Anda di halaman 1dari 2

Nomer 3 anduk Hubungan antara penyebaran HIV/AIDS dengan mobilitas penduduk, menurut Skeldon (2000, 1), adalah hubungan

yang nyata dan kompleks. Dampak dari perpindahan penduduk ini dalam hal penyebaran penyakit menular tampak sangat jelas. Penyakit menular dapat menyebar melalui hubungan antar manusia, oleh karena itu jika manusia yang telah terjangkit pindah, maka mereka kemungkinan besar akan menyebarkan penyakit tersebut. Hubungan ini telah banyak diketahui sejak dulu kala dan telah ada penelitian yang dilakukan terhadap perpindahan penduduk yang menunjukkan adanya hubungan ini. Tiga persoalan penting dalam hubungan antara mobilitas penduduk dengan HIV/AIDS:

Dalam perpindahan penduduk, tidak ada yang lebih penting dari perilaku para pendatang. Hal ini merupakan kombinasi dari perpindahan penduduk dengan perilaku yang beresiko tinggi (hubungan seks tanpa pelindung atau pemakaian jarum suntik yang sama oleh para pemakai narkoba) yang merupakan persoalan utama.

Kelompok yang paling beresiko bukanlah hanya pendatang yang telah ter-identifikasi secara konvensional, tapi juga pendatang non permanen. Mobilitas dapat membuat

seseorang masuk ke dalam situasi yang beresiko tinggi. Hubungan antara mobilitas penduduk dengan penyebaran HIV/AIDS jelaslah sederhana. Bagian yang tercatat dan yang tak tercatat dalam migrasi dan perempuan mendominasi bagian yang tercatat, sementara laki-laki di bagian yang tidak tercatat. Saudi Arabia, Malaysia, Singapore, Hong Kong dan Taiwan merupakan daerah tujuan utama. Tidak banyak yang diketahui tentang sejauh mana buruh migran internasional ini terinfeksi HIV/AIDS atau seberapa tinggi resiko perilaku mereka. Dalam beberapa kasus, buruh migr an ini diharuskan mengikuti test HIV oleh calon majikannya, namun hasilnya tidak diketahui. Beberapa negara juga mengharuskan adanya tes ini, namun hasilnya juga tidak diketahui. Perempuan Indonesia yang pergi ke Saudi Arabia untuk bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga dilaporkan mengalami tingkat penganiayaan yang tinggi dan banyak yang kembali ke Indonesia sebelum masa kontraknya habis. Tidak diragukan lagi, ada sekitar 2,5 juta buruh Indonesia yang bekerja di luar negeri yang memiliki tingkat resiko tertular yang meningkat namun tidak banyak yang diketahui tentang hal tersebut. Seperti yang terjadi di Asia Tenggara, perdagangan perempuan dan anak-anak juga meningkat di Indonesia dan korbannya sangat rentan terhadap infeksi HIV. Permasalan yang timbul akibat MPI adalah meningkatnya angka penyebaran HIV dikalangan pekerja dikarenakan indonesia menjadi salah satu sumber utama pekerja migran tidak terampil di dunia dan tidak diketahui pada tingkatan mana pekerja migran terkespose

dengan resiko terinfeksi atau telah terinfeksi. Sebagaian pekerja di indonesia yang keluar negeri merupakan pekarja kontrak dan tidak melalui lembaga resmi secara ilegal sehingga mereka tidak terkontrol dan tidak memiliki pengetahuan mengenai apa itu migrasi. Sebagian besar pendatang yang pindah karena alasan ekonomi ini merantau tanpa didampingi keluarga, walaupun anggota keluarga mereka mungkin bergabung dengannya di kemudian hari. Pengetahuan yang kurang di pekerja itu sendiri salah satu penyebabnya adalah karena penyuluhan yang kurang memadai atau sangat minim dari pihak terkait seperti pemerintah, PJTKI,lembaga perekrut tenaga kerja . Kurang gencarnya pemeriksaan kesehatan para pekerja atau pemeriksaan secara asal - asalan ,penelitian yang kurang memadai dan data yang sangat minim merupakan sebagian masalah yang harus dibenahi oleh pihak terkait agar indonesia memilik data yang jelas agar dapat memiliki gambaran mengenai penularan HIV di kalangan pekerja. Rata rata pekerja yang bermigrasi adalah Lebih banyak laki-laki yang merantau dibandingkan perempuan, meskipun perpindahan kaum perempuan semakin meningkat dan mereka terlibat dalam berbagai jenis pekerjaan yang kedua yaitu penduduk yang belum kawin atau lajang dan indivu yang telah kawin namun tidak disertai dengan anggota keluarga mereka dan bekerja selama kurang lebih dua tahun maka mereka sangt beresiko untuk terinfeksi HIV karena Perpindahan penduduk sering melibatkan pemisahan antara suami dengan istri untuk jangka waktu lama sehingga para suami menggunakan jasa PSK selama terpisah dari istri . Mereka sangat memiliki peluang untuk masuk ketepat pelacuran dan berhubungan seks dengan pekerja seks. Seks untuk bertahan hidup (Survival sex) adalah suatu fenomena di kalangan perempuan pendatang yang terpaksa masuk dalam pekerjaan seks komersial karena mereka tidak dapat menafkahi hidup mereka menggunakan cara lain.

Coba di cek bener apa engga. Kalo salah mana yang perlu aku tambahin