Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENELITIAN

SURVEI PREFERENSI MAHASISWA DENGAN TUJUAN MUDIK DI PULAU JAWA TERHADAP MODA TRANSPORTASI YANG DIGUNAKAN
Studi Kasus Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Tingkat Tiga Tahun Akademik 2011/2012

Penyusun: Cinduane Gilang Fridarahma (09.5908) Deny Kurniawan (09.5923) Juni Florida Sirait (09.6108) (Kelompok 2)

SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK 2011/2012

SURVEI PREFERENSI MAHASISWA DENGAN TUJUAN MUDIK DI PULAU JAWA TERHADAP MODA TRANSPORTASI YANG DIGUNAKAN Studi Kasus Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Tingkat Tiga Tahun Akademik 2011/2012

ABSTRAK

Fenomena mudik merupakan kegiatan tahunan yang sangat familiar bagi mahasiswa dan mahasiswi STIS. Hampir semua mahasiswa, baik yang berada di dalam maupun di luar Pulau Jawa, dengan gencar memburu tiket-tiket alat transportasi dari jauh-jauh hari dengan pilihan yang berbeda-beda. Tentunya pemilihan alat transportasi yang akan digunakan tidaklah sama, bergantung pada faktor-faktor tertentu. Beberapa variabel akan diambil untuk diteliti hubungannya dengan preferensi pemilihan moda transportasi oleh pelajar di STIS yang digunakan saat mudik. Manfaat yang bisa diambil tentunya dapat menunjukkan pola hubungan antara variabel yang diteliti terhadap pemilihan alat transportasi untuk mudik bagi penyelenggara sarana transportasi dan pemerintah sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun kebijakan mengenai transportasi.

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) adalah sekolah kedinasan yang menyelenggarakan pendidikan untuk mahasiswa yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia.Meski masih mayoritas yang terwakili adalah wilayah dari pulau Jawa, tetapi dipastikan bahwa setiap propinsi di seluruh Indonesia juga terwakili.Melihat kondisi ini, maka kegiatan mudik, baik di saat menjelang idul fitri, natal atau tahun baru atau pun mudik di hari-hari libur merupakan hal yang biasa bagi mahasiswa STIS. Fenomena mudik atau pulang kampung ini menarik untuk di amati dalam kaitannya pemilihan moda transportasi yang digunakan untuk mudik. Mengingat proporsi mahasiswa yang berasal dari jawa masih memegang proporsi terbesar, kami ingin memfokuskan untuk mengamati preferensi mahasiswa dalam memilih moda transportasi dengan tujuan ke pulau Jawa. Pemilihan moda transportasi mudik inimenjadi penting mengingat hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadapkebijakan mengatasi kemacetan yang sering terjadi terutama saat libur nasional dan selama musim arus mudiklebaran. Ada beberapa alternatif moda transportasi yang bisa digunakan mahasiswa untuk melakukan perjalanan mudik ke pulau Jawa, yaitu bis, sepeda motor, mobil pribadi, keretaapi, dan pesawat.
1

Untuk dapat menentukan alternatif pemilihan moda transportasi untuk mudik di antara bis, kereta api, pesawat, mobil pribadi, dan pesawat pribadi biasanya mahasiswa memiliki alasan dan preferensinya masing-masing, baik dari sisi internal dan eksternal. Sisi internal yang dimaksud adalah dari sisi diri mahasiswa seperti jenis kelamin, jarak, pengalaman mabuk kendaraan, pengalaman kecelakaan yang menyebabkan trauma, dana yang bersedia dia keluarkan untuk mudik dll. Sedangkan faktok eksternal adalah seperti pelayanan perusahaan jasa penyedia layanan transportasi, kondisi jalan raya, waktu tempuh, harga tiket dll.Dalam penelitian ini, peneliti ingin memfokuskan penelitian tentang faktor-faktor internal yang telah disebutkan sebelumnya.Hasil dari keputusan pemudik dalam menentukan moda transportasidapatdijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan upaya-upaya yang harusdilakukan baik oleh mahasiswa, maupun pihak Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, jika dikaitkan dengan kondisi sistem transportasi di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Hal ini mengingat pula bahwa angka kecelakaan lalu lintas saat mudik dan balik lebaran pada tahun 2011 meingkat mencapai 4.259 kasus, atau terjadi kenaikan laka lantas sebanyak 1.003 kasus dari tahun 2010(Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri. 1.2 Rumusan Masalah 1) Apakah jenis kelamin,jarak tempuh, mabuk perjalanan, dan dana yang bersedia dikeluarkan untuk mudik mempengaruhi preferensi mahasiswa STIS tingkat 3 dalam memilih moda transportasi mudik? 2) Apakah moda transportasi mudik terfavorit bagi mahasiswa STIS tingkat 3 menurut jenis kelamin, jarak tempuh, pengalaman mabuk perjalanan, dan dana mudik maksimal yang bersedia dikeluarkan.

1.3 Tujuan Penelitian 1) Mengetahui faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi preferensi mahasiswa STIS tingkat 3 terhadap moda transportasi mudik. 2) Mengetahui kecenderungan pemilihan tiap moda transportasi mudik tertentu terhadap moda transportasi lainnya menurut tiap-tiap variable bebas. 3) Mengetahui moda transportasi mudik favorit bagi tiap-tiap karakteristik variable bebas.

II. KAJIAN TEORI, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Kajian Teori

Mudik adalah tradisi pulang kampung yang terjadi ketika seseorang berada atau bekerja di luar daerah keluarga besarnya (nursyam). Mudik merupakan fenomena sosial yang rutin setiap tahunterjadi. Mudik di sini di fahami sebagai liburan massal warga kota kotabesar di daerah asal mereka (desa atau kota-kota yang lebihkecil). Kegiatan ini biasanya di lakukan menjelang hari raya Idul Fitri,natal dan tahun baru. Jumlah warga kota yang mudik setiap tahundiperkirakan berkisar sekitar sepuluh hingga enampuluh persen. Halini dapat dilihat pada bukti empiris: saat liburan di atas jalan-jalandan pusat-pusat keramaian kota besar seperti Jakarta, Surabaya,Bandung, Semarang dan sebagainya, menjadi relatif sepi. Hal ini sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa kota-kota besarIndonesia dibangun oleh keberadaan para pendatang (Abeyasekere1989; Jelinek 1991; Evers dan Korff 2000: Somantri 2001).Fenomena mudik muncul dan menjadi trend menarik sejakkota-kota di Indonesia berkembang pesat baik dari segi lapangan kerja maupun perkembangan fasilitas sekolah yang lebih baik di banding kota kota kecil lainnya. Warga kota yang banyak diantaranya para pendatang melakukanaktivitas mudik pada kesempatan-kesempatan tertentu, yaitu padahari libur kerja yang panjang dan bermakna kultural (lebaran, natal,dan tahun baru) dan juga liburan semester. Kebanyakan dari pendatang di Jakarta yang lebih sering melakukan mudik adalah mahasiswa.Situasi ini dikarenakan mahasiswa memiliki masa liburan yang lebih banyak di banding pekerja yang lebih dominan melakukan mudik hanya pada hari hari besar keagamaan saja ataupun hari yang merupakan liibur panjang setiap tahun yang merupakan jatah setiap pekerja. Orang orang Jakarta yang menjadi perantau sebagian besar melakukan mudik ke daerah jawa dan sekitarnya. Sehingga bila terjadi arus mudik maka permintaan akan alat transportasi mudik akan meningkat baik itu kendaraan umum maupun pribadi. Hal ini dapat terlihat pada contoh lebaran tahun lalu ada sekitar 3 juta orang pemudik di jawa menggunakan kendaraan umum yang dilansir oleh surat kabar vivanews. Adapun kendaraan umum yang sering di gunakan untuk mudik adalah bus, kereta api, dan pesawat terbang selebihnya ada juga yang menggunakan kendaraan pribadi.

2.1 Definisi Operasional a) Mudik Mudik dalam penelitan ini yang dimaksud adalah kegiatan pulang kampung yang dilakukan seorang mahasiswa pada saat hari biasa atau libur kuliah maupun hari besar yang menjadi hari libur nasional. b) Moda Transportasi Mudik
3

Moda transportasi mudik disini adalah moda transportasi utama yaitu yang membawa mahasiswa keluar dari Jakarta menuju kota yang dituju, tidak termasuk moda transportasi menuju terminal, agen, stasiun, atau bandara. Kategori untuk moda transportasi mudik ini kami bedakan menjadi 4, yaitu Bus, travel dan kendaraan pribadi, kereta api, dan pesawat terbang. c) Jenis Kelamin Menurut Hungu (2007) jenis kelamin (seks) adalah perbedaan antara perempuan dengan lakilaki secara biologis sejak seseorang lahir.Dapat dilihat dari sifat laki laki yang lebih maskulin dibanding dengan perempuan.Hal ini mempengaruhi pemilihan moda transportasi yaitu karena laki laki umumnya memiliki sifat yang maskulinitas itu sehingga dapat memilih moda transportasi yang umumnya kenyamanan dan keamanannya tidak lebih baik dibanding yang di pilih oleh perempuan. d) Tujuan Mudik Penelitian ini hanya memfokuskan hanya untuk perjalanan mudik ke daerah di pulau jawa dan tidak termasuk Jakarta, baik itu mudik ke tempat orang tua, saudara, atau teman. e) Jarak Tujuan Mudik Adapun tujuan mudik yang menjadi preferensi di pulau jawa dibedakan sebagai berikut: Jarak dekat : Jawa Barat dan Banten

Jarak sedang : Jawa Tengah dan Yogyakarta, Jarak jauh : Jawa Timur.

Dengan mengetahui jarak tujuan mudik maka pemudik dapat dengan bijak memilih moda yang akan digunakannya sehingga pemudik nyaman dalam perjalanannya dan tepat waktu sampai ke tempat tujuannya sesuai dengan waktu yang diinginkannya. f) Mabuk Perjalanan

Mabuk dalam hal ini adalah sering merasakan gejala - gejala seperti mual, pusing atau bahkan sampai muntah saat menggunakan moda transportasi tertentu saat mudik atau melakukan perjalanan jarak jauh (lintas propinsi). g) Dana Dana yang dimaksud adalah besarnya uang maksimal yang bersedia dikeluarkan oleh pemudik(mahasiswa) untuk membiayai satu kali perjalanan mudiknya. Dalam kondisi ini dana yang dimaksud adalah dana yang di keluarkan untuk membiayai angkutan transportasi utama untuk mudik, yaitu bus antar kota antar propinsi, kereta atau pesawat terbang. sampai ke tempat mudiknya saja(pergi saja) bukan dana untuk perjalanan pulang dan pergi.Dana ini juga tidak termasuk ongkos transportasi untuk menuju terminal, agen, stasiun atau
4

bandara.Kami berasumsi besarnya uang maksimal yang bersedia dikeluarkan untuk membiayai mudik ini mencerminkan kemampuan ekonomi mahasiswa.Dana yang kami inginkan adalah di isi dengan dengan pendekatan puluhan ribu rupiah.

1.4 Hipotesis Nol dan Hipotesis Penelitian Kami definisikan hipotesis nol dan hipotesis penelitian sebagai berikut: H0: Preferensi pemilihan moda transportasi mudik tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, jarak tempuh, pengalaman mabuk perjalanan dan dana yang bersedia dikeluarkan untuk biaya mudik. H1(Hipotesis Penelitian) : Minimal ada satu di antara faktor-faktor jenis kelamin, jarak tempuh, pengalaman mabuk dan dana yang bersedia dikeluarkan untuk mudik yang mempengaruhi preferensi mahasiswa stis tingkat 3 dalam memilih moda transportasi untuk mudik.

III. METODOLOGI PENELITIAN DAN TEKNIK ANALISIS DATA a) Sumber Data Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui pencacahan kepada responden terpilih dengan menggunakan kuesioner yang sudah disusun sesuai dengan kebutuhan data. b) Populasi danSampel Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa dan mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Statistik yang berstatus sebagai Mahasiswa Tingkat III pada tahun akademik 2011/2012 yang biasa atau pernah melakukan mudik pada hari libur besar/nasional dengan tujuan pulau Jawa dan sekitarnya. Mahasiswa dan mahasiswi yang tidak memiliki kampung halaman di daerah Pulau Jawa, namun pernah mudik ke tempat saudara atau kerabat di Pulau Jawa misalnya untuk menghabiskan waktu liburnya juga termasuk ke dalam populasi. Dan sesuai dengan konsep definisi, mahasiswa dan mahasiswi yang berdomisili asli di DKI Jakarta tidak termasuk ke dalam populasi, kecuali memiliki kerabat atau keluarga yang bertempat tinggal di daerah luar DKI Jakarta namun masih dalam kawasan Pulau Jawa dan pernah dijadikan sebagai tujuan mudik.

Kemudian, dari populasi tersebut, akan dipilih sejumlah sampel untuk dihimpun keterangan. Penentuan jumlah sampelnya sendiri menggunakan metode yang digunakan oleh Slovin, dengan rumus sebagai berikut:

=
Dengan :n N menetapkan sebesar 5%. c) Metode Pengambilan Sampel

1 + 2

= jumlah sampel = jumlah populasi = tingkat kesalahan yang dikehendaki, dimana peneliti

Untuk memperoleh frame atau kerangka sampel, terlebih dahulu dilakukan listing terhadap mahasiswa dan mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Tingkat III, yang biasa atau pernah melakukan mudik dengan tujuan tempat-tempat di pulau Jawa. Setelah terkumpul daftar kerangka sampel, mulai dilakukan pemilihan sampel dengan jumlah sesuai dengan yang didapatkan dengan metode Slovin. Metode samplingnya sendiri adalah SRS(Simple Random Sampling), karena minimnya keterangan tentang informasi pendukung. Peneliti hanya memiliki daftar lengkap kerangka sampel yang akan diteliti, sehingga penggunaan metode SRS akan menjadi lebih tepat dan efisien.Di samping itu pula, kami menganggap sebaran responden yang memiliki tujuan mudik di pulau Jawa adalah merata di tiap kelas. d) Teknik Analisa Data Untuk melihat gambaran mengenai pola hubungan antara variabel yang didapatkan dari sampel terpilih, data-data karakteristik yang terkumpul akan dianalsis secara deskriptifyang juga akan disajikan dalam bentuk diagram dan juga dilakukan analisis inferensia, agar nantinya lebih memudahkan konsumen data untuk menginterpretasikan data yang telah diolah. Sedangkan untuk analisis inferensianya, akan digunakan model regresi logistik multinomial. Model tersebut mampu mengakomodasi pemeriksaan hubungan antara variabel respon berupa data nominal yang memiliki lebih dari dua kategori, terhadap variabel independen baik yang berbentuk data kategorik maupun data kontinu. Variabel respon yang memiliki j kategori akan membentuk persamaan regresi sebanyakj-1, yaitu sebanyak jumlah dummy variable yang dibentuk, dengan masing-

masing persamaan merupakan suatu model yang dibangun berdasarkan perbandingan antara suatu kelompok kategori terhadap kategori referensinya. Berikut penjabaran variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 1. Variabel-Variabel Penelitian Variabel Nama Pilihan Alat Transportasi Jenis Kelamin Jenis Data Value D1: 1 = Pesawat Terbang, 0 = lainnya Kategorik(Nominal) D2 : 1 = Kereta Api, 0 = lainnya D3: 1 = Bus, 0 = lainnya X1 Kategorik(Nominal) D4: 1 =Laki-Laki, 0 = Perempuan D5: 1 = Jawa Barat, Banten ; X2 Daerah Tujuan Mudik Kategorik(Nominal) 0 = lainnya D6: 1 = Jawa Tengah, Yogyakarta 0 = lainnya Dana maksimal X3 yang bersedia dikeluarkan Pengalaman mabuk X4 perjalanansaat menggunakanmoda transportasi tertentu Kategorik(Nominal) Numerik Kontinu (Ratio)

D7: 1 = Pesawat Terbang, 0 = lainnya D8 : 1 = Kereta Api, 0 = lainnya D9: 1 = Bus, 0 = lainnya D10: 1 = Kendaraan pribadi, 0 = lainnya

D1, D2, dan seterusnya, menyatakan variabel dummy yang dibentuk oleh persamaan. Variabel respon memiliki 4 kategori dengan kategori lainnya sebagai reference category-nya. Variabel X1 memiliki 4 kategori dengan Jawa Timur dan Madura sebagai reference category-nya. Untuk variabel X4, kategori referensinya adalah Tidak pernah. Nilai kategori ini tersusun jika semua variabel dummy dari X4 bernilai 0. Namun demikian, nilai yang dimiliki oleh setiap kategori dan penentuan kategori mana yang akan menjadi referensi, bergantung terhadap pemberian value yang dilakuan saat pendeklarasian variabel dalam tahap pengolahan di SPSS.

Pengolahan data akan dilakukan dengan bantuan program PASW Statistics 18dan SPSS versi 16.0. Melalui output yang dihasilkan, akan dilakukan tiga kegiatan inferensia sebagai berikut: Pengujian parameter secara simultan (Likelihood Ratio Test); dilakukan dengan melihat p-value dari statistik uji Chisquare atau dari rasio Likelihood-nya, kemudian dibandingkan dengan nilai , yang sebelumnya ditetapkan sebesar 5%. Pengujian parameter secara parsial (Uji Wald); membandingkan p-value masing-masing koefisien beta dari model melalui statistik uji Wald terhadap nilai . Melakukan interpretasi terhadap nilai rasio kecenderungan yang terbentuk.

IV. HASIL DAN ANALISIS

4.1 Analisis Deskriptif Dari sebanyak 128 responden terpilih, mayoritas memilih kereta api sebagai kendaraan yang akan digunakan saat mudik dengan persentase sebanyak 55%. Kemudian, sebanyak 29% responden memilih bus, dan 12% responden memilih alat transportasi lainnya seperti sepeda motor dan mobil.Hanya 4% responden yang memilih untuk menikmati perjalanan mudik ke kampung halaman dengan menggunakan pesawat terbang. Grafik Persentase Responden menurut Pilihan Alat transportasi
Lainnya; 15; 12%

Pesawat Terbang; 5; 4%
Lainnya Bus Kereta Api; 70; 55% us; 38; 29%

Kereta Api
Pesawat Terbang

Responden terdiri dari 56,3% berjenis kelamin perempuan dan sisanya berjenis kelamin lakilaki. Mayoritas memiliki daerah tujuan mudik di daerah Jawa Tengah yaitu sebanyak 50%, sisanya memiliki destinasi daerah Jawa Barat dan Jawa Timur dengan proporsi yang hampir sama, yaitu masing-masing sebesar 22,7% dan 27,3% dari jumlah total responden terpilih.

Jenis Kelamin Cumulative Frequency Valid Perempuan Laki-Laki Total 72 56 128 Percent 56,3 43,8 100,0 Valid Percent 56,3 43,8 100,0 Percent 56,3 100,0

Pengalaman Mabuk Perjalanan Cumulative Frequency Valid Tidak pernah Alat transportasi lainnya Bus Pesawat terbang Total 85 10 32 1 128 Percent 66,4 7,8 25,0 ,8 100,0 Valid Percent 66,4 7,8 25,0 ,8 100,0 Percent 66,4 74,2 99,2 100,0

Sementara itu, dari data yang sudah didapatkan, ternyata mayoritas responden mengaku tidak pernah mengalami motion sickness alias mabuk kendaraan dengan persentase sebesar 66,4%. Sedangkan responden yang mengaku pernah mengalami motion sickness sebagian besar pernah mengalaminya ketika tengah menggunakan kendaraan bus dengan persentase sebesar 25% dari total jumlah responden. Peneliti selanjutnya melakukan tabulasi silang untuk mengetahui bagaimana gambaran sampel terkait pola hubungan antara variabel prediktor terhadap variabel responsnya. Dengan menggunakan bantuan program statistik PASW Statistics 18, didapatkan output berupa tabel tabulasi silang antara variabel Y dengan X 1, X2, dan X4.

Pilihan Alat Transportasi * Jenis Kelamin Crosstabulation Count Jenis Kelamin Perempuan Pilihan Alat Transportasi Lainnya Bus Kereta Api Pesawat terbang Total 11 14 43 4 72 Laki-Laki 4 24 27 1 56 Total 15 38 70 5 128

Pilihan Alat Transportasi * Daerah Tujuan Crosstabulation Count Daerah Tujuan Jawa Barat dan Banten Pilihan Alat Transportasi Lainnya Bus Kereta Api Pesawat terbang Total 6 15 7 1 29 Jawa Tengah dan Jogjakarta 8 17 38 1 64 Jawa Timur 1 6 25 3 35 Total 15 38 70 5 128

Pilihan Alat Transportasi * Pengalaman Mabuk Perjalanan Crosstabulation Count Pengalaman Mabuk Perjalanan Alat transportasi Tidak pernah Pilihan Alat Transportasi Lainnya Bus Kereta Api pesawat terbang Total 9 27 48 1 85 lainnya 2 4 4 0 10 Bus 3 7 18 4 32 Pesawat terbang 1 0 0 0 1 Total 15 38 70 5 128

Karena sebelumnya telah disebutkan bahwa mayoritas responden memilih kereta api sebagai alat transportasi saat mudik, maka pembacaan profil akan dititikberatkan terhadap kategori tersebut. Proporsi responden perempuan yang memilih untuk menggunakan kereta api sebagai alat transportasi untuk mudik lebih besar dibandingkan proporsi responden lakilaki.
10

Sementara itu, jika dilihat dari destinasi mudiknya, sebagian besar pengguna kereta api memiliki tujuan Jawa Tengah, diikuti oleh pengguna kereta api dengan tujuan Jawa Timur yang memiliki proporsi sebesar 35,7%. Proporsi pengguna kereta api yang memiliki daerah tujuan Jawa Barat dan Banten hanya berkisar 10% dari total responden yang memilih kereta api. Berbagai keterangan di dalam tabel tabulasi silang di atas hanya menerangkan pola hubungan antar variabel berdasarkan sampel. Sedangkan untuk melihat pola hubungan populasi akan dilakukan analisis inferensia yang disajikan pada bagian berikutnya. 4.2 Analisis Inferensia 1) Uji Kelayakan Model dan Uji Simultan Hal pertama yang akan dilakukan dalam proses analisis inferensia adalah memeriksa kelayakan model yang telah diajukan sebelumnya. Di antara empat variabel penjelas yang telah ditentukan, yaitu Jenis Kelamin (X1), Daerah Tujuan (X2), Dana maksimal yang bersedia dikeluarkan (X3), dan Pengalaman Mengalami Mabuk di Perjalanan terhadap Alat Transportasi Tertentu (X4), akan diperiksa seberapa jauh pengaruhnya terhadap Pilihan alat Tranportasi (Y) yang dilakukan oleh responden. Pengolahan masih dilakukan dengan bantuan program statistik PASW Statistics 18 yang akan digunakan untuk menjalankan perhitunganperhitungan yang dibutuhkan dalam analisis model regresi logistik multinomimal. Langkah awal adalah dengan memeriksa kelayakan dan kecocokan model melalui uji simultan Likelihood Ratio Test dan Goodness of Fit Test. Dari hasil output PASW di tabel Model Fitting Information, dapat dilihat bahwa p-value dari Rasio Likelihood antara model yang hanya mengandung konstanta dengan model yang sudah diberi variabel penjelas berupa X1, X2, X3, dan X4, bernilai kurang dari 0,05 batas minimal toleransi nilai peluang

distribusi chi-square dari selisih antara nilai -2 log Likelihood model awal (Intercept-only Model) dengan nilai -2 log Likelihood model final (model yang sudah ditambah dengan variabel penjelas/independen). Keadaan ini mendukung penolakan hipotesis awal H 0 yang secara implisit menyatakan bahwa efek dari semua variabel penjelas yang telah didefinisikan sebelumnya adalah bernilai nol. Dengan kata lain, keberadaan variabel-variabel tersebut, secara empiris, memang berhubungan dengan pola pemilihan alat transportasi. Selanjutnya adalah memeriksa apakah model yang telah diajukan cocok dengan data yang telah dikumpulkan.Untuk tahap ini kita perlu melakukan uji kebaikan suai atau biasa disebut Goodness of Fit Test dan hasilnya sudah disajikan di tabel output.Untuk uji kali ini, hipotesis awal yang disusun adalah bahwa model yang telah diajukan memiliki kesesuaian dalam memprediksi perilaku variabel respons terhadap data lapangan yang telah
11

dikumpulkan. Hipotesis berhasil ditolak bila p-value statistik hitungnya bernilai dibawah 0,05. Jika dilihat dari tabel Goodness of Fit, dapat dilihat bahwa p-value bernilai 1. Dengan demikian kita gagal menolak hipotesis awal dan, dengan tingkat kepercayaan 95%, kita dapat menyimpulkan bahwa model yang diajukan bisa mengakomodir pola hubungan antara variabel respons dan variabel prediktor dari data yang dikumpulkan.

2) Uji Parsial Setelah memastikan bahwa model yang telah diajukan telah cukup layak secara keseluruhan, maka selanjutnya akan dilihat bagaimana hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen secara parsial. PASW menyediakan dua tabel yang memberikan analisis yang berguna untuk menentukan peran masing-masing variabel prediktor terhadap pemilihan alat transporasi, yaitu Tabel Likelihood Ratio Test dan Tabel Parameters Estimates. Dari tabel Likelihood Ratio Test, dapat dilihat bahwa dari keempat variabel yang sudah diajukan sebagai peubah bebas dalam penelitian ini, ada satu variabel yang tidak signifikan mempengaruhi pemilihan alat transportasi, yaitu variabel X 4 (Pengalaman mabuk perjalanan) dengan p-value sebesar 0,207 yang bernilai lebih besar dari pada nilai alpha 0,05 sehingga kita gagal menolak H 0 bahwa efek dari semua parameter X4 (X4 = 0, X4 = 1, X4 = 2, X4 = 3, dan X4 = 2 ) sama dengan nol. Hal ini dapat dikonfirmasi melalui Tabel Parameters Estimates. Tampak bahwa di setiap persamaan yang terbentuk, parameter-parameter dari X4 tidak memiliki peranan yang signifikan terhadap variabel Y, yang diindikasikan oleh nilai p-value yang bernilai lebih dari 0,05, bahkan cenderung sangat tinggi dan hampir mendekati angka satu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengalaman mabuk perjalanan terhadap jenis alat transportasi tertentu tidak begitu mempengaruhi pilihan mahasiswa dan mahasiswi STIS tingkat 3 terhadap alat transportasi yang digunakan saat mudik ke kampung halaman. Sehingga diputuskan, bahwa variabel tersebut akan dikeluarkan dari dalam model. Ada hal lain yang perlu diperhatikan pada penyusunan model pada tabel Parameters Estimates. Pada persamaan ketiga yang membandingkan kategori pilihan alat transportasi berupa pesawat terbang terhadap kategori referensi, tidak ada satu pun variabel dependen yang menghasilkan nilai statistik uji Wald yang signifikan.Model yang dihasilkan hanya mengandung intersep senilai -30,909.Sehingga kemungkinan model tidak mampu memprediksi perilaku variabel respons dengan baik. Melihat persentase pilihan pesawat terbang yang lumayan kecil hanya sekitar 7% dari jumlah sampel maka peneliti
12

memutuskan untuk meleburkan kategori tersebut ke dalam kategori referensinya, kemudian kembali me-running data untuk menghasilkan output yang baru. Model baru yang diajukan adalah model dengan tiga variabel bebas karena sebelumnya X4 telah dikeluarkan dari model, serta rekategorisasi terhadap variabel respons baru (y1) yang kini hanya memiliki tiga kategori, yaitu bus, kereta api, dan alat tranportasi lainnya sebagai kategori referensi. Setelah kembali dilakukan penghitungan uji parameter terhadap model yang baru, ternyata diperoleh hasil yang lumayan memuaskan.Hasil uji simultan yang diperoleh dari tabel Model Fitting Information menunjukkan bahwa model baru tersebut lebih baik dalam memprediksi perilaku variabel respons dibandingkan model yang hanya memiliki intersep.Hasil uji kebaikan suai pun menunjukkan bahwa model yang diajukan memang cocok untuk mengakomodir pola hubungan variabel secara empiris. Pada tabel output Likelihood Ratio Tests pun dapat dilihat bahwa secara umum, masing-masing variabel prediktor memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap variabel respons. Selanjutnya, melalui tabel output Parameters Estimates, dapat disusun model Regresi Logistik Multinomial sebagai berikut:
ln(j/J) = Model 1(Bus) + 1X1 +21X21 +22X22 + 3X3

Model 2 (Kereta Api)

Dimana y=ln(j/J) X1 X21 X22 X3

: Pilihan

Alat Transportasi

: Jenis kelamin : Dummy variable untuk Daerah tujuan mudik di Jawa Tengah : Dummy variable untuk Daerah tujuan mudik di Jawa Timur : Besarnya Dana Maksimal yang bersedia dikeluarkan untuk

memperoleh jasa moda transportasi mudik. 3) Interpretasi Nilai Odd Ratio atau Exp() Dari hasil persamaan model yang terbentuk dapat peneliti interpretasikan sebagai berikut:

13

1) Mahasiswa berjenis kelamin perempuan memiliki kecenderungan memilih bus sebagai moda transportasi mudik sebesar dibandingkan dengan menggunakan moda transportasi lainnya seperti pesawat, sepeda motor atau mobil pribadi maupun travel adalah 8,6 kali dibandingkan dengan mahasiswa laki-laki, dengan asumsi variable lain konstan. 2) Mahasiswa yang tujuan mudik di jawa tengah memiliki kecenderungan memilih bus sebagai moda transportasi mudik dibandingkan dengan menggunakan moda transportasi lainnya seperti pesawat, sepeda motor atau mobil pribadi maupun travel adalah 0.017 kali dibandingkan dengan mahasiswa yang punya tujuan mudik di jawa barat dan banten.dengan asumsi variable lain konstan. 3) Mahasiswa yang tujuan mudik di Jawa Timur memiliki kecenderungan memilih bus sebagai moda transportasi mudik dibandingkan dengan menggunakan moda transportasi lainnya seperti pesawat, sepeda motor atau mobil pribadi maupun travel adalah 0.286 kali dibandingkan dengan mahasiswa yang punya tujuan mudik di jawa barat dan banten.Dengan asumsi variable lain konstan. 4) Dilihat dari nilai odd ratio dari variable dana maksimum yang bersedia dikeluarkan yaitu sebesar satu, disimpulkan bawa dana maksimum yang bersedia dikeluarkan tidak mempengaruhi pemilihan moda transportasi, meskipun telah di uji dan hasilnya signifikan di dalam model. 5) Mahasiswa berjenis kelamin perempuan memiliki kecenderungan memilih kereta api sebagai moda transportasi mudik sebesar dibandingkan dengan menggunakan moda transportasi lainnya seperti pesawat, sepeda motor atau mobil pribadi maupun travel 3 kali dibandingkan dengan mahasiswa laki-laki, denagn asumsi variable lain konstan. 6) Mahasiswa yang tujuan mudik di jawa tengah memiliki kecenderungan memilih bus sebagai moda transportasi mudik dibandingkan dengan menggunakan moda transportasi lainnya seperti pesawat, sepeda motor atau mobil pribadi maupun travel adalah 0.017 kali dibandingkan dengan mahasiswa yang punya tujuan mudik di jawa barat dan banten, dengan asumsi variable lain konstan. 7) Mahasiswa yang tujuan mudik di Jawa Timur memiliki kecenderungan memilih bus sebagai moda transportasi mudik dibandingkan dengan menggunakan moda transportasi lainnya seperti pesawat, sepeda motor atau mobil pribadi maupun travel adalah 0.154 kali dibandingkan dengan mahasiswa yang punya tujuan mudik di jawa barat dan banten, dengan asumsi variable lain konstan

14

8) Tidak berbeda dengan persamaan sebelumnya di dapat bahwa dana maksimum yang bersedia dikeluarkan tidak mempengaruhi pemilihan moda transportasi, meskipun telah di uji dan hasilnya signifikan di dalam model.

Interpretasi selanjutnya adalah mengetahui moda transportasi favorit untuk masing-masing variable bebas yaitu dengan membandingkan nilai peluang untuk masing-masing rasio nilai peluang, baik bus terhadap moda lainnya, maupun kereta dengan moda lainnya.Nilai rasio peluang itu di dapatkan dengan mengeksponensialkan nilai ln(j/J) untuk masing-masing karakteristik mahasiswa, yang menghasilkan nilai j/Jitu sendiri. Kesimpulan mengenai moda terfavorit di dapat dengan melihat nilai j/Jyang paling besar antara Bus/Lainnya danKereta/Lainnya, tetapi jika nilai keduanya kurang dari satu, maka moda transportasi lainnya lah yang menjadi moda terfavorit.

Tabel 2. Moda Terfavorit untuk masing-masing karakteristik mahasiswa Variabel

Bus/Lainnya Kereta/Lainnya Moda


Tervavorit 15.85 87.68 Kereta Api

Jenis kelamin laki-laki (X1=1) Dengan tujuan Jawa Barat (X21=0,X22=0) Jenis kelamin laki-laki (X1=1) Dengan tujuan Jawa Tengah (X21=1, X22=0) Jenis kelamin laki-laki (X1=1) Dengan tujuan Jawa Timur (X21=0, X22=1) Jenis kelamin Perempuan (X1=0) Dengan tujuan Jawa Barat (X21=0,X22=0) Jenis kelamin Perempuan (X1=0) Dengan tujuan Jawa Tengah (X21=1, X22=0) Jenis kelamin Perempuan (X1=0) Dengan tujuan Jawa Timur (X21=0,

1.97

1.49

Bus

4.54

13.5

Kereta Api

136.7

272.3

Kereta Api

16.95

4.63

Bus

39.10

41.93

Kereta Api

15

X22=1)

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa baik mahasiswa laki-laki maupun perempuan untuk tujuan mudik jawa barat dan jawa timur memilih kereta api sebagai moda transportasi mudik terfavorit, meski preferensinya hampir sama untuk mahasiswa perempuan dengan tujuan Jawa Timur. Sedangkan untuk mahasiswa dengan tujuan Jawa Tengah memilih bus sebagai kendaraan terfavourit untuk mudik baik untuk laki-laki maupun perempuan, meski preferensinya hampir sama untuk mahasiswa laki-laki. Kemudian dapat dilihat pula bahwa moda transportasi lainnya, yaitu pesawat terbang, mobil pribadi, sepeda motor maupun travel dll merupakan moda yang paling tidak diminati oleh mahasiswa.

V. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil olah data dan analisis di atas, di dapatkan kesimpulan sebagai berikut: 1) Variabel yang signifikan mempengaruhi preferensi moda transportasi mudik yang digunakan adalah variable jenis kelamin, tujuan mudik, dan dana maksimal yang bersedia dikeluarkan untuk memperoleh moda transportasi mudik. 2) Kecenderungan pemilihan bus dibanding moda transportasi lainnya untuk perempuan adalah 8.6 kali laki-laki. Sedangkan untuk pemilihan kereta api dibanding moda transportasi laiinnya adalah 3 kali laki-laki. Kemudian untuk tujuan mudik, baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur relatif sama kecenderungannya dengan mahasiswa dari jawa barat untuk lebih memilih bus daripada moda transportasi lainnya(selain bus dan kereta api)begitu pula untuk lebih memilih kereta api dibanding moda transportasi lainnya. 3) Secara umum, dari 6 kategori karakteristik mahasiswa menurut jenis kelamin dan tujuan mudik, moda transportasi mudik terfavorit mahasiswa STIS adalah kereta api. Hanya 2 di antaranya yang memilih bus, yaitu untuk mahasiswa dengan tujuan mudik di Jawa Tengah baik laki-laki maupun perempuan.

Kemudian, mengingat diketuhui dari hasil yang diperoleh bahwa mayoritas menggunakan kereta api, maka peneliti menyarankan: 1) Mahasiswa lebih baik membeli tiket jauh-jauh hari, karena dapat mengurangi resiko kehabisan tiket, terutama pada saat hari-hari besar atau libur nasional. 2) Perlu di inisiasi untuk pembelian tiket secara kolektif untuk efiiensi.

16

3) Pihak STIS hendaknya lebih baik dan lebih pasti dalam menentukan jadwal-jadwal kegiatan kampus. Hal ini mengingat rencana kepulangan mahasiswa yang sangat terkait dengan ketersediaan tiket kereta api yang terbatas dan harus dipesan jauh-jauh hari.Kegiatan yang dimaksud seperti kuliah umum, kuliah pengganti atau acara-acara seminar-seminar lainnya semisal seminar PKL hendaknya bisa diinformasikan jauhjauh hari.

DAFTAR PUSTAKA

Eko Priliawito, Ronito Kartika Suryani, dan Amal Nur Ngazis, 2011. Tiga Juta Orang Mudik Naik Angkutan Umum, Metro (diakses dari Vivanews pada tanggal 16 Juni 2012 http://metro.vivanews.com/news/read/243794-sudah-3-juta-orang-mudik-naik-angkutanumum). Riduwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung : Alfabeta. Agresti, Alan. 2002. Categorical Data Analysis: Second Edition. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc,. Somantri, Gumilar, 2000. Village in Motion. Singapura: Time Publisher. Purwanto, J. 2003. Dasar- Dasar Metode Penarikan Sampel. Jakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Statistik.

LAMPIRAN 1. Output SPSS untuk Model Regresi Logistik Multinomial yang pertama diajukan.
Model Fitting Information Model Model Fitting Criteria -2 Log AIC Intercept Only Final 247,440 218,918 BIC 255,996 287,366 Likelihood 241,440 170,918 70,523 21 ,000 Likelihood Ratio Tests ChiSquare Df Sig.

Goodness-of-Fit Chi-Square Pearson 156,755 Df 258 Sig. 1,000

17

Goodness-of-Fit Chi-Square Pearson Deviance 156,755 148,417 Df 258 258 Sig. 1,000 1,000

Pseudo R-Square Cox and Snell Nagelkerke McFadden ,424 ,480 ,258

Likelihood Ratio Tests Effect Model Fitting Criteria -2 Log Likelihood AIC of Reduced Model Intercept X3 X2 X1 X4 218,918 242,512 228,392 231,396 213,026 BIC of Reduced Model 287,366 302,405 279,729 291,288 255,807 of Reduced Model 170,918a 200,512 192,392
b b

Likelihood Ratio Tests

ChiSquare ,000 29,595 21,475 18,478 12,109 Df 0 3 6 3 9 Sig. . ,000 ,002 ,000 ,207

189,396b 183,026

The chi-square statistic is the difference in -2 log-likelihoods between the final model and a reduced model. The reduced model is formed by omitting an effect from the final model. The null hypothesis is that all parameters of that effect are 0. a. This reduced model is equivalent to the final model because omitting the effect does not increase the degrees of freedom. b. Unexpected singularities in the Hessian matrix are encountered. This indicates that either some predictor variables should be excluded or some categories should be merged.

Parameter Estimates Pilihan Alat Transportasi Bus


a

B -6,598 ,000 -3,750 -2,775 0


b

Std. Error 3143,148 ,000 1,868 1,566 . ,772 .

Wald ,000 8,419 4,028 3,139 . 5,534 .

Df 1 1 1 1 0 1 0

Sig. ,998 ,004 ,045 ,076 . ,019 .

Exp(B)

Intercept X3 [X2=0] [X2=1] [X2=2] [X1=0] [X1=1]

1,000 ,024 ,062 . ,163 .

-1,815 0
b

18

[X4=0] [X4=1] [X4=2] [X4=4] Kereta Api Intercept X3 [X2=0] [X2=1] [X2=2] [X1=0] [X1=1] [X4=0] [X4=1] [X4=2] [X4=4] pesawat terang Intercept X3 [X2=0] [X2=1] [X2=2] [X1=0] [X1=1] [X4=0] [X4=1] [X4=2] [X4=4]

13,024 12,305 13,037 0


b

3143,147 3143,147 3143,147 . 2315,836 ,000 1,837 1,498 . ,759 . 2315,835 2315,835 2315,835 . 10,740 ,000 7,008 2,118 . 9,017 . 8,024 139,242 ,000 .

,000 ,000 ,000 . ,000 8,277 9,990 5,112 . ,945 . ,000 ,000 ,000 . 8,282 2,867 ,163 ,577 . 1,513 . 1,794 ,004 . .

1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0

,997 ,997 ,997 . ,998 ,004 ,002 ,024 . ,331 . ,996 ,996 ,996 . ,004 ,090 ,686 ,447 . ,219 . ,180 ,950 . .

453378,011 220686,917 458987,985 .

-5,538 ,000 -5,806 -3,388 0


b

1,000 ,003 ,034 . ,478 . 329048,300 87621,808 308451,320 .

-,738 0
b

12,704 11,381 12,639 0


b

-30,909 ,000 -2,834 -1,609 0


b

1,000 ,059 ,200 . 65538,726 . 46552,152 5966,915 1,314E8 .

11,090 0
b

10,748 8,694 18,694 0


b

a. The reference category is: Lainnya. b. This parameter is set to zero because it is redundant.

Parameter Estimates Pilihan Alat Transportasi


a

95% Confidence Interval for Exp(B) Lower Bound Upper Bound

Bus

Intercept X3 [X2=0] [X2=1] [X2=2] 1,000 ,001 ,003 . 1,000 ,916 1,343 .

19

[X1=0] [X1=1] [X4=0] [X4=1] [X4=2] [X4=4] Kereta Api Intercept X3 [X2=0] [X2=1] [X2=2] [X1=0] [X1=1] [X4=0] [X4=1] [X4=2] [X4=4] pesawat terang Intercept X3 [X2=0] [X2=1] [X2=2] [X1=0] [X1=1] [X4=0] [X4=1] [X4=2] [X4=4]

,036 . ,000 ,000 ,000 .

,739 . .c . .
c c

1,000 8,223E-5 ,002 . ,108 . ,000 ,000 ,000 .

1,000 ,110 ,637 . 2,115 . . .


c c

.c .

1,000 6,365E-8 ,003 . ,001 . ,007 1,789E-115 1,314E8 .

1,000 54314,658 12,700 . 3,105E12 . 3,148E11 1,990E122 1,314E8 .

a. The reference category is: Lainnya.

c. Floating point overflow occurred while computing this statistic. Its value is therefore set to system missing. Classification Observed Lainnya Lainnya Bus Kereta Api pesawat terang Overall Percentage 3 1 1 0 3,9% Bus 5 15 9 0 22,7% Predicted Kereta Api 6 22 59 1 68,8% pesawat terang 1 0 1 4 4,7% Percent Correct 20,0% 39,5% 84,3% 80,0% 63,3%

20

2. Output SPSS untuk model yang baru dengan tiga variabel prediktor.
Model Fitting Information Model Model Fitting Criteria -2 Log AIC Intercept Only Final 202,913 174,405 BIC 208,617 202,925 Likelihood 198,913 154,405 44,509 8 ,000 Likelihood Ratio Tests ChiSquare df Sig.

Goodness-of-Fit Chi-Square Pearson Deviance 113,253 124,637 df 144 144 Sig. ,973 ,876

Pseudo R-Square Cox and Snell Nagelkerke McFadden ,294 ,342 ,177

Likelihood Ratio Tests Effect Model Fitting Criteria -2 Log Likelihood AIC of Reduced Model Intercept X3 X2 X1 174,405 189,401 185,123 181,884 BIC of Reduced Model 202,925 212,217 202,235 204,700 of Reduced Model 154,405
a

Likelihood Ratio Tests

ChiSquare ,000 18,996 18,719 11,480 df 0 2 4 2 Sig. . ,000 ,001 ,003

173,401 173,123 165,884

The chi-square statistic is the difference in -2 log-likelihoods between the final model and a reduced model. The reduced model is formed by omitting an effect from the final model. The null hypothesis is that all parameters of that effect are 0. a. This reduced model is equivalent to the final model because omitting the effect does not increase the degrees of freedom. Parameter Estimates pilihan alat tranportasia Bus
d i m e n s i o n 0

B 4,918 ,000 -2,090

Std. Error 1,547 ,000 1,309

Wald 10,109 9,553 2,547

df 1 1 1

Sig. ,001 ,002 ,110

Exp(B)

Intercept X3 [X2=0]

1,000 ,124

21

[X2=1] [X2=2] [X1=0] [X1=1] Kereta Api Intercept X3 [X2=0] [X2=1] [X2=2] [X1=0] [X1=1]

-1,251 0
b

1,039 . ,746 . 1,463 ,000 1,246 ,926 . ,720 .

1,448 . 8,362 . 14,695 10,018 10,817 4,089 . 2,483 .

1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 0

,229 . ,004 . ,000 ,002 ,001 ,043 . ,115 .

,286 . ,116 .

-2,157 0
b

5,607 ,000 -4,097 -1,874 0


b

1,000 ,017 ,154 . ,322 .

-1,134 0
b

a. The reference category is: Lainnya. b. This parameter is set to zero because it is redundant. Parameter Estimates pilihan alat tranportasia 95% Confidence Interval for Exp(B) Lower Bound Bus Intercept X3 [X2=0] [X2=1] [X2=2] [X1=0]
d i m e n s i o n 0

Upper Bound

1,000 ,010 ,037 . ,027 .

1,000 1,610 2,195 . ,499 .

[X1=1] Kereta Api Intercept X3 [X2=0] [X2=1] [X2=2] [X1=0] [X1=1]

1,000 ,001 ,025 . ,078 .

1,000 ,191 ,944 . 1,319 .

a. The reference category is: Lainnya.

Classification Observed Lainnya Lainnya 4 Bus 5 Predicted Kereta Api 11 Percent Correct 20,0%

22

Bus Kereta Api Overall Percentage

0 3 5,5%

15 7 21,1%

23 60 73,4%

39,5% 85,7% 61,7%

23