Anda di halaman 1dari 45

1

BUNGA RAMPAI OBSTETRI & GINEKOLOGI DAN MASA DEPAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI SOSIAL
DI INDONESIA

O LEH : IDA BAGUS GDE MANUABA

Kongres Obstetri Dan Ginekologi Indonesia Ke XIII Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Di Manado

Yang terhormat : Ketua dan Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Ketua dan anggota Kolegium POGI Para Anggota dan Anggota Muda POGI yang sempat hadir. Para undangan dan hadirin yang kami muliakan. Merupakan penghormatan dan penghargaan yang sangat besar bagi saya dan keluarga, karena mendapatkan kesempatan untuk menguraikan pandangan dalam KOGI ke : XIII di kota Manado yang sudah merupakan tradisi POGI dan Kolegium sebelum mulai kegiatan IpTekDok tahunannya. Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya panjatkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa (Ida Hyang Widhi Wasa) yang telah melimpahkan taufik dan karunianya, sehingga kita dapat menyelenggarakan Kongres Perkumpulan Obstetri & Ginekologi Indonesia Ke XIII, berkat kerja keras Panitia Penyelenggara, serta dukungan seluruh anggota dan anggota muda. Sudah banyak beliau-beliau yang telah lebih dahulu, menguraikan dan mengucapkan Pidato Orasi yang sangat berguna bagi kita semuanya, untuk menjangkau masa depan yang lebih baik, tetapi penuh dengan tantangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedokteran (IpTekDok). Bangsa Indonesia, mempunyai perjalanan sejarah yang panjang, sehingga mempunyai berbagai bentuk kebudayaan dan adat istiadat asli. Sebagian dari kebudayaan dan adat itu berkaitan dengan masalah reproduksi, yang dapat dijabarkan secara modern. Keterkaitan masalah adat, budaya itulah yang ingin saya sampaikan, sehingga kita lebih menghargai apa dan bagaimanakah gambaran tradisi luhur reproduksi yang berkembang di Indonesia. Uraian saya meliputi beberapa masalah reproduksi yang tersurat dan tersirat dan masih dilaksanakan masyarakat yang semakin modern ini. Diantara masalah yang akan saya kemukakan adalah : 1. Masalah kebudayaan asli Indonesia. 2. Pandangan dan pelaksanaan philosophis reproduksi tradisonal 2.1. Masalah perkawinan 2.2. Masalah Waktu dan Keadaan Kejiwaan Saat Hubungan Seksual 2.3. Masalah embriologi kuno a. Pandangan Embriologi Menurut Hindu.

b. Pandangan Embriologi Menurut Islam. c. Pandangan Embriologi Menurut Kristen. 2.4. Masalah pengawasan kehamilan secara tradisional. 2.5. Masalah proses persalinan secara tradisional. 2.6. Masalah pengawasan pos partum secara tradisional. 2.7. Masalah perawatan bayi secara tradisional. 3. Gambaran reproduksi dalam ceritra Mahabarata. 4. Pelayanan Kesehatan dan Peningkatan Kesejahteraan. 5. Masalah masa depan ObGinSos 6. Kesimpulan. Saya tidak akan menguraikannya panjang lebar, hanya mencari hubungan berbagai aspek reproduksi tradisional dengan perkembangan IpTekDok reproduksi modern. Kita menyadari Indonesia mempunyai banyak suku bangsa dengan adat istiadat dan kebiasaan yang bervariasi, termasuk dalam masalah reproduksi. Semua bentuk variasi adat dan budaya itu bertujuan untuk mencari dan mencapai keselamatan, keluarga, lingkungan dan bahkan bangsa Indonesia Dalam menggali keterkaitan itulah, saya ingin mengajak para hadirin untuk menyimaknya sehingga judul uraian saya menjadi : BUNGA RAMPAI OBSTETRI & GINEKOLOGI DAN MASA DEPAN OBGINSOS DI INDONESIA yang akan dijabarkan sebagai berikut : 1. MASALAH KEBUDAYAAN ASLI INDONESIA Indonesia merupakan negara yang sudah tua, dengan perjalanan sejarah yang panjang, mempunyai kebudayaan dan adat asli yang patut dibanggakan. Diantara kebudayaan asli Indonesia adalah : 1. Wayang. 2. Gambelan. 3. Kemampuan membatik. 4. Konsep catur sanak empat saudara embrio. yang dijabarkan dalam hubungannya dengan reproduksi modern sebagai berikut :

1.1. Kebudayaan Wayang Wayang asli Indonesia hanya empat buah, satu pasang ditempatkan dan dimainkan oleh tangan kanan, sedangkan sepasang disebelah kiri dan dimainkan oleh tangan kiri. Keberadaan wayang mencerminkan bangsa Indonesia mempunyai kebiasaan bertutur dan senang berceritra. Pasangan wayang di Jawa : Semar dan Gareng. Petruk dan Bagong. Di Bali disebutkan : Melem berpasangan dengan Sangut. Tualen berpasangan dengan Merdah. Dengan berkembangnya Agama Hindu ke Nusantara ikut serta ceritra besar yaitu : Ramayana. Mahabarata. dua pasang Wayang asli Indonesia dipertahankan malah sebagai pengantar ceritra itu. Berkaitan dengan masalah reproduksi, Wayang dipentaskan untuk melakukan Ruwatan. Ruwatan adalah pementasan Wayang khusus untuk menebus noda pembawaan lahir, sehingga mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan yang dilakukan di Jawa dan Bali. Keadaan kekeluargaan yang sebaiknya dilakukan ruwatan adalah : Ontang-anting Untang-unting Uger-uger lawang Kembang sepasang Sendang kapit pancuran Serimpi 1.2. Gambelan Kita harus bangga karena ternyata gambelan yang sangat kompleks itu adalah hasil kreasi budaya bangsa Indonesia yang asli. Perkembangan Gambelan, diseluruh Nusantara sangat bervariasi, tergantung dari kebutuhan masyarakatnya. Di Jawa dan : anak laki tunggal. : anak perempuan tunggal. : dua anak laki-laki. : anak perempuan dua orang. : tiga anak perempuan ditengah. : empat anak perempuan semuanya.

Bali gambelan masih cukup lengkap, karena diperlukan dalam berbagai bentuk pelaksanaan upacara dan pertunjukan. Dalam kaitan dengan aspek reproduksi, maka gambelan akan mengikuti ruwatan dengan pementasan Wayang. Gambelan asli Indonesia tetap berkembang, karena didukung oleh : Institut Seni Indonesia (ISI) di Jakarta, Bali dan Yogyakarta, disamping itu di Bali dikembangkan Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI) sebagai sarana pendidikan dan selalu ada disetiap Banjar. 1.3. Kemampuan Membatik Kemampuan membatik khususnya batik tulis, merupakan budaya bangsa Indonesia asli. Berkembang terutama di Solo, Yogya dan Pekalongan serta sekitarnya. Batik dikaitkan dengan masalah reproduksi adalah saat dilakukan perkawinan, saat melakukan Pitonan dan sebagai pembungkus bayi baru lahir. Pitonan - Mitonin, hamil tujuh bulan dilakukan upacara busana, sampai tujuh kali dan baru disebutkan : pantes, baik dan cocok, dengan motif khusus. Itulah makna batik dikaitkan dengan aspek reproduksi khusus bagi keluarga baru untuk menyongsong kelahiran putranya. 2. PANDANGAN DAN PELAKSANAAN FILOSOFIS REPRODUKSI TRADISIONAL Sebagai dasar pembicaraan pandangan dan filosofis reproduksi tradisional dilandasi: bahwa masalah reproduksi bukanlah semata-mata proses biologis, tetapi jauh daripada itu merupakan ridlo dan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Dengan landasan pemikiran demikian, rasa syukur dan bakti munculkan berbagai bentuk upacara ritual adat istiadat reproduksi tradisional yang disesuaikan dengan daerah dan suku bangsa Indonesia. Bentuk upacara ritual reproduksi mulai sejak perkawinan, kehamilan, persalinan dan selanjutnya manusia yang lahir memasuki lingkaran hidup dewasa. Sebagian upacara ritual reproduksi berkaitan dengan ajaran Agama dan sebagian berdiri sendiri, sebagai kebiasaan turun temurun secara lokal. Tujuannya untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan dalam menempuh hidup lebih lanjut. Dengan demikian apapun bentuk upacara ritual reproduksi tradisional, tidak bertentangan dengan konsep Obstetri dan Ginekologi modern, yang juga mengharapkan keselamatan dan kesejahteraan dalam arti luas.

Saya hendak mencari makna serta arti simbolik dari upacara ritual reproduksi tradisional dengan konsep Obstetri dan Ginekologi modern, sehingga kelayakan pelaksanaannya dapat diteruskan. 2.1. Perkawinan Proses perkawinan adalah sakral, diikuti upacara ritualnya dengan tujuan utama, agar tercapai kelanggengan dalam menempuh hidup, punya keturunan selanjutnya sampai kakek-nenek dan bercucu. Kaitan perkawinan dengan masalah reproduksi terdiri dari tiga tahap utama yaitu : Bersih diri Kedua mempelai dibersihkan secara simbolik jiwa dan raganya, sehingga dapat menerima kehamilan yang bersifat suci, menurunkan generasi yang baik, berakhlak, beriman dan berbudi luhur sesuai dengan ajaran agama. Pengesahan perkawinan menurut adat dan agama : Pengesahan perkawinan berarti anak yang dilahirkan syah menurut adat dan agama (kini pengesahannya diikuti oleh Kantor Agama untuk kepastian hukum). Perkenalan Memperkenalkan kepada keluarga dan masyarakat, bahwa keduanya telah resmi menjadi suami istri. Melalui tiga konsep pokok itulah perkawinan menduduki tempat sakral, dalam kehidupan masyarakat. 2.2. Masalah Waktu dan Keadaan Kejiwaan Saat Hubungan Seksual Kendatipun masih memerlukan penelitian, akan kebenaran waktu dan keadaan kejiwaan saat melakukan hubungan seksual dapat berpengaruh terhadap kehamilan.

2.2.1. Masalah Hubungan Waktu Dengan Hubungan Seksual Betapa pentingnya hubungan seksual untuk menurunkan putra-putri yang diinginkan dapat dikemukakan :

Diwaktu malam, Dewi Ratih (bulan) sebagai lampunya alam, diwaktu siang Dewa Surya (matahari) sebagai lampunya dunia. Sedangkan dalam keluarga putra putri menjadi cahaya lampunya. Berkaitan penciptaan putra putri nasehat tentang hubungan seksual sebagai berikut ini : 1. 2. 3. 4. Senggama sebaiknya dilakukan malam hari, dalam situasi tenang dan diikuti dengan tidur yang nyenyak. Senggama siang hari menghasilkan keturunan yang lemah, umurnya pendek dan hidupnya kurang beruntung. Waktu hubungan seksual hari ke 8 sampai hari ke 16 dari menstruasi. Menstruasi dikaitkan dengan peredaran bulan, dilarang melakukan hubungan seksual saat menstruasi, satu hari menjelang dan sesudah bulan mati atau bulan purnama karena dianggap tidak menghormati bulan. 5. Masalah emosi saat melakukan hubungan seksual digambarkan sebagai berikut : 5.1. Hubungan seksual dalam keadaan penuh kecemasan dapat lahir anak yang buta, pungkuk, kerdil bahkan tanpa anggota badan. 5.2. Sebagai contoh dalam Mahabharata digambarkan : Janda Wicitrawirya dikawinkan oleh Ibunya Dewi Setyawati dengan putranya pertapa : Abyasa. Abyasa datang keperaduan Ambika dalam keadaan kudisan, kotor dan berbau, dalam kamar yang terang. Permaisuri Ambika, sangat kaget, takut, cemas sehingga memejamkan mata selama hubungan badan. Maka lahirlah Prabu Dastarasta yang buta. Permaisuri Ambalika didatangi dengan tujuan yang sama agar mendapatkan keturunan Bharata, Ambalika, terkejut, pucat pasi, sekalipun matanya tetap terbuka. Maka lahirnya Putra mahkota Pandu (pucat). Abyasa memasuki kamar untuk ketiga kalinya, ternyata digantikan pembantu. Pelayan ini menerimanya dengan penuh hormat kasih sayang dan memberikan pelayanan sebagaimana mestinya. Maka lahirlah seorang putra : Widura orang yang paling bijaksana diatas dunia ini.

Demikianlah contoh situasi kejiwaan saat hubungan seksual akan memberikan dampak putra - putrinya. 5.3. Masalah Penyebab Lahirnya Laki-laki, Perempuan, Banci, Cacat dan Kelahiran Kembar. Diceritrakan dalam Garbha upanisad sebagai berikut : Spermatozoa (laki) dan Sonita (wanita) bila bergabung kemampuan hidupnya meningkat dan dapat berlangsung terus. Lahir laki-laki bila pengaruh ayahnya lebih besar. Bila pengaruh ibunya lebih besar lahir perempuan. Bila sebanding maka lahirlah anak banci (kejiwaannya).

Hubungan seksual bila dikaitkan dengan variasi kehamilan. Bila hubungan seksual dilakukan dengan baik, anak yang lahir laki-laki, laksana gambaran ayahnya. Bila pecah akibat interaksi keduanya (sukla dan swanita) maka akan lahir kehamilan ganda. Bila swanita (benih perempuan) pecah ada kemungkinan akan lahir jenis kelamin campuran. Bila sekali melakukan hubungan seksual dan menjadi hamil, anak yang lahir menjadi pendiam. Sedangkan sebaliknya bila dilakukan hubungan seksual cukup sering, lahir anak, kemungkinan menjadi sepasang atau penuh dengan kegembiraan (superfekundasi).

Mengandung bayi hanya seorang adalah biasa, tetapi bila hamil dengan bayi kembar tiga, hanya satu dalam seribu.

Interpretasi Obstetri modern Nasehat tentang waktu, emosi saat melakukan hubungan seksual, tidak banyak perbedaan dikaitkan dengan reproduksi modern. Nasehat waktu hubungan seks hari ke 8 sampai ke 16, termasuk minggu subur. Larangan-larangan melakukan hubungan seks ditujukan untuk : Meningkatkan kualitas keturunan, yang diinginkan setiap keluarga.

Terselip ajaran berkeluarga berencana. Digambarkan kemungkinan kehamilan ganda superfekundasi atau triple, tentang kelahiran bayi laki atau perempuan serta kelahiran bayi dengan tempramen kejiwaan banci atau waria. Suatu bayangan yang membuka peluang untuk melakukan penelitian. 2.3. Masalah Embriologi Masalah embriologi kuno yang diajarkan Agama besar merupakan titik awal dari perkembangan reproduksi manusia, perlu diketahui dan dibandingkan. Persamaan pandangan agama adalah: mengakui adanya benih laki dan perempuan yang bila disatukan dalam rahim dapat berkembang menjadi bayi. Persamaan lainnya kemungkinan gagal dalam pertumbuhan dan mengakui tubuh fisik manusia berasal dari tanah. Untuk lebih jelasnya dikemukakan sebagai berikut : a. Embriologi menurut Ajaran Hindu Menurut Hindu kendaraan Roh adalah kama petak = spermatozoa, sehingga begitu terjadi pertemuan spermatozoa (Kama petak) dan ovum (Kama bang) telah terjadi proses kehidupan, dengan Roh (Atman) sebagai perekat dan berada ditengah.
Kama Dres Kama Petak (putih) Kama Jaya Spermatozoa Kendaraan roh Kama Dresti Kama Ratih Kama Bang Ovum

Sang Hyang Ajur Mula Leburnya kedua inti kama dres dan dresti. Rekonstruksi genetik. Hidup sudah mulai. Sang Hyang Rumaket. Terjadi : Nidasi Sang Hyang Antigajati Telor sesungguhnya Rekonstruksi genetik telah lengkap Tumbuh kembangnya berkelanjutan Embrio-janin sampai bayi

10 Pada saatnya terjadi proses kelahirannya

Sekalipun Roh, telah menjadi perekat, tumbuh kembang embrio menjadi janin dan selanjutnya bayi sejak mulai konsepsi telah dituntun oleh empat kekuatan catur sanak / empat saudara bayi sampai proses persalinannya. Konsep catur sanak (empat saudara bayi) merupakan kreativitas lokal yang dapat dijabarkan Obstetri modern. 1. Timur Kekuatan Iswara 2. Utara Kekuatan Wisnu : menguasai pembentukan yeh nyom (air ketuban). : menguasai pembentukan lamad (tali pusat). 3. Barat Kekuatan Mahadewa : menguasai pembentukan ari-ari (plasenta). 4. Selatan Kekuatan Brahma : menguasai getih (darah retroplasenter)

Di Jawa menurut Roeslam Doyowarsito mengatakan tentang terungkapnya kandang empat ke lima pancer sebagai berikut : a. Bayi sendiri menguasai kehidupan yang mengadakan : karsa, rasa dan cipta artinya kemampuan penalaran, memiliki perasaan dan mampu memanifestasikan dalam ciptaannya. b. Kawah (air ketuban) menguasai gerak dan menimbulkan asrat. c. Tali pusat menguasai prebawa dan menimbulkan keinginan. d. Ari-ari menguasai perlindungan hidup dan menetapkan tujuan. e. Darah (retroplasenter) menguasai kekuatan menimbulkan kemauan. Demikianlah masing-masing saudara janin - bayi telah melakukan tugas sehingga bayi pada waktunya dapat lahir dengan sempurna. Pembentukan fisik manusia menurut ajaran Hindu, terdiri dari Panca Mahabuta : artinya lima unsur utama tanpa nyawa. Kelima unsur utama dijumpai dijagat raya, sehingga mencetuskan gagasan : Buana alit, tubuh manusia sendiri Dibangun oleh Panca Mahabuta yaitu : Unsur pertiwi (bumi-tanah) : mengisi semua yang serba dapat dalam tubuh.

11

Unsur apah (dalam bentuk cairan - air) merupakan semua cairan tubuh, termasuk darah, cairan limpha dan lainnya. Bayu (udara) yang mengisi semua ruangan yang ada dalam tubuh. Teja (energi) hasil metabolisme tubuh yang dipergunakan untuk tumbuh kembangnya tubuh dan mengganti bagian yang rusak. Asther (zat) yang mengisi ruangan ampa udara dan berada diantara semua panca mahabuta lainnya. Buana agung adalah jagat raya itu sendiri Kaitannya dengan Obstetri modern Telah dikenal benih laki kama petak (spermatozoa) dan benih perempuan kama bang (ovum). Kendaraan roh, adalah kama petak, sehingga saat terjadi bentuk Sang Hyang Ajurmula atau konsepsi hidup telah mulai dengan roh sebagai perekatnya. Dikenal tiga tahap penting pertumbuhan : Sang Hyang Ajurmula : Leburnya inti kedua benih, dalam bentuk cair. Sang Hyang Rumaket : Terjadi nidasi dalam rahim. Sang Hyang Antigajati telor sejati : Semua rekonstruksi genetik sudah rampung. Tumbuh kembang berlangsung dari embrio, janin dan bayi. Konsep lokal catur sanak (empat saudara) sejak semula ikutserta dalam proses tumbuh kembang sampai melahirkan. Karena jasanya catur sanak mendapatkan penghormatan yang diwakili oleh ari-ari (plasenta). Penghormatan ari-ari setiap daerah bervariasi. Sumpah dokter : Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan. b. Embriologi Menurut Islam

12

Menurut Hadits 4, tentang tahapan penciptaan manusia dan amalan terakhirnya sebagai berikut : Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Masud : Ia berkata Rasullah bersabda kepada kami, sedang beliau adalah orang jujur dan dapat dipercaya : Seorang dari kalian dikumpulkan ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, lalu menjadi alaqah, selama empat puluh hari pula, lantas menjadi mudgaah, pada waktu yang sama pula. Kemudian Allah mengirimkan malaikat untuk meniupkan ruh dan ia diperintahkan agar menulis empat perkataan / ketetapan yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kesengsaraannya atau kebahagiaannya. Berbagai perubahan janin itu diisyaratkan Allah dalam ayatNya : Wahai manusia jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur) maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, lalu dari setetes air (mani), kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging (QS al Haji 5). Dalam firmanNya yang lain : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu, Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu, Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu, Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia mahluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah Pencipta Yang paling baik (QS al Mukminum 12 - 14). Para ulama sepakat bahwa ruh, ditiupkan pada janin saat berumur 120 hari yang dihitung sejak saat konsepsi, artinya waktu bayi berumur empat bulan penuh dan masuk bulan kelima. Ruh adalah sesuatu yang membuat manusia hidup dan ini sepenuhnya urusan Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam firmanNya : Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah : Ruh termasuk urusan Rabb-ku dan tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit. (QS al Isra 85) Kaitan dengan Obstetri modern 1. Uraian embriologi menurut Islam Terdiri dari tiga tahap dalam bentuk setetes air mani (nutfah) selama 40 hari, dalam bentuk segumpal darah (alaqah) atau sesuatu yang melekat

13

selama 40 hari dan akhirnya mudghah (segumpal daging) selama 40 hari pula. Setelah berumur 120 hari malaikat mengembuskan roh menyebabkan kehidupan dalam rahim. 2. Umur hasil konsepsi 120 hari berada antara umur bulan keempat - kelima, dan sudah terjadi gerakan ekstrimitas janin (quickening). 3. Secara sederhana dapat dianalogkan gerak berarti hidup, karena saat itulah roh dihembuskan oleh malaikat. c. Embriologi Menurut Kristen Dalam buku Maurice Bucaille, tentang Bibel. Quran dan Sains modern, tidak dijumpai ketentuan yang khas dari sudut Kristen. Diskusi dengan Prof. DR. dr. Wimpi Pangkahila dan Prof. DR. dr. Aleks Pangkahila menyatakan bahwa : intinya setelah terjadi konsepsi maka hasilnya berada dalam rahim sampai proses persalinan berlangsung. Ketentuan lainnya tidak dijumpai, tentang bagaimana perkembangan hasil konsepsi itu. Perbedaan dan Persamaan Embriologi Menurut Islam dan Hindu Perbedaan dan Persamaannya dijabarkan sebagai berikut : Perbedaan Islam Keterangan Roh diembuskan malaikat setelah hasil konsepsi berumur 120 hari, antara bulan keempat penuh, menuju bulan kelima. Telah mulai dirasakan gerakan (quickening). Ada kemungkinan menurut Islam, gerak (quickening) adalah hidup, sehingga mulai saat itu baru diembuskan roh oleh Hindu Persamaannya malaikat. Kendaraan roh adalah kama petak (spermatozoa) sehingga saat terjadi Ajurmula (konsepsi) hidup telah mulai. Keterangan Menurut Islam dan Hindu bersama-sama mengenal tiga tahap hidup utama dalam rahim. Bersama-sama mengakui bahwa fisik manusia berasal dari tanah.

14

Penjabaran Tiga Tahap Utama Tumbuh Kembang Janin Menurut Islam Nutfah Keterangan Bentuk cair. Selama 40 hari Menurut Hindu Sang Hyang Ajur Mula Keterangan Leburnya kedua inti kama petak dan kama bang. Bentuk cair. Roh mulai. Nidasi langsung sebagai telah

perekatnya Alaqhah Segumpal darah / sesuatu Sang Hyang yang melekat - nidasi. Mudghah Selama 40 hari. Segumpal daging. Selama 40 hari. Roh diembuskan. Tumbuh terus atas bantuan malaikat. Quickening - hidup mulai. Rumaket Sang Hyang Antigajati. Telor

hidup

sejati,

rekonstruksi

genetik telah rampung. Tumbuh kembang lanjut. Sejak konsepsi telah dibantu oleh catur sanaknya.

2.3. Masalah pengawasan kehamilan secara tradisional Kehamilan bukanlah semata-mata proses biologis, tetapi jauh daripada itu adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa, maka pengawasan hamilpun dilaksanakan berdasarkan keyakinan itu. Sebagian besar pengawasan hamil, persalinan, pengawasan pos partum masih tetap dilakukan oleh dukun anak atau peraji. Dengan landasan pasrah terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tidak dapat ditinggalkan dengan melakukan tindakan ritual yang sesuai dengan daerah dan suku bangsa kita. Pelaksanaan ritual itu dilakukan setiap bulan sesuai kehamilan yang makin besar serta mendekati kelahirannya.

15

Diantara upacara ritual yang masih tetap dilakukan adalah : 2.3.1. Upacara telah melewati krisis tiga bulan Keguguran paling sering terjadi pada bulan ketiga, sehingga bila dapat melewatinya diperlukan syukuran dengan ritual khusus sesuai dengan daerahnya. Jawa Barat disebut : Mangrupa : melewati krisis tiga bulan. Usik : karena telah dirasakannya gerakan janin dalam perut ibunya. Jawa umumnya : Catur hangga jati : bentuk tubuh janin makin nyata dan akan terus berkembang. Panca Yitma jati : mulai dirasakan gerakan janin pada perut ibunya. Bali : Pumsawana : upacara bayi bergerak (Quickening). Dalam konsep Ilmu Obstetri modern tidaklah salah untuk melakukan ungkapan syukur karena krisis pertama (tiga bulan) telah dilampaui dan mulai dengan dirasakannya quickening. 2.3.2. Upacara telah melampaui krisis kehamilan tujuh bulan Upacara tujuh bulan kehamilan sebagai ungkapan terima kasih dan syukur karena melewati krisis kehamilan kedua dan keluarga telah siap untuk menyongsong kelahiran. Penanggalan Jawa dan Bali yang berumur 35 hari upacara syukuran tujuh bulan berarti umur bayi mencapai 35 minggu atau 245 hari, bayi telah mampu hidup diluar kandungan. Upacara ini di Jawa : disebut Mitonin sedangkan di Bali disebut megedong-gedongan. 2.4. Masalah Proses Persalinan Secara Tradisional

16

Dalam literatur kuno tidak banyak dijumpai tentang proses persalinan kecuali dalam : Atharwa Weda yang intinya : Mengharapkan agar proses persalinan berjalan lancar. Saya menguak kantong bayi (yoni) memisahkan bayi dari ibunya semoga bayi terpisah dari ari-arinya dan lancar keluar. Bahwa proses persalinan sulit diperkirakan, sehingga bila terjadi masalah itu merupakan nasib yang bersangkutan. Di Bali diumpamakan bahwa proses persalinan : Ibunya laksana bergantung pada sehelai rambut, artinya setiap saat dapat terhancam oleh bahaya, yang mungkin saja merenggut jiwanya. Menghadapi proses persalinan terdapat dua hal penting yang perlu mendapat perhatian adalah : 2.4.1. 2.4.2. Memotong tali pusat. Menanam ari-ari.

yang dapat dijabarkan sebagai berikut : 2.4.1. Memotong tali pusat Teknik memotong tali pusat sangat cemerlang oleh karena dasar sterilitas telah diterapkan sebagai berikut : Dipergunakan sembilu, yang dibuat dari bambu untuk memotongnya. Untuk sterilitasnya sembilu diiriskan pada kunyir (yang mengandung yodium). Beralaskan kunyir tali pusat dipotong. Tali pusat diikat dengan benang. Tali pusat dibungkus dengan semacam rempah-rempah, sehingga cepat kering dan lepas dari perut bayinya. Tali pusat dikeringkan dengan abu dapur (arang). Setelah tali pusat lepas disimpan atau digantungkan pada leher bayi. 2.4.2. Perawatan Ari-ari atau Plasenta

17

Di Indonesia perawatan ari-ari, cukup baik, yaitu memberikan semacam penghormatan, oleh karena jasanya memelihara janin, bayi sampai saatnya berlangsung proses persalinan. Ari-ari atau plasenta mewakili tiga lainnya yaitu : Air ketuban. Tali pusat. Darah retroplasenter. Perawatan ari-ari (plasenta) ditugaskan kepada suami yang mempersiapkan diri dengan jalan mandi dan berpakaian yang bersih dan baik. Sebuah lubang dibuat dengan dalam secukupnya, sehingga keberadaan ari-ari tidak diganggu oleh binatang. Tempat ari-ari dapat dipergunakan : Kendil dari tanah / kelapa yang telah dibelah dua. Pada saat menanamnya kendil atau batok kelapa diisi : Garam atau rempah-rempah, sehingga cepat kering dan tidak berbau. Diisi lontar, pensil, yang menginginkan anaknya menjadi pandai. Dibungkus dengan kain putih. Diatasnya diberikan batu pemberat sehingga tidak digali oleh binatang. Diberi semacam sesajen dan lilin yang tetap menyala selama 42 hari. Setiap hari ari-ari itu diberikan ASI, sebagai personipikasi. Demikianlah secara simbolik perawatan ari-ari sebagai saudaranya bayi mendapat perhatian di Indonesia. Arti simbolik dicerminkan diantaranya : Menanam jangan terlalu dalam, sehingga rejekinya tidak sulit. Selama masa puerperium, ari-ari mendapatkan pemeliharaan yang baik, seolah-olah masih ada hubungan dengan bayinya. Apa saja yang diberikan pada bayi, maka ari-ari diikutsertakan. Di Bugis ditempat ari-ari ditanam pula pohon kelapa (pohon serbaguna). Di Bali bila menanam ari-ari disebelah kanan, berarti bayinya laki, sedangkan bila dikiri pintu kamar berarti perempuan. 2.5. Masalah Pengawasan Pos Partum Secara Tradisional

18

Setelah kelahiran bayinya maka masalah perawatan pos partum lebih banyak ditujukan untuk mempercepat pemulihan kesehatan ibunya dan persiapan untuk dapat memberikan ASI berkelanjutan. Pada perawatan pos partum di Jawa sering diberikan jamu khusus dengan tujuan untuk : Mempercepat pulihnya kesehatan. Memperlancar pengeluaran lokia - dan kebersihannya. Mempercepat dan melancarkan pengeluaran ASI. Tentang konsep Obstetri modern : early mobilization, mungkin tidak terlalu dianut, karena di Surabaya pernah terjadi ibu pos partum harus tidur terlentang selama empat puluh hari dan malam sehingga kedua labiumnya menjadi melekat. 2.6. Masalah Perawatan Bayi Baru Lahir Serentetan upacara ritual untuk bayi dilaksanakan dengan tujuan agar keselamatan bayi dapat berlangsung dengan baik. Saat bayi berumur enam bulan dilakukan kontak tanah untuk pertama kalinya, diharapkan bayi mendapatkan kekuatan dari alam. Kalau dianalogkan dengan ilmu Anak modern, maka umur enam bulan sudah menipis antibodinya yang dibawa sejak dalam kandungan, sehingga bayi harus dapat membentuk sendiri antibodi. Di Jawa peristiwa ini disebut : tedhak siten dan di Bali turun tanah. 3. GAMBARAN ASPEK REPRODUKSI DALAM CERITERA MAHABHARATA Dalam ceritera Mahabharata telah digambarkan berbagai aspek reproduksi yang menjadi kenyataan dan sebagian masih merupakan impian IpTekDok. Beberapa aspek reproduksi tersebut diantaranya : 3.1. Pembunuhan bayi baru lahir. Setelah Putra Raja Pratipa Sentanu dewasa, bertemu dengan Dewi Gangga dan memintanya untuk menjadi isterinya. Dewi Gangga setuju dengan syarat yaitu : Jangan berbicara keras kepadanya selama menjadi suaminya. Jangan melarang apapun yang diperbuatnya. Selama syarat itu dipenuhi, maka Raja Sentanu akan mendapatkan kebahagiaannya.

19

Dewi Gangga telah melahirkan Putra sebanyak tujuh kali, tetapi semuanya dibuang di sungai Gangga sampai tewas. Saat putranya yang kedelapan lahir dan akan dibuang ke sungai Gangga, Raja Sentanu, menegurnya sehingga perkawinannya mengalami kegagalan. Dewi Gangga masih bersedia untuk memelihara putra Raja Sentanu, sehingga dewasa dengan kemahiran Veda dan berperang yang tangguh. Kaitan dengan Obstetri modern : Membuang bayi bukan hal baru, sejak jaman Mahabharata telah dijumpai. Bahwa istri bersedia dan mendapatkan hak untuk memelihara bayinya, sesuai dengan hukum alam, karena masih membutuhkan ASI dan suami belum siap melakukan tugas itu. 3.2. Berdoa untuk mendapatkan keturunan baik dengan sifat agung (kedewataan) Dewi Kunti, putri Raja Yadawa, memberikan pelayanan terhadap tamu ayahnya Pertapa Druwasa. Pertapa Druwasa menyadari bahwa Dewi Kunti tidak akan mampu mempunyai anak dengan proses biologis karena suaminya terkutuk, akan meninggal saat bersenggama. Pertapa Druwasa memberikan mantram suci yang dapat memanggil Dewa siapa saja, agar mendapatkan keturunannya. Dewi Kunti masih belum percaya dan memanggil Dewa Surya, agar memberikan keturunan. Karena Dewi Kunti hanya mencoba mantram itu, Dewi Kunti menolaknya. Tetapi kesaktian Mantram itu tidak mungkin mengembalikan Dewa Surya. Dewi Kunti hamil dan melahirkan seorang Putra lengkap dengan senjata perangnya. Karena merasa malu bayi dibuang ke sungai Gangga yang akhirnya dipungut oleh ADITARA. Setelah kawin Dewi Kunti dan Dewi Madri mempunyai anak Panca Pendawa dengan Mantram suci itu. Kaitan dengan reproduksi modern : Kehamilan diluar nikah sudah dibayangkan pada jaman Mahabharata. Membuang bayi masih hidup dan ditemui seorang yang kebetulan belum mempunyai anak dan mengadopsi menjadi anaknya.

20

Apakah sistem kehamilan ini dapat digolongkan donor sperma dengan sepengetahuan suami, serta mengenal pendonor mempunyai kualitas yang tinggi. Atau memusatkan pikiran terhadap yang diinginkan sifat kedewataannya.

3.3. Bayi tabung (ART) Permaisuri Gandari istri Maharaja Dastarasta, hamil selama dua tahun, tetapi belum lahir. Karena kesalnya didahului kelahiran Yudistira, putra Pandu kehamilannya dipukul, sehingga melahirkan segumpal daging. Sambil menggerutu mengatakan ini katanya saya akan mempunyai anak seratus orang muncullah sabda (wahyu) yang mengatakan agar daging diperciki air suci Sungai Gangga dan segera menyediakan seratus buah tempayan untuk persemaiannya. Daging itu diperciki air dan akhirnya pecah menjadi seratus buah sebesar jempol. Daging pecahan itu ditaruh dalam tempayan dan akhirnya menjadi seratus orang pangeran Kaurawa. Hanya sayang tempramen kejiwaannya menyimpang dari keadaan tumbuh kembang pada kehamilan dalam uterus. Kaitannya dengan Obstetri modern : Kehamilan selama dua tahun merupakan kehamilan serotinus. Persalinan dilakukan dengan induksi (kekerasan). Tumbuh kembangnya seratus orang pangeran Kaurawa, dalam tempayan atau aquarium. Pertanyaan : apakah IpTekDok dalam perkembangannya mampu menumbuh kembangkan hasil konsepsi dalam aquarium. Tumbuh kembang kejiwaan ART dalam aquarium, tidak ada kontak batin dengan ibu dan keluarga, sehingga menyimpang dari pertumbuhan normal. 3.4. Perkawinan poliandri

21

Dewi Drupadi sebelum kelahirannya, memohon agar diberikan suami yang sempurna sampai lima kali. Saat permohonan terakhir Dewa Siwa muncul yang menyatakan Dewi Drupadi akan mempunyai lima orang suami. Dewi Drupadi kaget dan berusaha menolaknya, Bhatara Siwa mengatakan bukankah engkau telah memintanya sebanyak lima kali. Dewi Drupadi dimenangkan dalam sayembara oleh Arjuna, tetapi Ibunda Dewi Kunti menyuruh untuk membagi lima. Oleh karena itulah Dewi Drupadi mempunyai suami lima orang Panca Pendawa, disebut poliandri.

3.5. Pasangan infertilitas Raja Magada memohon keturunan pada Maha Resi yang bertapa dibawah pohon mangga. Permohonannya dikabulkan dan Beliau diberikan sebutir mangga. Karena beliau mempunyai istri dua orang (poligami) maka buah mangga itu dibagi dua, masing-masing setengah pada istrinya. Kedua permaisurinya akhirnya hamil bersamaan dan melahirkan bersama-sama tetapi malang bayinya setengah. Karena malu mempunyai anak setengah-setengah (cacat) maka kedua bagian bayi itu dibuang. Kebetulan seorang raksasa mencium bayi-bayi itu, serta memungutnya. Saking gembiranya sambil menari, dengan tidak sengaja keduanya dipertemukan sehingga melekat menjadi seorang bayi utuh. Bayi itu cepat menjadi besar dan langsung membunuh raksasa yang ingin memangsanya. Kaitannya dengan Obstetri modern : Sekalipun jaman modern, pasangan infertilitas tetap akan bersedia melakukan apa saja agar mendapatkan keturunan, termasuk meminta nasehat orang pintar. Makin tua pasangan infertilitas akan makin besar kemungkinan untuk melahirkan bayi cacat. Bayi cacat yang ringan masih ada kemungkinan untuk dilakukan operasi rekonstruksi. 3.6. Persalinan prematur dan asfiksia berat

22

Pada akhir perang Baratayuda, Aswatama, melepaskan : senjata rumput, sedangkan Arjuna melepaskan senjata barahmastra. Para maharesi meminta agar kedua senjata itu ditarik kembali, karena akan dapat menghancurkan dunia. Arjuna dapat menarik kembali senjatanya, sedangkan Aswatama tidak sanggup menariknya. Karena imbas senjata Aswatama kehamilan Dewi Utari lahir prematur dan mengalami aspiksia berat. Akhirnya Kresna dapat menyelamatkan bayi aspiksia itu, yang diberi nama : Pangeran Parikesit. Hubungan dengan Obstetri modern : Persalinan prematur diikuti asfiksia berat dapat terjadi karena kaget atau benturan langsung rahim (pada kehamilan). Senjata Arjuna sepertinya peluru kendali berulu ledak nukleir, yang dapat menghancurkan dunia. Senjata rumput Aswatama hanya merupakan peluru kendali yang mampu mencari sasaran.

4. PELAYANAN KESEHATAN DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN Dalam Pembukaan UUD 45 tercantum empat tujuan pembangunan bangsa yaitu : Mewujudkan kesejahteraan umum. Mencerdaskan kehidupan bangsa. Ikutserta dalam perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan. Meningkatkan keadilan sosial. Untuk mencapai sasaran tersebut tidaklah mudah, karena terdapat kendala-kendala yang sangat berat, disamping tergantung pada komitmen pemegang pucuk pimpinan. Kendala berat yang dihadapi bangsa Indonesia diantaranya : Jumlah penduduk yang terlalu besar, dengan pertumbuhan relatif tinggi. Distribusi penduduk yang tidak merata karena wilayah negara luas. Status perempuan Indonesia tergolong sangat menyedihkan menurut pengamatan WHO. Pertolongan persalinan masih didominer oleh Dukun beranak atau peraji.

23

Infrastruktur, sektor transportasi masih lemah sehingga menyulitkan untuk rujukan. Sifat dan sikap masyarakat yang cenderung komunal dan paternalistik. Sekalipun demikian pembangunan dalam bidang kesehatan sudah cukup berhasil dengan kriteria angka kematian ibu, sebesar 300 / 100.000 dan kematian perinatal sebesar 360/100.000, persalinan hidup. Angka ini merupakan tolok ukur Pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakatnya, sedangkan tingkat kesejahteraannya diukur dari penerimaan program keluarga berencana. Kalau disimak dan mengikuti grafik demografi Requenna (1966) ahli demografi Chilli, maka tingkat kesejahteraan bangsa Indonesia masih jauh, dan untuk mencapainya. Dalam kurun waktu enam puluh tahun, sudah banyak upaya pembangunan yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan itu belum dapat dicapai secara maksimal karena kendala yang telah dikemukakan sebagai berikut: 4.1. Pelaksanaan program keluarga berencana. 4.2. Pembangunan matarantai pelayanan kesehatan. 4.3. Pembangunan kesehatan masyarakat desa. 4.4. Pembangunan sistim kesehatan nasional. 4.5. Tanggapan Pemerintah terhadap safe motherhood initiatives. 4.6. Gagasan untuk mewujudkan kesejahteraan itu. Kita sudah mengetahui semua langkah pembangunan disampaikan dengan singkat, sebagai berikut :

4.1. Pelaksanaan program keluarga berencana Perkumpulan keluarga berencana Indonesia (PKBI) 1957 baru dapat melaksanakan aktivitas setelah Pemerintah melakukan penandatanganan Hak-hak Azasi Manusia PBB 1967. Bersama dengan Pemerintah membentuk Lembaga Keluarga Berencana Nasional 1969. Lembaga Keluarga Berencana Nasional, dianggap kurang berfungsi sehingga dibentuklah : Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang langsung dibawah Presiden. Keberadaan dibawah Presiden langsung menjamin pelaksanaan program keluarga berencana berjalan dengan efektif dan efisien. Pada PELITA pertama saja, telah mampu menurunkan kepemilikan anak dari 5,8 orang menjadi 3,8 rata-rata pada setiap keluarga.

24

Pelaksanaan keluarga berencana dikaitkan dengan upaya meningkatkan kesehatan keluarga, sehingga dapat diterima oleh semua pihak termasuk Alim Ulama. Pada tahun 1970, perkembangan pelayanan keluarga berencana ditambah dengan ujicoba : expanded post partum program. Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar termasuk salah satu yang memenuhi syarat. Akhir Pelita kelima pelaksanaan program BKKBN, telah berhasil menurunkan kepemilikan jumlah anak dalam keluarga menjadi 2,8 orang dan pertumbuhan penduduk dari 4,4% menjadi 1,7 - 1,9% setiap tahunnya. Dikaitkan dengan kematian, dapat dipastikan kematian maternal dan perinatal menurun, karena jumlah ibu hamil relatif berkurang. Tolok ukur kesejahteraan masyarakat dicerminkan dengan penerimaan program KB : Penerimaan 60 - 65% baru fase transisi dan belum mampu menurunkan pertumbuhan penduduk. Penerimaan 70 - 75% baru mencapai zero population growth. Penerimaan sekitar 80% lebih menurunkan pertumbuhan penduduk satu negara. Masalah gugur kandung yang aman dan bersih, masih dalam wacana, karena sulitnya untuk memenuhi syarat UU Kesehatan 23/1992. Kematian akibat gugur kandung yang tidak bersih dan tidak aman sekitar 50.000 - 55.000 orang setiap tahunnya. Tuntutan kaum perempuan agar dapat disediakan fasilitas gugur kandung bersih dan aman, hanya Rumah Saki Pemerintah, yang paling memenuhi syarat.

4.2. Pembangunan matarantai pelayanan kesehatan Seiring dengan pelaksanaan program keluarga berencana melalui BKKBN, dibangunlah matarantai pelayanan kesehatan sampai tingkat Kabupaten : Pusat Kesehatan Masyarakat (PusKesMas), dan ditambah PusKesMas Pembantu dan PusKesMas Keliling tahun 1970. Melalui PusKesMas pelayanan Kesehatan sederhana termasuk KB dengan berhasil. Diharapkan matarantai pelayanan kesehatan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menerima program KB dan menurunkan kematian

25

maternal dan kematian perinatal. Kini PusKesMas telah makin berkembang dan dipimpin dokter, bahkan ada yang mempunyai fasilitas tempat rawat inap.

4.3. Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa Pembangunan sampai tingkat PusKesMas, belum memuaskan karena masyarakat bersifat pasif, sehingga dibangunlah tahun 1975 Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) dengan Posyandu sebagai ujung tombaknya. Posyandu merupakan perpaduan aktivitas masyarakat secara aktif dengan petugas kesehatan di PusKesMas. Konsep Posyandu adalah : Panca Krida Posyandu : Melaksanakan gerakan KB. Pembinaan kesehatan ibu dan anak. Imunisasi ibu dan anak. Perbaikan gizi dan pemberian Fe. Penanggulangan penyakit diarrea. Panca Krida Posyandu dikembangkan dengan menambah dua pelayanan menjadi : Sapta Krida Posyandu : Meningkatkan kesehatan lingkungan. Menyediakan obat essensial - oralit dan vitamin. Koordinator Posyandu dilakukan oleh istri Pejabat setempat sebagai Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK). Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) turut aktif : Menganjurkan ibu hamil untuk melakukan antenatal care. Menganjurkan persalinan pada dukun terlatih atau tenaga kesehatan. Membantu pelayanan posyandu. Membantu pencatatan dan pelaporan. Kampanye vaksinasi. Mendukung pengembangan tehnologi tepat guna dan berdaya guna. Mendukung usaha peningkatan pendapatan keluarga. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hamil resiko tinggi. Pelaksanaan Posyandu dilakukan dengan mempergunakan lima meja : 1. Pelaporan dan pencatatan. 2. Penimbangan ibu dan bayi.

26

3. Penilaian gizi ibu hamil dan bayinya. 4. Pemeriksaan kesehatan. 5. Pelayanan kesehatan : Immunisasi. Pemberian obat-obatan. Untuk meningkatkan keberhasilan posyandu setiap bulannya dilakukan Kader Desa dengan mengemban Dasa Wisma.

4.4. Pembangunan Sistim Kesehatan Nasional Kerisauan tingginya angka kematian maternal telah mendorong pertemuan di Alma Ata 1978 Uni Sovyet yang mencetuskan gagasan : Primary health care. Health for all by the years 2000. Hasil pertemuan ditanggapi Pemerintah dengan membangun Sistim Kesehatan Nasional 1982 : Panca Karsa Usada : gagasan filosofis : Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong diri dalam bidang kesehatan. Perbaikan mutu lingkungan hidup guna meningkatkan kesehatan. Meningkatkan status gizi masyarakat. Menurunkan morbiditas dan mortalitas. Panca Karya Usada : gagasan pelaksanaan : Mengembangkan tenaga kesehatan. Meningkatkan dan memantapkan suana sehat. Pengendalian, pengawasan dan pengadaan obat dan makanan. Perbaikan gizi dan lingkungan hidup. Peningkatan dan pemantapan managemen dan hukum. Pelaksanaan Sistim Kesehatan Nasional, tidaklah sulit karena Indonesia telah mempunyai program : pelaksanaan KB, matarantai sistim pelayanan kesehatan dan pembangunan masyarakat desa, dengan ujung tombaknya Posyandu.

27

4.5. Tanggapan Pemerintah terhadap Safe Motherhood Initiatives Pertemuan tentang : Safe motherhood initiatives 1987 di Nairobi Kenya Afrika, dengan kesepakatan 1978, Uni Sovyet. Kematian matenal, diseluruh dunia sekitar 585.000, setiap tahunnya, sedangkan angka kematian perinatal sekitar 10.000.000 orang setahunnya. Disampaikan bila ibu-ibu diseluruh dunia hanya mempunyai anak sekitar 3 orang, kematian maternal dapat diturunkan menjadi 350.000 orang sedangkan kematian perinatal menurun menjadi 5,6 juta. Perlu dikemukakan bahwa : 1. Sebagian besar kematian terjadi di negara berkembang. 2. Bila kemampuan melakukan pertolongan pertama dapat ditingkatkan sebagian besar kematian masih dapat dihindari. Kalau disimak penyelenggaraan upaya menurunkan kematian di Indonesia telah bergerak jauh, sejak tahun 1970 mulai dengan pelaksanaan program keluarga berencana, dan membangun matarantai pelayanan kesehatannya, serta program pembangunan kesehatan masyarakat desa dan posyandu tahun 1975. Pelaskanaannya berpedoman Sistim Kesehatan Nasional 1982, dengan memanfaatkan matarantai pelayanan kesehatan. Untuk mengadopsi gagasan : Safe Motherhood Initiatives, Pemerintah mengaktifkan peranan Rumah Sakit dengan mencanangkan pelaksanaan : Rumah Sakit Sayang Ibu. Rumah Sakit Sayang Bayi. Gagasan Safe Motherhood Initiatives dengan konsep lima pilar saya tambahkan secara khusus untuk Indonesia : Meningkatkan upaya rujukan. Melakukan alih IpTekDok dan supervisi. agar lebih cepat ditangani dengan berkemampuan yang lebih baik. Ditengah masyarakat dikembangkan Gerakan Sayang Ibu meliputi satu kabupaten. Gerakan Sayang Ibu menimbulkan gagasan lebih terbuka, dengan konsep Hospital without wall. Konsep klinik mengandalkan kuratif tidak mampu menurunkan : lima pilar mendukung upaya menurunkan angka kematian maternal dan kematian perinatal, merupakan kelanjutan pertemuan Alma Ata

28

angka kematian karena penyebab kematian antara dan penyebab kematian tidak langsung harus dicari dimasyarakat.

4.6. Gagasan Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Sebagai tindak lanjut Safe motherhood initiatives Pemerintah menegaskan komitmennya terhadap peningkatan upaya kesejahteraan masyarakat tgl : 29 Juli 1988, melalui simposium nasional kesejahteraan ibu. Tujuan utamanya adalah untuk secepatnya dapat menurunkan angka kematian maternal dan kematian perinatal, dengan memperhitungkan faktor lingkungan. Untuk mencapai kesejahteraan. Kriteria tingkat III menurut Requena adalah : Mungkin pertumbuhan penduduk stabil. Melaksanakan program keluarga berencana sudah menjadi kebutuhan. Pendidikan dan sosial ekonomi sudah mapan. Pelaksanaan gugur kandung bersih dan aman hanya bersifat suplemen metode KB yang telah dimanfaatkannya. Pada tahun 1995, Pemerintah mempertegas komitmennya terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesehatannya dengan menempatkan seorang Bidan disetiap Desa di Indonesia. untuk sementara diharapkan bidan dapat : Petugas kesehatan pada lini terdepan. Membimbing dan mendidik dukun, serta mampu bekerja sama khususnya dalam bidang pertolongan persalinan. Bidan diharapkan dapat bekerja sama dengan masyarakat sehingga bersama-sama membangun pondok bersalin desa (polindes). Pada gilirannya nanti Bidan dapat menggantikan posisi dukun ditengah masyarakat. Gagasan menekan angka kematian maternal dan perinatal melalui : Making pregnancy safer tahun 1999 bukanlah hal baru, kecuali namanya baru. Pemerintah mencanangkan Gagasan berwawasan kesehatan untuk Indonesia sehat 2010. Masalah yang paling berat dihadapi Pemerintah : bagaimana dapat mengangkat derajat perempuan Indonesia dari predikat : very poor, menurut WHO.

29

Upaya tersebut menurut saya harus dimulai dengan meningkatkan : PENDIDIKANNYA DAN DERAJAT SOSIAL EKONOMINYA. Faktor kendala dalam masyarakat sangat sulit untuk dipecahkan dalam waktu singkat, sehingga masih memerlukan kerja berat.

Dalam alur pemecahan masalah dengan mempergunakan skema dikemukakan sebagai berikut :
SAFE MOTHERHOOD INITIATIVES Gerakan Sayang Ibu : audit AKI & AKP Hasil : perbaikan sistim pelayanan dan penurunan AKI & AKP

Making pregnancy safer initiatives. Hamil diinginkan dan sehat optimal.

Rekomendasi persalinan : Aman dan bersih. Spt B, Outlet vakum Forceps dan Seksio sesar. Persalinan sungsang kontroversi.

Pelaksanaan KB LKBN-BKKBN KB Rumah sakit Pospartum APM R.S Pemerintah. KB darurat

Pelayanan ANC Penapisan Ibu Hamil.

Persalinan bersih dan aman. Tenaga profesional atau bersertifikat. Rumah Sakit / Polindes.

Pelayanan Obstesensial - darurat. Puskesmas : POED dan PONED. Rumah Sakit : POEK-PONEK.

Rujukan : dini-tepat waktu. Transportasi lancar.

PELAYANAN OBSTETRI DASAR Rumah Sakit Sayang Ibu. Rumah Sakit Sayang Bayi.

GERAKAN SAYANG IBU Hospital without wall Satu Kabupaten

SISTIM KESEHATAN NASIONAL 1982 Perubahan orientasi klinik menuju orientasi ObGinSos. Hospital without wall. Safe motherhood initiatives (1987). Making Pregnancy Safer Initiatives (1999).

30

Pertemuan WHO - UNICEF Alma Atta 1978 Uni Sovyet: Primary health care. Health for all by the years 2000. YANG TELAH DILAKUKAN PEMERINTAH INDONESIA. Pelaksanaan KB pilar utama 1970. Pembangunan sarana pelayanan kesehatan Puskesmas - Puskesmas Pembantu - Keliling. 1975 : Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) Pelaksanaan Posyandu melalui PPKK daerah. KRISIS KEMANUSIAAN AKIBAT KELAHIRAN TANPA KENDALI Status perempuan Indonesia : sangat buruk, miskin dan pendidikan rendah. Pertolongan persalinan & gugur kandung dominan oleh dukun. Angka kematian maternal-perinatal tinggi. Faktor penyebab dominan : Jumlah perempuan penduduk terlalu besar, distribusi tak merata & kepulauan. Status sangat buruk, miskin dan pendidikan rendah. Faktor lingkungan, kultur masyarakat tidak mendukung upaya peningkatan DEPAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI SOSIAL DI INDONESIA kesejahteraan dan rujukan (Paternalistik).

MASA

Beberapa anggota POGI menyadari bahwa, tidaklah mungkin untuk menurunkan angka kematian dengan jalan menunggu di Rumah Sakit, tanpa ikut serta melakukan intervensi ditengah masyarakat. Dengan berlandaskan definisi ObGinSos, adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara kesehatan morbiditas dan mortalitas reproduksi dengan lingkungan maka, sikap orientasi klinis (kuratif) makin membuka diri untuk mencari penyebabnya ditengah masyarakat. Kalau disimak pelayanan kesehatan maka ObGinSos adalah pelaksanaan konsep promotif dan preventif, reproduksi dengan jalan mengendalikan penyebab kematian antara dan penyebab tidak langsung yang keseluruhannya berada di tengah masyarakat, menyebabkan Rumah Sakit merubah sikap menjadi hospital without wall. Poedji Rochjati di Jawa Timur dengan konsep : deteksi dini ibu hamil risiko tinggi dan mengikutsertakan masyarakat berperan aktif telah berhasil menurunkan angka kematian maternal sekitar 100 / 100.000 persalinan hidup di Jawa Timur. Dalam mempercepat kesejahteraan masyarakat, Presiden telah mencanangkan sejak 1 Maret 1999, GERAKAN PEMBANGUNAN BERWAWASAN KESEHATAN sebagai strategi dengan visi Indonesia Sehat 2010, dengan pola pikir baru yaitu : Upaya promotif dan preventif. Sikap proaktif : Sikap aktif untuk melakukan rujukan.

31

Sikap aktif dalam tindakan medis di tempat tujuan rujukan. Pencanangan Gerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan makin mempertegas kedudukan ObGinSos, dan peranannya makin dibutuhkan menuju visi Indonesia Sehat 2010. Persoalan yang kini muncul kepermukaan adalah : Apakah Pemerintah baru khususnya Menteri Kesehatan berorientasi pada gagasan pembangunan berwawasan kesehatan. Kendala dominan yang paling menjolok adalah status perempuan Indonesia yang sangat menyedihkan menurut kriteria WHO.

Diperlukan biaya, tenaga dan waktu bila ingin mencapai kriteria tingkat III, kesejahteraan Requena ahli demografi Chili. Seandainya Indonesia, dapat mengadopsi gagasan Jawa Timur dengan mempergunakan kartu skor Poedji Rochajati (KSPR) secara nasional, besar kemungkinan Indonesia Sehat 2010, akan mendekati kenyataan. Dengan demikian ObGinSos dimasa yang akan datang masih harus menghadapi persoalan berat diantaranya : Angka kematian dan kesakitan maternal dan perinatal masih tinggi. Untuk mencapai safe motherhood dan making pregnancy safer, masih memerlukan tindakan yang terarah, jelas dan mengikutsertakan masyarakat. Pertolongan dukun (peraji) dalam persalinan dan gugur kandung masih dominan. Kriteria biologis PUS masih dan baru sedikit mengalami perubahan dalam hal terlalu banyak anak terlalu pendek jangka waktu hamil dan bersalin hamil pada usia muda atau terlalu tua. Keadaan gizi dan keadaan sosial ekonomi belum optimal untuk menjadi hamil kembali. Sistim rujukan masih merupakan kendala tersendiri. Gerakan keluarga berencana masih dapat ditingkatkan sehingga mencapai PUS sekitar 80%.

32

Tanpa gerakan keluarga berencana tidak mungkin akan mencapai tingkat kesejahteraan yang berarti. Masalah remaja : Perubahan perilaku seksual remaja yang merugikan : Kehamilan yang tidak diinginkan. Masalah pendidikan seks remaja. Penyakit hubungan seksual termasuk HIV dan AIDS. Remaja yang jatuh dalam masalah narkoba dan obat lainnya. Masalah permintaan Well born baby dan well health mother. Tuntutan jenis kelamin anaknya agar lengkap. Rekomendasi pertolongan persalinan hanya : Spontan belakang kepala. Outlet vakum - forceps. Seksio sesarea. Persalinan letak sungsang masih kontro versi. Masalah infertilitas : Jumlah infertilitas semakin meningkat. ART hasilnya masih belum memuaskan dan mahal. Masalah meningkatnya usia harapan hidup : Jumlah lansia semakin banyak, sebagian memerlukan HRT Keadaan lansia bervariasi dari cukup sehat untuk menolong diri sendiri sampai hanya terlentang ditempat tidur. Masalah keganasan ginekologi : Makin meningkatnya usia harapan hidup, besar kemungkinan akan meningkatkan keganasan ginekologis. Diperlukan upaya untuk menentukan diagnosa dini untuk menyelamatkan jiwa. Berpedoman pada waspada. Melakukan skrening diagnosa dini.

33

Upaya untuk meningkatkan sosial ekonomi, memperkecil digenerasi ganas dan mampu membiayai untuk menegakkan diagnosa dini. Masalah permintaan fasilitas gugur kandung bersih dan aman : Lembaga swadaya perempuan sudah menuntut hak, karena merasa berhak untuk menentukan nasib kandungannya. Fasilitas untuk gugur kandung yang bersih dan aman sangat mendesak karena tingginya kematian akibat pertolongan yang tidak bersih dan tidak aman. Pelaksanaannya masih sebatas wacana, karena UU Kesehatan 23 / 1992, sulit dipenuhi syarat, kecuali RS. Pemerintah. Masalah eutanasia : Kemungkinan masyarakat ingin mempergunakan hak untuk mati dengan tenang. Permintaannya tidak mudah dipenuhi dan harus mendapatkan keputusan pengadilan. Bila pengadilan menyetujui, timbul masalah, siapakah yang melakukan tanpa merasa dikejar oleh perasaan berdosa dan merasa dirinya sebagai pembunuh secara psikologis. KARENA ITU BIARKAN MENINGGAL SESUAI DENGAN SURATAN TAKDIRNYA.

34

KESIMPULAN Dari pembahasan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. 2. Bangsa Indonesia seharusnya bangga karena mempunyai kebudayaan asli, yang dapat dikaitkan dan mendukung konsep reproduksi tradisional dan reproduksi modern. Pandangan dan pelaksanaan filosofis reproduksi tradisional dalam uraian saya mempergunakan dalil : Masalah reproduksi bukanlah semata-mata proses biologis, tetapi jauh dari pada itu adalah karunia dan ridlo dari Tuhan Yang Maha Esa jualah. 2.1. Proses perkawinan adalah proses sakral yang bertujuan untuk mendapatkan keturunan yang saleh, berbudi luhur, takwa kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama. 2.2. Dalam upaya untuk mendapatkan keturunan, maka hubungan seksual harus diikuti doa, sehingga keinginan untuk mendapatkan keturunan yang diidam-idamkan tercapai. Larangan melakukan hubungan seksual sembarangan bertujuan untuk : 3. Meningkatkan kualitas. Melaksanakan konsep keluarga berencana.

Pandangan embriologi dari tiga agama besar didunia dapat ditarik keseimpulan bahwa :

35

Telah mengenal adanya bibit pria dan bibit perempuan. Pertemuan keduanya akan menghasilkan kehamilan. Ruh merupakan karunia Tuhan yang memberikan hidup. Konsep embriologi Islam lebih rinci dalam menerangkan tahap-tahapan tumbuh kembang dalam rahim. Konsep embriologi Hindu lebih rinci sampai dengan nidasi dan pembentukan telur sejati (embrio) yang akan tumbuh menjadi janin dan bayi sampai aterm. Semua agama mengakui tubuh fisik manusia berasal dari tanah. Konsep Hindu dalam menerangkan pembentukan tubuh fisik lebih rinci dari pandangan Agama Islam dan Kristen. 4. Pengawasan persalinan, persalinan dan pengawasan pospartum masih didominer oleh dukun, maka dapat dipastikan, selalu berorientasi terhadap permohonan untuk keselamatan ibu dan bayinya melalui upacara ritual. Melakukan permohonan untuk keselamatan ibu dan bayinya, tidak bertentangan dengan Obstetri dan Ginekologi modern. 4.1. Dalam pengawasan hamil dua upacara ritual yang dilaksanakan adalah: 4.1.1. Catur hangga jati atau Panca Yitmajati. 4.1.2. Mitonin atau megedong-gedongan. 4.2. Upacara ritual pada ibunya pos partum : Upacara selesainya masa puerperium. Selapanan atau Kambuhan. 4.3. Upacara khusus untuk bayinya saat turun tanah. Tedhak siten atau turun tanah. 5. Dalam Mahabharata telah digambarkan kejadian dalam aspek reproduksi yang menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Yang belum dicapai IpTekDok modern adalah menumbuh kembangkan hasil konsepsi dalam aquarium. 6. Faktor kejiwaan, emosi, cemas, takut dan waktu melakukan hubungan dapat mempengaruhi tumbuh kembang kejiwaan dan fisik dari janin dalam rahim. 7. Untuk mencapai tujuan pembangunan negara berhadapan dengan kendala berat : Jumlah penduduk terlalu besar, penyebaran tidak merata.

36

Status perempuan Indonesia tergolong sangat menyedihkan. Daerah negara terlalu luas, dengan infrastruktur yang belum memadai. Angka kematian maternal dan perinatal tinggi. Pertolongan persalinan masih didominasi oleh dukun beranak. Sikap masyarakat bersifat komunal - paternalistik. 8. Kendala yang menguntungkan adalah : Pelaksanaan KB telah mulai sejak 1970, dan diikuti pembangunan serana matarantai pelayanan kesehatan masuk jauh ditengah masyarakat. Pembangunan kesehatan masyarakat desa (1975) dengan ujung tombaknya Posyandu. Pembangunan Sistim Kesehatan Nasional 1982 sebagai tindak lanjut pertemuan Alma Ata 1978. Tanggapan Pemerintah terhadap Safe Motherhood initiatives (1987) : Meningkatkan peranan rumah Sakit : Rumah Sakit Sayang Ibu. Rumah Sakit Sayang Bayi. Pemerintah mewujudkan kesejahteraan masyarakat (1988)

dicanangkan dengan : Gerakan Sayang Ibu. Pemerinah telah menempatkan Bidan di Desa (1995) : Nara sumber masalah kesehatan. Pertolongan persalinan bersih dan aman. Pada gilirannya menggantikan Dukun. Pemerintah mencanangkan upaya meningkatkan kesehatan dan

kesejahteraan 1999 : Gagasan berwawasan kesehatan. Indonesia sehat 2010. 9. Masa depan ObGinSos : Masih berhadapan dengan tingginya angka kematian maternal dan kematian perinatal. Kendala nasional yang kurang menguntungkan masih dominan berat.

37

Masalah tambahan lainnya adalah : Masalah remaja. Masalah infertilitas. Masalah permintaan gugur kandung bersih dan aman. Masalah meningkatnya lansia dan keganasan. Masalah hak untuk mati melalui eutanasia. Masalah permintaan well born baby dan well health mother dan seksio sesarea atas permintaan. Kendatipun Pemerintah telah berusaha sejak tahun 1970, mulai dengan program pelaksanaan keluarga berencana, dengan berbagai bentuk adopsi gagasan untuk menurunkan AKI dan AKP, Indonesia masih belum berhasil oleh karena kendala yang dihadapi terlalu besar. Persoalan yang paling utama adalah rendahnya pendidikan dan sosial ekonomi perempuan Indonesia yang harus ditingkatkan. Pelaksanaan safe motherhood dan making pregnancy safer menjadi harapan utama ditambah dengan peranan yang semakin besar dari kelompok ObGinSos.

UCAPAN TERIMA KASIH Sudah pada tempatnyalah saya serta keluarga menghaturkan terima kasih dihadapan hadirin yang terhormat, karena mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan pengalaman saya selama ini. Semuanya berlangsung berkat perhatian, pendidikan, bimbingan langsung atau tidak langsung dari beliau-beliau yang saya datangi silih berganti dalam perjalanan hidup saya yang panjang. Sudah tentu beliau-beliau yang berhasil saya temui tidak dapat disebutkan satu demi satu. Namun demikian adalah kewajiban saya untuk menyampaikan rasa terima kasih secara khusus, diantaranya kepada : 1. Kepada P.B. POGI dan Ketua serta anggota kolegium, atas perkenannya memberikan kesempatan, sehingga saya dapat menyampaikan pandangan dan pengalaman saya selama ini dengan judul : BUNGA RAMPAI OBSTETRI & GINEKOLOGI

38

DAN MASA DEPAN OBGINSOS DI INDONESIA 2. Kepada Panitia KOGI ke : XIII, di Manado atas alokasi waktunya, sehingga saya mendapatkan peluang waktu yang sangat berharga ini. 3. Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada beliau para senior, kawan dan para residen yang sempat menghadiri dan mendengarkan uraian saya ini, karena telah menyita waktu yang sangat berharga, diiringi mohon maaf bila terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa, melindungi kita semuanya untuk meneruskan serta mengikuti KOGI ke XIII, dikota Manado yang indah ini. Sekali lagi TERIMA KASIH dan SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEMUANYA.

Daftar Pustaka Adimihardja Kusnaka : Peraji, Tinjauan Antropologi Kesehatan Reproduksi, Bunga Rampai Obstetri dan Ginekologi Sosial, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 36 - 48 Jakarta 2005. Achamad Asmoro : Filsafat dan Kebudayaan Jawa, Upaya membangun keselarasan Islam dan Budaya Jawa, CV Cendrawasih, Surakarta, 2001 - 2004. Affandi Biran : Kesehatan reproduksi, Pidato pengukuhan Guru Besar tetap Obstetri & Ginekologi FK. U.I. Jakarta 10 Juni 2000. Ariawan Soejoenoes : Balancing the future - Orasi Ilmiah pada PIT XIII, Malang 1 Juli 2002. Bucaille Maurice : Reproduksi manusia, Bibel, Quran dan Sains modern alih bahasa Prof.Dr. H.M. Rasjidi, PT Bulan Bintang, Jl. Kramat Kwintang Jakarta, 245 - 263, 2005.

39

Buqha dr. Mustafa dan Muhyiddin Misto. Tahapan penciptaan manusia dan amalan terakhirnya, Hadits 4 Syarah Arbain Namawiyah, Pokok-pokok Ajaran Islam, Robbani press Jakarta, 31 - 41, 2005. Ehrlich Paul R : Ledakan penduduk. Yayasan Obor Indonesia dan PPS Kependudukan Universitas Gajah Mada, PT Gramedia, Jakarta. 1982. Galbraith John Kenneth : Hakikat kemiskinan massa, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta 1993. Gautama Wayan Buddah : Tutur Bhagawan Angastyaprana, Penerbit Paramita Surabaya, 2003. Hariwijaya : Perkawinan adat Jawa, Hanggar Kreator, Yogyakarta, 2004. Lal P. : Mahabharata, terjemahan Harijadi Hartowardojo, Pustaka Jaya Jakarta, 1992. Manuaba IBG : Konsep Obstetri & Ginekologi Sosial Indonesia. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta 2002. Manuaba IBG : Pokok-pokok pikiran keluarga berencana dalam pembangunan, Pidato orasi dalam Dies Natalis Universitas Udayana, 30 September 1985. Manuaba IBG : Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan, Pidato Pengukuhan Penerimaan Jabatan Guru Besar tetap F.K. Universitas Udayana, Denpasar, 14 Oktober 1989. Manuaba IBG : Sejarah Kebidanan di Indonesia, dalam Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, Keluarga berencana untuk pendidikan Bidan, Penerbit buku kedokteran EGC, 1 - 3, Jakarta 1998. ----------Kematian ibu dan bayi di Indonesia, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Keluarga berencana untuk pendidikan Bidan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 8 - 15, Jakarta 1998. Manuaba IBG : Peranan Bidan dalam matarantai menurunkan, angka kematian dan kesakitan ibu serta perinatal di Indonesia, dalam Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan, keluarga berencana untuk pendidikan Bidan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 15-26, Jakarta 1998. Marwanto S. Kar dan R. Budhy Moehanto :

40

Apresiasi Wayang, CV Cendrawasih, Surakarta, 2000. Maswinara, I Wayan : Proses terbentuknya bayi didalam kandungan menurut Garbha Upanisad, Penerbit Paramita, Surabaya, 1998. Mirsa I, G. Ngurah : Wraharpati Tattwa, Kajian dan teks dan terjemahannya Upada Sastra, Denpasar, 1994. Negoro Suryo S. : Upacara tradisional dan ritual Jawa, CV. Buana Raya, Surakarta, 2001. Rafei Utan Muchtar : Keselamatan ibu dalam kehamilan dan persalinan aman PIT POGI XIV Bandung 2004. Sudharta, Tjokorde Rai : Manusia Hindu, dari kandungan sampai perkawinan, Yayasan Dharma Naradha, Denpasar, 1993. Sudharta, Tjokorde Rai : Tahap-tahap kehidupan bayi Hindu dari pranatal sampai satu weton, Penerbit Kayumas, Denpasar, 1992. Sujamto : Reorientasi dan revitalisasi Pandangan Hidup Jawa, Dahara Prize, Semarang, 2000. Soekatno : Mengenal Wayang kulit purwo, Klasifikasi Jenis dan Sejarah, Aneka Ilmu, Semarang, 2004. Tonjaya Bandesa, I.N. Gede : Kanda Pat Dewa, Penerbit - Toko Buku Ria, Denpasar, 1987. Tonjaya Bandesa, I.N. Gede : Kanda Pat Rare, Penerbit - Toko Buku Ria, Denpasar, 1987. Tonjaya Bandesa, I.N. Gede : Kanda Pat Sari, Stensilan Penerbit Pelawa, Denpasar, 1979. Tonjaya Bandesa, I.N. Gede : Kanda Pat Buda, Stensilan Penerbit Pelawa, Denpasar, 1982. Utomo Sutrisno Sastra : Upacara daur hidup adat Jawa, Percetakan dan Penerbit Effhaar & Dahara Prize, Semarang, 2002. Zen M.T. :

41

Menuju kelestarian lingkungan hidup, Yayasan Obor Indonesia, dan Institut Tehnologi Bandung, PT Gramedia, Jakarta 1980.

KURIKULUM VITAE Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOGK 1. Susunan keluarga : Nama Lahir Istri : Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOGK : 26 April 1937, Bali : Drg. Ny. D.M. Putri Manuaba, MS Nusa Penida Klungkung. Anak dan Menantu : Anak-anak : 1. dr. IBG. Fajar Manuaba, SpOG 2. dr. I.A. Chandranita Manuaba 3. dr. I.A. Ratih Wulansari Manuaba,SpPD 4. dr. I.B. Surya Putra Manuaba Menantu : Ida Ayu Kt. Suci, SS Ir. Ida Bagus Gede Manuaba, MSc dr. Ida Bagus Tatwa Yatindra, SpU dr. Ida Ayu Kusuma Dewi

42

Alamat : Jl. Pemuda 9 Renon Denpasar, 80235 Telp. 0361-265456 Fax : 0361-227228 HP : 0812 38 10702 2. Pendidikan : 2.1. Sekolah Dasar sampai SMA 1945 - 1957 2.2. FK. Unair Surabaya 1957 - 1964 2.3. Spesialis ObGin FK. Unair Surabaya 1965 - 1969 2.4. Human Reproduction PIEGO, Washington University 1979 2.5. Diagnostic Ultrasound Training Course, Ultrasonic Institute For Woman Sydney, 1986. 3. Kepangkatan kepegawaian : 3.1. MHS ikatan dinas (C.1 1958) pegawai bulanan F2 FK. Unud 3.2. PNS FK. Unud Gol III/a 3.4. Purna Bakti 1 Mei 2002 1971 3.3. Guru Besar Madia 14 Oktober 1989 1963

4.

Pengalaman kerja. Setelah menyelesaikan pendidikan ObGin FK. Unair 1969, kembali ke Bali membangun Laboratorium ObGin dan memimpinnya selama 24 tahun (1970 - 1994). Berhasil mengantarkan Lab. ObGin FK. Unud kepintu gerbang pendidikan spesialis ObGin penuh. Purna bakti 1 Mei 2002.

5.

Kegiatan organisasi : 5.1. Organisasi lokal : 5.1.1. Ketua IDI Cabang Bali 1972 - 1975 5.1.2. POGI Cabang Bali dan NTT 1985 - 1996 5.1.3. Ketua PKMI Cabang Bali 1978 - 1990 5.1.4. Penasehat IBI Cabang Bali : 1974 sampai sekarang 5.1.5. Anggota PB POGI pusat 1990 - 2000 5.2. Organisasi internasional.

43

5.2.1. Society for advancement of contraceptive (SAC) Chicago USA 5.2.2. Scientific committee fo female sterilization, World Federation for health agency of surgical contraception, New York. 5.2.3. American assosiation of gynaecological laparoscopist, San Franscisco, USA. 5.2.4. New York academic of science, New York USA. 6. Menyampaikan karya ilmiah, lokal, nasional dan internasional : 6.1. Karya ilmiah lokal Sekitar 65 buah.

6.2. Karya ilmiah nasional Sebanyak 56 dalam berbagai pertemuan.

6.3. Karya ilmiah internasional Sebanyak 27 buah

6.4. Invited guest speaker : XI th World Congress of ObGyn West Berlin 1985 Tenth Asia & Oceanian Congress of ObGyn Colombo 1985

7.

Karya dalam pendidikan : 7.1. Karya lokal untuk Mhs FK. Unud. 7.1.1. Klinik infertilitas, kehamilan abnormal, abortus dan kuretase 1972 7.1.2. Perdarahan pada kehamilan dan penyakit kandungan 1973 7.1.3. Pertanyaan ujian kedokteran dan phantom 1974 7.1.4. Policy umum Kebidanan dan Penyakit Kandungan 1974 7.1.5. Operasi Obstetri 1974 7.1.6. Dasar-dasar Ginekologi Onkologi 1976 7.1.7. Pedoman medis tehnis KB 1977 7.1.8. Pengantar operasi tehnik Obstetri dan Ginekologi 1977 7.1.9. Filsafat Hindu dalam kesehatan 1993 7.2. Karya buku ajar tingkat nasional. Dicetak Penerbit CV. EGC Jakarta. 7.2.1. Penuntun diskusi ObGin untuk MHS Kedokteran 1993 7.2.2. Penuntun kepanitraan klinik ObGin 1993

44

7.2.3. Operasi Kebidanan, Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Dokter Umum 1995 7.2.4. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk pendidikan Bidan 1998 7.2.5. Memahami kesehatan reproduksi wanita 1998 7.2.6. Penatalaksanaan rutine Obstetri, Ginekologi dan KB 2001 7.2.7. Panduan diskusi Obstetri dan Ginekologi 2001 7.2.8. Konsep Obstetri & Ginekologi Sosial Indonesia 2002 7.2.9. Dasar-dasar operasi tehnik Ginekologi 2004 7.2.10. Pengantar kuliah Obstetri menurut KIPDI 2005 7.2.11. Pengantar Kuliah Ginekologi menurut KIPDI (percetakan) 7.2.12. Gawat darurat Obstetri & Ginekologi dan KB untuk profesi Bidan (percetakan) 7.3. Menyalin kedalam bahasa Indonesia : 7.3.1. Memorix Obstetry (2003) 7.3.2. Memorix Gynecology (2003) 7.4. Sumbangan medis teknik kedokteran : 7.4.1. Manuaba teknik vaginal sterilisasi 1973 7.4.2. Non traumatic tubal occlution tehnique 1985 7.4.3. Vasektomi tuba (Ma) kontap wanita masa depan 1995 7.4.4. Tehnik tusuk (Ma) tehnik pencabutan KB susuk 1995 7.4.5. Prasat Manuaba, tehnik penentu lepasnya plasenta 1997 8. Mendapatkan penghargaan : 8.1. Gubernur / Kepala Daerah Propinsi Bali / dalam bidang KB khususnya sterilisasi wanita 29 Juli 1974 8.2. PKMI (Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia) dalam bidang kontrasepsi mantap 15 Juli 1984 8.3. Penghargaan IpTek dari Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Mentri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. 17 Agustus 1990 8.4. Penghargaan KODAM Udayana, dalam ikutserta membangun dan meningkatkan pelayanan kesehatan 16 Oktober 1992 RUMKIT III / KESDAM IX Udayana Denpasar

45

9.

Hal-hal lainnya : 9.1. Mengusulkan nama rencana Bandara Internasional Cengkareng 1983 dengan : BANDARA INTERNASIONAL SOEKARNO - HATTA 9.2. Dimasukkan WHOsWHO in the world. Marquis WHOsWHO sejak edisi 14, 1997 9.3. Dimasukkan WHOsWHO in Medicine and health care, sejak edisi kedua 1999-2000

Denpasar, . Old Soldier never die

Anda mungkin juga menyukai