Anda di halaman 1dari 19

BAB I MACAM-MACAM KONSENTRASI

I. Kemolalan Kemolalan atau molalitas merupakan pernyataan konsentrasi suatu larutan yang menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1 atau kg 1.000 g zat pelarut Kemolalan = m = Dengan m Mr g p = kemolalan (m) = massa molekul relatif zat terlarut = massa zat terlarut (g) = massa zat pelarut (g)
jumlah mol zat terlarut 1 Kg zat pelarut

atau m =

g 1.000 x Mr p

Contoh Soal : Jika 0,1 Mol BaC12 dilarutkan dalam 2 kg air, tentukan kemolalan larutan! Penyelesaian
m= g 1.000 x Mr p
kg 1

=
1,71g 1.000 x 1 250 171 g mol ; karena massa jenis air 1g mL1 , jadi massa air 250 g .

= 0,45 m Contoh Soal Jika 4,3 g senyawa heksana (M, = 86) dilarutkan dalam 500 g pelarut toluena, tentukan kemolalan larutan heksana dalam toulena tersebut! Penyelesaian g = massa heksana = 4,3 p = massa pelarut toulena = 00g m=
g 1.000 x Mr 500
4,3 g
1

m = 85 g mol II.

1.000 kg 500

=0,1 m

Hubungan Kemolalan dan Kemolaran Anda sudah mempelajari kemolaran atau molaritas di kelas II, yaitu banyaknya mol suatu zat dalam 1 liter larutan, secara matematis, kemolaran dapat dirumuskan sebagai berikut, Kemolaran = M = m Mr g
jumlah mol zat terlarut 1 L Laru tan

atau M =

g 1.000 x Mr v

= kemolalan (m) = massa molekul relatif zat terlarut = massa zat terlarut (g) 1

= massa zat pelarut (g)

Perhatikan perbedaan antara kemolalan dan kemolaran! Kedua pernyataan konsentrasi tersebut sering tertukar karena kemiripannya, padahal pengertiannya sangat berbeda. Kemolaran menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam sejumlah volume larutan, sedangkan kemolalan menyatakan jumlah zat terlarut dalam sejumlah massa pelarut. Kemolalan (m) tidak dipengaruhi oleh suhu sehingga kemolalan banyak di gunakan pada reaksi yang berlangsung pada kisaran suhu yang lebar, sedangkan kemolaran (M) berhubungan dengan volume larutan sehingga dipengaruhi oleh suhu. Kelebihan kemolaran dibandingkan kemolalan, yaitu 1. Memudahkan perhitungan stoikiometri karena lebih banyak menggunakan besaran mol dibandingkan besaran massa, 2. jumlah zat terlarut dan jumlah larutan diukur berdasarkan volume, bukan massa sehingga banyak digunakan dalam analisa yang menggunakan metode titrasi. Adapun kelemahan kemolaran, yaitu 1. Konsentrasi larutan dipengaruhi oleh perubahan suhu (mengapa demikian?), 2. jumlah pelarut tidak dapat ditentukan tanpa mengetahui massa jenis larutannya terlebih dahulu. Kemolaran dapat dikonversi menjadi kemolalan dengan mengubah lebih dahulu volume larutan menjadi massa larutan. Dengan mengetahui massa larutan, dapat diketahui pula massa zat pelarutnya. Pengubahan volume larutan menjadi massa larutan tersebut memerlukan data massa jenis larutan, yang dapat dirumuskan sebagai berikut. Masa jenis ( ) = volume laru tan Satuan massa jenis tersebut dapat dinyatakan dalam gram/mL (g mL- 1) atau kg/L (kg L-1). Contoh Soal NaOH merupakan basa kuat yang digunakan sebagai bahan oembuat sabun. Jika terdapat larutan NaOH 2 M sebanyak 200L, dan diketahui M r NaOH = 40, serta massa jenis larutan NaOH = 1,20g mL-1, tentukan kemolalan larutan NaOH tersebut! Penyelesaian Jumlah mol NaOH (n) = V NaOH x Mr NaOH = 0,2 mol L-1 = 0,4 mol. Massa NaOH = nNaOH x Mr NaOH = 0,4 mol x 40 g mol-1 = 16g
massa laru tan

III.

Hubungan Kemolalan dan Persen Massa Persentase dapat dinyatakan dengan tiga cara, yaitu persen massa (% m/m)L persen volume (% v/v), dan persen massa terhadap volume ( % m/V). pada bab ini, hanya dibahas mengenai persen massa karena akan sering digunakan dalam pembahasan sikap koligatif larutan. Untuk memperoleh pembahasan yang lebih lengkap mengenai konsentrasi laruta, Anda dapat mempelajari kembali buku Kimia untuk SMU kelas I jilid 1A. persen massa merupakan pernyataan konsentrasi yang umum digunakan di toko-toko bahan kimia. Persen massa adalah gram zat terlarut dalam 100 gram massa larutan. Perhitungan persen massa dapat dirumuskan sebagai berikut :
Persen ( %) zat A = massa zat A x100 % massa laru tan

Massa larutan merupakan gabungan massa zat terlarut ( mA) dan massa zat pelarut (mp) sehingga persen massa dapat juga dirumuskan sebagai berikut:
Persen ( %) zat A = A x 100 % m A +m p
m

IV.

Fraksi Mol Fraksi mol merupakan pernyataan konsentrasi suatu larutan yang menyatakan perbandingan jumlah mol zat terlarut terhadap jumlah mol total kompone larutan (jumlah mol pelarut + jumlah mol zat terlarut). Fraksi mol zat pelarut (xp) dapat dirumuskan sebagai berikut :
np xp = n p +nt

dengan

xp = fraksi mol zat pelarut np = jumlah mol zat pelarut dan nt = jumlah mol zat terlarut Adapun fraksi mol zat terlarut (x1) dapat dituliskan sebagai berikut :
xt = nt n p +nt

jadi, total fraksi mol = xp + xt = 1 pengubahan fraksi mol menjadi pernyataan konsentrasi lain (persentase, kemolalan, dan kemolaran) dapat langsung dilakukan dengan memisahkan mol total larutan sebesar 1 mol, meskipun volume atau massanya di ketahui. Dengan demikian, anda tidak perlu memperhitungkan jumlah larutan tersebut. Secara umum, pengubahan dari satu konsentrasi yang tidak dipengaruhi oleh volume atau jumlah larutannya. Hal tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut. Suatu teko dan cangkir masingmasing berisi penuh air the manis dengan kadar gula yang sama. Menurut Anda, bagaimana perbandingan tingkat kemanisan antara the dalam teko dan the dalam cangkir? Keduanya mempunyai rasa manis yang sama, bukan? 3

Fraksi mol (x) menyatakan perbandingan jumlah mol zat terlarut terhadap jumlah mol larutan. Jika jumlah mol zat terlarut n1, dan jumlah mol pelarut n2, maka fraksi mol larutan ( fraksi mol zat terlarut) dan fraksi mol pelarut adalah. n1 n2 XA= ;XB = n1 + n2 n1 +n2 Dengan XA XB XA + XB = 1 = fraksi mol larutan (Fraksi mol zat terlarut) = fraksi mol pelarut

Konsentrasi dalam satuan fraksi mol juga akan digunakan dalam pembahasan tentang sifat-sifat larutan

BAB II LAJU REAKSI I. LAJU REAKSI


Reaksi kimi berlangsung dengan laju yang berbeda-beda. Ada reaksi yang berlangsung seketika, seperti bom atau petasan meledak. Ada juga reaksi yang berlangsung sangat lambat seperti perkaratan besi atau fosilisasi sisa-sisa organisme. Selain itu, laju reaksi kimia ternyata dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suhu, konsentrasi, dan faktor lainnya. Bahasan utama dalam bab ini adalah mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Pengetahuan itu dapat kita gunakan untuk mengendalikan laju suatu reaksi sehingga sesuai dengan keingnan kita. =
[ R] t

perubahan konsentrasi molar produk = laju pengurangan konsentrasi molar salah satu preaksi dalam satu satuan waktu

[ P] t

laju pertambahan konsentrasi molar salah satu produk

dalam satu satuan waktu Konsentrasi molar menyatakan jumlah mol zat dalam tiap liter ruangan atau larutan :
n 1 C = mol L V

Jadi, satuan laju reaksi adalah mol L-1 perdetik (mol L-1 det-1) atau M det-1. Untuk reaksi, 2N2O5 (g) 4NO2 (g) + O2 (g) Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai laju pengurangan konsentrasi molar N2O5 atau laju pertambahan konsentrasi molar NO2 atau laju pertambahan konsentrasi molar O2:
v

N2O5 NO2 =

= =

[ N 2O5 ] M det 1 t [ N 2 ] M det 1 t

vO2

[O2 ] M det 1 t

Sesuai dengan perbandingan koefisien reaksinya, laju pembentukan O 2 adalah setengah dari laju penguraian N2O5 atau seperempat dari laju pembentukan NO2. Oleh karena itu, dapat di tulis :

vN2O5 = vNO2 = vO2


5

Laju reaksi yang dihitung dengan Persmaan 2.1 adalah laju rata-rata untuk selang waktu tertentu. Laju sesaat dapat diperoleh jika selang waktu (t) dibuat kecil mendekati nol. Perbedaan antara laju rata-rata dengan laju sesaat dapat diandaikan dengan laju kendaraan. Misal, suatu kendaraan menempuh jarak 300 km dalam 5 jam. Laju rata-rata kendaraan itu adalah 300 km/5 jam = 60 k,/jam. Namun, tentunya laju kendaraan selama perjalanan tidak selalu 60 km/jam, kadang-kadang lebih kadang-kadang kurang, seperti ditunjukkan oleh spidometer kendaraan itu. Spidometer menunjukkan laju sesaat pada setiap saat. Perbedaan spidometer dengan laju reaksi adalah bahwa laju reaksi tidak bervariasi turun-naik, tetapi makin lama makin menurun (lihat gambar 2.1). Gambar 2.1 memperlihatlan laju pembentukan O2 pada penguraian N2O5 yang diukur dengan selang waktu 600 detik. Berdasarkan data pada gambar tersebut dapat dihitung laju rata-rata pembentukan O2 selang aktu 600 detik yang pertama ( dari t = 0 detik hingga t = 600 detik) sebagai berikut : [O2 ] V O2 = + t

= =

(0,0021 0,0000) mol L1 (600 0) det ik

+ 3,5 x 106 mol L-1 det-1

Laju rata-rata selang waktu 600 detik yang kedua (dari t = 600 detik hingga t = 1200 detik) adalah sebagai berikut :
v

O2 = + =

(0,0036 0,0021) mol L1 (1200 600) det ik

2,5 x 10-6 mol L-1

Sementara itu, laju penguraian N2O5 ataupun laju pembentukan NO2, dapat ditentukan berdasarkan laju pembentukan O2 dengan menggunakan perbandingan koefisien reaksi :
V V

N2O5 NO2

= 2 x vO2 = 4 x vO2

Untuk selang waktu dari 0 hingga 600 detik yang pertama :


V

N2O5 = 2 x 3,5 x 10-6 mol L-1 det-1 = 7 x 10-6 mol L-1 det-1 V NO2 = 4 x 3,5 x 10-6 mol L-1 det-1 = 14 x 10-6 mol L-1 det-1

I. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Laju reaksi Laju suatu reaksi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu : konsentrasi, luas permukaan sentuhan, suhu, dan katalisator. c. Konsentrasi Pada umumnya reaksi berlangsung lebih cepat jika konsentrasi pereaksi di perbesar. Hubungan kuantitatif antara konsentrasi dan laju reaksi dinyatakan oleh rumus laju reaksi atau hukum laju reaksi. Hal ini akan dibahas pada subbab B. d. Luas permukaan sentuh Satu syarat agar reaksi dapat berlangsung adalah zat-zat preaksi harus bercampur atau bersentuhan. Pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi pada bidang batas campuran. Bidang batas atas campuran inilah yang dimaksud dengan bidang sentuh. Dengan memperbesar luas bidang sentuh, reaksi akan berlangsung lebih cepat. Contoh reaksi yang heterogen adalah reaksi antara pualam (CaCO3) dengan larutan asam klorida. Reaksi serbuk pualam dengan HCI 2 M berlangsung lebih cepat daripada reaksi keping pualam dengan HCI 2M. Hal itu karena untuk massa yang sama, serbuk mempunyai luas permukaan yang lebih besar daripada keping. e. Suhu Semua reaksi berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi. Reaksi antara larutan Na2S2O3 0,2M larutan HCI 2M pada suhu 400C berlangsung lebih cepat daripada reaksi zat-zat itu pada 300C. banyak reaksi-reaksi yang berlangsung dua kali lebih cepat bila suhu diperbesar 100C. f. Katalisator Katalisator adalah zat yang dapat mempercepat laju reaksi. Contoh : Reaksi-reaksi metabolisme dalam tubuh dikalisis oleh berbagai jenis enzim. II. Pengaruh Konsentrasi Laju reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi pereaksi dan kebergantungan laju reaksi terhadap konsentrasi pereaksi dinyatakan dengan persamaan laju. 1. Persamaan laju reaksi Pada umumnya reaksi berlangsung lebih cepat jika konsentrasi pereaksi diperbesar. Untuk lebih memahami hal itu lakukanlah Kegiatan 2.1 (lihat lampiran hal 160). Pada kegiatan 2.1 di pelajari pengaruh konsentrasi larutan HCI yang direaksikan dengan batu pualam (CaCO3). CaCO3 (s) + 2HC1(aq) CaC12 (aq) + CO2(g) + H2O(1) Keping pualam yang kira-kira mempunyai ukuran sama direaksikan dengan larutan HC1 yang mempunyai konsentrasi berbeda, yaitu 3M, 2M, dan 1M. dengan mengukur waktu yang diperlukan untuk menghasilkan sejumlah tertentu gas karbon dioksida, laju reaksi dapat diperbandingkan. 7

Ternyata, reaksi dengan HC1 3M berlangsung paling cepat,s edangkan HC1 1M berlangsung paling lambat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa makin besar konsentrasi pereaksi, makin besar pula laju reaksinya. Percobaan serupa dapat dilakukan dengan melangsungkan reaksi antara larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) dengan larutan HC1 dalam berbagai konsentrasi. Na2S2O3 (aq) + 2HC1(aq) 2NaC1(aq) + H2O(1) + S(s) + SO2(g) Laju reaksi diperbandingkan dengan cara mengukur waktu yang diperlukan untuk membentuk sejumlah tertentu endapan belerang. Dari percobaan ini diketahui bahwa perubahan yang sama reaksi berbanding lurus terhadap perubahan konsentrasi Na2S2O3 dan HC1 memberikan pengaruh yang berbeda pada laju reaksi. Laju reaksi berbanding lurus terhadap perubahan konsentrasi Na2S2O3, tetapi tidak berubah pada perubahan konsentrasi HC1. Secara matematika, kebergantungan laju reaksi pada konsentrasi Na2S2O3 dan konsentrasi HC1 diungkapkan dengan persamaan. v = k. [Na2S2O2]1. (HC1)0 Atau v = k. [Na2S2O2]1. (HC1)0 .. (2.2) Persamaan seperti di atas ( persamaan 2.2) disebut persamaan laju reaksi atau hukum laju reaksi. Persamaan laju reaksi menyatakan hubungan konsentrasi pereaksi dengan laju reaksi. Pangkat konsentrasi pereaksi pada persamaan laju reaksi disebut orde atau tingkat atau pangkat pada pereaksi yang bersangkutan. Sedangkan jumlah pangkat konsentrasi pereaksi-pereaksi disebut orde reaksi total (cukup disebut sebagai orde reaksi). mA + nB pC + qD Persamaan laju reaksidapat dituliskan sebagai V = k. [A]. [B]y . (2.3) Berarti, reaksi berorde x terhadap pereaksi A dan berorde y terhadap pereaksi B. orde reaksi total adalah (x + y). faktor k pada persamaan laju reaksi disebut tetapan jenis reaksi. harga tetapan k khas untuk setiap reaksi dan hanya dipengaruhi oleh suhu dan katalisator. Pada umumnya orde reaksi adalah bilangan bulat sederhana (1,2 atau 3), tetapi kadang-kadang berupa bilangan pecahan, misalnya, , atau bilangan negatif, misalnmya 1. Perhatikanlah persamaan laju dari beberapa reaksi berikut :

1) 2) 3) 4)

2N2O5(G) 4NO2(G) + O2(g) CHC13(g) CC14(g) + HC1(g) H2(g) 2HI(g) CH3COCH2H5 (aq) + H2O(1)
8

v = k. [N2O5] v = k. [CHC13].[C12) v = k. [H2]. [I2]

CH3COCH(aq) + C2H5OH(aq) v = k. [CH3COC2H5]


Pada contoh nomor 4 di atas, persamaan laju tidak dipengaruhi oleh salah satu pereaksi, yaitu H2O. Hal itu berarti bahwa konsentrasi H2O tidak mempengaruhi laju reaksi. Reaksi dikatakan berorde nol terhadap H2O. 2. Menentukan Persamaan Laju reaksi Sebagaimana dapat dilihat pada contoh-contoh terdahulu, persamaan laju reaksi tidak dapat diturunkan hanya dari stoikiometri reaksi, tetapi ditentukan melalui percobaan. Salah satu cara adalah metode laju awal. Menurut cara ini persamaan laju reaksi ditentukan dengan melakukan serangkaian percobaan dengan konsentrasi awal pereaksi dibuat bervariasi. Sebagai contoh, mari kita perhatikan hasil percobaan pada reaksi antara ion amonium (NH+4) DENGAN ION NITRIT (NO2 ) yang diberikan pada tabel 2.1 Tabel 2.1 data laju reaksi ion amonium dengan ion nitrit pada 250C Nomor Konsentrasi awal Konsentrasi awal Laju awal + Percobaan Ion NO-(M) Ion NH 4(M) (M detik-1) 1 0,0100 0,200 5,4 x 10-7 2 0,0200 0,200 10,8 x 10-7 3 0,0400 0,200 21,5 x 10-7 4 0,200 0,0202 10,8 x 10-7 5 0,200 0,0404 21,6 x 10-7 6 0,200 0,0606 32,4 x 10-7 Percobaan 1,2 dan 3 dimaksudkan untuk menentukan orde reaksi terhadap ion NO -2. Pada ke 3 percobaan itu konsentrasi ion NO-2 dibuat bervariasi sementara konsentrasi ion NH+4 dibuattetap.dengan demikian,perubahan laju reaksi semata-mata disebabkan oleh perubahan konsentrasi ion NO-2. Percobaan 4,5 dan 6 dimaksudkan untuk menentukan orde perubahan konsentrasi ion NO-4. Percobaan ketiga percobaan itu konsentrasi ion NH-2 yang dibuat tetap sedangkan konsentrasi NH-4 dibuat bervariasi. Perubahan laju reaksi semata-mata disebabkan perubahan konsentrasi ion NH-2. Bagaimanakah cara menentukan persamaan laju reaksi dari data percobaan itu? Dari persamaan reaksi

NH+4(aq) + NO-2 (aq) + 2H2O(1)


Dapat ditulis persamaan laju sebagai

v = k.[NH+4]x. [NO-2] y
7 216 x 10 10,8 x 10 7

k. [0,0404]x [0,0202]2

= Sx =1 9

Orde reaksi terhadap NO-2, yaitu y, dapat ditentukan dengan membandingkan percobaan 2 dengan 1, atau percobaan 3 dengan percobaan 1 :
v2 10,8 x10 7 = v1 5,4 x10 7

2 x

= =

2y 1

Jadi, persamaan laju reaksi adalah V = [NH+4] . [NO-2] (orde) 1 tidak perlu ditulis) Selanjutnya, harga tetapan jenis reaksi (k) dapat ditentukan dengan memasukkan salah satu data percobaan dari Tabel 2.1 ke dalam persamaan laju reaksi (Persamaan 2.4) misalnya, data percobaan 1 yang dipilih, maka harga k dihitung sebagai berikut :

5,4 X 10-7 M det-1 k k = =

k x 0,200 M x 0,0100 M

5,4 x 107 M det 1 0,200 M x 0,0100 M

2,7 x 10-4 M-1 det-1

(Data percobaan manapun yang disubstitusikan akan menghasilkan harga k yang sama) jadi, persamaan laju reaksi secara lengkap dapat dituliskan sebagai berikut : v = 2,7 x10-4. [NH+4]. [NO-2]..(2.5) Contoh soal : Nitrogen oksida, NO, bereaksi dengan hidrogen membentuk dinitrogen oksida, N2O, dan uap air :

2NO(g) + H2(g) N2O(g) + H2(g)


Pengaruh konsentrasi NO dan H2 terhadap laju reaksi ditemukan sebagai berikut : Konsentrasi awal (M) Laju reaksi awal Percobaan NO H2 (M detik-1) -3 -3 1 6,4 x 10 2,2 x 10 2,6 x 10-5 2 12,8 x 10-3 2,2 x 10-3 1,0 x 10-4 3 6,4 x 10-3 4,4 x 10-3 5,1 x 10-5

a. b. c. d. e. f.

Tentutan orde reaksi terhadap NO Tentutkan orde reaksi terhadap H2 Tulis Persamaan harga orde reaksi Tentutan harga orde reaksi Tentutan harga dan satuan tetapan laju jenis reaksi (k). Tentukan laju reaksi jika konsentrasi NO dan H2 masing-masing 0,5 M. 10

Jawab : Misal persamaan laju reaksi adalah v = k. [NO]x. [H2]y a. Orde raksi terhadap NO ditentukan dari percobaan 1 dan 2 v2 k . (12,8 x 10 3 ) x 1,0 x 10 4 = = v1 k . (6,4 x10 3 ) x 2,6 x 10 5 2 x = = 4 2

Jadi, orde laju reaksi terhadap NO = 2 b. Orde reaksi terhadap H2 ditentukan dari percobaan 1 dan 3 v3 k . ( 4,4 x10 3 ) y 1,0 x 10 4 = = v1 k . ( 2,2 x10 3 ) y 2,6 x 10 5 2y = 2 y = 1 Jadi, orde laju reaksi terhadap H2 = 1 c. Persamaan laju reaksi : v = [NO]2 . [H2+] d. Orde reaksi = 2+ 1 = 3 e. Dari persamaan laju reaksi. v = k. [NO2] v maka k = [ NO ]2 .[ H 2 ]

Berdasarkan percobaan (1) : k =


2,6 x10 5 M det 2 = 288,5 M 2 M 2 det 1 (6,4 x10 3 M ) 2 ( 2,2 x10 3 M )

f. Persamaan laju reaksi lengkap : v = 288,5 [NO]2. [H2] Jika [NO] = 0,5 M [H2] Maka v = 0,5 M = 288,5.[0,5]2 [0,5] = 36,06 det-1

III.Pengaruh Luas Permukaan Bidang Sentuh Terhadap Laju Reaksi Laju reaksi heterogen dipengaruhi luas permukaan bidang sentuh antara zat-zat yang bereaksi. Reaksi dapat terjadi antara pereaksi yang sefase maupun berbeda fase, misalnya, cair dengan cair atau cari dengan padat. Pada pecampuran pereaksi 11

yang terdiri ayas dua fase atau lebih. Reaksi berlangsung pada bidang sentuh. Laju reaksi seperti itu dapat diperbesar dengan menambah luas permukaan bidang sentuh. Untuk lebih memahami hal ini lakukanlah kegiatan 2.2 (lihat lampiran hal.161). Pada Kegiatan 2.2 dipelajari reaksi antara kepingan pualam dengan larutan asam klorida 2 M. CaCO3(s) + 2HC1(aq) CaC12(aq) + CO2(G) Percobaan ini dilakukan sebanyak 2 kali, pertama menggunakan 1 gram butir-butirpualam sebesar kacang hijau,kemudian dengan 1 gram butirbutir pualam sebesar pasir. Laju reaksi di pergandingkan dengan cara mengukur waktu yang diperlukan untuk membentuk volume tertentu igas karbon dioksida. Ternyata butir-butir pualam sebesar pasir bereaksi lebih cepat daripada pualam sebesar kacang hijau. Bagaimanakah hal itu dapat dijelaskan? Perhatikan, setiap kali zat padat dipecahkan, total luas permukaan menjadi bertambah. Jadi 1 gram butir-butir pualam sebesar pasir mempunyai permukaan yang lebih luas daripada 1 gram butir-butir pualam sebesar kacang hijau. Oleh karena itu, butir-butir pualam sebesar pasir bereaksi lebih cepat. Dalam kehidupan sehari-hari maupun dalamindustri, hal itu sering dilakukan untuk mengatur laju reaksi. Contoh 1 Dalam sistem pencernaan, makanan lebih dahulu dikunyah,tiada lain adalah untuk menghancurkannya secara fisis sehingga untuk selanjutnya sari makanan lebih mudah. Contoh 2 Penduduk yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak, tidak menggunakan kayu gelondongan, tetapi kayu yang telah di pecah/belah lebih dahulu. Contoh 3 Pada proses peragian singkong untuk membuat tape. Ragi gelondongan di hancurkan, kemudian ditaburkan pada singkong. IV. Pengaruh Suhu Terhadap Laju Reaksi Laju reaksi dipengaruhi suhu. Reaksi kimia cenderung berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi. Kita mempercepat berbagai reaksi,misalnya memasak makanan dengan cara menaikkan suhu. Sebaliknya, kita dapat memperlambat reaksi dengan menurunkan suhu,misalnya memperlambat proses pembungkusan makanan dengan pendingin atau pembekuan. Untuk lebih memahami pengaruh suhu pada laju reaksi lakukan Kegiatan 2.3 (lihat lampiran hal.162). Pada kegiatan ini dipelajari pengaruh suhu terhadap laju reaksi antara larutan natrium tiosulfat 0,2 M dengan 12

larutan HC1 2M. Percobaan ini dilakukan dua kali, masing-masing padasuhu kamar dan pada suhu 100C di atas suhu kamar. Laju reaksi diperbandingkan dengan cara mengukur waktu yang diperlukan untuk membentuk sejumlaah tertentu endapan belerang. Na2S2O(aq) + 2HC1(aq) 2Na C1(aq) + H2O(1) + SO2(g) Mungkin anda akan menemukan bahwa reaksi itu berlangsung sekitar 2 kali lebih cepat padakenaikan suhu 100C. Banyak reaksi yang berlangsung dua atau tiga kali lebih cepat jika suhu dinaikkan 100C. Contoh Soal Suatu reaksi berlangsung dua kali lebih cepat setiap kali suhu dinaikkan 100.C. Jika laju suatu reaksi pada suhu 250C adalah x M det-1, berapakah laju reaksi pada 550C? Jawab : Kenaikan suhu dari 250C menjadi 550C adalah 300 C = 3 x 100 C Maka laju reaksi menjadi = 2 x 2 x 2 x M det-1 = 23x M det-1 = 8 x M det-1 Untuk jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut : Suhu : 250C 350 450 550C 2 Laju reaksi : x M det-1 x M det-1 4 x M det-1 8 x M det-1

13

V. Teori Tumbukan Kebergantungan laju reaksi terhadap suhu dapat diterangkan dengan teori tumbukan. Menurut Teori tumbukan, reaksi berlangsung sebagai hasil tumbukan antar partikel zat-zat pereaksi. Akan tetapi, tidak setiap tumbukan menghasilkan reaksi,melainkan hanya tumbukan antar partikel yang memiliki energi minimum tertentu. Tumbukan yang menghasilkan reaksi disebut tumbukan efektif, sedangkan energi minimun yang diperlukan untuk menghasilkan tumbukan efektif disebut energi pengaktifan (energi aktivasi=Ea). Menurut teori kinetik gas, molekul-molekul gas dalam satu wadah tidak mempunyak energi kinetik yang sama tetapi bervariasi menurut suatu kurva seperti ditunjukkan oleh Gambar 2.3. Pada suhu yang lebih rendah (T1), fraksi molekul yang mencapai energi pengaktifan adalah sebesar y1. Jika suhu dinaikkan (T2) maka energi rata-rata molekul-molekul bertambah besar dan fraksi molekul yang mencapai energi pengaktifan juga bertambah (y2) oleh karena itu, reaksi akan berlangsung lebih cepat. Ababila suatu reaksi berlangsung 2kali lebih cepat jika suhu dinaikkan 100C, berarti fraksi molekul yang mencapai energi pengaktifan menjadi 2 kali lebih besar pada kenaikan suhu 100C. Energi pengaktifan bergantung pada jenis zat pereaksi. Reaksi-reaksi yang dapat berlangsung pada suhu kamar berarti mempunyai energi pengaktifan yang lebih tinggi. Grafik perubahan energi pada suhu reaksi eksoterm, seperti pembakaran metana , ditunjukkan oleh Gambar 2.4. Campuran gas metana dengan oksigen karena susunan kimianya, berada padatingkat energi yang lebih tinggi daripada campuran gas karbon dioksida dengan air. Akan tetapi, CH4 tidak terbakar (bereaksi dengan O2) membentuk campuran CO2 sebelum diberi sejumlah energi yakni energi pengaktifan (Ea). Energi aktivasi mendorong sebagian pereaksi (CH 4 dan O2) sampai pada keadaan yang aktif sehingga siap bereaksi yang disebut kompleks tereaktivasi. Setelah sebagian molekul-moleku CH4 terbakar, dibebaskan sejumlah energi lebih besar daripada energi pengaktifan. Energi yang dibebaskan ini akan mengaktifkan molekul-molekul lain yang belum terbakar. oleh karena itu, pembakaran metana selanjutnya berlangsung dengan sendirinya. Perubahan Energi potensial pada reaksi endoterm adalah kebalikan dari reaksi ekstorem Misalnya, reaksi penguraian air. H2O(1) H2(1) + O2 (g) H = 285,85 kJ Pereaksi memerlukan energi pengaktifan lebih besar daripada energi yang kemudian dibebaskan. Oleh karena itu, energi yang dibebaskan tidak cukup untuk mengaktifkan molekul-molekul lain yang belum bereaksi. Reaksi terus menerus memerlukan tambahan energi. 14

BAB III KATALISATOR a. KATALISATO R Laju reaksi dipengaruhi katalisator. Katalisator adalah zat yang dapat mempecepat tetapi tidak mengalami perubahan yang kekal dalamreaksi. Jadi, Katalisator tidak dikonsumsi atau tidak dihabiskan dalam reaksi yang dikatalisis. Untuk lebih memahami hal ini dilakukan Kegiatan 2.4 (lihat lampiran hal163). Pada kegiatan 2.4 dipelajari pengaruh ion besi (III) terhadap reaksi penguraian hidrogen perioksid ( H2O2). 2H2O2(aq) 2H2O (1) + O2(g) Tanpa katalisator, hidrogen perioksida terurai dengan laju yang sangat lambat sehingga menjadi cukup hebat. Larutan besi (III) yang berwarna jingga mula-mula membuat larutan menjadi cokelat, tetapi pada akhir reaksi kembali berwarna jingga. Hal ini memperlihatkan bahwa ion besi III tidakdikonsumsi dalam reaksi tersebut. 1. Tahap-tahap reaksi Bagaimanakah Katalisator dapat memperbesar laju reaksi dapat dijelaskan sebagai berikut. Telah disebutkan bahwa reaksi berlangsung sebagai hasil tumbukan antar partikel pereaksi Perhatikanlah reaksi berikut. N2(g) + 3H2(g) 2NH3 (g) Persamaan reaksi itu menyatakan bahwa 1 molekul N2 bereaksi dengan 3 H2 membentuk 2 molekul NH3. Bagaimanakah molekul-molekul pereaksi tersebut bertumbukan? Apakah reaksi terjadi sebagai hasil tumbukan sekaligus antara 1 molekul N2 dengan 3 molekul H2 ? Sulit membayangkan terjdadi tumbukan sekaligus yang melibatkan 4 molekul. Kebolehjadian tumbukan seperti itu sangatkah kecil. Yang paling mungkin adalah suatu tumbukan beruntun yang setiap kali melibatkan 2 partikel. Bahkan, pada reaksi yang lebih sederhanapun tidak 15

berlangsung tumbukan sekaligus, tetapi dalam beberapa tahap. Jadi dapat dipastikan bahwa reaksi tersebut berlangsung dalam beberapa tahap. Sebagai contoh, reaksi antara NO2 dengan CO membentuk NO dan CO2, berlangsung dalam 2 tahap sebagai berikut : Tahap 1 : NO2 + NO2 NO3 + NO Tahap 2 : NO3 + CO NO2 + NO2 Reaksi total : NO2 + CO NO + NO2 Tahap-tahap yang dilalui suatu reaksi disebut mekanisme reaksi. Jadi, mekanisme reaksi menggambarkan detil reaksi,yakni urut-urutan tumbukan dalam suatu reaksi. Katalisator berperan mengubah mekanismereaksi dengan membuat tahaptahap reaksi yang memiliki pengaktifan lebih rendah. Oleh karena itu, reaksi dapat berlangsung lebih cepat. Jadi, Katalisator terlibat dalam reaksi. Katalisator ikut bereaksi pada satu tahap kemudian dibebaskan lagi pada tahap reaksi berikutnya. Perhatikan contoh berikut : Penguraian N2O menjadi N2 dan O2 yang dikatalisis oleh C12 berlangsung menurut mekanisme sebagai berikut. Tahap 1 : C12 2C1 Tahap 2 : C1 + N2O N2 + C1O C1 + N2O N2 + C1O Tahap 3 : C1O + C12 C12 + O2 Reaksi Total : 2N2O 2N2 + O2 2. Jenis-Jenis Katalisator Katalisator dibedakan atas katalisator homogen dan katalisator heterogen. Katalisator homogen adalah katalisator yang satu fase dengan zat yang dikatalisis. Dalam sistem gas maka katalisator terlarut dalam sistem itu. Salah satu contoh katalisator homogen adalah larutan besi(III) dalam reaksi penguraian hidrogen peroksida (Kegiatan 2.4) konsentrasi katalisator homogen juga dapat mempengaruhi laju reaksi. Katalisator heterogen adalah katalisator yang tidak satu fase dengan zatzat pereaksi. Umumnya katalisator heterogen berupan zat padat. Reaksi zat-zat yang di katalisis berlangsung pada permukaan katalisator. Salah satu contoh katalisator heterogen adalah sebuk MnO,2 pada penguraian kalium klorat (KCIO3): 2KCIO3 (s) MnO2 2KC1(s) + 302(g)s

16

Latihan 1. Apa yang dimaksud dengan : a. Persamaan laju reaksi? b. Orde reaksi? 2. Reaksi antara nitrogen oksida dan gas klorim 2NO(g) + C12(g) 2NOC1(g) mempunyai persamaan laju reaksiv =k.[NO]2. [C12] a. Nyatakan orde reaksi terhadap masing-masing pereaksi! b. Bagaimana orde reaksi total? c. Bagaimana perubahan laju reaksi bila konsentrasi NO dan konsentrasi C12 masing-masing diperbesar 2 kali? d. Bagaimana perubahan laju reaksi bila konsentrasi NO diperbesar 2 kali sementara konsentrasi C12 diperbesar 4kali? 3. Laju suatu reaksi menjadi empat kali lebih besar apabila konsentrasisalah satu pereaksidibuat dua kalilebih besar sementara konsentrasi pereaksi yang lain tidak diubah. Berapa Orde reaksi terhadap pereaksi itu? 4. Suatu reaksi berorde terhadap salah satu pereaksi. Bagaimana perubahan laju reaksi itu apabila konsentrasi pereaksi tersebut di perbesar 4 kali? 5. Berikut data percobaan untuk reaksi A2(g) + 2C(g) 2AC(g) [A2] awal 0,1 M 0,1 M [C] awal 0,1 M 0,2 M 17 Laju reaksi awal 2 M/Detik 8 M/Detik

0,2 M

0,2 M

16 M/Detik

a. Tentutan orde reaksi terhadap A2. b. Tentutkan orde reaksi terhadap C c. Tuliskan Persamaan harga orde reaksi. d. Tentutan orde reaksi total. e. Tentutan harga dan satuan tetapan jenis reaksi k. f. Tentukan laju reaksi apabila konsentrasi A2 = 0,25 dan konsentrasi C =0,75 M. 6. Gas nitrogen oksida dengan mengukur pertambahan konsentrasi NOBr dan diperoleh data sebagai berikut : 2NO(g) + Br2(g) 2NOBr(g) Laju reaksi diikuti dengan mengukur pertambahan konsentrasi NOBr dan diperoleh data sebagai berikut Percobaan 1 2 3 4 [NO] (M) 0,1 0,1 0,2 0,3 [Br] (M) 0,1 0,2 0,1 0,1 Laju reaksi awal 12 24 48 108

a.Nyatakan orde reaksi terhadap NO. b. Nyatakan juga orde reaksi terhadapoBr2. c. Tulis persamaan laju reaksinya. d. Nyatakan orde reaksi totalnya. e. Tentukan harga dan satuan tetapan jenis reaksi k. f. Tentukan laju reaksi apabila konsentrasi Nodan Br2 masing-masing 0,4 M. 7. Laju reaksi 2A(q) + B2(aq) C(s) + D(aq) ditentukan dengan mengukur waktu yang diperlukan untuk membentuk jumlah tertentu endapan C: Percobaan (detik) 1 0,1 0,1 18 80 [NO] (M) [Br2](M) Waktu Reaksi

2 3

0,2 0,2

0,1 0,2

40 10

a. Tentukan persamaan laju reaksinya. b. Berapakah waktu reaksi apabila konsentrasi A dan B2 masing-masing 0,3 M?

19