Anda di halaman 1dari 17

Chapter 2: Bilangan Kompleks

I Wayan Sudiarta 4 Oktober 2010

1 Definisi bilangan kompleks

Bilangan yang sering digunakan untuk mempermudah dalam formulasi atau pun penyelesaian permasalahan di bidang fisika adalah bilangan kompleks. Salah satu contoh persamaan yang mengubah perkembangan ilmu penge- tahuan adalah persamaan Schr¨odinger pada mekanika kuantum. D alam persamaan ini terdapat bilangan kompleks. Tanpa bilangan kompleks, per- samaan dan aturan-aturan pada mekanika kuantum akan lebih rumit . Di dalam kuliah ini, kita akan mempelajari kemudahan dan keindahan dalam bi- langan kompleks. Salah satu rumus yang indah dan unik yang menghubungkan beberapa konsep matematika adalah rumus berikut ini.

e iπ = 1

(1)

Pada rumus ini kita bisa perhatikan ada lima konsep matematika: (a) bi- langan natural (alami) e, (b) bilangan π , (c) bilangan imaginer i, (d) tanda negatif dan (e) bilangan satu. Untuk mempelajari kapan saja bilangan kompleks muncul, kita perha tikan akar dari persamaan kuadrat yang berguna untuk menentukan letak titik- titik potong antara fungsi parabola ( y = ax 2 + bx + c ) dengan sumbu axis x. Akar-akar persamaan kuadrat adalah

x = b ± b 2 4 ac

2 a

(2)

Jika kita perhatikan bagian rumus di bawah tanda akar atau yang disebut dengan diskriminan , ada kemungkinan bahwa nilai b 2 lebih kecil dari nilai 4 ac . Pada situasi b 2 < 4 ac ini kita mempunyai akar sebuah bilangan

1

bernilai negatif. Akar dua sebuah bilangan negatif itu berapa? Atau dengan kata lain, bilangan berapakah yang jika di kuadratkan menghasilkan bilangan negatif? Berapakah a yang memenuhi syarat a 2 = α ( α bilangan positif)? Karena tidak ada bilangan a yang memenuhi sifat a 2 = α ini, kita mendefinisikan sebuah bilangan baru yaitu bilangan imajiner (dengan simbol i) yang memenuhi persamaan,

i 2 = 1 atau

(3)

i = 1

(4)

Pada bidang elektro, biasanya simbol j digunakan untuk 1, karena simbol i digunakan untuk arus listrik. Sebagai contoh penggunaan bilangan imajiner adalah sebagai berikut.

9 = 9 1 = 3 i i 3 = i 2 i = i i 4 = ( i 2 ) 2 = ( 1) 2 = 1 i 5 = i 4 i = i i 15 = i 14 i = ( i 2 ) 7 i = ( 1) 7 i = i

(5)

Setelah bilangan imajiner sudah kita ketahui definisinya, kita bisa mendefin- isikan bilangan kompleks yang terdiri dari dua bilangan yaitu bilangan riil dan bilangan imajiner. Seperti contoh untuk akar persamaan kuadrat, bi- langan riil ditambah dengan bilangan imajiner (tentunya jika b 2 4 ac < 0). Atau bilangan kompleks adalah kombinasi bilangan riil dan imajiner. Jadi bilangan kompleks berbentuk

z = x + iy

(6)

.

Bagian pertama bilangan kompleks z ( x) adalah bagian riil dari z dan bagian kedua ( y ) adalah bagian imajiner dari z .

1.1 Bentuk Kartesius

Kita perhatikan bahwa bilangan kompleks mempunyai dua bilangan. Dua bilangan ini bisa di letakkan pada atau direpresentasikan sebagai sebuah titik pada bidang datar atau ruang dua dimensi. Titik ( x, y ) diletakkan seperti

2

pada Gambar 1 pada koordinat Kartesius. Bidang x y yang digunakan untuk menggambarkan bilangan kompleks disebut dengan bidang kompleks atau bidang z . Karena sumbu x digunakan untuk merepresentasikan bagian riil disebut dengan sumbu riil dan begitu pula untuk sumbu y disebut sumbu imajiner karena sumbu ini untuk representasi bagian imaginer. Penggunaa n bidang x y sebagai bidang kompleks dikemukan oleh Caspar Wessel dan Jean Robert Argand pada sekitar tahun 1800. Oleh karena itu terkadang bidang kompleks disebut dengan diagram Argand.

itu terkadang bidang kompleks disebut dengan diagram Argand. Gambar 1: Bilangan kompleks direpresentasikan sebagai sebuah

Gambar 1: Bilangan kompleks direpresentasikan sebagai sebuah tit ik pada ruang dua dimensi (x,y).

1.2 Bentuk Polar

Selain koordinat Kartesius, kita bisa juga menggunakan represent asi ko- ordinat polar ( r, θ ) yaitu dengan menggunakan x = r cos( θ ), y = r sin( θ ), r = x 2 + y 2 dan θ = arctan( y/x) seperti terlihat pada Gambar 1. Jadi,

z = r (cos( θ ) + i sin( θ ))

(7)

Untuk representasi polar, rumus cos( θ ) + i sin( θ ) bisa disingkat menjadi cis θ . Sebagai contoh, untuk z = 3 + i, kita bisa merepresentasikan menjadi

bentuk polar menggunakan r = ( 3) 2 + 1 2 = 2 dan θ = arctan( 3) =

menjadi bentuk polar menggunakan r = ( √ 3) 2 + 1 2 = 2 dan

3

π/ 6 + n(2 π ) dimana n = 0 , ±1 , ±2 , · · · . Jadi z = 2(cos( π/ 6 + n2 π ) + i sin( π/ 6 + n2 π )). Di sini untuk sudut θ kita tambahkan kelipatan 2 π karena penambahan ini tidak mengubah nilai dari bilangan kompleks. Ini ber arti bahwa semua sudut dengan tambahan kelipatan 2 π juga merupakan solusi untuk θ . Penambahan kelipatan 2 π akan berguna dalam penentuan akar bilangan kompleks. Untuk mempermudah penentuan sudut dan juga mengurangi kesa lahan, kita sebaiknya menggambarkan seperti Gambar 1 letak titik ( x + iy ) pada koordinat Kartesius.

2 Bentuk eksponensial

Bilangan kompleks juga dapat direpresentasikan dengan mengguna kan fungsi eksponesial exp( x). Hubungan antara bentuk eksponensial dan polar bisa diperoleh dengan menggunakan definisi deret Maclaurin untuk fung si-fungsi exp( x), sin( x) dan cos( x) sebagai berikut.

sin( x) = x x 3 + x 5 x 7 + x 9! + · · · ,

3!

5!

7!

9

cos( x) = 1 x 2 + x 4 x 6 + x 8! + · · · ,

2!

4!

6!

8

exp( x) = 1 + x + x 2 + x 3 + x 4 + x 5!

2!

3!

4!

5

+

 

(8)

(9)

·

·

·

(10)

Jika kita substitusi x = pada deret Maclaurin untuk exp( x) maka dihasilkan,

exp( ) = 1 + ( ) +

( iθ ) 2

2!

+ ( ) 3 + ( ) 4 + ( ) 5

3!

4!

5!

= 1 + θ 2! 2

3

3!

+ θ 4! 4

+ 5

5!

+

·

·

·

+

·

·

·

(11)

Kita bisa perhatikan bahwa sebagian suku pada deret adalah bilangan riil dan sebagin lagi adalah bilangan imajiner. Setelah kita kelompokkan sesuai dengan jenis bilangan, kita memperoleh,

exp( ) = { 1 θ 2 + θ 4 + · · · } + i{ θ θ 3 + θ

2!

4!

3!

5

5! + · · · }

4

(12)

Kita perhatikan definisi dua deret Maclaurin di atas, persamaan (8 ) dan (9), dan persamaan (12), kita bisa menyimpulkan bahwa bagian pert ama deret ini adalah fungsi cos( θ ) dan bagian kedua adalah fungsi sin( θ ). Jadi kita memperoleh hubungan

exp( ) = cos( θ ) + i sin( θ ) = cis( θ )

.

(13)

Dengan hasil ini, bentuk eksponensial untuk bilangan kompleks adala h

z = r (cos( θ ) + i sin( θ )) = re iθ

.

3

Notasi

(14)

Secara ringkas tiga bentuk bilangan kompleks digabungkan sebagai berikut

z = x + iy = r (cos( θ ) + i sin( θ )) = cis θ = re iθ

(15)

.

 

Notasi untuk bilangan kompleks adalah z . Bagian riil dari z adalah

x

atau dengan menggunakan simbol Re, jadi x = Re{ z } . Bagian ima-

jiner dari z adalah y (bukan iy ) atau dengan memakai simbol Im, jadi y = Im{ z } . Mudulus atau absolut dari z diberi simbol | z | sama dengan pan- jang | z | = r = x 2 + y 2 . Sudut θ disebut argumen atau phase (fase) dari z .

Untuk nilai sudut ini, digunakan notasi arg . Jadi θ = arg ( z ) = arctan( y/x). Dalam penentuan sudut ini, kita sebaiknya memperhatikan letak posisi titik ( x, y ) pada koordinat Kartesius, sehingga tidak ada kesalahan lokasi. Seba- gai contoh, z = 1 i, jika kita letakkan titik ini pada koordinat Kartesius, ini berada pada kuadran ke IV. Jadi θ = arctan(1) = π/ 4 + 2 di mana

n

adalah bilangan bulat.

4

Konjugat kompleks

Konjugat untuk suatu bilangan kompleks z = x + iy didefinisikan dengan,

z¯ = x iy = r (cos( θ ) sin( θ )) = re iθ

5

(16)

Kita perhatikan tanda berubah untuk bilangan i menjadi negatif. Di sini kita menggunakan tanda garis di atas z untuk menyatakan itu adalah konjugat dari z . Di dalam bidang fisika kita biasanya menggunakan simbol . Jadi z = z¯. Pada matakuliah ini kita akan menggunakan dua notasi ini supaya kit a terbiasa menggunakannya. Dengan menggunakan definisi konjugat, kita memperoleh hubunga n kon- jugat dengan modulus yaitu

| z | 2 = z z¯ = zz = ( x + iy )( x iy ) = x 2 ( iy ) 2 = x 2 + y 2 (17)

5 Aturan-aturan bilangan kompleks

Sekarang setelah kita mengetahui definisi dan notasi beberapa hal tentang bilangan kompleks, kita akan menggunakan untuk melakukan operasi-operasi seperti halnya pada operasi-operasi bilangan riil.

5.1 Aturan secara umum

Untuk operasi-operasi dibawah ini kita menggunakan dua bilangan kompleks, z 1 = a + ib dan z 2 = c + id . Dalam bentuk polar z 1 = r 1 (cos( θ 1 ) + i sin( θ 1 )) dan z 2 = r 2 (cos( θ 2 ) + i sin( θ 2 )) dan bentuk eksponensial z 1 = r 1 e iθ 1 dan z 2 = r 2 e iθ 2

1. Operasi sama dengan (=).

Jika dua bilangan kompleks sama atau z 1 = z 2 maka bagian riil dan imajiner harus sama atau a = c dan b = d .

2. Operasi penjumlahan (+).

z 3

=

z 1 + z 2

=

( a + ib) + ( c + id )

=

( a + c ) + i( b + d )

3. Operasi pengurangan ( ).

z 4

=

z 1 z 2

=

( a + ib) ( c + id )

=

( a c ) + i( b d )

6

(18)

(19)

4.

Operasi perkalian ( ×).

z 5

=

z 1 × z 2

=

( a + ib) × ( c + id )

=

ac + iad + ibc + i 2 bd ingat i 2 = 1

=

( ac bd ) + i( ad + bc )

(20)

Perkalian akan lebih mudah dilakukan jika kita gunakan bentuk polar.

z 5 = r 1 (cos( θ 1 ) + i sin( θ 1 )) × r 2 (cos( θ 2 ) + i sin( θ 2 )) z 5 = r 1 r 2 { (cos( θ 1 ) cos( θ 2 ) sin( θ 1 ) sin( θ 2 )) + i(sin( θ 1 ) cos( θ 2 ) + cos( θ 1 ) sin( θ 2 )) } z 5 = r 1 r 2 (cos( θ 1 + θ 2 ) + i sin( θ 1 + θ 2 ))

(21)

,dan dalam bentuk eksponensial operasi perkalian lebih mudah di- lakukan,

z 5 = r 1 e iθ 1 r 2 e iθ 2 = r 1 r 2 e i (θ 1 + θ 2 )

(22)

Kita perhatikan bahwa hasil perkalian bilangan-bilangan kompleks ada lah mudulusnya kita kalikan dan argumennya kita jumlahkan.

5. Operasi pembagian ( / ).

z 6 = z 1 /z 2

jika z 2 = 0

 

( a + ib)

=

( c + id )

( a + ib)

( c id )

=

( c + id ) × ( c id )

 

( ac + bd ) + i( bc ad )

=

( c 2 + d 2 )

(23)

Seperti halnya untuk perkalian, pembagian akan lebih mudah dilakuka n

7

jika kita gunakan bentuk polar.

z 6 = r 1 (cos( θ 1 ) + i sin( θ 1 )) r 2 (cos( θ 2 ) + i sin( θ 2 ))

= r r 1

2

 

(cos( θ 2 ) + i sin( θ 2 ))

(cos( θ 1 ) + i sin( θ 1 )) × (cos( θ 2 ) i sin( θ 2 ))

(cos( θ 2 ) i sin( θ 2 ))

= r r 2 { (cos( θ 1 ) cos( θ 2 ) + sin( θ 1 ) sin( θ 2 ))

1

+ i(sin( θ 1 ) cos( θ 2 ) cos( θ 1 ) sin( θ 2 )) }

z 6 = r 2 (cos( θ 1 θ 2 ) + i sin( θ 1 θ 2 ))

1

r

(24)

,dan dalam bentuk eksponensial operasi pembagian dilakukan denga n mudah,

z 3 =

r

1 e

iθ

1

r

2 e

iθ

2

= r r 1

2

e i (θ 1 θ 2 )

(25)

Seperti halnya untuk perkalian, kita bisa simpulkan bahwa hasil pem- bagian bilangan-bilangan kompleks adalah mudulusnya kita bagi dan argumennya kita kurangi.

Kita bisa melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian secara grafis. Untuk penjumlahan dan perkalian ditunjukkan pada Gambar 2 dan 3.

5.2 Aturan konjugat kompleks

Aturan-aturan untuk konjugat kompleks adalah sebagai berikut (di sini sim- bol digunakan untuk menandakan konjugat kompleks):

1.

 

( z 1 + z 2 )

 

=

z

1

2.

+ z

2

( z 1 z 2 ) = z z

1

2

8

(26)

(27)

Gambar 2: Operasi penjumlahan dua bilangan kompleks, z 3 = z 1 + z 2

Gambar 2: Operasi penjumlahan dua bilangan kompleks, z 3 = z 1 + z 2 .

dua bilangan kompleks, z 3 = z 1 + z 2 . Gambar 3: Operasi perkalian

Gambar 3: Operasi perkalian dua bilangan kompleks, z 5 = z 1 z 2 .

3.

 

( z 1 × z 2 ) = z

 

1 × z

2

4.

( z 1 /z 2 ) = z /z

1

2

9

(28)

(29)

5.

6.

7.

Re{ z } = z + z

2

Im{ z } = z i z

2

Re{ z } = Re{ z }

8.

Im{ z } = Im{ z }

(30)

(31)

(32)

(33)

Pembuktian aturan-aturan konjugat kompleks bisa dilakukan deng an cara yang sama seperti untuk aturan-aturan pada halaman 6. Sebagai contoh konjugat kompleks untuk [(2 + i) 3 ] adalah (2 + i) (2 + i) (2 + i) = (2 i)(2 i)(2 i) = (2 i) 3 . Dengan aturan-aturan konjugat kompleks dan sesuai dengan co ntoh ini, kita bisa simpulkan bahwa untuk mendapatkan konjugat kompleks, kita cukup mengubah tanda semua simbol i menjadi i dan juga simbol i menjadi i. Sebagai contoh konjugat kompleks untuk sin( ) adalah sin( ).

5.3 Aturan untuk modulus

Selain mempelajari aturan umum dan konjugat kompleks, kita juga mem- pelajari aturan untuk modulus dari bilangan kompleks. Aturan-aturan untuk modulus bilangan kompleks adalah sebagai berikut:

1.

 

| z | 2 = | zz |

(34)

2.

 

| z | = | z |

(35)

10

3.

 

| z 1 z 2 | = | z 1 || z 2 |

(36)

4.

 

| z 1 /z 2 | = | z 1 | / | z 2 | if z = 0

(37)

5.

 

| z 1 + z 2 | ≤ | z 1 | + | z 2 |

(38)

6 Fungsi-fungsi elementer

Fungsi-fungsi elementer yang akan dibahas dalam modul ini adalah p olinom, pangkat dan akar, z α , fungsi-fungsi trigonometri, invers trigonometri, logar- itma, eksponensial, dan hiperbolik. Untuk mempelajari fungsi-fungsi elementer biasanya kita memerlukan analisis fungsi bilangan kompleks karena fungsi-fungsi bilangan kompleks mempunyai dua input atau argumen. Jadi kita harus lebih hati-hati dalam memformulasikan fungsi-fungsi. Tetapi, kita di sini tidak akan membahas apakah fungsi-fungsi ini analitik atau tidak dan kita akan membahas hasilnya saja. Analisis fungsi kompleks akan dibahas pada matakuliah fisika ma tem- atika II.

6.1 Fungsi polinom

Fungsi yang paling sederhana adalah berbentuk penjumlahan/pengurangan dan perkalian /pembagian bilangan kompleks. Sebagai contoh fungsi kuadrat bilangan kompleks atau polinom orde 2 adalah

p ( z ) = az 2 + bz + c

(39)

Dengan menggunakan deret Maclaurin atau Taylor, kita bisa merepr esen- tasikan atau menguraikan fungsi-fungsi menjadi bentuk polinom a tau deret pangkat.

11

6.2

Fungsi eksponensial

Fungsi yang akan banyak digunakan untuk mendefinisikan fungsi-f ungsi ele- menter yang lain adalah fungsi eksponensial. Definisi fungsi eksponensial yang kita gunakan merupakan pengembangan fungsi eksponensial bilangan riil dalam bentuk deret Maclaurin. Jadi kita definisikan fungsi eksponensial dengan

exp( z ) = 1 + z + z 2 + z 3 + z 4 + z 5! + · · ·

2!

3!

4!

5

(40)

dan turunan fungsi eksponensial ini adalah

d exp( z ) dz

= exp( z )

(41)

Sifat-sifat fungsi eksponensial ini hampir sama dengan sifat-sifa t ekspo- nensial untuk bilangan riil antara lain:

1. e z 1 e z 2 = e z 1 + z 2

2. e z = e x { cos( y ) + i sin( y ) } karena z = x + iy

6.3 Fungsi trigonometri dan invers

Dari representasi eksponensial bilangan kompleks, kita sudah mengetahui bahwa

e iθ = cos( θ ) + i sin( θ )

dan konjugatnya adalah

e iθ = cos( θ ) i sin( θ )

(42)

(43)

Jika kita jumlahkan dua persamaan ini dan hasilnya dibagi dengan 2 maka kita mendapatkan fungsi cos( θ ),

cos( θ ) =

e + e

2

(44)

Rumus ini juga dapat diperoleh dengan menggunakan aturan konjugate kompleks.

12

Jika kita lakukan pengurangan untuk dua persamaan ini dan hasilnya dibagi dengan 2 i maka kita mendapatkan fungsi sin( θ ),

sin( θ ) =

e e

2 i

(45)

Dari rumus sin( θ ) dan cos( θ ) ini kita bisa mendefinisikan fungsi-fungsi trigonometri bilangan kompleks sebagai berikut:

1.

2.

3.

cos( z ) =

e iz + e iz

2

sin( z ) =

e iz + e iz

2

i

tan( z ) = sin( z ) )

cos(

z

(46)

(47)

(48)

Untuk fungsi-fungsi invers trigonometri, kita menggunakan definisi-definisi diatas, sebagai contoh,

w = cos 1 ( z )

z = cos( w ) =

e iw + e iw

2

(49)

(50)

Dari definisi cos 1 ( z ) ini, setelah menyelesaikan persamaan diatas, kita mendapatkan

cos 1 ( z ) = i ln( z ± z 2 1)

(51)

Dengan cara yang sama kita memperoleh,

sin 1 ( z ) = i ln( iz ± 1 z 2 )

tan 1 ( z ) = 1

2

i ln 1 + iz 1 iz

13

(52)

(53)

6.4

Fungsi hiperbolik

Definisi fungsi-fungsi hiperbolik adalah,

dan

cosh( z ) = e z + e z

2

sinh( z ) = e z e z

2

(54)

(55)

Dari dua fungsi ini kita bisa mendefinisikan fungsi-fungsi lain seper ti tanh( z ), coth( z ) dan sech( z ). Dari definisi-definisi fungsi trigonomtri dan hiperbolik, untuk fungsi sin( z ) dan cos( z ) kita mendapatkan hubungan antara fungsi trigonomeri dan hiper- bolik, contohnya,

sin( iz ) = i sinh( z )

(56)

cos( iz ) = cosh( z )

(57)

Fungsi-fungsi hiperbolik invers dapat didefinisikan seperti halnya pada definisi fungsi invers trigonometri. Sebagai contoh, untuk sinh 1 ( z ) dan cosh 1 ( z ) kita mendapatkan

sinh 1 ( z ) = ln( z ± z 2 + 1)

(58)

cosh 1 ( z ) = ln( z ± z 2 1)

(59)

6.5 Fungsi logaritma

Fungsi logaritma didefinisikan menggunakan definisi fungsi eksponensial. Ki- ta mengetahui bahwa jika

z = exp( w )

maka fungsi logaritma

w = ln( z )

(60)

(61)

Karena z 1 z 2 = e w 1 e w 2 = e w 1 + w 2 , ln( z 1 z 2 ) = w 1 + w 2 = ln( z 1 ) + ln( z 2 ).

14

Dari definisi ini kita bisa dapatkan,

(62)

Di persamaan ini fungsi Ln() adalah fungsi logaritma untuk bilangan riil.

ln( z ) = ln( re iθ ) = Ln( r ) +

6.6 Fungsi pangkat dan akar

Pangkat untuk bilangan kompleks bisa didapatkan dengan mengguna kan at- uran perkalian dan pembagian. Untuk pangkat bilangan bulat n dan dengan menggunakan aturan perkalian, kita memperoleh

(63)

(64)

. Jika r = 1 kita mendapatkan teorema de Moivre yaitu

z n = ( re iθ ) n = r n e inθ = r n (cos( θ ) + i sin( θ )) n = r n (cos( ) + i sin( ))

(cos( θ ) + i sin( θ )) n = cos( ) + i sin( )

.

(65)

Dengan teorema de Moivre ini, untuk akar kita memperoleh

(66)

= r 1/n (cos( θ ) + i sin( θ )) 1/n = r 1/n (cos( θ/n) + i sin( θ/n)) (67)

Rumus untuk akar sebaiknya digunakan secara hati-hati karena kita harus memperhatikan nilai dari sudut θ . Sebagai contoh kita akan mencari 27. Untuk ini kita pertama mengubah bilangan 27 ke bentuk polar atau expo- nensial. Kita perhatikan bahwa kita hanya memiliki sebuah bilangan riil, jadi secara sepontan kita mengunakan θ = 0. Akan tetapi ada banyak θ den- gan tambahan kelipatan 2 π yang juga menghasikan bilangan 27. Jadi bentuk polar untuk bilangan 27 adalah 27(cos(0 + n2 π ) + i sin(0 + n2 π )) = 27 e in 2π . Dengan menggunakan teorema de Moivre, kita mendapatkan

(68)

Di sini kita perhatikan bahwa nilai akar ini tergantung pada nilai n. Un-

tuk 27, kita simpulkan ada 3 akar yang berbeda yaitu ketika n = 0 , 1 , 2.

z 1/n =

( re ) 1/n = r 1/n e iθ/n

3

3

27

3

= 27(cos( n2 π/ 3) + i sin( n2 π/ 3)

3

15

Untuk nilai n yang lebih besar akan menghasilkan akar yang sama dengan tiga akar ini. Jadi

27 =

3

3(cos(0) + i sin(0) = 3

  3(cos(4 π/ 3) + i sin(4 π/ 3) = 3 ( 1 i 3)

3(cos(2 π/ 3) + i sin(2 π/ 3) = 3 ( 1 + i 3)

2

2

(69)

Akar-akar ini ditunjukkan pada Gambar 4.

3 Gambar 4: Akar-akar dari √ 27
3
Gambar 4: Akar-akar dari √ 27

6.7 Pangkat atau akar kompleks

Untuk operasi pemangkatan atau akar bilangan kompleks yang lebih umum, kita menggunakan rumus ln( a b ) = b ln a yang juga berarti a b = e b ln(a) untuk bilangan riil. Jadi kita mendefinisikan bahwa untuk dua bilangan kompleks z dan w ,

z w = e w ln(z )

(70)

Sebagai contoh, kita ingin mengetahui nilai i i . Dengan rumus di atas, kita mengubah bentuk i i menjadi e i ln(i ) . Karena ln( i) = i( π/ 2 + n2 π ), maka

i i = e i · i (π/2+ n 2π ) atau i i = e (π/2+ n 2π ) .

16

7

Lokus (tempat kedudukan)

Lokus ( locus ) bisa diartikan sebagai tempat kedudukan yang sesuai dengan persamaan bilangan kompleks. Mungkin akan lebih jelas mengenai konsep ini dengan memperhatikan beberapa contoh. Lokus untuk | z | = 2 berupa lingkaran dengan jari-jari 2 (lihat Gambar 5). Ini karena | z | = x 2 + y 2 = 2 atau x 2 + y 2 = 2 2 yang merupakan rumus sebuah lingkaran. Lokus untuk arg( z ) = π/ 3 berupa sebuah garis mulai dari titik 0 sampai tak terhingga dengan sudut θ = π/ 3 (lihat Gambar 5).

tak terhingga dengan sudut θ = π/ 3 (lihat Gambar 5). Gambar 5: Lokus untuk |

Gambar 5: Lokus untuk | z | = 2 dan arg( z ) = π/ 3.

8 Aplikasi

17