Anda di halaman 1dari 25

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

A. Phylum Plathyhelminthes Platyhelminthes berasal dari kata Yunani : platy + helminthes; platy = pipih, helminthes = cacing. Bila dibandingkan dengn Porifera dan Coelenterata, maka kedudukan phylum Platyhelminthes adalah lebih tinggi setingkat. Hal ini dapat dilihat dengan tanda-tanda sebagai berikut: tubuh bilateral simetris, arah tubuh sudah jelas, yaitu mempunyai arah: anterior-posterior dan arah dorsalventral, bersifat triploblastis, sebab dinding tubuhnya sudah tersusun atas tiga lapisan, yaitu lapisan ektodermis, lapisan mesodermis dan endodermis, sudah mempunyai susunan syaraf tangga tali, yang terdiri dari sepasang ganglia yang membesar di bagian anterir dan sepasang atau lebih tali syaraf yang membentang dari arah anterior ke posterior, tubuhnya sudah dilengkapi dengan gonad yang telah mempunyai saluran tetap dan juga alat kopulasi yang husus. Anggota dari phylum ini yang tlah dikenal meliputi 10.000 hingga 15.000 spesies. Dari sekian itu berdasarkan sifat-sifat khusus hewan dewasa, maka phylum Platyhelminthes dapat dibagi menjadi 3 kelas, yaitu: kelas Tubellaria, Trematoda, dan Cestoda (Rita, 2013). 1. Ukuran dan bentuk tubuh Platyhelminthes memiliki ukuran tubuh beragam, dari yang berukuran hampir microskopis hingga yang panjangnya 20 cm.Tubuh Platyhelminthes simetris bilateral dengan bentuk pipih. Diantara hewan simetris bilateral, Platyhelminthes memiliki tubuh yang paling sederhana (Rita, 2013).

2. Struktur dan fungsi tubuh Platyhelminthes tidak memiliki rongga tubuh (selom) sehingga disebut hewan aselomata.Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, dan usus (tanpa anus).Usus bercabang-cabang ke seluruh tubuhnya.Platyhelminthes tidak memiliki sistem peredaran darah (sirkulasi).Platyhelminthes juga tidak memiliki sistem respirasi dan eksresi.Pernapasan dilakukan secara difusi oleh seluruh sel tubuhnya. Proses ini terjadi karena tubuhnya yang pipih.Sistem eksresi pada kelompok Platyhelminthes tertentu berfungsi untuk menjaga kadar air dalam tubuh.Kelompok Platyhelminthes tertentu memiliki sistem saraf tangga tali.Sistem saraf tangga taki terdiri dari sepasang simpul saraf (ganglia) dengan sepasang tali saraf yang memanjang dan bercabang-cabang melintang seperti tangga.Organ reproduksi jantan (testis) dan organ betina (ovarium). Platyhelminthes terdapat dalam satu individu sehingga disebut hewan hemafrodit. Alat reproduksi terdapat pada bagian ventral tubuh

Gambar 1. Morfologi Planaria

3. Cara hidup dan habitat Platyhelminthes ada yang hidup bebas maupun parasit.Platyhelminthes yang hidup bebas memakan hewan-hewan dan tumbuhan kecil atau zat organik lainnya seperti sisa organisme.Platyhelminthes parasit hidup pada jaringan atau cairan tubuh inangnya. Habitat Platyhelminthes yang hidup bebas adalah di air tawar, laut, dan tempat-tempat yang lembap. Platyhelminthes yang parasit hidup di dalam tubuh inangnya (endoparasit) pada siput air, sapi, babi, atau manusia 4. Reproduksi Reproduksi Platyhelminthes dilakukan secara seksual dan aseksual.Pada reproduksi seksual akan menghasilkan gamet. Fertilisasi ovum oleh sperma terjadi di dalam tubuh (internal). Fertilisasi dapat dilakukan sendiri ataupun dengan pasangan lain. Reproduksi aseksual tidak dilakukan oleh semua Platyhelminthes. Kelompok Platyhelminthes tertentu dapat melakukan reproduksi aseksual dengan cara membelah diri (fragmentasi), kemudian regenerasi potongan tubuh tersebut menjadi individu baru Planaria sp Planaria sp. adalah invertebrata berupa cacing pipih cokelat gelap yang menarik untuk diamati baik morfologi maupun perilakunya. Planaria sp. menunjukkan berbagai perilaku sebagai respon terhadap berbagai macam rangsang yang meliputi cahaya, sentuhan, aroma, dan rasa. Selain itu daya regenerasi Planaria sp. sangat unik, dimana planaria mampu memperbaiki bagian tubuh yang tidak sempurna menjadi bagian yang utuh seperti semula dalam waktu yang relatif singkat Klasifikasi planaria menurut Barnes (dalam Soemadji,1994) adalah sebagai berikut:

Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Species

: Animalia : Platyhelminthes : Turbellaria : Tricladida : Paludicola : Planaria : Planaria sp. (Soemadji,1994).

1. Morfologi Tubuh Planaria tubuhnya selain pipih juga lonjong, dan lunak dengan panjang tubuh kira-kira antara 0,5-75mm. Bagian anterior (kepala) berbentuk segi tiga memiliki dua buah bintik mata. Bintik mata planaria hanya berfungsi untuk membedakan intensitas cahaya dan belum merupakan alat penglihat yang dapat menghasilkan bayangan (Soemadji,1994). Lubang mulut berada di ventral tubuh agak kearah ekor, berhubungan dengan pharink (proboscis) berbentuk tubuler dengan 78 dinding berotot, dapat ditarik atau dijulurkan untuk menangkap makanan. Di bagian kepala, yaitu bagian samping kanan dan kiri terdapat tonjolan menyerupai kepala yang disebut aurikel. Tepat di bawah bagian kepala terdapat tubuh menyempit, menghubungkan bagian badan dan bagian kepala, disebut bagian leher. . Di sepanjang tubuh bagian ventral diketemukan zona adesif. Zona adesif menghasilkan lendir liat yang berfungsi untuk melekatkan tubuh planaria ke permukaan benda yang ditempelinya. Di permukaan ventral tubuh planaria ditutupi oleh rambut-rambut getar halus, berfungsi dalam pergerakan

2. Habitat Tingkah laku (behavior) adalah apakah suatu organisme melakukan sesuatu dan bagaimana sesuatu itu dilakukan, meliputi keduanya, komponen gerak dan bukan gerak, dan adalah hasil dari factor gen dan lingkungan.Pada ilmu biologi, proses belajar didefinisikan sebagai modifikasi dari tingkah laku yang dihasilkan dari peoses belajar. Seekor hewan akan mengenali stimulus yang didapatkannya dan mulai merespon stimulus tersebut sebagai suatu keputusan. Keputusan ini dapat berupa negatif berupa menjauhi atau menolak stimulus tersebut, sedangkan keputusan positif berupa mendekati atau menerima stimulus tersebut (Campbell, et al 2002). 3. Morfologi Gerak Mata Planaria disebut dengan eye spot merpakan bintik mata yang sensitif terhadap cahaya matahari sehingga planaria lebih banyak menghasbiskan banyak waktu di bawah bebatuan atau daun-daun. Pada kepala terdapat bagian yang mirip dengan bentuk telinga (auricle) dipenuhi oleh banyak reseptor kimia. Menggerakan kepala yang kesatu sisi ke sisi lain sehingga menyebabkan planaria mengetahui atau merasakan adanya sinyal kimia (bau) yang berdifusi dari sumber makanan. Dalam Kastawi dkk (2001) dijelaskan, meskipun hidup di air planaria tidak berenang, tetapi bergerak dengan cara meluncur dan merayap. Gerakan meluncur terjadi dengan bantuan silia yang ada pada bagian ventral tubuhnya dan zat lendir yang dihasilkan oleh kelenjar lendir dari bagian tepi tubuh. Zat lendir itu merupakan jalur yang akan dilalui. Gerakan silia yang menyentuh jalur lendir menyebabkan hewan bergerak. Selama berjalan meluncur, gelombang yang bersifat teratur tampak bergerak dari kepala ke arah belakang. Pada gerak merayap, tubuh planaria memanjang sebagai akibat dari kontraksi otot sirkular dan dorsoventral. Kemudian bagian depan tubuh mencengkeram pada substrat dengan mukosa atau alat perekat khusus (Kastawi, 2011).

4. Makanan Planaria merupakan pemakan makanan yang beraneka ragam (versatile feeder), cacing juga mampu mencari dan memakan bangkai hewan lain yang telah mati. Planaria memiliki tubuh pipih (dorsoventral), bilateral simetri dan tidak bersegmen.tubuh bagian dorsal memiliki auricle (aurikula / berbentuk telinga) dan eyespot (bintik mata), sedangkan tubuh bagian ventral terdapat mulut, pharynk, dan lubang kelamin. Tubuh memiliki peredaran darah, anus, dan coelom. Sedangkan system sarafnya masih sangat sederhana (Rita, 2011). Makanan planaria terdiri dari hewan-hewan kecil lainnya yang masih hidup maupun yang teah mati. Mula-mula mangsanya dipgang dengan bagian ventral dari pada kepalanya, kemudian secara sdikit dmi sedikit planaria terus merayap di atas mangsanya. Planaria akan menghindarkan diri bila terken sinar yang kuat, oleh karena itu pada siang hari cacing ini melindungkan diri di bawah naungan batu-batu atau daun atau di bawah objek-objek yang lain. Di bawah sinar difus cacing ini aktif bergerak, berenang-renang atau merayap. Biasanya mereka berkelompok antara 6 sampai 20 ekor. Pada waktu beristirahat biasanya mereka melekatkan atau menempelkan diri pada suatu objek dengan bantua zat lendir yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar lendir yang terdapat pada zona ahesif dari tubuh. Planaria melakukan 2 macam gerak, yaitu gerak merayap dan gerak meluncur (Brotowidjoyo, 1994).

5. Sistem Respirasi, Ekskresi, dan Saraf Menurut Soemadji (1994), seperti halnya hewan tingkat rendah lainnya, planaria juga belum mempunyai alat pernafasan khusus. Pengambilan O2 dari lingkungan ekstern berjalan secara osmosis langsung melalui seluruh permukaan tubuh. Dengan adanya kondisi tubuh yang pipih atau tipis semakin memberi kelancaran pertukaran gas tersebut. Planaria mempunyai sistem pencernaan yang terdiri dari mulut, faring, usus (intestine) yang bercabang 3 yakni satu cabang ke arah anterior

dan 2 cabang lagi ke bagian samping tubuh. Percabangan ini berfungsi untuk peredaran bahan makanan dan memperluas bidang penguapan. Planaria tidak memiliki anus pada saluran pencernaan makanan sehingga buangan yang tidak tercerna dikeluarkan melalui mulut (Soemadji, 1994).

Susunan Saluran Pencernaan Planaria

Sistem ekskresi pada planaria sudah mempunyai alat khusus. Sistem tersebut terdiri dari pembuluh-pembuluh yang bercabang-cabang yang mengadakan anyam-anyaman dan sel-sel yang berbentuk seperti kantung yang disebut sel-api atau flame-cell. Pada masing-masing sisi tubuh biasanya terdapat 1 hingga 4 buah pembuluh pengumpul yang membentang longitudinal (Kastawi, 2011).

Sistem ekskresi dan sel api Planaria

Sistem syaraf terdiri dari 2 batang syaraf yang membujur memanjang, di bagian anteriornya berhubungan silang dan 2 ganglia anterior terletak dekat di bawah mata (Brotowidjoyo, 1994).

Sistem Syaraf Planaria

6. Sistem Reproduksi

Planaria memiliki kemampuan untuk bereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi secara seksual adalah musiman, dan merekan merupakan hermafrodit, yakni memiliki keduanya, organ kelamin jantan dan betina. Telur dari seekor planaria hanya bisa difertilisasi oleh sperma dari yang lainnya. Setelah fertilisasi, di habitat alaminya, telur-telur dan yolk dibungkus oleh lapisan lengket yang bisa melekat dibawah batu-batu. Setelah musim kawin, organ kelamin didegenerasi dan kemudian meregenerasi kembali saat musim kawin tiba kembali. Untuk bereproduksi secara seksual, Planaria menjalani proses yang dinamakan pembelahan melintang (transverse fission). Tubuh Planaria terbagi menjadi dua fragment di bawah farink dan setiap porsi meregenerasi bagian tubuh yang hilang oleh jalan sel bakal (stem cell) yang dinamakan neoblast (Brotowidjoyo, 1994).

7. Regenerasi pada Planaria sp. Regenerasi adalah kemampuan untuk memperbaiki kembali bagian tubuh yang rusak atau lepas sehingga kembali seprti keadaan semula. Proses regenerasi dapat terjadi pada tahap perkembangan awal dari banyak organisme. Kemampuan tubuh dan diferensiasi tidak terbatas pada embrio saja, melainkan sampai dewasa. Hal tersebut ditunjukkan oleh hewan-hewan tertentu yang mampu memperbaiki dengan sempurna bagian tubuh yang disayat atau dibuang melalui proses regenerasi, pada regenerasi umumnya polaritas dipertahankan (Tim Dosen Pembina, 2013). Umumnya kemampuan regenerasi Avertebrata lebih tinggi dari pada Vertebreta. Planaria termasuk salah satu hewan yang mempunyai kemampuan regenerasi yang sangat tinggi. Hewan ini tidak saja memperbaiki bagian tubuh yang rusak atau hilang, tetapi potongan-potongan kecil dari tubuhnya dapat membentuk individu baru secara utuh. Pada perinsipnya regenerasi berlangsung melalui dua cara, yaitu: 1. Epimorfis (epimorfis) Apabila perbaikan disebabkan oleh proliferasi jaringan baru yang disebut blastema diatas jaringan lama. 2. Morfalaksis (morfalaktis) Apabila perbaikan disebabkan oleh reorganisasi jaringan lama (Tim Dosen Pembina, 2013)

Selain itu, Planaria mampu berkembang biak secara seksual dan aseksual. a) Secara Seksual Pada waktu mengadakan kopulasi kedua cacing saling menempel dibagian posterior dan ventral. Kemudian alat kelamin jantan masuk kedalam genital betina. Sperma dari seminal vesikal cacing ditaransfer kedalam vagina ditampung

oleh uterus untuk mengawini ovum. Kemudian terbentuklah zigot yang dibungkus oleh kapsul yang nantinya menetas diluar tubuh. Pada perkembangbiakan seksual keberadaan alat reproduksi bersifat sementara. Alat reproduksi terbentuk selama musim kawin. Sesudah itu alat reproduksi mengalami degenerasi dan planaria menjadi bersifat aseksual dan berkembang biak secara membelah. Reproduksi seksual mengembangkan organ kelamin yang bersifat hermaprodit dan berkembang biak secara seksual setiap tahun sekali pada awal musim panas (Kastawi, dkk. 2001).

Planaria saat kopulasi b) Secara Aseksual Planaria mengalami pembelahan secara biner. Tubuh cacing menyempit sehingga bagian tubuhnya terpotong. Dan potongan tadi bagian kepala membentuk ekor baru, sedangkan bagian ekor membentuk kepala baru (Kastawi, dkk. 2001).

Gambar 3. Planaria secara aseksual

Planaria akan membelah diri, jika mendapat cukup makanan. Badan memanjang, kemudian didekat bagian posterior pharynx terjadi penyempitan dan meregang, sehingga akhirnya putus. Potongan bagian anterior bergerak atau pindah dan sesudah kira-kira satu hari terbentuk lagi bagian posteriornya (cauda) dan terbentuklah individu baru. Potongan bagian posterior melingkar dan tidak bergerak. Sesudah beberapa hari akan terbentuk lagi kepala dan pharynx, pada permulaannya sangat kecil tetapi dengan pemberian makan yang cukup akan segera tumbuh sempurna (Radiopoetro 19). 8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Regenerasi Dalam melakukan regenerasi banyak faktor yang menpengaruhi. salah satu diantaranya yaitu enzimatis dalam tubuh. Semakin baik dan fertile kondisi enzim dalam tubuh makhluk hidup maka semakin besar pula melakukan proses regenerasi. Regenerasi di pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah temperartur, proses biologi dan faktor bahan makanan. Kenaikan temperatur pada hal tertentu, mempercepat regenerasi. Regenerasi menjadi lebih cepat pada suhu 29,7oC. Regenerasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : 1. Temperatur, dimana peningkatan temperatur sampai titik tertentu maka akan meningkatkan regenerasi. 2. Makanan, tingkat regenerasi akan cepat jika memperhatikan aspek makanan. Makanan yang cukup dapat membantu mempercepat proses regenerasi. 3. Sistem saraf, sel-sel yang membentuk regenerasi baru berasal dari sel sekitar luka. Hal ini dapat dibuktikan dengan radiasi seluruh bagian tubuh terkecuali bagian yang terpotong, maka terjadilah regenerasi dan faktor yang menentukan macam organ yang diregenerasi (Baharrudin, 2013).

1.1. Tahapan Regenerasi Regenerasi melalui beberapa tahapan, yaitu : 1. Luka akan tertutup oleh darah yang mengalir, lalu membeku membentuk scab yang bersifat sebagai pelindung. 2. Sel epitel bergerak secara amoeboid menyebar di bawah permukaan luka, di bawah scab. Proses ini membutuhkan waktu selama dua hari, dimana pada saat itu luka telah tertutup oleh kulit. 3. Dediferensiasi, sel-sel jaringan sekitar luka, sehingga menjadi bersifat muda kembali dan pluripotent intuk membentuk berbagai jenis jaringan baru. Matriks tulang dan tulang rawan akan malarut, sel-selnya lepas tersebar dibawah epitel. Serat jaringan ikat juga berdisintegrasi dan semua sel-selnya mengalami dediferensiasi dan semua sel-selnya mengalami diferensiasi. Sehingga dapat dibedakan antara sel tulang, tulang rawan, dan jaringan ikat. Setelah itu sel-sel otot akan berdiferensiasi, serat miofibril hilang, inti membesar dan sitoplasma menyempit. 4. Pembentukan kuncup regenerasi (blastema) pada permukaan bekas luka. Pada saat ini scab mungkin sudah terlepas. Blastema berasal dari penimbunan sel-sel dediferensiasi atau sel-sel satelit pengembara yang ada dalam jaringan, terutama di dinding kapiler darah. Pada saatnya nanti, sel-sel pengembara akan berproliferasi membentuk blastema. Dengan memakai tracer radoiaktif dapat diketahui bahwa sel-sel blastema berasal dari segala jenis jaringan yang berdediferensiasi sekitar amputansi.

5. Proliferasi sel-sel berdediferensiasi secara mitosis, yang terjadi secara serentak dengan proses dediferensiasi dan memuncak pada waktu blastema mempunyai besar yang maksimal dan tidak membesar lagi. Rediferensiasi sel-sel dediferensiasi, serentak dengan berhentinya proliferasi sel-sel blastema tersebut. sel-sel yang berasal dari parenkim dapat menumbuhkan alat derifat mesodermal, jaringan saraf dan saluran pencernaan, Sehingga bagian yang di potong akan tumbuh lagi dengan struktur anatomis dan histologis yang serupa dengan asalnya (Baharrudin, 2013). BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Alat dan bahan 3.1.1. Alat : Beaker glass 200 ml Pisau silet Karet gelang Kaca pembesar Gelas aqua Plastik 1 buah 1 buah 5 buah 1 buah 5 buah 5 buah

3.1.2. Bahan : Planaria berukuran besar Air medium asal planaria 6 ekor secukupnya

3.2. Skema kerja

Mengisi gelas aqua dengan air medium asal planaria

Memberi label pada masing-masing gelas aqua dengan ketentuan : 3 gelas aqua berisi kepala, 3 gelas aqua berisi badan, 3 gelas aqua berisi ekor, 3 gelas aqua berisi badan kanan dan 3 gelas aqua berisi badan kiri

Mengambil planaria yang berukuran besar

Membagi tubuhnya menjadi tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor dengan menggunakan pisau silet yang tajam

Memasukkan masing-masing jenis potongan ke dalam aqua gelas yang berbeda, yang telah diisi medium asal planaria.

Mengambil planaria dan membagi tubuhnya menjadi bagian kiri dan kanan kemudian memasukkannya ke dalam aqua gelas yang telah disediakan.

Membungkus dinding dan menutup bagian atas aqua gelas dengan plastik, dan membuat lubang-lubang pada tutupnya.

Menyimpannya di tempat yang sejuk dan cukup sirkulasi udaranya

Mengamati regenerasi yang terjadi pada kelima potongan tubuh tersebut. Kemudian membandingkan kecepatan regenerasinya Catatan: 1. Melakukan pengamatan tiap hari, sampai tujuh hari, yaitu mengukur panjang planaria untuk bagian kepala, ekor, dan badan serta mengukur panjang dan lebar untuk bagian sisi kanan dan kiri. 2. Menggambar planaria pada masing-masing tahap perkembangannya setiap hari. 3. Mengganti medium asal planaria tiap 3 hari sekali.

IV. Hasil Pengamatan Bagian Kepala No. Hari/Tanggal Planaria 1 1,5 mm 1,8 mm 2,0 mm 2,3 mm Planaria 2 2,0 mm 2,2 mm 2,5 mm 2,8 mm 3,1 mm Planaria 3 4,0 mm 4,0 mm 4,2 mm 4,5 mm 4,8 mm 5,2 mm -

Panjang awal (4 Mei 2013) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Minggu/ 5 Mei 2013 Senin/ 6 Mei 2013 Selasa/ 7 Mei 2013 Rabu/ 8 Mei 2013 Kamis/ 9 Mei 2013 Jumat/ 10 Mei 2013 Sabtu/ 11 Mei 2013

Bagian Badan No. Hari/Tanggal Planaria 1 3,0 mm 3,0 mm 3,1 mm 3,2 mm 3,3 mm 3,4 mm 3,5 mm 3,7 mm Planaria 2 4,0 mm 4,0 mm 4,1 mm 4,3 mm 4,4 mm 4,6 mm 4,6 mm 4,7 mm Planaria 3 4,0 mm 4,0 mm 4,1 mm 4,3 mm 4,4 mm 4,5 mm 4,7 mm 4,7 mm

Panjang awal (4 Mei 2013) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Minggu/ 5 Mei 2013 Senin/ 6 Mei 2013 Selasa/ 7 Mei 2013 Rabu/ 8 Mei 2013 Kamis/ 9 Mei 2013 Jumat/ 10 Mei 2013 Sabtu/ 11 Mei 2013

Bagian Ekor No. Hari/Tanggal Planaria 1 0,5 mm Planaria 2 1,0 mm Planaria 3 1,0 mm

Panjang awal (4 Mei 2013)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Minggu/ 5 Mei 2013 Senin/ 6 Mei 2013 Selasa/ 7 Mei 2013 Rabu/ 8 Mei 2013 Kamis/ 9 Mei 2013 Jumat/ 10 Mei 2013 Sabtu/ 11 Mei 2013

2,0 mm 2,3 mm 2,5 mm 3,0 mm 3,5 mm 4,0 mm 4,0 mm

3,0 mm 3,5 mm 4,0 mm 4,5 mm 5,5 mm 6,0 mm 6,0 mm

Bagian Kanan No. Hari/Tanggal Panjang awal 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Minggu/ 5 Mei 2013 Senin/ 6 Mei 2013 Selasa/ 7 Mei 2013 Rabu/ 8 Mei 2013 Kamis/ 9 Mei 2013 Jumat/ 10 Mei 2013 Sabtu/ 11 Mei 2013 Planaria 1 panjang 3,0 mm lebar 0,5 mm Planaria 2 panjang 6,0 mm 7,0 mm 7,0 mm 7,0 mm 7,0 mm 7,0 mm 7,0 mm 7,0 mm lebar 0,5 mm 1,0 mm 1,0 mm 1,0 mm 1,0 mm 1,0 mm 1,0 mm 1,0 mm Planaria 3 panjang 5,0 mm 5,0 mm 5,0 mm 5,0 mm 5,0 mm 5,0 mm 5,0 mm 5,0 mm lebar 0,5 mm 1,0 mm 1,0 mm 1,0 mm 1,0 mm 1,0 mm 1,0 mm 1,0 mm

Bagian Kiri No. Hari/Tanggal Panjang awal 1. 2. 3. Minggu/ 5 Mei 2013 Senin/ 6 Mei 2013 Selasa/ 7 Mei 2013 Planaria 1 panjang 3,0 mm 3,0 mm 3,0 mm 3,0 mm lebar 0,5 mm 0,5 mm 0,5 mm 0,5 mm Planaria 2 panjang 6,0 mm 6,0 mm 6,0 mm 6,0 mm lebar 0,5 mm 0,4 mm 0,4 mm 0,5 mm Planaria 3 panjang 5,0 mm 5,0 mm lebar 0,5 mm 0,5 mm -

4. 5. 6. 7.

Rabu/ 8 Mei 2013 Kamis/ 9 Mei 2013 Jumat/ 10 Mei 2013 Sabtu/ 11 Mei 2013

3,1 mm 3,1 mm 3,1 mm 3,1 mm

0,5 mm 0,5 mm 0,5 mm 0,5 mm

6,0 mm 6,0 mm 6,0 mm 6,0 mm

0,5 mm 0,5 mm 0,5 mm 0,5 mm

V. Pembahasan

Bagian Kepala Pada hari ke-0 panjang awalnya Planaris 1 panjangnya : 1,5 mm, Planaria 2 panjangnya : 2 mm, dan Planaria 3 panjangnya : 4 mm. Pada hari pertama ini di bagian kepala terjadi pertumbuhan. Hal ini ditunjukkan ukurannya yang bertambah panjang yang Planaria 1 menjadi 1,8 mm, Planaria 2 menjadi 2,2 mm, dan Planaria 3 tetap ukurannya yang 4 mm. Pengamatan pada hari kedua pada bagian kepala planaria juga menunjukkan adanya pertumbuhan, ini ditunjukkan dari ukuran Planaria 1 yang bertambah panjang dibandingkan dengan hari yang pertama menjadi 2 mm, Planaria 2 ukurannya menjadi 2,5, planaria 3 menjadi 4,2 mm.

Pengamatan pada hari ke 3 pada bagian kepala menunjukkan adanya pertumbuhan juga, dapat dilihat dari bertambahnya ukuran kepala planaria 1 menjadi 2,3 mm, planaria 2 menjadi 2,8 mm, dan planaria 3 menjadi 4,5 mm dan pada pengamatan hari ketiga ini di bagian kepala juga masih tetap sama yaitu hanya terjadi pertambahan panjang pada badannya, belum terbentuk ekor.

Pada hari ke 4 pertumbuhan kepala sudah lebih panjang dari hari sebelumnya pada planaria 2 dan planaria 3 saja, sedangkan pada planaria 1 tidak mengalami pertumbuhan (mati). Planaria 2 ukurannya menjadi 3,1 mm sesangkan Planaria 3 menjadi 4,8 mm yang mana sudah terbentuk ekor.

Pada hari ke 5 pertumbuhan kepala hanya terjadi pada Planaria 3 yang ukurannya menjadi 5,2 mm sedangkan planaria lainnya mati atau tidak mengalami pertumbuhan.

Pada hari ke 6 dan hari ke 7 semua planaria tidak mengalami pertumbuhan atau mati. Untuk hasil pengamatan medium dari planaria tersebut, dari setiap harinya dari hari ke-0 sampai hari ke-7 yang awalnya keruh mengalami perubahan menjadi jernih karena kotorannya mengendap pada dasar permukaan medium, selain itu air medium diganti setiap 3 hari sekali dengan air medium planaria yang baru. Hal tersebut sesuai dengan peran planaria yang memakan jasad renik atau partikel-partikel kecil yang kasat mata sehingga hanya partikel besar yang tertinggal di gelas tempat tumbuh planaria. Berdasarkan hasil praktikum yang telah kami lakukan tentang regenerasi yang terjadi pada pada pemotongan melintang bagian kepala. Dalam perlakuan regenerasi ini, planaria tidak diberi makan selama proses regenerasi berlangsung sampai bagian tubuh planaria terbentuk sempurna.

Hal ini dilakukan karena apabila planaria diberi makanan maka dari makanan tersebut akan menyisakan kotoran dan mengubah kondisi lingkungan, sedangkan tempat hidup planaria di air yang dingin, segar dan jernih, sehingga dalam penelitian ini planaria dibiarkan beregenerasi tanpa pemberian makanan. Pada praktikum ini digunakan medium asli habitat planaria. Hal ini bertujuan agar medium asli ini dapat membantu penyembuhan luka tubuh planaria melalui zat makanan yang tersedia tanpa harus beradaptasi lagi jika menggunakan medium lain yang baru. Dengan ketersediaan makanan yang cukup, maka akan membantu planaria untuk beregenerasi dengan cepat. Pada pengamatan kita kali ini tidak dilakukan pergantian terhadap air medium,sehingga proses regenerasi berjalan lambat. Pada proses regenerasi, bagian tubuh planaria planaria yang mengontrol proses penyembuhan bagian tubuh yang rusak atau perbaikan organ ini adalah sel-sel formatif yang terdapat dibagian mesenkim. Pada proses regenerasi planaria menganut prinsip polaritas, yaitu kepala yang baru akan tumbuh dari bagian anterior tubuh. Faktor lain, planaria memiliki sumbu yang menghubungkan antara ujung anterior dengan ujung posterior, sehingga pada potongan vertical sumbu tersebut masih tetap ada dan dapat menyebabkan potongan tersebut beregenerasi dengan cepat. Namun, pada bagian kepala pada semua planaria (Planaria 1, 2, dan 3) mati. Hal ini dapat terjadi karena faktor medium atau air untuk regenerasi planaria tersebut, tempat penyimpanan yang salah. Artinya planaria membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi dan medium yang selalu jernih, apabila factor utama tersebut tidak terpenuhi maka planaria tidak mampu untuk melakukan regenerasi dan akhirnya mati. Selain faktor tersebut kami juga memotong tubuh bagian kepala mengalami kematian karena faktor suhu, ataupun penyinaran. Seharusnya bagian anterior lebih banyak membutuhkan energi untuk aktifitas

pergerakan dibanding energi yang tersimpan untuk pertumbuhan dan perkembangan kuncup. Sementara bagian posterior lebih sedikit energi yang dibutuhkan untuk pergerakan dan lebih banyak energi yang tersimpan untuk pertumbuhan dan perkembangan kuncup. Namun, hasil pengamatan yang diperolen itu tidak sesuai dengan teori yang ada karena habitat yang kurang mendukung pada pertumbuhannya Bagian tubuh planaria yang tidak tumbuh, tetap berada di dalam air seperti kotoran-kotoran kecil di dasar air. Apabila bagian badan tersebut hilang, dapat terjadi karena planaria yang telah mati berbentuk seperti kotoran-kotoran kecil di dasar air, jadi saat mengganti medium dengan air yang baru, kemungkinan bagian tersebut ikut terbuang, jadi pada hari berikutnya bagian tubuh tersebut saat diamati tidak ada. Bagian sisi kiri Pada Planaria yang dipotong membujur (kanan-kiri), pada pengamatan tubuh bagian sisi kiri terlihat adanya pertumbuhan yang positif. Diketahui bahwa panjang Planaria pada hari ketujuh pengamatan lebih besar daripada panjang pada awal mula (hari pertama pengamatan). Untuk lebar tidak ada pertumbuhan, yaitu tetap 0,5 mm. Pada pengukuran Planaria-1, pertumbuhan Planaria baru tampak signifikan mulai pada pengamatan hari ke-4, yaitu ada pertumbuhan panjang dari 3,0 mm menjadi 3,1 mm. Sedangkan untuk lebar, tidak ada pertumbuhan yang tampak jelas, sehingga pengamat menganggap bahwa tidak ada pertambahan besar untuk lebar. Pada pengukuran Planaria-2 hari pertama dan kedua (Minggu dan Senin), didapatkan bahwa lebar Planaria mengecil, atau lebih kecil daripada panjang awal. Hal ini tidak sesuai dengan teori, karena seharusnya tidak ada pertumbuhan yang bernilai negatif, apalagi mengingat bahwa Planaria merupaka spesies yang memiliki daya regenerasi yang tinggi. Sehingga ketidaksesuaian hasil pengamatan dengan teori ini setelah dianalisis, disebabkan pada saat

pengukuran, Planaria sedang bergerak aktif, yang menyebabkan pengamat kesulitan dalam mengukur lebar tubuh Planaria yang sebenarnya. Di samping itu, pergerakan Planaria pada hari pertama dan kedua tersebut adalah tidak lurus, melainkan miring ke arah kanan, sehingga Planaria tampak berenang dengan berat sebelah. Dengan demikian pengamat menentukan besar hasil pengukuran lebar kurang valid. Pada pengukuran Planaria-3, hanya dilakukan pada hari pertama saja. Pada hari kedua dan selanjutnya, Planaria mati sehingga tidak dapat lagi dilakukan pengamatan. Faktor yang menyebabkan Planaria mati di antaranya yaitu medium habitatnya kurang mendukung Planaria-3 tersebut untuk tetap bertahan hidup, adanya ketidak-seimbangan dalam memotong tubuh Planaria kanan-kiri tersebut. Artinya potongan tubuh sebelah kiri lebih kecil, sehingga polaritas pada bagian potongan sebelah kiri tersebut sulit untuk dipertahankan dan tidak mampu melakukan regenerasi sebagaimana mestinya. Bagian badan Pada pengamatan planaria 1, daya regenerasi dari tubuh planarianya tidak menunjukkna peningkatan yang terlalu signifikan. Hal ini terlihat dari penambahan panjang tubuh planaria yang hanya bertambah 0,1 mm setiap harinya. Pada pengamatan hari ke-1 dan hari ke-2 penambahan panjangnya tidak terlau terlihat, karna antara hari ke-1 dan hari ke-2 panjangnya hampir sama. Hal ini dapat terjadi karena pada hari tersebut terjadi pembentukan scub pada luka bekas potongan pada tubuh planaria. Setelah scub terbentuk nantinya akan tebentuk sel epitel yang bergerak secra amoeboi. Pembentukan scub dan amoeboid ini berlangsung sekitar 48 jam atau 2 hari. Hal inilah yang menyebabkan pemanjangan tubuh tidak terlalu terlihat pada hari ke-1 dan 2 karena masih adanya penyembuhan luka bekas potongan sebelum nantinya mengalami regenerasi. Dari hasil pengamtaan didapatkan hasil penambahan panjang planaria 1 dari hari ke-0 yang panjangnya 3 mm hingga hari ke-7 dengan total penambahan panjangnya yaitu 3,7 mm. Pada palanaria 2 dan planaria 3 penambahan panjangnya sama yaitu dengan panjang awal 4 mm serta total panjang akhir menjadi 4, 7 mm. Pada

planaria 2 dan 3 pertumbuhan planarianya relatif optimal. Hal ini dikarenakan temperatur habitat planaria relatif lebih stabil yang sesuai dengan temperatur tumbuh planaria. Selain itu, pertumbuhan planaria relatif lebih optimal dikareanakan air yang digunakan sebagai tempat tumbuh planaria disesuaiakan dengan air habitat awal planaria yaitu air sungai.

Bagian Sisi Kanan Potongan sisi kanan dari planaria ini merupakan bagian dari satu tubuh planaria yang dibelah menjadi dua bagian secara membujur. Namun pada praktikum yang telah dilakukan ini ternyata antara potongan kanan dan kiri ada ketidak seimbangan dalam hal ukuran panjang maupun lebar dari tubuh planaria. Pada bagian potongan sisi kanan menggunakan sample tiga potongan bagian kanan. Pada planaria-1 pengamatan hari ke-0 diperoleh hasil penukuran sebesar 3mm panjang dan lebarnya 0,5mm. Pada hari berikutnya, planaria-1 mati sehingga pengamatan terhadap planaria-1 tidak dapat dilanjutkan. Faktor penyebab dari matinya planaria ini menurut pandangan pengamat adalah dikarenakan potongan yang tidak seimbang, yaitu ukurannya yang lebih kecil daripada potongan satunya yang berada di sisi kiri. Setelah adanya planaria yang mati di dasar gelas ditemukan struktur menyerupai serbuk halus, yang diasumsikan sebagai leburan dari tubuh planaria tersebut yang bercampur dengan zat yang secara alamiah terkandung di dalam air sungai. Pada planaria-2 ini pada hari ke-0 diperolah hasil pengukuran panjang planaria-2 sebesar 6mm dan lebarnya 0,5mm. kemudian pengukuran planaria dilakukan pada hari kedua langsung dan didapat hasil panjangnya 6mm dan lebarnya 1mm. Demikian pula pada hari-hari selanjutnya pengukuran diperoleh hasil yang sama. Hal ini dimungkinkan karena kesulitan pada saat mengukur pertumbuhan panjang dan lebar dari planaria disebabkan oleh pergerakan planaria

yang gesit, selain itu bagian dasar dari gelas aqua yang digunakan untuk menaruh planaria juga memiliki bagian cekungan ke dalam dibawahnya sehingga sulit ketika melakukan pengukuran terhadap planaria. Pada planaria-3 hari ke-0 pengukuran diperoleh hasil berupa panjangnya sebesar 5mm dan lebarnya sebesar 0,5mm. selanjutnya pengamatan dan pengukuran dilakukan pada hari ke-2 dan didapat hasil panjangnya sebesar 5mm dan lebarnya 1mm. Dan hasil ini diperoleh pada pengukuran selanjutnya. Mungkin secara teori seharusnya pertumbuhan ini secara sedikit demi sedikit dan bersifat kontinu. Namun banyak hal yang dapat mempengaruhi pengamatan selama melakukan praktikum ini. Pada bagian potongan tubuh kanan ini secara keseluruha dari awal dapat diamati bahwa perkembngan planaria ini dalam bergerak cenderung kearah kanan karena pada bagian inilah tubuh yang utuh (tidak mengalami pemotongan). Setelah secara sempurna tumbuh, planaria bergerak seperti keadaan normal yaitu meliuk-liuk dan membalik tubuh dengan sangat gesit. DAFTAR PUSTAKA

Baharrudin, 2010. Pengaruh Perbedaan Jenis Makanan dan Kecepatan Arus Terhadap Keberadaan Planaria. http://pusdiklatteknis.depag.go.id/index.php/20100219115/pengaruhperbedaan-jenis-makanan-dan-kecepatan-arus-terhadap-keberadaanplanaria.html . Diakses pada tanggal 12 Mei 2013 Brotowidjoyo, M. D. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga Campbell, N.A. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta : Erlangga . Kastawi, dkk. 2001. Zoologi Avertebrata. Malang : JICA IMSTEP Radiopoetro, dkk. 1990. Zoologi. Jakarta: Erlangga

Rita, 2011. Pengaruh Jenis Air Terhadap Kecepatan Regenerasi Cacing Planaria , http://ritacuitcuit.blogspot.com/2011/02/pengaruh-jenis-air kecepatan. html. Diakses pada tanggal 12 Mei 2013 Soemadji,1994. Zoologi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tim Dosen Pembina Mata kuliah Perkembangan Hewan. 2013. Petunjuk Praktikum Perkembangan Hewan. Jember: Universitas Jember terhadap

Anda mungkin juga menyukai