Anda di halaman 1dari 4

MIOMA UTERI A.

Definisi Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos yang terdiri dari sel-sel jaringan oto t polos, jaringan fibroid dan kolagen miometrium dengan konsistensi padat kenyal , batas jelas, mempunyai pseudo kapsul, tidak nyeri, bisa soliter atau multipel. Tumor ini juga dikenal dengan istilah fibromioma uteri, leiomioma uteri, atau u terine fibroid. B. Epidemiologi Mioma uteri banyak ditemukan pada wanita dalam masa reproduksi (20-25 %). Namun untuk alasan yang tidak jelas, mioma uteri 3-9 kali lebih banyak ditemukan pada wanita kulit hitam daripada wanita kulit putih. Di Indonesia mioma uteri dilapor kan mencapai 2,39-11,7 %. Mioma uteri juga cenderung familial, yaitu terjadi pad a orang dengan hubungan keluarga yang dekat. C. Etiologi Menurut teori onkogenik, patogenesis mioma uteri dibagi menjadi 2 faktor, yaitu faktor inisiator dan promotor. Faktor-faktor yang menginisiasi mioma uteri blum diketahui dengan pasti. Dari penelitian dengan menggunakan glucose-6-phosphatase dihydrogenase diketahui bahwa mioma uteri berasal dari jaringan yang uniseluler . Transformasi neoplastik dari miometrium menjadi mioma melibatkan mutasi somati k dari miometrium normal dan interaksi kompleks dari hormon steroid seks dan gr owth faktor lokal.mutasi somatik ini merupakan awal dalam proses pertumbuhan tum or. Tidak didapatkan bukti bahwa hormon esterogen berperan sebagai penyebab mioma, n amun diketahui esterogen berperan dalam pertunuhan mioma. Mioma terdiri dari res eptor esterogen dengan konsentrasi lebih tinggi dibanding dengan miometrium seki tarnya, namun konsentrasinya lebih rendah dibanding endometrium. Hormon progeste ron meningkatkan aktivitas mitotik dari mioma namun mekanisme dan faktor pertumb uhan yang terlibat taidak diketahui secara pasti. Progesteron memungkinkan pembe saran tumor dengan cara down-regulation apoptosis dari tumor. Esterogen berperan dalam pembesaran tumor dengan meningkatkan produksi matriks ekstraseluler. D. Patologi Mioma uteri biasanya multipel, saling terpisah dan atau terdiri atas lobul-lobul yang iregular (variasi dalam jumlah dan ukuran). Walaupun mioma hanya mempunyai pseudokapsul tetapi dapat dipisahkan secara jelas dengan miometrium dan dapat d ilakukan enukleasi dengan mudah. Biasanya mioma lebih terang warnanya daripada m iometrium. Klasifikasi mioma berdasarkan lokasi anatomis, yaitu : a) Mioma submukosa Tumbuh hanya sedikit dibawah lapisan endometrium. Dalam pertumbuhannya cenderung menekan endometrium dan meluas ke arah lumen atau kavum uteri. Perlekatan pada endometrium dan vaskularisasinya menimbulkan perdarahan uterus yang ireguler. Mi oma jenis ini dapat tumbuh bertangkai dan berada seluruhnya di dalam kavum uteri , bahkan dapat melewati kanalis servikalis dan tetap melekat pada korpus uteri d engan tangkai yang panjang, disebut miomgeburt. Kondisi tersebut sangat memungki nkan untuk torsi dan atau infeksi. b) Mioma intramural Mioma ini tumbuh pada miometrium dan konsistensinya bervariasi, namun biasanya p adat dan keras seperti gulungan karet. Biasanya menyebabkan perdarahan uterus ya ng terus menerus karena ? memperluas permukaan endometrium ? memperburuk kontraksi uterus ? menghambat kompresi pembuluh darah balik c) Mioma subserosa Mioma ini tumbuh pada lapisan subserosa atau subperitoneal uterus dan dapat tumb uh bertangkai. Namun jika vaskularisasinya berasal dari pembuluh darah omental m aka tangkai yang menghubungkan mioma ini dengan uterus akan mengalami atrofi dan

diresorbsi dan selanjutnya disebut fibroma wandering/parasitik. Mioma ini juga dapat tumbuh mendesak atau berada diantara ke-2 lapisan peritoneum atau dapat ju ga tumbuh diantara ligamen manjadi mioma interligamenter dan mengganggu aliran d arah organ-organ di pelvis dan aliran ureter. 1. Mikroskopis Sebuah sarang mioma terdiri atas serabut-serabut otot polos yang tersusun sepert i pusaran air.Vaskularisasi sarang mioma biasanya mengikuti pola dari mioma ters ebut. 2. Degenerasi Terdapat beberapa jenis degenerasi dari mioma uteri, yaitu perubahan yang jinak dan perubahan yang ganas. Beberapa perubahan yang termasuk jinak diantaranya ada lah: ? Atrofi Tanda dan gejala klinis menunjukkan penurunan, demikian pula ukuran mioma. Biasa nya terjadi setelah menopause atau setelah kehamilan ? Hyalinisasi Mioma yang matur berwarna putih kekuningan, lunak, dan di beberapa tempat sepert i gelatin. Biasanya asimptomatis. ? Kistik Biasanya mengikuti atau setelah hyalinisasi. Cairan dapat ditemukan pada kavum u teri, kavum peritonii, atau ruang retoperitoneal ? Kalsifikasi Biasanya terjadi pada mioma subserosa karena penumpukan kalsium karbonat dan fos fat. ? Septik Vaskularisasi yang inadekuat menyebabkan nekrosis di pusat dari sarang mioma dan diikuti oleh infeksi. Biasanya ditemukan nyeri abdomen akut, perut yang teraba keras dan demam. ? Karneosa Terjadi trombosis dan kongesti vena dengan perdarahan interstisial. Biasanya ter jadi selama kehamilan disertai udem dan hipertrofi myometrium. ? Miksomatosa/lemak Lebih jarang terjadi daripada degenerasi kistik dan hyalinisasi. Biasanya asimto matis. Pada perubahan ke arah keganasan ditemukan leiomyosarcoma pada 0,1-0,5% penderit a leiomioma serta merupakan 50-75 % dari seluruh sarkoma pada uterus. Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Ke curigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila te rjadi pembesaran sarang mioma setelah menopause. Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi atau putaran, timbul gangguan sirkulasi sehingga menjadi nekrosis. Dengan demikian terjadi sindrom abdomen ak ut. Bila torsi terjadi perlahan-lahan maka sindrom abdomen akut tidak terjadi. M ioma jenis ini juga rentan akan infeksi yang dapat ditandai dengan leukore. E. Gejala klinis Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan gin ekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada serviks, intramural, submukus, subserus), b esarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi. Gejala tersebut dapat digo longkan sebagai berikut :6 1) Perdarahan abnormal Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoragia dan dapat juga terjadi metroragia. Beberapa faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini, antara lain adalah : Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium sampai aden o karsinoma endometrium. Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa. Atrofi endometrium di atas mioma submukosum. Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma d iantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang me

laluinya dengan baik. 2) Rasa nyeri Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkula si darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosum yang akan dilahirkan, pula pertumbuhannya yang men yempitkan kanalis servikalis dapat menyebabkan juga dismenore. 3) Gejala dan tanda penekanan Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan pada kandun g kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensio urine, pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum dapat m enyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe dipang gul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul. 4) Infertilitas dan abortus Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars intert isialis tuba, sedangkan mioma submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi rongga uterus. Rubin (1958) menyatakan bahwa apabila penyebab l ain infertilitas sudah disingkirkan, dan mioma merupakan penyebab infertilitas t ersebut, maka merupakan suatu indikasi untuk dilakukan miomektomi. F. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG Mioma uteri biasanya ditemukan dengan mudah pada pemeriksaan bimanual atau palpa si abdomen bawah pada mioma yang besar. Pada uterus yang retrofleksi atau retrov ersi mempersulit ditemukannya mioma walaupun ukurannya besar. Bila serviks terta rik melewati simpisis maka biasanya ukuran mioma cukup besar. Diagnosis dapat di tegakkan bila ditemukan perubahan konsistensi uterus dan ditemukan massa padat berbenjol-benjol yang berasal dari uterus. Sebagai penunjang biasanya digunakan ultrasonografi pelvis. Namun demikian USG p elvis bukan merupakan pemeriksaan pengganti pemeriksaan ginekologis. USG pelvis sangat berguna dalam memastikan mioma uteri dan kehamilan, terutama pada penderi ta yang obese. Pemeriksaan dengan sinar x pada abdomen bagian bawah dan pelvis menampakkan miom a sebagai massa jaringan ikat dengan fokus pada mioma yang mengalami kalsifikasi . Histerosalfingografi (HSG) berguna untuk menunjukkan mioma intrauterin pada pasi en yang infertil. Namun untuk mendeteksi mioma submukosa juga dapat dilakukan de ngan histeroskopi. Laparoskopi digunakan sebagai penunjang definitif asal dari m ioma dan berguna untuk miomektomi juga. Magnetic Resonance Imaging (MRI) sangat akurat dalam menentukan jumlah, ukuran, dan lokasi mioma. Namun pemeriksaan ini jarang digunakan. Sementara itu, pada pemeriksaan laboratorium sering ditemukan anemia. Tetapi pad a beberapa pasien terjadi eritrositosis. Demam, leukositosis, dan peningkatan la ju endap darah mengikuti infeksi. G. Penatalaksananaan Medikamentosa a. Preparat untuk terapi medikamentosa adalah analog GnRH, progesteron, dan azol, gestrinon, tamoksifen, goserelin, antiprostaglandin, agen-agen lain (gossi pol,amantadine). b. Pembedahan (operatif) Indikasi : a. Perdarahan pervaginam abnormal yang memberat b. Ukuran tumor yang besar c. Ada kecurigaan perubahan ke arah keganasan terutama jika pertambahan uku ran tumor setelah menopause d. Retensio urin e. Tumor yang menghalangi proses persalinan f. Adanya torsi H. Prognosis

Pada histerektomi yang mengangkat semua mioma maka hal tersebut bersifat kuratif . Rekurensi mioma pada miomektomi mencapai 15-40%.