Anda di halaman 1dari 4

TEKNIK PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN MULSA PADA BUDI DAYA MENTIMUN JEPANG Abdurahman1

entimun ( Cucumis sativus L.) merupakan tanaman semusim yang bersifat menjalar atau merambat dengan perantaraan alat pemegang yang berbentuk spiral. Tanaman mentimun berasal dari bagian utara India, yakni lereng Gunung Himalaya, yang kemudian berkembang ke wilayah Mediteran. Di kawasan Asia khususnya Indonesia, mentimun baru dikenal sekitar dua abad sebelum masehi. Di Jawa dan Sumatera, mentimun banyak ditanam di dataran rendah (Samadi 2002). Mentimun jepang termasuk golongan mentimun hibrida. Mentimun ini mempunyai buah yang panjang, berwarna hijau tua, daging buah tebal, rasa renyah, dan pangkal buah tidak pahit (Sumpena 2002). Pertumbuhannya seragam, bunga betina dan bakal buahnya banyak, dan relatif tahan terhadap penyakit khususnya virus (Purwanto dan Asih 2001). Penampilan mentimun jepang dapat dilihat pada Gambar 1. Budi daya sayuran termasuk mentimun biasanya menggunakan pupuk organik. Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan dasar dari alam dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami. Pupuk organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan tanah. Penggunaan pupuk organik juga tidak meninggalkan residu pada hasil tanaman sehingga aman bagi manusia (Ismawati 2003).

Berdasarkan bahan dasarnya dikenal ada beberapa jenis pupuk organik, dan jenis yang sering digunakan dalam pertanian adalah pupuk kandang dan kompos. Pupuk kandang merupakan pupuk organik hasil fermentasi kotoran padat dan cair (urine) ternak seperti sapi, kambing, ayam, kuda, dan burung. Kompos merupakan pupuk organik dari hasil pelapukan jaringan atau bahan-bahan tanaman seperti jerami, sekam, daun-daunan, dan rumput-rumputan yang berasal dari limbah hayati (Ismawati 2003). Mulsa juga sering digunakan pada budi daya sayuran. Pemberian mulsa dimaksudkan untuk memperkecil kompetisi tanaman dengan gulma, menekan pertumbuhan gulma, mengurangi penguapan, mencegah erosi, serta mempertahankan struktur, suhu dan kelembapan tanah (Harist 2000). Berdasarkan bahan dan cara pembuatan, mulsa dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu mulsa organik, mulsa anorganik, dan mulsa sintetis. Mulsa organik berasal dari bahan sisa pertanian seperti jerami dan daun-daunan. Mulsa anorganik berasal dari bahan batu-batuan dalam berbagai bentuk dan ukuran seperti batu kerikil, dan mulsa kimia sintetis berasal dari bahan plastik seperti mulsa plastik hitam perak (Harist 2000). Mulsa jerami dapat dimanfaatkan untuk tiap jenis tanah dan tanaman. Karena sifatnya yang mudah lapuk, mulsa jerami banyak diaplikasikan pada tanah yang telah dieksploitasi berat agar kesuburan tanah pada jangka waktu tertentu dapat dikembalikan melalui pelapukan mulsa jerami tersebut. Dewasa ini mulsa plastik hitam perak telah diterapkan secara luas, karena warna perak dapat memantulkan cahaya matahari sehingga energi cahaya matahari yang diterima oleh tanaman lebih besar (Harist 2000). Energi matahari yang diterima tanaman akan mempengaruhi aktivitas fotosintesis; makin besar energi yang diterima tanaman makin tinggi aktivitas fotosintesisnya. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi perlakuan pupuk organik dan mulsa pada tanaman mentimun jepang. BAHAN DAN METODE Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Cipaku Bogor pada bulan Juli sampai September 2004. Bahan yang digunakan adalah benih mentimun, mulsa jerami, mulsa plastik 53

Gambar 1. Penampilan tanaman dan buah mentimun jepang

Teknisi Litkayasa Pelaksana Lanjutan pada Kebun Percobaan Cipaku Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, Jalan Raya Cipaku Kotak Pos 364 Bogor, Telp. (0251) 7160708

Buletin Teknik Pertanian Vol. 10. Nomor 2, 2005

hitam perak, bambu ajir, pestisida, dan pupuk organik (pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing, dan kompos). Kompos yang digunakan adalah campuran jerami 70%, sekam padi 15%, pupuk kambing 15%, dan EM4 2 ml/l air. Alat yang digunakan adalah cangkul, penyemprot, tali plastik, mistar, dan timbangan. Percobaan menggunakan petak utama dan anak petak. Petak utama terdiri atas tiga perlakuan yaitu mulsa jerami (Mj), mulsa plastik (Mp), dan tanpa mulsa (Mo). Anak petak terdiri atas empat perlakuan, yaitu pupuk kandang ayam (Ka), pupuk kandang kambing (Kk), pupuk kompos (Ke), dan tanpa pupuk (Ko). Persiapan Tanam Sebelum penanaman, lahan seluas 200 m diolah dengan menggunakan traktor sedalam + 30 cm lalu dibuat bedengan menggunakan cangkul. Bedengan berukuran lebar 1,2 m dan panjang 3 m, antarbedengan dibuat parit dengan lebar 40 cm. Pada tiap bedengan diberi lubang tanam dengan jarak antarbarisan 70 cm dan dalam barisan (antartanaman) 50 cm sehingga terdapat 12 lubang tanaman tiap bedengan. Setiap lubang tanam diberi 1 kg pupuk organik yang sudah jadi sesuai dengan perlakuannya lalu diaduk dengan tanah hingga rata. Selanjutnya bedengan ditutup dengan mulsa sesuai dengan perlakuannya. Pada perlakuan mulsa jerami, bedengan ditutup dengan jerami kering setebal 2-3 cm. Pada perlakuan mulsa plastik hitam perak, plastik dihamparkan di atas bedengan dan setiap ujung dan sisinya diberi patok (penjepit) agar kuat dan tidak begeser dari tempatnya. Mulsa dilubangi dengan menggunakan kaleng bekas susu kental manis. Bagian atas tutup kaleng dibuka dan diikat dengan kawat, kemudian kaleng diisi arang yang membara. Bagian bawah kaleng ditempelkan pada plastik mulsa sehingga terbentuk lubang bulat sebesar lingkaran kaleng tersebut. Jumlah dan tempat lubang disesuaikan dengan jarak tanam atau lubang tanam. Bedengan yang telah ditutup mulsa didiamkan selama satu minggu sebelum tanam. Penanaman Benih ditanam satu butir tiap lubang lalu ditutup dengan tanah + 1 cm agar benih tidak loncat sewaktu hujan turun. Setelah berumur 4 hari, benih yang tidak tumbuh disulam. Pupuk dasar pertama diberikan saat tanaman berumur satu minggu setelah tanam (MST) dengan menggunakan 5 g NPK/tanaman dengan cara ditugal + 3 cm dari tanaman. Pemupukan kedua dilakukan pada 30 hari setelah tanam (HST) dengan takaran 10 g/tanaman. 54
2

Ajir dipasang setelah tanaman berumur 3 MST. Setiap tanaman diberi satu ajir, lalu setiap empat ajir (masing-masing dua ajir baris kiri dan dua ajir baris kanan) diikat pada ujung bagian atasnya menjadi satu supaya kokoh. Untuk mengendalikan hama dan penyakit, tanaman disemprot dengan insektisida dan fungisida yang bersifat racun kontak seminggu sekali sesuai dengan dosis anjuran. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari pukul 7.00-10.00 dengan mengikuti arah angin agar percikan pestisida tidak mengenai badan.

Parameter yang Diamati Parameter yang diamati meliputi umur tanaman, tinggi tanaman, jumlah ruas, serta bobot, jumlah dan panjang buah. Umur tanaman dicatat pada saat bunga pertama mekar sejak tanam. Tinggi tanaman diukur dua kali yaitu pada waktu keluar bunga pertama dan panen terakhir. Tinggi tanaman pada waktu keluar bunga pertama dan panen terakhir diukur dari permukaan tanah sampai titik tumbuh. Jumlah ruas dihitung pada waktu keluar bunga pertama. Bobot buah tiap tanaman ditimbang dari hasil panen pertama sampai panen terakhir, jumlah buah tiap tanaman dihitung dari panen pertama sampai panen terakhir, dan panjang buah diukur dari pangkal sampai ujung buah.

HASIL DAN PEMBABASAN Umur Tanaman Waktu Keluar Bunga Pertama Perlakuan kombinasi mulsa dan pupuk organik menghasilkan umur tanaman saat bunga pertama mekar sekitar 28-31 HST. Kombinasi perlakuan mulsa plastik hitam perak + pupuk kandang ayam cenderung mempercepat keluar bunga pertama yaitu pada 28 HST, sedangkan pada kombinasi perlakuan mulsa jerami + tanpa pupuk, waktu keluar bunga pertama cenderung lebih lambat yaitu 31 HST (Tabel 1).

Tinggi Tanaman Waktu Keluar Bunga Pertama Jenis mulsa tidak begitu berpengaruh terhadap tinggi tanaman waktu keluar bunga pertama, berkisar antara 102-112 cm, namun pada kombinasi perlakuan mulsa + pupuk kandang perbedaannya sangat jelas. Tinggi tanaman saat bunga pertama mekar pada perlakuan mulsa jerami + pupuk kandang kambing dan perlakuan tanpa mulsa + pupuk kandang ayam adalah yang tertinggi, masing-masing 129 cm, dan terendah pada perlakuan mulsa jerami tanpa pupuk yaitu 72 cm (Tabel 1). Buletin Teknik Pertanian Vol. 10. Nomor 2, 2005

Tabel 1. Pertumbuhan vegetatif tanaman mentimun jepang dengan berbagai teknik pemberian pupuk organik dan mulsa, KP Cipaku, 2004 Perlakuan MoKo MoKa MoKk MoKe Rata-rata Mo MjKo MjKa MjKk MjKc Rata-rata Mj MpKo MpKa MpKk MpKe Rata-rata Mp Umur tanaman saat keluar bunga pertama (hari) 30 29 29 29 30 31 29 30 30 30 30 28 29 29 29 Tinggi tanaman saat keluar bunga pertama (cm) 94 129 116 109 112 72 122 129 108 108 75 116 115 102 102 Jumlah ruas saat keluar bunga pertama 12 15 13 13 13 11 13 14 13 13 11 13 13 12 12 Tinggi tanaman saat panen terakhir (cm 237 273 250 248 252 189 258 246 228 230 213 255 252 255 244

Keterangan: MoKo = tanpa mulsa + tanpa pupuk organik, MoKa = tanpa mulsa + pupuk kandang ayam, MoKk = tanpa mulsa + pupuk kandang kambing, MoKe = tanpa mulsa + pupuk kompos, MjKo = mulsa jerami + tanpa pupuk organik, Mjka = mulsa jerami + pupuk kandang ayam, MjKk = mulsa jerami + pupuk kandang kambing, Mjke = mulsa jerami + pupuk kompos, MpKo = mulsa plastik hitarn perak + tanpa pupuk organik, MpKa = mulsa plastik hitam perak + pupuk kandang ayam, MpKk = mulsa plastik hitam perak + pupuk kandang kambing, MpKe = mulsa plastik hitam perak + pupuk kompos.

Jumlah Ruas Saat Bunga Pertama Mekar Kombinasi perlakuan tanpa mulsa + pupuk kandang ayam menghasilkan jumlah ruas yang paling banyak yaitu 15 ruas. Jumlah ruas paling sedikit (11 ruas) diperoleh pada kombinasi perlakuan mulsa jerami atau mulsa plastik tanpa pupuk (Tabel 1). Tinggi Tanaman Waktu Panen Terakhir Tinggi tanaman tertinggi pada waktu panen terakhir diperoleh pada kombinasi perlakuan tanpa mulsa + pupuk kandang ayam yaitu 273 cm, dan terendah pada perlakuan mulsa jerami + tanpa pupuk organik yaitu hanya 189 cm. Pada perlakuan tanpa mulsa, tinggi tanaman rata-rata hanya 252 cm, perlakuan mulsa plastik hitam perak 244 cm, dan mulsa jerami 230 cm (Tabel 1).

buah juga paling besar dibanding lainnya. Perlakuan mulsa jerami + tanpa pupuk organik menghasilkan buah paling sedikit yaitu 276,4 g tiap tanaman (Tabel 2). Jumlah Buah Rata-rata jumlah buah tiap tanaman yang paling banyak diperoleh pada kombinasi perlakuan tanpa mulsa + pupuk kandang ayam yaitu 3,2 buah tiap tanaman, diikuti perlakuan plastik hitam perak + pupuk kandang ayam yaitu 2,8 buah tiap tanaman. Rata-rata jumlah buah yang paling sedikit adalah kombinasi perlakuan mulsa jerami + tanpa pupuk organik yaitu hanya 1,2 buah tiap tanaman (Tabel 2). Panjang Buah Kombinasi perlakuan mulsa dan pupuk organik tidak begitu berpengaruh terhadap panjang buah mentimun jepang, kecuali pada perlakuan mulsa jerami + tanpa pupuk kandang yang menghasilkan buah berukuran kecil dan hasilnya paling rendah. Panjang buah mentimun jepang pada percobaan ini berkisar 23,9-25,6 cm, rata-rata 24,5 cm, kecuali pada perlakuan mulsa jerami tanpa pupuk kandang atau organik yaitu 20,5 cm (Tabel 2). 55

Bobot Buah Kombinasi perlakuan tanpa mulsa + pupuk kandang ayam menghasilkan buah terbanyak yaitu 1.316,0 g tiap tanaman, jauh lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya yang hanya menghasilkan buah kurang dari 538,1 g tiap tanaman. Ukuran Buletin Teknik Pertanian Vol. 10. Nomor 2, 2005

Tabel 2. Komponen hasil dan hasil mentimun jepang dengan pemberian pupuk organik dan mulsa, KP Cipaku, 2004 Perlakuan MoKo MoKa MoKk MoKe MjKo MjKa MjKk MjKc MpKo MpKa MpKk MpKc Rata-rata Bobot buah tiap tanaman (g) 386,8 1316,0 586,8 440,4 276,4 532,8 481,6 434,6 327,2 674,8 493,6 505,6 538,1 Rata-rata jumlah buah tiap tanaman 1,8 3,2 2,4 2,0 1,2 2,2 2,0 1,8 1,6 2,8 2,2 2,4 2,1 Panjang buah (cm) 24,5 25,5 24,9 25,6 20,5 25,3 25,0 23,9 24,4 24,6 25,3 24,9 24,5

KESIMPULAN Kombinasi perlakuan tanpa mulsa + pupuk kandang ayam adalah yang terbaik pada budi daya mentimun jepang dengan produktivitas buah 1.316,0 g tiap tanaman, jumlah ruas saat bunga pertama mekar 15 ruas, tinggi tanaman pada waktu keluar bunga pertama 129 cm, dan jumlah buah yang dipanen rata-rata 3,2 buah tiap tanaman.

DAFTAR PUSTAKA
Harist, A. 2000. Petunjuk Penggunaan Mulsa. Penebar Swadaya, Jakarta. hlm. l 9-25. Ismawati, E. 2003. Pupuk Organik. Penebar Swadaya, Jakarta. hlm. 1-45. Purwanto, H dan A. Asih N. 2001. Sayuran Jepang. Penebar Swadaya, Jakarta. hlm. 63-105. Samadi, B. 2002. Teknik Budi Daya Mentimun Hibrida. Kanisius, Yogyakarta. hlm. 9-43. Sumpena, U. 2002. Budidaya Mentimun Intensif. Penebar Swadaya, Jakarta. hlm. 1-42.

Keterangan: MoKo = tanpa mulsa + tanpa pupuk organik, MoKa = tanpa mulsa + pupuk kandang ayam, MoKk = tanpa mulsa + pupuk kandang kambing, MoKc = tanpa mulsa + pupuk kompos, MjKo = mulsa jerami + tanpa pupuk organik, MjKa = mulsa jerami + pupuk kandang ayam, MjKk = mulsa jerami + pupuk kandang karnbing, Mjke: = mulsa jerami + pupuk kompos, MpKo = rnulsa plastik hitam perak + tanpa pupuk organik, MpKa = mulsa plastik hitam perak + pupuk kandang ayam, MpKk = mulsa plastik hitam perak + pupuk kandang kambing, MpKc = mulsa plastik hitam perak + pupuk kompos.

56

Buletin Teknik Pertanian Vol. 10. Nomor 2, 2005