Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN Korupsi merupakan isu global.

Hampir setiap hari kita mendengar, membaca ataupun melihat kata korupsi, baik di media cetak maupun di media elektronik. Kita sadari atau tidak, korupsi selalu terjadi di sekitar kita. Korupsi bisa terjadi di lingkungan rumah kita, di lingkungan sekolah, di lingkungan fasilitas umum, maupun di tingkat institansi tertinggi dan pemerintahan. Entah itu dalam skala kecil ataupun skala besar. Bahkan tanpa kita sadaripun kita terkadang juga melakukan satu tindakan kecil dari korupsi. Misalnya saja mencontek, membayar iuran sukarela pada saat memperpanjang KTP dan surat-surat lainnya, ataupun pada saat kita meminta jatah uang saku lebih kepada orang tua dengan alasan membeli keperluan sekolah. Di Indonesia sendiri, korupsi bukan hanya menjadi suatu fenomena yang sedang terjadi. Bahkan seakan-akan korupsi merupakan suatu budaya yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Indonesia adalah negara dengan tingkat subyek korupsi yang termasuk luas (pervasive) di dunia. Salah satu indikatornya adalah laporan dari Transparansi Internasional yang selalu mendapatkan bahwa Indonesia konsisten, termasuk negara paling korup. Meskipun program antikorupsi dilakukan sejak awal reformasi, belakangan ini kasus menunjukkan bukan hanya tingkat sumber daya publik yang dikorupsi semakin menunjukkan jumlah yang fantastis, juga keragaman aktor dan bentuk korupsi semakin bervariasi. Dari situs resmi Transparansi Internasional, Indonesia dilaporkan mendapat nilai 32 dari 0 yang terkorup. Sementara angka 100 merupakan negara terbersih. Survei tersebut dilakukan terhadap 176 negara di seluruh dunia. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan penanganan korupsi. Antara lain kelemahan institusional birokrasi, lembaga politik seperti partai dan parlemen yang tidak bisa dikontrol akuntabilitasnya oleh masyarakat, dan kelemahan masyarakat sipil sendiri. Namun, salah satu faktor yang sering terlupakan di Indonesia adalah bahwa kegagalan program antikorupsi bermula dari pemahaman karakteristik korupsi sendiri, yang berakibat dari cara penangannya. Suatu pemahaman tentang korupsi yang lengkap bukan saja harus memperhitungkan perspektif yang sudah ada, melainkan harus mengkonstruksikannya lagi sesuai dengan kasus yang sedang terjadi. Misalnya saja salah satu kasus korupsi yang sempat menggemparkan Dirjen Pajak, yaitu kasus Gayus Tambunan yang saat ini sudah terpidana dan kasus Dhana Widyatmika yang belum lama ini terkuak. Keduanya melakukan tindakan korupsi dengan jumlah yang fantastis. Walaupun seperti kita tahu bahwa keduanya bukan pejabat tinggi.

Kedua kasus ini menimbulkan pertanyaan, seberapa banyak sesungguhnya kebocoran di salah satu lembaga penting keuangan negara terjadi, meskipun lembaga pemerintah ini menjadi contoh reformasi birokrasi di badan pembangunan internasional? Apakah ini merupakan kasus kecerdikan perorangan, ataukah karena kelemahan sistem dalam organisasi tersebut? Seberapa jauhkan suatu reformasi birokrasi dinilai keefektifannya, dari sudut skala dan ukuran keberlanjutan dari pembaharuan organisasi itu? Belum lagi kasus korupsi-korupsi yang lain yang sampai saat ini masih belum terpecahkan, bahkan lembaga besar KPK pun seakan susah sekali menangkap pelakunya. Misalnya saja kasus Bank Century dan Wisma Atlet Hambalang, yang hingga saat ini belum terselesaikan juga. Bahkan dengan ditetapkannya Menpora sebagai tersangka bukan sebagai jaminan kasus ini akan segera terselesaikan. Perubahan sistem politik, reformasi ekonomi, sampai reformasi birokrasi menjadi agenda utama dalam penyelesaian masalah korupsi. Namun apakah dengan perubahanperubahan tersebut akan menghilangkan korupsi di Indonesia yang sudah mengakar dalam budaya dan kehidupan sehari-hari.

PERMASALAHAN Semakin demokratis sistem kepolitikan di sebuah negeri, maka seharusnya semakin rendah angka korupsi yang terjadi. Namun, Indonesia tidaklah demikian. Sistem kepolitikan di negeri ini memanglah demokratis. Tetapi tidak demikian dengan angka korupsi. Semakin banyaknya kasus korupsi yang belum terselesaikan menyebabkan tanda tanya yang besar pada pikiran kita. Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa diperlukan perubahan yang besar pada pola hidup masyarakat Indonesia untuk menghilangkan tindak korupsi. KPK merupakan salah satu jawaban dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Namun timbul pertanyaan, apakah dengan KPK akan memberantas semua korupsi yang ada di Indonesia? Tentu saja jawabannya adalah tidak. KPK hanya merupakan lembaga yang digunakan untuk memproses tindakan korupsi. Mulai dari mencari bukti, mencari saksi, menetapkan tersangka hingga pada saat proses hukumnya. Memang benar dengan adanya KPK akan mengurangi sedikit tindakan korupsi yang ada di institasi tinggi dan pemerintahan. Tetapi KPK tidak dapat menyentuh segala sendi dari kehidupan masyarakat di Indonesia yang sudah mengakar dengan kebudayaan korupsi. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk ikut serta dalam upaya pemberantasan korupsi. Generasi muda diharapkan juga lebih proaktif dalam kegiatan ini. Upaya pemberantasan secara total akan sangat sulit untuk dilakukan. Maka dari itu, dibutuhkan tindakan pencegahan untuk menekan tingkat korupsi yang sudah ada. Untuk membahas lebih jauh dari upaya pencegahan ini, maka pada makalah ini akan beberapa pokok masalah yang sering timbul, yaitu: 1. Apakah penyebab korupsi? 2. Apakah dampak dari korupsi di dalam masyarakat? 3. Bagaimanakah cara pencegahan korupsi yang dapat dilakukan?

PEMBAHASAN A. Pengertian Korupsi Korupsi berasal dari bahasa latin corruptio yang berasal dari kata kerja corrumpere yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik, menyogok). Arti korupsi menurut Transparency Internasional adalah perilaku pejabat publik, baik politikus politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkayakan diri atau memperkayakan mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsurunsur sebagai berikut yaitu perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan wewenang, kesempatan, atau sarana memperkayakan diri sendiri, orang lain, atau korupsi merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Sedangkan menurut Kartono (1983) korupsi adalah tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeruk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. Wertheim (Dalam Lubis 1970) mengatakan bahwa seorang pejabat dikatakan korupsi bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhi agar ia mengambil keputusan yang menguntungkan si pemberi hadiah. Dari pengertian-pengertian korupsi di atas bisa disimpulkan bahwa korupsi itu sebuah perilaku tidak amanah berupa penyalahgunaan wewenang dari jabatan oleh pegawai dan pejabat dengan maksud untuk memperkaya diri sendiri, keluarga, kelompoknya atau organisasinya yang menimbulkan kerugian bagi negara dan masyarakat. Di sini kita bisa melihat bahwa tindakan korupsi merupakan pelecehan terhadap tanggung jawab dan pengkhianatan terhadap masyarakat dan negara. Latar Belakang terjadinya Korupsi Korupsi dapat terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhi pelaku korupsi itu sendiri atau yang biasa kita sebut koruptor. Adapun sebab-sebabnya, antara lain: 1. Klasik a. Ketiadaan dan kelemahan pemimpin. Ketidakmampuan pemimpin untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, merupakan peluang bawahan melakukan korupsi. Pemimpin yang bodoh tidak mungkin mampu melakukan kontrol manajemen lembaganya. Kelemahan pemimpin ini juga termasuk keleadershipan, artinya, seorang pemimpin yang tidak

memiliki karisma, akan mudah dipermainkan anak buahnya. Leadership dibutuhkan untuk menumbuhkan rasa takut di kalangan staf untuk melakukan penyimpangan. b. Kelemahan pengajaran dan etika Hal ini terkait dengan sistem pendidikan dan substansi pengajaran yang diberikan. Pola pengajaran etika dan moral lebih ditekankan pada pemahaman teoritis, tanpa disertai dengan bentuk-bentuk pengimplementasiannya. c. Kolonialisme dan penjajahan Penjajah telah menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang tergantung, lebih memilih pasrah dari pada berusaha dan senantiasa menempatkan diri sebagai bawahan. Sementara, dalam pengembangan usaha, mereka lebih cenderung berlindung di balik kekuasaan (penjajah) dengan melakukan kolusi dan nepotisme. Sifat dan kepribadian inilah yang menyebabkan munculnya kecenderungan sebagian orang melakukan korupsi. d. Rendahnya pendidikan Masalah ini sering pula sebagai penyebab timbulnya korupsi. Minimnya ketrampilan, skill, dan kemampuan membuka peluang usaha adalah wujud rendahnya pendidikan. Dengan berbagai keterbatasan itulah mereka berupaya mendasari peluang dengan menggunakan kedudukannya untuk memperoleh keuntungan yang besar. Yang dimaksud rendahnya pendidikan di sini adalah komitmen terhadap pendidikan yang dimiliki. Karena pada kenyataannya, para koruptor rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang memadai, kemampuan, dan skill. e. Kemiskinan Keinginan yang berlebihan tanpa disertai instropeksi diriatas kemampuan dan modal yang dimiliki mengantarkan seseorang cenderung melakukan apa saja yang dapat mengangkat derajatnya. Atas keinginannya yang berlebihan ini, orang akan menggunakan kesmpatan untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. f. Tidak adanya hukuman yang keras, seperti hukuman mati, seumur hidup atau di buang ke Pulau Nusakambangan. Hukuman sepertii tulah yang diperlukan untuk menuntaskan tindak korupsi. 2. Modern a. Rendahnya Sumber Daya Manusia.

Penyebab korupsi yang tergolong modern itu sebagai akibat rendahnya sumber daya manusia. Kelemahan SDM ada empat komponen, sebagai berikut: Bagian kepala, yakni menyangkut kemampuan seseorang menguasai permasalahan yang berkaitan dengan sains dan knowledge. Bagian hati, menyangkut komitmen moral masing-masingkomponen bangsa, baik dirinya maupun untuk kepentinganbangsa dan negara, kepentingan dunia usaha, dan kepentinganseluruh umat manusia. Komitmen mengandung tanggung Aspek jawabuntuk atau melakukan sesuatu yakni hanya yang terbaik dan menguntungkan semua pihak. skill keterampilan, kemampuan seseorangdalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Fisik atau kesehatan, Ini menyangkut kemanpuan seseorang mengemban tanggung jawab yang diberikan. Betapa punmemiliki kemampuan dan komitmen tinggi, tetapi bila tidak ditunjang dengan kesehatan yang prima, tidak mungkin standardalam mencapai tujuan. 3. Struktur ekonomi. Pada masa lalu struktur ekonomi yang terkait dengan kebijakan ekonomi dan pengembangannya dilakukan secara bertahap. Sekarang tidak ada konsep itu lagi. Dihapus tanpa ada penggantinya, sehingga semuanya tidak karuan, tidak dijamin. Jadi, kita terlalu memporak-perandakan produk lama yang bagus. Jenis-Jenis Tindak Pidana Korupsi Dalam melaksanakan tugas atau melakukan kegiatan usaha banyak hal yang terjadi. Para pegawai dalam melaksanakan tugasnya lalai, kinerjanya tidak baik dan kurang disiplin. Hal ini merupakan suatu pelanggaran yang bisa dikatagorikan korupsi. Para pengusaha atau para perilaku ekonomi lain dalam melaksanakan kegiatannya banyak melakukan hal tidak terpuji yang dicapai untuk mencapai keuntungan dengan cara-cara seperti : Pengusaha, untuk mendapatkan izin usaha dengan cepat bersedia membayar kepada petugas pengurusan perizinan walaupun diluar ketentuan Pegawai, yang mutasi bersedia membayar harga pengurusan surat-surat mutasinya kepada petugas di instansi yang bersangkutan walaupun tidak ada aturan dan ketentuannya

Pelamar kerja, demi bisa diterima bersedia membayar kepada pejabat atau petugas yang bersedia mengusahakan agar bisa diterima padahal itu diluar ketentuan Berdasarkan contoh perilaku di atas baik yang dilakukan oleh orang yang dilayani

maupun oleh petugas sebagai pelayan keduanya melanggar aturan. Karena dari perilaku tersebut muncul bibit-bibit korupsi yang tidak terasa perkembangannya. Terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi antara lain : Memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan) Penggelapan dalam jabatan Pemerasan dalam jabatan Ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara)

Dampak Dari Korupsi Dampak yang terjadi akibat adanya korupsi adalah: 1. Bidang Demokrasi Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan. Didalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal. Korupsi di pemilihan umum dan di badan legislatif mengurangi akuntabilitas dan perwakilan di pembentukan kebijaksanaan, korupsi disistem pengadilan menghentikan ketertiban hukum, dan korupsi di pemerintahan publik menghasilkan ketidak seimbangan dalam pelayanan masyarakat. Secara umum, korupsi mengkikis kemampuan institusi dari pemerintah, karena pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau dinaikan jabatan bukan karena prestasi. Pada saat yang bersamaan, korupsi mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi. 2. Bidang Ekonomi Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan. Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat ketidak efisienan yang tinggi. Dalam sektor privat, korupsi meningkatkan ongkos niaga karena kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup, dan risiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan. Walaupun ada yang menyatakan bahwa korupsi mengurangi ongkos (niaga) dengan mempermudah birokrasi, konsensus yang baru muncul berkesimpulan bahwa ketersediaan sogokan menyebabkan pejabat untuk membuat aturan-aturan baru

dan hambatan baru. Dimana korupsi menyebabkan inflasi ongkos niaga, korupsi juga mengacaukan "lapangan perniagaan". Perusahaan yang memiliki koneksi dilindungi dari persaingan dan sebagai hasilnya mempertahankan perusahaan-perusahaan yang tidak efisien. Korupsi menimbulkan distorsi (kekacauan) di dalam sektor publik dengan mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek masyarakat yang mana sogokan dan upah tersedia lebih banyak. Pejabat mungkin menambah kompleksitas proyek masyarakat untuk menyembunyikan praktek korupsi, yang akhirnya menghasilkan lebih banyak kekacauan. Korupsi juga mengurangi pemenuhan syarat-syarat keamanan bangunan, lingkungan hidup, atau aturan-aturan lain. Korupsi juga mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan dan infrastruktur, dan menambahkan tekanan-tekanan terhadap anggaran pemerintah. Para pakar ekonomi memberikan pendapat bahwa salah satu faktor keterbelakangan pembangunan ekonomi di Afrika dan Asia, terutama di Afrika, adalah korupsi yang berbentuk penagiaha yang menyebabkan perpindahan penanaman modal (capital investment) ke luar negeri, bukannya diinvestasikan ke dalam negeri (maka adanya ejekan yang sering benar bahwa ada diktator Afrika yang memiliki rekening bank di Swiss). Dalam kasus Afrika, salah satu faktornya adalah ketidakstabilan politik, dan juga kenyataan bahwa pemerintahan baru sering menyegel aset-aset pemerintah lama yang sering didapat dari korupsi. Ini memberi dorongan bagi para pejabat untuk menumpuk kekayaan mereka di luar negeri, diluar jangkauan dari ekspropriasi di masa depan. 3. Bidang Kesejahteraan Negara korupsi politis ada dibanyak negara, dan memberikan ancaman besar bagi warga negaranya. Korupsi politis berarti kebijaksanaan pemerintah sering menguntungkan pemberi sogok, bukannya rakyat luas. Satu contoh lagi adalah bagaimana politikus membuat peraturan yang melindungi perusahaan besar, namun merugikan perusahaan-perusahaan keci. Politikus-politikus "probisnis" ini hanya mengembalikan pertolongan kepada perusahaan besar yang memberikan sumbangan besar kepada kampanye pemilu mereka. Hal-Hal Yang Dilakukan Untuk Memberantas Korupsi 1. Strategi Preventif Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan dengan diarahkan pada hal-hal yang menjadi penyebab timbulnya korupsi. Setiap penyebab yang terindikasi harus dibuat upaya

preventifnya, sehingga dapat meminimalkan penyebab korupsi. Disamping itu perlu dibuat upaya yang dapat meminimalkan peluang untuk melakukan korupsi dan upaya ini melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaanya agar dapat berhasil dan mampu mencegah adanya korupsi. 2. Strategi Deduktif Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan agar apabila suatu perbuatan korupsi terlanjur terjadi, maka perbuatan tersebut akan dapat diketahui dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan seakurat-akuratnya, sehingga dapat ditindaklanjuti dengan tepat. Dengan dasar pemikiran ini banyak sistem yang harus dibenahi, sehingga sistem-sistem tersebut akan dapat berfungsi sebagai aturan yang cukup tepat memberikan sinyal apabila terjadi suatu perbuatan korupsi. Hal ini sangat membutuhkan adanya berbagai disiplin ilmu baik itu ilmu hukum,ekonomi maupun ilmu politik dan sosial. 3. Strategi Represif Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan untuk memberikan sanksi hukum yang setimpal secara cepat dan tepat kepada pihak-pihak yang terlibat dalam korupsi. Dengan dasar pemikiran ini proses penanganan korupsi sejak dari tahap penyelidikan, penyidikan dan penuntutan sampai dengan peradilan perlu dikaji untuk dapat disempurnakan di segala aspeknya, sehingga proses penanganan tersebut dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Namun implementasinya harus dilakukan secara terintregasi. Bagi pemerintah banyak pilihan yang dapat dilakukan sesuai dengan strategi yang hendak dilaksanakan. Bahkan dari masyarakat dan para pemerhati atau pengamat masalah korupsi banyak memberikan sumbangan pemikiran dan opini strategi pemberantasan korupsi secara preventif maupun secara represif antara lain : a. Konsep carrot and stick Konsep carrot and stick yaitu konsep pemberantasan korupsi yang sederhana yang keberhasilannya sudah dibuktikan di Negara RRC dan Singapura. Carrot adalah pendapatan netto pegawai negeri, TNI dan Polriyang cukup untuk hidup dengan standar sesuai pendidikan, pengetahuan, kepemimpinan, pangkat dan martabatnya, sehingga dapat hidup layak bahkan cukup untuk hidup dengan gaya dan gagah. Sedangkan Stick adalah bila semua sudah dicukupi dan masih ada yang berani korupsi, maka hukumannya tidak tanggung-tanggung, karena tidak ada alasan sedikitpun untuk melakukan korupsi, bilamana perlu dijatuhi hukuman mati.

b. Gerakan Masyarakat Anti Korupsi Gerakan masyarakat anti korupsi yaitu pemberantasan korupsi di Indonesia saat ini perlu adanya tekanan kuat dari masyarakat luas dengan mengefektifkan gerakan rakyat anti korupsi, LSM, ICW, Ulama NU dan Muhammadiyah ataupun ormas yang lain perlu bekerjasama dalam upaya memberantas korupsi, serta kemungkinan dibentuknya koalisi dari partai politik untuk melawan korupsi. Selama ini pemberantasan korupsi hanya dijadikan sebagai bahan kampanye untuk mencari dukungan saja tanpa ada realisasinya dari partai politik yang bersangkutan. Gerakan rakyat ini diperlukan untuk menekan pemerintah dan sekaligus memberi kan dukungan moral agar pemerintah bangkit memberantas korupsi. c. Gerakan Pembersihan Gerakan Pembersihan yaitu menciptakan semua aparat hukum (Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan) yang bersih, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab serta memiliki komitmen yang tinggi dan berani melakukan pemberantasan korupsi tanpa memandang status sosial untuk menegakkan hukum dan keadilan. Hal ini dapat dilakukan dengan membenahi sistem organisasi yang ada dengan menekankan prosedur structure follows strategy yaitu dengan menggambar struktur organisasi yang sudah ada terlebih dahulu kemudian menempatkan orang-orang sesuai posisinya masing-masing dalam struktur organisasi tersebut. d. Gerakan Moral Gerakan moral yang secara terus menerus mensosialisasikan bahwa korupsi adalah kejahatan besar bagi kemanusiaan yang melanggar harkat dan martabat manusia. Melalui gerakan moral diharapkan tercipta kondisi lingkungan sosial masyarakat yang sangat menolak, menentang, dan menghukum perbuatan korupsi dan akan menerima, mendukung, dan menghargai perilaku anti korupsi. Langkah ini antara lain dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan, sehingga dapat terjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama generasi muda sebagai langkah yang efektif membangun peradaban bangsa yang bersih dari moral korupsi. e. Gerakan Pengefektifan Birokrasi Gerakan pengefektifan birokrasi yaitu dengan menyusutkan jumlah pegawai dalam pemerintahan agar didapat hasil kerja yang optimal dengan jalan

menempatkan orang yang sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Dan apabila masih ada pegawai yang melakukan korupsi, dilakukan tindakan tegas dan keras kepada mereka yang telah terbukti bersalah dan bilamana perlu dihukum mati karena korupsi adalah kejahatan terbesar bagi kemanusiaan dan siapa saja yang melakukan korupsi berarti melanggar harkat dan martabat kehidupan. Pemerintah setiap negara pada umumnya pasti telah melakukan langkah-langkah untuk memberantas korupsi dengan membuat undangundang.Indonesia juga membuat undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Pencegahan Korupsi Seperti kita ketahui, korupsi sudah mengakar dalam kebudayaan Indonesia. Memang saat ini kita sudah melakukan perang terhadap korupsi. Namun hal itu dirasa tidak cukup. Agar korupsi ini tidak terus terjadi di masa yang akan datang, maka diperlukan suatu tindakan pencegahan yang harus dilakukan. Tindakan pencegahan yang dapat kita lakukan adalah: Dalam Perusahaan Kegiatan pencegahan korupsi dalam perusahaan dapat dilakukan sebagai berikut: 1. Mempekerjakan orang-orang yang jujur Sulit memang untuk mengetahui bagaimana calon pekerja tersebut jujur atau tidak. Mungkin hal tersebut bisa dicapai dengan metode-metode khusus dalam penyeleksian (tes psikologi) dan dari wawancara. Dengan penyeleksian khusus tersebut diharapkan dapat menjaring pekerja-pekerja yang jujur. 2. Memperkecil celah untuk terjadinya kolusi Kolusi sering terjadi di dalam perusahaan. Oleh karen itu, perusahaan dapat membuat suatu kebijakan yang akan memperkecil celah terjadinya kolusi. Kebijakan tersebut seperti mutasi yang dilakukan secara periodik, tidak boleh ada hubungan keluarga di dalam satu perusahaan, dll. 3. Memperbaiki kualitas SPI perusahaan Dengan adanya SPI yang berkualitas baik, maka perusahaan dapat berjalan dengan baik. Karena jika SPI perusahaan lemah, maka akan sangat dimungkinkan terjadi tindak-tindak kecurangan yang dilakukan oleh pegawai.

4. Memberikan Punishment dan Award Perusahaan hendaknya memberikan sanksi yang tegas kepada pekerja yang melakukan kesalahan. Namun perusahaan juga akan memberikan penghargaan yang setingi-tingginya untuk pekerja yang berprestasi atau bekerja dengan sangat baik. 5. Diadakan audit secara aktif Cara yang paling efektif yang ada untuk di menemukan adalah adanya dengan penyelewengan/kecurangan perusahaan

diadakannya audit secara aktif. Misalnya setahun sekali. Dengan audit tersebut diharapkan kinerja perusahaan dapat berjalan dengan semestinya/baik. Dalam Masyarakat Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya korupsi. Salah satu cara yang mudah adalah dari diri kita sendiri. Hal itu bisa dimulai dengan bertindak sesuai dengan aturan, dan jika kita melanggarnya maka konsekuensinya harus kita terima. Misalnya kita ketilang polisi, maka jangan menyogok polisi. Itu sama saja dengan kita membiarkan korupsi terjadi. Contoh yang lain adalah sebisanya tidak membayar pungli-pungli atau iuaran sukarela yang ada. Seperti kita tahu, biasanya saat kita membuat perpanjangan sim atau ktp pastinya kita diminta untuk membayar uang sukarela. Sebisanya kita tidak membayarnya. Atau kalau kita adalah salah satu pegawai pemerintah yang bergerak di bidang pelayanan, maka janganlah kita meminta-minta uang sukarela kepada masyarakat. Dan masih banyak contoh lain yang bisa kita lakukan. Peran mahasiswa dalam pencegahan korupsi Salah satu aktor yang bisa berperan besar adalah mahasiswa. Keberadaan mahasiswa dalam pentas realitas kebangsaan selalu memberikan warna dan harapan baru. Mahasiswa adalah aktor strategis yang selalu memiliki kemampuan untuk menginspirasi perubahan. Tetapi seiring berjalannya waktu, posisi mahasiswa sebagai agent of change dan problem solver dari segala permasalahan yang dihadapi oleh bangsa, perlahan terkikis karena mereka semakin tidak menyadari perannya sebagai seorang intelektual. Mahasiswa menjadi terpecah belah karena hanya mementingkan kelompok atau golongan tertentu. Mahasiswa pada akhirnya hanya menambah permasalahan bangsa ini, mereka seakan menuntut pemberantasan korupsi di negeri

ini, tetapi mereka juga lah pada akhirnya yang memperkeruh suasana dengan hanya embel menuntut tanpa memberikan solusi dari hasil kajian yang positif. Dalam segala program kerja mengenai pemberantasan korupsi, gerakan yang digalang oleh para mahasiswa juga berjalan sendiri, tanpa mendapat dukungan dari gerakan/komunitas lain yang bertujuan sama. Korupsi bukanlah sekedar persoalan immoralitas aktor, tapi juga merupakan agenda state building. Korupsi sudah waktunya tidak dipandang hanya karena para koruptor tidak memiliki moral yang baik, tetapi ada berbagai tekanan dan kepentingan politik yang mendasarinya. Selain itu sistem peradilan hukum yang bobrok juga menjadi penyebab sulitnya memberantas korupsi di negeri ini. Para penegak hukum senantiasa tetap melenggangkan para koruptor untuk terus bebas melancarkan aksinya. Bentuk hukuman yang diberikan para koruptor dari para penegak hukum, baik itu denda, uang pengganti, maupun penjara, belum bisa memberikan efek jera bagi koruptor dan para calon koruptor lainnya. Oleh karenanya, salah satu cara agar agenda pemberantasan korupsi bisa berjalan efektif dan sesuai dengan tujuan adalah mengubah pandangan bahwa korupsi jangan hanya dipandang sebagai immoralitas aktor, tetapi juga dipandang sebagai perang melawan sistem dan struktur yang tetap mengingingkan korupsi tumbuh subur di negeri ini. Untuk mengagendakan perang melawan struktur dan sistem yang telah rusak itu, maka secara logika, para aktivis yang selalu meneriakkan pemberantasan anti korupsi, juga harus bisa membentuk struktur dan sistem yang terencana dan teratur. Dalam rangka pembentukan struktur untuk melawan korupsi tersebut, para mahasiswa dapat mengambil peran yang sangat strategis, terutama dengan usahanya untuk bisa bergabung dengan gerakan atau bentuk civil society lainnya yang memiliki visi yang sama untuk memberantas korupsi. Istilah civil soceity sendiri dirumuskan oleh De Tocqueville yang berangkat dari tradisi liberal dengan semangat sebagai penyeimbang kekuatan negara. Arti dari civil society biasanya merujuk kepada pemberdayaan masyarakat dengan ciri utama seperti keswasembedaan (self generating), keswadayaan (self supporting), kesukarelaan (voluntary), dan kemandirian (Subono, 2003). Salah satu bentuk aktivisme civil society yang cukup khas adalah gerakan sosial. Sebagai bentuk aktivisme, gerakan sosial didefinisikan sebagai bentuk aksi kolektif dengan orientasi konfliktual yang jelas terhadap lawan sosial dan politik tertentu, dilakukan dalam konteks jejaring lintas kelembagaan yang erat oleh aktoraktor yang diikat rasa solidaritas dan identitas kolektif yang kuat melebihi bentukbentuk ikatan dalam koalisi dan kampanye bersama (Diani & Bison, 2004). Berangkat

dari pemahaman itu, gerakan sosial merupakan aksi kolektif dari berbagai macam organisasi, komunitas dan kelompok dengan artikulasi dan tujuan yang jelas.\nPeran mahasiswa sebagai salah satu aktor dari gerakan sosial pemberantasan anti korupsi adalah melakukan sesuai dengan kadar intelektualnya. Wajah mahasiswa yang kerap kali dituding sebagai biang keladi macetnya jalanan karena sering melakukan aksi demonstrasi yang tidak berdasar pada kajian ilmiah, harus dirubah. Mahasiswa bisa berperan melakukan berbagai diskusi, kajian, dan penelitian yang bersifat ilmiah. Dari situ, mereka bisa memberikan solusi yang sesuai dengan permasalahan yang terjadi dan bisa dipertanggungjawabkan karena sudah melalui kajian yang bersifat objektif. Generasi muda Contoh yang terkecil yang bisa diajarkan oleh seorang ibu kepada anak-anaknya untuk pencegahan korupsi dimasa yang akan datang adalah untuk tidak mencontek disekolah karena itu adalah perbuatan yang tidak jujur. Dengan mengajarkan kejujuran dari hal yang terkecil kepada anak, akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang mengagungkan sebuah nilai kejujuran. Sedari kecil sudah ditanamkan untuk belajar keras agar dapat nilai yang bagus, tapi tidak dengan cara mencontek. Dari kebiasaan itu maka anak-anak akan mengetahui bahwa dengan belajar giat maka akan dapat nilai yang bagus. Susah payah serta kesulitan dalam belajar akan mengajarkan anak untuk menghargai arti sebuah perjuangan. Memahami pentingnya sebuah proses untuk mencapai hasil, ketika anak tersebut sudah dewasa dan bekerja maka ia tidak akan melakukan pekerjaan yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuan.

KESIMPULAN Korupsi pada dasarnya ada di sekeliling kita, mungkin terkadang kita tidak menyadari itu. Korupsi bisa terjadi dirumah, sekolah, masyarakat, maupun diintansi tertinggi dan dalam pemerintahan. Korupsi adalah suatu tindak perdana yang memperkaya diri yang secara langsung merugikan negara atau perekonomian negara. Jadi, unsur dalam perbuatan korupsi meliputi dua aspek. Aspek yang memperkaya diri dengan menggunakan kedudukannya dan aspek penggunaan uang negara untuk kepentingannya. Adapun penyebabnya antara lain, ketiadaan dan kelemahan pemimpin, kelemahan pengajaran dan etika, kolonialisme, penjajahan rendahnya pendidikan, kemiskinan, tidak adanya hukuman yang keras, kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku korupsi, rendahnya sumber daya manusia, serta struktur ekonomi. Korupsi dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu bentuk, sifat, dan tujuan. Dampak korupsi dapat terjadi di berbagai bidang diantaranya, bidang demokrasi, ekonomi, dan kesejahteraan negara. Dibutuhkan kecerdasan dan keberanian untuk mendobrak dan merobohkan pilar-pilar korupsi yang menjadi penghambat utama lambatnya pembangunan ekonomi nan paripurna di Indonesia. Korupsi yang telah terlalu lama menjadi wabah yang tidak pernah kunjung selesai, karena pembunuhan terhadap wabah tersebut tidak pernah tepat sasaran. Oleh sebab itu dibutuhkan kecerdasan masyarakat sipil untuk mengawasi dan membuat keputusan politik untuk mencegah makin mewabahnya penyakit kotor korupsi di Indonesia.