Anda di halaman 1dari 17

IDENTIFIKASI DAN PENANGGULANGAN PROBLEM PRODUKSI DI LAPANGAN MINYAK

PROPOSAL KOMPREHENSIF

OLEH : ANTON NURCAHYO TRIWIBOWO 113090053

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA 2013

IDENTIFIKASI DAN PENANGGULANGAN PROBLEM PRODUKSI DI LAPANGAN MINYAK

PROPOSAL KOMPREHENSIF

Oleh: ANTON NURCAHYO TRIWIBOWO 113090053

Disetujui Untuk : Program Studi Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. H. Harry Budiharjo S, M.T.

I.

LATAR BELAKANG Dalam memproduksikan fluida reservoir, selalu diusahakan agar sumur dapat berproduksi pada laju produksi yang optimum. Tetapi terkadang untuk memproduksikan fluida reservoir pada laju optimum sangat sulit untuk dicapai. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor. Oleh karena itu, sangat perlu diketahui potensi dari formasi, sifat fisik batuan dan fluida reservoir, kondisi reservoir serta masalah-masalah yang mungkin timbul selama sumur berproduksi. Sumur-sumur minyak maupun gas cepat atau lambat akan mengalami penurunan produksi bersamaan dengan waktu yang terus berjalan. Penurunan produksi bisa disebabkan antara lain oleh kerusakan formasi maupun kerusakan pada lubang sumur. Kerusakan formasi yang terjadi di sekitar lubang sumur akan mengakibatkan permeabilitas dan porositas efektif batuan menurun dari sebelumnya sehingga aliran fluida dari formasi ke lubang sumur akan terhambat. Masalah-masalah yang timbul selama sumur berproduksi ini disebut sebagai problem produksi. Akibat yang ditimbulkan problem ini yang utama adalah menurunnya produktivitas formasi dan menurunnya laju produksi. Problem produksi yang menyebabkan penurunan produktivitas formasi dikelompokkan menjadi kerusakan formasi, endapan scale formasi, produksi air/gas berlebihan dan problem kepasiran. Sedangkan problem produksi yang menyebabkan penurunan laju produksi dikelompokkan menjadi problem emulsi, scale, korosi, dan parafin. Problem-problem produksi tersebut dapat diidentifikasi dengan analisa logging, analisa core, analisa welltest, analisa data produksi dan analisa fluida reservoir, serta dilakukan analisa lain secara mekanis pada peralatan-peralatan produksi. Dari identifikasi ini kita akan dapat mengetahui kemungkinan timbulnya problem produksi yang sering terjadi pada saat sumur akan mulai berproduksi atau setelah beberapa lama berproduksi.

II.

MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari penulisan komprehensif ini adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi apa saja problem produksi yang terdapat pada suatu sumur atau lapangan minyak. Tujuan dari penulisan komprehensif ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara menanggulangi problem yang terjadi pada sumur minyak sehingga dapat memproduksikan minyak dengan laju produksi yang seoptimal mungkin.

III. TINJAUAN PUSTAKA Dalam memproduksikan fluida hidrokarbon dari reservoir, seringkali dihadapkan pada problem-problem produksi. Problem-problem ini berkaitan dengan jenis fluida yang diproduksikan dan karakteristik reservoirnya. Jenis-jenis problem produksi yang termasuk didalamnya adalah problem kerusakan formasi, scale, kepasiran, emulsi, korosi, parafin, dan water/gas coning. Adanya problem produksi ini dapat mengakibatkan menurunnya produktifitas formasi dan menurunnya laju produksi. Problem produksi yang pertama yaitu kerusakan formasi. Kerusakan formasi adalah perubahan yang terjadi di sekitar lubang bor sebagai akibat dari operasi pemboran, komplesi, perforasi, dan stimulasi. Kerusakan formasi dapat disebabkan oleh invasi cairan (fluida pemboran, komplesi, stimulasi, workover) dan oleh invasi padatan. Identifikasi terjadinya kerusakan formasi yaitu dengan adanya suatu pressure drop di sekitar sumur. Problem produksi yang kedua yaitu scale. Scale adalah endapan mineral yang terbentuk pada bidang permukaan yang bersentuhan dengan air formasi saat minyak diproduksikan dari reservoir ke permukaan. Penyebab langsung pembentukan scale diantaranya adalah penurunan tekanan, perubahan temperatur, dan terjadinya agitasi. Identifikasi adanya problem scaledilakukan dengan analisa air formasi dan analisa terhadap peralatan produksi.

Problem produksi yang ketiga yaitu problem kepasiran. Problem ini disebabkan karena adanya butiran berukuran pasir di sekitar sumur terbawa oleh aliran fluida dan akan tertimbun di dasar sumur (untuk butiran besar) atau terbawa ke permukaan (untuk butiran kecil). Jumlah pasir yang terbawa tergantung pada kecepatan aliran dan pressure drop disekitar lubang sumur. Untuk kecepatan aliran yang rendah atau pressure drop kecil, pasir yang terlepas merupakan butiran-butiran, tetapi pada kecepatan aliran yang tinggi, pasir yang terlepas sudah merupakan gumpalan-gumpalan kecil, sehingga akan mempercepat terjadinya kerusakan formasi. Identifikasi problem kepasiran dengan kriteria parameter faktor sementasi yang relatif kecil, kekuatan formasi yang relatif kecil, laju produksi yang lebih besar dari laju produksi kritis, dan pertambahan saturasi. Persamaan empiris yang menunjukkan hubungan faktor formasi (F) terhadap porositas () dan faktor sementasi (m) telah diberikan Archie dalam bentuk sebagai berikut :
F m ................................................................................. (1)

Problem produksi yang keempat yaitu emulsi. Emulsi adalah campuran atau kombinasi dari dua macam fluida yang dalam keadaan normal tidak dapat bercampur, dimana cairan yang satu berpencar disegala arah dalam cairan lainnya dalam bentuk butiran yang sangat kecil. Problem emulsi umumnya timbul pada saat air mulai terproduksi bersama minyak. Air yang tidak dapat bercampur dengan minyak dinamakan air bebas dan dengan mudah dipisahkan dengan cara pengendapan. Namun ada emulsi air dan minyak yang tidak dapat berpisah, sehingga perlu dilakukan suatu usaha untuk pemecahannya. Identifikasi emulsi dilakukan dengan metode Dean and Stark Method. Selain itu bisa juga dilihat dari hasil test yang berupa Water Oil Ratio (WOR). Crude oil yang baik adalah yang mempunyai kandungan air maksimal 1 % atau kurang dari 1 %. Untuk mengetahui banyaknya kandungan air dalam sample maka dapat dihitung dengan :

Volume air Kandungan air= x 100 % ............................. (2) Volume Sample Persamaan yang digunakan untuk memperkirakan besarnya laju aliran kritis yang diizinkan tanpa terproduksinya pasir adalah sebagai berikut:
Qz 0.025 10 6 K z N z G z Az Bz z At

........................................... (3)

dimana : Qz = laju aliran kritis tanpa kepasiran, STB/day Kz = permeabilitas formasi, md Nz = jumlah lubang perforasi Gz = modulus geser, psi Bz = faktor volume formasi minyak, BBL/STB z = viskositas minyak, cp Az = luas kelengkungan butir pasir pada kondisi pengamatan, ft2 At = luas kelengkungan butir pasir pada kondisi test, ft2. Problem produksi yang kelima yaitu korosi. Korosi adalah kerusakan dari metal akibat reaksi kimia atau elektrokimia dari metal tersebut dengankondisi sekelilingnya atau lingkungannya. Korosi pada logam dapat disebabkan oleh beberapa hal. Yang pertama yaitu pengaruh komposisi logam, dimana setiap logam yang berbeda mempunyai kecenderungan yang berbeda terhadap korosi. Yang kedua yaitu pengaruh komposisi air, dimana pengkaratan oleh air akan meningkat dengan naiknya konduktivitas. Disamping itu pengkaratan oleh air juga akan meningkat dengan menurunnya pH air. Kelarutan gas, dimana oksigen, karbon dioksida atau hidrogen sulfida yang terlarut didalam air akan menaikkan korosivitas

secara drastis. Gas yang terlarut adalah sebab utama problem korosi. Identifikasi korosi yaitu dengan pemeriksaan secara langsung (caliper survey, casing thickness, log) dan pemeriksaan secara tidak langsung. Problem produksi yang keenam adalah parafin. Parafin adalah unsurunsur pokok yang banyak terkandung dalam minyak mentah. Endapan pada umumnya sebagian besar terdiri dari endapan parafin sendiri dan endapan lain, seperti pasir, lempung, silt, resin, dan garam garam mineral. Pada umumnya endapan parafin terjadi bila minyak yang diproduksikan banyak mengandung komponen berat (C18 - C38) atau biasa disebut minyak berat, dengan demikian dapat dikatakan bahwa minyak berat sering menimbulkan endapan parafin. Selain itu parafin dapat juga terbentuk jika temperatur minyak lebih rendah dari pour dan cloud pointnya. Identifikasi parafin dilakukan dari data yang didapatkan dari penilaian formasi (drilling log dan analisa air formasi). Problem produksi yang terakhir yaitu coning. Coning ditandai oleh breaktrough air atau gas yang terlalu dini. Penyebab timbulnya gejala coning pada dasarnya disebabkan oleh laju produksi yang berlebihan. Penyebab dari water/gas coning adalah zone air/gas yang cukup besar di bawah maupun di atas zona minyak. Identifikasi suatu sumur akan mengalami coning dapat dilihat dari jenis reservoir dan karakteristik reservoir. Jenis reservoirnya, misalnya reservoir water drive untuk kasus water coning dan reservoir gas cap untuk kasus gas coning. Sedangkan data untuk mengetahui jenis reservoir tersebut diperoleh dari ekplorasi. Karakteristik reservoirnya, data karakteristik reservoir meliputi ketebalan zona minyak dari arah vertikal dan horizontal, diperoleh dari analisa inti batuan. Densitas minyak, air, dan gas, diperoleh dari analisa fluida reservoir. Sedangkan faktor volume formasi dan viskositas fluida, diperoleh dari analisa PVT. Timbulnya problem produksi dalam memproduksikan fluida formasi merupakan keadaan yang tidak dapat dihindarkan dan menimbulkan kerugian. Sehingga perlu dilakukan pencegahan sebelum problem tersebut

terjadi dan apabila sudah terjadi maka perlu dilakukan upaya penanggulangannya. Ada beberapa metode untuk mengatasi problem produksi yang timbul, dimana pemilihan metode untuk mengatasi problem produksi didasarkan pada faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya problem produksi tersebut. Usaha yang sering dilakukan untuk mengatasi problem kerusakan formasi yaitu dengan stimulasi sumur. Stimulasi adalah kegiatan dalam usaha untuk meningkatkan produktifitas dengan cara memperbaiki kerusakan sumur. Tujuan stimulasi yaitu untuk memperbaiki laju produksi sumur sehingga diperoleh laju yang optimum. Ada beberapa jenis stimulasi yang ada, tetapi yang paling cocok digunakan untuk mengatasi problem kerusakan formasi adalah stimulasi jenis acidizing. Sedangkan pembersihan problem endapan scale dilakukan dengan cara mekanikal, kimiawi, dan gabungan mekanik-kimiawi. Untuk menanggulangi scale dapat dibedakan menjadi dua tempat, yaitu scale yang terdapat di pipapipa (di permukaan) dan scale yang terdapat di dalam sumur atau formasi. Untuk itu semua digunakan zat-zat kimia yang dapat melarutkannya. Usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kepasiran adalah dengan cara memproduksikan minyak pada laju produksi maksimum tanpa menimbulkan kepasiran (maximum sand free flow rate). Problem ikut terproduksinya pasir dapat dikontrol dengan pengurangan drag force, bridging sand (metode mekanik, gravel pack, dan sand screen), dan penambahan formation strength (metode kimia, resin unconsolidated method). Pencegahan problem emulsi dapat dilakukan dengan cara mencegah terproduksinya air bersama-sama dengan minyak, mengurangi agitasi dalam aliran sewaktu berproduksi, memisahkan air dari minyak secepatnya setelah mencapai permukaan, dan menghindari masuknya air/filtrat lumpur bor ke dalam lapisan produksi sewaktu pemboran. Penanggulangan emulsi dapat dilakukan dengan cara dehidrasi, yaitu proses pemisahan air dengan minyak.

Beberapa cara pemecahan emulsi yaitu dengan metode gaya berat, metode pemanasan, metode listrik, dan metode kimia. Problem korosi dapat dicegah dengan menggunakan inhibitor, menetralisir gas, cathodic protection, pengontrolan korosi pada saat mendesain konstruksi, coating (metallic coating dan plastic coating), dan organic coating. Sedangkan cara-cara untuk mengatasi korosi yaitu dengan pemilihan material engineering design, penghilangan gas-gas yang bersifat korosif, dan penggunaan bahan-bahan non logam. Untuk menanggulangi problem parafin harus diperhatikan mengenai jenis minyak yang menyebabkannya, yaitu dengan analisa di lapangan maupun di laboratorium. Analisa laboratorium harus dipakai sebagai dasar untuk memilih cara yang paling tepat dan ekonomis untuk mencegah terjadinya pengendapan wax dari sumur yang telah dikomplesi dari tiap tiap reservoir. Metode yang sering digunakan untuk menanggulangi problem parafin adalah mechanic removal, solvent removal, heat, dan dispersant. Usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya coning yaitu dengan memproduksikan minyak pada rate produksi yang sesuai, tidak melebihi laju produksi kritis. Selain itu, coning dapat dicegah dengan melakukan pemboran horizontal, sehingga efek pengurasan dapat lebih merata dalam bidang horizontal. Cara-cara yang digunakan untuk mengatasi coning yaitu dengan memindahkan interval perforasi pada kedalaman yang lain, pengurangan laju produksi agar lebih kecil dari laju aliran kritisnya, dan apabila data menunjukkan hasil penyemenan yang tidak baik maka dapat dilakukan squeeze cementing. IV. KESIMPULAN SEMENTARA 1. Problem produksi adalah permasalahan yang timbul saat memproduksi fluida hidrokarbon dari reservoir yang menyebabkan kapasitas produksi suatu sumur menurun. Problem-problem ini berkaitan dengan jenis fluida yang diproduksikan dan karakteristik reservoirnya. 2. Problem kerusakan formasi dapat diidentifikasi dengan adanya harga

skin faktor yang berharga positif. Usaha penanggulangannya adalah dengan stimulasi sumur. 3. Problem ini dapat diidentifikasi dengan menganalisa air formasi baik secara fisik maupun kimia. Penanggulangan scale dapat dilakukan dengan penggunaan zat kimia. 4. Problem Kepasiran dapat diidentifikasikan dengan kriteria parameter faktor sementasi batuan yang relatif kecil, kekuatan formasi yang relatif kecil, dan laju produksi yang besar (lebih besar dari laju produksi kritis). Penanggulangan problem ikut terproduksinya pasir dapat dikontrol dengan tiga cara, yaitu pengurangan drag force, bridging sand (metoda mekanik, gravel pack dan sand screen), dan penambahan formation strength (metoda kimia, resin consolidation method). 5. Problem emulsi dapat diidentifikasi dengan analisa fluida reservoir. Emulsi yang telah terproduksi dapat diatasi dengan menggunakan metoda kimia, pemanasan, gaya berat dan metoda kombinasi. 6. Pencegahan problem korosi dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara-cara yang biasa digunakan dalam pencegahan korosi yaitu dengan menggunakan inhibitor, menghilangkan atau menetralisir gas dan asam, coating, dan penggunaan metal tahan korosi. 7. Problem Parafin dapat diidentifikasi dengan analisa fluida reservoir. Penanggulangan problem parafin dapat dilakukan dengan mechanical removal, solvent removal, dan pemanasan. 8. Indikasi problem coning dapat diketahui dari produksi air dan atau gas yang berlebihan sebelum waktunya. Penanggulangan problem coning dapat dilakukan dengan reperforasi, menurunkan laju produksi, dan squeeze cementing.

VII. RENCANA DAFTAR PUSTAKA Amyx, J.W.Jr. Bass, M.D., Whiting, RI. Petroleum Reservoir Engineering. Mc Graw Hill Book Company, New York, 1960. Bradley H.B.. Petroleum Engineering Handbook. Second Printing, SPE, Richardson, TX, USA, 1987. Burcik E.J..Oil Properties of Petroleum Reservoir Fluids. International Human Resources Development, Boston, 1997. Craft, B.C. dan M.F. Hawkins, Applied Petroleum Reservoir Engineering, Prentice-Hall Inc., Englewood Cliffs, New Jersey, 1959. L.P. Dake. Fundamentals of Reservoir Engineering, Elsevier. Amsterdam. 1978. Allen, T.O. and Robert, A.P., Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation, Volume I & II, Second Edition, Oil and Gas Consultants International Inc.,Tulsa, 1982. Amyx, J.W., Bass D.M.Jr, Whitting R.L.Petroleum Reservoir Engineering Physical Properties, Mc. Graw Hill Book Company, New York, USA-Toronto Cabada-London, England, 1960. Brown, K.E., H.D. Begg, The Technology of Atificial Lift Methods, Volume IA, IB, IV, Division of Penwell Publishing Company, Tulsa, 1979. Burcik, E.J., Physical Properties of Petroleum Reservoir Fluids, John Willey and Sons Inc., New York, 1961. Becher.P,Emulsion Theory and Practice, Reinhold Publishing Cooporation, New York, 1957. Economides,M.J, Hill,A.Daniel, Economides,Christine Ehlig, Petroleum Production Systems , PTR Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey 07632.

VIII. RENCANA DAFTAR ISI

RENCANA DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................. HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... KATA PENGANTAR ........................................................................... DAFTAR ISI.......................................................................................... DAFTAR GAMBAR ............................................................................. DAFTAR TABEL ................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ BAB I. PENDAHULUAN ............................................................... BAB II. KARAKTERISTIK RESERVOIR ................................... 2.1. Karakteristik Batuan Reservoir .................................... 2.1.1. Komposisi Kimia Batuan Reservoir .................... 2.1.1.1. Batupasir ............................................ 2.1.1.2. Batuan Karbonat ................................. 2.1.1.3. Batuan Shale ....................................... 2.1.2. Sifat Fisik Batuan Reservoir ............................ 2.1.2.1.Porositas ............................................... 2.1.2.2. Wetabilitas .......................................... 2.1.2.3. Tekanan Kapiler .................................

2.1.2.4. Saturasi Fluida ................................... 2.1.2.5. Permeabilitas ...................................... 2.1.2.6. Kompresibilitas .................................... 2.2. Karakteristik Fluida Reservoir .................................... 2.2.1. Komposisi Kimia Fluida Reservoir .................. 2.2.1.1. Komposisi Kimia Hidrokarbon ............ 2.2.1.2. Komposisi Kimia Air Formasi ............. 2.2.2. Sifat Fisik Fluida Formasi................................. 2.2.2.1. Sifat Fisik Gas .................................... 2.2.2.1.1. Densitas Gas ...................... 2.2.2.1.2. Viscositas Gas .................... 2.2.2.1.3. Faktor Volume Formasi Gas .................................... 2.2.2.1.4. Kelarutan Gas Dalam Minyak .............................. 2.2.2.1.5. Kompresibilitas Gas ......... 2.2.2.2. Sifat Fisik Minyak ............................. 2.2.2.2.1. Densitas Minyak ................ 2.2.2.2.2. Viscositas Minyak.............. 2.2.2.2.3. Faktor Volume Formasi Minyak ................................. 2.2.2.2.4. Kompresibilitas Minyak .... 2.2.2.2.5. Tegangan Permukaan Minyak Air ....................... 2.2.2.3. Sifat Fisik Air Formasi ...................... 2.2.2.3.1. Densitas Air Formasi ......... 2.2.2.3.2. Viscositas Air Formasi. ..... 2.2.2.3.3. Faktor Volume Formasi Air Formasi ....................... 2.2.2.3.4. Kelarutan Gas Dalam Air Formasi .............................

2.2.2.3.5. Kompresibilitas Air Formasi ............................. 2.2.2.3.6. Sifat Kelistrikan Air Formasi ............................. 2.3. Kondisi Reservoir ......................................................... 2.3.1. Tekanan Reservoir ........................................... 2.3.1.1. Tekanan Overburden ........................... 2.3.1.2. Tekanan Hidrostatik ........................................ 2.3.2. Temperatur Reservoir ....................................... 2.4. Jenis-jenis Reservoir .................................................... 2.4.1. Berdasarkan Jenis Reservoir ............................ 2.4.1.1. Perangkap Struktur .............................. 2.4.1.2. Perangkap Stratigrafi .......................... 2.4.1.3. Perangkap Kombinasi .......................... 2.4.2. Berdasarkan Kelakuan Fasa Fluida

Hidrokarbon......................................................... 2.4.2.1. Reservoir Gas ...................................... 2.4.2.2. Reservoir Gas Kondensat .................... 2.4.2.3. Reservoir Minyak ................................ 2.4.3. Berdasarkan Mekanisme Pendorong ..................... 2.4.3.1. Solution Gas Drive............................... 2.4.3.2. Gas Cap Drive ..................................... 2.4.3.3. Water Drive ......................................... 2.4.3.4. Gravitational Segregation Drive .......... 2.4.3.5. Combination Drive .............................. BAB III. IDENTIFIKASI DAN PENANGGULANGAN PROBLEM PRODUKSI .................................................... 3.1. Problem Kerusakan Formasi ........................................ 3.1.1. 3.1.2. Faktor Penyebab Kerusakan Formasi .............. Identifikasi Kerusakan Formasi .......................

3.1.3. Pencegahan Timbulnya Problem Kerusakan Formasi ............................................................. 3.1.4. Penanggulangan Problem Kerusakan Formasi ....................................................... .. 3.1.4.1. Acidizing .......................................................... 3.1.4.2. Hydraulic Fracturing ........................................ 3.2. Problem Scale .............................................................. 3.2.1. Faktor Penyebab Terbentuknya Problem Scale ................................................................. 3.2.2. 3.2.3. 3.2.4. Mekanisme Terbentuknya Problem Scale........ Cara-cara Terbentuk dan Klasifikasi Scale ...... Jenis dan Faktor Yang Mempengaruhi Scale ... 3.2.4.1. Calcium Carbonate .............................. 3.2.4.2. Calcium Sulfat .................................... 3.2.4.3. Barium Sulfat ..................................... 3.2.4.4. Stronsium Sulfat ................................. 3.2.4.5. Senyawa Besi ...................................... 3.2.5. Identifikasi Problem Scale ............................... 3.2.5.1.Analisa Kimia Air Formasi .................. 3.2.5.2.Metoda Perhitungan Kelarutan ............ 3.2.5.2.1.Scale Kalsium Karbonat ........... 3.2.5.2.1.1.Metoda Langelier ............ 3.2.5.2.1.2.Metoda Ryznar ................ 3.2.5.2.1.3.Metoda Stiff and Davis ... 3.2.5.2.1.4. Metoda OddoThompson ...................... 3.2.5.2.2.Scale Kalsium Sulfat ................ 3.2.5.2.2.1.Metoda Case .................... 3.2.5.2.2.2.Metoda SkillmanMcDonald-Stiff .................. 3.2.5.2.3.Scale Barium Sulfat ..................

3.2.6.

Pencegahan Terbentuknya Scale ......................

3.2.6.1. Menggunakan Zat Kimia Pengontrol Scale .................................................. 3.2.6.2. Metode Pencegahan Alternatif ......................... 3.2.7. Penanggulangan Endapan Scale ......................

3.2.7.1. Menghilangkan Scale di Pipa-Pipa ............ 3.2.7.2. Menghilangkan Scale di Dalam Sumur dan Formasi ........................... 3.3. Problem Kepasiran ....................................................... 3.3.1. Faktor Yang Mempengaruhi Kestabilan Formasi ............................................................. 3.3.2. 3.3.3. PenyebabTerjadinya Problem Kepasiran ........ Identifikasi Problem Kepasiran ........................

3.3.4. Pencegahan Problem Kepasiran ....................... 3.3.5. Penanggulangan Problem Kepasiran ............... 3.3.5.1. Pengurangan Drag Force ..................... 3.3.5.2. Metode Mekanis ................................................. 3.3.5.3. Metode Kimia...................................... 3.4. Problem Emulsi ............................................................ 3.4.1. 3.4.2. 3.4.3. 3.4.4. Faktor Penyebab Problem Emulsi .................... Jenis-jenis Emulsi ............................................ Stabilisasi Emulsi ........................................... Identifikasi Problem Emulsi.............................

3.4.4.1.Metode Dean and Stark ....................................... 3.4.5. Pencegahan Problem Emulsi ........................... 3.4.6. Penanggulangan Problem Emulsi ................... 3.5. Problem Korosi ............................................................ 3.5.1. Faktor Penyebab Problem Korosi ....................

3.5.2. Mekanisme Pembentukan Korosi ................... 3.5.2.1. Jenis-Jenis Korosi ............................. 3.5.2.2. Faktor Yang Mempengaruhi Korosi ...

3.5.3.

Identifikasi Problem Korosi .............................

3.5.4. Pencegahan Timbulnya Problem Korosi ......... 3.5.5. Penanggulangan Problem Korosi .................... 3.6. Problem Parafin ........................................................... 3.6.1. Faktor Penyebab Problem Parafin.................... 3.6.2. Mekanisme Terjadinya Pengendapan Parafin .. 3.6.3. Identifikasi Problem Parafin ...........................

3.6.3.1. Penentuan Titik Kabut dan Titik Tuang .................................................. 3.6.4. Pencegahan Terjadinya Endapan Parafin ......... 3.6.5. Penanggulangan Problem Parafin .................... 3.7. Problem Coning .......................................................... 3.7.1. 3.7.2. 3.7.3. 3.7.4. Faktor Penyebab Coning .................................. Mekanisme Terjadinya Coning ........................ Identifikasi Coning........................................... Pencegahan Problem Coning ...........................

3.7.5. Penanggulangan Problem Coning ............................... BAB IV. PEMBAHASAN..................................................................... BAB V.KESIMPULAN ....................................................................... DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ LAMPIRAN