalahan (pencegahan dan pengobatan) yang disebabkan oleh Salmonella sp. ?

1.3 Tujuan 1. Dapat mengidentifikasi Salmonella sp. 2. Mengetahui penyakit yang disebabkan oleh Salmonella sp. 3. Mengetahui siklus hidup Salmonella sp. (khususnya Salmonella typhi) 4. Mengetahui cara mengatasi permasalahan (pencegahan dan pengobatan) yang disebabkan oleh Salmonella sp.

BAB II ISI 2.1 Identifikasi Salmonella sp. 2.1.1 Definisi Salmonella sp. Salmonella adalah suatu genus bakteri enterobakteria gram-negatif berbentuk tongkat, tidak berspora dan panjangnya bervariasi, serta yang menyebabkan tifus, paratifus, dan penyakit foodborne. Spesies-spesies Salmonella dapat bergerak bebas, namun kebanyakan species bergerak dengan flagel peritrih dan menghasilkan hidrogen sulfida. Salmonella dinamai dari Daniel Edward Salmon, ahli patologi Amerika, walaupun sebenarnya, rekannya Theobald Smith (yang terkenal akan hasilnya pada anafilaksis) yang pertama kali menemukan bakterium tahun 1885 pada tubuh babi.

Salmonella digolongkan ke dalam bakteri gram negatif sebab salmonella adalah jenis bakteri yang tidak dapat mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan gram. Bakteri gram positif akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara gram negatif tidak. Pada uji pewarnaan gram, suatu pewarna penimbal ditambahkan setelah metal ungu, yang membuat semua gram negative menjadi berwarna merah/merah muda. Pengujian ini berfungsi mengelompokkan kedua jenis bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka. Banyak species bakteri gram negative bersifat patogen ( penyebab penyakit) yang berarti mereka berbahaya bagi

organisme inang. Sifat patogen ini berkaitan dengan komponen tertentu pada dinding sel gram negative terutama lapisan lipopolisakarida atau dikenal sebagai endotoksin Salmonella tumbuh cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak meragikan sukrosa dan laktosa. Kuman ini merupakan asam dan beberapa gas dari glukosa dan manosa. Kuman ini bisa hidup dalam air yang dibekukan dengan masa yang lama. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu misalnya hijau brilian, natrium tetrationat, dan natrium dioksikholat. Senyawa ini menghambat kuman koliform dan karena itu bermanfaat untuk isolasi salmonella dari tinja. Salmonella sp. yang masuk bersama makanan dan minuman yang tercemar akan menyebabkan demam enterik. Demam enterik dapat di kelompokan menjadi dua yaitu demam tifoid atau tipus (typhus) yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi (S. typhi), sedangkan demam paratifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella paratyphi A, B, dan C (S. paratyphi A, B, dan C) 2.1.2 Klasifikasi Salmonella typhi Berikut arah klasifikasi dari genus Salmonella : sebenarnya genus ini mengalami pergantian klasifikasi yang sangat signifikan seiring dengan berkembangnya waktu-berhubungan dengan sinonim nama spesies diatas. Landasan klasifikasi Genus Salmonella didapat dari perbedaan fermentasi karbohidrat dan produksi gas. Klasifikasi Salmonella typhi Kingdom Phylum Classis Ordo Familia Genus Species : Bakteria : Proteobakteria : Gamma proteobakteria : Enterobakteriales : Enterobakteriakceae : Salmonella : Salmonella thyposa

2.1.3 Morfologi Morfologi spesies ini adalah batang lurus pendek dengan panjang 1-1,5 mikrometer. Tidak membentuk spora, Gram negatif dan ciri-ciri morfologi dan fisiologi sangat erat hunbungannya dengan genus lain dalam family Enterobacteriaceae. Biasanya bergerak motil dengan menggunakan peritrichous flagella, dan kadang terjadi bentuk

nonmotilnya. Memproduksi asam dan gas dari glukosa, maltosa, mannitol, dan sorbitol, tetapi tidak memfermentasi laktosa, sukrosa, atau salicin; tidak membentuk indol, susu koagulat, atau gelatin cair.

2.2 Penyakit yang Disebabkan oleh Salmonella sp. 2.2.1 Patologi dan Patogenesis Salmonella adalah penyebab utama dari penyakit yang disebarkan melalui makanan (foodborne diseases). Pada umumnya, serotipe Salmonella menyebabkan penyakit pada organ pencernaan. Penyakit yang disebabkan oleh Salmonella disebut salmonellosis. Ciri-ciri orang yang mengalami salmonellosis adalah diare, keram perut, dan demam dalam waktu 8-72 jam setelah memakan makanan yang terkontaminasi oleh Salmonella. Gejala lainnya adalah demam, sakit kepala, mual dan muntah-muntah. Tiga serotipe utama dari jenis S. enterica adalah S. typhi, S. typhimurium, dan S. enteritidis. S. typhi menyebabkan penyakit demam tifus (Typhoid fever), karena invasi bakteri ke dalam pembuluh darah dan gastroenteritis, yang disebabkan oleh keracunan

makanan/intoksikasi. Gejala demam tifus meliputi demam, mual-mual, muntah dan kematian. S. typhi memiliki keunikan hanya menyerang manusia, dan tidak ada inang lain. Infeksi Salmonella dapat berakibat fatal kepada bayi, balita, ibu hamil dan kandungannya serta orang lanjut usia. Hal ini disebabkan karena kekebalan tubuh mereka yang menurun. Penularan Salmonella thyposa adalah melalui feco-oral, dibutuhkan sejumlah 105-109 kuman untuk menyebabkan infeksi. Infeksi S.typhi terjadi pada saluran pencernaan Dimana faktor yang mempengaruhi infeksi adalah : 1. PH, kalau PH lambung asam dapat mencegah infeksi 2. Waktu pengosongan lambung Setelah kuman berada dalam usus halus mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus (terutama plaque peyeri) dan jaringan limfoid mesenterika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah (Bakteremia I) menuju organ retikulo endothelial sistem terutama hati dan limpa. Di tempat ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit RES dan kuman yang tidak difagosit akan berkembang biak. Pada akhir masa inkubasi 5-9 hari kuman masuk kembali ke darah menyebar ke seluruh tubuh (bakteremia II) dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama limpa, kandung empedu yang selanjutnya kuman tersebut dikeluarkan kembali dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi di usus. Dalam masa bakteremia ini kuman mengeluarkan endotoksin yang susunan kimianya sama dengan somatik antigen (lipopolisakarida), yang semula diduga bertanggung jawab terhadap terjadinya gejala-gejala demam tifoid. Kelainan utama terjadi di ilium terminal dan plak peyeri yang hiperplasi (minggu I), nekrosis (minggu II) dan ulserasi (minggu III) serta bila sembuh tanpa adanya jaringan parut. Sifat ulkus berbentuk

bulat lonjong sejajar dengan sumbu panjang usus dimana ulkus ini dapat menyebabkan perdarahan bahkan perforasi 2.2.2 Etiologi Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi (S. typhi), basil gram negatif, berflagel, dan tidak berspora. S. typhi memiliki 3 macam antigen yaitu antigen O (somatik berupa kompleks polisakarida), antigen H (flagel), dan antigen Vi. Dalam serum penderita demam tifoid akan terbentuk antibodi terhadap ketiga macam antigen tersebut.

Kuman ini tumbuh dalam suasana aerob dan fakultatif anaerob. Kuman ini mati pada suhu 56C dan pada keadaan kering. Di dalam air dapat bertahan hidup selama 4 minggu dan hidup subur pada medium yang mengandung garam empedu. 2.2.3 Epidemiologi Demam tifoid dan paratifoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemik di Asia, Afrika, Amerika Latin Karibia dan Oceania, termasuk Indonesia. Penyakit ini tergolong penyakit menular yang dapat menyerang banyak orang melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Insiden demam tifoid di seluruh dunia menurut data pada tahun 3002 sekitar 16 juta per tahun, 600.000 di antaranya menyebabkan kematian. Di Indonesia prevalensi 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3-19 tahun, kejadian meningkat setelah umur 5 tahun. Ada dua sumber penularan S.typhi : pasien yang menderita

demam tifoid dan yang lebih sering dari carrier yaitu orang yang telah sembuh dari demam tifoid namun masih mengeksresikan S. typhi dalam tinja selama lebih dari satu tahun.

2.2.4 Faktor-Faktor Virulensi Faktor-faktor virulensi memungkinkan sebuah patogen

berkembang dalam inang dan menyebabkan penyakit. Faktor anti virulensi mengendalikan derajat ketidak efektifannya. Salmonella adalah bakteri yang menginfeksi beragam inang vertebrae. Salmonellosis, infeksi Salmonella, dapat menyebabkan gastroenteritis atau demam tifoid penyakit sistemik yang mengancam jiwa. Penemuan ini diterbitkan dalam jurnal Public Library of Science, menyarankan kalau ada jalur khusus pada Salmonella yang bertindak sebagai faktor anti virulensi saat salmonellosis. Jalur ini juga terlibat dalam menyetel keseimbangan inang-patogen saat salmonellosis. Penelitian menunjukkan kalau jalur ini teraktivasi karena pencernaan dan masuk kedalam usus dan kemudian tertutup begitu Salmonella memasuki usus. Brett Finlay, profesor Mikrobiologi dan Biokimia di UBC dan peneliti senior dalam laboratorium Michael Smith, menyatakan bahwa saat faktor anti virulensi terbuang, Salmonella menjadi 10 kali lebih

ganas. Penelitian ini juga menunjukkan kalau Salmonella memiliki kemampuan mengendalikan virulensinya bahkan sebelum ia memasuki sang inang. Jalur ini dirancang untuk mengendalikan tingkat virulensi dan tidak membunuh inang dengan segera. Menurunkan level ketidakefektifan ini memungkinkan Salmonella menstabilkan dirinya didalam inang dan kemudian menjadi lebih ganas. Dasar-dasar Virulensi : Memiliki endotoksin yang menyebabkan berbagai gejala toksis termasuk demam, leucopenia, pendarahan, hipotensi, dan koagulasi intravaskuler yang tersebar. Beberapa mengeluarkan eksotoksin. Dibantu oleh daya antifagositosis. Kemampuan untuk tetap hidup di dalam makrofag tanpa diketahui mekanismenya.

2.3 Siklus Hidup Salmonella sp. Infeksi salmonella sering terjadi pada musim panas karena bakteri ini berkembang biak pada suhu hangat. Sumber utama penyebab infeksi salmonella adalah bahan makanan yang tidak dipanaskan secara baik seperti ayam, telur, daging atau susu. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya salmonellosis adalah: penggunaan bahan makanan mentah yang sudah terkontaminasi atau mengandung salmonella kontaminasi silang misalnya penggunaan pisau untuk ayam mentah tanpa dicuci dahulu sama dengan untuk memotong ayam matang penyimpanan makanan pada temperatur yang tidak cocok Dampak dari keracunan bakteri ini adalah diare disertai pusing, demam atau sakit perut. Saat suhu udara mulai menghangat mulailah jenis bakteri ini berkembang dengan pesatnya. Terlebih lagi bila ia berkembang pada jenis makanan tertentu yang memang rawan salmonella, yaitu makanan yang

mengandung protein tinggi. Bila kondisinya sangat menunjang, bakteri ini akan membelah diri setiap 20 menit sekali, satu bakteri akan berkembang dalam waktu 5 jam menjadi 45 000. Ada sekitar 2300 jenis bakteri salmonella dan yang paling sering ditemui adalah kasus infeksi Salmonella enteriditis yang terdapat pada unggas atau telur ayam. Ada juga Salmonella typhi yang terdapat pada kerang. Makanan yang mengandung Salmonella belum tentu menyebabkan infeksi Salmonella, tergantung dari jenis bakteri, jumlah dan tingkat virulensi (sifat racun dari suatu mikroorganisma, dalah hal ini bakteri Salmonella). Misalnya saja Salmonella enteriditis baru menyebabkan infeksi bila sudah berkembang biak menjadi 100 000. Dalam jumlah ini keracunan yang terjadi bisa saja menyebabkan kematian si penderita. Salmonella typhimurium dengan jumlah 11.000 sudah dapat menimbulkan infeksi. Jenis Salmonella lain ada yang menyebabkan infeksi hanya dengan jumlah 100 sampai 1000, bahkan dengan jumlah 50 sudah dapat menyebabkan infeksi.

Perkembangan Salmonella pada tubuh manusia dapat dihambat oleh asam lambung yang ada pada tubuh kita. Disamping itu dapat dihambat pula oleh bakteri lain. Gejala keracunan salmonella pada manusia biasanya baru

terdeteksi setelah 5 sampai 36 jam. Keracunan salmonella diawali dengan sakit perut dan diare yang disertai juga dengan panas badan yang tinggi, perasaan mual, muntah, pusing-pusing dan dehidrasi. Semakin banyak jumlah bakteri yang terkandung dalam tubuh, semakin terancam jiwa penderita. Penderita infeksi Salmonella yang sudah terlalu banyak mengeluarkan cairan dapat terancam jiwanya akibat kekurangan cairan (dehidrasi) yang berlebihan. Hal ini lebih berbahaya lagi bagi anak-anak atau orang tua yang daya tahan tubuhnya lemah. Bila sudah nampak tanda-tanda keracunan Salmonella penderita harus segera dibawa ke dokter. Umumnya, koloni Salmonella hidup di tempat yang tidak bersih. Bila terbawa oleh lalat yang menghinggapi makanan dan minuman, sang bakteri dengan mudah akan masuk ke dalam tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia, dalam beberapa hari, kawanan bakteri ini beraksi membuat peradangan, luka (ulkus), dan pendarahan pada usus halus. Pendarahan akan membuat Salmonella terbawa aliran darah, menginvasi sekaligus berkembang biak di dalam sel darah putih. Tujuh hari berikutnya (variasinya 3-60 hari), sel darah putih pecah dan ini membuat kuman beredar ke seluruh tubuh. Ketika itu terjadi, muncullah gejala tifoid: demam, menggigil, lesu, lemah, sakit kepala, diare, dan nafsu makan anjlok. Bila gejala ini tak segera ditanggapi dengan tindakan medis, kerusakan organ akan terjadi hingga berujung pada kematian penderita tifus. Penularan terjadi bila kotoran penderita terbawa oleh lalat dan mencemari makanan dan minuman. Salmonella ini mampu bertahan hidup dan sabar menanti hingga terbawa masuk ke manusia. Bila seseorang mengonsumsi makanan tercemar, antara lain lewat tangan yang kotor atau makanan yang dimasak kurang matang, siklus hidup Salmonella pun kembali berputar.

Salmonella adalah bakteri yang termasuk mikroorganisme yang amat kecil dan tidak terlihat mata. Selain itu bakteri ini tidak meniggalkan bau maupun rasa apapun pada makanan. Kecuali jika bahan makanan (daging ayam) mengandung Salmonella dalam jumlah besar, barulah terjadi perubahan warna dan bau (merah muda pucat sampai kehijauan, berbau busuk). Biasanya bakteri dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium. Salmonella bisa terdapat di udara, air, tanah, sisa kotoran manusia maupun hewan atau makanan hewan. Sumber bakteri Salmonella biasanya terdapat pada unggas (ayam, bebek, kalkun), daging babi, binatang laut, telur dan susu. Bahan makanan hewani yang paling sering berperan sebagai sumber penularan Salmonella adalah unggas. Unggas yang terinfeksi Salmonella bisa menyebarkan bibit bakteri melalui daging, telur baik pada kulit maupun isi telur. ng pecah atau retak lebih peka Salmonella daripada yang utuh. Proses penularan dapat juga terjadi pada saat penyembelihan, dimana unggas atau ternak yang sehat tertular oleh unggas atau ternak yang sakit. Tidak tertutup kemungkinan penularan terjadi pada saat proses penyembelihan sampai menjadi ayam potong. Pekerja rumah potong ayam yang menderita Salmonellosis seperti penderita Typhus dapat menyebarkan kuman ke ayam atau daging mentah. Di Jerman, daging atau susu boleh dikatakan sudah bebas salmonella. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi unggas atau telur. Yang sangat sering sekali terjadi adalah keracunan Salmonella dari makanan yang mengandung telur mentah (tidak diolah), seperti mayonaise, es krim dan pudding. Bila makanan yang mengandung telur mentah tidak disimpan secara baik (tidak didinginkan, sudah disimpan terlalu lama atau tidak dipanaskan sama sekali) besar kemungkinan Salmonella akan berkembang biak dengan pesat. Mayonaise biasanya sudah bersifat asam (pH dibawah 4, Salmonella hidup pada pH 4-9). Pada Mayonaise ditambahkan asam asetat sebagai cuka. Asam asetat pada mayonaise akan membunuh Salmonella.

Setiap telur segar belum tentu mengandung Salmonella. Tetapi bila telur segar atau makanan yang mengandung telur mentah dibiarkan pada suhu ruang dalam beberapa hari, barulah bakteri ini dapat berkembang dan membahayakan tubuh manusia. Untuk memutus daur hidup kuman, agar penyakit tak sempat merusak tubuh, dokter akan memberikan beberapa pilihan antibotik kepada penderita. Namun, pengobatan sering jadi lebih sulit karena pasien acap datang ke rumah sakit ketika sudah mengalami gejala tifus hingga seminggu atau lebih. Mereka baru meminta pertolongan ketika tifoid mencapai tahap parah dan membutuhkan penanganan ekstra. Di sisi lain, tingkat kekebalan atau resistensi bakteri semakin hari makin meningkat. Makin banyak kasus menunjukkan Salmonella kebal terhadap satu jenis atau bahkan beberapa jenis antibiotik sekaligus. Rata-rata, pasien tifoid tahap berat membutuhkan satu bulan perawatan yang optimal di rumah sakit. Untuk ongkos obat belum termasuk transpor, ongkos menginap, dan uji darah. Hambatan lainnya, dokter sering terlambat atau bahkan keliru mendiagnosis tifoid. Sebabnya, pasien tifoid sering menampakkan gejala yang mirip gejala demam lain, seperti malaria, demam berdarah, dan demam yang disebabkan bakteri Rickettsia sp. Memang, uji komplet atas tinja dan darah pasien bisa memastikan diagnosis tifoid. Namun, selain mahal dan memakan waktu, tes ini membutuhkan peralatan laboratorium yang tidak selalu tersedia di kota kecil. Uji Widal yang lebih sederhana dengan mengukur kandungan antibodi Salmonella dalam darah bisa sangat membantu penegakan diagnosis tifoid. Namun, untuk lebih memudahkan dalam melihat suatu kondisi, apakah terserang Salmonella typhi atau tidak, dapat dikenali gejala-gejala yang terdapat pada penderita typhus. Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa. Masa tunas rata-rata 10-14 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan lemas dan lesu, nyeri kepala, pusing, dan tidak bersemangat. Kemudian disusul gejala klinis, yaitu :

1. Demam Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remiten dan suhu tidak tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari. Pada minggu kedua penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga. 2. Gangguan saluran pencernaan Pada penderita demam tifoid dapat ditemukan bibir kering, dan pecahpecah (ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tounge) dengan pinggir yang hiperemis, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan

konstipasi,akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare. 3. Gangguan kesadaran Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak seberapa dalam, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah. Disamping gejala-gejala yang biasa ditemukan tersebut kadang-kadang ditemukan pula gejala lain berupa roseola pada punggung dan ekstremitas dan bradikardia pada anak besar

2.4 Pencegahan dan Pengobatan Gangguan Kesehatan yang disebabkan oleh Salmonella sp. 2.4.1 Pencegahan Tindakan sanitasi harus dilakukan untuk mencegah kontaminasi makanan dan air oleh binatang pengerat atau binatang lain yang mengeluarkan salmonella. Unggas, daging, dan telur yang terinfeksi harus dimasak dengan sempurna. Kholesistektomi atau ampisilin dapat menghilangkan keadaan pembawa kuman. Selanjutnya, perlu

diperhatikan makanan yang dikonsumsi. Usahakan makanan yang

dikonsumsi benar-benar bersih dan bebas dari lalat yang beterbangan. Selain itu dapat dilakukan pula : Jangan minum air yang belum dimasak (belum matang) Bila ingin jajan di pingir jalan yang belum jelas apakah airnya dimasak atau tidak, yakinlah bahwa badan kita dalam keadaan yang fit sehingga daya tahan tubuh kita (leukosit) dapat menghancurkan kuman-kuman itu

Menjaga kebersihan peralatan makan Menjaga daya tahan tubuh agar selalu fit dengan makanan, gizi seimbang, istirahat yang cukup, olah raga, rileks (tidak stress/tegang) Untuk menghindari penyebaran kuman, Buang air besar sebaiknya pada tempatnya jangan dikali atau sungai Pengadaan sarana air bersih dan pengaturan pembuangan sampah serta peningkatan kesadaran individu terhadap hygiene lingkungan dan pribadi.

Memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi, bakteri Salmonella typhi mati apabila dipanasi dalam suhu 57 oC dalam beberapa menit.

2.4.2 Pengobatan Penderita yang dirawat dengan diagnosis observasi demam tifoid dan diberikan pengobatan sebagai berikut : Perawatan Penderita perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi serta pengobatan. Penderita harus istirahat 5-7 hari bebas demam, tetapi tidak harus tirah baring sempurna. Diet Dimasa lampau, penderita diberi makan diet yang terdiri dari bubur saring, kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan penderita. Beberapa peneliti menganjurkan makanan padat dini yang wajar sesuai dengan keadaan penderita. Makanan disesuaikan baik kebutuhan kalori, protein, elektrolit,

vitamin

maupun

mineralnya

serta

diusahakan

makan

yang

rendah/bebas selulose, menghindari makanan yang iritatif. Pada penderita gangguan kesadaran maka pemasukan makanan harus lebih di perhatikan. Obat-obatan Obat pilihan adalah kloramfenikol, hati-hati karena mendepresi sumsum tulang dosis 50-100 mg/kgBB dibagi 4 dosis, Anaplastik anemia, Kotrimoksazol ( TMP 8-10 mg/kgBB dibagi 2 dosis), Ampisilin, Amoxicillin

DAFTAR PUSTAKA

http://mikrobia.wordpress.com/2008/05/16/salmonella-thyposa/. Diakses pada 5 April 2011. http://www.forumsains.com/artikel/salmonella-infeksi-yang-mematikan%20/. pada 5 April 2011. Diakses

http://www.scribd.com/doc/42718100/Bakteri-Salmonella-Sp. Diakses pada 5 April 2011.

Salmonella sp.
Di susun untuk memenuhi mata kuliah Agent Penyakit Semester Genap

Oleh :

Nama Dina Rofidah Fika Febriana Khairuddin Mellynda Kurniawati Rindah Kartika Sari

NIM 1011015093 1011015123 1011015125 1011015045 1011015063

Kelompok 6 / Fkm A 2010

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2011