Presentasi Kasus

TETANUS

KEPANITERAAAN KLINIK LAB/SMF ILMU FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2012

masuk kedalam sirkulasi darah arteri kemudian .Etiologi Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang. yang peranannya kurang berarti dalam proses penyakit. toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik. bermanifestasi dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan otot seluruh badan. Namun toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh aritititoksin. ramping. pada suhu 65 C akan hancur dalam lima menit. luka tembak. dan mempengaruhi sistem saraf pusat. tersebar luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi baik. Kuman ini menjadi terikat pada satu saraf atau jaringan saraf dan tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Hipotesa cara absorbsi dan bekerjanya toksin adalah pertama toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawah ke korno anterior susunan saraf pusat.BAB I PENDAHULUAN A. Kedua. pecahan kaca. C.Definisi Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani. atau kaleng. Toksin ini (tetanuspasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. berukuran 2-5 x 0. Disamping itu dikenal pula tetanolysin yang hemolisis.5 milimikro yang berbentuk spora selama diluar tubuh manusia. luka yang kotor dan pada bayi dapat melalui tali pusat. Organisme multipel membentuk dua toksin yaitu tetanuspasmin yang merupakan toksin kuat dan atau neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot. luka baker. Eksotoksin yang dihasilkan akan mencapai pada sistem saraf pusat dengan melewati akson neuron atau sistem vaskuler.4-0. B. Toksin ini labil pada pemanasan.Patofisiologi Penyakit tetanus terjadi karena adanya luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku.Kekuatan tonus otot massater dan otot-otot rangka.Termasuk golongan gram positif dan hidupnya anaerob.

Spasme yang khas . 7. Kadang-kadang terjadi perdarahan intramusculus karena kontraksi yang kuat. Kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Gejala klinis Masa tunas biasanya 5 – 14 hari. Gejala itu dapat menetap dalam beberapa minggu dan menhilang tanpa sekuele. Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu anterior. . Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan laring. tetapi kadang-kadang sampai beberapa minggu pada infeksi ringan atau kalau terjadi modifikasi penyakit oleh antiserum. Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris. Risus sardonikus karena spasme otot muka (alis tertarik ke atas). 6. Masa inkubasi 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata 10 hari. tetanus lokal : otot terasa sakit. Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan cairan otak. Fraktur kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuar. mudah terangsang. yaitu badan kaku dengan epistotonus. D.masuk kedalam susunan saraf pusat.gelisah. Anak tetap sadar. 2. Kaku kuduk sampai epistotonus (karena ketegangan otot-otot erector trunki) 3. Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot urethral. ekstremitas inferior dalam keadaan ekstensi. 8. lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Ada 3 bentuk klinik dari tetanus. 9. bibir tertekan kuat pada gigi. Kesukaran menelan. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan : 1. Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher. lalu timbul rebiditas dan spasme pada bagian paroksimal luak. Ketegangan otot dinding perut (harus dibedakan dengan abdomen akut) 4. Toksin bereaksi pada myoneural junction yang menghasilkan otot-otot manjadi kejang mudah sekali terangsang. yaitu: 1. 10. Spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi. nyeri anggota badan sering marupakan gejala dini.sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah. Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir. 5.

mudah tersinggung dan sakit kepala merupakan manifestasi awal. Tetanus general merupakan bentuk paling sering. menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bagian bawah. Trismur (1 cm) dengan kejang torik umum spontan. Menurut berat gejala dapat dibedakan 3 stadium : 1. gelisah. Timbul kejang tetanik bermacam grup otot.2. Diagnosis Biasanya tidak sukar. 3. mastoiditis. IX dan XI tersering adalah saraf otak VII diikuti tetanus umum. abses gigi yang hebat. 3. timbul mendadak dengan kaku kuduk. Paling menonjol adalah disfungsi saraf III. Kuduk baku juga dapat terjadi pada meningitis (pada tetanus kesadaran tidak menurun). abses retrofaringeal. F. E. 2. Diagnosis Banding Spasme yang disebabkan oleh striknin jarang menyebabkan spasme otot rahang tetapi didiagnosis dengan pemeriksaan darah (kalsium dan fospat). Dalam waktu singkat konstruksi otot somatik meluas. VII. Trismus (3 cm) tanpa kejang-lorik umum meskipun dirangsang. . preumonia lobaris atas. Anamnesis terdapat luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang sangat membantu. miositis leher. Trismus dapat pula terjadi pada argina yang berat. pembesaran getah bening leher. Kejang pada meningitis dapat dibedakan dengan kelainan cairan serebropinalis. IV. Pada mulanya spasme berlangsung beberapa detik sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode relaksasi. Trismur (3 cm atau lebih kecil) dengan kejang torik umum bila dirangsang. trismus. Pada rabies terdapat anamnesis gigitan anjing dan kucing disertai gejala spasme laring dan faring yang terus menerus dengan pleiositosis tetapi tanpa trismus. Tetanus segal : varian tetanus local yang jarang terjadi masa inkubasi 1-2 hari terjadi sesudah otitis media atau luka kepala dan muka. spondilitis leher.

Diet TKTP pemberian tergantung kemampuan menelan bila trismus makanan diberi pada sonde parenteral. I. Mortalitas di Amerika Serikat dilaporkan 62 % (masih tinggi) J.Fraktura kompresi.G. 2.Prognosis Dipengaruhi oleh beberapa faktor dan akan buruk pada masa tunas yang pendek (kurang dari 7 hari). ~ Pemeriksaan darah : leukosit 8. Spame otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saliva) di dalam rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga dapat terjadi pneumonia aspirasi. Mengatur cairan dan elektrolit.Pemeriksaan diagnostik ~ Pemeriksaan fisik : adanya luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang. Penatalaksanaan a. Isolasi pada ruang yang tenang bebas dari rangsangan luar. Secara Umum      Merawat dan memebersihkan luka sebaik-baiknya. usia yang sangat mudah (neunatus) dan usia lanjut. Oksigen pernafasan butan dan trakeotomi bila perlu.Asfiksia 3.000-12. period of onsed yang pendek (jarak antara trismus dan timbulnya kejang) dan adanya kompikasi terutama spame otot pernafasan dan obstruksi saluran pernafasan. bila disertai frekuensi kejang yang tinggi.Atelektaksis karena obstruksi secret 4. .Komplikasi 1. pengobatan yang terlambat. kenaikan suhu tubuh yang tinggi.000 mm3 H.

. Booster diberikan 1 tahun kemudian selanjutnya tiap 2-3 tahun. Diazepam 0. Bila mendapat luka : ~ Perawatan luka yang baik : luka tusuk harus di eksplorasi dan dicuci dengan H2O2. Pencegahan 1. dll. Imunisasi aktif toksoid tetanus. ~ Tetanus toksoid sebagai boster bagi yang telah mendapat imunisasi dasar. juta 1. untuk anak diberikan mula-mula 60-100 mg/1.000 iu/1.5-1. ~ Pemberian ATS 1500 iu secepatnya.M/4 jam.000 iu/kg BB/hari).u/hari atau tetrasiflin 1 gr/hari/1. K. Antitoksin Antitoksin 20. 3. yang diberikan sebagai dapat paad usia 3.b. Obat-obatan 1.M lalu dilanjutkan 6 x 30 mg hari (max. Antibiotik Penizilin prokain 1.0 mg/kg BB/1. Pemberian baru dilaksanakan setelah dipastikan tidak ada reaksi hipersensitivitas.M.4 dan 5 bulan.M/hari untuk anak-anak mula-mula 4-6 mg/kg BB. 200 mg/hari). 2. Klorpromasin 3 x 25 mg/1. 2. Anti kejang/Antikonvulsan    Fenobarbital (luminal) 3 x 100 mg/1. ~ Bila luka berta berikan pp selama 2-3 hari (50.M/5 hari.V Dapat memusnahkan tetani tetapi tidak mempengaruhi proses neurologiknya.

BAB II KASUS ILUSTRASI KASUS 1. Identitas Penderita Nama Umur Berat badan Jns Kelamin Alamat Pekerjaan 2. 12 hari sebelum masuk rumah sakit kaki kanan penderita terkena kayu. buang air kecil tak ada kelainan. Riwayat Penyakit Sekarang 1 hari sebelum masuk rumah sakit penderita tidak dapat tidur terlentang. Riwayat Penyakit Keluarga : disangkal . Demam (-). kejang (-). sesak nafas (-). Keluhan Utama Kaki kanan kaku b.S : 22 tahun : 60 kg : laki . bernanah dan kaki terasa kaku. diberi obat minum dan suntikan bewarna putih susu. dibawa berobat ke puskesmas dibersihkan. Riwayat Penyakit Dahulu : disangkal d. Setelah 3 hari penderita kembali ke puskesma karena sekitar luka tampak merah. kaki kaku. nyeri anggota badan (+).laki : Nusukan RT 5/3 Surakarta : karyawan c. Anamnesa a. : Sdr. Buang air besar tak ada kelainan.

Extremitas : Akral dingin _ _ _ _ Palmar eritema _ _ _ + oedem _ _ _ + N : 100x / menit S : 36.). bising usus ( +) normal. Status Generalis a. bibir mecucu (-) : dalam batas normal : dalam batas normal : distended. Keadaan Umum b. Leher h. Thorax i. gizi cukup : T : 120/ 80 mmHg Rr : 24 x / menit c. CM. muka meringis (+) : rahang kaku ( -).) : wajah kaku (-). j. Abdomen : dalam batas normal : CA ( . Wajah f. hepar dan lien sulit dievaluasi.5 o C Sianosis : tidak ada Jari tabuh : tidak ada Gerakan Kekuatan Tonus + + + - 5 5 5 sde N N N . Vital Sign : Sakit sedang. Mulut g. SI ( .3. Dinding dada sejajar dinding perut. Kepala d. Mata e.

1Injeksi penicilin prokain 1.000 IU dalam inf NaCl 0. e. 50. Terapi Tatalaksana penderita rawat inap : a. Isolasi pada ruang yang tenang +2 sde Refleks Patologis _ _ _ sde d. Pemeriksaan Lab Tidak dilakukan 6.2 juta unit / hari selama 10 hari IM. Mengatur cairan dan elektrolit 8. Injeksi diazepam 0. Diagnosa Tetanus 7. Oksigen 3 liter bila perlu c. Diet rendah garam tinggi protein b.Refleks Fisiologis +2 +2 5. Tujuan Terapi a.000 IU IM f.5 – 1 mg/KgBB/4 jam IM . Memperbaiki keadaan umum b. Menangani kegawatan c. Injeksi ATS 50.9%.

9% flb No. No III Cum disp syringe cc 10 No. I Cum disp. I Cum iv cateter No.9. I ∫ imm R/ penicilin prokain injeksi vial No. V Cum disp syringe cc 5 No. Penulisan Resep RSUD. I ∫ imm R/ valdimex amp. M ( 20 th ) . 25 September 2008 R/ Infus NaCl 0. I ∫ imm Pro : Sdr. syringe cc 5 No. I ∫ imm R/ ATS injeksi amp No. 22 No.DR Moewardi Surakarta Surakarta. II Cum Infus set No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful