Anda di halaman 1dari 44

Indikator Asam Basa

Pengertian Indikator Asam Basa Indikator asam basa adalah senyawa khusus yang ditambahkan pada larutan, dengan tujuan mengetahui kisaran pH dalam larutan tersebut. Indikator asam basa biasanya adalah asam atau basa organik lemah. Senyawa indikator yang tak terdisosiasi akan mempunyai warna berbeda dibanding dengan indikator yang terionisasi. Sebuah indikator asam basa tidak mengubah warna dari larutan murni asam ke murni basa pada konsentrasi ion hidrogen yang spesifik, melainkan hanya pada kisaran konsentrasi ion hidrogen. Kisaran ini merupakan suatu interval perubahan warna, yang menandakan kisaran pH. Penggunaan Indikator Asam Basa Larutan yang akan dicari tingkat keasamannya diberi suatu asam basa yang sesuai, kemudian dilakukan suatu titrasi. Perubahan pH dapat diketahui dari perubahan warna larutan yang berisi indikator. Perubahan warna ini sesuai dengan kisaran pH yang sesuai dengan jenis indikator. Indikator yang Biasa Digunakan Di bawah ini ada beberapa indikator asam basa yang sering digunakan. Indikator dapat bekerja pada larutan, maupun alkohol sesuai dengan sifatnya. Inilah contoh indikator yang digunakan untuk mengetahui pH.

Indikator pp berwarna pink saat basa dan tak berwarna saat asam

Daftar indikator asam basa lengkap

Indikator Timol biru Pentametoksi merah

Rentang Kuantitas penggunaan per 10 Asam Basa pH ml 1,2-2,8 1-2 tetes 0,1% larutan merah kuning 1,2-2,3 1 tetes 0,1% dlm larutan 0% merah-ungu tak

Tropeolin OO 2,4-Dinitrofenol Metil kuning Metil oranye Bromfenol biru Tetrabromfenol biru Alizarin natrium sulfonat -Naftil merah p-Etoksikrisoidin Bromkresol hijau Metil merah Bromkresol ungu Klorfenol merah Bromfenol biru p-Nitrofenol Azolitmin Fenol merah Neutral merah Rosolik acid Kresol merah -Naftolftalein Tropeolin OOO Timol biru Fenolftalein (pp) -Naftolbenzein Timolftalein Nile biru Alizarin kuning Salisil kuning

1,3-3,2 2,4-4,0 2,9-4,0 3,1-4,4 3,0-4,6 3,0-4,6 3,7-5,2 3,7-5,0 3,5-5,5 4,0-5,6 4,4-6,2 5,2-6,8 5,4-6,8 6,2-7,6 5,0-7,0 5,0-8,0 6,4-8,0 6,8-8,0 6,8-8,0 7,2-8,8 7,3-8,7 7,6-8,9 8,0-9,6 8,0-10,0 9,0-11,0 9,4-10,6 10,1-11,1 10,0-12,0 10,0-12,0

alkohol 1 tetes 1% larutan 1-2 tetes 0,1% larutan dlm 50% alkohol 1 tetes 0,1% larutan dlm 90% alkohol 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkohol 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1-5 tetes 0,1% larutan 5 tetes 0,5% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkohol 1 tetes 0,1% larutan dlm 90% alkohol 1 tetes 0,1% larutan 1-5 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkohol 1 tetes 0,1% larutan 1-5 tetes 0,1% larutan 1-5 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkohol 1-5 tetes 0,1% larutan dlm 90% alkohol 1 tetes 0,1% larutan dlm 90% alkohol 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1-5 tetes 0,1% larutan dlm 90% alkohol

merah tak berwarna merah merah kuning kuning kuning merah merah kuning merah kuning kuning kuning tak berwarna merah kuning merah kuning kuning merah mawar kuning kuning tak berwarna kuning tak berwarna biru kuning kuning

berwarna kuning kuning kuning oranye biru-ungu biru ungu kuning kuning biru kuning ungu merah biru kuning biru merah kuning merah merah hijau merah mawar biru merah biru biru merah lilac oranyecoklat

Diazo ungu Tropeolin O Nitramin Poirrier's biru

10,1-12,0 11,0-13,0 11,0-13,0 11,0-13,0

1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan

kuning kuning

Asam trinitrobenzoat 12,0-13,4

1-2 tetes 0,1% larutan dlm 70% tak alkohol berwarna 1 tetes 0,1% larutan biru tak 1 tetes 0,1% larutan berwarna

ungu oranyecoklat oranyecoklat ungu-pink oranyemerah

Indikator Asam Basa Alami Senyawa alam banyak yang digunakan sebagai indikator asam basa alami. Beberapa tumbuhan yang bisa dijadikan sebagai bahan pembuatan indikator asam basa alami antara lain adalah kubis ungu, sirih, kunyit, dan bunga yang mempunyai warna (anggrek, kamboja jepang, bunga sepatu, asoka, bunga kertas). Cara membuat indikator asam basa alami adalah: 1. 2. 3. 4. Menumbuk bagian bunga yang berwarna pada mortar. Menambahkan sedikit akuades pada hasil tumbukan sehingga didapatkan ekstrak cair. Ekstrak diambil dengan pipet tetes dan dan diteteskan dalam keramik. Menguji dengan meneteskan larutan asam dan basa pada ekstrak, sehingga ekstrak dapat berubah warna.

Inilah hasil pengamatan beberapa indikator asam basa alami

ndikator Asam Basa Timol biru Pentametoksi merah Tropeolin OO 2,4-Dinitrofenol Metil kuning Metil oranye Bromfenol biru Tetrabromfenol biru Alizarin natrium sulfonat -Naftil merah p-Etoksikrisoidin Bromkresol hijau Metil merah Bromkresol ungu Klorfenol merah Bromfenol biru p-Nitrofenol Azolitmin Fenol merah Neutral merah Rosolik acid Kresol merah -Naftolftalein Timol biru Fenolftalein

Rentang Kuantitas pH penggunaan per 10 ml 1,2-2,8 1-2 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% dlm larutan 0% 1,2-2,3 alkohol 1,3-3,2 1 tetes 1% larutan 1-2 tetes 0,1% larutan dlm 50% 2,4-4,0 alkohol 1 tetes 0,1% larutan dlm 90% 2,9-4,0 alkohol 3,1-4,4 1 tetes 0,1% larutan 3,0-4,6 1 tetes 0,1% larutan 3,0-4,6 1 tetes 0,1% larutan 3,7-5,2 3,7-5,0 3,5-5,5 4,0-5,6 4,4-6,2 5,2-6,8 5,4-6,8 6,2-7,6 5,0-7,0 5,0-8,0 6,4-8,0 6,8-8,0 6,8-8,0 7,2-8,8 7,3-8,7 8,0-9,6 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkohol 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1-5 tetes 0,1% larutan 5 tetes 0,5% larutan 1 tetes 0,1% larutan 1 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkohol 1 tetes 0,1% larutan dlm 90% alkohol 1 tetes 0,1% larutan 1-5 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkohol 1-5 tetes 0,1% larutan

Asam merah merahungu merah tak berwarna merah merah kuning kuning kuning merah merah kuning merah kuning kuning kuning tak berwarna merah kuning merah kuning kuning merah mawar kuning tak

Basa kuning tak berwarna kuning kuning kuning oranye biru-ungu biru ungu kuning kuning biru kuning ungu merah biru kuning biru merah kuning merah merah hijau biru merah

8,0-10,0 1-5 tetes 0,1% larutan dlm 70%

(pp) -Naftolbenzein Timolftalein Nile biru Alizarin kuning Salisil kuning

alkohol 1-5 tetes 0,1% larutan dlm 90% 9,0-11,0 alkohol 1 tetes 0,1% larutan dlm 90% 9,4-10,6 alkohol 10,11 tetes 0,1% larutan 11,1 10,01 tetes 0,1% larutan 12,0 10,01-5 tetes 0,1% larutan dlm 90% 12,0 alkohol

berwarna kuning tak berwarna biru kuning kuning biru biru merah lilac oranyecoklat

4. Bunga Sepatu Bunga sepatu merupakan salah satu indikator alami asam basa. Bagaimana caranya? Percobaan indikator asam basa ini cukup mudah, tumbuk saja mahkota bunga sepatu. Peras airnya. Misal masih kurang tambahkan sedikit air lalu pisahkan menjadi dua wadah. Sekarang masukkan cuka makan ke wadah satu dan air kapur ke wadah lainnya. larutan bunga sepatu yang berwarna merah akan berubah menjadi biru jika terkena larutan basa (air kapur) dan tetap merah jika terkena larutan asam (cuka makan). 5. Indikator Asam Basa Alami lainnya Selain bunga sepatu atau Hibiscus rosa-sinensis ada masih banyak lagi indikator alami yang bisa digunakan, misalnya seperti kamboja, bunga terompet (warna puti keunguan), kunyit, anggrek dan lain-lain. Berikut ini tabel indikator asam basa alami

1) Merah Kresol ( Red Cresol )

Merah kresol (nama lengkap: o-Cresolsulfonephthalein) adalah triarylmethane pewarna yang sering digunakan untuk memantau pH dalam akuarium. Cresol Red (pH indicator) below pH 7.2 7.2 above pH 8.8 8.8

Merah kresol dapat digunakan di berbagai reaksi biologi molekular umum di tempat pewarna dermaga lainnya. Merah kresol tidak menghambat polimerase Taq ke tingkat yang sama seperti lainnya pewarna loading umum. Merah kresol juga dapat digunakan sebagai penanda warna untuk memantau proses elektroforesis agarosa gel dan elektroforesis gel poliakrilamid. Dalam 1% agarose gel itu berjalan kira-kira pada ukuran 125 pasangan basa (pb) DNA molekul (tergantung pada konsentrasi buffer dan komponen lainnya). Bromofenol biru dan cyanol xilena juga dapat digunakan untuk tujuan ini.

2) Jingga metil (methyl Orange) Jingga metil adalah salah satu indikator yang banyak digunakan dalam titrasi. Pada larutan yang bersifat basa, jingga metil berwarna kuning dan strukturnya adalah:

Sekarang, anda mungkin berfikir bahwa ketika anda menambahkan asam, ion hidrogen akan ditangkap oleh yang bermuatan negatif oksigen. Itulah tempat yang jelas untuk memulainya. Pada faktanya, ion hidrogen tertarik pada salah satu ion nitrogen pada ikatan rangkap nitrogen-nitrogen untuk memberikan struktur yang dapat dituliskan seperti berikut ini:

Anda memiliki kesetimbangan yang sama antara dua bentuk jingga metil seperti pada kasus lakmus tetapi warnanya berbeda.

Anda sebaiknya mencari sendiri kenapa terjadi perubahan warna ketika anda menambahkan asam atau basa. Penjelasannya identik dengan kasus lakmus bedanya adalah warna. Pada kasus jingga metil, pada setengah tingkat dimana campuran merah dan kuning menghasilkan warna jingga terjadi pada pH 3.7 mendekati netral. Ini akan diekplorasi dengan lebih lanjut pada bagian bawah halaman. 3) Lakmus

Lakmus adalah asam lemah. Lakmus memiliki molekul yang sungguh rumit yang akan kita sederhanakan menjadi HLit. "H" adalah proton yang dapat diberikan kepada yang lain. "Lit" adalah molekul asam lemah. Tidak dapat dipungkiri bahwa akan terjadi kesetimbangan ketika asam ini dilarutkan dalam air. Pengambilan versi yang disederhanakan kesetimbangan ini:

Lakmus yang tidak terionisasi adalah merah, ketika terionisasi adalah biru. Sekarang gunakan Prinsip Le Chatelier untuk menemukan apa yang terjadi jika anda menambahkan ion hidroksida atau beberapa ion hidrogen yang lebih banyak pada kesetimbangan ini. Penambahan ion hidroksida:

Penambahan ion hidrogen:

Jika konsentrasi Hlit dan Lit- sebanding: Pada beberapa titik selama terjadi pergerakan posisi kesetimbangan, konsentrasi dari kedua warna akan menjadi sebanding. Warna yang anda lihat merupakan pencampuran dari keduanya.

Alasan untuk membubuhkan tanda kutip disekitar kata "netral" adalah bahwa tidak terdapat alasan yang tepat kenapa kedua konsentrasi menjadi sebanding pada pH 7. Untuk lakmus, terjadi perbandingan warna mendekati 50 / 50 pada saat pH 7 hal itulah yang menjadi alasan kenapa lakmus banyak digunakan untuk pengujian asam dan basa. Seperti yang akan anda lihat pada bagian berikutnya, hal itu tidak benar untuk indikator yang lain.

4) Fenolftalein (PP) Fenolftalein adalah indikator titrasi yang lain yang sering digunakan, dan fenolftalein ini merupakan bentuk asam lemah yang lain.

Pada kasus ini, asam lemah tidak berwarna dan ion-nya berwarna merah muda terang.

Contoh indicator phenolphtalein Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan ke arah kiri, dan mengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion hidrogen dari kesetimbangan yang mengarah ke kanan untuk menggantikannya mengubah indikator menjadi merah muda.Setengah tingkat terjadi pada pH 9.3. Karena pencampuran warna merah muda dan tak berwarna menghasilkan warna merah muda yang pucat, hal ini sulit untuk mendeteksinya dengan akurat.

5) Biru bromotymol ( Bromthymol blue )

Bromothymol biru (juga dikenal sebagai phthalein sulfon bromothymol, Bromthymol Blue, dan BTB) adalah indikator kimia untuk asam lemah dan basa. kimia ini juga digunakan untuk mengamati kegiatan fotosintesis atau indikator pernapasan (berubah kuning sebagai CO2 ditambahkan).

Bromothymol biru bertindak sebagai asam lemah dalam larutan. Dengan demikian dapat berupa terprotonasi atau terdeprotonasi, muncul kuning dan biru masing-masing. Hal ini hijau kebiruan dalam larutan netral. Hal ini biasanya dijual dalam bentuk padat sebagai garam natrium indikator asam. Hal ini juga menemukan penggunaan sesekali di laboratorium sebagai slide biologis noda. Pada titik ini sudah biru, dan menjatuhkan satu atau dua digunakan pada slide air. Slip cover ditempatkan di atas tetesan air dan spesimen di dalamnya, dengan warna biru campuran masuk Hal ini kadang-kadang digunakan untuk mendefinisikan dinding sel atau inti di bawah mikroskop. Bromothymol biru banyak digunakan untuk mengukur zat yang akan memiliki tingkat asam atau dasar relatif rendah (dekat dengan pH netral). Hal ini sering digunakan dalam pengelolaan pH kolam dan tangki ikan, dan untuk mengukur keberadaan asam karbonat dalam cairan. Sebuah demonstrasi sifat umum pH BTB's indikator melibatkan mengembuskan melalui tabung ke dalam larutan netral BTB. Seperti karbon dioksida diserap dari nafas ke dalam larutan, membentuk asam karbonat, solusi perubahan warna dari hijau ke kuning. Dengan demikian, BTB umumnya digunakan dalam kelas-kelas sains sekolah menengah untuk menunjukkan bahwa semakin bahwa otot yang digunakan, semakin besar output CO2.

below pH 6.0

above pH 7.6 6.0 7.6

Bromothymol juga digunakan dalam kebidanan untuk mendeteksi ketuban pecah dini. cairan ketuban biasanya memiliki

bromothymol pH> 7,2, sehingga akan berubah biru ketika dibawa kontak dengan cairan bocor dari amnion. Sebagai pH vagina normal bersifat asam, warna biru menunjukkan adanya cairan ketuban. Pengujian mungkin palsu-positif di hadapan zat alkalin lain seperti darah, air mani, atau di hadapan vaginosis bakteri.

6) Timol biru ( Thymol Blue )

Timol biru (thymolsulphonephthalein) adalah bubuk kristal hijau kecoklatan atau coklat kemerahan yang digunakan sebagai indikator pH. Hal ini tidak larut dalam air tetapi larut dalam alkohol dan larutan alkali encer. Ini transisi dari merah ke kuning pada pH 1,2-2,8 dan dari kuning ke biru pada pH 8,0-9,6.

7) Metil Kuning ( Methyl Yellow )

Metil kuning, atau C.I. 11.020, adalah senyawa kimia yang dapat digunakan sebagai indikator pH. Methyl yellow (pH indicator) below pH 2.9 2.9 above pH 4.0 4.0

Dalam larutan air pada pH rendah, kuning metil muncul merah. Antara pH 2,9, dan 4,0 metil kuning Indikator mengalami tambahan transisi, yang menjadi dalam kuning artikel di atas pH indikator 4,0. pH.

tercantum

tentang

Sebagai "kuning mentega" agen telah digunakan sebagai bahan tambahan makanan sebelum toksisitasnya diakui (Opie EL)

8) Merah Metil ( Methyl Red )

Metil merah, juga disebut C.I. Asam Merah 2, merupakan zat warna indikator yang berubah merah dalam larutan asam. Ini adalah zat warna azo, dan merupakan bubuk kristal berwarna merah tua.Metil merah merupakan indikator pH, melainkan merah pada pH di bawah 4,4, kuning pada pH lebih dari 6.2, dan oranye di antara, dengan pKa 5,1 .Murexide dan merah metil yang diteliti sebagai peningkat menjanjikan kehancuran SONOKIMIA polutan hidrokarbon diklorinasi.Metil merah digolongkan oleh IARC dalam kelompok 3 unclassified untuk potensial karsinogenik pada manusia. Sebagai zat warna azo, Metil Merah dapat dibuat dengan diazotization asam antranilat, diikuti dengan reaksi dengan dimethylaniline. Di mikrobiologi, merah metil digunakan dalam Metil Merah (MR) Test, digunakan untuk mengidentifikasi bakteri penghasil asam yang stabil melalui mekanisme fermentasi asam campuran glukosa (lih. Voges-Proskauer (VP) test).Uji metil merah adalah "M" bagian dari empat tes IMViC digunakan untuk karakterisasi bakteri enterik. Uji metil merah digunakan untuk mengidentifikasi bakteri enterik berdasarkan pola metabolisme glukosa mereka. Semua enterics awalnya menghasilkan asam piruvat dari metabolisme glukosa. Beberapa enterik kemudian gunakan jalur asam diramu untuk metabolisme asam piruvat menjadi asam lain, seperti asam laktat, asetat, dan format. Bakteri ini disebut Escherichia coli metil-merah positif dan menyertakan dan Proteus vulgaris. enterics lain yang kemudian menggunakan jalur glikol

buytylene untuk metabolisme asam piruvat ke produk akhir-netral. Bakteri ini disebut metilmerah-negatif dan termasuk Serratia marcescens dan Enterobacter aerogenes.

9)

Metil Violet

Methyl violet 2B (C24H28N3Cl) Methyl violet adalah keluarga senyawa organik yang terutama digunakan sebagai pewarna. Tergantung pada jumlah kelompok metil melekat, warna pewarna dapat diubah. Kegunaan utamanya adalah sebagai pewarna ungu untuk tekstil dan memberikan warna ungu jauh di dalam cat dan tinta. 10B Methyl violet (dikenal dengan banyak nama berbeda) memiliki keperluan medis Methyl violet 2B (pH indicator) below pH 0.0 0.0 above pH 1.6 1.6

Istilah metil violet mencakup tiga senyawa yang berbeda dalam jumlah kelompok metil terikat pada gugus fungsional amina. Mereka semua larut dalam air, etanol, glikol dietilena glikol dan dipropylene

10) Malachite Hijau

Malachite hijau merupakan senyawa organik yang digunakan sebagai Dyestuff dan telah muncul sebagai agen kontroversial di akuakultur. Malachite hijau secara tradisional digunakan sebagai pewarna untuk bahan seperti sutra, kulit, dan kertas. Meskipun hijau malachite disebut, senyawa ini tidak berhubungan dengan perunggu mineral - nama hanya berasal dari kesamaan warna. Struktur dan sifat Malachite Green adalah anggota dari garam triphenylcarbenium, diklasifikasikan dalam industri zat warna sebagai pewarna triarylmethane. Secara formal, Malachite Green mengacu pada garam klorida [C6H5C (C6H4N (CH3) 2) 2] Cl, meskipun Malachite Green istilah digunakan secara longgar dan sering hanya mengacu pada kation berwarna. Garam oksalat juga dipasarkan. Anion klorida dan oksalat tidak berpengaruh pada warna. Warna hijau kuat dari hasil kation dari sebuah band serapan kuat pada 621 nm (kepunahan koefisien 105 M1cm-1). Malachite green (first transition) (pH indicator) below pH 0.2 0.2 above pH 1.8 1.8

Malachite green (second transition) (pH indicator) below pH 11.5 11.5 above pH 13.2 13.2

Malachite hijau disusun oleh larutan benzaldehida dan dimethylaniline untuk memberikan leuco hijau malachite (LMG): C6H5CHO + 2 C6H5N(CH3)2 C6H5CH(C6H4N(CH3)2)2 + H2O Kedua, senyawa ini leuco tidak berwarna, yang relatif triphenylmethane, teroksidasi untuk kation yang MG: C6H5CH(C6H4N(CH3)2)2 + HCl + 1/2 O2 [C6H5C(C6H4N(CH3)2)2]Cl + H2O Agen pengoksidasi khas adalah mangan dioksida.

Di sebelah kiri adalah leuco-Malachite Green (LMG) dan di sebelah kanan adalah dua struktur resonansi setara kation MG. Turunan carbinol MG berasal dari LMG oleh penggantian CH unik oleh C-OH.Hidrolisis MG memberikan bentuk carbinol:

[C6H5C(C6H4N(CH3)2)2]Cl + H2O C6H5C(OH)(C6H4N(CH3)2)2 + HCl alkohol Hal ini penting karena, tidak MG, melintasi membran sel. Setelah masuk sel, itu dimetabolisme menjadi LMG. Hanya MG kation adalah sangat berwarna, sedangkan LMG dan turunannya carbinol tidak. Perbedaan ini timbul karena hanya berupa kationik telah memperpanjang pi-delokalisasi, yang memungkinkan molekul untuk menyerap cahaya tampak.

Tabel . GUGUS CHROMOPHORE INDIKATOR ASAM BASA


No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Indikator Asam Basa Kresol Red ( Red Cresol ) Jingga metil (Methyl orange) Lakmus Fenolftalein (PP) Biru bromotymol ( Bromothymol blue ) Timol biru ( Thymol Blue ) Metil Kuning ( Methyl Yellow ) Merah Metil ( Methyl Red ) Metil Violet Gugus Chromophore Nitro dan Quinoid Group Azo Group Nitro dan Quinoid Group Quinoid dan Carbonil group Quinoid Group Carbonil Group dan Quinoid Group. Azo group dan Quinoid group Quinoid group Azo dan Quinoid Group Azo dan Quinoid Group

10. Malachite Hijau

Pentingnya pKind

Berpikirlah tentang indikator yang umum, HInd dimana "Ind" adalah bagian indikator yang terlepas dari ion hidrogen yang diberikan keluar:

Karena hal ini hanya seperti asam lemah yang lain, anda dapat menuliskan ungkapan Ka untuk indikator tersebut. Kita akan menyebutnya Kind untuk memberikan penekanan bahwa yang kita bicarakan di sini adalah mengenai indikator.

Pikirkanlah apa yang terjadi pada setengah reaksi selama terjadinya perubahan warna. Pada titik ini konsentrasi asam dan ion-nya adalah sebanding. Pada kasus tersebut, keduanya akan menghapuskan ungkapan Kind.

anda dapat menggunakan hal ini untuk menentukan pH pada titik reaksi searah. Jika anda menyusun ulang persamaan yang terakhir pada bagian sebelah kiri, dan kemudian mengubahnya pada pH dan pKind, anda akan memperoleh:

Hal itu berarti bahwa titik akhir untuk indikator bergantung seluruhnya pada harga pKind. Untuk indikator yang kita miliki dapat dilihat dibawah ini: Indikator lakmus pKind 6.5

jingga metil 3.7 fenolftalein 9.3

Rentang pH indikator

Indikator tidak berubah warna dengan sangat mencolok pada satu pH tertentu (diberikan oleh harga pKind-nya). Malahan, mereka mengubah sedikit rentang pH. Dengan mengasumsikan kesetimbangan benar-benar mengarah pada salah satu sisi, tetapi sekarang anda menambahkan sesuatu untuk memulai pergeseran tersebut. Selama terjadi pergeseran kesetimbangan, anda akan memulai untuk mendapatkan lebih banyak dan lebih banyak lagi pembentukan warna yang kedua, dan pada beberapa titik mata akan mulai mendeteksinya. Sebagai contoh, jika anda menggunakan jingga metil pada larutan yang bersifat basa maka warna yang dominan adalah kuning. Sekarang mulai tambahkan asam karena itu kesetimbangan akan mulai bergeser. Pada beberapa titik akan cukup banyak adanya bentuk merah dari jingga metil yang menunjukkan bahwa larutan akan mulai memberi warna jingga. Selama anda melakukan penambahan asam lebih banyak, warna merah akhirnya akan menjadi dominan yang mana anda tidak lagi melihat warna kuning. Terjadi perubahan kecil yang berangsur-angsur dari satu warna menjadi warna yang lain, menempati rentang pH. Secara kasar "aturan ibu jari", perubahan yang tampak menempati sekitar 1 unit pH pada tiap sisi harga pKind. Harga yang pasti untuk tiga indikator dapat kita lihat sebagai berikut: Indikator Lakmus pKind pH rentang pH 6.5 58 3.1 4.4 8.3 10.0 warna lakmus terjadi tidak selalu

jingga metil 3.7 Perubahan fenolftalein 9.3

pada rentang pH yang besar, tetapi lakmus berguna untuk mendeteksi asam dan basa pada lab karena perubahan warnanya sekitar 7. Jingga metil atau fenolftalein sedikit kurang berguna. Berikut ini dapat dilihat dengan lebih mudah dalam bentuk diagram.

Gambar 2.Diagram Perubahan warna lakmus terhadap pH Sebagai contoh, jingga metil akan berwarna kuning pada tiap larutan dengan pH lebih besar dari 4.4. Hal ini tidak dapat dibedakan antara asam lemah dengan pH 5 atau basa kuat dengan pH 14.

Pemilihan Indikator untuk Titrasi


Harus diingat bahwa titik ekivalen titrasi yang mana anda memiliki campuran dua zat pada perbandingan yang tepat sama. anda tak pelak lagi membutuhkan pemilihan indikator yang perubahan warnanya mendekati titik ekivalen. Indikator yang dipilih bervariasi dari satu titrasi ke titirasi yang lain. a) Asam kuat vs basa kuat Diagram berikut menunjukkan kurva pH untuk penambahan asam kuat pada basa kuat. Bagian yang diarsir pada gambar tersebut adalah rentang pH untuk jingga metil dan fenolftalein.

Gambar 3. Pengaruh pH terhadap penambahan asam kuat pada basa kuat anda dapat melihat bahwa tidak terdapat perubahan indikator pada titik ekivalen. Akan tetapi, gambar menurun tajam pada titik ekivalen tersebut yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada volume asam yang ditambahkan apapun indikator yang anda pilih. Akan tetapi, hal tersebut berguna pada titrasi untuk memilihih kemungkinan warna terbaik melalui penggunaan tiap indikator. Jika anda mengguanakan fenolftalein, anda akan mentitrasi sampai fenolftalein berubah menjadi tak berwarna (pada pH 8,8) karena itu adalah titik terdekat untuk mendapatkan titik ekivalen. Dilain pihak, dengan menggunakan jingga metil, anda akan mentitrasi sampai bagian pertama kali muncul warna jingga dalam larutan. Jika larutan berubah menjadi merah, anda mendapatkan titik yang lebih jauh dari titik ekivalen. b) Asam kuat vs basa lemah

Gambar 4. Pengaruh pH terhadap penambahan asam kuat pada basa lemah

Kali ini adalah sangat jelas bahwa fenolftalein akan lebih tidak berguna. Akan tetapi jingga metil mulai berubah dari kuning menjadi jingga sangat mendekati titik ekivalen.anda memiliki pilihan indiaktor yang berubah warna pada bagian kurva yang curam. c) Asam lemah vs basa kuat

Gambar 5. Pengaruh pH terhadap penambahan asam lemah pada basa kuat

Kali ini, jingga metil sia-sia! Akan tetapi, fenolftalein berubah warna dengan tepat pada tempat yang anda inginkan.

d) Asam lemah vs basa lemah Kurva berikut adalah untuk kasus dimana asam dan basa keduanya sebanding lemahnya sebagai contoh, asam etanoat dan larutan amonia. Pada kasus yang lain, titik ekivalen akan terletak pada pH yang lain.

Gambar 6. Pengaruh pH terhadap penambahan asam lemah pada basa kuat

Anda dapat melihat bahwa kedua indikator tidak dapat digunakan. Fenolftalein akan berakhir perubahannya sebelum tercapai titik ekivalen, dan jingga metil jauh ke bawah sekali. Ini memungkinkan untuk menemukan indiaktor yang memulai perubahan warna atau mengakhirinya pada titik eqivalen, karena pH titik ekivalen berbeda dari kasus yang satu ke kasus yang lain, anda tidak dapat mengeneralisirnya. Secara keseluruhan, anda tidak akan pernah mentitrasi asam lemah dan asam basa melalui adanya indikator.

Contoh pemakaian indikator phenolftalein dan jingga metal pada larutan natrium karbonat dan asam hidroklorida encer
Berikut ini adalah kasus yang menarik. Jika anda menggunakan fenolftalein atau jingga metil, keduanya akan memberikan hasil titirasi yang benar akan tetapi harga dengan fenolftalein akan lebih tepat dibandingkan dengan bagian jingga metil yang lain.

Hal ini terjadi bahwa fenolftalein selesai mengalami perubahan warnanya pada pH yang tepat dengan titik ekivalen pada saat untuk pertamakalinya natrium hidrogenkarbonat terbentuk.

Perubahan warna jingga metil dengan tepat terjadi pada pH titik ekivalen bagian kedua reaksi.

II.

TITRASI REDOKS ( Oksidasi-Reduksi )

Reaksi redoks secara luas digunakan dalam analisa titrimetri baik untuk zat anorganik maupun organik.Reaksi redoks dapat diikuti dengan perubahan potensial, sehingga reaksi redoks dapat menggunakan perubahan potensial untuk mengamati titik akhir satu titrasi. Selain itu cara sederhana juga dapat dilakukan dengan menggunakan indikator. Titrasi redoks melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi antara titrant dan analit.Titrasi redoks banyak dipergunakan untuk penentuan kadar logam atau senyawa yang bersifat sebagai oksidator atau reduktor. Aplikasi dalam bidang industri misalnya penentuan sulfite dalam minuman anggur dengan menggunakan iodine, atau penentuan kadar alkohol dengan menggunakan kalium dikromat. Beberapa contoh yang lain adalah penentuan asam oksalat dengan menggunakan permanganate, penentuan besi(II) dengan serium(IV), dan sebagainya. Berdasarkan jenis oksidator atau reduktor yang dipergunakan dalam titrasi redoks, maka dikenal beberapa jenis titrimetri redoks seperti iodometri, iodimetri danm permanganometri. 1) Iodimetri dan Iodometri Teknik ini dikembangkan berdasarkan reaksi redoks dari senyawa iodine dengan natrium tiosulfat. Oksidasi dari senyawa iodine ditunjukkan oleh reaksi dibawah ini : I2 + 2 e 2 IEo = + 0,535 volt

Sifat khas iodine cukup menarik berwarna biru didalam larutan amilosa dan berwarna merah pada larutan amilopektin. Dengan dasar reaksi diatas reaksi redoks dapat diikuti dengan menggunaka indikator amilosa atau amilopektin. Analisa dengan menggunakan iodine secara langsung disebut dengan titrasi iodimetri. Namun titrasi juga dapat dilakukan dengan cara menggunakan larutan iodida, dimana larutan tersebut diubah menjadi iodine, dan selanjutnya dilakukan titrasi dengan natrium tiosulfat, titrasi tidak iodine secara tidak langsung disebut dengan iodometri. Dalam titrasi ini digunakan indikator amilosa, amilopektin, indikator carbon tetraklorida juga digunakan yang berwarna ungu jika mengandung iodine. 2) Permanganometri

Permanganometri merupakan titrasi redoks menggunakan larutan standar Kalium permanganat. Reaksi redoks ini dapat berlangsung dalam suasana asam maupun dalam suasana basa. Dalam suasana asam, kalium permanganat akan tereduksi menjadi Mn2+ dengan persamaan reaksi : MnO4- + 8 H+ + 5 e Mn2+ + 4 H2O Berdasarkan jumlah ellektron yang ditangkap perubahan bilangan oksidasinya, maka berat ekivalen Dengan demikian berat ekivalennya seperlima dari berat molekulnya atau 31,606. Dalam reaksi redoks ini, suasana terjadi karena penambahan asam sulfat, dan asam sulfat cukup baik karena tidak bereaksi dengan permanganat. Larutan permanganat berwarna ungu, jika titrasi dilakukan untuk larutan yang tidak berwarna, indikator tidak diperlukan. Namun jika larutan permangant yang kita pergunakan encer, maka penambahanindikator dapat dilakukan. Beberapa indikator yang dapat dipergunakan seperti feroin, asam N-fenil antranilat. Analisa dengan cara titrasi redoks telah banyak dimanfaatkan, seperti dalam analisis vitamin C (asam askorbat). Dalam analisis ini teknik iodimetri dipergunakan. Pertama-tama, sampel ditimbang seberat 400 mg kemudian dilarutkan kedalam air yang sudah terbebas dari gas carbondioksida (CO2), selanjutnya larutan ini diasamkan dengan penambahan asam sulfat encer sebanyak 10 mL. Titrasi dengan iodine, untuk mengetahui titik akhir titrasi gunakan larutan kanji atau amilosa.

INDIKATOR REDOKS A. Indikator Redoks Reversibel

Tidak semua indikator redoks dapat dipakai untuk sembarang titrasi redoks. Pemilihan indikator yang cocok ditentukan oleh kekuatan oksidasi titrat dan titrant, dengan perkataan lain, potensial titik ekivalen titrasi tersebut. Bila potensial peralihan indikator tergantung dari pH, maka juga harus diusahakan agar pH tidak berubah selama titrasi berlangsung. Untuk titrasi dengan Ce4+ dapat dipakai Ferroin; sedangkan untuk titrasi dengan Cr2O7 = Ferroin tidak cocok karena potensial perubahan ferroin terlalu tinggi dibandingkan dengan potensial TE. Maka dipakai difenilamin atau difenilamin sulfonat. Sebenarnya kedua indikator ini kebalikan dari ferroin dalam arti potensial peralihannya terlalu rendah. Namun dengan asam fosfat 3 M kesulitan ini teratasi karena potensial TE diturunkan sehingga sesuai untuk penggunaan difenilamin atau garam sulfonatnya. Penurunan potensial terjadi karena

asam fosfat (H3PO4) mengkompleks Fe3+ tetapi tidak mengkompleks Fe2+, sehingga konsentrasi Fe3+ bebas selalu rendah. Berikut Beberapa Contoh contoh Indikator Redoks yang sering digunakan: 1. Kompleks Fe ( II ) ortofenentrolin Suatu golongan senyawa organik yang dikenal dengan nama 1,10 fenantrolin ( Ortofenantrolin ) yang membentuk kompleks yang stabil dengan Fe ( II ) dan ion-ion lain melalui kedua atom N pada struktur induknya. Sebuah ion Fe2+ berikatan dengan tiga buah molekul fenantrolin dan membentuk kelat dengan struktur. Kompleks ini terkadang disebut FERROIN dan ditulis (Ph)3Fe2+ agar sederhana. Besi yang terikat dalam ferroin itu mengalami oksidasi reduksi secara reversible.

Walaupun kompleks (Ph)3 Fe2+ berwarna biru muda, dalam kenyataannya, warna dalam titrasi berubah dari hampir tak berwarna menjadi merah. Karena kedua warna berbeda intensitas, maka titik akhir dianggap tercapai pada saat baru 10 % dari indikator berbentuk (Ph)3Fe2+. Oleh sebab itu maka potensial peralihannya kira kira 1,11 Volt dalam larutan H2SO4 1 M. Diantara semua indikator redoks, Ferroin paling mendekati bahan yang ideal. Perubahan Phenanthroline Fe(II) (Redox indicator) E0= 1.06 V Reduced Oxidized

warnanya sangat tajam, larutannya mudah dibuat dan sangat stabil. Bentuk teroksidasinya amat tahan terhadap oksidator kuat. Reaksinya cepat dan reversibel. Diatas 60 oC, Ferroin terurai.

This box: view talk edit

2. Difenilamin dan turunannya

Ditemukan pertama kali dan penggunaannya dianjurkan oleh Knop pada tahun 1924 untuk titrasi Fe2+ dengan kalium bikhromat. Reaksi pertama membentuk difenilbenzidine yang tak berwarna; reaksi ini tidak reversibel. Yang kedua membentuk violet difenilbenzidine, reversibel dan merupakan reaksi indikator yang sebenarnya. Potensial reduksi reaksi kedua kira kira 0.76 volt. Walaupun ion H+ tampak terlibat, ternyata perubahan keasaman hanya berpengaruh kecil atas potensial ini, mungkin karena asosiasi ion tersebut dengan hasil yang berwarna itu. Kekurangan difenilamain antara lain ialah indikator ini harus dilarutkan dalam asam sulfat pekat karena sulit larut dalam air. Hasil oksidasi ini membentuk endapan dengan ion Wolfram sehingga dalam Analisa , ion tersebut tidak dapat dipakai. Akhirnya ion merkuri memperlambat reaksi indikator ini. Derivat difenilamin yaitu Asam Difenilamin Sulfonat, tidak mempunyai kelemahan kelemahan diatas : Garam Barium atau Natrium dari asam ini dapat digunakan untuk membuat larutan indikator dalam air dan sifatnya serupa dengan induknya. Perubahan warna sedikit lebih tajam, dari tak berwarna , melalui hijau menjadi violet. Potensial peralihannya 0.8 volt dan juga tak tergantung dari konsentrasi asam. Asam sulfonat derivat ini sekarang banyak digunakan dalam titrasi redoks.

B. Indikator Redoks Irreversibel

Indikator ini digunakan pada titrasi Bromatometri. Contoh yang sering digunakan adalah Methyl Red (MR) dan Methyl Orange (MO).

Reaksi yang terjadi berupa oksidasi dari indikator MR atau MO menjadi senyawa yang tidak berwarna oleh Brom bebas (Br2). Brom ini berasal dari : KBrO3 + HCl KCl + HBr + 3 O 2 HBr + O H2O + Br2 Br2 + MO / MR Teroksidasi (Tidak berwarna)

C. Indikator Redoks Khusus (Tidak terpengaruh Potensial redoks)

Indikator ini dipakai pada Iodometri dan Iodimetri, indikator yang biasa digunakan adanya Amylum dan Chloroform. Pemakaian indikator ini tidak terpengaruh oleh naik turunnya bilangan oksidasi atau potensial larutan, melainkan berdasarkan pembentukan kompleks dengan iodium. 1. Amylum Penggunaan Indikator ini berdasarkan pembentukan kompleks Iod-Amylum yang larut dengan Iodium (I2) yang berwarna biru cerah. Mekanisme pewarnaan biru ini karena terbentuknya suatu senyawa dala dari amilum dan atom iod. Fraksi Amilosa-amilum mempunyai bentuk helikal dan dengan itu membentuk celah berbentuk saluran. Dalam saluran itu terdapat suatu rantai iod linear, Warna biru disebabkan oleh ketujuh elektron luar atom Iod yang mudah bergerak. I2 + Amylum Iod-Amylum (biru) Iod-Amylum + S2O32- Warna Hilang

Setelah penambahan titrant Tiosulfat maka kompleks ini dipecah dan bila konsentrasi Iod habis maka warna biru tadi akan hilang. Penambahan indikator amylum sebaiknya menjelang titik akhir titrasi karena kompleks iod-amilum yang terbentuk sukar dipecah pada titik akhir titrasi sehingga penggunaan Tiosulfat kelebihan berakibat terjadi kesalahan titrasi. Bila Iod masih banyak sekali bahkan dapat menguraikan amilum dan hasil penguraian ini mengganggu perubahan warna pada titik akhir titrasi.

2. Chloroform

Penggunaan indikator ini untuk titrasi Iodometri, berdasarkan fungsi Chloroform sebagai pelarut organik yang melarutkan iodium dalam fase organik (fase nonpolar). Melarutnya Iodium dalam Chloroform memberi warna violet. Hal ini patut dipahami karena Iodium sukar larut dalam air, larut hanya sekitar 0,0013 mol perliter pada suhu 25O C. Tetapi sangat mudah larut dalam larutan KI karena membentuk Ion TriIodida (I3-) dan dalam Chloroform. Setelah penambahan titrant Tiosulfat maka Iodium akan diubah menjadi Iodida dan bila konsentrasi iod habis maka warna violet tadi akan hilang.

III.

TITRASI PEMBENTUKAN SENYAWA KOMPLEKS


Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks

(ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Contoh reaksi titrasi kompleksometri : Ag+ + 2 CN- Ag(CN)2 Hg2+ + 2Cl- HgCl2 (Khopkar, 2002). Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral (Basset, 1994). Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu zat pembentuk kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam dinatrium etilendiamina tetraasetat (dinatrium EDTA). Senyawa ini dengan banyak kation membentuk kompleks dengan perbandingan 1 : 1, beberapa valensinya: Kestabilan dari senyawa kompleks yang terbentuk tergantung dari sifat kation dan pH dari larutan, oleh karena itu titrasi dilakukan pada pH tertentu.

Pada larutan yang terlalu alkalis perlu diperhitungkan kemungkinan mengendapnya logam hidroksida. Penetapan titik akhir titrasi digunakan indikator logam, yaitu indikator yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam. Ikatan kompleks antara indikator dan ion logam harus lebih lemah dari pada ikatan kompleks antara larutan titer dan ion logam. Larutan indikator bebas mempunyai warna yang berbeda dengan larutan kompleks indikator. Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan : M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O (Khopkar, 2002). Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksilnya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul (Rival, 1995). Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies seperti CuHY-. Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam larutan tersebut (Harjadi, 1993). Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Ca, Cr, dan Ba dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah Eriochrome black T; pyrocatechol violet; xylenol orange; calmagit; 1-(2-piridil-azonaftol), PAN, zincon, asam salisilat, metafalein dan calcein blue (Khopkar, 2002).

Satu-satunya ligan yang lazim dipakai pada masa lalu dalam pemeriksaan kimia adala ion sianida, CN-, karena sifatnya yang dapat membentuk kompleks yang mantap dengan ion perak dan ion nikel. Dengan ion perak, ion sianida membentuk senyawa kompleks peraksianida, sedagkan dengan ion nilkel membentuk nikel-sianida. Kendala yang membatasi pemakaian-pemakaian ion sianoida dalam titrimetri adalah bahwa ion ini membentuk kompleks secara bertahap dengan ion logam lantaran ion ini merupakan ligan bergigi satu (Rival, 1995). Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleksindikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir, penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator eriochrome black T. Pada pH tinggi, 12, Mg(OH)2 akan mengendap, sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca2+ dengan indikator murexide (Basset, 1994). Kesulitan yang timbul dari kompleks yang lebih rendah dapat dihindari dengan penggunaan bahan pengkelat sebagai titran. Bahan pengkelat yang mengandung baik oksigen maupun nitrogen secara umum efektif dalam membentuk kompleks-kompleks yang stabil dengan berbagai macam logam. Keunggulan EDTA adalah mudah larut dalam air, dapat diperoleh dalam keadaan murni, sehingga EDTA banyak dipakai dalam melakukan percobaan kompleksometri. Namun, karena adanya sejumlah tidak tertentu air, sebaiknya EDTA distandarisasikan dahulu misalnya dengan menggunakan larutan kadmium (Harjadi, 1993). Reaksi-reaksi yang melibatkan pembentukan kompleks dipergunakan oleh kimiawan dalam prosedur titrimetrik maupun gravimetrik. Molekul yang bertindak sebagai ligan biasanya memiliki atom elektronegatif, misalnya nitrogen, oksigen, atau salah satu dari

halogen. Ligan yang hanya mempunyai sepasang electron tak dipakai bersama, misalnya NH3, dikatakan unidentat. Ligan yang mempunyai dua gugus yang mampu membentuk dua ikatan dengan atom sentral dikatakan bidentat. Suatu contoh adalah etilendiamin NH2CH2CH2NH2 dengan kedua atom nitrogen mempunyai pasangan electron tak terpakai bersama. Ion tembaga (II) membentuk kompleks dengan dua molekul etilendiamin seperti berikut : Cincin heterosiklik terbentuk oleh interaksi suatu ion logam dengan dua atau lebih gugus fungsioanal dalam ligan dinamakan cincin khelat; molekul organiknya pereaksi pembentuk khelat, dan kompleksnya dinamakan khelat atau senyawa khelat. Penggunaan analitik didasarkan pada penggunaan pereaksi khelat sebagai titran untuk ion-ion logam telah menunjukan pertumbuhan menarik. Kompleksometri merupakan metoda titrasi yang pada reaksinya terjadi pembentukan larutan atau senyawa kompleks dengan kata lain membentuk hash berupa kompleks. Untuk dapat dipakai sebagai dasar suatu titrasi, reaksi pembentukan kompleks disamping harus memenuhi persyaratan umum amok titrasi, make kompleks yang terjadi hams stabil. Titrasi ini biasanya digunakan untuk penetapan kadar logam polivalen atau senyawanya dengan menggunakan NaaEDTA sebagai titran pembentuk kompleks (Tim Penyusun, 1983).

Tabel. Kompleksometri
Logam Ligan Kompleks Bilangan koordinasi Logam Ag+ Hg2+ Cu2+ Ni2+ Co2+ Co3+ Cr3+ Fe 3+ NH3 ClNH3 CNAg(NH3)2+ HgC12 Cu(NH3)42+ Ni(CN)42CO(H2O)62+ Co(NH3)63+ Cr(CN)63Fe(CN)632 2 4 4 Liniar Liniar Tetrahedral Persegi planar H2O NH3 CNCN6 6 6 6 Oktahedral Oktahedral Oktahedral Oktahedral Labil Inert Inert Inert Labil Labil Labil Labil Geometri Reaktivitas

Hanya beberapa ion logam seperti tembaga, kobal, nikel, seng, cadmium, dan merkuri (II) membentuk kompleks stabil dengan nitrogen seperti amoniak dan trine. Beberapa ion logam lain, misalnya alumunium, timbale, dan bismuth lebih baik berkompleks dengan ligan dengan atom oksigen sebagai donor electron. Beberapa pereaksi pembentuk khelat, yang mengandung baik oksigen maupun nitrogen terutama efektif dalam pembentukan kompleks stabil dengan berbagai logam. Dari ini yang terkenal ialah asam etilendiamintetraasetat, kadang-kadang dinyatakan asam etilendinitrilo, dan sering disingkat sebagai EDTA : Istilah chelon telah disarankan sebagai nama umum untuk seluruh golongan peereaksi, termasuk poliamin seperti trine, asam poliamino karboksilat seperti EDTA, dan senyawa sejenis membentuk kompleks 1:1 dengan ion logam, larut dalam air dan karenanya dapat dipergunakan sebagai titran logam dan titrasinya disebut titrasi khelometrik. Kilon praktis telah membuat suatu revolusi pada kimia analitik dari banyak unsur logam dan merupakan hal yang sangat penting dalam banayak lapangan. Reaksi pengkomplekan dengan suatu ion logam, melibatkan penggantian satu molekul pelarut atau lebih yang terkoordinasi dengan gugus-gugus nukleofilik lain, gugus yang terikat oleh pada ion pusat disebut ligan. Ligan dapat berupa sebuah molekul netral atau sebuah ion bermuatan, ligan dapat dengan baik diklasifikasi atas dasar banyaknya titik lekat kepada ion logam. Ligan sederhana seperti ion-ion halide atau molekul-molekul H2O atau NH3 adalah monodentat, yaitu ligan yang terikat pada ion logam hanya pada satu titik oleh penyumbangan atau pasangan elektron kepada logam, bila ion ligan itu mempunyai dua atom, maka molekul itu mempunyai dua atom penyumbang untuk membentuk dua ikatan koordinasi dengan ion logam yang lama, ligan itu disebut bidentat. Ligan multidental mempunyai lebih dari dua atom koordinasi per molekul, kestabilan termodinamik dari satu spesi merupakan ukuran sejaidi mana spesi ini akan terbentuk dari spesi-spesi lain pada kondisi tertentu, jika sistem itiu dibiarkan mencapai kesetimbangan (Vogel, 1994). Ikatan pada EDTA, yaitu ikatan N yang bersifat basa mengikat ion H+ dari ikatan karboksil yang bersifat asam. Jadi dalam bentuk Ianitan pada EDTA ini terjadi reaksi intra molekuler (maksudnya dalam molekul itu sendiri), maka rumus senyawa tersebut disebut "zwitter ion". EDTA dijual dalam bentuk garam natriumnya, yang jauh lebih mudah larut daripada bentuk asamnya (Syafei, 1998) Reaksi pengkomplekan dengan suatu ion logam, melibatkan penggantian satu molekul pelarut atau lebih yang terkoordinasi dengan gugus-gugus nukleofilik lain, gugus yang terikat oleh pada ion pusat disebut ligan. Ligan dapat berupa sebuah molekul netral atau sebuah ion bermuatan, ligan dapat dengan baik diklasifikasi atas dasar banyaknya titik lekat

kepada ion logam. Ligan sederhana seperti ion-ion halide atau molekul-molekul H20 atau NH3 adalah monodentat, yaitu ligan yang terikat pada ion logam hanya pada satu titik oleh penyumbangan atau pasangan elektron kepada logam, bila ion ligan itu mempunyai dua atom, maka molekul itu mempunyai dua atom penyumbang untuk membentuk dua ikatan koordinasi dengan ion logam yang sama, ligan itu disebut bidentat. Ligan multidentat mempunyai lebih dari dua atom koordinasi per molekul, kestabilan termodinamik dari satu spesi merupakan ukuran sejauh mana spesi ini akan terbentuk dari spesi-spesi lain pada kondisi tertentu, jika sistern itu dibiarkan mencapai kesetimbangan Ligan dapat berupa suatu senyawa organik seperti asam sitrat, EDTA, maupun senyawa anorganik seperti polifosfat. Untuk memperoleh ikatan metal yang stabil, diperlukan ligan yang mampu membentuk cincin 5-6 sudut dengan logam misalnya ikatan EDTA dengan Ca. Ion logam terkoordinasi dengan pasangan electron dari atom-atom N-EDTA dan juga dengan keempat gugus karboksil yangh terdapat pada molekul EDTA (Winarno, 1982). Ligan dapat menghambat proses oksidasi, senyawa ini merupakan sinerjik anti oksidan karena dapat menghilangkan ion-ion logam yang mengkatalisis proses oksidasi (Winarno, 1982). 1. Titrasi Khelometrik EDTA merupakan ligan seksidentat yang berpotensi, yang dapat berkoordinasi dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan empas gugus karboksil. Dalam hal-hal lain, EDTA mungkin bersikap sebagai suatu ligan kuinkedentat atau kuadridentat yang mempunyai satu atau dua gugus karboksilnya bebas dari interaksi yang kuat dengan logamnya. Untuk memudahkan, bentuk asam EDTA bebas sering kali disingkat H4Y. Dalam larutan yang cukup asam, protonasi sebagian dari EDTA tanpa kerusakan lengkap dari kompleks iogam mungkin terjadi, yang menyebabkan terbentuknya zat seperti CuHY-; tetapi pada kondisi biasa semua empat hidrogen hilang, apabila ligan dikoordinasikan dengan ion logam. Pada harga-harga pH sangat tinggi, ion hidroksida mungkin menembus lingkungan koordinasi dari logam dan kompleks seperti Cu(OH) Y3- dapat terjadi. 2. Efek Kompleks Zat-zat lain dari titran kilon yang mungkin ada dalam larutan ion logam dapat membentuk kompleks dengan logamnya dan dengan demikian bersaing dengan reaksi titrasi yang diinginkan. Sebenarnya pembentukan kompleks demikian kadang-kadang dengan

pertimbangan digunakan untuk mengatasi interferensi, yang dalam hal ini efek dari pengompleks disebut penutupan. Dengan ion-ion logam tertentu yang dengan mudah

terhidrolisa, mungkin perlu untuk menambahkan ligan pengompleks agar mencegah pengendapan hidroksida logam. Jika tetapan stabilitas untuk semua kompleks diketahui, maka efek pembentukan kompleks terhadap reaksi titrasi EDTA dapat dihitung. 3. Efek Hidrolisa Hidrilisa ion logam mungkin bersaing dengan proses titran khelometrik. Peningkatan pH membuat efek ini lebih jelek dengan penggeseran ke keseimbangan yang benar dari jenis M2+ + H2O M(OH)+ H+ Hidrolisa secara ekstensif dapat mengakibatkan pengendapan hidroksida yang hanya bereaksi dengan EDTA secara perlahan-lahan, bahkan apabila pertimbangan-pertimbangan

keseimbangan menguntungkan pembebtukkan khelonat logam. Sekali pun seringkali tetapan hidrolisa yang cocok untuk ion-ion logam tidak tersedia, dan karenanya pengaruh ini sering tidak dapat dihitung dengan teliti. 4. Cara-cara Titrasi EDTA Titrasi secara khelatometri telah dilakukan dengan baik terhadap semua kation biasa. Jenis-jenis titrasinya adalah : a. Titrasi langsung, dapat dilakukan terhadap sedikitnya 25 kation dengan menggunakan indicator logam. Pereaksi pembentukan kompleks, seperti sitrat dan tartrat, sering ditambahkan untuk pencegahan endapan hidroksida logam. Buffer NH3-NH4Cl dengan pH 9 sampai 10 sering digunakan untuk logam yang membentuk kompleks dengan amoniak (Underwood, 1994). b. Titrasi kembali, digunakan apabila reaksi antara kation dengan EDTA lambat atau apabila indicator yang sesuai tidak ada. EDTA berlebih ditambahkan berlebih dan yang bersisa dititrasi dengan larutan standar Mg dengan menggunakan calmagnite sebagai indicator. Kompleks Mg-EDTA mempunyai stabilitas relative rendah dan kation yang ditentukan tidak digantikan dengan magnesium. Cara ini dapat juga untuk menentukan logam dalam endapan, seperti Pb di dalam PbSO4 dan Ca dalam CaSOa (Underwood, 1994). c. Titrasi substitusi, berguna bila tidak ada indicator yang sesuai untuk ion logam yang ditentukan. Sebuah larutan berlebih yang mengandung kompleks Mg-EDTA ditambahkan dan ion logam, misalnya M2+, menggantikan magnesium dari kompleks EDTA yang relative lemah itu (Underwood, 1994). d. Titrasi secara tidak langsung, beberapa jenis telah dilaporkan, antara lain penentuan sulfat dengan menambahkan larutan baku barium berlebihan dan menitrasi kelebihan tersebut dengan EDTA. Juga pospat sudah ditentukan setelah pengendapan sebagai MgNH4PO4 yang tidak terlalu sukar lanrt lalu menitrasi kelebihan Mg (Underwood, 1994).

e. Cara titrasi alkalimetri, dengan menambahkan larutan Na2H2Y berlebihan kepada larutan analat yang bereaksi netral. Ion hydrogen yang dibebaskan dititrasi dengan larutan baku basa. (Underwood,1994)

5. Kestabilan Kompleks Kestabilan suatu kompleks jelas akan berhubungan dengan (a) kemampuan mengkompleks dari ion logam yang terlihat, dan (b) dengan cirri khas ligan itu, yang penting untuk memeriksa faktor-faktor ini dengan singkat. (a) Kemampuan mengkompleks logam-logam digambarkan dengan baik menurut klasifikasi Schwarzenbach, yang dalam ganis besarnya didasarkan atas pembagian logam menjadi asam lewis (penerima pasangan electron) kelas A dan kelas B. Logam kelas A dicirikan oleh larutan afinitas (dalam larutan air) terhadap halogen, dan membentuk kompleks yang paling stabil engan anggota pertama grup table berkala. Kelas B lebih mudah berkoordinasi dengan I- daripada dengan f dalam larutan air dan membentuk kompleks terstabil dengan atom penyumbang kedua dari masing-masing grup itu yakni Nitrogen, Oksigen, dan F, Cl, C, P. Konsep asam basa keras dan lunak adalah berguna dalam menandai ciri-ciri perilaku penerima pasangan electron kelas A dan kelas B (Vogel, 1994). (b) Ciri-ciri khas ligan, dapat mempengaruhi kestabilan kompleks diman aligan itu terlibat, adalah (i) kekuatan basa dari ligan itu, (ii) sifat-sifat penyepitan, jika ada, dan (iii) efek-efek sterik (ruang). Efek sterik yang paling umum adalah efek oleh adanya suatu gugusan besar yang melekat pada atau berada berdekatan dengan atom penyumbang. (Vogel, 1994). 6. Indikator Logam Indikator logam adalah suatu indicator terdiri dari suatu zat yang umumnya senyawa organic yang dengan satu atau beberapa ion logam dapat membentuk senyawa kompleks yang warnanuya berlainan dengan warna indikatornya dalam keadaan bebas. Warna indicator asam basa akan tergantung, pada pH larutannya, sedangkan warna indicator logam sampai batas tertentu bergantung pada pM. Oleh karena itu indicator logam sering disebut sebagai "pM-slustive indicator" atau metalochrome-indikator (syafei, 1998). Beberapa macam indicator logam yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Eriochrome Black T

Eriochrome

Black

merupakan

indikator

kompleksometri yang merupakan bagian dari titrasi kompleksometri, misalnya dalam proses penentuan kekerasan air. Ini adalah dye.It azo juga dikenal sebagai ET-00. Dalam bentuk terprotonasi nya, Eriochrome Black T biru. Ternyata merah ketika membentuk kompleks dengan kalsium, magnesium, atau ion logam lainnya. Rumus kimianya dapat ditulis sebagai HOC10H6N = NC10H4 (OH) (NO2) Eriochrome Black T adalah biru, tapi ternyata merah di hadapan SO3Na. logam.

Ketika digunakan sebagai indikator dalam titrasi EDTA, akhir biru karakteristik titik-tiba saat EDTA memadai telah ditambahkan dan membentuk kompleks ion logam dengan EDTA bukan Eriochrome.Eriochrome Black T juga telah digunakan untuk mendeteksi keberadaan logam tanah . H2In- HIn2- pKa= 6,3 biru HIn2- In3- pKa= 11,6 jingga kekuningan

Kelemahan indikator ini, tak stabil dalam larutan,sehingga larutan tidak dapat disimpan lama

b. Murexide

Kelat Murexide dengan logam berwarna merah muda dan indikator bebasnya berwarna ungu. Seperti halnya Calcon, Murexide sangat cocok untuk titrasi penetapan Ca pada pH tinggi, pH 11-13 tanpa gangguan ion Mg++. Perubahan warnanya dari warna merah muda menjadi ungu. Disini tidak diperlukan Masking Agent untuk menentukan kesadahan Ca karena ion Mg dan logam lainnya tidak menggangu pada pH diatas 11. Logam-logam tadi mengendap dalam bentuk hidroksida.

c.

Xylanol Orange (XO)

Indikator ini dibuat dengan mereaksikan o-kresolsulfonftalein dengan formaldehid dan asam iminodiasetat, sehingga diadisikan satu atau dua gugus pengkelat.

Sebagai Indikator asam-basa, Xylenol orange berwarna kuning lemon dalam larutan asam (pH < 5,4) dan merah pada pH 5,5 7,4. Sedangkan kelat indikator logam berwarna violet atau merah. Indikator ini dipakai pada pH rendah (< 5,4) atau dalam HNO3 0,2 M untuk titrasi kelat EDTA yang kuat. Misal untuk Bi dan Th sevara langsung pada pH 1,5 3,0 dan tak langsung untuk Zr dan Fe (III).

d. Calmagite

Calmagite merupakan indikator kompleksometri digunakan dalam kimia analitik untuk mengidentifikasi keberadaan ion logam dalam larutan. Seperti dengan ion logam calmagite indikator lain akan berubah warna saat itu pasti akan ion. Calmagite akan merah anggur bila terikat pada ion logam dan mungkin biru, merah, atau oranye jika tidak terikat pada ion logam. Calmagite sering digunakan dalam hubungannya dengan EDTA, bahan pengikat kuat logam. Seperti halnya Erio T, calmagite mengkompleks banyak ion logam. Daerah kerjanya mencakup pH 8,1 12,4 dan warna indikator bebasnya biru. Larutan Calmagite stabil, tetapi dalam hal-hal lain sifatnya sama dengan Erio T, antara lain mengalami blocking oleh Cu, Ni, Fe (III), dan Al. Sifat asam basa Calmagite dapat disajikan secara ringkas sebagai berikut : pH pH H2Ind- Hind= Ind3- 8,1 12,4 (merah) (Biru) (Jingga)

e.

Arsenazo I Indikator ini dipakai untuk Ca maupun Mg, sehingga dalam titirasi Ca++ tidak perlu penambahan Mg++. Selain itu, keuntungan besar ialah, indikator ini tidak diblock oleh Cu (II) dan Fe (III) dalam jumlah kecil. Keuntungan lain bereaksi cepat sehingga perubahan warna juga cepat. Arsenazo I merupakan indikator jitu untuk titrasi logam alkali tanah dan Th (IV) dengan EDTA.

f.

NAS

Warna NAS merah-violet dalam larutan yang sangat asam dan merah-jingga pada pH 3,5 keatas. Daerah kerja NAS kira-kira pH 3 9. Kelatnya dengan Cu, Zn, dan Pb berwarna kuning pucat, dan dengan beberapa ion logam lain kuning atau jingga pucat. Penggunaan NAS cukup luas dan dianjurkan untuk tittrasi Cu, Co (II), Cd, Ni, Zn,.Al, dan beberapa kation lain dengan EDTA. Dalm banyak penggunaannya, perlu atau membantu sekali ditambahkan sedikit Cu (II) supaya bereaksi dengan indikator. Indikator-Cu ini baru terurai kembali bila titrasi sudah selesai. Penambahan Cu (II) mendekati akhir titrasi, tanpa Cu pun tampak perubahan warna dari jingga menjadi merah. g. Pyrocatechol Violet

Indikator ini asam berbasa tiga, tetapi karena ion H+ pertama mengion hampir sempurna, hanya dalam keadaan asam sekali terdapat dalam bentuk molekul bebas dengan warna merah. Antara pH 2 dan 6 karena pengionan SO3H, berwarna kuning, antara pH 7 10 violet dan diatas pH 10 warna purpur. Kebanyakan kelat logamnya berwarna biru, sehingga baik dipakai pada pH 2 dan 6. Dengan indikator ini dapat ditentukan campuran Bi-Pb dengan jalan menitrasi pertama pada pH 2 untuk Bi , terjadi warna biru menjadi kuning dan pH dinaikkan menjadi 5, titirasi dilanjutkan untuk Pb dengan perubahan warna dari biru menjadi kuning.

h.

Calcon

Calcon merupakan garam natrium dari Eriochrom Blue Black R, yang disebut juga Pontachrome Blue Black R. Molekul indikator yang netral, H3In, berwana hijau dan hanya terdapat dalam larutan asam kuat. Pada pH 7 warna menjadi merah sampai pH 10, lalu biru sampai pH 13,5 dan diatas itu jingga.

Kelat calcon dengan logam berwarna merah dan sangat cocok untuk titrasi Ca pada pH 12,5 13 tanpa terganggu oleh Mg. Perubahan warna pada titik akhir titrasi dari warna merah ke biru murni. Dengan indikator ini kesadahan air oleh Ca saja dapat ditentukan.

Indikator yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah:

a.

Hitam eriokrom

Indikator ini peka terhadap perubahan kadar logam dan pH larutan. Pada pH 8 -10 senyawa ini berwarna biru dan kompleksnya berwarna merah anggur. Pada pH 5 senyawa itu sendiri berwarna merah, sehingga titik akhir sukar diamati, demikian juga pada pH 12. Umumnya titrasi dengan indikator ini dilakukan pada pH 10. b. Jingga xilenol Indikator ini berwarna kuning sitrun dalam suasana asam dan merah dalam suasana alkali. Kompleks logam-jingga xilenol berwarna merah, karena itu digunakan pada titrasi dalam suasana asam. c. Biru Hidroksi Naftol

Indikator ini memberikan warna merah sampai lembayung pada daerah pH 12 13 dan menjadi biru jernih jika terjadi kelebihan edetat.

Titrasi kompleksometri umumnya dilakukan secara langsung untuk logam yang dengan cepat membentuk senyawa kompleks, sedangkan yang lambat membentuk senyawa kompleks dilakukan titrasi kembali.

7. Indikator untuk Titrasi Khelometrik Pada dasarnya indikator metalokhromik merupakan senyawa organik berwama, yang membentuk khelat dengan ion logam. Khelatnya harus mempunyai warna lain dari warana indikator bebasnya, dan jika suatu kosong indikator harus dihindari dan titik akhir yang tajam diperoleh, maka indicator harus melepaskan ion logamnya kepada titran EDTA pada suatu harga pM sangat dekat dengan titik ekivalen. Indicator metalokhromik biasa juga mempunyai sifat asam-basa dan tanggap sebagai indikator pH maupun sebagai indikator terhadap PM.

IV.

TITRASI PENGENDAPAN

Titrasi yang menggunakan indikator ini adalah titrasi presipitimetri seperti pada Argentometri. Dalam Titrasi Argentometri dibedakan menjadi 3 macam cara berdasar indikator yang dipakai untuk titik akhir titrasi, yaitu : cara Mohr, cara Fajans, dan cara Volhard. Jadi dalam tiga cara tersebut titrant masing-masing tertentu, indikator dan pH untuk cara Mohr dan Volhard tertentu, sedang dalam cara Fajans tidak harus tertentu dan pH disesuaikan dengan indikator. TABEL INDIKATOR ADSORPSI Indikator Titrasi Larutan

Fluorescein Dichlorofluorescein bromcresol green eosin methyl violet rhodamin 6 thorin bromphenol blue orthochrome T

Cl- dengan Ag+ Cl- dengan Ag+ SCN dengan Ag


+

pH 7-8 pH 4 pH 4-5 pH 2 asam HNO3 (0,3M) pH 1,5-3,5 larutan 0,1 M


2-

Br-, I-, SCN- dengan Ag+ Ag+ dengan ClG Ag+ dengan Br SO42- dengan Ba2+ Hg dengan ClPb dengan CrO4
2+ 2+

netral, larutan 0,02M

a. Indikator Argentometri Mohr Indikator yang digunakan adalah K2CrO4 yang pada titik akhir titrasi bereaksi dengan larutan titrant membentuk endapan yang berwarna merah bata. K2CrO4 + 2 AgNO3 2 KNO3 + Ag2CrO4
2-

(merah bata)

Konsentrasi CrO4 yang ditambahkan tidak sembarangan, tetapi harus dihitung berdasarkan Ksp zat uji (misal AgCl) dan Ksp Ag2CrO4. Dalam penggunaan sesungguhnya, konsentrasi 0,0072 M terlalu besar karena warna K2CrO4 terlalu kuning sehingga mengakibatkan perubahan warna pada titik akhir titrasi sulit dilihat. Maka harus pakai konsentrasi lebih rendah dan tampaknya 0,0025 merupakan konsentrasi optimal. Tetapi karena diturunkan maka perlu Ag+ > 1,33 x 10-5 untuk dapat menghasilkan endapan merah sebagai indikator. Disamping itu masih diperlukan sejumlah AgNO3 lagi agar endapan cukup banyak dan tampak. Untuk larutan 0,1 M tidak berpengaruh, tetapi untuk larutan encer berpengaruh serius. Koreksinya berupa : Titrasi blanko dengan suspensi CaCO3 yang bebas Cl-

Untuk analat yang berbeda perlu digunakan konsentrasi indikator yang berbeda.

Dalam Penggunaan K2CrO4 sebaiknya pH larutan dikoreksi agar berada pada pH netral atau sedikit alkali. Bila pH rendah ion CrO42- sebagian berubah menjadi Cr2O72- oleh karena disosiasi asam yang melepaskan ion H+ yang mana dapat mengurangi konsentrasi indikator dan menyebabkan tidak timbul endapan atau terlambat menunjukkan titik akhir titrasi. Dalam titrasi Argentometri ini penetapan kadar I- dan SCN- tidak dapat ditetapkan kadarnya dengan cara ini, karena endapan AgI maupun AgSCN sangat kuat menyerap Kromat

sehingga hasilnya tidak memuaskan. Perak (Ag+) juga tidak dapat ditetepkan dengan cara ini karena endapan perak kromat yang mula-mula terbentuk pada awal titrasi sukar dipecah. Pengganggu dalam penggunaan indikator ini adalah adanya ion Pb++ dan Ba++ yang mengendapkan ion CrO42- menjadi endapan yang berwarna kuning yang tidak larut oleh ion Ag+berupa PbCrO4 dan BaCrO4 yang dapat mengurangi dan menggangu titik akhir titrasi. Pb++ + CrO42 PbCrO4 Ba++ + CrO42 BaCrO4

b. Indikator Argentometri Fajans Indikator yang digunakan adalah indikator adsorpsi. Indikator adsorpsi merupakan zat yang dapat diserap pada permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Penyerapan diatur pada titik ekivalen dengan memilih indikator dan pH larutan.

Cara kerja indikator adsoprsi ialah indikator ini asam lemah atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan perak. Misal Flurescein (HFl) pada penetapan Cl-. Dalam larutan Fluorescein akan mengion : Ion Fl- inilah yang diserap oleh endapan AgX dan menyebabkan berwarna merah muda. Karena Penyerapan terjadi pada permukaan dalam titrasi ini diusahakan agar permukaaan endapan itu seluas mungkin supaya perubahan warna juga tampak sejelas mungkin Maka endapan harus berukuran koloid. Penyerapan terjadi apabila endapan yang koloid itu bermuatan positif, dengan perkataan lain setelah sedikit kelebihan titrant ( ion Ag+ ). Pada tahap-tahap pertama dalam titrasi, endapan terdapat dalam lingkungan dimana masih ada kelebihan ion X- dibanding dengan Ag+ ; maka endapan menyerap ion-ion X- sehingga butiran-butiran koloid menjadi negatif. Makin lanjut titrasi dilakukan, makin kurang kelebihan ion X- ; pada titik ekivalen semua X- diikat oleh Ag+, sehingga koloid jadi netral. Setetes titrant menyebabkan kelebihan ion Ag+, sehingga koloid jadi positif, dan menarik ion Fl- yang menyebabkan warna endapan mendadak menjadi merah muda. Pada waktu bersamaan terjadi penggumpalan koloid, maka larutan yang semula keruh menjadi jernih atau lebih jernih. Titik akhir titrasi ini diketahui berdasarkan tiga macam perubahan, yaitu : o Endapan yang semula putih menjadi merah muda dan endapan kelihatan menggumpal, o Larutan yang semula keruh menjadi lebih jernih

Larutan

yang

semula

kuning

hijau

hampir

hampir

tidak

berwarna

lagi.

Dari keseimbangan pengionan HFl terlihat bahwa konsentrasi Fl- akan sangat dipengaruhi oleh pH , makin rendah pH makin mengarah kekiri keseimbangan tersebut dan makin kecil konsentrasi Fl- . Bila jumlah Fl- terlalu kecil maka perubahan warna akan kurang jelas dan titik akhir akan terlambat Kebanyakan indikator adsorbsi bersifat asam lemah maka umumnya tidak dapat dipakai dalam larutan yang terlalu asam (misal HNO3 6N). Suatu kesulitan dalam menggunakan indikator adsorpsi ialah, bahwa banyak diantara zat warna tersebut membuat endapan perak menjadi peka cahaya ( fotosensitifasi ) dan menyebabkan endapan terurai. Titrasi menggunakan indikator adsorpsi biasanya cepat, akurat dan terpercaya . Sebaliknya penerapannnya agak terbatas karena memerlukan endapan berbentuk koloid yang juga harus terbentuk dengan cepat. c. Indikator Argentometri Volhard Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah indikator Fe3+ (Ferri Ammonium Nitrat). Indikator ini bekerja berdasarkan pembentukan kompleks yang larut antara Fe3+ dengan ion SCNmembentuk ion kompleks yang sangat kuat warnanya yaitu merah :

SCN+ + Fe3+ Fe(SCN) ++

(merah)

Konsentrasi indikator dalam titrasi Volhard juga tidak boleh sembarang karena titrant bereaksi dengan titrat maupun indikator, sehingga kedua reaksi itu saling mempengaruhi. Disamping itu bila konsentrasi indikator lebih besar dari 0,2 M warna asli kuningnya cukup jelas sehingga menyulitkan pengamatan warna kompleks Fe(SCN)++ . Konsentrasi Fe3+ yang umum digunakan dalam titrasi kira-kira 0,01 M. Dalam prakteknya, konsentrasi indikator dapat lebih kecil lagi, karena ternyata tidak membawa kesalahan titrasi yang tidak terlalu besar. Pada penetapan kadar Iodida (I-), penambahan indikator Fe3+ dilakukan setelah Iodida diendapkan sebagai AgI, agar tidak dioksidasi oleh Fe3+ menjadi Iodium.

2 Fe3+ + 2 I- 2 Fe++ + I
Reaksi ini berlangsung karena kesanggupan Fe3+ untuk mereduksi / menerima elektron dari Iodida, oleh sebab itu pada titrasi kembali hendaknya I- harus tepat habis diendapkan sebagai AgI.

Anda mungkin juga menyukai