Anda di halaman 1dari 30

Tahun 1976:

dalam Pasal 51 KUHP Belanda ditetapkan :


 perbuatan pidana dapat dilakukan oleh
perorangan dan oleh badan hukum;
 apabila suatu perbuatan pidana dilakukan oleh
suatu badan hukum, tuntutan pidana dapat
dilakukan dan pidana serta tindakan yang
tersedia dalam undang-undang dapat dijatuhkan,
kepada :
-- badan hukum, atau
-- terhadap mereka yg memerintahkan perbuatan
serta juga terhadap mereka yang telah secara nyata
memimpin lakukan perbuatan yang dilarang
tersebut, atau
-- terhadap yang disebut dalam butir a dan b
sekaligus
Sebagaimana halnya untuk pembuat pidana
(yang fungsional) dari perorangan (natuurlijk
persoon):
yang pertama penting bagi pembuat
pidana badan hukum
adalah:
apakah perorangan atau badan
hukum itu merupakan subjek
hukum (normadressat).

Pertanyaan tentang apakah suatu badan


hukum dapat merupakan subjek dari norma
yang dimuat dalam rumusan delik:
harus dibedakan dari pertanyaan apakah
dipandang dari sudut penjatuhan
pidana, perlu adanya pemidanaan dari
pembuat perbuatan pidana yang bukan
Dasar-dasar dan ciri-ciri hukum korporasi:
badan yang diakui oleh negara, yang memiliki hak
untuk dapat mempunyai milik bagi tujuan-tujuan
umum, hak untuk menuntut dan dituntut dan
eksistensinya yang melampaui masa hidup dari para
anggotanya.

Secara umum korporasi memiliki 5 ciri


penting:
 merupakan subjek hukum buatan yang memiliki
kedudukan hukum khusus.
 memiliki jangka waktu hidup yang tak terbatas.
 memperoleh kekuasaan (dari negara) untuk
melakukan kegiatan bisnis tertentu.
 dimiliki oleh pemegang saham.
 tanggung jawab pemegang saham terhadap kerugian
korporasi biasanya sebatas saham yang dimilikinya.
Melakukan aktivitas bisnis:
melalui korporasi,
maka
anggotanya sekaligus mengurangi dua
resiko, baik resiko sebagai individu
maupun resiko terhadap sejumlah
modal perorangan yang diperlukan
oleh korporasi untuk kegiatannya.

Korporasi:
karena diterima sebagai lembaga hukum
yang dapat menguasai kumpulan modal
dari banyak orang di atas suatu jangka
waktu yang tidak dipengaruhi oleh
kematian atau penarikan diri dari
individu-individu
Korporasi:
diterima sebagai subjek hukum dan diperlakukan sama
dengan subjek hukum yang lain (manusia /alamiah).

dapat bertindak seperti manusia pada umumnya.

sebagai subjek hukum:


keberadaannya ditentukan oleh perundang-undangan,
menjadikannya ihwal yang menyangkut korporasi
seperti hak, kewajiban, tindakan hingga tanggung
jawabnya ditentukan oleh sang penentu yakni
undang-undang.

Kesulitan muncul:
-- kurangnya visi sang penentu mengenai ihwal korporasi
-- kesulitan yang diperoleh dari konstruksi hukum itu
sendiri, bukan saja bagi masyarakat awam, namun juga
bagi aparat hukum dalam menghadapi perilaku korporasi
yang merugikan masyarakat.
Misalnya:
terhadap produk korporasi yang menyebabkan orang
sakit atau mati, karena perbuatan korporasi ini harus
dievaluasi oleh pengadilan maka penanganannya
menjadi lebih kompleks dan teknis bila dibandingkan
dengan kalau hal ini dilakukan oleh subjek hukum
Kekuasaan korporasi luar biasa:
dalam pelaksanaannya mempunyai
pengaruh besar bagi kehidupan setiap orang
sejak dalam kandungan hingga keliang
kubur.

Udara yang kita hirup, air yang kita minum,


makanan yang kita telan, pakaian dan alas kaki
yang kita pakai, jalan yang kita lalui, kendaraan
yang kita naiki dll, semuanya berbau korporasi
baik melalui produk-produknya maupun karena
pencemarannya.
Kehidupan, kesehatan dan keselamatan dari
bagian besar rakyat secara langsung dan tidak
langsung dikontrol oleh korporasi-korporasi
raksasa, seperti melalui tingkat harga dan
karenanya juga laju inflasi, kualitas barang dan
angka pengangguran.
Penelitian empirik:
tentang kejahatan white collor crime (kejahatan
korporasi)
memberi gambaran
mengenai berbagai perilaku korporasi yang bersifat
ilegal seperti:
-- produk yg membahayakan kesehatan & keselamatan
jiwa manusia
-- manipulasi pajak,
-- persaingan curang,
-- pencemaran.

Kasus obat Thalidomide:


menyebabkan ribuan bayi lahir cacat tanpa tangan, kaki atau anggota tubuh
lainnya sebagai akibat penggunaan obat tersebut oleh ibu-ibu yang sedang
hamil, melanda beberapa negara Erofa dan Amerika Selatan pada tahun 1960-an.
Bahkan kasus tersebut seakan-akan ditutupi oleh pemerintah Inggris dan baru
dibongkar setelah hampir sepuluh tahun kemudian karena jasa seorang anggota
parlemen

Kasus Minamata:
pencemaran industri yang membuang limbahnya di teluk Minamata Jepang telah
menyebabkan ribuan orang cacat/lumpuh.

Kasus bocornya pabrik Union Carbide di Bhospal India (1984)


Ada kecendrungan:
pada dunia usaha, penegak hukum
dan dunia politik (termasuk
pemerintah) untuk “melakukan
kejahatan” secara sistematis.

Hal ini bukan karena di lapangan


terlalu banyak undang-undang, tetapi
lebih disebabkan karena kejahatan
merupakan bisnis yang
menguntungkan dan efisien
Kerugian ditimbulkan kejahatan
korporasi:
meliputi :
Kerugian di bidang ekonomi/materi
Kerugian di bidang kesehatan dan
keselamatan jiwa
Kerugian di bidang sosial dan moral.
Kerugian di bidang ekonomi/materi:

tingkat kerugian ekonomi yang ditimbulkan


oleh kejahatan ini luar biasa besarnya,
khususnya bila dibandingkan dengan
kerugian yang ditimbulkan oleh kejahatan
konvensional seperti perampokan,
pencurian, penipuan.

perkiraan yang dilakukan oleh Subcommittee on


Antitrust and Monopoly of the US Senate Judiciary
Committee yang diketuai oleh Senator Philip Hart:
memperkirakan
kerugian yang ditimbulkan oleh kejahatan
korporasi antara 174-231 milliar dolar pertahun,
jauh bila dibandingkan dengan kejahatan
warungan yang berkisar sekitar 3-4 milliar.
Kerugian di bidang kesehatan dan keselamatan jiwa:

 kerugian di bidang kesehatan dan keselamatan jiwa pada


kenyataannya sangat serius. Menurut Geis:
setiap tahunnya korporasi bertanggung jawab terhadap
ribuan kematian dan cacat tubuh yang terjadi di seluruh
dunia.

 korban korporasi adalah masyarakat luas


- khususnya konsumen dan mereka yang bekerja pada korporasi.

data statistik kriminal FBI dan data dari The President’s Report on
Occupational Safety and Health tahun 1973, Reiman :
menyimpulkan bahwa kematian maupun kerugian fisik yang
diakibatkan oleh kejahatan korporasi luar biasa besarnya
dibandingkan dengan kejahatan warungan, yaitu 100.000
dibandingkan dengan 9.235 untuk kematian dan 390.000 berbanding
dengan 218.385 untuk kerugian fisik.

crime of clocks bagi pembunuhan terjadi setiap 26 menit pada tahun 1974
bila dibandingkan dengan kematian yang terjadi dibidang industri adalah
setiap 4,5 menit.

Kematian atau cacat yang diakibatkan oleh industri ini bukanlkarena


kecelakaan ditempat kerja semata, akan tetapi sebagian besar disebabkan
oleh “penyakit” yang pada umumnya karena kondisi-kondisi di luar
“kontrol” pekerja, seperti kadar coal dust (yang menyebabkan sakit black
lung) atau debu tekstil (yang menyebabkan byssinosis atau brown lung)
atau serat asbestos (yang dapat menyebabkan kanker) atau ter arang (coal
tars) yang menyebabkan kanker paru-paru.
Kerugian di bidang sosial dan moral:

Dampak yang ditimbulkan oleh korporasi adalah


merusak kepercayaan masyarakat terhadap prilaku
bisnis

Pernyataan dari The President’s Commision on Law


Enforcement and Administration of Justice:
kejahatan korporasi merupakan kejahatan yang
paling mencemaskan, bukan saja karena
kerugiannya yg sangat besar, akan tetapi
karena akibat yang merusak terhadap ukuran-
ukuran prilaku bisnis orang Amerika. Kejahatan
bisnis (korporasi) merongrong kepercayaan publik
terhadap sistem bisnis.
Sebab:
kejahatan demikian diintegrasikan ke
dalam “struktur bisnis yang sah”
(the structure of legitimate
business).
Bentuk kejahatan korporasi , yang lain:
pemberian suap dan korupsi yang dilakukan
oleh korporasi-korporasi besar, yang
merupakan bentuk kejahatan yang sangat
merusak karena kesenjangan yang
ditimbulkannya.

Bentuk kejahatan ini terutama dilakukan


terhadap penguasa (pemerintah) di negara-
negara ketiga dengan membujuk pemerintah
mengikuti kepentingan korporasi (trans
nasional) untuk “melawan” kepentingan
publik.

setiap tindakan korupsi politik akan


menghasilkan kerusakan politik dan
memperburuk pilihan sosial yang dilakukan
oleh pejabat-pejabat pemerintah yang
korup, akibatnya orang-orang yang memiliki
prinsip kuat akan memasuki dunia politik
yang menjijikan
 merusakkan nilai-nilai demokrasi
karenanya menghambat proses demokrasi.
Kolusi antara korporasi dan pejabat pemerintah
dilakukan secara tertutup dan karenanya diupayakan
untuk tidak transparan, sementara keterbukaan
(transparansi) merupakan hal yang penting bagi
demokrasi.

Pengaruh lain yang ditimbulkan oleh kejahatan korporasi:


terjadinya perubahan “minat” (interesse) para pelaku bisnis,
yakni
dari efisiensi di bidang produksi ke efisiensi dalam
tindakan manipulasi terhadap masyarakat, termasuk
manipulasi terhadap pemerintah dalam usaha
mencapai tujuan untuk memperoleh keuntungan yang
diinginkan.
Hal ini punya pengaruh
(1) cenderung memiskinkan orang miskin –
seolah-olah berbuat amal kepada penguasa
atas beban masyarakat (konsumen) dan
(2) cenderung membuat pemerintah korup.
Korporasi:
suatu organisasi, suatu bentuk organisasi dengan tujuan
tertentu yang bergerak dalam bidang ekonomi atau
bisnis.

untuk memahami kejahatan korporasi:


harus melihat kejahatan korporasi sebagai
kejahatan yang bersifat organisatoris,
yaitu:
suatu kejahatan yang terjadi dalam konteks
hubungan-hubungan yang kompleks
dan harapan- harapan di antara dewan
direksi, eksekutif dan manajer di satu
sisi dan di antara kantor pusat,
bagian-bagian dan cabang-cabang di sisi lain.

maka
teori-teori mengenai organisasi dapat memberikan
berbagai wawasan,
yakni seberapa jauh sifat dan luasnya organisasi
dapat berpengaruh dalam pelanggaran
hukum yang dilakukan oleh korporasi.
Begitu pula luasnya, penyebaran tanggung
jawabnya, serta struktur hirarkis dari korporasi besar
dapat membantu berkembangnya kondisi-kondisi yang
kondusif bagi perbuatan yang menyimpang/
Pengaruh dari perkembangan korporasi maupun teknologi:
sejumlah tugas memerlukan spesialisasi atau
profesionalisasi.

pada semua tingkat di dalam korporasi terdapat


pelembagaan mengenai ketidak bertanggungjawaban
dengan membiarkan korporasi menjalankan fungsinya,
namun dibalik itu seolah-olah membiarkan individu-individu
dalam korporasi tertutup oleh tirai yang seakan-akan
bertindak sesuai dengan hukum maupun moral.

setiap bentuk kejahatan korporasi, mulai dari produk yang


salah atau membahayakan hingga pada penyuapan,
kecurangan dan bahkan pencurian selalu dimungkinkan.

Pejabat-pejabat pada tingkat yang lebih tinggi dapat


membebaskan dirinya dari pertanggungan jawab dengan
memberikan alasan bahwa tindakan-tindakan ilegal dalam
mencapai tujuan-tujuan korporasi yang begitu luas
berlangsung tanpa sepengatahuan mereka.

Pendelegasian tanggung jawab dan perintah yang tak


tertulis menjaga mereka yang ada di puncak struktur
korporasi jauh dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh
keputusan-keputusan dan perintah mereka, seperti halnya
Kriesberg :
3 model pengambilan keputusan korporasi yg
melanggar hukum
yaitu :
-- Rational actor model,
korporasi dilihat sebagai unit tunggal yang secara
rasional bermaksud melanggar hukum apabila hal
tersebut merupakan kepentingan korporasi.

-- Organization process model,


Korporasi dilihat sebagai suatu sistem unit-unit yang
terorganisasi secara longgar, dimana macam-macam unit
korporasi mungkin tidak mematuhi hukum karena
menghadap kesulitan untuk dapat memenuhi produk
yang ditargetkan, sehingga untuk dpt memenuhinya mereka
cenderung melakukannya dengan melanggar hukum seperti
misalnya dengan mengurangi pengeluaran-
pengeluaran yang diperlukan untuk menjaga
keselamatan kerja, iklan yang menyesatkan dsb

-- Kejahatan korporasi merupakan produk dari


keputusan- keputusan yang dibuat secara
individual untuk keuntungan pribadi
Clinard dan Yeager:
ada 2 pandangan yang secara umum
dapat dipakai untuk menjelaskan
kejahatan bisnis, yaitu :

-- Model tujuan yang rasional


yakni yg mengutamakan mencari
keuntungan

-- Model organik
yakni yang menekankan pada hubungan
antara perusahaan dgn lingkungan
ekonomi dan politiknya
motif mencari keuntungan (sebesar-
besarnya):
 sebagai alasan utama dilakukannya
kejahatan korporasi
Persaingan yg berlebih-lebihan dalam
usaha menguasai pasar, penekanan pada
sukses (memperoleh sukses dgn
menghalalkan cara),
praktek bisnis yang bersifat
nirpersonal dan eksploitatif dapat
mendorong terhadap
perbuatan-perbuatan yg
melanggar hukum.

iklan yang menyesatkan, produk-produk


yang tidak melalui pengujian yang
cermat atau memanipulasi hasil pengujian,
korporasi bersikap pasif :
terhadap perubahan-perubahan
yang ada,
akan tetapi seringkali mereka
secara aktif berusaha untuk
menguasai sumber- sumber
yang dapat mempengaruhi dan
menggerakkan lingkungan sekitarnya.

menjadikan salah satu korporasi


(besar) pada dewasa ini untuk
mengembangkan cara-cara yang
dapat mengurangi ketidakpastian
dan risiko bisnis.
Ada ciri tertentu :
menjadikan korporasi bersifat
kriminogen:
keharusan untuk tetap hidup
eksist, yang ditunjukkan
dengan untuk selalu
berprestasi.
korporasi untuk berusaha
“mengurangi”
ketidakpastian, yaitu
menghilangkan hal-hal
yang dianggap dapat
menghalangi tercapainya
tujuan utama korporasi yakni
untuk
memperoleh keuntungan.
 usaha untuk mencapai tujuannya:
korporasi menghadapi keadaan-keadaan yang
dapat berupa hambatan seperti persaingan
sesama produsen, peraturan dan penegakan
hukumnya.
korporasi dapat melakukan tindakan-
tindakan yang berupa mematuhi peraturan
yang ada, melanggarnya maupun
tindakan-tindakan yang merugikan
konsumen dan masyarakat luas.

 Pelanggaran yang dilakukan korporasi,:


dipandang sekedar ongkos, yakni biaya atau
pengurangan dari keuntungan melalui denda yang
harus dikalkulasikan dan diperhitungkan
sebelumnya --
ongkos yang harus dikeluarkan untuk
menghasilkan dan memasarkan
produknya
Steven Box :
terdapat 5 sumber masalah yang secara potensial
mengganggu kemampuan korporasi dalam mencapai
tujuannya, sehingga dapat menghasilkan tekanan untuk
melakukan kejahatan.

1. Persaingan
korporasi dihadapkan pada penemuan tekhnologi
baru, tekhnik pemasaran, usaha-usaha memperluas
atau menguasai pasaran.
 tindakan korporasi untuk memata-matai
saingannya, meniru, memalsukan, mencuri,
menyuap atau mengadakan persekongkolan
mengenai harga atau daerah pemasaran.

2. Pemerintah
Untuk mengamankan kebijaksanaan ekonominya,
pemerintah antara lain melakukannnya dengan
memperluas peraturan yang mengatur kegiatan bisnis,
baik melalui peraturan baru maupun melalui penegakan
yang lebih keras terhadap peraturan- peraturan yang
ada.
Dalam menghadapi keadaan yang demikian,
korporasi dapat melakukannya dengan cara
melanggar peraturan yang ada seperti pelanggaran
3. Karyawan
Tuntutan perbaikan dalam penggajian, peningkatan kesejahteraan
dan perbaikan dalam kondisi-kondisi kerja. Dalam hubungan dengan
karyawan, tindakan-tindakan korporasi yang berupa kejahatan misalnya
pemberian upah di bawah minimal, memaksa kerja lembur atau
menyediakan tempat kerja yang tidak memenuhi peraturan mengenai
keselamatan kerja dan kesehatan kerja.

4. Konsumen
Ini terjadi karena adanya permintaan konsumen terhadap produk-
produk industri yang bersifat elastis dan berubah-ubah, atau karena
meningkatnya aktivitas dari gerakan perlindungan konsumen. Adapun
tindakan korporasi terhadap konsumen yang dapat menjurus pada
kejahatan korporasi atau yang melanggar hukum, misalnya iklan yang
menyesatkan, pemberian label yang dipalsukan, menjual barang-barang
yang sudah kadaluwarsa, produk-produk yang membahayakan tanpa
pengujian terlebih dahulu atau memanipulasikan hasil pengujian.

5. Publik
Hal ini semakin meningkat dengan tumbuhnya kesadaran akan perlindungan
terhadaplingkungan seperti konservasi terhadap air bersih, udara bersih,
serta penjagaan terhadap sumber-sumber alam. Dalam menghadapi
lingkungan publik, tindakan-tindakan korporasi yang merugikan publik
dapat berupa pencemaran udara, air dan tanah, menguras sumber-sumber
alam.
tindakan korporasi yang tidak kalah
merugikannya adalah merusakkan proses
demokrasi, memerosotkan moral
masyarakat, membuat pemerintah korup
serta cenderung memiskinkan rakyat
miskin (khususnya di negara-negara
ketiga) dengan melakukan penyuapan
atau bantuan kepada pemimpin/penguasa
di negara-negara ketiga dengan imbalan
berupa pendirian pabrik-pabrik yang
limbahnya berbahaya, penjualan produk-
produk yang membahayakan dan
dapat digunakan sebagai petunjuk terjadinya kejahatan yang bersifat
keorganisasian.
 Bahwa tindakan korporasi bertentangan dengan norma-norma
yang berlaku bagi orang-orang lailn di luar organisasi. Dalam
menentukan telah terjadinya penyimpangan perilaku organisasi,
maka “konsensus” yang sangat penting adalah dengan cara
melihat siapakah yang seharusnya memperoleh manfaat dari
adanya organisasi. Misalnya organisasi rumah sakit ditujukan
untuk melayani orang sakit, sehingga pelanggaran terhadap
konsensus ini merupakan satu unsur dari penyimpangan
organisasi.
 Bahwa tindakan penyimpangan tersebut harus di sokong oleh
norma-norma internal yang berlaku dalam organisasi. Dalam
kenyataannya norma-norma internal tersebut seringkali
bertentangan dengan tujuan-tujuan organisasi yang dinyatakan
kepada publik. Sokongan terhadap prilaku yang menyimpang
tersebut dapat dilakukan secara aktif maupun secara pasif,
misalnya kelompok elit dalam organisasi (sebagai wakil organisasi)
mengetahui pola yang menyimpang dari perilaku organisasi akan
tetapi diam saja, dalam arti tidak mengambil tindakan terhadap
penyimpangan tersebut.
Secara umum kekuasaan korporasi:
dipakai untuk mencapai 3 tujuan yang saling berkaitan:
1. Dipakai untuk menahan atau menjaga agar tindakan korporasi yang ilegal
berada di luar peradilan pidana.
 Dalam hubungan ini korporasi akan berusaha agar tindakan-tindakan yang
ilegal tidak diperiksa atau diselesaikan lewat peradilan pidana, akan tetapi
di selesaikan lewat badan administratif. Sebab mempengaruhi atau campur
tangan terhadap badan administratif relatif lebih mudah dilakukan untuk
disesuaikan dengan kepentingannya dari pada terhadap badan peradilan
pidana.
 Misalnya pada kasus penggajian upah di bawah ketentuan upah minimal
(UMR) di Jawa Tengah pada awal tahun 1990 yang diajukan di Pengadilan
Negeri Karanganyar, maka begitu masalahnya di rembug oleh Apindo Jawa
Tengah dengan pejabat-pejabat administratif Jawa Tengah, maka perkara-
perkara di bidang ini segera “lenyap” dari peredaran, dalam arti tidak ada
lagi kasus upah minimal yang diajukan ke pengadilan di daerah Jawa
Tengah.
2. Keputusan dari bekerjanya badan administratif itu pun merupakan subjek
dari campur tangan kekuasaan korporasi.
 Atas tindakan korporasi yang melanggar hukum, maka korporasi akan
berusaha agar tindakan atau keputusan badan administratif yang dikenakan
kepadanya tidak atau seminimal mungkin merugikan kepentingannya.
3. Kekuasaan korporasi di pakai untuk mencegah tindakan-tindakan tertentu
dari korporasi yang merugikan masyarakat dijadikan perbuatan yang
dilarang oleh undang-undang pidana (delik). Barang kali ini merupakan
penggunaan kekuasaan korporasi yang sangat penting, sehingga
menghasilkan langkahnya tindakan-tindakan korporasi yang merugikan
masyarakat di jadikan tindak pidana, akibatnya tindakan-tindakan korporasi
yang merugikan masyarakat luas menjadi sah atau legal, walaupun secara
moral sulit untuk membedakan antara tindakan-tindakan korporasi yang
merugikan masyarakat dengan bentuk tertentu dari kejahatan warungan
atau konvensional. Hal ini agaknya sesuai dengan pandangan Chambliss &
wajah kejahatan dipengaruhi oleh bentuk masyarakatnya:
masyarakat kapitalis akan memiliki wajah kejahatan yang
berbeda dengan masyarakat komunis, masyarakat industri
akan memiliki wajah kejahatan yang berbeda dengan
masyarakat agraris. Dengan demikian pada era
industrialisasi, wajah kejahatan yang kita miliki berbeda
dengan kejahatan sebelumnya.

ciri industrialisasi:
meningkatnya peranan dan kekuasaan korporasi di
hampir semua segi kehidupan, sehingga seolah-oleh
hidup matinya masyarakat di tangan korporasi.
Di sisi lain,
dalam mencapai tujuannya korporasi
cenderung melakukan pelanggaran hukum
dan nilai-nilai sosial lainnya, sehingga
menimbulkan kerugian yang luar biasa besarnya
pada masyarakat luas.

Kejahatan dewasa ini  kejahatan korporasi,


kejahatan korporasi :
kejahatan yang paling serius, yang paling
mencemaskan, yang paling merugikan dan paling
merusak pada dewasa ini.
perhatian yang sungguh-sungguh terhadap
kejahatan korporasi tidak dapat ditunda-tunda lagi
terutama oleh ilmuwan, pemerintah dan
Mengontrol kejahatan korporasi:
dilakukan melalui tiga pendekatan

1. Mengubah sikap dan struktur korporasi secara sukarela


dilakukan dgn mengembangkan dan memperkuat etika bisnis dan
perubahan- perubahan tertentu di bidang organisasi sehingga kondusif
bagi berkembangnya kepatuhan hukum, sebab adalah tidak mungkin
untuk mengandalkan kontrol terhadap pelanggaran hukum yang
dilakukan oleh korporasi melalui penegak hukum semata.

2. Perubahan terhadap organisasi korporasi


Tindakan untuk mengubah struktur korporasi dapat dilakukan melalui
campur tangan pemerintah. Tindakan kontrol oleh pemerintah dapat
dilakukan melalui peraturan perundang-undangan dengan
mengenakan sanksi hukum maupun melalui publisitas atau bahkan
pengambilalihan.

3. Aksi konsumen
Konsumen sebagai kelompok besar, karena sifatnya yang tidak
terorganisir dan karena adanya berbagai keterbatasan
kedudukannya yang sangat lemah bila dihadapkan dengan korporasi,
sehingga merupakan korban yang sangat empuk bagi kejahatan
korporasi.
Namun kerjasama konsumen secara luas merupakan penggunaan
tekanan yang berarti terhadap korporasi. Kerjasama konsumen cenderung
digunakan untuk menekankan tanggung jawab etis dalam melakukan
bisnis, mereka juga dapat mempengaruhi aktifitas korporasi melalui
kemampuannya untuk “mendiktekan” standard produk yang
dihasilkannya. Gerakan kerjasama menawarkan cara-cara alternatif dalam
mencegah kejahatan korporasi dan sekaligus memberi kemungkinan
untuk menjadi produk yang berkualitas dengan harga yang murah.