Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Sekitar 87 persen perangkat lunak yang beredar di Indonesia merupakan produk bajakan. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai 10 besar negara pembajak perangkat lunak di seluruh dunia. Ada dua hal untuk meminimalisasi pembajakan. Pertama, mengedukasi pengguna perangkat lunak atas keuntungan yang dapat diraih dengan menggunakan perangkat lunak asli. Kedua, memersuasi ritel agar menjual perangkat lunak asli. Sementara itu, Chief Operating Officer Microsoft Indonesia Faycal Bouchlaghem mengantisipasi pembajakan dengan menawarkan Windows7 untuk berbagai segmen, seperti untuk sekolah (Windows School), usaha kecil menengah, dan profesional. Tujuannya, agar konsumen dapat membeli versi Windows7 yang lebih murah sesuai kebutuhan. Penjualan Windows7 dipercaya akan baik sebab pertumbuhan penjualan komputer di Indonesia sekitar 20 persen per tahun, lebih tinggi dari pertumbuhan Asia. Setahun, 2 juta - 2,5 juta unit komputer dijual. Pertumbuhan komputer di Indonesia adalah tercepat di Asia. Pasar Indonesia akan diserbu dengan produk Acer yang dikemas dengan perangkat lunak Windows7. (http://blog-artikel-menarik.blogspot.com/2008/05/5-negara-pembajak-software-terbesar.html) 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa sebab terjadinya pembajakan software di Indonesia? 2. Apakah dampak dari pembajakan software bagi Indonesia? 3. Bagaimana upaya Pemerintah dalam meminimalisasi pembajakan software di Indonesia? 1.3 Tujuan Masalah 1. Untuk mengetahui sebab terjadinya pembajakan software di Indonesia

2. Untuk mengetahui dampak dari pembajakan software bagi Indonesia 3. Untuk mengetahui upaya Pemerintah dalam meminimalisasi pembajakan software di Indonesia BAB II PEMBAHASAN A. HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) ''Hak atas Kekayaan Intelektual'' (HaKI) merupakan terjemahan atas istilah '' Intellectual Property Right'' (IPR). Istilah tersebut terdiri dari tiga kata kunci yaitu: ''Hak'', ''Kekayaan'' dan ''Intelektual''. Kekayaan merupakan abstraksi yang dapat: dimiliki, dialihkan, dibeli, maupun dijual. Sedangkan ''Kekayaan Intelektual'' merupakan kekayaan atas segala hasil produksi kecerdasan daya pikir seperti teknologi, pengetahuan, seni, sastra, gubahan lagu, karya tulis, karikatur, dan seterusnya. Terakhir, HaKI merupakan hak-hak (wewenang/kekuasaan) untuk berbuat sesuatu atas Kekayaan Intelektual tersebut, yang diatur oleh norma-norma atau hukumhukum yang berlaku. ``Hak'' itu sendiri dapat dibagi menjadi dua. Pertama, ``Hak Dasar (Azasi)'', yang merupakan hak mutlak yang tidak dapat diganggu-gugat. Umpama: hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan keadilan, dan sebagainya. Kedua, ``Hak Amanat/ Peraturan'' yaitu hak karena diberikan oleh masyarakat melalui peraturan/perundangan. Di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Indonesia, HaKI merupakan ''Hak Amanat/Pengaturan'', sehingga masyarakatlah yang menentukan, seberapa besar HaKI yang diberikan kepada individu dan kelompok. Sesuai dengan hakekatnya pula, HaKI dikelompokkan sebagai hak milik perorangan yang sifatnya tidak berwujud (intangible). Terlihat bahwa HaKI merupakan Hak Pemberian dari Umum (Publik) yang dijamin oleh Undang-undang. HaKI bukan merupakan Hak Azazi, sehingga kriteria pemberian HaKI merupakan hal yang dapat diperdebatkan oleh publik. Undang-undang mengenai HaKI pertama kali ada di Venice, Italia yang menyangkut masalah paten pada tahun 1470. Caxton, Galileo, dan Guttenberg tercatat sebagai penemu-

penemu yang muncul dalam kurun waktu tersebut dan mempunyai hak monopoli atas penemuan mereka. Hukum-hukum tentang paten tersebut kemudian diadopsi oleh kerajaan Inggris di jaman TUDOR tahun 1500-an dan kemudian lahir hukum mengenai paten pertama di Inggris yaitu Statute of Monopolies (1623). Amerika Serikat baru mempunyai undang-undang paten tahun 1791. Upaya harmonisasi dalam bidang HaKI pertama kali terjadi tahun 1883 dengan lahirnya konvensi Paris untuk masalah paten, merek dagang dan desain. Kemudian konvensi Berne 1886 untuk masalah Hak Cipta (Copyright). Dan Software masuk dalam Hak Cipta yang dilindungi. Hak Cipta adalah hak khusus bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencipta atau pemegang hak cipta memiliki hak khusus untuk memberikan izin atau melarang orang lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak dan menyiarkan rekaman suara atau gambar dari pertunjukannya. Pembajakan Software termasuk tindakan pidana yang melanggar Hak Cipta. Ketentuan pidana Hak Cipta, antara lain: a dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberikan izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). b. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak membuat, memperbanyak atau menyiarkan rekaman suara dan atau gambar dari pertunjukannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). c. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta dan hak yang berkaitan dengan hak cipta dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak 150,000.000,00.

d. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak merusak atau membuat tidak berfungsinya teknologi kontrol yang dipergunakan untuk mengontrol hak pencipta dan pihak terkait diancam pidana penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak Rp. 45.000.000,00. e. Ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta dirampas atau diambil alih negara untuk dimusnahkan. f. Tindak pidana sebagaimana dimaksud di atas adalah kejahatan. B. Defenisi Pembajakan Software Tidak hanya di industri musik, pembajakan terjadi juga di industri yang berkaitan dengan piranti digital lainnya seperti software. Di indonesia, pembajakan terjadi tanpa batas. Memang ada aturan hukum yang jelas untuk melarang pembajakan tersebut. namun tidak ada pelaksanaan yang jelas dan kontinyu untuk menyelesaikan persoalan ini. Berbagai pihak mempersoalkan tentang pembajakan. Untuk itu, kita harus mengetahui terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan pembajakan itu sendiri. Pembajakan adalah penggunaan file digital yang memiliki hak cipta untuk sebuah tujuan komersial tanpa membayarkan royalti kepada pemegang hak cipta. Nama lain dari Software disebut juga dengan perangkat lunak. Seperti nama lainnya itu, yaitu perangkat lunak, sifatnya pun berbeda dengan hardware atau perangkat keras, jika perangkat keras adalah komponen yang nyata yang dapat diliat dan disentuh oleh manusia, maka software atau Perangkat lunak tidak dapat disentuh dan dilihat secara fisik, software memang tidak tampak secara fisik dan tidak berwujud benda tapi kita bisa mengoperasikannya. pembajakan menurut BSA (Business Software Alliance) BSAyaitu sebagai berikut: Pembajakan piranti lunak adalah penyalinan atau penyebaran secara tidak sah atas piranti lunak yang dilindungi undang-undang. Hal ini dapat dilakukan dengan penyalinan, pengunduhan, sharing, penjualan, atau penginstallan beberapa salinan ke komputer personal atau kerja. Secara sederhana, membuat atau mendownload salinan tidak resmi dari piranti lunak adalah tindakan melanggar hukum, tidak peduli berapa banyak salinan atau berapa orang yang terlibat. Membuat beberapa salinan untuk teman, menyewakan disk, mendistribusikan atau

mendownload piranti lunak bajakan dari internet, maupun membeli satu program piranti lunak dan kemudian menginstalnya pada beberapa komputer, ini termasuk pembajakan. Tidak peduli apakah Anda melakukannya untuk menghasilkan uang atau tidak, jika perusahaan Anda tertangkap menyalin piranti lunak, Anda dapat dituntut secara perdata dan pidana. Denda perdata dapat mencapai Rp 500 juta perprogram piranti lunak yang dibajak. http://teknologi.kompasiana.com/internet/2010/12/24/pembajakan-software-komputer-penyebabdan-solusinya/ C. Bentuk-bentuk Pembajakan Software Adapun bentuk-bentuk pelanggaran atas suatu software dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu: 1. Hard disk loading Pembajakan software terjadi ketika sebuah toko komputer menawarkan instalasi sistem operasi atau software bajakan kepada pelanggan yang ingin membeli perangkat komputer. Biasanya, penawaran ini diajukan sebagai layanan tambahan kepada pelanggan yang membeli laptop atau merakit komputer tanpa sistem operasi.

2. Counterfeiting (pemalsuan) Jenis pemalsuan software yang biasanya dilakukan secara "serius." Kepingan CD software tidak dibungkus dengan plastik biasa. Di sini, pelaku pembajakan juga membuat dus kemasan seperti yang asli, lengkap dengan manual book dan kepingan CD yang meyakinkan.

3. Internet/online piracy Jenis pembajakan yang dilakukan melalui koneksi jaringan internet. Selama ini banyak situs web yang menyediakan software bajakan secara gratis. Seseorang yang membutuhkannya bisa mengunduh kapan saja.

4. Mischanneling Pembajakan software yang biasanya dilakukan oleh sebuah institusi untuk mencari keuntungan tertentu. Sebagai contoh, ada sebuah kampus yang membeli 50 lisensi akademik (academic

licence) dari Microsoft. Lisensi ini memang dijual lebih murah oleh Microsoft.

Namun pada suatu saat, kampus tersebut malah menjual lisensinya kepada pihak lain yang tidak berhak mendapatkan lisensi akademik.

5. Corporate Piracy Dalam lingkup perusahaan, pembajakan yang paling sering dilakukan ialah ketika perusahaan membeli software untuk 10 lisensi, namun pada praktiknya, software tersebut digunakan pada 15 komputer atau lebih. Menurut Polri, penggunaan software tanpa lisensi untuk kepentingan komersial merupakan tindak pidana.

KOMPAS/WISNU WIDIANTOROPolisi menunjukkan keping cakram optik bajakan yang hendak dimusnahkan dalam pemusnahan DVD, CD, MP3 bajakan di halaman Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (15/12/2009). .JAKARTA, KOMPAS.com). http://tekno.kompas.com/read/2012/02/17/09510410/5.modus.operandi.pembajakan.soft ware.beserta.hukumannya

D. Ciri-ciri Software Bajakan Menggunakan software ilegal atau bajakan adalah perbuatan melanggar hukum dan merupakan perbuatan dosa. Dengan memakai produk piranti lunak bajakan si pengembang software tidak mendapatkan keuntungan dari jerih payah pembuatan software sehingga mereka merugi dan bisa hilang keinginan untuk mengembangkan software lain atau lanjutannya. Dengan memakai produk software bajakan, orang jadi ketagihan dan terbiasa dengan software yang bagus dengan harga yang mahal, namun orang tidak mau membayar sepeser pun untuk menggunakannya. Sebelum menginstall program, selidikilah terlebih dahulu apakah software itu legal atau ilegal. Berikut ini ciri-ciri software bajakan: a. Dijual dalam bentuk vcd atau dvd dengan harga yang murah; b. Bentuk dan kemasan cd atau dvd serupa dengan cd atau dvd lainnya; c. Dibundel dalam kumpulan software yang nama pengembang tidak sama; d. Ada serial number (s/n) atau program crack untuk membuka proteksi software; e. Tidak disertai dongle; f. Tidak bisa diupdate; g. Mengalami error atau hang pada jumlah transaksi tertentu; h. Kadang mengandung virus atau trojan yang berbahaya; i. Diunduh atau didownload gratis dari situs tidak resmi, dimana situs resmi mematok harga tertentu. http://busbonecomunty.blogspot.com/2012/11/makalah-tentang-pembajakan-software.html D. Penyebab terjadinya pembajakan software di Indonesia Pembajakan software komputer adalah kegiatan penduplikasian atau penyalinan oleh pihak yang tidak berwenang yang terjadi di seluruh dunia, yang merugikan pembuat software

dan tidak berkembangnya industri software komputer dinegara yang memiliki tingkat pembajakan software yang tinggi. Pembajakan software di Indonesia menjadi sebuah rahasia umum. Hampir setiap orang yang ditanya apakah dia menggunakan software resmi pasti akan menjawabnya dengan tidak. Para pengguna software terutama pemilik PC di rumah, menggunakan software yang bajakan dengan alasan biaya yang lebih hemat namun memiliki manfaat yang sama dengan para pengguna software asli. Hal itu juga didukung dengan mudahnya mendapatkan software bajakan di toko-toko bahkan di pedagang-pedagang kaki lima. Kemajuan bidang teknologi juga turut mempermudah terjadinya pembajakan software. Pembajakan software komputer di Indonesia meningkat satu persen pada kurun 20082009 atau di tengah resesi ekonomi global. Asosiasi internasional yang mewakili industri software global, Business Software Alliance (BSA) bersama perusahaan riset pasar IDC, mengumuimkan hasil studi tahunan ketujuh pembajakan software global. Salah satu hal yang menjadi penyebab kenaikan tingkat pembajakan di Indonesia disebabkan penetrasi PC yang pesat di Indonesia. Meskipun di Indonesia telah mempunyai perangkat hukum yang mengatur bidang Hak Cipta, namun rasanya penegakan hukum atas pembajakan software ini masih dirasa sulit dan pembajakan software di Indonesia akan tetap terjadi sehingga permasalahan ini tidak akan pernah dapat diselesaikan. Menjadi sebuah ironis karena hampir semua pengguna software di Indonesia menggunakan software bajakan, bahkan hampir seluruh instansi pemerintah pun masih menggunakan software bajakan, namun usaha untuk melegalkan software yang digunakan oleh instansi pemerintah sudah mulai dilaksanakan sejak beberapa tahun lalu. Kesadaran masyarakat pengguna software terhadap Hak Cipta memang masih rendah. Sebenarnya tak hanya terhadap software, namun seluruh aspek yang mencakup Hak Cipta masyarakat kita memang belum benar-benar sadar. Selain itu karena alasan biaya pembelian satu produk software yang dirasa masyarkat cukup mahal turut menjadi salah satu alasan pendukung pembajakan. Contoh pembajakan software adalah softlifting, yaitu sebuah lisensi penggunaan sebuah software dipakan melibihi kapasitas penggunanya. Misalnya membeli satu software secara resmi

tapi kemudian dipakai melebihi jumlah lisensi untuk meng-install yang diberikan. Selain itu adalah illegal downloading, yakni dengan men-download software dari internet secara ilegal. Juga pemalsuan, yaitu memproduksi serta menjual software-software bajkan yang biasanya dalam bentuk CD ROM yang banyak dijumpai di toko buku atau pusat-pusat perbelanjaan. http://teknologi.kompasiana.com/internet/2010/12/24/pembajakan-software-komputer-penyebabdan-solusinya/ E. Dampak dari Pembajakan Software bagi Indonesia Dari sisi ekonomi, data yang dilansir International Data Corporation (IDC) mengenai Global Software Piracy Study 2008, kerugian yang ditimbulkan kejahatan ini ternyata cukup mengejutkan. Potensi pendapatan industri perangkat lunak (software) Indonesia pada 2008 yang hilang mencapai 544 juta dolar AS akibat maraknya pembajakan. Angka itu melonjak 31 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun angka pembajakan hanya naik 1 persen menjadi 85 persen, dan menempatkan Indonesia di posisi ke-12 dari 110 negara. Menurut studi IDC, 80 persen kerugian dari pembajakan diderita oleh para pemain lokal dalam industri software, yaitu perusahaan software, industri software, dan distribusi. Pembajakan tidak hanya merugikan perusahaan software lokal, tapi juga merugikan Negara. Perusahaan software rugi karena produk orisinilnya yang harganya jutaan rupiah harus bersaing dengan produk bajakan yang harganya hanya puluhan ribu rupiah. Negara juga dirugikan, karena software bajakan itu sudah pasti tidak bayar pajak. Tentang kerugian yang diderita akibat pembajakan ini, Microsoft Indonesia tidak pernah mendapatkan datanya. Meskipun demikian bukan berarti kerugian itu tidak bisa dihitung dan menurut data dari studi yang dilakukan oleh BSA (Business Software Alliance) bahwa nilai kerugian yang ditimbulkan akibat pembajakan piranti lunak (khusus untuk kasus di Indonesia) sekitar 197 juta dollar AS untuk semua perusahaan.

Meski Microsoft sendiri tidak menghitung langsung, tetapi tetap saja merasa dirugikan. Artinya, ada opportunity yang dihilangkan akibat tindakan yang dilakukan si pembajak. Kalau kita menggunakan data BSA, bahwa 97 persen piranti lunak di Indonesia adalah bajakan, berarti porsi kita cuma tiga persen, dan 97 persennya lainnya masuk ke kantong orang (pembajak). Dari proses wawancara lebih lanjut akhirnya diketahui bahwa salah satu faktor utama dari maraknya pembajakan software yaitu karena persepsi yang salah (terlepas dari niat awal memang membajak). Intinya, publik (yang murni tidak tahu) beranggapan bahwa kalau beli software itu menjadi miliknya. Padahal membeli software itu adalah membeli lisensi hak untuk menggunakan. Jadi, harus dibedakan antara membeli lisensi dengan membeli produk yang langsung bisa dikonotasikan sebagai milik hak pribadi. http://busbonecomunty.blogspot.com/2012/11/makalah-tentang-pembajakansoftware.html F. Upaya Pemerintah untuk Meminimalisasi Pembajakan Software di Indonesia Menurut hasil penelitian terbaru lembaga riset IDC, pada tahun 2008 lalu tingkat pembajakan software di Indonesia mencapai 85%, atau merangkak naik dibandingkan 2007 yang berada di angka 84%. Prestasi minim ini tentu seakan menjadi tamparan telak bagi pemerintah. Pasalnya, kalau dirunut ke belakang, sederet program untuk memasyarakatkan penggunaan software legal di Tanah Air telah digalakkan. Mulai dari sosialisasi hingga rentetan razia oleh pihak kepolisian. Bahkan, pemerintah membentuk tim khusus untuk menangani pelanggaran terkait HaKI ini lewat kelompok kerja yang diberi nama Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak atas Kekayaan Intelektual (Timnas HaKI). Upaya lainnya yang dilakukan pemerintah yaitu: a. Mengedukasi pengguna perangkat lunak atas keuntungan yang dapat diraih dengan menggunakan perangkat lunak asli;

b. Memersuasi ritel agar menjual perangkat lunak asli; c. Mengadakan sosialisasi pentingnya penggunaan software asli, BSA dan AutoDesk, mengadakan seminar ke sekolah dan kampus mengenai software-softwara yang ada. juga memaparkan kerugian jika menggunakan sotware palsu; d. Melalui edukasi kepada konsumen maupun penjual software seperti dengan menggelar kampanye Global Fair Play yang serentak digelar di 46 negara termasuk Indonesia. Konsumen perlu mendapat pemahaman yang cukup untuk mengetahui ciri-ciri software asli dan hanya membelinya dari reseller resmi. Sementara perlu kesadaran para penjual software untuk melindungi hak konsumen dengan hanya menjual software legal; e. Pemerintah perlu bekerja lebih keras untuk menyadarkan masyarakat dan dunia usaha agar menghargai hak cipta atau hak atas kekayaan intelektual (HaKI). Contoh kasus : Upaya pemerintah meminilisasi pembajakan di indonesia

Aditya Panji/Kompas.com Polri meluncurkan kampanye sosialisasi dan edukasi penghargaan dan pelanggaran hak cipta software komputer, Kamis (16/2/2012), didukung oleh Masyarakat Indonesia Anti Pembajakan (MIAP), dan melibatkan produsen komputer dan pengelola mall.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) meluncurkan program kampanye stop menggunakan perangkat lunak (software) bajakan. Kampanye ini bertujuan melindungi konsumen komputer dan pelaku bisnis agar terhindar dari kerugian karena telah menggunakan software bajakan. Menurut Kombes Polisi Dharma Pongrekum, Kasubdit Industri dan Perdagangan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, ada banyak dampak negatif karena aksi pembajakan ini.

Di antaranya ialah industri teknologi lokal sulit berkembang dan terjadi persaingan yang curang, di mana penjual software bajakan bisa "membunuh" penjual software berlisensi.

"Tingkat kesadaran masyarakat atas penghargaan hak kekayaan intelektual, dalam hal ini software, masih sangat rendah. Tak heran jika tingkat pembajakan software di Indonesia masih sangat tinggi," ujar Dharma dalama cara tersebut.

Menurut data International Data Corporation (IDC), yang dirilis Mei 2011, Indonesia berada di peringkat 11 negara dengan jumlah pemakai software bajakan sebesar 87%. Dalam kampanye ini, Polri melibatkan perusahaan produsen komputer dan pengelola mall agar mematuhi hukum yang berlaku. Dari sisi produsen komputer, Polri menghimbau agar tidak menjual perangkat komputer atau laptop yang "kosong" atau tidak memiliki sistem operasi. Sementara dari sisi pengelola mall, dihimbau untuk mengawasi tenant yang menjual software bajakan. Sekjen MIAP Justiasiari P. Kusumah mengatakan, software merupakan produk kedua yang paling banyak dipalsukan di Indonesia. Porsinya mencapai 34%. http://tekno.kompas.com/read/2012/02/16/15242314/kampanye.anti.pembajakan.software.dimula i.dari.jakarta

BAB III PENUTUP

F. KESIMPULAN Dari beberapa uraian yang telah dipaparkan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Beberapa penyebab terjadinya pembajakan software di Indonesia yaitu mahalnya software legal, kurangnya kesadaran masyarakat sebagai pengguna software, dan kurangnya sikap teladan dari pemerintah dan aparat hukum untuk menggunakan software yang legal pula. 2. Dampak dari pembajakan software bagi Indonesia yaitu tidak hanya merugikan perusahaan software lokal, tapi juga merugikan Negara. Perusahaan software rugi karena produk orisinilnya yang harganya jutaan rupiah harus bersaing dengan produk bajakan yang harganya hanya puluhan ribu rupiah. Negara juga dirugikan, karena software bajakan itu sudah pasti tidak bayar pajak. 3. Upaya Pemerintah dalam meminimalisasi pembajakan software di Indonesia yaitu pemerintah membentuk tim khusus untuk menangani pelanggaran terkait HaKI ini lewat kelompok kerja yang diberi nama Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak atas Kekayaan Intelektual (Timnas HaKI), Pemerintah juga mengedukasi pengguna perangkat lunak atas keuntungan yang dapat diraih dengan menggunakan perangkat lunak asli dengan mengadakan sosialisasi pentingnya penggunaan software asli dan memaparkan kerugian jika menggunakan sotware palsu.

DAFTAR PUSTAKA http://blog-artikel-menarik.blogspot.com/2008/05/5-negara-pembajak-softwareterbesar.html http://teknologi.kompasiana.com/internet/2010/12/24/pembajakan-software-komputerpenyebab-dan-solusinya/ http://tekno.kompas.com/read/2012/02/17/09510410/5.modus.operandi.pembajakan.soft ware.beserta.hukumannya http://busbonecomunty.blogspot.com/2012/11/makalah-tentang-pembajakansoftware.html http://tekno.kompas.com/read/2012/02/16/15242314/kampanye.anti.pembajakan.software .dimulai.dari.jakarta